• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

E. Penyebab Terjadinya Bullying

Menurut Ponny Retno Astuti dalam bukunya : “Meredam Bullying”, terjadinya bullying disebabkan karena 2 hal, antara lain :

1. Sebagai tindakan reaktif, yakni aksi yang dilakukan oleh sekelompok anak/orang secara mendadak sebagai reaksi atas perlakuan atau gangguan orang lain kepada anggota kelompoknya.

2. Sebagai tindakan proaktif, yakni tindakan yang sengaja dilakukan seseorang/ kelompok sebagai motivasi awal atau hukuman pada korbannya untuk mendapat kan balasan.

(Ponny Retno Astuti, 2008:21)

Lagi menurut Ponny Retno Astuti, bullying juga disebabkan oleh faktor eksternal yaitu lingkungan sekitarnya serta faktor internal, antara lain :

commit to user

2. Senioritas tidak pernah diselesaikan

3. Guru memberikan contoh kurang baik pada siswa 4. Ketidakharmonisan di rumah

5. Karakter anak (faktor internal) (Ponny Retno Astuti, 2008:51)

Terjadinya bullying atau aksi intimidasi fisik, verbal, maupun psikologis yang terjadi di sekolah akibat krisis pendidikan karakter dan budi pekerti. Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono (kabinet yang lalu, 2004-2009), orang tua harus sadar dan paham bahwa bullying bukan sekadar permainan yang dilakukan anak-anak pada teman sebayanya. Bila dilihat lebih jauh, bullying telah berakar pada kebobrokan mental akibat kurangnya pendidikan karakter dan budi pekerti (Meutia Hatta Swasono, 2007:7).

Kemudian menurut Abu Huraerah, M.Si., seorang yang aktif dalam kegiatan LSM (Lembaga Pengabdian pada Masyarakat), dalam bukunya Child Abuse (kekerasan terhadap anak), kekerasan di sekolah bisa terjadi karena beberapa faktor :

1. Karena kebanyakan guru kita (di Indonesia) kurang menghayati pekerjaannya sebagai panggilan profesi, sehingga cenderung kurang memiliki kemampuan mendidik dengan benar serta tidak mampu menjalin ikatan emosional yang konstruktif dengan siswa (Mulyadi, 2006).

2. Dengan dalih demi kedisiplinan siswa. Guru kerapkali kehilangan kesabaran hingga melakukan hukuman fisik, atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji dan melanggar batas etika dan moralitas, seperti memukul, meninju, dan menendang (kekerasan fisik) serta mengeluarkan kata-kata yang tidak mendidik, yang dapat menyinggung perasaan siswa (kekerasan verbal/ kekerasan psikologis/

commit to user

kekerasan emosional), misalnya : sindiran, perkataan seperti “Kalian anak yang bodoh, anak bandel, susah diatur” dan sebagainya.

3. Kurikulum terlalu padat dan kurang berpihak kepada siswa, sehingga mengakibatkan guru cenderung menjalankan tugasnya sekedar mengejar target kurikulum. Ini tentu terkait dengan belum optimalnya upaya peningkatan kualitas dan kesejahteraan siswa (Mulyadi, 2006).

(Abu Heraerah, 2007:107)

Tak sedikit diantara para guru yang menilai bahwa tindak kekerasan yang mereka lakukan itu adalah demi membuat para murid berdisiplin. Mulai dari membentak, memukul hingga tindak kekerasan lainnya, ini tergolong ke dalam kasus

bullying, yakni perilaku kekerasan terhadap orang lain yang dianggap lebih lemah (M.

Fauzi, www.hupelita.com).

Namun, sebagian besar laporan media massa luput melihat benang merah persoalan berbagai kasus dalam fenomena kekerasan itu, yakni masalah bullying di sekolah. Sebagian masih berkutat dengan komentar pakar yang menyoroti masalah ekonomi, ketidakharmonisan keluarga, dan kerapuhan korban (Maria Hartiningsih, http://kesehatan.kompas.com).

