• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESEHATAN KELUARGA

5.3 Kesehatan Usia Lanjut

64 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup.

Angka kematian Balita merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan tempat tinggal anak-anak termasuk pemeliharaan kesehatannya. Manfaat Akaba antara lain untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan anak Balita, tingkat pelayanan KIA/Posyandu, serta kondisi sanitasi lingkungan.

Dalam tiga tahun terakhir, angka kematian balita (dilaporkan) di Kota Bekasi cenderung meningkat. Akaba tahun 2017 sebesar 1,13 per 1.000 kelahiran hidup meningkat menjadi 1,18 per 1.000 kelahiran hidup tahun 2018, dan meningkat kembali tahun 2019 menjadi 1,23 per 1.000 kelahiran hidup, dengan jumlah kematian Balita 61 orang dari 49.545 kelahiran hidup. Sama seperti kematian bayi, kematian Balita tahun 2019 juga sebagian besar (57 persen) berjenis kelamin laki-laki. Dan sisanya 43 persen berjenis kelamin perempuan. Seperti ditunjukkan pada grafik 5.24 di atas.

5.3. Kesehatan Usia Lanjut

Peningkatan usia harapan hidup mengakibatkan bertambahnya penduduk yang berusia lanjut. Dengan demikian, pelayanan kesehatan bagi penduduk usia lanjut perlu mendapatkan perhatian karena jumlah penduduk usia lanjut (60 tahun ke atas) yang terus bertambah.

Definisi lansia menurut Undang-Undang nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia adalah penduduk berusia 60 tahun dimana mereka merupakan salah satu kelompok beresiko yang membutuhkan penanganan khusus. Pada pasal 138 Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan menetapkan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia ditunjukan untuk menjaga agar para lanjut usia tetap sehat dan produktif secara sosial ekonomi. Untuk itu pemerintah menjamin ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan kelompok usia lanjut untuk tetap dapat hidup mandiri dan prduktif secara sosial ekonomi.

65 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Menurut Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI, lanjut usia dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:

1. Pra Lanjut Usia (45-59 tahun) 2. Lanjut usia (60-69 tahun)

3. Lanjut usia resiko tinggi (≥70 tahun atau usia ≥ 60 tahun dengan masalah kesehatan).

Besarnya populasi lanjut usia serta pertumbuhan yang sangat cepat juga menimbulkan berbagai permasalahan, sehingga lanjut usia perlu mendapatkan perhatian yang serius dari semua sektor.

Grafik 5.25

Jumlah Usila dan Persentase Usila yang Mendapatkan Pelayanan Kesehatan di Kota Bekasi Tahun 2009 s.d 2019

Jumlah penduduk lansia tahun 2019 di Kota Bekasi sudah mencapai 162.496 jiwa (5,39 persen) dari estimasi penduduk 3.013.851 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 144.422 jiwa atau 88,88 persen dari total jumlah lansia di Kota Bekasi telah mendapatkan pelayanan kesehatan.

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 USILA Persentase

66 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Grafik 5.25 di atas menunjukkan dalam lima tahun terakhir terjadi trend peningkatan jumlah lansia dan peningkatan lansia yang mendapatkan pelayanan kesehatan. Peningkatan cakupan pelayanan kesehatan lansia yang cukup tajam terjadi pada tahun 2012 dan 2018.

Dari 17,21 persen tahun 2011 meningkat menjadi 72,60 persen tahun 2012. Dan dari 54,6 persen pada tahun 2017 meningkat menjadi 84,5 persen tahun 2018, dan meningkat kembali menjadi 88,88 di tahun 2019.

Berdasarkan pencatatan dan pelaporan Puskesmas, diketahui bahwa beberapa Puskesmas cakupanlansia yang mendapatkan pelayanan kesehatan mendekati target SPM (100 persen). Antara lain:

Puskesmas Kotabaru (98,09 persen), Jati Warna (97,48 persen), dan Puskesmas Jati Bening (97,33). Puskesmas cakupan yang terrendah antara lain: Puskesmas Seroja (70,21 persen), Perwira (74,53 persen), dan Puskesmas Kali Abang Tengah (79,17 persen). Hal ini karena kurangnya kesadaran para lansia untuk memeriksakan diri ke Posbindu.

Hal ini antara lain karena kurangnya pemahaman tentang kesehatan pribadinya. Oleh karena itu perlu ditingkatkan promosi kesehatan dengan sasaran lansia pada wilayah-wilayah dengan cakupan yang masih rendah.

