• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyidikan dan ketentuan pidana dalam konservasi sumber

MODUL 6 WILAYAH NEGARA (UU NOMOR 43 TAHUN 2008)

11. Penyidikan dan ketentuan pidana dalam konservasi sumber

2. Perlindungan sistem penyangga kehidupan;

3. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;

4. Kawasan suaka alam;

5. Jenis tumbuhan dan satwa;

6. Larangan terhadap tumbuhan dan satwa;

7. Pemanfaatan kawasan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;

8. Kawasan pelestarian alam;

9. Pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar;

10. Peran serta masyarakat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;

11. Penyidikan dan ketentuan pidana dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

MetodePembelajaran

1. Metode ceramah

Metode ini digunakan pendidik untuk menjelaskan materi pokok-pokok Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

2. Metode Brainstormimg (curah pendapat)

Metode ini digunakan pendidik untuk mengeksplor pendapat peserta didik tentang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

3. Metode tanya jawab

Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.

4. Metode penugasan

Metode ini digunakan untuk menugaskan peserta didik meresume materi yang telah diberikan.

Alat /medial, Bahan, dan Sumber Belajar

1. Alat/media:

a. White Board;

b. Laptop;

c. LCD Projector;

d. OHP.

2. Bahan:

a. Alat tulis;

b. Kertas Flipchart/HVS.

3. Sumberbelajar:

a. Modul Kapita Selekta Perundang-undangan;

b. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

110 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

Kegiatan Pembelajaran

1. Tahap awal : 10 menit

Pendidik melaksanakan apersepsi:

a. Pendidik memerintahkan peserta didik melakukan refleksi;

b. Pendidik mengaitkan materi yang sudah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan;

c. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran.

2. Tahap inti : 250 menit

a. Pendidik menyampaikan materi tentang pokok-pokok Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

b. Peserta didik menyimak, mencatat hal-hal yang dianggap penting;

c. Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya materi yang belum dipahami;

d. Peserta didik bertanya kepada pendidik tentang materi yang belum dimengerti;

e. Pendidik menjawab pertanyaan peserta didik;

f. Pendidik menyimpulkan materi yang telah disampaikan.

3. Tahap akhir : 10 menit a. Penguatan materi.

Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan kegiatan pembelajaran.

b. Cek penguasaan materi.

Pendidik mengecek penguasaan materi pembelajaran dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.

c. Keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas.

Pendidik menggali manfaat yang bias diambil dari pembelajaran yang disampaikan.

d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk meresume materi yang disampaikan.

Tagihan/Tugas

Peserta didik mengumpulkan resume materi pelajaran yang telah disampaikan.

LembarKegiatan

Peserta didik membuat resume materi pelajaran yang telah disampaikan.

BahanBacaan

SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA (UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1990)

1. Pengertian-pengertian, asas dan tujuan Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya

a. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya

1) Sumberdaya alam hayati ialah Unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumberdaya alam nabati (tumbuhan ) dan sumberdaya alam hewani;

2) Konservasi sumberdaya alam hayati adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya;

3) Ekosistem sumberdaya alam hayati adalah hubungan timbal balik antara unsur dalam alam, baik hayati maupun non hayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi;

4) Tumbuhan adalah semua sumberdaya alam nabati, baik hidup di darat maupun dilaut;

5) Satwa adalah semua jenis sumberdaya alam hewani yang hidup di darat dan /atau diair dan/atau di udara;

112 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

6) Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau dipelihara, yangmasih mempunyai kemurnian jenisnya;

7) Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan atau di air,danatau diudara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia;

8) Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami;

9) Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di daratan, maupun di perairan yang mempunyai sifat pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan;

10) Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami;

11) Suaka marga satwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyaiciri khas berupa keanekaragaman danatau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya;

12) Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli, ekosistem unik dan atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestariakan bagi kepentingan penelitihan dan pendidikan;

13) Kawasan pelestariaan alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya;

14) Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitihan, ilmu pengetahuan, pendidikan , menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi;

15) Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan ,jenis asli atau bukan asliyang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya ,

budaya, pariwisata dan rekreasi;

16) Taman Wisata alam adalah kawasan pelestari alam yang terutama di manfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.

b. Asas Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang.

c. Tujuan Konservasi Sumberdaya alam

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

2. Perlindungan sistem penyangga kehidupan

Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Untuk mewujudkan tujuan, Pemerintah menetapkan:

a. Wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan;

b. Pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan;

c. Pengaturan cara pemanfaatan wilayah pelindungan sistem penyangga kehidupan.

3. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya

Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakan melalui kegiatan:

a. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;

b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakan dengan menjaga keutuhan kawasan

114 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

suaka alam agar tetap dalam keadaan asli. Cara Pengawetan tumbuhan dan satwa dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksan akan di dalam dan di luar kawasan suaka alam;

b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam kawasan suaka alam dilakukan dengan membiarkan agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap seimbang menurut proses alami di habitatnya;

c. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan suaka alam dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk menghindari bahaya kepunahan.

4. Kawasan suaka alam

Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pengelolaan kawasan suaka alam dilaksanakan oleh Pemerintah sebagai upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Kawasan suaka alam terdiri dari:

a. Cagar alam;

Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya.

b. Suaka margasatwa.

Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, wisata terbatas, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya.

5. Jenis tumbuhan dan satwa

a. Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis:

1) Tumbuhan dan satwa yang dilindungi;

2) Tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi.

b. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi digolongkan dalam:

1) Tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan;

2) Tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang.

6. Larangan terhadap tumbuhan dan satwa a. Larangan terhadap tumbuhan

Setiap orang dilarang untuk:

1) Mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati;

2) Mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

b. Larangan terhadap satwa Setiap orang dilarang untuk:

1) Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;

2) Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;

3) mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

4) Memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

5) Mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur atau sarang satwa yang dillindungi.

Pengecualian dari larangan hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, dan atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan.

Termasuk dalam penyelamatan adalah pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di

116 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

luar negeri dengan izin Pemerintah.

Pengecualian dari larangan menangkap, melukai, dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia.

7. Pemanfaatan kawasan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya

Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan:

a. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam;

b. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.

Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan.

Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung, dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar.

8. Kawasan pelestarian alam

Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayatidan ekosistemnya. Kawasan pelestarian alam terdiri dari:

a. Taman nasional b. Taman hutan raya;

c. Taman wisata alam.

Di dalam taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, dan wisata alam.

Larangan terhadap kawasan pelestarian alam adalah sebagai berikut:

a. Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional;

b. Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional

meliputi mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli;

c. Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam.

9. Pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar

Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk:

a. Pengkajian, penelitian dan pengembangan;

b. Penangkaran;

c. Perburuan;

d. Perdagangan;

e. Peragaan;

f. Pertukaran;

g. Budidaya tanaman obat-obatan;

h. Pemeliharaan untuk kesenangan.

10. Peran serta masyarakat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya

a. Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna;

b. Dalam mengembangkan peran serta rakyat, Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dikalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan.

11. Penyidikan dan ketentuan pidana dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya

a. Penyidikan

Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang

118 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. Penyidik, berwenang untuk:

1) Melakukan pemeriksanaan atas laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;

2) Melakukan pemeriksaaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;

3) Memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam;

4) Melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;

5) Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;

6) Membuat dan menandatangani berita acara;

7) Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Penyidik memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

b. Ketentuan pidana

1) Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

2) Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran

terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

3) Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

4) Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp.

50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

5) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) adalah pelanggaran.

Rangkuman

1. Sumberdaya alam hayati ialah Unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumberdaya alam nabati (tumbuhan ) dan sumberdaya alam hewani;

2. Konservasi sumberdaya alam hayati adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya;

3. Ekosistem sumberdaya alam hayati adalah hubungan timbal balik antara unsur dalam alam, baik hayati maupun non hayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi;

4. Untuk mewujudkan tujuan Perlindungan sistem penyangga kehidupan, Pemerintah menetapkan:

a. Wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan;

b. Pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan;

c. Pengaturan cara pemanfaatan wilayah pelindungan sistem

120 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

penyangga kehidupan.

5. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakan melalui kegiatan:

a. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;

b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

6. Kawasan suaka alam terdiri dari:

a. Cagar alam;

b. Suaka margasatwa.

7. Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis:

a. Tumbuhan dan satwa yang dilindungi;

b. Tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi.

8. Larangan terhadap tumbuhan

a. Mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati;

b. Mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

9. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk:

a. Pengkajian, penelitian dan pengembangan;

b. Penangkaran;

c. Perburuan;

d. Perdagangan;

e. Peragaan;

f. Pertukaran;

g. Budidaya tanaman obat-obatan;

h. Pemeliharaan untuk kesenangan.

Latihan

1. Jelaskan pengertian-pengertian, asas dan tujuan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya!

2. Jelaskan perlindungan sistem penyangga kehidupan!

3. Jelaskan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya!

4. Jelaskan kawasan suaka alam!

5. Jelaskan jenis tumbuhan dan satwa!

6. Jelaskan larangan terhadap tumbuhan dan satwa!

7. Jelaskan pemanfaatan kawasan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya!

8. Jelaskan kawasan pelestarian alam!

9. Jelaskan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar!

10. Jelaskan peran serta masyarakat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya!

11. Jelaskan penyidikan dan ketentuan pidana dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya!

122 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

MODUL

08

KEPABEANAN

( UU NOMOR 17 TAHUN 2006 )

4 JP (180 Menit)

Pengantar

Di dalam modul ini dibahas materi tentang pengertian yang berkaitan dengan Kepabeanan, ketentuan tentang Free Trade Zone (tidak dipungut), pembebasan, keringanan, dan pengembalian bea masuk, pemberitahuan pabean dan tanggung jawab atas bea masuk, wewenang kepabeanan.

