• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTABILITAS KINERJA

C. Pengukuran Kinerja Kegiatan dan Analisis Capaian Kinerja

2. Penyusunan FSVA (Food Security and Vulnerability Atlas)

Berdasarkan Inpres No. 1 tahun 2010, penyusunan FSVA tahun 2010 di 14 provinsi dan tahun 2011 di 18 provinsi. Empat belas provinsi yang menyusun FSVA di tahun 2010 adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Jambi, Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan,

Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Maluku. Sedang 18 provinsi yang menyusun FSVA dengan breakdown kecamatan pada tahun 2011 adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Kegiatan penyusunan FSVA bertujuan untuk: 1) Meningkatkan pemahaman petugas pelaksana tentang pentingnya informasi ketahanan dan kerentanan pangan; 2) Meningkatkan kemampuan petugas pelaksana dalam penyusunan peta ketahanan dan kerawanan pangan (FSVA) kabupaten; 3) Meningkatkan kemampuan petugas pelaksana dalam pemanfaatan data/indikator peta ketahanan dan kerawanan pangan untuk menyusun rencana program peningkatan ketahanan pangan dan penanggulangan kerawanan pangan dan gizi. Total anggaran untuk kegiatan Penanganan Daerah Rawan Pangan dan Penyusunan FSVA sebesar Rp. 788 juta. Inputs yang digunakan untuk kegiatan penyusunan FSVA berupa anggaran sebesar Rp. 690,495 juta atau 87,63% dari total anggaran. Kegiatan penyusunan FSVA menghasilkan output berupa (1) Jumlah Provinsi yang mengikuti sosialisasi Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) sebanyak 33 provinsi; (2) Jumlah provinsi yang mengikuti apresiasi Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) sebanyak 33 provinsi dan (3) Laporan FSVA tahun 2011 di 18 Provinsi sebanyak 18 buah atau terealisasi 100 persen.

Outcome kegiatan adalah provinsi yang menyusun FSVA sebanyak 18 provinsi atau terealisasi 100% dari target 18 provinsi. Benefit yang didapatkan berupa tersedianya bahan untuk penyusunan kebijakan penanganan kerawanan pangan dan gizi di 33 provinsi.

Kegiatan FSVA meliputi:

a. Pertemuan Review Data dan Meteodologi FSVA

Pertemuan review data dan metodologi FSVA diikuti peserta dari 28 provinsi yang menyusun FSVA, yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Kep. Riau, Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur,

Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua. Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk melatih para petugas yang menangani FSVA agar lebih lancar dalam menyusun peta.

Hasil dari pertemuan review data dan metodologi FSVA adalah sebagai berikut : 1) Materi yang disampaikan dalam pertemuan ini adalah penjelasan umum FSVA,

penjelasan SAE, perhitungan dan analisis data FSVA, penjelasan PCA, latihan penyusunan FSVA (indikator individu, indikator komposit, dan pemetaan pemekaran wilayah).

2) Kendala yang ditemui pada pertemuan ini adalah belum semua provinsi melakukan pengumpulan data FSVA dan melakukan validasi terhadap data hasil SAE.

3) Tindak lanjut dalam pertemuan ini adalah :

- Perlu koordinasi lintas sektor untuk mendapatkan data FSVA. - Provinsi segera melakukan validasi terhadap data hasil SAE.

b. Pertemuan Validasi Data dan Penyusunan FSVA

Pertemuan validasi data dan penyusunan FSVA dilaksanakan di Yogyakarta dan dihadiri oleh peserta dari 16 provinsi yaitu Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk melihat keakurasian data yang terukur, dan digunakan sebagai indikator untuk penyusunan FSVA Provinsi.

Hasil dari pertemuan validasi data dan penyusunan FSVA adalah sebagai berikut: 1) Data yang digunakan dalam menyusun FSVA bersumber dari data SAE dan

hasil pengumpulan data ditingkat provinsi dan kabupaten.

2) Dari 15 provinsi yang hadir, 7 provinsi yaitu Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Bangka Belitung, Kepulauan Riau dan Sulawesi Utara telah melakukan validasi data FSVA.

4) Ketersediaan data underweight bervariasi antar provinsi dan kabupaten, karena tidak semua kabupaten melakukan survey pemantauan status gizi. Provinsi yang telah melakukan survey PSG adalah D.I Yogyakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.

