• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL 4 KETENAGAKERJAAN (UU NOMOR 13 TAHUN 2003)

4. Penyidikan terkait tentang ketenagakerjaan

5. Ketentuan pidana dan sanksi administratif.

Metode Pembelajaran

1. Metode Ceramah

Metode ini digunakan untuk menjelaskan materi tentang pokok-pokok Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

2. Metode Brainstorming/curah pendapat

Metode ini digunakan pendidik untuk mengeksplor pendapat peserta didik tentang Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

3. Metode Tanya jawab

Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.

4. Metode penugasan

Metode ini digunakan untuk menugaskan peserta didik meresume materi yang telah diberikan.

Alat/Media, Bahan dan Sumber Belajar

1. Alat/Media:

a. Komputer/ Laptop;

b. LCD/ proyektor;

c. Whiteboard;

d. Papan Flipchart;

e. Slide.

2. Bahan:

a. Kertas Flipchart;

b. Penghapus;

c. Alat Tulis.

3. Sumber Belajar:

a. Modul Kapita Selekta Perundang-undangan;

b. Undang-Undang Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Kegiatan Pembelajaran

1. Tahap awal : 10 Menit

Pendidik melaksanakan apersepsi dengan kegiatan:

a. Pendidik menugaskan kepada peserta didik untuk melakukan refleksi materi sebelumnya;

b. Pendidik mengaitkan materi yang telah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan;

c. Menyampaikan tujuan pembelajaran pada modul ini.

2. Tahap inti : 160 Menit

a. Pendidik menjelaskan materi tentang pengertian pokok-pokok Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;

b. Peserta didik menyimak, mencatat hal-hal yang dianggap penting;

c. Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya materi yang belum dipahami;

d. Peserta didik bertanya kepada pendidik tentang materi yang belum dimengerti;

e. Pendidik menjawab pertanyaan peserta didik;

f. Pendidik menyimpulkan materi pelajaran yang telah disampaikan kepada peserta didik.

3. Tahap akhir : 10 Menit a. Cek penguatan materi.

Pendidik memberikan ulasan dan penguatan materi secara umum

b. Cek penguasaan materi.

Pendidik mengecek penguasaan materi pendidik dengan bertanta secara lisan dan acak kepada peserta didik.

c. Keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas.

Pendidik menggali manfaat yang bisa diambil dari materi pelajaran.

d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk meresume materi yang telah disampaikan.

70 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

Tagihan/Tugas

Peserta didik mengumpulkan resume materi pelajaran yang telah disampaikan.

Lembar Kegiatan

Peserta didik membuat resume materi pelajaran yang telah disampaikan.

Bahan Bacaan

KETENAGAKERJAAN

(UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003)

1. Pengertian yang berkaitan dengan ketenagakerjaan

a. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja;

b. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

c. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

d. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

e. Pengusaha adalah:

1) Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri;

2) Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;

3) Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan berkedudukan di luar wilayah Indonesia.

f. Perusahaan adalah:

4) Setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain;

5) Usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

g. Perencanaan tenaga kerja adalah proses penyusunan rencana ketenagakerjaan secara sistematis yang dijadikan dasar dan acuan dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan.

h. Informasi ketenagakerjaan adalah gabungan, rangkaian, dan analisis data yang berbentuk angka yang telah diolah, naskah dan dokumen yang mempunyai arti, nilai dan makna tertentu mengenai ketenagakerjaan.

i. Tenaga kerja asing adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di wilayah Indonesia.

j. Perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban para pihak.

k. Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah.

2. Landasan, Asas, dan Tujuan

a. Landasan Ketenagakerjaan yaituPembangunan ketenagakerjaan berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

b. Asas Ketenagakerjaan yaitu Pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah.

c. Tujuan Ketenagakerjaan

Pembangunan ketenagakerjaan bertujuan:

1) Memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja

72 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

secara optimal dan manusiawi;

2) Mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai

3) Dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah;

4) Memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan; dan

5) Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya.

3. Penggunaan tenaga kerja asing

Ketentuan penggunaan tenaga kerja asing adalah sebagai berikut:

a. Setiap pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki izin tertulis dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk;

b. Pemberi kerja orang perseorangan dilarang mempekerjakan tenaga kerja asing;

c. Kewajiban memiliki izin, tidak berlaku bagi perwakilan negara asing yang mempergunakan tenaga kerja asing sebagai pegawai diplomatik dan konsuler;

d. Tenaga kerja asing dapat dipekerjakan di Indonesia hanya dalam hubungan kerja untuk jabatan tertentu dan waktu tertentu;

e. Ketentuan mengenai jabatan tertentu dan waktu tertentu ditetapkan dengan Keputusan Menteri;

f. Tenaga kerja asing yang masa kerjanya habis dan tidak dapat diperpanjang dapat digantikan oleh tenaga kerja asing lainnya.