Bullying sesungguhnya sebuah situasi yang tercipta ketika tiga karakter berte-

mu di satu tempat. Tiga karakter tersebut adalah : pelaku bullying (bully/

bullies), korban bullying, dan saksi peristiwa bullying, masing-masing punya

alasan/penyebab mengapa mereka berada pada karakternya masing-masing : 1. Pelaku bullying (bully/bullies)

Inilah aktor utama pelaku bullying. dilah sang agresor, sang provokator, sekaligus inisiator situasi bullying. Si pelaku bullying umumnya seorang anak atau murid bahkan orang dewasa (guru atau karyawan sekolah), yang berfisik besar dan kuat,

commit to user

namun tidak jarang juga ia bertubuh kecil atau sedang, namun memiliki dominasi psikologis yang besar di kalangan teman-temannya. Yang jelas, ia mempunyai kekuatan dan kekuasaan di atas korbannya.

Ditemukan begitu banyak alasan mengapa seseorang menjadi pelaku bullying. namun, alasan yang paling jelas adalah bahwa pelaku bullying merasakan kepuasan apabila ia “berkuasa” di kalangan teman sebayanya (atau murid -muridnya/anak-anak). Dengan melakukan bullying, ia mendapat label betapa “besar”nya ia dan betapa “kecil”nya sang korban. Selain itu, tawa teman-teman sekelompoknya saat ia mempermainkan sang korban memberikan sanjungan karena ia merasa punya selera humor yang tinggi, keren, dan populer.

Tidak semua pelaku bullying melakukannya sebagai kompensasi karena kepercayaan diri yang rendah. Banyak di antara mereka justru memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi dan sekaligus dorongan untuk selalu menindas dan menggencet anak yang lebih lemah. Ini disebabkan karena mereka tidak pernah dididik untuk memiliki empati terhadap orang lain, untuk merasakan perasaan orang lain yang mengalami siksaan dan aniaya (Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), 2008:14).

Atau sebagai pelaku bullying malahan seseorang seseorang berulangkali dengan sengaja menggunakan kekuasaannya untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik, emosi, maupun sosial. Kondisi ini juga terjadi karena ada ketidakseimbangan kekuatan antara fisik, kekuatan, emosional dan kekuasaan (Riri Wijaya, http://www.dradio1034fm.or.id).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Riauskina dkk., korban bullying

mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena : - Tradisi

commit to user

- Balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki) - Ingin menunjukkan kekuasaan

- Marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan - Mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan)

- Iri hati (menurut korban perempuan)

(Riauskina I. I., Djuwita R., dan Soesetio S. R., 2005:www.popsy.wordpress.com) Menurut penelitian Yayasan SEJIWA, dalam bukunya Bullying!, beberapa ciri yang bisa dijadikan pelaku bullying antara lain :

- Karena mereka pernah menjadi korban bullying - ingin menujukkan eksistensi diri

- ingin diakui

- pengaruh tayangan TV yang negatif - senoiritas

- iri hati

- menutup kekurangan diri - mencari perhatian

- balas dendam - iseng

- sering mendapat perlakukan kasar di ramah tangga dan dari teman-teman - ingin terkenal

- ikut-ikutan

(Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), 2008:16) 2. Korban bullying

Bullying tidak mungkin terjadi hanya dengan adanya pelaku bullying. harus ada

commit to user

Korban bullying bukanlah sekedar pelaku pasif dari situasi bullying. ia turut ber peran serta memelihara dan melestarikan situasi bullying dengan bersikap diam. Rata-rata korban bullying tidak pernah melaporkan kepada orang tua dan guru bahwa telah dianiaya atau ditindas anak lain di sekolahnya.

Sikap diam sang korban ini tentunya beralasan. Alasan yang utama, mereka berpikir bila melaporkan kegiatan bullying yang menimpanya tidak akan menyelesaikan masalah. Jika korban melaporkan pada guru, guru akan memanggil dan menegur sang pelaku bullying, berikutnya pelaku bullying akan kembali menghadang sang korban dan memberi siksaan yang lebih keras. Pelaku bullying

pun akan memberi ancaman jika korban berani melapor. Dari sisi korban, ancaman pelaku bullying lebih nyata dan lebih menakuitkan dibanding konsekuensi jika tidak melapor ke guru. Maka menurut para korban bullying, mendiamkan perilaku bullying adalah pilihan terbaik (Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), 2008:118).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Riauskina dkk., korban bullying

membentuk skema kognitif yang salah bahwa bullying bisa ’dibenarkan’ meskipun mereka merasakan dampak negatifnya. Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena :

- Penampilan menyolok

- Tidak berperilaku dengan sesuai - Perilaku dianggap tidak sopan - Tradisi

(Riauskina I. I., Djuwita R., dan Soesetio S. R., 2005:www.popsy.wordpress.com) Korban bullying tidak sadar bahwa ia justru merusak dirinya dengan menyimpan kepedihan tanpa berusaha mengobati atau membaginya dengan orang lain. Hal-hal

commit to user

situasional seperti tidak eratnya hubungan antara orang tua dan anak juga dapat membuat anak terisolasi dan tidak akan berpikir meminta bantuan pada orang tuanya untuk mengatasi situasi bullying. Apalagi jika ia berhadapan dengan sistem nilai orang tua atau pendidik yang cenderung menganggap bullying sebagai peris- tiwa lazim dan sarana ujian mental (Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), 2008:19).

3. Saksi bullying

Berhubung situasi bullying terkadang menyerupai sebuah pertunjukan, ia tidak akan berlangsung tanpa adanya penonton. Di sinilah saksi bullying menjadi pemirsa sekaligus pemeran dalam sebuah situasi bullying. Para saksi bullying

berperan serta dengan dua cara :

a. Aktif : menyoraki dan mendukung pelaku bullying

Tindakan ini merupakan naluri penyelamatan diri agar ia tidak menjadi korban berikutnya. Apa pun statusnya, saksi aktif ini berperan sebagai pemandu sorak, ia memberi validasi dan legitimasi bagi pelaku bullying untuk melancarkan aksinya sekaligus motivasi untuk semakin merajalela.

b. Pasif : diam dan bersikap acuh tak acuh.

Adapun saksi pasif yang juga berada di arena bullying lebih memilih diam karena alasan yang wajar yaitu yakut. Jika ia melakukan intervensi, ia akan turut menjadi korban, baik saat itu juga maupun nanti. Situasi seperti ini menumpulkan empati sang saksi : lebih baik ia diam demi keselamatannya sendiri (Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), 2008:20).

Menurut Barbara Coloroso, peneliti Bullying, Penindas (Bully/bullies) , pihak yang tertindas (korban), dan penontonnya adalah tiga karakter dalam sebuah drama

commit to user

tragis yang dimainkan di rumah, sekolah, taman bermain, dan jalan-jalan…drama itu nyata, dan akibatnya bisa mematikan (Coloroso Barbara, 2007:28).

Selain karena adanya ketiga tokoh utama yang menyebabkan kasus bullying

terjadi, tidak dapat dipungkiri, kalau lingkungan sekitar dan masyarakatnya yang turut ‘mensukseskan’ keberlangsungan kasus ini, karena tidak adanya kesadaran dan keinginan untuk melakukan intervensi, karena tidak ada pihak yang merasa paling bertanggung jawab untuk mengintervensi. Dapatkah ini disebut a tragedy of the

common, di mana masyarakat dan pemerintah tak mempunyai sentuhan langsung dan

terdampak bullying? David Thompson et al, dalam Bullying: Effective Strategies for

Long-term Improvement (2002) menginventarisasi alasan ketidaksudian orang

melakukan intervensi terhadap bullying. Alasan-alasan yang diutarakan antara lain : 1. Korban memang layak di-bully

2. Merasa bukan urusannya untuk melakukan intervensi 3. Sebaiknya orang lain saja yang melakukan

4. Kalau saya ikut campur tangan, bisa memperburuk situasi korban

5. Saya takut orang yang melakukan bullying dan teman-teman akan menyerang saya 6. Saya tidak mungkin dapat melakukan dengan sukses

7. Orang lain saja tidak ada yang peduli dan tidak melakukan tindakan apa pun untuk mengatasi

8. Jika saya mengintervensi, artinya saya konyol

9. Tidak tahu bagaimana melakukan intervensi dengan cara simpatik dan tidak agresif. Alasan-alasan ini mungkin masih bisa ditambah.

commit to user

Dokumen terkait