67 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

6.1. Penyakit Menular Langsung 6.1.1 Tuberkulosa (TB Paru)

Tuberkulosa merupakan masalah kesehatan masyarakat yang harus menjadi perhatian. Tuberkulosa yang juga dikenal dengan TB adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang mengakibatkan kerusakan terutama pada paru, dapat menimbulkan gangguan berupa batuk yang berlangsung lama (2 minggu atau lebih), biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah, sesak napas, bahkan dapat menyebar ke tulang, otak, dan organ lainnya.

Pada Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis telah ditetapkan target program Penanggulangan TBC nasional yaitu eliminasi pada tahun 2035 dan Indonesia Bebas TBC Tahun 2050. Eliminasi TBC adalah tercapainya jumlah kasus TBC 1 per 1.000.000 penduduk.

Pada tahun 2019 berdasarkan rumus pemodelan diketahui jumlah orang yang terduga tuberkulosis di Kota Bekasi ada sebanyak 42.513 orang. Dari jumlah ini, sebesar 42,2 persen (17.947 orang) telah mendapatkan pelayanan tuberkulosis sesuai standar. Pelayanan kesehatan yang diberikan baik di Puskesmas maupun di rumah sakit – rumah sakit yang ada di Kota Bekasi.

Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus baru TB paru tahun 2019 pada laki-laki lebih banyak dibandingkan pada perempuan.

Bahkan berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI tahun 2013-2014, prevalensi pada laki-laki 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan. Hal ini terjadi kemungkinan karena laki-laki lebih terpapar pada faktor risiko TBC misalnya merokok dan kurangnya ketidakpatuhan minum obat.

BAB VI PENGENDALIAN

PENYAKIT

68 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Grafik 6.1

Jumlah Kasus TB Paru Menurut Jenis Kelamin di Kota Bekasi Tahun 2019

Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate/CNR) adalah angka yang menunjukkan jumlah semua kasus TB paru yang diobati dan dilaporkan diantara 100.000 penduduk yang ada di suatu wilayah tertentu. Angka ini berguna untuk menunjukkan kecenderungan (trend) meningkat atau menurunnya penemuan kasus dari tahun ke tahun pada wilayah tersebut.

Grafik 6.2

Case Notification Rate (CNR) TB Paru per 100.000 Penduduk di Kota Bekasi Tahun 2010 s.d 2019

4.191 ; 54%

3.533 ; 46%

Laki-laki Perempuan

57,7 65,4 60,0 53,6

116,4 123,5 126,2

144,2 200,4

256,3

0 50 100 150 200 250 300

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

69 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Grafik 6.2 di atas menunjukkan selama 10 tahun terakhir angka notifikasi kasus TB paru cenderung terdapat peningkatan yang signifikan terutama mulai tahun 2014 hingga 2019.

Angka penemuan kasus atau CDR (Case Detection Rate) adalah banyaknya jumlah yang dinyatakan sebagai penderita yang telah ditemukan dibandingkan dengan jumlah penderita yang masih diperkirakan pada wilayah tertentu. Pada tahun 2019 diketahui bahwa cakupan pengobatan semua kasus TB (CDR) di Kota Bekasi adalah sebesar 88,3 persen (terdapat 7.724 kasus tuberkulosis dari 8.748 kasus perkiraan insiden tuberkulosis).

Sedangkan cakupan penemuan kasus tuberkulosis anak di Kota Bekasi tahun 2019 sebesar 92,2 persen. Yaitu dari 1.050 perkiraan jumlah kasus TB anak, ditemukan 968 kasus TB anak.

Grafik 6.3

Cure Rate, Complete Rate, dan Success Rate TB Paru di Kota Bekasi Tahun 2010 s.d 2019

82,0

77,2 78,7

74,1 75,8 77,5

73,9 74,4

67,7 64,8

8,8 9,6 9,5 11,6 10,1 8,5 10,0 11,1 12,8

49,0 90,8

86,8 88,2 85,7 86,0 86,0 83,9 85,5

80,5

74,2

10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 70,0 80,0 90,0 100,0

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Cure Rate Complete Rate Success Rate

70 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Angka kesembuhan (cure rate) tuberkulosis paru terkonfirmasi bakteriologis yang terdaftar dan diobati cenderung mempunyai gap dengan angka keberhasilan pengobatan setiap tahunnya (terlihat pada grafik 6.3 di atas).

Angka kesembuhan berkontribusi terhadap angka keberhasilan pengobatan, bila angka kesembuhan menurun, menurun pula angka keberhasilan pengobatan. Dalam upaya pengendalian penyakit, fenomena menurunnya angka kesembuhan ini perlu mendapat perhatian besar karena akan mempengaruhi penularan penyakit TB paru.

Grafik 6.4

Proporsi Cure Rate Menurut Jenis Kelamin di Kota Bekasi Tahun 2019

Dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, proporsi angka kesembuhan (Cure Rate) sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (60 persen), dan sisanya 40 persen berjenis kelamin perempuan.

Karena memang total kasus TB paru-nya lebih banyak terjadi pada laki-laki.

Namun bila angka kesembuhannya dibandingkan dengan jumlah semua kasus tuberkulosis terdaftar dan diobati, maka pada perempuan sedikit lebih banyak kasus yang sembuh (65,4 persen) dibandingkan laki-laki yang sembuh (64,4 persen).

909 ; 60%

602 ; 40%

Laki-laki Perempuan

71 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Pada grafik 6.3 terlihat angka pengobatan lengkap (complete rate) semua kasus tuberkulosis di Kota Bekasi cenderung meningkat dalam lima tahun terakhir. Peningkatan yang cukup tajam terjadi pada tahun 2019 yaitu 49 persen dari 12,8 persen kasus dengan pengobatan lengkap di tahun 2018.

Grafik 6.5

Proporsi Complete Rate Menurut Jenis Kelamin di Kota Bekasi Tahun 2019

Sama seperti cure rate, proporsi angka pengobatan lengkap juga sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (54 persen) dan sisanya (46 persen) berjenis kelamin perempuan. Namun jika dilihat dari persentase angka kesembuhan terhadap seluruh kasus tuberkulosis yang terdaftar dan diobati, persentase perempuan dengan pengobatan lengkap lebih besar (52,3 persen), dibandingka laki-laki dengan pengobatan lengkap (46,5 persen).

Angka keberhasilan pengobatan (success rate) adalah jumlah semua kasus tuberkulosis yang sembuh dan pengobatan lengkap di antara semua kasus tuberkulosis yang diobati dan dilaporkan. Badan kesehatan dunia menetapkan standar keberhasilan pengobatan sebesar 85 persen.

Grafik 6.3 memperlihatkan trend angka keberhasilan pengobatan semua kasus tuberkulosis di Kota Bekasi yang cenderung menurun. Angka keberhasilan ini pun masih jauh di bawah standar badan kesehatan dunia.

1.598 ; 54%

1.336 ; 46%

Laki-laki Perempuan

72 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Angka keberhasilan pengobatan (success rate/ SR) semua kasus tuberkulosis tahun 2019 sebesar 74,2 persen (4.445 kasus) menurun dari 80,5 persen di tahun 2018, yang juga menurun dari tahun 2017 sebesar 85,5 persen (telah mencapai target WHO).

Grafik 6.6

Proporsi Success Rate Menurut Jenis Kelamin di Kota Bekasi Tahun 2019

Grafik 6.6 di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2019 angka keberhasilan pengobatan lebih besar pada laki-laki (56 persen) dibandingkan perempuan (44 persen). Namun bila proporsinya dibandingkan dengan seluruh kasus tuberkulosis yang terdaftar menurut jenis kelaminnya, angka keberhasilan pengobatan pada perempuan lebih tinggi (75,9 persen) dibandingkan laki-laki (73 persen).

Masih tingginya kasus tuberkulosis, maka perlu pencegahan dan pengendalian faktor risiko tuberkulosis. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan: membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, membudayakan perilaku etika berbatuk, melakukan pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehat, peningkatan daya tahan tubu, penanganan penyakit penyerta TB, penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TB di fasilitas pelayanan kesehatan, dan di luar fasilitas pelayanan kesehatan.

2.507 ; 56%

1.938 ; 44%

Laki-laki Perempuan

73 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

6.1.2 Kusta

Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini bisa dirasakan oleh penderita selama tahunan. Gejala awal yaitu terlihat adanya bercak putih atau merah pada kulit yang mati rasa.

Cara penularan kuman ini antara lain melalui kontak langsung antar kulit yang lama dan erat. Selain itu diduga kuman ini juga ditularkan melalui inhalasi karena kuman ini masih dapat hidup beberapa hari di dalam droplet.

Pada tahun 2019 Indonesia bertekad untuk mengeliminasi penyakit kusta. Yang dimaksud wilayah yang sudah tereliminasi adalah prevalensi atau kasus kusta kurang dari 1 per 10.000 penduduk. Dan prevalensi kasus kusta baru tanpa cacat tingkat dua mencapai 95 persen yang artinya nanti tidak ada cacat tingkat dua dan tidak ada lagi penularan pada penderita.

Grafik 6.7

Angka Prevalensi Penyakit Kusta per 10.000 Penduduk di Kota Bekasi Tahun 2011 s.d 2019

Angka prevalensi kusta di Kota Bekasi dalam 10 tahun terakhir berfluktuasi. Namun angka prevalensi ini sudah kurang dari 1 per 10.000 penduduk (sudah tereliminasi penyakit kusta).

0,8 0,8

0,5

0,6 0,6

0,5

0,7

0,6 0,6

0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

74 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Pada tahun 2019 angka prevalensi kusta di Kota Bekasi yaitu 0,6 per 10.000 penduduk, sama seperti tahun 2018. Namun angka prevalensi ini sudah berada di bawah angka prevalensi kusta di Indonesia yaitu 0,71 per 10.000 penduduk.

Prevalensi kasus kusta cacat tingkat II tahun 2019 di Kota Bekasi menurun tajam (1 per 1.000.000 penduduk) dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (7 per 1.000.000 penduduk tahun 2017 dan 4,8 per 1.000.000 penduduk tahun 2018). Prevalensi cacat tingkat II tahun 2019 ini jauh berada di bawah batas toleransi sebesar 5 persen. Hal ini berarti bahwa tingkat penularan kusta di Kota Bekasi cukup rendah dan tidak terjadi keterlambatan dalam manajemen kasus kusta sehingga sangat jarang ditemukan kasus kusta sudah dalam keadaan cacat tingkat 2.

Grafik 6.8

Angka Prevalensi Cacat Tingkat II Kusta per 1.000.000 Penduduk di Kota Bekasi Tahun 2012 s.d 2019

Sedangkan angka penemuan kasus baru kusta atau New Case Detection Rate (NCDR) tahun 2019 mengalami penurunan yang cukup tinggi, yaitu sebesar 5,84 per 100.000 penduduk, dibandingkan tahun 2018 sebesar 6,22 per 100.000 penduduk.

4,0

5,4 5,3

7,0

2,5

7,0

4,8

1,0

0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 8,0

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

75 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Namun dilihat dari jumlah penderita kusta di Kota Bekasi tahun 2019 terutama tipe Multi Basiler (MB) mengalami sedikit peningkatan dengan 187 kasus. Sedangkan penderita kusta tipe Pausi Basiler (PB) menurun dengan 7 kasus. Hal ini dapat dilihat dari grafik 6.9 berikut.

Grafik 6.9

Distribusi NCDR dan Kasus Kusta Baru Menurut Tipe Kusta di Kota Bekasi Tahun 2010 s.d 2019

6.1.3 Diare

Diare merupakan masalah salah satu masalah utama di masyarakat. Di Kota Bekasi, hampir setiap tahunnya diare merupakan salah satu penyakit yang masuk ke dalam 10 patron penyakit tertinggi setiap tahunnya, menduduki peringkat ketiga setelah ISPA dan penyakit pulpa dan jaringan periapikal.

Grafik 6.10 berikut menunjukkan trend peningkatan jumlah penderita diare yang ditangani di Kota Bekasi setiap tahunnya, Penderita diare tahun 2019 yaitu sebanyak 27.170 atau baru sebesar 33,4 persen yang ditangani dari target penemuan kasus diare tahun 2019 sebanyak 81.374 kasus. Dari jumlah ini, sebanyak 8.955 kasus merupakan kelompok umur Balita atau sebesar 32,96 persen dari total kasus diare di Kota Bekasi.

17 19 23 14 18 15 20 15 10 7

138 167 178 129 126 154 100 145 173

187

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Pausi Basiler Multi Basiler NCDR

76 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Grafik 6.10

Trend Penyakit Diare dan Persentase Penderita yang Ditangani di Kota Bekasi Tahun 2015 s.d 2019

Berdasarkan pencatatan dan pelaporan Puskesmas di Kota Bekasi tahun 2019, diketahui bahwa jumlah kasus terbanyak diare yang dilayani yaitu di Puskesmas Bantargebang (1.610 kasus), diikuti Puskesmas Jati Asih (1.478 kasus) dan Puskesmas Kali Abang Tengah (1.416 kasus).