5) Provinsi dapat menggunakan data terbaru yang telah diterbitkan dengan catatan data tersebut lengkap disetiap kecamatan dan definisi serta metodologi pengumpulan data yang digunakan sama dengan yang terdapat pada indikator FSVA.

6) Materi yang disampaikan dalam pertemuan ini mengenai cara pembuatan peta, penyusunan kerentanan terhadap kerawanan pangan kronis berdasarkan analisis ketahanan pangan komposit serta penyusunan laporan peta ketahanan dan kerentanan pangan.

7) Rencana tindak lanjut di tingkat daerah adalah sebagai berikut:

- Provinsi yang belum melakukan validasi data SAE diharapkan melakukan validasi dan mengirim hasilnya ke pusat.

- BKP Provinsi akan berupaya maksimal untuk mengumpulkan dan melengkapi data FSVA Provinsi dalam upaya menghasilkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan berupaya data : Produksi serealia (padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar), jumlah penduduk, data pemantauan status gizi, data – data kerentanan pangan transien berupa luas daerah puso, bencana alam dan fluktuasi curah hujan 10 tahun terakhir dan rata – rata 30 tahun.

- Bagi provinsi yang telah melakukan validasi data SAE dan melengkapi data lainnya dilanjutkan dengan penyusunan peta individu dan peta komposit serta menyusun laporan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan.

8) Rencana tindak lanjut di tingkat pusat adalah sebagai berikut :

- Tim asistensi melakukan penyempurnaan data SAE yang telah divalidasi oleh provinsi dan menyampaikan kembali hasilnya ke BKP provinsi.

- Tim asistensi melakukan bimbingan teknis kepada provinsi yang memerlukan dalam rangka finalisasi FSVA.

- Tim asistensi melakukan penyempurnaan draft laporan FSVA yang telah disusun oleh provinsi dan menyampaikan kembali hasilnya kepada provinsi untuk finalisasi lebih lanjut.

c. Pembinaan FSVA

Pembinaan FSVA dilaksanakan di 6 provinsi, yaitu Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Bengkulu, Jambi, Jayapura dan Sulawesi Utara.

Berikut ini hasil – hasil dari pembinaan FSVA di 6 provinsi :

1) Sulawesi Barat : Provinsi ini harus mencari data produksi dan underweight sampai tingkat kecamatan di BPS. Perlu adanya pemantauan yang intensif terhadap provinsi Sulawesi Barat supaya bisa melengkapi data dan bisa menyusun FSVA sesuai dengan waktu yang telah ditentukan

2) Sulawesi Tengah : kecamatan yang masuk dalam prioritas 1 ada 10 kecamatan, prioritas 2 ada 18 kecamatan, prioritas 3 ada 29 kecamatan, prioritas 4 ada 12 kecamatan, prioritas 5 ada 18 kecamatan dan prioritas 6 ada 54 kecamatan. 3) Bengkulu : permasalahan yang dihadapi aparat dalam penyusunan peta adalah

sulit atau tidak ada data tingkat desa, lemahnya koordinasi dengan instansi terkait, kurangnya SDM yang terlatih dan seringnya mutasi aparat yang sudah terlatih di daerah.

4) Jambi : hasil komposit dari penyusunan FSVA provinsi Jambi adalah prioritas 1 ada 14 kecamatan, prioritas 2 ada 11 kecamatan, prioritas 3 ada 19 kecamatan, prioritaas 4 ada 34 kecamatan, prioritas 5 ada 23 kecamatan, dan prioritas 6 ada 5 kecamatan. Secara umum penyebab kerentanan pangan di provinsi Jambi adalah akses listrik, perempuan buta huruf, akses jalan, kemiskinan dan underweight.

5) Jayapura : validasi data dilakukan dengan cara mengirim hasil SAE ke kabupaten – kabupaten kemudian menunggu feedback dari kabupaten, jika tidak ada feedback berarti kabupaten sudah sepakat dengan SAE yang telah dikirim. Provinsi Papua harus mencari data produksi sama tingkat kecamatan di BPS. Penyusunan peta kasar dimulai dari indikator akses terhadap panagn dan pemanfaatan pangan karena datanya telah tersedia di SAE. Perlu adanya pemantauan yang intensif terhadap provinsi Papua supaya bisa melengkapi data dan bisa menyusun FSVA.