Pemberi kerja yang menggunakan tenaga kerja asing harus memiliki rencana penggunaan tenaga kerja asing yang disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Rencana penggunaan tenaga kerja asing sekurangkurangnya memuat keterangan:

a. Alasan penggunaan tenaga kerja asing;

b. Jabatan dan/atau kedudukan tenaga kerja asing dalam struktur organisasi perusahaan yang bersangkutan;

c. Jangka waktu penggunaan tenaga kerja asing; dan

d. Penunjukan tenaga kerja warga negara indonesia sebagai pendamping tenaga kerja asing yang dipekerjakan.

Ketentuan tersebut di atas tidak berlaku bagi instansi pemerintah,

badan-badan internasional dan perwakilan negara asing.

Pemberi kerja tenaga kerja asing wajib menaati ketentuan mengenai jabatan dan standar kompetensi yang berlaku. Pemberi kerja tenaga kerja asing wajib melaksanakan:

a. Menunjuk tenaga kerja warga negara Indonesia sebagai tenaga pendamping tenaga kerja asing yang dipekerjakan untuk alih teknologi dan alih keahlian dari tenaga kerja asing;

b. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan kerja bagi tenaga kerja Indonesia yang sesuai dengan kualifikasi jabatan yang diduduki oleh tenaga kerja asing.

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kerja asing yang menduduki jabatan direksi dan/atau komisaris.

4. Penyidikan terkait tentang ketenagakerjaan Pasal 182

Selain penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, juga kepada pegawai pengawas ketenagakerjaan dapat diberi wewenang khusus sebagai penyidik pegawai negeri sipil sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyidik Pegawai Negeri Sipil berwenang:

c. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang tindak pidana di bidang ketenagakerjaan;

d. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang ketenagakerjaan;

e. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana di bidang ketenagakerjaan;

f. Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti dalam perkara tindak pidana di bidang ketenagakerjaan;

g. Melakukan pemeriksaan atas surat dan/atau dokumen lain tentang tindak pidana dibidang ketenagakerjaan;

h. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang ketenagakerjaan;

dan

i. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang membuktikan tentang adanya tindak pidana di bidang ketenagakerjaan.

74 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

5. Ketentuan pidana dan sanksi administratif a. Ketentuan Pidana

Pasal 183

1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74, dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan.

Pasal 184

1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 167 ayat (5), dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan.

Pasal 185

1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 68, Pasal 69 ayat (2), Pasal 80, Pasal 82, Pasal 90 ayat (1), Pasal 143, dan Pasal 160 ayat (4) dan ayat (7), dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).

2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan.

Pasal 186

1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 93 ayat (2), Pasal 137, dan Pasal 138 ayat (1), dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda

paling sedikit Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).

2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana pelanggaran.

Pasal 187

1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2), Pasal 44 ayat (1), Pasal 45 ayat (1), Pasal 67 ayat (1), Pasal 71 ayat (2), Pasal 76, Pasal 78 ayat (2), Pasal 79 ayat (1), dan ayat (2), Pasal 85 ayat (3), dan Pasal 144, dikenakan sanksi pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana pelanggaran.

Pasal 188

1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2), Pasal 38 ayat (2), Pasal 63 ayat (1), Pasal 78 ayat (1), Pasal 108 ayat (1), Pasal 111 ayat (3), Pasal 114, dan Pasal 148, dikenakan sanksi pidana denda paling sedikit Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) dan paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana pelanggaran.

Pasal 189

Sanksi pidana penjara, kurungan, dan/atau denda tidak menghilangkan kewajiban pengusaha membayar hak-hak dan/atau ganti kerugian kepada tenaga kerja atau pekerja/buruh.

b. Sanksi Administratif Pasal 190

1) Menteri atau pejabat yang ditunjuk mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran ketentuan-ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 15, Pasal 25, Pasal 38 ayat (2), Pasal 45 ayat (1), Pasal 47 ayat (1), Pasal 48, Pasal 87, Pasal 106, Pasal 126 ayat

76 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

(3), dan Pasal 160 ayat (1) dan ayat (2) undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.

