• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyebab Terjadinya Praktek Jual Rugi Dalam Industri

BAB III PENYEBAB TERJADINYA PRAKTEK JUAL RUGI

C. Penyebab Terjadinya Praktek Jual Rugi Dalam Industri

Penyebab utama terjadinya praktek jual rugi dalam industri retail adalah untuk mengalahkan dan mematikan usaha retail saingan para pelaku penjual rugi. Penyebab tersebut adalah penyebab utama sehingga apabila konsumen mengalihkan pembelian suatu produk kepada penjual yang menjual rugi pada waktu yang sedemikian maka diharapkan pihak saingan dari penjual yang sama akan merasa dirugikan karena pembelinya tidak ada lagi, sehingga kalah bersaing.

Selain faktor persaingan tersebut maka menjual rugi juga dibuat sedemikian rupa untuk menarik kembali. Artinya menjual rugi dilakukan perusahaan untuk barang tertentu dan terhadap barang tertentu lainnya diberikan harga standard. Dengan kondisi tersebut maka pembeli akan tertarik membeli produk yang dijual rugi. Tetapi sebaliknya konsumen tanpa sadar membeli produk lain yang harganya adalah harga standard. Dengan kebijakan pemasaran yang sedemikian perusahaan diharapkan mendapatkan keuntungan.

Predatory pricing atau jual rugi adalah salah satu bentuk strategi yang

dilakukan oleh pelaku usaha dalam menjual produk dengan harga dibawah biaya produksi (average cost atau marginal cost). Adapun tujuan utama dari

predatory pricing untuk menyingkirkan pelaku usaha pesaing dari pasar dan

juga mencegah pelaku usaha yang berpotensi menjadi pesaing untuk masuk ke dalam pasar yang sama. Segera setelah berhasil membuat pelaku usaha pesaing keluar dari pasar dan menunda masuknya pelaku usaha pendatang baru, maka selanjutnya dia dapat menaikkan harga kembali dan memaksimalkan keuntungan yang mungkin didapatkan. Untuk dapat melakukan perbuatan tersebut, maka pelaku usaha tersebut haruslah mempunyai pangsa pasar yang besar dan keuntungan yang akan diperoleh dapat menutupi kerugian yang diderita selama masa predator. Terdapat dua syarat pendahuluan sebelum melakukan predatori yaitu; pertama, pelaku usaha yakin bahwa pesaingnya akan mati lebih dulu dari pada dia. Kedua, keuntungan setelah predatori akan melebihi kerugian selama masa predatori.

Menurut R. Sheyam Khemani, Predatory pricing biasanya dilarang bukan dikarenakan menetapkan harga yang terlalu rendah terhadap produk yang dijualnya sekarang, tetapi dikarenakan di masa yang akan datang pelaku usaha akan berusaha untuk mengurangi produksinya dan menaikan harga. Oleh karena itu apabila pelaku usaha yang melakukan praktek predatory pricing, namun tidak mengurangi produksinya dan juga tidak menaikan harga, maka mungkin tidak akan terjadi predatory pricing yang bertentangan dengan hukum.Pasal 7 Undang-undang No. 5 Tahun 1999 melarang pelaku usaha untuk membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya untuk menetapkan

harga di bawah harga pasar (predatory pricing) yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. 26

Oleh karena ketentuan yang mengatur mengenai predatory pricing dirumuskan secara rule of reason, maka sesungguhnya dapat dikatakan sebenarnya pelaku usaha tidak dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga dibawah harga pasar, asalkan tidak mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat atau pelaku usaha tersebut mempunyai alasan-alasan yang dapat diterima.