Tujuannya diberikanya materi ini adalah agar peserta didik dapat memahami tentang Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

Kompetensi Dasar

Memahami pokok-pokok Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

Indikator hasil belajar:

1. Menjelaskan tentang pengertian yang berkaitan dengan Kepabeanan;

2. Menjelaskan ketentuan tentang Free Trade Zone (tidak dipungut), pembebasan, keringanan, dan pengembalian bea masuk;

3. Menjelaskan pemberitahuan pabean dan tanggung jawab atas bea masuk;

4. Menjelaskan wewenang kepabeanan.

Materi Pelajaran

Pokok bahasan:

Memahami pokok-pokok Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

Subpokok bahasan:

1. Pengertian yang berkaitan dengan Kepabeanan;

2. Ketentuan tentang Free Trade Zone (tidak dipungut), pembebasan, keringanan, dan pengembalian bea masuk;

3. Pemberitahuan pabean dan tanggung jawab atas bea masuk;

4. Wewenang kepabeanan.

Metode Pembelajaran

1. Metode ceramah

Metode ini digunakan pendidik untuk menjelaskan materi pokok-pokok Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

2. Metode Brainstormimg (curah pendapat)

Metode ini digunakan pendidik untuk mengeksplor pendapat peserta didik tentang Nomor 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

3. Metode tanya jawab

Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.

4. Metode penugasan

Metode ini digunakan untuk menugaskan peserta didik meresume materi yang telah diberikan.

124 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

Alat /medial, Bahan, dan Sumber Belajar

1. Alat/media:

a. White Board;

b. Laptop;

c. LCD Projector;

d. OHP.

2. Bahan:

a. Alat tulis;

b. Kertas Flipchart/HVS.

3. Sumberbelajar:

a. Kapita Selekta Perundang-undangan;

b. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

Kegiatan Pembelajaran

1. Tahap awal : 10 menit

Pendidik melaksanakan apersepsi:

a. Pendidik memerintahkan peserta didik melakukan refleksi;

b. Pendidik mengaitkan materi yang sudah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan;

c. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran.

2. Tahap inti : 250 menit

a. Pendidik menyampaikan materi tentang pokok-pokok Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan;

b. Peserta didik menyimak, mencatat hal-hal yang dianggap penting;

c. Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya materi yang belum dipahami;

d. Peserta didik bertanya kepada pendidik tentang materi yang belum dimengerti;

e. Pendidik menjawab pertanyaan peserta didik;

f. Pendidik menyimpulkan materi yang telah disampaikan.

3. Tahap akhir : 10 menit a. Penguatan materi.

Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan kegiatan pembelajaran.

b. Cek penguasaan materi.

Pendidik mengecek penguasaan materi pembelajaran dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.

c. Keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas.

Pendidik menggali manfaat yang bias diambil dari pembelajaran yang disampaikan.

d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk meresume materi yang disampaikan.

Tagihan/Tugas

Peserta didik mengumpulkan resume materi pelajaran yang telah dissampaikan.

LembarKegiatan

Peserta didik membuat resume materi pelajaran yang telah disampaikan.

126 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

BahanBacaan

KEPABEANAN

(UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006)

1. Pengertian yang berkaitan dengan Kepabeanan

Kepabeanan dibentuk melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 diubah menjadi Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan. Pengertian-pengertian dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 antara lain:

a. Kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk atau keluar Daerah Pabean dan pemungutan Bea Masuk;

b. Daerah Pabean adalah wilayah RI meliputi darat, perairan dan ruang udara diatasnya serta tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif ( ZEE ) dan Landas Continental;

c. Kawasan Pabean adalah kawasan degan batas-batas Pelabuhan Laut, Bandar Udara, atau tempat lain yg ditetapkan utuk lalu lintas barang yang sepenuhnya dibawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea Cukai;

d. Impor adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam Daerah Pabean;

e. Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari Daerah Pabean;

f. Bea Masuk adalah pungutan negara berdasarkan Undang-undang ini yang dikenakan terhadap barang yang diimpor;

g. Bea Keluar adalah pungutan Negara berdasarkan undang-undang ini yang dikenakan terhadap barang ekspor;

h. Tempat Penimbunan Sementara adalah bangunan dan atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di

h. Tempat Penimbunan Sementara adalah bangunan dan atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di