• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.11 Penyuluhan

Menurut UU SP2K Nomor 16/2006 menyatakan bahwa “penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraanya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup”.

Menurut Budi (2018) Penyuluhan pertanian adalah penyampaian penelitian ilmiah serta pengetahuan agar dapat diprakatikan kembali oleh petani. Penyuluhan juga berguna dalam pemindahan penelitian yang berawal dari laboratorium ke lapangan serta pengembalian memastikan investasi dalam kegiatan penelitian dengan menerjemahkan pegetahuan baru dalam praktik inovatif. Dalam hal ini penyuluhan tidak hanya dilakukan oleh penyuluh namun setiap orang dapat menyuluhkan sesuatu selama hal tersebut merupakan fakta atau kebenaran serta tepat sasaran. Penyuluhan merupakan pendidikan yang non formal yang diberikan oleh seorang yang menyuluh kepada sasaran (petani) dengan menggunakan sistem komunikasi yang baik dan benar serta pendekatan yang sesuai dengan tujuan dari penyuluhan tersebut.

1. Identifikasi Potensi Wilayah

Berdasarkan Sutisna (2019) Identifikasi potensi wilayah dikembangkan sebagai acuan bagi penyuluh untuk melakukan kegiatan penyuluhan, bersama kelompok tani, kelompok usaha dan lain-lain menggunakan metode dan bahan untuk merancang dan memperluas program yang akan dilaksanakan.

Menurut Meo (2021) Terdapat data yang mendukung dalam mengelola suatu tani yaitu terdiri dari beberapa data antara lain data monografi desa, data penerapan teknologi budidaya yang menjadi kebiasaan petani, data komoditas pertanian yang dibudidayakan oleh petani. Adapun data informasi yang dapat dikumpulkan serta dilakukan analisis antara lain :

a. Data primer yang merupakan data yang dapat diperoleh dari wawancara bersama dengan petani ataupun masyarakat yang masih memiliki keterkaitan dengan bidang pertanian.

b. Data sekunder yang merupakan data yang berasal dari Balai Desa, Programa milik penyuluh pertanian sesuai tempat wilayah Desa/Kelurahan dan petugas dinas yang berkaitan dengan lingkup pertanian.

2. Tujuan Penyuluhan

Menurut Undang Undang SP3K tujuan penyuluhan pertanian adalah memberdayakan pelaku utama dan pelaku usaha dalam peningkatan kemampuan melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif penumbuhan motivasi, pengembangan potensi, pemberian peluang, peningkatan kesadaran, dan pendampingan serta fasilitasi. Tujuan harus ditetapkan dengan menggunakan unsur-unsur SMART:

a. Specific (khusus), kegiatan penyuluhan pertanian harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan khusus.

b. Measurable (dapat diukur), bahwa kegiatan penyuluhan harus mempunyai tujuan khusus yang dapat diukur.

c. Actionary (dapat dikerjakan/dilakukan) yaitu tujuan kegiatan penyuluhan itu harus mampu untuk dicapai oleh sasaran.

d. Realistic (realistis), bahwa tujuan yang ingin dicapai harus masuk akal dan tidak berlebihan, sehingga sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta/petani.

e. Time frame (memiliki batasan waktu untuk mencapai tujuan), ini berarti bahwa dalam waktu yang telah ditetapkan, maka tujuan yang ingin dicapai dari penyelenggaraan penyuluhan ini harus dapat dipenuhi oleh setiap peserta/petani.

Menurut UU Nomor 16 Tahun 2006 Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan adalah :

a. Audience (khalayak sasaran), yaitu tujuan ditetapkan harus mengarah khalayak sasaran penyuluhan.

b. Behaviour (perubahan perilaku yang dikehendaki), yaitu tujuan yang ditetapkan harus pada perubahan perilaku yang dikehendaki.

c. Condition (kondisi yang akan dicapai), yaitu tujuan yang ditetapkan harus disesuaikan dengan kondisi yang akan dicapai.

d. Degree (derajat kondisi yang akan dicapai), yaitu tujuan ditetapkan berdasarkan derajat kondisi yang akan dicapai.

3. Sasaran Penyuluhan

UU Nomor 16 Tahun 2006, tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, BAB III pasal 5, mengatakan bahwa sasaran penyuluhan pertanian adalah :

1. Pihak yang paling berhak memperoleh manfaat penyuluhan meliputi sasaran utama dan sasaran antara.

2. Sasaran utama penyuluhan yaitu pelaku utama dan pelaku usaha.

3. Sasaran antara penyuluhan yaitu pemangku kepentingan lainnya yang meliputi kelompok atau lembaga pemerhati pertanian, perikanan,, dan kehutanan serta generasi muda dan tokoh masyarakat.

