• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. Tinjauan Kepustakaan

1. Penyidik dan Penyidikan Menurut Hukum Acara Pidana

KUHAP memberikan definisi penyidik yang terdapat dalam Pasal 1 ayat (1), yang berbunyi :“Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.”

Terdapat dua jenis badan yang dibebani wewenang untuk bertindak sebagai penyidik sebagaimana yang diatur dalam Pasal 6 ayat (1) KUHAP, yaitu:

“Penyidik adalah :

a. Pejabat polisi negara Republik Indonesia

b. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberikan wewenang khusus oleh undang-undang. “

Dalam proses peradilan pidana, penyidik polisi negara Republik Indonesia memiliki posisi yang utama sebagai penyidik, karena merupakan penyidik umum yang dapat melakukan penyidikan terhadap tindak pidana yang diatur dalam KUHP maupun undang-undang lain dibandingkan dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Hal ini dikarenakan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) hanya penyidik delik-delik yang tersebut dalam perundang-undangan pidana khusus atau perundang-undangan administrasi yang bersanksi pidana (non-penal code offences).9 Disamping hal tersebut pada pasal 7 ayat (1) dan (2) KUHAP mengenai wewenang penyidik berbunyi :

“ (1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang :

a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;

b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;

c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;

d. melakukan penangkapan,penahanan,penggeledahan dan penyitaan;

e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;

f. mengambil sidik jari dan memotret seseorang;

g. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

h. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

i. mengadakan penghentian penyidikan;

j. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab;

(2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada dibawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a.”

Selanjutnya pada pasal 107 ayat (1) (2) (3) KUHAP, berbunyi :

(1) Untuk kepentingan penyidikan, penyidik tersebut pada pasal 6 ayat (1) huruf a memberikan petunjuk kepada penyidik tersebut pada pasal 6 ayat (1) huruf b dan memberikan bantuan penyidikan yang diperlukan.

(2) Dalam hal suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana sedang dalam penyidikan oleh penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat (1) hurif b dan kemudian ditemukan bukti yang kuat untuk diajukan kepada penuntut umum, penyidik tersebut pada pasal 6 ayat (1) huruf b melaporkan hal itu kepada penyidik tersebut pada pasal 6 ayat (1) huruf a.

(3) Dalam hal tindak pidana telah selesai disidik oleh penyidik tersebut pada pasal 6 ayat (1) huruf b, ia segera menyerahkan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik tersebut pada pasal 6 ayat (1) huruf a.”

Hal ini berarti bahwa penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) berada dibawah koordinasi dan pengawasan penyidik polisi negara Republik Indonesia sehingga dapat dikatakan penyidik polisi negara Republik Indonesia merupakan penyidik yang utama. Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) adalah pegawai negeri sipil yang diangkat menjadi penyidik oleh Menteri Hukum dan HAM atas usul dari kementerian yang membawahi pegawai negeri sipil tersebut setelah mendapat pertimbangan dari Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Jaksa Agung Republik Indonesia. Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) antara lain dapat berupa :

1. PPNS pada Kementerian Perhubungan atau Dinas Perhubungan di tingkat Provinsi (Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan)

2. PPNS pada Kementerian Kehutanan (Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan)

3. PPNS pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Berdasarkan Undnag-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi)

4. PPNS pada Pemerintah Daerah (Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah)

5. PPNS pada Kementerian Kesehatan (Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan)10

Selain pembagian penyidik diatas, terdapat pula pembagian penyidik lain yang disebut pada undang-undang khusus atau tertentu namun tidak sama hal nya dengan penyidik pegawai negeri sipil. Hal ini dikarenakan tidak disebut dalam KUHAP dan tidak berada dibawah koordinasi dan pengawasan penyidik polisi negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyidik, yaitu penyidik kejaksaan dan penyidik badan narkotika nasional. Lebih lanjut terdapat syarat kepangkatan bagi pejabat polisi negara Republik Indonesia dan pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang berwenang melakukan penyidikan. Hal tersebut termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 Tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana pada Pasal 2A ayat (1) dan Pasal 3A ayat (1), yang berbunyi :

“2A ayat (1)

Untuk dapat diangkat sebagai pejabat penyidik kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, calon harus memenuhi persyaratan :