Salah satu kasus predatory pricing adalah yang terjadi adalah antara William Inglis & Son Co. vs. ITT Continetal Baking Co. Kasus ini diajukan oleh Inglis yang mendalilkan bahwa Continental berusaha menghilangkan persaingan dengan jalan menjual rugi roti dengan private label miliknya dibawah biaya tidak tetap rata-rata, sehingga menyebabkan Inglis bankrut. Sebaliknya Continental mendalilkan bahwa dia hanya melakukan kompetisi secara ketat. Harganya adalah dapat dibenarkan mengingat kelebihan kapasitas dalam industri. Putusan pengadilan menyatakan bahwa Continental tidak melanggar Hukum Persaingan. Ninth Circuit (Pengadilan Banding) menyatakan bahwa apabila harga dari terlapor adalah dibawah harga total rata-rata, tetapi diatas biaya tidak tetap rata-rata-rata, maka pelapor/ penggugat mempunyai kewajiban untuk membuktikan bahwa harga dari terlapor adalah predator. Namun apabila penggugat membuktikan bahwa harga Terlapor

26 Tipers, "Contoh Kasus Predatory Pricing", Melalui http://teentiper.blogspot.com/

adalah dibawah harga tidak tetap rata-rata, maka Terlapor mempunyai kewajiban untuk membuktikan bahwa harganya tersebut adalah masuk akal terlepas dari akibatnya terhadap pesaing.

Predatory pricing ini tidaklah selalu bertentangan dengan hukum.

Harus dibedakan dengan persaingan sempurna atau persaingan yang sangat ketat, karena bisa saja dianggap predatori tapi sebenarnya adalah persaingan yang sangat kompetitif.

Strategi predatory pricing hanya bisa berlaku jika perusahaan pesaing baru sulit muncul dan pesaing yang sudah mati sulit bangkit lagi dalam industri tersebut. Jika tidak, ini adalah strategi “bunuh diri”: kalau pesaing baru mudah muncul, atau pesaing lama mudah bangkit lagi, sang predator perlu terus menerapkan harga jual-rugi. Semakin lama jual-rugi” dilakukan, semakin dekatlah perusahaan pada kebangkrutan.

Secara garis besar teknik ini dilaksanakan dalam tiga tahap:

1. Perusahaan A memberikan harga yang rendah atas produk/jasa yang dia produksi dengan tujuan memperoleh sebanyak mungkin konsumen sehingga perusahaan pesaingnya (B,C, D) akan tertekan. meskipun sebenarnya perusahaan A merugi.

2. Ketika perusahaan pesaing (B, C, D) sudah tidak mungkin lagi dapat menggarap pasar karena pangsa pasar yang tersisa sudah sangat sedikit, maka dalam pasar tersebut tinggal satu perusahaan saja yang sangat dominan (perusahaan A).

3. Ketika sudah tidak ada lagi pesaing yang berarti (signifikan) maka perusahaan A akan menaikan harga barang/jasa, sehingga dapat menutup kerugian yang dialami pada tahap 1.27

Kebijakan pricing seperti itu tentu akan merugikan dunia usaha dan tentu saja konsumen. kerugian yang ditimbulkan adalah sebagai berikut:

a. Dominasi pasar oleh satu/lebih pelaku usaha akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan pelaku usaha lain untuk masuk kedalam pasar, sehingga secara makro akan menghambat investasi

b. Konsumen tidak memiliki cukup pilihan atas barang/jasa yang ditawarkan dalam suatu pasar

c. Pelaku usaha yang dominan akan menentukan harga secara sewenang-wenang/tidak wajar.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pasar memainkan peran penting dalam hukum persaingan. Namun demikian persaingan tidak dapat dianalisis dalam pasar yang sangat luas dan umum, dan karenanya identifikasi pasar untuk membatasi analisis persaingan sangat diperlukan. Pasar produk dan pasar geografis merupakan kriteria pokok untuk menentukan pasar yang baik dalam hukum persaingan di Indonesia sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 10 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Selanjutnya kriteria tersebut akan memberikan batas ruang praktik-praktik bisnis yang restriktif, yaitu praktek-praktek yang menimbulkan praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat, dalam bentuk penetapan harga, pemboikotan, oligopsoni, monopoli, monopsoni, penguasaan pasar, persekong-kolan, penggunaan posisi dominan secara umum dan atau penggunaan posisi dominan melalui jabatan rangkap dan/atau melalui pemilikan saham.1

Terdapat banyak cara yang dipergunakan oleh pelaku pasar dengan tujuan untuk menguasai pasar. Ada beberapa perbuatan yang dilakukan pelaku pasar yang diatur menurut hukum persaingan karena dinyatakan sebagai