Menurut Gitosaputro dan Listiana (2018) Sasaran merupakan petani ataupun kelompok tani yang berperan sebagai objek ataupun subjek dalam kegiatan

penyuluhan. Jika sebagai objek, petani merupakan tujuan atau titik sasaran pelayanan penyuluhan dilaksanakan namun jika berperan sebagai subjek petani berperan sebagai pemimpin serta pelaksana utama dalam kegiatan usaha tani yang petani lakukan dikesehariannya. Dalam kegiatan penyuluhan pertanian, penyuluh yang merupakan fasilitaror memfokuskan pada beberapa hal yaitu :

a. Berusaha tani lebih baik (better farming)

b. Berusaha tani lebih menguntungkan (better bussines) c. Berkehidupan yang lebih layak (better living)

d. Tata kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera (better community) 3. Materi Penyuluhan

Menurut Avaiati dan Endaryanto (2019) Materi penyuluhan adalah hal yang menjadi inti dalam kegiatan penyuluhan yang diterima oleh sasaran. Penyusunan materi penyuluhan didasarkan pada kebutuhan, meliputi dari segala informasi serta motivasi petani dalam melakukan kegiatan berusaha tani. Namun setiap petani terkadang memiliki masalahnya masing-masing dalam berusaha tani yang harus kita lakukan yaitu melakukan seleksi prioritas ataupun darurat dari masalah-masalah yang ada.

Terdapat hal-hal yang biasanya menjadi ketertarikan petani dalam mendengarkan materi yang disuluhkan yaitu terdiri dari hal-hal yag memiliki hubungan langsung dengan petani yang menjadi sasaran penyuluhan, materi yang menarik dari segi kualitas materi, materi yang sudah berhasil dalam penelitiannya, sesuatu yang baru dan memiliki teknologi baru yang dalam menentukan materi mengenai teknologi yang sesuai dengan golongan sasaran dan keadaan lahan.

Menurut UU SP3K, 2006 Pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa “materi penyuluhan dibuat berdasarkan kebutuhan dan kepentingan pelaku utama dan

pelaku usaha dengan memperhatikan pemanfaatan dan kelestarian sumber daya pertanian, perikanan, dan kehutanan”. Materi juga sebagai pengantara pesan dari penyuluuh kepada petani sehingga diharapkan dapat dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami oleh sasaran.

4. Metode Penyuluhan

Menurut Bahua (2015) Metode penyuluhan pertanian merupakan langkah-langkah yang dilakukan pada saat dilakukan penyuluhan, yang memiliki sifat mendidik, membimbing dan diterapkan sehingga dapat mengubah pemahaman, sikap dan perilaku petani agar dapat membantu dirinya sendiri. Dalam penetuan metode penyuluhan, penyuluh terlebih dahulu melakukan melakukan identifikasi terhadap sasaran dan tujuan penyuluhan agar dapat tercapainya tujuan dari kegiatan penyuluhan tersebut.

Terdapat beberapa pengolongan ragam atau jenis metode penyuluhan pertanian antara lain :

a. Penggolongan berdasarkan teknik komunikasi, metode penyuluhan pertanian digolongkan kembali menjadi dua yaitu komunikasi langsung (direct communication/face to face communication ) dan komunikasi tidak langsung (indirect communication ). Pada komunikasi langsung merupakan komunikasi yang dilakukan secara tatap muka ataupun bertemu secara langsung contohnya kunjungan rumah, diskusi dibalai desa, kunjugan lahan, telpon, kursus, karya wisata dan pameran. Sedangkan komunikasi tidak langsung merupakan komunikasi secara tidak langsung dan antara komunikator dan komunikan tidak perlu saling bertemu satu sama lain melainkan dapat diwakili oleh perantara (media) contohnya poster, jurnal, publikasi cetak, radio, televisi dan pertunjukan dalam bentuk video.

b. Penggolongan berdasarkan jumlah sasaran yang dicapai, dalam metode penyuluhan pertanian ini digolongkan kembali menjadi tiga yaitu pendekatan

perorangan, pendekatan kelompok dan pendekatan massal. Pedekatan perorangan atau individu dilakukan dengan bertemu langsung dengan sasaran secara perseorangan untuk metode yang sering digunakan yaitu kunjungan rumah, kunjungan unit usaha tani, surat menyurat dan kunjungan lahan. Kemudian pendekatan kelompok dilakukan dengan melakukan pendekatan dengan sekelompok orang, adapun contoh metode yang digunakan pada pedekatan kelompok yaitu diskusi kelompok, demostrasi (cara ataupun hasil), karya wisata, temu lapang, kursus tani dan temu usaha.