6) Sulawesi Utara : hasil analisis komposit dengan PCA dan Cluster Analysis, dari 130 kecamatan. Prioritas 1 ada 24 kecamatan (18,46%), Prioritas 2 ada 23 kecamatan (17,69%),prioritas 3 ada 33 kecamatan (25,38%), prioritas 4 ada 13 kecamatan (10%), prioritas 5 ada 11 kecamatan (8,46%), dan prioritas 6 ada 26 kecamatan (20%).

3. Kajian Konsumsi dan Cadangan Beras Nasional

Kajian Konsumsi dan Cadangan Beras Nasional bertujuan untuk mengetahui tingkat permintaan beras pada berbagai tingkat konsumen baik di rumahtangga maupun di luar rumahtangga dan mengetahui tingkat ketersediaan cadangan (stok) pangan di rumahtangga dan di luar rumahtangga. Kajian dilakukan pada 100 kabupaten di 11 provinsi terpilih, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Papua.

Kajian Konsumsi dan Cadangan Beras Nasional menggunakan input anggaran sebesar Rp 2,83 milyar atau 94,95% dari total anggaran Rp 2,98 milyar. Output yang dihasilkan berupa tersedianya angka konsumsi beras nasional per kapita dan angka cadangan beras di pemerintah, industri, jasa akomodasi dan penyedia makanan dan minuman serta masyarakat atau terealisasi 100 persen.

Dengan tersedianya output tersebut, dihasilkan outcome jumlah instansi yang memanfaatkan angka konsumsi dan cadangan beras nasional sebanyak 5 instansi.. Hal ini telah memberikan benefits, tersedianya bahan kebijakan ketersediaan dan cadangan beras di 33 provinsi. Sedang impact yang didapatkan adalah tersedianya kebutuhan beras sesuai kebutuhan di 33 provinsi.

Kajian dilakukan dalam bentuk Desk Study dan survey lapangan. Sampel yang disurvey antara lain hotel, warung makan/kedai, dan restaurant. Metodologi perhitungan konsumsi beras melalui (1) Pengumpulan data primer konsumsi beras pada usaha akomodasi dan usaha jasa penyediaan makan minum melalui survey lapangan; (2) Menggunakan data sekunder konsumsi beras, antara lain hasil Susenas, Survey Industri Mikro dan Kecil (IMK), dan Survey Industri Besar Sedang (IBS); dan (3) Menggunakan data sekunder cadangan (stok) beras dari hasil beberapa survey yang dilakukan oleh instansi/lembaga lain.

Hasil kegiatan kajian Konsumsi dan Cadangan Beras Nasional meliputi: a. Hasil Kajian Konsumsi Beras

Kajian konsumsi beras ini baru mampu menyajikan angka nasional dan tidak dirancang untuk menghasilkan angka konsumsi untuk angka setiap provinsi. Hal ini disebabkan jumlah sampel yang akan disurvei hanya merepresentasikan nasional, bukan representasi untuk masing-masing provinsi, meskipun sampel-sampel tersebut berada di provinsi tertentu. Hal ini disebabkan karena adanya keterbatasan dana. Dari hasil kajian disimpulkan bahwa angka konsumsi beras

per kapita pada tahun 2011 sebesar 113,72 kg.

b. Hasil Kajian Cadangan Beras

Data cadangan pangan, khususnya beras, yang ada selama ini hanya cadangan pangan pemerintah yang ada di Bulog. Data penyediaan cadangan pangan di tingkat rumah tangga dan industri yang berbahan baku beras, masih bersifat perkiraan. Kajian cadangan beras ini dilakukan untuk memperoleh angka cadangan beras di pemerintah, industri, jasa akomodasi dan penyedia makanan dan minuman serta masyarakat. Hasil kajian tersebut adalah sebagai berikut: Total stok di

masyarakat pada bulan Maret tahun 2011 sebesar 4.074.908 ton, yang terdiri dari

total stok rumah tangga 1.132.695 ton, Industri 994.404 ton, pedagang 1.911.590 ton, dan usaha penyedia makanan: hotel 330 ton, restoran 466 ton, dan lainnya 30.423 ton. Total stok yang ada di Bulog sebesar 1.359.884 ton. Sehingga perkiraan total stok/cadangan beras nasional pada bulan Maret tahun 2011

Dokumen terkait