Penyelesaian Sengketa Terhadap Kapal Yang Terkait

Dalam dokumen ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN JUAL BELI KAPAL BERBENDERA ASING DI BATAM TESIS. Oleh ZULKARNAIN /MKn (Halaman 130-0)

BAB II ATURAN HUKUM PELAKSANAAN JUAL BELI KAPAL

B. Forum Penyelesaian Sengketa

3. Penyelesaian Sengketa Terhadap Kapal Yang Terkait

Dalam hal perusahaan perkapalan (shipping company) sebagai debitur gagal mengembalikan pembiayaan yang diterimanya kepada bank, ketentuan saat ini yang mengatur tentang eksekusi kapal laut.

Pasal 224 HIR berkaitan dengan hipotik pada umumnya mengatur bahwa gross atau copy pertama yang autentik dari akte hipotik mempunyai status yang sama dengan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap sehingga pihak pemegang hipotik dapat meminta bantuan pengadilan untuk melakukan eksekusi atas objek.172

Dalam KUHPerdata yang berlaku untuk hipotik atas kapal laut disebutkan bahwa pemegang hipotik dapat pemelakukan penjualan sendiri atas objek hipotik yang prosedurnya dilakukan dengan cara lelang.

171 Huala Adolf, Ibit, hal 214

172Lihat Pasal 224 HIR

132

Dari ketentuan keduanya tersebut dapat disimpulkan bahwa sertifikat hipotik mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan ini berarti pemegang hipotik dapat meminta bantuan pengadilan untuk melakukan eksekusi atas objek tersebut dan sertifikat hipotik berlaku sebagai pengganti grosse akta hipotik. Selanjutnya terhadap kapal tersebut tidak dapat dilakukan jual beli dengan pihak lain baik itu pengusaha nasional maupun asing.

Terhadap kapal yang berada diluar hukum Indonesia eksekusi atas kapal yang menjadi objek hipotik dapat dimintakan bantuan pengadilan karena kekuatan grosse akta hipotik tersebut. Menurut pasal 315e KUHDagang bahwa terhadap kapal yang telah dihipotikkan di Indonesia yang akan dilakukan lelang sita di luar wilayah Indonesia , maka kapal-kapal tersebut tidak dibebaskan dari hipotiknya di Indonesia. 173 Saat ini di Indonesia hipotek kapal laut tunduk pada KUHDagang dan konvensi internasional yang telah diratifikasi Indonesia, yaitu Konvensi Internasional tentang Piutang Maritim dan Mortgage 1993.174

Dalam Pasal 25 RUU Hipotik Kapal diatur bahwa pencoretan kapal dari daftar kapal Indonesia mengakibatkan utang-utang yang dijamin oleh hipotik kapal yang bersangkutan menjadi dapat ditagih dan selama utang yang bersangkutan belum

173 Lihat pasal 315e KUHDagang

174 Ditetapkan melalui Peraturan Presiden RI No. 44 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Convention on Maritime Liens and Mortgages, 1993.

133

dibayar, utang tersebut dapat ditagih terhadap kapal tersebut seolah-olah kapal tersebut masih terdaftar di Indonesia.175

3.1. Akibat Hukum Dari Musnahnya Kapal Laut Yang Jadi Obyek Hipotik Pasal 1209 KUHPerdata mengatur bahwa hapusnya hipotik disebabkan karena (a) hapusnya perikatan pokoknya; (b) pelepasan hipotik oleh si berpiutang; dan (c) karena penetapan hakim. Hal ini berarti bahwa musnahnya kapal yang menjadi obyek hipotik tidak termasuk dalam hal yang menyebabkan hapusnya hipotik. Oleh karena tidak ada pengaturan yang jelas mengenai akibat hukum dari musnahnya kapal laut yang menjadi objek hipotik, hal tersebut tentunya dikembalikan pada kesepakatan antara debitur dengan kreditur pada perjanjian hipotik (sebagai perjanjian accesoir) atau perjanjian kredit (sebagai perjanjian pokok). Apabila dalam perjanjian tersebut diatur mengenai akibat hukum dari musnahnya kapal, maka dapat pula diatur mengenai asuransi atas musnahnya kapal sebagai jaminan terhadap pembayaran utang debitur.