1 Sih Yuliana Wahyuningtyas, “Urgensi Pengaturan Tentang Pasar Bersangkutan

(Relevant Market) Dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia”, Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 24. No. 2 Tahun 2005, hal. 22.

pelanggaran dan dapat mengakibatkan terganggunya proses persaingan, tidak tercapainya efisiensi, serta tidak teralokasinya sumber daya. Akan terjadi juga perpindahan kesejahteraan konsumen ke kesejahteraan produsen sehingga pada akhirnya konsumen akan dirugikan dalam hal harga, kualitas, dan pilihan produk. Oleh sebab itu dalam upaya memenangkan persaingan, berbagai cara dilakukan oleh pelaku untuk mencoba mengusir pesaingnya dari pasar. Persaingan sehat dalam dunia usaha mendapat keuntungan terjadi dalam berbagai bentuk, misalnya harga, jumlah, pelayanan, ataupun kombinasi berbagai faktor yang akan dinilai oleh konsumen. Namun di samping upaya melakukan persaingan yang sehat banyak pelaku usaha juga melakukan perbuatan yang melanggar undang-undang untuk memenangkan persaingan. Salah satu cara untuk melakukan upaya monopoli dan persaingan tidak sehat adalah melakukan perjanjian penjualan secara rugi.

Menjual di bawah harga modal (menjual rugi) atau dalam istilah asing dikenal dengan istilah predatory pricing adalah suatu tindakan menjual suatu produk di bawah harga modal atau di bawah harga produksi, dengan harapan dapat mengalahkan saingan produk yang sejenis. Dengan adanya tindakan menjual rugi tersebut maka konsumen akan dialihkan perhatiannya pada produk yang dijual rugi tersebut selanjutnya akan mengacuhkan produk sejenis yang menjual dengan harga standar.

Menjual di bawah harga modal (menjual rugi) adalah salah suatu konsep yang dijalankan oleh pemilik modal besar dalam memenangkan

persaingan usaha, dimana upaya menjual rugi tersebut akan mengakibatkan produk saingan tidak akan mampu bertahan dan selanjutnya menghilang. Dengan hilangnya produk saingan dari suatu produk yang dijual rugi, maka produk yang dijual rugi tersebut oleh pengusaha akan dikembalikan kepada harga standar bahkan dapat lebih tinggi. Konsumen yang selama ini dapat memperoleh suatu produk dengan harga murah tatkala harga produk tersebut dinaikkan akan tetap melakukan pembelian karena tidak ada lagi produk yang sejenis yang diproduksi perusahaan lain yang diperjual belikan di pasaran.

Pasar merupakan faktor kunci dalam hukum persaingan. Peran penting pasar bagi persaingan dijelaskan dengan menekankan terwujudnya pasar yang berfungsi sebagai pra syarat pertama yang harus dipenuhi dalam kebijakan ekonomi nasional, selain mekanisme harga, agar persaingan dapat berlangsung. Konsep pasar diakui mewakili konsep dasar ketika dilakukan analisis persaingan. Konsep dasar bersangkutan digunakan untuk mengidentifikasikan produk dan kegiatan yang bersaing dalam bisnis.

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik beberapa permasalahan yang akan menjadi batasan pembahasan dari penelitian ini nantinya, antara lain :

a. Bagaimana praktek menjual rugi dalam industri retail dalam perspektif

Undang-Undang No. 5 Tahun 1999?

b. Bagaimana penyebab terjadinya praktek jual rugi dalam industri retail?

c. Bagaimana akibat hukum terhadap pelaku usaha yang melakukan praktek

jual rugi?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui praktek menjual rugi dalam industri retail dalam

perspektif Undang-Undang No. 5 Tahun 1999.

2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya praktek jual rugi dalam industri

retail.

3. Untuk mengetahui akibat hukum terhadap pelaku usaha yang melakukan

praktek jual rugi

Berangkat dari permasalahan-permasalahan di atas penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

a. Dari segi teoritis sebagai suatu bentuk penambahan literatur di bidang

hukum bisnis khususnya dalam lingkup hukum persaingan usaha.

b. Dari segi praktis sebagai suatu bentuk sumbangan pemikiran dan masukan

para pihak yang berkepentingan khususnya dalam hal yang menyangkut tentang persaingan usaha dalam kajian perihal menjual rugi.