c. Pendekatan massal merupakan metode pendekatan dengan cangkupan yang lebih luas bukan hanya dapat dilihat oleh kelompok tani namun dapat secara cangkupan nasional atau internasional. Contoh metode yang digunakan yaitu pameran, pemutaran film, siaraan pedesaan, pemasangan poster, spanduk, bahan bacaan seperti folder, leaflet, pemasangan spanduk.

d. Penggolongan berdasarkan indera penerima, dapat digolongkan menjadi tiga yaitu yang diterima indera penglihatan, yang diterima indera pendengaran, yang diterima dari beberapa indera. Pada yang diterima oleh indera penglihatan merupakan suatu media yang dapat dipahami dengan cara pengamatan mata contohnya poster, film, pemutaran slide. Kemudian yang dapat diterima pendengaran merupakan suatu materi yang cara penyampaiannya dengan menggeluarkan suara sehingga suara-suara tersebut yang diterima oleh pendengaran contohnya radio, ceramah, pidato dan bertelponan. Dan terakhir yang diterima beberapa indera yaitu suatu materi yang sampaikan dalam bentuk suara, gambar dan gerakan ataupun kombinasi sehingga pendengaran menerima suara dan mata menerima penglihatan tersebut dan singkronisasikan antara suara dan penglihatan dan kemudian indera peraba menerapkan informasi yang diterimanya, contohnya demonstrasi (cara atau hasil), siaran TV (interaktif) dan pameran.

Menurut Nataliningsih (2018) terdapat beberapa prinsip yang diterapkan dalam menentukan metode diterapkan dalam kegiatan penyuluhan pertanian yaitu berkembang dalam berpikir kreatif, dalam menentukan tempat penyuluhan lebih baik jika di tempat sasaran berkegiatan dikesehariannya, sasaran yang hadir pada penyuluhan merupakan individu yang berkaitan dalam lingkungan sosialnya, dapat menciptakan keakraban dengan sasaran penyuluhan dan dapat memberikan sesuatu pengetahuan atau materi yang dapat merubah keadaan yang sebelumnya kurang baik.

5. Media Penyuluhan

Media penyuluhan merupakan sarana dan prasana penyuluhan yang dibutuhkan dalam melancarkan selama proses kegiatan penyuluhan tersebut dilakukan. Berdasarkan sumbernya media golongkan menjadi dua yaitu media hidup dan media mati (Eksanika dan Riyanto, 2017). Media hidup merupakan orang-orang tertentu yang telah menerapkan materi penyuluhan atau pengetahuannya dari bidang pertanian. Sedangkan media mati merupakan sarana tertentu yang biasanya digunakan ataupun alat-alat pengantara yang digunakan dalam melakukan kegiatan penyuluhan contohnya radio, televisi, koran dan lain sejenisnya. Adapun jenis-jenis media penyuluhan antara lain :

 Benda sesungguhnya dan tiuran

 Benda tercetak contohnya peta singkap, brosur dan leaflet

 Audio contohnya radio

 Audio visual contoh film, televisi dan kaset.

Menurut Kementerian pertanian (2010) manfaat media penyuluhan adalah menghindari salah tafsir (salah pengertian), memberi informasi yang jelas, mudah ditangkap dan lebih mudah diingat, membangkitkan keinginan, minat, motivasi, serta rangsangan untuk mengadopsi pesan yang disampaikan.

6. Evaluasi

Menurut Harahap dan Effendy (2017) Evaluasi merupakan suatu proses yang digunakan dalam menentukan relevansi, efisiensi, efektifitas dan dampak yang diperoleh dari kegiatan - kegiatan proyek atau program sesuai dengan tujuan yang akan dicapai secara sistematik dan objektif. Dan pada dasarnya evaluasi penyuluhan pertanian dilaksanakan untuk memenuhi pengetahuan dalam pencapaian penyuluhan yang dilaksanakan. Evaluasi penyuluhan dapat dilakukan pada awal dan akhir setelah penyuluhan dilaksanakan. Dengan hasil evaluasi tersebut dapat diperolehnya gambaran perkembangan perubahan yang terjadi pada petani baik dari pengetahuan, sikap dan keterampilan disesuaikan dengan tujuan penyuluhan tersebut.

Menurut Wardani dan Anwarudin (2018) Instrumen evaluasi perlu melalui uji validitas dan reliabilitas dengan hasil valid dan reliabel. Data yang terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan menggunakan kuisioner. Sedangkan data sekunder terdiri dari beberapa dokumen yaitu data monografi desa, kondisi desa, gabungan kelompok tani yang telah bersedia mendukung kegiatan penelitian. Data yang diperoleh dikelola dengan teknik analisis statistic deskriptif, analisis korelasi dan analisis regresi. Data primer kemudian dilakukan trasformasi menjadi data interval melalui metode MSI (Method of Successive Intervals).

Dokumen terkait