MODUL 5 PEMILIHAN UMUM (PEMILU) (UU NOMOR 7 TAHUN 2017)
11. Tata Cara Penyidikan Tindak Pidana Pemilu
MetodePembelajaran
1. Metode ceramah
Metode ini digunakan pendidik untuk menjelaskan materi pokok-pokok Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.
2. Metode Brainstormimg (curah pendapat)
Metode ini digunakan pendidik untuk mengeksplor pendapat peserta didik tentang Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.
3. Metode tanya jawab
Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.
4. Metode penugasan
Metode ini digunakan untuk menugaskan peserta didik meresume materi yang telah diberikan.
80 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN
Alat /medial, Bahan, dan Sumber Belajar
1. Alat/media:
a. White Board;
b. Laptop;
c. LCD Projector;
d. OHP.
2. Bahan:
a. Alat tulis;
b. Kertas Flipchart/HVS.
3. Sumberbelajar:
a. Modul Kapita Selekta Perundang-undangan;
b. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.
Kegiatan Pembelajaran
1. Tahap awal : 10 menit
Pendidik melaksanakan apersepsi:
a. Pendidik memerintahkan peserta didik melakukan refleksi;
b. Pendidik mengaitkan materi yang sudah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan;
c. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran.
2. Tahap inti : 160 menit
a. Pendidik menyampaikan materi tentang pokok-pokok Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu;
b. Peserta didik menyimak, mencatat hal-hal yang dianggap penting;
c. Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya materi yang belum dipahami;
d. Peserta didik bertanya kepada pendidik tentang materi yang belum dimengerti;
e. Pendidik menjawab pertanyaan peserta didik;
f. Pendidik menyimpulkan materi pelajaran yang telah disampaikan kepada peserta didik.
3. Tahap akhir : 10 menit a. Penguatan materi
Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan kegiatan pembelajaran.
b. Cek penguasaan materi
Pendidik mengecek penguasaan materi pembelajaran dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.
c. Keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas.
Pendidik menggali manfaat yang bias diambil dari pembelajaran yang disampaikan
d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk meresume materi yang disampaikan.
Tagihan/Tugas
Peserta didik mengumpulkan resume materi pelajaran yang telah disampaikan.
LembarKegiatan
Peserta didik membuat resume materi pelajaran yang telah disampaikan.
82 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN
BahanBacaan
PEMILIHAN UMUM
(UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2017)
1. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan Pemilu
a. Pemilihan umum yang selanjutnya disebut Pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat, anggota dewan perwakilan daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat daerah, yang dilaksanakan siara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan pancasiladan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Penyelenggaraan Pemilu adalah pelaksanaan tahapan Pemilu yang dilaksanakan oleh penyelenggara Pemilu;
c. Presiden dan Wakil Presiden adalah Presiden dan Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
d. Dewan penyakilan rakyat yang selanjutnya disingkat DPR adalah dewan perwakilan rakyatsebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara republik Indonesia Tahun 1945;
e. Dewan perwakilan daerah yang selanjutnya disingkat DPD adalah dewan perwakilan daerah sebagaimanadimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara republik Indonesia Tahun 1945;
f. Dewan perwakilan rakyat daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah dewan perwakilan naryat daerah pirovinsi dan dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota sebagai mana dimaksud dalam Undang-Undang dasar negara Republik Indonesia Tahun 1945;
g. Penyelenggara Pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan Pemilu yang terdiri atas komisi pemilihan umum, Bawaslu, dan dewan kehormatan penyelenggara Pemilu sebagai satu kesatuan fungsi penyelenggaraan Pemilu untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat, anggota dewan perwakilan daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan untuk memilih anggota dewan perwakilan ralryat daerah secara langsung oleh rakyat;
h. Komisi Pemilihan umum yang selanjutnya disingkat KPU adalah lembaga penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri dalam melaksanakan Pemilu;
i. Komisi pemilihan umum provinsi yang selanjutnya disingkat KPU Provinsi adalah Penyelenggara Pemilu di provinsi;
j. Komisi pemilihan umum kabupaten/Kota yang selanjutnya
disingkat KPU kabupaten/kota adalah
penyelenggaraPemiludi kabupaten/kota;
k. Panitia pemilihan kecamatan yang selanjutnya disingkat PPK adalah panitia yang dibentuk oleh KPU kabupaten/Kota.