10 Hadi, Ilman. “Mengenai Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)”. Diakses dari

a. berpangkat paling rendah Inspektur Dua Polisi dan berpendidikan paling rendah sarjana strata satu atau yang setara;

b. bertugas di bidang fungsi penyidikan paling singkat 2 (dua) tahun;

c. mengikuti dan lulus pendidikan pengembangan spesialisasi fungsi reserse criminal;

d. sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter; dan

e. memiliki kemampuan dan integritas moral yang tinggi;

3A ayat (1)

Untuk dapat diangkat sebagai penyidik PPNS, calon harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. masa kerja sebagai pegawai negeri sipil paling singkat 2 (dua) tahun;

b. berpangkat paling rendah Penata Muda/golongan III/a;

c. pendidikan paling rendah sarjana hukum atau sarjana lain yang setara;

d. bertugas dibidang teknis operasional penegakan hukum;

e. sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter pada rumah sakit pemerintah;

f. setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Pelaksanaan Pekerjaan pegawai negeri sipil paling sedikit bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir; dan

g. mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan dibidang penyidikan;”

Suatu kekecualian, jika suatu tempat tidak ada pejabat penyidik berpangkat Inspektur Dua Polisi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2A ayat (1), maka komandan sektor kepolisian yang berpangkat bintara dibawah Inspektur Dua Polisi karena jabatannya adalah penyidik. Hal ini sesuai dengan Pasal 2C Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 Tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Dalam hal membantu tugas penyidik, di dalam KUHAP dikenal istilah penyidik pembantu. Namun penyidik pembantu ini hanya dikenal dalam penyidik polisi negara Republik Indonesia, yang dimana karena diberi wewenang tertentu dapat melakukan tugas penyidikan. Lalu untuk syarat kepangkatan dalam

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 Tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana ditentukan bahwa penyidik pembantu Kepolisian negara Republik Indonesia minimal berpangkat brigadir polisi dua. Mengenai wewenang penyidik pembantu sama halnya dengan wewenang penyidik, hanya terdapat beberapa hal yang membedakan, yaitu pada Pasal 11 KUHAP, mengatakan :

“Penyidik pembantu mempunyai wewenang seperti tersebut dalam Pasal 7 ayat (1), kecuali mengenai penahanan yang wajib diberikan dengan pelimpahan wewenang dari penyidik.” Serta Pasal 12 KUHAP, mengatakan : “Penyidik pembantu membuat berita acara dan menyerahkan berkas perkara kepada penyidik, kecuali perkara dengan acara pemeriksaan singkat yang dapat langsung diserahkan kepada penuntut umum.”

1.2. Penyidikan Menurut Hukum Acara Pidana Indonesia

Pengertian penyidikan terdapat dalam Pasal 1 ayat (2) KUHAP yang berbunyi :“Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.” Sebelum penyidikan dilakukan terlebih dahulu dapat dilakukan penyelidikan untuk menemukan apakah suatu peristiwa yang terjadi tersebut merupakan tindak pidana atau tidak dan selanjutnya dilakukan penyidikan terhadap peristiwa tersebut jika merupakan tindak pidana. Penyelidikan ini merupakan sub fungsi dan bagian yang tidak

terpisahkan dari fungsi penyidikan.11 Sasaran penyidikan adalah pengumpulan bukti-bukti guna membuat terang suatu tindak pidana dan menemukan pelakunya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyidik ialah orang yang kepadanya diberikan tugas sebagai penyidik dan penyidikan ialah perbuatan yang dilakukan orang tersebut dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyidik.

Dalam hal penyidikan terdapat proses dari rangkaian tindakan yang dilakukan penyidik, proses itu terdiri dari :

1. Tindakan pertama di tempat kejadian.

Dapat berupa penyelamatan korban, menangkap pelaku, menutup tempat kejadian agar tetap asli seperti saat terjadi tindak pidana, mengumpulkan barang bukti, mencari saksi yang dapat membantu penyidikan.

2. Penangkapan

Penangkapan merupakan wewenang penyidik, namun bukan berarti penyidik dengan sesuka hati dapat melakukan penangkapan. Terdapat syarat untuk melakukan penangkapan, syarat tersebut adalah adanya bukti permulaan yang cukup dan atas dasar bukti permulaan yang cukup itulah seseorang yang diduga keras telah melakukan suatu tindak pidana dapat ditangkap.

