• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERHADAP KARYAWAN

D. Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21

Tahapan setelah Notaris/PPAT melakukan penghitungan dan pemotongan adalah ia harus melakukan penyetoran. Penyetoran PPh Pasal 21 dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP).91 Surat Setoran Pajak adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang ke kas Negara. Pembayaran Surat setoran pajak dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :

1. SSP Standar adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan atau berfungsi untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke Kantor Penerima Pembayaran dan digunakan sebagai bukti pembayaran.

2. SSP Khusus adalah bukti pembayaran dan penyetoran pajak terutang ke Kantor Penerima Pembayaran yang dicetak oleh Kantor Penerima Pembayaran dengan menggunakan mesin transaksi dan/atau alat lainnya, yang isinya sesuai dengan yang ditetapkan dalam keputusan Dirjen Pajak dan mempunyai fungsi yang sama dengan SPP Standar dalam administrasi perpajakan.

91

PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Pemotong untuk setiap Masa Pajak wajib disetor ke Kantor Pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.92 Penyetoran PPh Pasal 21 ini dilakukan mulai dari tanggal 1 sampai tanggal 10 setiap bulannya. Apabila pemotong tidak melakukan penyetoran pada jangka waktu tersebut maka akan diberi waktu paling lama 10 (sepuluh) hari setelah masa pajak berakhir.

Penyetoran PPh Pasal 21 dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya, dalam hal tanggal jatuh tempo penyetoran PPh Pasal 21 bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional,.93

Gambaran tentang Notaris/PPAT di Banda Aceh yang melakukan Penyetoran atas PPh Pasal 21 dapat di lihat pada Tabel II.5 di bawah ini:

Tabel II.5

Penyetoran PPh Pasal 21 oleh Notaris/PPAT Banda Aceh

No Keterangan Jumlah %

1 Notaris/PPAT yang melakukan penyetoran PPh Pasal 21 terhadap pegawainya tepat waktu

1 4,76

2 Notaris/PPAT yang melakukan penyetoran PPh Pasal 21 terhadap pegawainya tetapi terlambat

1 4,76

3 Notaris/PPAT yang tidak melakukan penyetoran PPh Pasal 21 terhadap pegawainya

19 90,48

Total 21 100

Sumber : Hasil wawancara dengan para Notaris/PPAT Banda Aceh pada tanggal 21 Juli 2011

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa hanya 2 (dua) orang atau 9,52 % (sembilan koma lima puluh dua persen) dari 21 (dua puluh satu) orang Notaris/PPAT yang melakukan penyetoran. Keduanya melakukan kewajiban penyetoran hanya saja ada yang melakukan dengan tepat waktu dan ada yang tidak. Notaris/PPAT yang melakukan penyetoran PPh Pasal 21 secara tepat waktu

92

Didik Budi Waluyo,Op. Cit., hal. 16

93

hanya 1 (satu) orang atau 4,76 % (empat koma tujuh puluh enam persen) atau 50 % (lima puluh persen) dari 2 (dua) orang Notaris/PPAT yang melakukan penyetoran. Dan Notaris/PPAT yang melakukan penyetoran tidak tepat waktu, yaitu terlambat beberapa hari setelah tanggal yang ditentukan, juga 1 (satu) orang atau 4,76 % (empat koma tujuh puluh enam persen). Seharusnya menurut ketentuan Undang-Undang, pemotong yang melakukan penyetoran tidak tepat waktu dapat dikenakan sanksi yaitu sanksi administrasi.

Sebanyak 19 (sembilan belas) orang atau 90,48 % (sembilan puluh koma empat puluh delapan persen) Notaris/PPAT lainnya yang tidak melakukan pemotongan, terdiri dari 8 (delapan) orang atau yang mengetahui kewajiban sebagai pemotong dan melakukan penghitungan PPh Pasal 21 terhadap penghasilan pegawai tetapnya, tetapi tidak melakukan pemotongan, karena penghasilan pegawai di bawah PTKP dan adanya keberatan dari pegawai tetapnya sendiri serta tidak melakukan penyetoran dan 11 (sebelas) orang lainnya karena tidak mengetahui kewajiban sebagai pemotong PPh Pasal 21.

Apabila pembayaran atau penyetoran Pajak Penghasilan dilakukan setelah tanggal jatuh tempo maka akan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan yang dihitung dari saat jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.94

Selanjutnya untuk tahap akhir, Notaris/PPAT harus menyampaikan pelaporan atas penghitungan, pemotongan dan penyetoran yang telah ia lakukan terhadap PPh Pasal 21 atas para pegawainya. Pemotong wajib melaporkan

94

pemotongan dan penyetoran PPh Pasal 21 ini untuk setiap masa pajak yang dilakukan melalui penyampaian Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa) Pasal 21 ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Pemotong PPh Pasal 21 terdaftar. Jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Masa ini dilakukan paling lama 20 (dua puluh) hari setelah masa pajak berakhir.95

Surat Pemberitahuan (SPT) adalah dokumen yang memuat data-data dalam menetapkan secara tepat jumlah pajak yang terutang berupa surat atau fomulir atau sarana yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan penghitungan dan atau pembayaran pajak, objek pajak dan atau bukan objek pajak, dan atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.96 Dalam memahami Surat Pemberitahuan, ada beberapa pengertian, yaitu :

1. Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2. Pajak terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam masa pajak, tahun pajak atau bagian tahun pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

3. Tahun pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun takwim, kecuali Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwim.