untuk melaksanakan Pemilu di tingkat kecamatan atau nama lain. Penyelenggara Pemungutan suara yang selanjutnya disingkat PPS adalah panitia yang dibentuk oleh KPU kabupaten/Kota untuk melaksanakan Pemilu di tingkat kelurahan/desa atau nama lain;
l. Panitia pemilihan luar negeri yang selanjutnya disingkat PPLN adalah panitia yang dibentuk oleh KPU untuk melaksanakan Pemilu di luar negeri;
m. Kelompok penyelenggara pemungutan suara yang selanjutnya disingkat KPPS adalah kelompok yang dibentuk oleh PPS untuk melaksanakan pemungutan suaradi tempatpemungutan suara;
n. Kelompok penyelenggera pemungutan suara luar negeri yang selanjutnya disingkat KPPSLN adalah kelompok yang dibentuk oleh PPLN untuk melaksanakan pemungutan suara di tempat pemungutan suara luar negeri;
o. Petugas pemutakhiran data pemilih yang selanjutnya disebut pantarlih adalah petugas yang dibentuk oleh PPS atau PPLN untuk melakukan pendaftaran dan pemutakhiran data pemilih;
p. Badan pengawas Pemilu yang selanjutnya disebut bawasluadalah lembaga penyelenggara Pemilu yang mengawasi Penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
q. Badan pengawas Pemilu provinsi yang selanjutnya disebut bawaslu provinsi adalah badan yang mengawasi Penyelenggaraan Pemilu di wilayah provinsi;
r. Bawaslu kabupaten/Kota adalah badan untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah kabupaten/kota;
s. Panwaslu kecamatan adalah panitia yang dibentuk oleh bawaslu kabupaten/Kota untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah kecamatan atau narna lain;
84 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN
t. Panitia pengawas Pemilu kelurahan/desa yang selanjutnya disebut panwaslu kelurahan/desa adalah petugas untuk mengawasi Penyelenggaraan Pemilu di kelurahan/desa atau nama lain;
u. Panitia pengawas Pemilu luar negeri yang selanjutnya disebut Panwaslu LN adalah petugas yang dibentuk oleh Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di luar negeri;
v. Pengawas tempat pemungutan Suara yang selanjutnya disebut Pengawas TPS adalah petugas yang dibentuk oleh panwaslu Kecamatan untuk membantu panwaslu kelurahan/desa;
w. Dewan kehormatan penyelenggara Pemilu yang selanjutnya disingkat DKPP adalah lembaga yang bertugas menangani pelanggaran kode etik penyelenggara Pemilu;
x. Tempat pemungutan suara yang selanjutnya disingkat TPS adalah tempat dilaksanakannya Pemungutan suara;
y. Tempat pemungutan suara luar negeri yang selanjutnya disingkat TPSLN adalah tempat dilaksanakannya pemungutan suara di luar negeri;
z. Peserta Pemilu adalah partai politik untuk Pemilu anggota DPR, anggota DPRD provinsi, anggota DPRD kabupaten/kota, perseorangan untuk Pemilu anggota DPD, dan pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik gabungan partai politik untuk Pemiluprisidendan Wakil Presiden.
2. Asas Pemilu
Pemilu dilaksanakan berdasarkan asas Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
3. Prinsip Pemilu
Dalam menyelenggarakan Pemilu, penyelenggara Pemilu harus melaksanakan Pemilu berdasarkan pada asas dan penyelenggaraannya harus memenuhi prinsip:
a. Mandiri;
b. Jujur;
c. Adil;
d. Berkepastian hukum;
e. Tertib;
f. Terbuka;
g. Proporsional;
h. Profesional;
i. Akuntabel;
j. Efektif;
k. Efisien.
4. Tujuan Pemilu
Penyelenggaraan Pemilu bertujuan untuk:
a. Memperkuat sistem ketatanegaraan yang demokratis;
b. Mewujudkan Pemilu yang adil dan berintegritas;
c. Menjamin konsistensi pengaturan sistem Pemilu;
d. Memberikan kepastian hukum dan mencegah duplikasi dalam pengaturan Pemilu;
e. Mewujudkan Pemilu yang efektif dan efisien.
5. Penyelenggara Pemilu
Penyelengara Pemilihan Umum adalah KPU yang terdiri atas:
a. KPU;
b. KPU Provinsi;
c. KPU Kabupaten/Kota;
d. PPK;
e. PPS;
f. PPLN;
g. KPPS;
h. KPPSLN.
Wilayah kerja KPU meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. KPU menjalankan tugasnya secara berkesinambungan. Dalam menyelengganakan pemilu, KPU bebas dari pengaruh pihak manapun berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan wewenangnya.