D. Keaslian Penulisan

Adapun penulisan skripsi yang membahas tentang Akibat Hukum Praktik Jual Rugi Dalam Industri Retail Ditinjau Dari UU NO. 5 Tahun 1999

ini merupakan luapan dari hasil pemikiran penulis sendiri. Sehingga penulisan skripsi ini masih asli serta dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan akademik.

E. Tinjauan Kepustakaan 1. Jual beli

Sebagaimana diketahui bahwa pada prinsipnya di dalam pelaksanaan jual beli tentu akan melibatkan pihak pembeli dan penjual dan juga bahwa sebelum terjadinya pelaksanaan jual beli tersebut maka terlebih dulu lahir adanya kesepakatan antara pihak (baik pihak pembeli maupun pihak penjual) terhadap obyek yang dijadikan sebagai obyek jual beli tersebut. Maka untuk lebih memahami apakah sebenarnya yang perlu dilihat dalam proses jual beli tersebut, sebaiknya harus kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan jual beli.

Menurut ketentuan Kitab Undng-Undang Hukum Perdata bahwa jual beli itu diartikan suatu perjanjian bertimbal balik dalam mana pihak yang satu (si penjual) berjanji untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang, sedang pihak yang lainnya (si pembeli) berjanji untuk membayar harga yang terdiri atas sejumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak milik tersebut.

Untuk mengetahui pengertian perjanjian jual beli ada baiknya dilihat Pasal 1457 KUH Perdata yang menentukan “ jual beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda

(zaak) dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga”.

Dari bunyi Pasal 1457 KUH Perdata di atas maka dapat dikemukakan beberapa hal yaitu :

1. Terdapat dua pihak yang saling mengikatkan dirinya yang

masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang timbul dari perikatan jual beli tersebut.

2. Pihak yang satu berhak untuk mendapatkan/menerima pembayaran

dan berkewajiban menyerahkan suatu kebendaan, sedangkan pihak lainnya berhak atas mendapatkan/menerima suatu kebendaan dan berkewajiban menyerahkan suatu pembayaran,

3. Hak bagi pihak yang satu merupakan kewajiban bagi pihak lainnya,

begitupun sebaliknya, kewajiban bagi pihak yang satu merupakan hak bagi pihak lainnya,

4. Bila salah satu tidak terpenuhi atau kewajiban tidak dipenuhi oleh

salah satu pihak, maka tidak akan terjadi perikatan jual beli.2

Wirjono Prodjodikoro mengatakan “ jual beli adalah suatu persetujuan dimana suatu pihak mengikat diri untuk berwajib menyerahkan suatu barang, dan pihak lain berwajib membayar harga, yang dimufakati mereka berdua“.3

Volmar sebagaimana dikutip oleh Gunawan Widjaja mengatakan “ jual beli adalah pihak yang satu penjual (verkopen) mengikat diri kepada pihak lainnya pembeli (loper) untuk memindah tangankan suatu benda dalam

eigendom dengan memperoleh pembayaran dari orang yang disebut terakhir,

sejumlah tertentu, berwujud uang “.4

2 Hasanuddin Rahman, Contract Drafting, Seri Keterampilan Merancang Kontrak Bisnis,

Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hal. 24.

3 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perdata Tentang Persetujuan-Persetujuan Tertentu,

Sumur, Bandung, 1991, hal. 17.

4 Gunawan Widjaja dan Kartini Muljadi, Jual Beli, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004,

Sedangkan Gunawan dan Kartini mengemukakan jual beli itu ialah perjanjian / persetujuan / kontrak dimana satu pihak (penjual) mengikat diri untuk menyerahkan hak milik atas benda/barang kepada pihak lainnya (pembeli) yang mengikat dirinya untuk membayar harganya berupa uang kepada penjual .5

- Kewajiban pihak penjual menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli,

Dari pengertian yang diberikan Pasal 1457 KUH Perdata di atas, perjanjian jual beli sekaligus membebankan dua kewajiban :

- Kewajiban pihak pembeli membayar harga barang yang dibeli kepada

penjualan.

Dari ketentuan di atas sebenarnya dapat kita lihat bahwa perkataan jual beli dimaksud menunjukkan bahwa dari satu pihak perbuatan dinamakan menjual, sedangkan dari pihak yang lain dinamakan membeli. Istilah yang mencakup dua perbuatan yang bertimbal balik itu adalah sesuai dengan istilah Belanda “koop enverkoop” yang juga mengandung pengertian bahwa pihak yang satu “verkoop” (menjual) sedang yang lainnya “koopt” (membeli).

Selanjutnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa di dalam pelaksanaan jual beli tersebut tentu ada obyeknya. Oleh karena itu dapat kita perhatikan bahwa barang yang menjadi obyek perjanjian jual beli harus cukup tertentu, setidak-tidaknya dapat ditentukan wujud dan jumlahnya pada saat ia akan diserahkan hak miliknya kepada si pembeli.

Di samping masalah obyek yang dipersoalkan dalam jual beli tersebut

5 Ibid., hal. 7

maka perlu juga kita tinjau masalah saat terjadinya jual beli tersebut.

Untuk memudahkan pemahaman kita akan hal itu maka harus kita lihat mengenai unsur-unsur pokok (“essentalia”) perjanjian jual beli yaitu : barang dan harga. Sesuai dengan azas “Konsensualisme” yang menjiwai hukum perjanjian, di mana perjanjian jual beli itu sudah dilahirkan pada detik tercapainya “sepakat” mengenai barang dan harga. Begitu kedua pihak sudah setuju tentang barang dan harga, maka lahirlah perjanjian jual beli yang sah.

Untuk lebih jelasnya sehubungan dengan sifat konsensuil dari jual beli tersebut dapat kita lihat dalam Pasal 1457 KUH Perdata yang berbunyi : “Jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu barang, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan.

Dari kriteria di atas maka sebenarnya dapat digambarkan begitulah pengertian jual beli secara umum atau pengertian jual beli semacam ini bisa kita temukan di mana-mana, misalnya di pasar, di toko-toko, di restauran-restauran dan lain-lain.

Menurut Zeylemaker yang dimuat dalam buku ke-4 karangan H.M.N. Purwosutjipto, yang berjudul Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia menyebutkan jual beli perusahaan adalah suatu perjanjian jual beli sebagai perbuatan perusahaan, yakni perbuatan pedagang atau pengusaha lainnya, yang berdasarkan perusahaannya atau jabatannya melakukan perjanjian jual beli.6

6 H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang, Bentuk-Bentuk Perusahaan,

Oleh karena itu jual beli perusahaan adalah perjanjian jual beli yang bersifat khusus. Khususnya terletak dalam beberapa hal, yaitu antara lain :

a. Jual beli perusahaan merupakan suatu perbuatan perusahaan.

b. Para pihak dalam perjanjian, salah satunya atau kedua-duanya pengusaha, yaitu orang atau badan hukum yang menjalankan perusahaan.

c. Barang-barang yang diperjual belikan, biasanya adalah barang-barang

dagangan atau barang-barang yang tidak untuk dipakai sendiri atau untuk kepentingan konsumsi pribadi.

2. Menjual Rugi (Predatory Pricing)

Menjual rugi atau predatori pricing dalam hukum persaingan sampai saat ini masih diperdebatkan secara kontroversial. Perdebatan ini terfokus pada beberapa hal, yaitu tujuan undang-undang, fungsi pendekatan dan perhitungan ekonomi, kemampuan pasar untuk mengontrol proses persaingan dan juga sistem hukum yang harus mampu mendeteksi tindakan yang melanggar, serta berbagai argumentasi lainnya.

Analisis klasik tindakan menjual rugi adalah ketika sebuah perusahaan yang memiliki posisi dominan atau kemampuan keuangan yang kuat menjual produknya di bawah harga produksi dengan tujuan memaksa pesaingnya keluar dari pasar.7

7 Ningrum Natasya Sirait, Menjual Rugi (Predatory Pricing) Dalam Hukum Persaingan

dan Pengaturannya dalam UU No. 5 /1999, Jurnal Hukum Bisnis Volume 23 No. 1 Tahun 2004,

hal. 72.

Sesudah memenangkan persaingan, perusahaan tersebut

akan menaikkan harganya kembali di atas pasar dan berupaya untuk mengembalikan kerugiannya dengan mendapatkan keuntungan dari harga monopoli (karena pesaingnya sudah keluar dari pasar). Menjual rugi dinyatakan sebagai tindakan yang berdasarkan atas perhitungan efisiensi.

Dalam mekanisme ekonomi pasar, persaingan akan menghasilkan pelaku yang efisien, kualitas yang baik, dan harga yang terjangkau konsumen. Hukum persaingan sendiri ditujukan untuk melindungi proses persaingan dan bukan melindungi pesaing yang kalah dalam proses persaingan. Namun Hukum Persaingan akan membatasi bila ada pelaku pasar yang berupaya mengeksploitasi kekuatan pasar untuk mengusir pesaingnya dari pasar dan sesudahnya akan memiliki kekuatan pasar yang lebih besar lagi. Dengan kata lain pelaksanaan tindakan menjual rugi adalah dengan mengorbankan keuntungan yang tujuannya tidak jelas dan tidak dapat dijelaskan kecuali sebagai strategi mengurangi persaingan dan sesudahnya berupaya kembali mendapatkan keuntungan monopoli dengan menetapkan harga di atas persaingan untuk suatu jangka waktu tertentu sesudah pesaing tersingkir dari pasar.

F. Metode Penelitian

Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini terdiri dari :

1. Sifat dan materi penelitian

menelaah dan menjelaskan serta menganalisa peraturan-peraturan yang berlaku dihubungkan dengan pengaturan pasar bersangkutan (relevant market) menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1999. Sedangkan materi penelitian ini adalah berdasarkan data sekunder yaitu berdasarkan telah teoritis.

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk meneliti penerapan ketentuan-ketentuan perundang-undangan (hukum positif) dalam bidang persaingan usaha. Dengan demikian penelitian yang dilakukan merupakan penelitian hukum juridis normatif yaitu suatu penelitian dengan mengambil kerangka penelitian berdasarkan ketentuan pengaturan perundang-undangan, yang kemudian hasilnya akan dipaparkan dalam bentuk deskripsi berupa pemaparan hal-hal yang ditemukan dalam penelitian tersebut.

2. Sumber data

Sumber data dalam penelitian ini berasal dari :

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, yakni :

1) Norma atau kaidah dasar, yaitu Pembukaan Undang-Undang Dasar

1945,

2) Peraturan perundang-undangan yang berkait hukum anti monopoli yaitu Undang-Undang N0. 5 Tahun 1999.

b. Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan

hukum primer, seperti : buku-buku, hasil-hasil penelitian, karya dari kalangan hukum dan sebagainya.

c. Bahan hukum tertier atau bahan hukum penunjang mencakup :

1) Bahan-bahan yang memberi petunjuk-petunjuk maupun penjelasan terhadap hukum primer dan sekunder.

2) Bahan-bahan primer, sekunder dan tertier (penunjang) di luar bidang

hukum seperti kamus, insklopedia, majalah, koran, makalah, dan sebagainya yang berkaitan dengan permasalahan.

3. Alat pengumpul data

Alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah melalui studi dokumen dan penelusuran kepustakaan yang merupakan alat pengumpul data dalam bentuk sekunder.

4. Analisis hasil penelitian

Untuk mengolah data yang didapatkan dari penelusuran kepustakaan, studi dokumen, maka hasil penelitian ini menggunakan analisa kualitatif. Analisis kualitatif ini pada dasarnya merupakan pemaparan tentang teori-teori yang dikemukakan, sehingga dari teori-teori tersebut dapat ditarik beberapa hal yang dapat dijadikan kesimpulan dan pembahasan skripsi ini.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini dibagi dalam beberapa bab, dimana dalam bab terdiri dari unit-unit bab demi bab. Adapun sistematika penulisan ini dibuat dalam bentuk uraian:

Dalam Bab ini akan diuraikan tentang uraian umum seperti penelitian pada umumnya yaitu, Latar Belakang, Permasalahan, Tujuan dan Manfaat Penulisan, Keaslian Penulisan, Metode Penelitian serta Sistematika Penulisan.

Bab II. Praktek Menjual Rugi Dalam Industri Retail Dalam Perspektif

Dokumen terkait