2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa:

a) Teguran;

b) Peringatan tertulis;

c) Pembatasan kegiatan usaha;

d) Pembekuan kegiatan usaha;

e) Pembatalan persetujuan;

f) Pembatalan pendaftaran;

g) Penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi;

h) Pencabutan ijin.

3) Ketentuan mengenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Menteri.

Rangkuman

1. Pengertian yang berkaitan dengan ketenagakerjaan

a. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja;

b. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

c. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

2. Landasan, Asas, dan Tujuan

a. Landasan Ketenagakerjaan yaituPembangunan ketenagakerjaan berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

b. Asas Ketenagakerjaan yaitu Pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah.

c. Pembangunan ketenagakerjaan bertujuan:

1) Memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja

secara optimal dan manusiawi;

2) Mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai

3) Dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah;

4) Memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan; dan

5) Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya.

3. Ketentuan penggunaan tenaga kerja asing adalah sebagai berikut:

a. Setiap pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki izin tertulis dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk;

b. Pemberi kerja orang perseorangan dilarang mempekerjakan tenaga kerja asing;

c. Kewajiban memiliki izin, tidak berlaku bagi perwakilan negara asing yang mempergunakan tenaga kerja asing sebagai pegawai diplomatik dan konsuler;

d. Tenaga kerja asing dapat dipekerjakan di Indonesia hanya dalam hubungan kerja untuk jabatan tertentu dan waktu tertentu;

e. Ketentuan mengenai jabatan tertentu dan waktu tertentu ditetapkan dengan Keputusan Menteri;

f. Tenaga kerja asing yang masa kerjanya habis dan tidak dapat diperpanjang dapat digantikan oleh tenaga kerja asing lainnya.

4. Penyidikan terkait tentang ketenagakerjaan

Selain penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, juga kepada pegawai pengawas ketenagakerjaan dapat diberi wewenang khusus sebagai penyidik pegawai negeri sipil sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Latihan

1. Jelaskan pengertian yang berkaitan dengan ketenagakerjaan!

2. Jelaskan landasan, asas, dan tujuan!

3. Jelaskan penggunaan tenaga kerja asing!

4. Jelaskan penyidikan terkait tentang ketenagakerjaan!

5. Jelaskan ketentuan pidana dan sanksi administratif!

78 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

MODUL

05

PEMILIHAN UMUM (PEMILU) ( UU NOMOR 7 TAHUN 2017 )

4 JP (180 Menit)

Pengantar

Di dalam modul ini dibahas materi tentang pengertian-pengertian yang berkaitan dengan Pemilu, asas Pemilu, prinsip Pemilu, tujuan Pemilu, penyelenggara Pemilu, pengawas Pemilu, pelaksanaan Pemilu, larangan kampanye, sanksi atas pelanggaran larangan kampanye, klasifikasi pelanggaran Pemilu, dan tata cara penyidikan tindak pidana Pemilu.

Tujuannya diberikanya materi ini adalah agar peserta didik dapat memahami tentang Pemilu (Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017).

Kompetensi Dasar

Memahami pokok-pokok Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu).

Indikator hasil belajar:

1. Menjelaskan pengertian-pengertian yang berkaitan dengan Pemilu;

2. Menjelaskan asas Pemilu;

3. Menjelaskan prinsip Pemilu;

4. Menjelaskan tujuan Pemilu;

5. Menjelaskan penyelenggara Pemilu;

6. Menjelaskan pengawas Pemilu;

7. Menjelaskan pelaksanaan Pemilu;

8. Menjelaskan larangan dalam kegiatan kampanye;

9. Menjelaskan Sanksi Atas Pelanggaran Larangan Kampanye;

10. Menjelaskan Klasifikasi Pelanggaran Pemilu;

11. Menjelaskan Tata Cara Penyidikan Tindak Pidana Pemilu.

Materi Pelajaran

Pokok bahasan:

Memahami pokok-pokok Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu).

Subpokok bahasan:

1. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan Pemilu;

2. Asas Pemilu;

3. Prinsip Pemilu;

4. Tujuan Pemilu;

5. Penyelenggara Pemilu;

6. Pengawas Pemilu;

7. Pelaksanaan Pemilu;

8. Larangan dalam kegiatan kampanye;

9. Sanksi Atas Pelanggaran Larangan Kampanye;

10. Klasifikasi Pelanggaran Pemilu;

11. Tata Cara PenyidikanTindak Pidana Pemilu.

MetodePembelajaran

1. Metode ceramah

Metode ini digunakan pendidik untuk menjelaskan materi pokok-pokok Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

2. Metode Brainstormimg (curah pendapat)

Metode ini digunakan pendidik untuk mengeksplor pendapat peserta didik tentang Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

3. Metode tanya jawab

Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.