Jumlah anggota Keanggotaan KPU meliputi:
a. KPU sebanyak 7 (tujuh) orang;
b. KPU Provinsi sebanyak 5 (lima) atau 7 (tujuh) orang; dan
86 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN
c. KPU Kabupaten/Kota sebanyak 3 (tiga) atau 5 (lima) orang.
Penetapan jumlah anggota KPU provinsi dan KPU Kabupaten/Kota didasarkan pada criteria jumlah penduduk, luas wilayah, dan jumlah wilayah administrative pemerintahan.
6. Pengawas Pemilu
Pengawasan Penyelenggaraan Pemilu dilakukan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Bawaslu terdiri atas:
a. Bawaslu;
b. Bawaslu Propinsi;
c. Bawaslu Kabupaten/Kota;
d. Panwaslu Kecamatan;
e. Panwaslu Kelurahan/Desa;
f. Panwaslu LN;
g. PengawasTPS.
Bawaslu, Bawaslu Provinsi, dan BawasluKabupaten/ Kota bersifat tetap, Sedangkan Panwaslu Kecamatan, Panwaslu Kelurahan/Desa, Panwaslu LN, dan Pengawas TPS, bersifat ad hoc.
Panwaslu Kecamatan, Panwaslu Kelurahan/Desa, dan Panwaslu LN dibentuk paling lambat I (satu) bulan sebelum tahapan pertama Penyelenggaraan Pemilu dimulai dan berakhir paling lambat 2 (dua) bulan setelah seluruh tahapan Penyelenggaraan Pemilu selesai. Sedangkan Pengawas TPS dibentuk paling lambat 23 (dua puluh tiga) hari sebelum hari pemungutan suara dan dibubarkan paling lambat 7 (tujuh) hari setelah hari pemungutan suara.
Keanggotaan Pengawas Pemilu terdiri dari:
a. Bawaslu sebanyak 5 (lima) orang;
b. Bawaslu Provinsisebanyak 5 (lima) atau 7 (tujuh) orang;
c. Bawaslu Kabupaten/Kota sebanyak 3 (tiga) atau 5 (lima) orang.
d. Panwaslu Kecamatan sebanyak 3 (tiga) orang.
Bawaslu, bertugas untuk:
a. Menyusun standard tata laksana pengawasan Penyelenggaraan Pemilu untuk pengawas Pemilu di setiap tingkatan;
b. Melakukan pencegahan dan penindakan terhadap pelanggaran Pemilu dan sengketa proses Pemilu;
c. Mengawasi pelaksanaan tahapan Penyelenggaraan Pemilu;
d. Mencegah terjadinya praktik politik uang;
e. Mengawasi netralitas aparatur sipil negara, netralitas anggota TNI, dan netralitas anggota Polri;
f. Menyampaikan dugaan pelanggaran kode etik Penyelenggara Pemilu kepada DKPP;
g. Menyampaikan dugaan tindak pidana Pemilu kepada Penegakan hukum terpadu (Gakkumdu).
7. Pelaksanaan Pemilu
Pelaksanaan Pemilu meliputi:
a. Pemilu dilaksanakan setiap 5 tahun sekali;
b. Hari, tanggal, dan waktu pemungutan suara Pemilu ditetapkan dengan keputusan KPU;
c. Pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan secara nasional, kecuali untuk Pemilu yang dilaksanakan diluar negri;
d. Tahapan penyelenggaraan Pemilu meliputi:
1) Perencanaan program dan anggaran serta penyusunan peraturan pelaksanaan penyelenggaraan Pemilu;
2) Pemutakhiran data pemilihan dan penyusunan daftar pemilih;
3) Pendaftaran dan verifikasi peserta Pemilu;
4) Penetapan peserta Pemilu;
5) Penetapan jumlah kursi dan penetapan daerah pemilihan;
6) Pencalonan presiden dan wakil presiden serta anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD Kabupaten/kota;
7) Masa kampanye Pemilu;
8) Masa tenang;
9) Pemungutan dan penghitungan suara;
10) Penetapan hasil Pemilu;
88 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN
11) Pengucapan sumpah/janji presiden dan wakil presiden serta anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota.
e. Tahapan penyelenggaran Pemilu dimulai paling lambat 20 (dua puluh) bulan sebelum hari pemungutan suara.
Pemilu Presiden dan wakil Presiden dilaksanakan di seluruh wilayah NKRI sebagai satu kesatuan daerah pemilihan. Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka.