Berbeda dengan KUHPerdata, draft RUU Hipotik Kapal mengatur tentang musnahnya kapal yang menjadi objek hipotik serta akibat hukumnya. Dalam draft RUU Hipotik tersebut disebutkan bahwa musnahnya kapal merupakan salah satu sebab yang mengakibatkan hapusnya hipotik. Akibat hukum dari hapusnya hipotik adalah segala hak dan kewajiban debitur dan kreditur yang timbul dari perjanjian hipotik hilang bersamaan dengan hapusnya perjanjian hipotik, akan tetapi hapusnya hipotik tidak menghapuskan perjanjian pokoknya yaitu perjanjian pembiayaan antara debitur dan kreditur.

Karena musnahnya kapal menghapuskan perjanjian hipotik antara kreditur dan debitur, draft RUU Hipotik Kapal memberikan jaminan pengembalian pembiayaan bank. Dalam RUU Hipotik tersebut disebutkan bahwa apabila kapal hilang atau rusak maka pembayaran ganti rugi kepada pemilik kapal, jumlah yang terutang kepada pemilik kapal dalam rangka kerugian laut umum dan ganti rugi asuransi harus menjadi jaminan untuk pelunasan utang debitur pada krediturnya.

Berkenaan dengan itu, untuk menjamin pelunasan utang debitur, dalam perjanjian kredit atau perjanjian hipotik, kreditur dapat mewajibkan debitur untuk mengasuransikan kapal yang menjadi objek hipotik.

Meskipun draft RUU Hipotik Kapal tidak secara tegas mengatur kewajiban debitur untuk mengasuransikan kapal, Instruksi Presiden No. 5 tahun 2005 telah

175 www.bi.go.id/NR/rdonlyres/.../05_tinjauan_hipotek_kapal1.pdf, diakses pada tanggal 25 mei 2012 pukul 10.00 WIB

134

menginstruksikan kepada menteri yang berwenang untuk melakukan dan merumuskan kebijakan-kebijakan sebagai berikut :

• setiap kapal yang dimiliki dan/atau dioperasikan oleh perusahaan pelayaran nasional, dan/atau kapal bekas/kapal baru yang akan dibeli atau dibangun di dalam atau di luar negeri untuk jenis, ukuran dan batas usia tertentu wajib diasuransikan sekurang-kurangnya “Hull & Machineries” (rangka kapal);

• muatan/barang dan penumpang yang diangkut oleh perusahaan pelayaran nasional yang beroperasi baik di dalam negeri maupun di luar negeri, wajib diasuransikan;

• menetapkan kebijakan yang mendorong perusahaan asuransi nasional untuk bergerak di bidang asuransi perkapalan untuk menyesuaikan dengan standar kemampuan retensi asuransi perkapalan internasional.

Dengan adanya pengaturan mengenai kewajiban asuransi bagi perkapalan sebagaimana dimaksud di atas, diharapkan hal ini dapat memberikan jaminan kepastian pelunasan utang terhadap kreditur dalam hal terjadi ‘sesuatu’ terhadap kapal yang dijaminkan tersebut. Namun perlu diperhatikan bahwa kewajiban tersebut hanya sekurang-kurangnya atas rangka kapal. Oleh karena itu, kreditur harus melakukan analisis apakah nilai pertanggungan asuransi dimaksud mencukupi pembayaran seluruh kewajiban debitur.

Selanjutnya, dalam draft RUU Hipotik Kapal tersebut juga diatur bahwa kreditur yang kreditnya dijamin oleh suatu hipotik kapal berhak untuk melaksanakan eksekusi jaminan yang terkait dengan kapal tersebut apabila debitur atau setiap orang yang menguasai kapal tersebut secara substansial diduga melakukan sesuatu tindakan atau kelalaian yang bersifat merugikan terhadap jaminan kreditur. Ketentuan dalam pasal dimaksud kiranya perlu disempurnakan, antara lain perlu menyebutkan secara jelas kondisi kapal yang dapat memberikan hak bagi kreditur untuk menjalankan hak eksekusinya sebelum pembiayaan yang dijamin jatuh tempo, misalnya dalam hal terjadi kecelakaan atau kelalaian dalam merawat kapal yang menyebabkan nilai kapal berkurang secara signifikan. Penetapan kondisi kapal dimaksud perlu diatur secara jelas untuk menghindarkan timbulnya perselisihan antara kreditur dan debitur tentang dapat tidaknya kreditur menjalankan hak eksekusinya sebelum berakhirnya jangka waktu pembiayaan. Selain itu, pengaturan hak eksekusi kreditur yang demikian itu akan mengurangi kemungkinan timbulnya kerugian yang lebih besar pada pihak kreditur.176

3.2. Akibat Hukum Dari Penggantian Bendera Kapal Yang Menjadi Obyek Hipotik

Pasal 3 Konvensi International tentang Piutang Maritim dan Mortgage 1993 (International Convention on Maritime Liens and Mortgages, 1993) yang diratifikasi

176 www.bi.go.id/NR/rdonlyres/.../05_tinjauan_hipotek_kapal1.pdf, diakses pada tanggal 25 mei 2012 pukul 10.00 WIB.

135

dengan Peraturan Presiden No. 44 Tahun 2005, menyatakan bahwa negara peserta tidak akan membolehkan penghapusan (deregistrasi) dari suatu kapal kecuali apabila semua hipotik yang telah terdaftar dihapuskan terlebih dahulu atau harus mendapatkan suatu persetujuan tertulis terlebih dahulu dari semua pemegang hipotik.

Ketentuan ini memberikan suatu jaminan bahwa terhadap kapal yang terikat dalam daftar hipotik kapal dapat dilakukan jual beli terhadap kapal tersebut kepada pihak lain dengan persetujuan dari si pemegang hipotik. Hipotik tersebut melekat pada benda yang dihipotikkan.

Ketentuan peralihan pemerima hipotik kapal ini seperti yang diatur dalam pasal 35 undang-undang nomor 51 tahun 2002, yang menyebutkan bahwa si penerima hipotik di wajibkan untuk meminta permohonan roya hipotik kepada Pejabat Pendaftaran dan Pencatat Balik Nama Kapal. Pengajuan roya hipotik tersebut diajukan oleh pemberi hipotik dengan dilampiri juga dengan surat persetujuan roya dari penerima hipotik.

136

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan dari uraian penulisan dalam bab-bab sebelumnya, maka dibuat kesimpulan sebagai berikut :

1. Perjanjian jual beli antara pelaku bisnis yang berasal dari dua negara atau lebih atau yang melampui batas wilayah suatu negara seperti halnya dalam perjanjian jual beli kapal berbendera asing merupakan bagian dari Hukum Perdata Internasional Indonesia ( HPI). Ketika kontrak internasional dibuat dan diatur menurut hukum Indonesia, maka berlakulah pasal-pasal KUHPerdata dan apabila masalahnya menyangkut hal yang baru yang tidak ditemukan dalam KUHPerdata, maka berlakulah asas kebebasan berkontrak. Untuk saat ini belum adanya pengaturan yang khusus mengenai ketentuan jual beli antar negara, akan tetapi didalam pelaksanaannya masih mengacu kepada Algemene Bepalingen van

137

Wetgeving (AB) terutama dalam pasal 16, 17 dan 18 AB , KUHPerdata, KUHDagang, Undang-Undang serta yang berasal dari konvensi-konvensi Internasional yang telah diratifikasi oleh Presiden maupun DPR.