4. Metode penugasan

Metode ini digunakan untuk menugaskan peserta didik meresume materi yang telah diberikan.

80 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

Alat /medial, Bahan, dan Sumber Belajar

1. Alat/media:

a. White Board;

b. Laptop;

c. LCD Projector;

d. OHP.

2. Bahan:

a. Alat tulis;

b. Kertas Flipchart/HVS.

3. Sumberbelajar:

a. Modul Kapita Selekta Perundang-undangan;

b. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

Kegiatan Pembelajaran

1. Tahap awal : 10 menit

Pendidik melaksanakan apersepsi:

a. Pendidik memerintahkan peserta didik melakukan refleksi;

b. Pendidik mengaitkan materi yang sudah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan;

c. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran.

2. Tahap inti : 160 menit

a. Pendidik menyampaikan materi tentang pokok-pokok Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu;

b. Peserta didik menyimak, mencatat hal-hal yang dianggap penting;

c. Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya materi yang belum dipahami;

d. Peserta didik bertanya kepada pendidik tentang materi yang belum dimengerti;

e. Pendidik menjawab pertanyaan peserta didik;

f. Pendidik menyimpulkan materi pelajaran yang telah disampaikan kepada peserta didik.

3. Tahap akhir : 10 menit a. Penguatan materi

Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan kegiatan pembelajaran.

b. Cek penguasaan materi

Pendidik mengecek penguasaan materi pembelajaran dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.

c. Keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas.

Pendidik menggali manfaat yang bias diambil dari pembelajaran yang disampaikan

d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk meresume materi yang disampaikan.

Tagihan/Tugas

Peserta didik mengumpulkan resume materi pelajaran yang telah disampaikan.

LembarKegiatan

Peserta didik membuat resume materi pelajaran yang telah disampaikan.

82 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

BahanBacaan

PEMILIHAN UMUM

(UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2017)

1. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan Pemilu

a. Pemilihan umum yang selanjutnya disebut Pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat, anggota dewan perwakilan daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat daerah, yang dilaksanakan siara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan pancasiladan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Penyelenggaraan Pemilu adalah pelaksanaan tahapan Pemilu yang dilaksanakan oleh penyelenggara Pemilu;

c. Presiden dan Wakil Presiden adalah Presiden dan Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

d. Dewan penyakilan rakyat yang selanjutnya disingkat DPR adalah dewan perwakilan rakyatsebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara republik Indonesia Tahun 1945;

e. Dewan perwakilan daerah yang selanjutnya disingkat DPD adalah dewan perwakilan daerah sebagaimanadimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara republik Indonesia Tahun 1945;

f. Dewan perwakilan rakyat daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah dewan perwakilan naryat daerah pirovinsi dan dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota sebagai mana dimaksud dalam Undang-Undang dasar negara Republik Indonesia Tahun 1945;

g. Penyelenggara Pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan Pemilu yang terdiri atas komisi pemilihan umum, Bawaslu, dan dewan kehormatan penyelenggara Pemilu sebagai satu kesatuan fungsi penyelenggaraan Pemilu untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat, anggota dewan perwakilan daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan untuk memilih anggota dewan perwakilan ralryat daerah secara langsung oleh rakyat;

h. Komisi Pemilihan umum yang selanjutnya disingkat KPU adalah lembaga penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri dalam melaksanakan Pemilu;

i. Komisi pemilihan umum provinsi yang selanjutnya disingkat KPU Provinsi adalah Penyelenggara Pemilu di provinsi;

j. Komisi pemilihan umum kabupaten/Kota yang selanjutnya

disingkat KPU kabupaten/kota adalah

penyelenggaraPemiludi kabupaten/kota;

k. Panitia pemilihan kecamatan yang selanjutnya disingkat PPK adalah panitia yang dibentuk oleh KPU kabupaten/Kota.