Pemilu untuk memilih anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil banyak.
8. Larangan dalam kegiatan kampanye
Dalam pelaksanaan kegiatan kampanye dilarang:
a. Mempersoalkan dasar negara Pancasila, pembukaan' Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia, Tahun 1945, dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b. Melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
c. Menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon, atau Peserta Pemilu yang lain;
d. Menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat;
e. Mengganggu ketertiban umum;
f. Mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota masyarakat, atau peserta Pemilu yang lain;
g. Merusak atau menghilangkan alat peraga kampanye Peserta Pemilu;
h. Menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan;
i. Membawa atau menggunakan tanda gambar dan atau atribut selain dari tanda gambar dan atau atribut peserta Pemilu yang bersangkutan;
j. Menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta Kampanye Pemilu.
9. Sanksi atas Pelanggaran Larangan Kampanye
Dalam hal terbukti pelaksana dan tim Kampanye pemilu menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya sebagai imbalan kepada peserta kampanye pemilu secara langsung atau tidak langsung untuk:
a. Tidak menggunakan hak pilihnya;
b. Menggunakan hak pilihnya dengan memilih peserta pemilu dengan cara tertentu sehingga surat suaranya tidak sah;
c. Memilih pasangan calon tertentu;
d. Memilih partai politik peserta pemilu tertentu;
e. Memilih calon anggota DPD tertentu.
Putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap pelanggaran larangan Kampanye yang dikenai kepada pelaksana Kampanye Pemilu anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota yang berstatus sebagai calon digunakan sebagai dasar KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota untuk mengambil tindakan berupa:
a. Pembatalan nama calon anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dari daftar calon tetap; atau
b. Pembatalan penetapan calon anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sebagai calon terpilih.
10. Klasifikasi Pelanggaran Pemilu
Pelanggaran Pemilu dapat diklasifikasikan kedalam:
a. Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu;
b. Pelanggaran Administratif Pemilu;
c. Sengketa Pemilu;
d. Sengketa Tata Usaha Negara Pemilu;
e. Tindak Pidana Pemilu.
11. Tata Cara Penyidikan Tindak Pidana Pemilu
a. Laporan dugaan tindak pidana Pemilu diteruskan oleh Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Bawaslu kabupaten/Kota, atau Panwaslu Kecamatan kepada Polri paling lama 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam sejak Bawaslu, Bawaslu Provinsi,
90 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN
Bawaslu Kabupaten/Kota, atau Panwaslu Kecamatan menyatakan bahwa perbuatan atau tindakan yang diduga merupakan tindak pidana Pemilu.
b. Perbuatan atau tindakan yang diduga merupakan tindak pidana Pemilu dinyatakan oleh Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Bawaslu Kabupaten/Kota, atau Panwaslu Kecamatan setelah berkoordinasi dengan Polri, dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia dalam Gakkumdu.
c. Laporan dugaan tindak pidana Pemilu disampaikan secara tertulis dan paling sedikit memuat:
1) Nama dan alamat pelapor;
2) Pihak terlapor;
3) Waktu dan tempat kejadian perkara;
4) Uraian kejadian.
d. Penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan tindak pidana Pemilu dilakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang Pemilu.
e. Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia menyampaikan hasil penyidikannya disertai berkas perkara kepada penuntut umum paling lama 14 (empat belas) hari sejak diterimanya laporan dan dapat dilakukan dengan tanpa kehadiran tersangka.
f. Dalam hal hasil penyidikan belum lengkap, dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari penuntut umum mengembalikan berkas perkara kepada Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia disertai petunjuk tentang hal yang harus dilakukan untuk dilengkapi.
g. Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari sejak tanggal penerimaan berkas harus sudah menyampaikan kembali berkas perkara tersebut kepada penuntut umum.
h. Penuntut umum melimpahkan berkas perkara kepada pengadilan negeri paling lama 5 (lima) hari sejak menerima berkas perkara dan dapat dilakukan dengan tanpa kehadiran tersangka.
Rangkuman
1. Pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat, anggota dewan perwakilan daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat daerah, yang dilaksanakan siara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan pancasiladan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Pemilu dilaksanakan berdasarkan asas Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
3. Dalam menyelenggarakan Pemilu, penyelenggara Pemilu harus melaksanakan Pemilu berdasarkan pada asas dan penyelenggaraannya harus memenuhi prinsip:
a. Mandiri;
b. Jujur;
c. Adil;
d. Berkepastian hukum;
e. Tertib;
f. Terbuka;
g. Proporsional;
h. Profesional;
i. Akuntabel;
j. Efektif;
k. Efisien.