2. Proses jual beli kapal berbendera asing di Batam dilakukan dihadapan notaris sebagai pejabat publik dan ada juga yang dilakukan dibawah tangan sesuai dengan kesepakatan para pihak yang membuat kontrak. Kewenangan syahbandar dalam hal Pendaftaran hak milik atas kapal tersebut dengan pembuatan akta pendaftaran kapal oleh Pejabat Pendaftar dan Pencatat Baliknama Kapal di kantor kesyahbandaran sebagai dasar untuk diterbitkannya grosse akta kapal yang merupakan salinan pertama dari minut akta pendaftaran kapal. Syarat utama dalam pendaftaran bekas kapal berbendera asing yaitu Deletion certificate (asli ), Builder certificate, Delivery certificate, Bill of Sale (dilegalisir oleh notaris dinama kapal tersebut terdaftar sebelumnya), KTP Direktur , Akta Perusahaan/ pengesahan. Terhadap jual beli kapal berbendera asing baik yang di lakukan oleh orang pribadi ataupun oleh badan hukum yang bergerak dibidang pelayaran tidak dikenakan PPN dan PPh Pasal 22 tetapi tidak berlaku untuk jual beli kapal di luar Batam. Hal ini disebabkan kedudukan daerah Batam sebagai kawasan FTZ ( Free Trade Zone )

Perlindungan hukum bagi para pihak terhadap jual beli kapal berbendera asing di Batam tunduk pada ketentuan yang terdapat di dalam KUHPerdata dan KUHDagang serta peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan jual beli kapal, kecuali dalam perjanjian kontrak tersebut jelas-jelas menunjuk hukum

138

negara tertentu untuk menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan perjanjian jual beli tersebut. Hal ini sesuai dengan prinsip nasionaliteit yang dianut oleh Indonesia dalam ketentuan Hukum Perdata Internasional Indonesia. Begitu juga halnya dengan badan hukum sesuai dengan doktrin inkorporasi yaitu dimana badan hukum tunduk pada hukum dimana badan hukum itu telah didirikan atau dibentuk.

3. Dalam hal terjadinya sengketa diantara para pihak di dalam pelaksanaan jual beli kapal tersebut, guna menghindari ketidakpastian mengenai hukum mana yang berlaku serta forum mana yang berwenang untuk menangani sengketa bisnis internasional, maka para pihak dapat melakukan pilihan hukum (choice of law) dan pilihan forum (choice of forum) pada waktu perjanjian dibuat. Apabila tidak dicantumkan pilihan hukum maka penyelesaian sengketa perjanjian jual beli kapal yang berbendera asing tidak terlepas dari konsep-konsep hukum yang diatur sesuai dengan ketentuan Hukum Perdata Internasional Indonesia. Indonesia sendiri berdasar Pasal 16 AB menganut asas nationaliteit untuk menentukan hukum yang berlaku bagi status personil seseorang. Serta dapat juga menunjuk lembaga arbitrase sesuai dengan kesepakatan para pihak. Akan tetapi sebelum permasalahan hukumnya sampai ke lembaga arbitrase atau pengadilan terlebih dahulu dilakukan dengan jalan negosiasi, mediasi guna tercipta perdamaian diantara pihak.

B. SARAN

139

Adapaun saran yang dapat diberikan dalam tesis ini sesuai dengan kesimpulan diatas adalah

1. Terhadap perjanjian jual beli kapal asing di dalam peraturan perundangan yang berkaitan dengan perkapalan menyebutkan mengenai ketentuan lebih lanjut akan diatur dengan Keputusan Menteri, akan tetapi keputusan tersebut masih mengambang. Untuk itu perlu dikeluarkannya Kepmen perhubungan yang berkaitan dengan hal tersebut guna menjamin kepastian hukum.

2. Disebabkan kurangnya hubungan antar instansi atau sesama notaris yang tidak memberitahukan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam jual beli kapal asing diharapkan peran notaris untuk mencari tahu ketentuan jual beli tentang kapal berbendera asing.

3. Karena dalam jual beli bekas kapal berbendera asing supaya tidak terjadi permasalahan yang berlarut dalam penyelesaian masalah, agar para pihak mencantumkan pilihan hukum (choice of law) ataupun forum penyelesaian sengketa dalam akta kontrak yang dibuat dan diberikan penjelasan kepada para pihak sebelum dilakukannya penandatangan kontrak perjanjian jual beli.