4. Bagian tahun pajak adalah bagian dari jangka waktu satu tahun pajak.

Pengertian SPT dalam Pasal 1 butir 10 Undang-Undang tentang Ketentuan Umum Perpajakan dijelaskan bahwa, Surat Pemberitahuan adalah surat yang

95

Pasal 24 ayat 2 PER-31/PJ/2009

96

oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan peraturan peundang-undangan perpajakan.

Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPT, baik dalam bentuk formulir kertas atau elektronik dengan benar, lengkap, dan jelas dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf latin, satuan mata uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.97

Pada dasarnya SPT adalah surat yang yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk menyampaikan laporan perhitungan dan pembayaran pajaknya ke Direktorat Jenderal Pajak atau Kantor Pelayanan Pajak tempat wajib pajak terdaftar menurut peraturan peundang-undangan perpajakan yang berlaku yang telah diatur di dalam Undang-Undang Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) dan Keputusan Menteri Keuangan atau Direktur Jenderal Pajak.

Fungsi SPT dapat dikategorikan ke dalam tiga hal yaitu bagi wajib pajak penghasilan, bagi pengusaha kena pajak, dan bagi pemotong atau pemungut pajak, sebagai berikut :98

1. Bagi wajib pajak penghasilan. Fungsi SPT adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang:

97

Ibid., hal. 101

98

a. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak.

b. Penghasilan yang merupakan objek pajak dan/atau bukan objek pajak c. Harta dan kewajiban.

d. Pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 Masa Pajak sesuai dengan ketentuan UU perpajakan.

2. Bagi Pengusaha Kena Pajak. Fungsi SPT adalah sebagai sarana untuk melporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPN & PPnBM) yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang:

a. Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran

b. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan/atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

3. Bagi pemotong dan pemungut pajak. Fungsi SPT adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya.

SPT pada dasarnya ada 2 (dua) macam yaitu SPT Masa dan SPT Tahunan. Surat Pemberitahuan Masa adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk memberitahukan pajak yang terutang dalam suatu masa pajak atau pada suatu saat. Surat Pemberitahuan Masa terdiri dari 2 (dua) macam yaitu SPT Masa Pajak Penghasilan (PPh) dan SPT Masa PPN. Untuk kelengkapan dokumen yang harus

dilampirkan pada SPT Masa PPh berupa Surat Setoran Pajak (SSP), daftar Bukti Pemotongan, dan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 dan Bukti Pemotongan PPh Pasal 26. Lampiran yang harus disertakan pada SPT Masa PPN adalah SSP Bukti Pembayaran / pelunasan dan Faktur Pajak Masukan.99

Dalam pengisian SPT Pajak Penghasilan, ada hal-hal yang harus diperhatikan yaitu :100

1. Benar. Benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, meliputi seluruh objek pajak yang dimiliki, benar dalam perhitungan maupun pengisian kolom pada setiap lampiran formulir surat pemberitahuan, dalam penerapan tarif pajak maupun pengkreditan pajak yang telah dibayar melalui pihak lain.

2. Jelas. Dalam arti tidak menimbulkan penafsiran lain bagi fiskus. Jelas dalam melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPT.

3. Lengkap. Seluruh lampiran yang telah ditentukan maupun yang diperlukan harus dilampirkan yang memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPT.

SPT Masa PPh Pasal 21 yang disampaikan setelah jangka waktu yang ditetapkan akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp. 100.000,00.- (seratus ribu rupiah).101

99

Sunarto,Op. Cit., hal. 52-53

100

Billy Ivan Tansuria,Op.Cit., hal. 101

101

Tata cara penyampaian SPT Masa PPh Pasal 21 ini dapat dilakukan oleh pemotong PPh Pasal 21 dengan cara penyampaian secara langsung ataupun secara elektronik. Penyampaian secara langsung dilakukan dengan menyampaikan SPT dalam bentuk fisik langsung ke Kantor Pelayanan Pajak atau dikirim melalui pos. Sedangkan penyampaian SPT melalui elektronik adalah suatu cara penyampaian SPT yang dilakukan dengan sistem on-linemelalui media internet, hal ini melalui beberapa perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi yang ditunjuk oleh Direktur jenderal Pajak.102