4. Penyelenggaraan Pemilu bertujuan untuk:
a. Memperkuat sistem ketatanegaraan yang demokratis;
b. Mewujudkan Pemilu yang adil dan berintegritas;
c. Menjamin konsistensi pengaturan sistem Pemilu;
d. Memberikan kepastian hukum dan mencegah duplikasi dalam pengaturan Pemilu;
e. Mewujudkan Pemilu yang efektif dan efisien.
5. Penyelengara Pemilihan Umum adalah KPU yang terdiri atas:
a. KPU;
b. KPU Provinsi;
c. KPU Kabupaten/Kota;
d. PPK;
e. PPS;
f. PPLN;
92 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN
g. KPPS;
h. KPPSLN.
6. Pengawasan Penyelenggaraan Pemilu dilakukan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Bawaslu terdiri atas:
a. Bawaslu;
b. Bawaslu Propinsi;
c. Bawaslu Kabupaten/Kota;
d. Panwaslu Kecamatan;
e. Panwaslu Kelurahan/Desa;
f. Panwaslu LN;
g. PengawasTPS.
7. Pelaksanaan Pemilu meliputi:
a. Pemilu dilaksanakan setiap 5 tahun sekali;
b. Hari, tanggal, dan waktu pemungutan suara Pemilu ditetapkan dengan keputusan KPU;
c. Pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan secara nasional, kecuali untuk Pemilu yang dilaksanakan diluar negri;
8. Pelanggaran Pemilu dapat diklasifikasikan kedalam:
a. Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu;
b. Pelanggaran Administratif Pemilu;
c. Sengketa Pemilu;
d. Sengketa Tata Usaha Negara Pemilu;
e. Tindak Pidana Pemilu.
9. Penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan tindak pidana Pemilu dilakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang Pemilu.
Latihan
1. Jelaskan pengertian-pengertian yang berkaitan dengan Pemilu!
2. Jelaskan Asas Pemilu!
3. Jelaskan Prinsip Pemilu!
4. Jelaskan Tujuan Pemilu!
5. Jelaskan Penyelenggara Pemilu!
6. Jelaskan Pengawas Pemilu!
7. Jelaskan Pelaksanaan Pemilu!
8. Jelaskan Larangan dalam kegiatan kampanye!
9. Jelaskan Sanksi Atas Pelanggaran Larangan Kampanye!
10. Jelaskan Klasifikasi Pelanggaran Pemilu!
11. Jelaskan Tata Cara PenyidikanTindak Pidana Pemilu!
94 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN
MODUL
06
WILAYAH NEGARA ( UU NOMOR 43 TAHUN 2008 )
4 JP (180 Menit)
Pengantar
Di dalam modul ini dibahas materi tentang pengertian-pengertian yang berkaitan dengan pengaturan wilayah sistem, azas dan tujuan pengaturan wilayah sistem, ruang lingkup wilayah sistem, hak-hak berdaulat, kewenangan da-lam pengaturan wilayah sistem, kelembagaan dalam pengaturan wilayah sistem, peran serta masyarakat dalam pengaturan wilayah sistem, larangan dan ketentuan pidana yang berkaitan dengan wilayah negara.
Tujuannya diberikanya materi ini adalah agar peserta didik dapat memahami tentang Undang-Undang Nomor 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara.
Kompetensi Dasar
Memahami pokok-pokok Undang-Undang Nomor 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara.
Indikator hasil belajar:
1. Menjelaskan pengertian-pengertian yang berkaitan dengan pengaturan wilayah negara;
2. Menjelaskan azas dan tujuan pengaturan wilayah negara;
3. Menjelaskan ruang lingkup wilayah negara;
4. Menjelaskan hak-hak berdaulat di wilayah yuridiksi;
5. Menjelaskan kewenangan dalam mengatur pengelolaan dan pemanfaatan wilayah negara;
6. Menjelaskan kelembagaan yang mengatur wilayah negara;
7. Menjelaskan peran serta masyarakat dalam pengaturan wilayah negara;
8. Menjelaskan larangan dalam pengaturan wilayah negara;
9. Menjelaskan ketentuan Pidana yang berkaitan dengan wilayah negara.
Materi Pelajaran
Pokok bahasan:
Memahami pokok-pokok Undang-Undang Nomor 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara.