140

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Abdurrahman, Aneka Masalah Hukum dalam pembangunan di Indonesia, Tarsito, Bandung, 1979

Adolf, Huala, Hukum Perdagangan Internasional, PT Raja Grafindo, Jakarta, 2006.

Adjie Habib, Keabsahan Kontrak, Magister Ilmu Hukum Unair, Surabaya, 2011 Badrulzaman, Mariam Darus (1), Perjanjian Baku (Standard), Perkembangannya di Indonesia, Alumni, Bandung, 1980.

---, Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung, 1994 ---, Kompilasi Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001.

Erawati, Elly dan Herlien, Penjelasan Hukum Tentang Kebatalan Perjanjian, PT.

Gramedia, Jakarta, 2010

Felix O. Subagjo, Perkembangan Asas-asas Hukum Kontrak dalam Praktek Bisnis, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Jakarta 1994

G. Rai Widjaya, Merancang Suatu Kontrak (Contract Drafting) dan Praktik, Mega poin, Jakarta, 2003

Gautama, Sudargo, Hukum Perdata Internasional Indonesia, Jilid III, bagian I, Bina Cipta, Bandung, 1981

---, (II) , Indonesia dan Konvensi-Konvensi Hukum Perdata Internasional, Alumni, Bandung, 1996

Harahap, M. Yahya , Segi- segi Hukum perjanjian, Pustaka Kartini, Jakarta, 1991.

Hernoko, Yudha, Agus, Hukum Perjanjian Asas Proporsionallitas Dalam Kontrak Komersil, Kencana, Jakarta, 2010.

HR. Otje Salman S dan Anton F Sutanto, Teori Hukum, Rafika Aditama, Bandung, 2005 Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum,Kencana, Jakarta, 2010

141

Miru, Ahmadi dan Yodo, Sutarman, Hukum Perlindungan Konsumen, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004

Miru , Ahmadi, Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011

Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002 Mukhtar, H, Bimbingan Skripsi, Tesis dan Artikel Ilmiah, Gaung Persada Press, Ciputat, 2007

Martokusumo, Sudikto, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Liberty, Yogyakarta, 1999.

Muhammad, Abdulkadir, Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1982

M Ramli, Ahmad,Status Perusahaan Dalam Hukum Perdata Internasional Teori dan Praktek, CV. Mandar Maju, Bandung, 1994

Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, PT.

Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2003.

Kusumaatmadja, Mochtar, Pengantar Hukum Internasional, Binacipta, Jakarta, 1982

L.J. Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, Ketakan XXX, Pradya Paramita, Jakarta, 2004 Prodjodikoro, Wirjono, Asas-asas Hukum Perjanjian, PT. Bale, Bandung, 1983.

Purwosutjipto, HMN, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1991

Ridwan Khairandy, Iktikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2003.

Rahman, Hasanudin Legal Drafting, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000

Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Alumni, Bandung, 1991

Setiawan, R, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Bina Cipta, Bandung, 1987

Salim H.S.(2), Perkembangan Hukum Kontrak di Luar KUH Perdata, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2006

---.(1)., Hukum Kontrak , Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar Grafika, Jakarta, 2006.

142

Setiawan, R., Pokok-pokok Hukum Perikatan, Bina Cipta, Bandung, 1987.

Siregar Mahmud , Kepastian Hukum Dalam Transaksi Bisnis Internasional dan Implikasinya Terhadap Kegiatan Investasi di Indonesia, Jurnal Hukum Bisnis, 2008.

Siahaan, N. H. T., Hukum Konsumen, Perlindungan Konsumen dan Tanggungjawab Produk, Panta Rei, Jakarta, 2005.

Sjahdeini, Sutan Remy., Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institut Banking Indonesia, Jakarta 1993.

Soekanto, Soerjono., Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indinesia (UI) Press, Jakarta, 1986.