untuk melaksanakan Pemilu di tingkat kecamatan atau nama lain. Penyelenggara Pemungutan suara yang selanjutnya disingkat PPS adalah panitia yang dibentuk oleh KPU kabupaten/Kota untuk melaksanakan Pemilu di tingkat kelurahan/desa atau nama lain;

l. Panitia pemilihan luar negeri yang selanjutnya disingkat PPLN adalah panitia yang dibentuk oleh KPU untuk melaksanakan Pemilu di luar negeri;

m. Kelompok penyelenggara pemungutan suara yang selanjutnya disingkat KPPS adalah kelompok yang dibentuk oleh PPS untuk melaksanakan pemungutan suaradi tempatpemungutan suara;

n. Kelompok penyelenggera pemungutan suara luar negeri yang selanjutnya disingkat KPPSLN adalah kelompok yang dibentuk oleh PPLN untuk melaksanakan pemungutan suara di tempat pemungutan suara luar negeri;

o. Petugas pemutakhiran data pemilih yang selanjutnya disebut pantarlih adalah petugas yang dibentuk oleh PPS atau PPLN untuk melakukan pendaftaran dan pemutakhiran data pemilih;

p. Badan pengawas Pemilu yang selanjutnya disebut bawasluadalah lembaga penyelenggara Pemilu yang mengawasi Penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

q. Badan pengawas Pemilu provinsi yang selanjutnya disebut bawaslu provinsi adalah badan yang mengawasi Penyelenggaraan Pemilu di wilayah provinsi;

r. Bawaslu kabupaten/Kota adalah badan untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah kabupaten/kota;

s. Panwaslu kecamatan adalah panitia yang dibentuk oleh bawaslu kabupaten/Kota untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah kecamatan atau narna lain;

84 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

t. Panitia pengawas Pemilu kelurahan/desa yang selanjutnya disebut panwaslu kelurahan/desa adalah petugas untuk mengawasi Penyelenggaraan Pemilu di kelurahan/desa atau nama lain;

u. Panitia pengawas Pemilu luar negeri yang selanjutnya disebut Panwaslu LN adalah petugas yang dibentuk oleh Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di luar negeri;

v. Pengawas tempat pemungutan Suara yang selanjutnya disebut Pengawas TPS adalah petugas yang dibentuk oleh panwaslu Kecamatan untuk membantu panwaslu kelurahan/desa;

w. Dewan kehormatan penyelenggara Pemilu yang selanjutnya disingkat DKPP adalah lembaga yang bertugas menangani pelanggaran kode etik penyelenggara Pemilu;

x. Tempat pemungutan suara yang selanjutnya disingkat TPS adalah tempat dilaksanakannya Pemungutan suara;

y. Tempat pemungutan suara luar negeri yang selanjutnya disingkat TPSLN adalah tempat dilaksanakannya pemungutan suara di luar negeri;

z. Peserta Pemilu adalah partai politik untuk Pemilu anggota DPR, anggota DPRD provinsi, anggota DPRD kabupaten/kota, perseorangan untuk Pemilu anggota DPD, dan pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik gabungan partai politik untuk Pemiluprisidendan Wakil Presiden.

2. Asas Pemilu

Pemilu dilaksanakan berdasarkan asas Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

3. Prinsip Pemilu

Dalam menyelenggarakan Pemilu, penyelenggara Pemilu harus melaksanakan Pemilu berdasarkan pada asas dan penyelenggaraannya harus memenuhi prinsip:

a. Mandiri;

b. Jujur;

c. Adil;

d. Berkepastian hukum;

e. Tertib;

f. Terbuka;

g. Proporsional;

h. Profesional;

i. Akuntabel;

j. Efektif;

k. Efisien.

4. Tujuan Pemilu

Penyelenggaraan Pemilu bertujuan untuk:

a. Memperkuat sistem ketatanegaraan yang demokratis;

b. Mewujudkan Pemilu yang adil dan berintegritas;

c. Menjamin konsistensi pengaturan sistem Pemilu;

d. Memberikan kepastian hukum dan mencegah duplikasi dalam pengaturan Pemilu;

e. Mewujudkan Pemilu yang efektif dan efisien.

5. Penyelenggara Pemilu

Penyelengara Pemilihan Umum adalah KPU yang terdiri atas:

a. KPU;

b. KPU Provinsi;

c. KPU Kabupaten/Kota;

d. PPK;

e. PPS;

f. PPLN;

g. KPPS;

h. KPPSLN.

Wilayah kerja KPU meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. KPU menjalankan tugasnya secara berkesinambungan. Dalam menyelengganakan pemilu, KPU bebas dari pengaruh pihak manapun berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan wewenangnya.

Jumlah anggota Keanggotaan KPU meliputi:

a. KPU sebanyak 7 (tujuh) orang;

b. KPU Provinsi sebanyak 5 (lima) atau 7 (tujuh) orang; dan

86 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

86 KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN