• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyaluran terhadap Klaster Kesehatan dan Perlindungan Sosial

BAB VII ANALISIS TEMATIK

7.4. Penyaluran terhadap Klaster Kesehatan dan Perlindungan Sosial

Penyaluran alokasi anggaran terhadap program kesehatan meliputi penyediaan belanja penanganan pandemi Covid-19, insentif tenaga medis, santunan kematian tenaga medis, pengadaan alat kesehatan, sarana dan prasarana, dukungan sumber daya manusia bagi gugus tugas/satuan tugas Covid-19. Jika ditelaah lebih dalam besaran dampak penyaluran program kesehatan tersebut terhadap perekonomian berupa pembentukan output, NTB/ PDRB, dan penyerapan tenaga kerja dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 78 Dampak Penyaluran Klaster Kesehatan & Perlindungan Sosial terhadap Perekonomian Kepri Tahun 2020 Berdasarkan Tabel I-O Prov. Kepri Tahun 2010

(dalam juta rupiah)

No Uraian Penyaluran Besar Output NTB Kerja (orang) Kesempatan

1. Belanja Klaster Kesehatan 75.110,73 - - -

1. Nilai Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau 335.079.652,34 189.047.770,00 1.016.600

2. Nilai Dampak 99.228,59 62.143,42 2.659

Kesehatan-APBD 99.228,59 62.143,42 2.659

C. Peranannya (%) 0,03% 0,03% 0,26%

Kesehatan-APBD 0,03% 0,03% 0,26%

2. Belanja Klaster Perlinsos 144.003,30 - - -

1. Nilai Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau 335.079.652,34 189.047.770,00 1.016.600

2. Nilai Dampak 204.141,59 111.669,11 2.095

Perlindungan Sosial-APBD 204.141,59 111.669,11 2.095

C. Peranannya (%) 0,06% 0,06% 0,21%

Perlindungan Sosial-APBD 0,06% 0,06% 0,21%

3 Belanja Klaster UMKM 290,50 - - -

1. Nilai Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau 335.079.652,34 189.047.770,00 1.016.600

2. Nilai Dampak 385,16 239,60 4

UMKM-APBD 385,16 239,60 4

C. Peranannya (%) 0,00011% 0,00013% 0,0004%

UMKM-APBD 0,00011% 0,00013% 0,0004%

109

Dampak terhadap Output

Dampak terhadap output yang dimaksud ialah pengeluaran konsumsi yang dihasilkan dari penyaluran terhadap bidang kesehatan dan perlindungan sosial (perlinsos) yang akan berdampak terhadap penciptaan nilai produksi barang dan jasa secara sektoral di perekonomian Kepri. Berdasarkan tabel di atas, terlihat sebaran nilai

output sektoral akibat dampak langsung dan tidak langsung atas penyaluran terhadap

bidang kesehatan pada tahun 2020 sebesar Rp99,22 miliar dengan kontribusi nilai terhadap output sebesar 0,03 persen di Kepri.

Artinya dengan alokasi sebesar Rp75,11 miliar terhadap bidang kesehatan dapat menghasilkan penciptaan nilai produksi barang dan jasa sektoral di Kepri sebanyak Rp99,22 miliar. Secara total bila dibuat rasio antara penciptaan output dan nilai produksi barang dan jasa akan diperoleh nilai sebesar 1,321 yang berarti setiap 1.000 rupiah penyaluran terhadap bidang kesehatan mampu menciptakan output secara sektoral sebesar 1.321 rupiah.

Nilai output bidang perlinsos yang dihasilkan sebesar Rp204,14 miliar dengan kontribusi nilai terhadap output sebesar 0,06 persen. Kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan bidang kesehatan ini dipengaruhi total penyaluran alokasi yang jauh lebih tinggi pada bidang perlinsos, sehingga menghasilkan dampak yang lebih besar pula. Alokasi yang cukup tinggi ini juga dipengaruhi oleh event Pemilukada yang dilaksanakan di Kepri tahun 2020, sehingga realisasi dana refocusing APBD lebih dominan ditujukan untuk aksi sosial berkenaan dengan Pemilukada tersebut. Dengan alokasi Rp144 miliar pada bidang perlinsos dapat menghasilkan penciptaan nilai produksi barang dan jasa sebesar 1,417 yang artinya setiap 1.000 rupiah penyaluran terhadap bidang perlinsos dapat menghasilkan output sebesar 1.417 rupiah.

Jika ditinjau pada klaster UMKM yang alokasinya terbilang lebih rendah yaitu sebesar Rp290,50 juta mampu menghasilkan output sebesar Rp385,16 juta dengan kontribusi sebesar 0,00011 persen. Secara rasio klaster UMKM mampu menghasilkan 1,325, artinya setiap 1.000 rupiah penyaluran terhadap UMKM di Kepri mampu menghasilkan output sebesar 1.325 rupiah. Rasio ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan output yang dihasilkan oleh klaster kesehatan, mengingat penyaluran UMKM akan berdampak multiplier effect dalam di perekonomian di Kepri.

Jika dirincikan per sektor, maka yang memberikan output terbesar pada klaster kesehatan ialah sektor jasa-jasa lainnya yang meliputi subsektor jasa sosial kemasyarakatan, hiburan, serta perorangan dan rumah tangga sebesar Rp49,36 miliar atau sebesar 49,74 persen dari total output yang tercipta. Disusul sektor industri yang

110

meliputi subsektor industri makanan, tekstil, barang cetakan, alat dan mesin, dan barang lainnya sebesar Rp44,42 miliar atau sebesar 44,77 persen dari total output yang turut dipengaruhi dengan banyaknya jumlah produksi alat dan material kesehatan sesuai dengan output pemanfaatan belanja klaster kesehatan yang disebut sebelumnya.

Pemberi output terbesar pada klaster perlinsos yaitu sektor industri sebesar Rp83,69 miliar atau sebesar 41 persen dari total output dan sektor pertanian yang meliputi subsektor tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan sebesar Rp40,38 miliar atau 19,78 persen dari total output. Hal ini sejalan dengan struktur ekonomi desa di Kepri yang sebagian besar masih ditopang oleh sektor pertanian.

Pada klaster UMKM, sektor perdagangan besar, eceran, hotel dan restoran mendapat output terbesar yaitu Rp124,82 miliar atau sebesar 32,41 persen dari total

output dan berbanding tipis pada sektor industri sebesar Rp124,72 miliar atau 32,38

persen dari total output. Output yang cukup besar ini menunjukkan bahwa penyaluran anggaran terhadap klaster kesehatan dan perlinsos sudah tepat sasaran. Mengingat bahwa secara agregat sebagian besar perekonomian di Kepri didominasi oleh pelaku usaha UMKM yang bergerak di usaha kuliner dan fashion, hal ini menjelaskan mengapa perdagangan eceran, hotel, dan restoran mendapat output cukup besar.

Dampak terhadap Nilai Tambah Bruto (NTB)

Dampak terhadap Nilai Tambah Bruto (Produk Domestik Regional Bruto) merupakan bagian dari nilai output sektor ekonomi. Nilai Tambah Bruto mencakup upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, pajak tak langsung dan subsidi. Besarnya NTB yang dihasilkan biasanya sejalan dengan nilai output yang dihasilkan oleh sektor-sektor ekonomi.

Berdasarkan tabel utama terlihat struktur NTB (PDRB) Kepri akibat adanya permintaan konsumsi dengan kontribusi dari klaster kesehatan sebesar 0,03 persen atau mencapai Rp62,14 miliar. Sehingga diperoleh rasio penciptaan NTB terhadap permintaan akhir sebesar 0,827 yang berarti setiap 1.000 rupiah permintaan akhir mampu menciptakan nilai tambah sebesar 827 rupiah. Pada klaster perlinsos mampu menghasilkan kontribusi sebesar 0,06 persen atau sebesar Rp111,66 miliar terhadap NTB di Kepri. Adapun rasio penciptaan NTB terhadap permintaan akhir sebesar 0,775 yang artinya setiap 1.000 rupiah permintaan akhir mampu menciptakan nilai tambah sebesar 775 rupiah.

Sedangkan pada klaster UMKM nilai tambah yang dihasilkan sebesar Rp239,60 miliar dengan kontribusi sebesar 0,00013 persen. Rasio NTB yang tercipta terhadap

111

permintaan akhir mencapai 0,824 yang artinya setiap 1.000 rupiah permintaan akhir mampu menciptakan nilai tambah sebesar 824 rupiah. Klaster UMKM mampu menciptakan nilai tambah tertinggi dibandingkan dua klaster lainnya, hal ini mampu menggambarkan betapa berdampaknya UMKM terhadap perekonomian di Kepri. Meskipun dengan nominal penyaluran yang terkecil namun mampu menghasilkan nilai tambah terbesar.