Subpokok bahasan:
1. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan pengaturan wilayah negara;
2. Azas dan tujuan pengaturan wilayah negara;
3. Ruang lingkup wilayah negara;
4. Hak-hak berdaulat di wilayah yuridiksi;
5. Kewenangan dalam mengatur pengelolaan dan pemanfaatan wilayah negara;
6. Kelembagaan yang mengatur wilayah negara;
7. Peran serta masyarakat dalam pengaturan wilayah negara;
8. Larangan dalam pengaturan wilayah negara;
9. Ketentuan Pidana yang berkaitan dengan wilayah negara.
MetodePembelajaran
1. Metode ceramah
Metode ini digunakan pendidik untuk menjelaskan materi pokok-pokok Undang-Undang Nomor 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara.
2. Metode Brainstormimg (curah pendapat)
Metode ini digunakan pendidik untuk mengeksplor pendapat peserta didik tentang Undang-Undang Nomor 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara.
3. Metode tanya jawab
Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.
4. Metode penugasan
Metode ini digunakan untuk menugaskan peserta didik meresume materi yang telah diberikan.
96 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN
Alat /medial, Bahan, dan Sumber Belajar
1. Alat/media:
a. White Board;
b. Laptop;
c. LCD Projector;
d. OHP.
2. Bahan:
a. Alat tulis;
b. Kertas Flipchart/HVS.
3. Sumberbelajar:
a. Modul Kapita Selekta Perundang-undangan;
b. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.
Kegiatan Pembelajaran
1. Tahap awal : 10 menit
Pendidik melaksanakan apersepsi:
a. Pendidik memerintahkan peserta didik melakukan refleksi;
b. Pendidik mengaitkan materi yang sudah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan;
c. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran.
2. Tahap inti : 160 menit
a. Pendidik menyampaikan materi tentang pokok-pokok Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara;
b. Peserta didik menyimak, mencatat hal-hal yang dianggap penting;
c. Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya materi yang belum dipahami;
d. Peserta didik bertanya kepada pendidik tentang materi yang belum dimengerti;
e. Pendidik menjawab pertanyaan peserta didik;
f. Pendidik menyimpulkan materi pelajaran yang telah
disampaikan kepada peserta didik.
3. Tahap akhir : 10 menit a. Penguatan materi.
Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan kegiatan pembelajaran.
b. Cek penguasaan materi.
Pendidik mengecek penguasaan materi pembelajaran dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.
c. Keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas.
Pendidik menggali manfaat yang bias diambil dari pembelajaran yang disampaikan.
d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk meresume materi yang disampaikan.
Tagihan/Tugas
Peserta didik mengumpulkan resume materi pelajaran yang telah disampaikan.
LembarKegiatan
Peserta didik membuat resume materi pelajaran yang telah disampaikan.
98 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN
BahanBacaan
WILAYAH NEGARA
(UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2008)
1. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan wilayah negara a. Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang
selanjutnya disebut dengan Wilayah Negara adalah salah satu unsur negara yang merupakan satu kesatuan wilayah daratan, perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut teritorial beserta dasar laut dan tanah di bawahnya, serta ruang udara di atasnya, termasuk seluruh sumber kekayaan yang terkandung di dalamnya;
b. Wilayah Perairan adalah perairan pedalaman, perairan kepulauan, dan laut teritorial;
c. Wilayah Yurisdiksi adalah wilayah di luar Wilayah Negara yang terdiri atas Zona Ekonomi Eksklusif, Landas Kontinen, dan Zona Tambahan di mana negara memiliki hak -hak berdaulat dan kewenangan tertentu lainnya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan dan hukum internasional;
d. Batas Wilayah Negara adalah garis batas yang merupakan pemisah kedaulatan suatu negara yang didasarkan atas hukum internasional;
e. Batas Wilayah Yurisdiksi adalah garis batas yang merupakan pemisah hak berd aulat dan Kewenangan tertentu yang dimiliki oleh negara yang didasarkan atas ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional;
f. Kawasan Perbatasan adalah bagian dari Wilayah Negara yang terletak pada sisi dalam sepanjang Batas wilayah Indonesia dengan negara lain, dalam hal Batas Wilayah Negara di darat, Kawasan Perbatasan berada di kecamatan;
g. Zona Tambahan Indonesia adalah zona yang lebarnya tidak melebihi 24 (dua puluh empat) mil laut yang diukur dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial diukur;
g. Zona Tambahan Indonesia adalah zona yang lebarnya tidak melebihi 24 (dua puluh empat) mil laut yang diukur dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial diukur;