6.1.4 Pneumonia

Pneumonia atau radang paru merupakan penyakit yang disebabkan infeksi kuman atau bakteri di paru-paru. Gejala awalnya yaitu batuk, sesak, menggigil, demam atau gangguan pernafasan lainnya. Pneumonia pada balita merupakan salah satu penyakit penyebab kematian terbanyak.

Capaian penemuan penderita pneumonia Balita di Kota Bekasi tahun 2019 mengalami penurunan yang cukup signifikan, seperti terlihat pada grafik 6.11 di bawah ini. Prevalensi pneumonia pada Balita tahun 2019 sebesar 17 persen. Dari jumlah kunjungan 61.091 Balita dengan gejala batuk atau kesukaran nafas, 78,2 persennya (47.743 Balita) telah diberikan tata laksana standar dengan dihitung nafas.

58.491

75.689 77.584 79.480 81.374

37.370

22.626

17.462 20.705 27.170

10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 90.000

2015 2016 2017 2018 2019

Target Penemuan Ditangani

77 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Dari temuan tersebut, diketahui terdapat 1.528 Balita penderita pneumonia (8 persen), dan 56 orang diantaranya menderita penumonia berat. Dan dari hasil pemeriksaan, diketahui sebanyak 58.544 Balita menderita batuk yang bukan pneumonia.

Grafik 6.11

Trend Capaian Penemuan Penderita Pneumonia Pada Balita di Kota Bekasi Tahun 2012 s.d 2019

Dengan masih rendahnya penemuan penumonia, maka MTBS KIA perlu dioptimalkan lagi terutama pada unit-unit pelayanan kesehatan swasta untuk mendukung penemuan kasus pneumonia pada balita sedini mungkin.

Grafik 6.12

Proporsi Pneumonia Balita Menurut Jenis Kelamin di Kota Bekasi Tahun 2019

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Yang Ditangani Target

1.561 ; 55%

1.296 ; 45%

Laki-laki Perempuan

78 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Dilihat dari jenis kelaminnya, jumlah penemuan penderita pneumonia pada Balita tahun 2019 lebih banyak terjadi pada anak laki-laki (55 persen atau 1.561 kasus). Dan sisanya (45 persen atau 1.296 kasus) terjadi pada anak perempuan.

6.1.5 HIV-AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang selanjutnya melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit.

Sampai saat ini obat atau metode penanganan HIV belum ditemukan. Dengan menjalani pengobatan tertentu, pengidap HIV bisa memperlambat perkembangan penyakit ini, sehingga pengidap HIV bisa menjalani hidup dengan normal.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kondisi dimana HIV sudah pada tahap infeksi akhir. Ketika seseorang sudah mengalami AIDS, maka tubuh tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan.

Grafik 6.13

Trend Kasus HIV dan AIDS di Kota Bekasi Tahun 2010 s.d 2019

354 359 394 401

357 310

615

545

360 335

70

30 37

123 133 155 168

15 7 9

0 100 200 300 400 500 600 700

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

HIV AIDS

79 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Tingkat risiko penyebaran HIV–AIDS di Kota Bekasi semakin meningkat seiring dengan mobilitas penduduk antar wilayah yang semakin tinggi serta makin berkembangnya sentra-sentra pembangunan. Kota Bekasi menyumbang cukup besar terhadap penularan HIV-AIDS di Jawa Barat. Kota Bekasi menduduki urutan kedua terbanyak kasus HIV-AIDS setelah Kota Bandung.

Penderita baru HIV positif dan AIDS di Kota Bekasi dalam tiga tahun terakhir semakin menurun, seperti terlihat pada grafik 6.14 di atas. Kasus HIV dan AIDS tertinggi pada tahun 2016 dengan HIV sebanyak 615 orang dan AIDS sebanyak 168 orang.

Terus menurun dalam tiga tahun terakhir hingga pada tahun 2019 kasus baru HIV positif di Kota Bekasi sebanyak 335 orang dan AIDS sebanyak 9 orang.