Ditinjau berdasarkan sektor-sektor ekonomi di Kepri, penyaluran klaster kesehatan yang berdampak paling tinggi ialah sektor jasa-jasa sebesar Rp35,53 miliar atau 57,18 persen dari total penciptaan NTB, kemudian tertinggi kedua ialah sektor industri yang berkontribusi sebesar Rp23,62 miliar atau sebesar 38,01 persen. Pada klaster perlinsos, sektor yang mendominasi ialah sektor industri sebesar Rp40,20 miliar atau sebesar 36 persen terhadap total penciptaan NTB dengan subsektor paling dominan yaitu industri makanan, minuman, dan tembakau. Hal ini sesuai dengan tingginya distribusi dari konsumsi RT dari sektor makanan atas penyaluran BLT pada output pemanfaatan PC-PEN sebelumnya. Disusul oleh sektor pertanian sebesar Rp31,81 miliar atau 28,49 persen dari total penciptaan NTB.

Sektor paling dominan pada klaster UMKM ialah sektor perdagangan besar, eceran, hotel dan restoran sebesar Rp113,99 miliar serta berkontribusi 47,47 persen. Sektor kedua tertinggi yaitu sektor industri mencapai Rp48,48 miliar atau berkontribusi sebesar 20,23 persen dari total penciptaan nilai tambah.

Dampak terhadap Kesempatan Kerja

Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting dalam menciptakan output barang dan jasa. Dalam model Input Output, besarnya tenaga kerja yang terserap di setiap sektor secara linier mengikuti besarnya output yang dihasilkan. Pada Agustus 2020, jumlah angkatan kerja naik sebanyak 64.802 orang dibandingkan Agustus 2019 di Provinsi Kepri. Begitupun dengan tingkat partisipasi angkatan kerja yang naik sebesar 1,59 persen poin (y-o-y). Hal ini sejalan dengan jumlah keseluruhan kesempatan kerja pada tabel utama.

Secara total, dampak berupa kesempatan kerja yang dapat terbentuk sebagai dampak atas penyaluran anggaran pada klaster kesehatan di Kepri adalah sebanyak 2.659 orang atau dapat berkontribusi menghasilkan tenaga kerja sebesar 0,26 persen. Demikian juga dampak yang dihasilkan atas penyaluran anggaran pada klaster perlinsos mampu mendongkrak kesempatan kerja sebanyak 2.095 orang atau dapat berkontribusi sebesar 0,21 persen terhadap peningkatan jumlah tenaga kerja di Kepri.

112

Pada klaster UMKM, mampu menghasilkan kesempatan kerja sebanyak 4 orang dengan kontribusi sebesar 0,0004 persen. Jumlah penyaluran yang sangat kecil pada klaster UMKM yaitu sekitar 754 kali lipat dibandingkan total penyaluran pada klaster kesehatan dan perlinsos, namun dengan nominal yang kecil masih mampu menghasilkan kesempatan kerja meskipun jumlahnya sangat kecil. Secara keseluruhan walaupun secara kontribusi tidak terlalu besar, namun di tengah situasi pandemi hal ini merupakan angin segar yang mampu meningkatkan semangat bergeraknya perekonomian di Kepri.

Dilihat berdasarkan penyebarannya di sector-sektor ekonomi jumlah tenaga kerja yang terserap paling tinggi sebagai dampak penyaluran pada klaster kesehatan ialah sektor jasa sebanyak 2.659 orang dan kemudian sektor industri sebanyak 205 orang dengan rasio masing-masing sebesar 88,15 persen dan 8,73 persen dari total tenaga kerja yang tercipta. Pada klaster perlinsos jumlah tenaga kerja yang terserap paling banyak yaitu pada sektor pertanian sebanyak 704 orang, sektor jasa sebanyak 505 orang, dengan rasio masing-masing sebesar 33,58 persen, 24,12 persen, dan 14,77 persen dari total tenaga kerja. Sedangkan pada klaster UMKM, penyumbang kesempatan kerja terbesar yaitu sektor perdagangan sebanyak 2 orang dari total tenaga kerja yang dihasilkan.

Aktivitas kita sudah membaik dan perlu kita jaga bersama dengan menerapkan protokol kesehatan,

sehingga kita tetap bisa menjaga kesehatan atau penanganan Covid-19 dan terus bisa menjaga

momentum perbaikan ekonomi. APBN atau dukungan fiskal akan terus dalam posisi mendukung baik

dari sisi kebijakan bidang kesehatan maupun dalam upaya pemulihan dan melindungi masyarakat.

- Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia

BAB VIII