Berikut adalah tabel tentang batas akhir penyampaian SPT Masa : Tabel II.6

Batas Akhir Penyampaian SPT Masa

Jenis SPT Masa Batas Waktu Penyampaian SPT Terakhir

PPh Pasal 21 Tanggal 20 bulan takwim berikutnya setelah Masa Pajak berakhir PPh Pasal 22-Bendaharawan 14 (Empat belas) hari setelah akhir

masa pajak PPh Pasal 22-Bea Cukai

PPh Pasal 22-Badan Tertentu

Tujuh hari setelah pembayaran Tanggal 20 bulan takwim berikutnya

setelah Masa Pajak berakhir PPh Pasal 23/26 Tanggal 20 bulan takwim berikutnya

setelah Masa Pajak berakhir PPh Pasal 25 Tanggal 20 bulan takwim berikutnya

setelah Masa Pajak berakhir PPN/PPn.BM PKP Tanggal 20 bulan takwim berikutnya

setelah Masa Pajak berakhir PPN/PPn.BM Bendaharawan 14 (Empat belas) hari setelah akhir

masa pajak PPN/PPn.BM Yang dipungut Bea

Cukai

Tujuh hari setelah pembayaran

102

Djoko Mulyono,Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lengkap dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007), Yogyakarta, ANDI, 2008, hal 15-71.

Gambaran tentang Notaris/PPAT di Banda Aceh yang memberikan Pelaporan atas Pajak Penghasilan Pasal 21 dapat di lihat pada Tabel II.7 di bawah ini:

Tabel II.7

Notaris/PPAT Banda Aceh yang menyampaikan pelaporan PPh Pasal 21

No Keterangan Jumlah %

1 Notaris/PPAT yang menyampaikan pelaporan Pasal 21 terhadap pegawainya tepat waktu

1 4,76

2 Notaris/PPAT yang menyampaikan pelaporan Pasal 21 tetapi tidak tepat waktu

1 4,76

3 Notaris/PPAT yang tidak pernah menyampaikan pelaporan Pasal 21

19 90,48

Total 21 100

Sumber : Hasil wawancara dengan para Notaris/PPAT Banda Aceh pada tanggal 21 Juli 2011

Berdasarkan tabel di atas, Notaris/PPAT yang menyampaikan pelaporan PPh Pasal 21 secara tepat waktu hanya 1 (satu) orang dari 21 (dua puluh satu) responden atau 4,76 % (empat koma tujuh puluh enam persen). Sedangkan Notaris/PPAT yang menyampaikan pelaporan tidak tepat waktu, yaitu terlambat beberapa hari dari waktu yang telah ditentukan, juga 1 (satu) orang dari 21 (dua puluh satu) responden atau 4,76 % (empat koma tujuh puluh enam persen).

Sebanyak 19 (sembilan belas) orang dari 21 (dua puluh satu) responden atau 90,48 % (sembilan puluh koma empat puluh delapan persen) Notaris/PPAT lainnya yang tidak menyampaikan pelaporan, terdiri dari 8 (delapan) orang yang mengetahui kewajiban sebagai pemotong dan melakukan penghitungan PPh Pasal 21 terhadap penghasilan pegawai tetapnya, tetapi tidak melakukan kewajiban perpajakannya hingga tuntas yaitu memotong, menyetor hingga melaporkan dan 11 (sebelas) orang lainnya karena tidak mengetahui kewajiban sebagai pemotong PPh Pasal 21.

Tata cara penyampaian SPT Masa dengan menggunakan jasa pos dan dengan surat elektronik dapat diterima yang mana hal ini telah diatur dalam pasal 6 ayat (2) Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Pasal ini mengatakan bahwa penyampaian Surat Pemberitahuan dapat dikirimkan melalui pos dengan tanda bukti pengiriman surat atau dengan cara lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.103

Diperlukan cara lain bagi wajib pajak untuk memenuhi kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak dan sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, misalnya penyampaian secara elektronik. Pasal 6 ayat (3) menambahkan bahwa tanda bukti dan tanggal penerimaan surat untuk penyampaian surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 diatas dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal penerimaan sepanjang Surat Pemberitahuan tersebut telah lengkap.104

Kedua Notaris/PPAT di Kota Banda Aceh menyampaikan pelaporan menggunakan sarana SPT Masa Pasal 21. Hanya saja yang menyampaikan SPT Masa secara tepat waktu pada setiap bulan sampai tanggal 20 bulan berikutnya hanya 1 (satu) orang. Sedangkan 1 (satu) orang lainnya tidak menyampaikan SPT Masa secara tepat waktu. Dan keduanya menyampaikan langsung SPT Masa ke Kantor Pelayanan Pajak setempat.

103

Casavera,Seri Perpajakan Indonesia, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) ; Perubahan dan Peraturan Terkini,

Yogyakarta, Graha Ilmu, 2009, hal. 67 .

104

E. Kepatuhan Notaris/PPAT Banda Aceh Terhadap Memungut Pajak