Subagjo, Felix O., Perkembangan Asas-asas Hukum Kontrak dalam Praktek Bisnis, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Jakarta 1994.

Subekti, Kamus Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 1982

---, Arbitrase Perdagangan, Bina Cipta, Jakarta, 1993 ---, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, 2005.

---, Pokok-pokok Hukum Perdata, PT. Intermasa, Jakarta, 2001

Sunggono, Bambang., Metodologi Penelitian Hukum , Rajawali Pers, Jakarta, 2003.

Sefriani, Hukum Internasional Suatu Pengantar, PT. Grafindo Persada, Jakarta, 2010 Tri Tjirawati, Aktieva, Problema Penyeragaman Hukum Maritim Perdata dan Penyelarasan kedalam Hukum Nasional , Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, 2010

Widjaya, I. G. Rai, Merancang Suatu Kontrak (Contract Drafting) dan Praktik, Megapoin, Jakarta, 2003.

Yan Pramadya Puspa, Kamus Hukum Edisi Lengkap, Aneka Ilmu,Semarang, 1977

Peraturan Perundang-Undangan

143 Algemene Bepalingen van Wetgeving ( AB )

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata ).

Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ( KUHDagang )

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran.

Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2002 tentang Perkapalan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2009 tentang Perlakuan Kepabeanan, Perpajakan, dan Cukai Serta Pengawasan Atas Pemasukan dan Pengeluaran Barang Ke dan Dari Serta Berada di Kawasan Yang Telah Ditunjuk Sebagai Kawasan Perdangan Bebas dan Pelabuhan Bebas.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2003 tentang Impor dan atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu.

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM. 26 tahun 2006 tentang Penyederhanaan Sistem dan Prosedur Pengadaan Kapal dan Penggunaan/

Penggantian Bendera Kapal.

Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-46/PJ/2010 tentang Tata Cara Pemberian Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai Atas Impor atau Penyerahan Kapal Untuk Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional.

144 Internet

http :// Pelayaran.net/tag/jual-beli-kapal/ , diakses pada tanggal 31 Januari 2012 www. Anneahira.com/hukum-perdata-internasional.htm, diakses tanggal 10 Februari

2012

http://wonkdermayu.wordpress.com/artikel tanggal 20 Februari 2012

www.fh.unair.ac.id/opini.hukum.php?id=5&respon=0 diakses tanggal 4 maret 2012 http://tadjuddin.blogspot.com/2011/07/hukum-kontrak-internasional.html tanggal 4

maret 2012

http:// Secangkir kopi panas680.blogspot .com/2011/07/tugas hukum perdata internasional-asas.htlm?m=1, di download pada tanggal 04/03/2012

http://habibadjie.dosen.narotama.ac.id/files/2011/04/BAB-02.pdf, diakses pada tanggal 20 Februari 2012.

http: //van plur.wordpress.com/2011/04/23/hukum-perdata-internasional, di akses pada tanggal 4 Maret 2012

http ://ejournal.umm.ac.id/index.php/legality/article/view/278/291 tanggal 7 Maret 2012

www.maspurba.wordpress.com/2008/05/10/penyelesaian-sengketa-bisnis-melalui-arbitrase-internasional/ tgl 7 Maret 2012

www.scribd.com/doc/74772206/File diakses pada tanggal 25 Mei 2012

http://maritimeindonesia-mls.blogspot.com/2011/11/status-hukum-kapal.html#!/2011/11/status-hukum-kapal.html, diakses pada tanggal 25 Mei 2012.

145

http://www.scribd.com/doc/40054363/HUKUM-PERDATA-INTERNASIONAL diakses pada tanggal 25 mei 2012

www.bi.go.id/NR/rdonlyres/.../05_tinjauan_hipotek_kapal1.pdf, diakses pada tanggal 25 mei 2012.

Dalam dokumen ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN JUAL BELI KAPAL BERBENDERA ASING DI BATAM TESIS. Oleh ZULKARNAIN /MKn (Halaman 130-0)