Untuk memutus rantai penularan dan menurunkan jumlah kematian penderita HIV-AIDS maka kasus HIV yang ditemukan sedini mungkin diberikan dukungan, pendampingan dan pengobatan untuk merubah perilakunya agar tidak menularkan kepada orang lain.

Grafik 6.14

Proporsi Kasus HIV Menurut Jenis Kelamin di Kota Bekasi Tahun 2019

Sebagian besar kasus HIV pada tahun 2019 terjadi pada laki-laki (75 persen) dan sisanya sebesar 25 persen terjadi pada perempuan atau sebanyak 85 orang.

250; 75%

85; 25%

Laki-laki Perempuan

80 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Demikian juga dengan kasus AIDS di Kota Bekasi tahun 2019 sebagian besar terjadi pada jenis kelamin laki-laki (78 persen) atau sebanyak 7 orang, sedangkan yang berjenis kelamin perempuan 22 persen atau sebanyak 2 orang.

Grafik 6.15

Proporsi Kasus AIDS Menurut Jenis Kelamin di Kota Bekasi Tahun 2019

Kasus HIV tahun 2019 di Kota Bekasi banyak terjadi pada usia produktif 25-49 tahun (74,9 persen atau sebanyak 251 orang dari 335 orang dengan kasus baru HIV) dan 15,5 persen atau sebanyak 52 orang pada usia 20-24 tahun.

Grafik 6.16

Kasus HIV Menurut Kelompok Umur di Kota Bekasi Tahun 2019

7; 78%

2; 22%

Laki-laki Perempuan

4 1 11

52

251

16 0

50 100 150 200 250 300

<=4 thn 5-14 thn 15-19 thn 20-24 thn 25-49 thn >= 50 thn

81 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Hal ini sangat di sayangkan karena mereka adalah calon generasi bangsa. Oleh karena itu perlunya pemahaman tentang kesehatan reproduksi bagi segenap remaja agar mereka terhindar dari penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS. Selain itu juga para petugas di fasilitas kesehatan juga perlu meningkatkan pemahamannya tentang cara pencegahan dan penularan HIV/AIDS.

Grafik 6.17

Kasus AIDS Kumulatif Menurut Kelompok Umur di Kota Bekasi Tahun 2019

Dilihat dari kelompok umurnya seperti halnya kasus HIV, kasus AIDS secara kumulatif tahun 2019 di Kota Bekasi juga banyak terjadi pada usia produktif 20-49 tahun. Dari 487 kasus AIDS kumulatif, 45 persen (220 kasus) terjadi pada usia 30-39 tahun, 21 persen pada usia 40-49 tahun, dan 20 persen pada usia 20-29 tahun.

Penyakit HIV-AIDS dapat ditularkan antara lain melalui:

wanita penjaja seks, pengguna narkoba suntik (IDU), waria dan lelaki penjaja seks, lelaki suka lelaki, pasangan berisiko tinggi, pelanggan penjaja seks, serta dari ibu ke bayinya. Beberapa tahun terakhir ini faktor risiko tertinggi telah bergeser dari pengguna narkoba suntik kepada pasangan dengan perilaku berisiko.

10 1 6

97

220

103

36

14 0

50 100 150 200 250

<=4 5-14 15-19 20-29 30-39 40-49 50-59 >= 60

82 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

6.2. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) antara lain: Difteri, Tetanus (non neonatorum), Tetanus Neonatorum (TN), Pertusis, Campak, AFP, Hepatitis B.

Penyakit difteri di Kota Bekasi mengalami lonjakan yang cukup tinggi sejak tahun 2017, dari 6 kasus di tahun 2015 dan 2016, menjadi 24 kasus di tahun 2017. Sejak saat itu kasus difteri belum mengalami penurunan yang signifikan. Demikian halnya tahun 2019 jumlah kasus difteri belum mengalami penurunan, yaitu 26 kasus dengan Case Fatality Rate/ CFR 8 persen (meninggal 2 orang), sama seperti tahun 2018 dengan 26 kasus dan 1 orang anak meninggal (CFR sebesar 4 persen).

Grafik 6.18

Kasus Difteri di Kota Bekasi Tahun 2011 s.d 2019

Kasus difteri tahun 2019 ini terdiri dari 16 kasus dengan jenis kelamin laki-laki dan 10 kasus dengan jenis kelamin perempuan. Kasus difatri ini tersebar di 8 kecamatan dari 12 Kecamatan yang ada di Kota Bekasi. Kasus terbanyak terjadi di wilayah Kecamatan Bekasi Utara (5 kasus), diikuti Kecamatan Bekasi Timur dan Mustika Jaya (4 kasus).