3. Penahanan

Penahanan merupakan salah satu bentuk perampasan kemerdekaan bergerak seseorang. Oleh karena itu, penahanan seharusnya dilakukan jika perlu sekali karena dapat mengakibatkan hal yang fatal bagi penahanan itu sendiri. Masa waktu penahanan oleh penyidik ialah 20 hari dan jika dirasa kurang oleh

11 H.M.A KUFFAL, 2010, Penerapan KUHAP Dalam Praktik Hukum, UMM Press, Malang, hal.43.

penyidik dapat diminta perpanjangan kepada jaksa penuntut umum selama 40 hari.

4. Penggeledahan

Penggeledahan sendiri dapat dibagi atas penggeledahan rumah dan penggeledahan badan. Penyidik dalam melakukan penggeledahan harus terlebih dahulu meminta ijin kepada Ketua Pengadilan Negeri dan jika dalam keadaan tertangkap tangan penggeledahan dapat dilakuan tanpa ijin dari Ketua Pengadilan Negeri namun setelah selesai melakukan pengeledahan penyidik melaporkan hal tersebut kepada Ketua Pengadilan Negeri.

5. Penyitaan

Penyitaan merupakan serangkaian tindak penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan dibawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan, dan proses persidangan. Benda yang dikenakan penyitaan ialah :

- Benda yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagian hasil dari tindak pidana

- Benda yang telah digunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya

- Benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan tindak pidana

- Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana

- Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana 6. Pemeriksaan surat

Penyidik dapat memeriksa surat yang dikirim melalui kantor pos, jawatan atau pengangkutan. Pada saat pemeriksaan surat, penyidik harus meminta izin dari Ketua Pengadilan Negeri. Setelah memperoleh izin tersebut, penyidik dapat membuka, memeriksa, bahkan menyita surat yang dicurigai sebagai barang yang dapat membuat terang suatu tindak pidana. Apabila pemeriksaan surat telah selesai, penyidik harus menutup surat dengan rapi dengan dibubuhi cap yang berbunyi “telah dibuka oleh penyidik” dan tanggal, tanda tangan, serta identitas penyidik.12

Dalam melakukan penyidikan adakalanya penyidikan itu dihentikan atau tidak dilanjutkan oleh penyidik. Hal ini dilakukan dengan dikeluarkannya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) oleh penyidik yang akan diberitahukan kepada penuntut umum. Namum hal tersebut hanya berlaku bagi penyidik polisi negara Republik Indonesia. Apabila Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) menghentikan penyidikan yang telah dilaporkan pada penyidik polisi negara Republik Indonesia, penghentian penyidikan itu harus diberitahukan kepada penyidik polisi negara Republik Indonesia dan penuntut umum.13 Penghentian penyidikan tersebut hanya bisa terjadi dikarenakan beberapa alasan. Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 109 ayat (2) KUHAP penyidik berwenang menghentikan penyidikan atas dasar alasan karena :

12 Mahmud Mulyadi, 2009, Kepolisian Dalam Sistem Peradilan Pidana, USU Press, Medan, hal.18-28.

13 M.Yahya Harahap, 2009, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta, hal.114.

1. Tidak terdapat cukup alat bukti, yaitu setelah penyidik melakukan kegiatan penyidikan secara optimal ternyata tidak berhasil menemukan/

mengumpulkan alat bukti minimal sebagaimana disyaratkan oleh pasal 183 jo 184 KUHAP.

2. Peristiwa yang disidik ternyata bukan merupakan tindak pidana, yaitu setelah penyidik secara cermat melakukan penyidikan, ternyata peristiwa yang ditangani tersebut adalah peristiwa perdata. Misalnya semula diduga peristiwa penipuan, setelah disidik terbukti merupakan peristiwa hutang piutang (pasal 1 butir 2 KUHAP)

3. Penyidikan dihentikan demi hukum, yaitu setelah penyidik melakukan penyidikan secara seksama, ternyata peristiwa pidana tersebut tergolong sebagai perkara ne bis in idem (pasal 76 KUHP), atau tersangkanya telah meninggal dunia (pasal 77 KUHP) atau peristiwa pidana tersebut telah gugur karena kadaluwarsa/ lewat waktu/ verjaring/ lost by limitation (pasal 78 KUHP).14

Dokumen terkait