Sisanya yaitu di Kecamatan Rawalumbu, Jati Asih, dan Bekasi Selatan (masing-masing 3 kasus), serta Kecamatan Pondok Gede dan Bantargebang (masing-masing 2 kasus).

8

3

1

4

6 6

24

26 26

0 5 10 15 20 25 30

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

83 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Grafik 6.19

Kasus Difteri Menurut Jenis Kelamin di Kota Bekasi Tahun 2019

Berbeda dengan kasus difteri, kasus campak di Kota Bekasi dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan yang signifikan. Dari 475 kasus tahun 2016 jauh menurum menjadi 73 kasus tahun 207, menurun kembali menjadi 42 kasus tahun 2018, dan di tahun 2019 kasus campak menurun kembali menjadi 32 kasus.

Grafik 6.20

Kasus Campak di Kota Bekasi Tahun 2008 s.d 2019

Laki-laki; 16; 62%

Perempuan; 10;

38%

659

524

354 575

352 360

233

80 475

73 42 32

0 100 200 300 400 500 600 700

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

84 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Sebagian besar kasus campak tahun 2019 terjadi pada jenis kelamin laki-laki (53 persen) dan sisanya 47 persen atau sebanyak 15 kasus berjenis kelamin perempuan.

Grafik 6.21

Kasus Campak Menurut Jenis Kelamin di Kota Bekasi Tahun 2019

Berdasarkan laporan rutin Puskesmas jumlah penderita campak terbanyak yaitu di wilayah Puskesmas Jati Sampurna (7 kasus), diikuti Puskesmas Jati Asih (5 kasus), dan Jati Ranggon (4 kasus). Selain itu di wilayah Puskesmas Jaka Setia, Perumnas II, Aren Jaya, Pejuang (masing-masing 2 kasus). Sedangkan sisanya tersebar di wilayah Bojong Rawalumbu, Jati Luhur, Teluk Pucung, Karang Kitri, Pekayon Jaya, Bintara, Bantargebang, Mustika Jaya (masing-masing 1 kasus).

Sedangkan untuk pertusis dan tetanus neonatorum, serta polio sejak tahun 2010 tidak ditemukan. Untuk mencapai Eradikasi Polio (ERAPO) maka dilaksanakan surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP), hal ini dilaksanakan untuk menjaring adanya kasus polio. Dengan target penemuan kasus AFP tahun 2019 di Kota Bekasi yaitu 14 kasus (2 kasus dalam 100.000 anak usia kurang dari 15 tahun).

Grafik 6.22 berikut menunjukkan trend AFP rate di Kota Bekasi yang terlihat mengalami peningkatan sejak 2015 namun sedikit menurun di tahun 2019 dengan jumlah kasus AFP yang sudah mencapai target.

Laki-laki; 17;

53%

Perempuan; 15;

47%

85 Profil Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2019

Grafik 6.22

Kasus AFP dan AFP-Rate di Kota Bekasi Tahun 2009 s.d 2019

Penemuan kasus AFPdi Kota Bekasi tahun 2019 sama seperti tahun 2018. Namun AFP rate sedikit menurun karena jumlah sasaran anak usia kurang dari 15 tahun yang meningkat di tahun 2019. Pada tahun 2019 ditemukan 16 kasus AFP dengan AFP-rate sebesar 2,23 per 100.000 anak usia <15 tahun. Sedangkan kasus AFP yang ditemukan tahun 2018 sebanyak 16 anak dengan AFP rate 2,26 per 100.000 anak usia <15 tahun. Kasus AFP terbanyak ditemukan di wilayah Puskesmas

Penemuan kasus AFPdi Kota Bekasi tahun 2019 sama seperti tahun 2018. Namun AFP rate sedikit menurun karena jumlah sasaran anak usia kurang dari 15 tahun yang meningkat di tahun 2019. Pada tahun 2019 ditemukan 16 kasus AFP dengan AFP-rate sebesar 2,23 per 100.000 anak usia <15 tahun. Sedangkan kasus AFP yang ditemukan tahun 2018 sebanyak 16 anak dengan AFP rate 2,26 per 100.000 anak usia <15 tahun. Kasus AFP terbanyak ditemukan di wilayah Puskesmas