• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAKITAN DAN KAYU PENGGANT

Dalam dokumen UCAPAN TERIMA KASIH doc ucapan (3) (Halaman 54-62)

SULAWESI UTARA

III. PERAKITAN DAN KAYU PENGGANT

Pembuatan rangka-rangka rumah dilakukan di Desa Lemoh, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa. Sedangkan pemasangan rumah dan penyelesaiannya dilakukan di kompleks kantor Balai Penelitian Kehutanan Manado di Kelurahan Kima Atas, Kecamatan Mapanget, Kota Manado. Proses kegiatan pembuatan rumah mulai dari pengumpulan bahan sampai dengan penyelesainnya dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan November 2009. Sedangkan waktu yang telah dihabiskan dalam pembuatan rumah mulai membuat rangka sampai dengan selesai lebih kurang 90 (sembilan puluh) hari.

No Namadaerah (Minahasa) Nama Botanis Famili Berat Jenis MOE (kg/cm2) Kelas Kuat Kelas awet 1. Aliwowos Homalium foetidum Benth

Flacourtiaceae 0,780 124447,86 II/II I/II

2. Bugis Koordersiodendron

pinnatum Merr.

Anacardiaceae 0,345 48876,82 IV/V III/IV

3. Rorum Heritiera littoralis Dryand

Sterculiaceae 0,667 84701,38 II/III II/III

4. Binuang Oktomeles

sumatrana Miq.

Datiscaceae 0,289 33371,14 V/V IV/V

5. Bolangitang Litsea sp. Lauraceae 0,318 42783,69 IV/V V

6. Kenari Canarium sp. Burseraceae 0,410 45428,44 III/V IV/V

Gambar 2. Bahan kayu yang digunakan

Penggunaan 6 jenis kayu dalam pembuatan rumah Woloan ini sebagai kayu pengganti seperti pada Tabel 2.

Berdasarkan perbandingan penggunaan jenis kayu pada Tabel 2 di atas, telah dilakukan usaha pengganti atau substitusi jenis kayu untuk bahan baku rumah woloan, yaitu jenis kayu besi dicoba diganti dengan jenis kayu aliwowos dan rorum. Sedangkan jenis kayu nyatoh dicoba diganti dengan kayu bugis dan kenari, dan kayu cempaka diganti dengan kayu binuang dan bolangitang.

Percobaan kayu besi (Intsia bijuga) diganti dengan kayu aliwowos (Homalium foetidum) didasarkan atas pertimbangan bahwa keduanya termasuk ke dalam kelas kuat II dan kelas awet II. Sedangkan kayu nyatoh (Palaquium sp.) digantikan dengan kayu rorum (Heritiera littoralis) dan bugis (Koordersiodendron pinnatum) didasarkan pada kelas kuat yang sama pula yaitu kelas kuat II/III. Tabel 2. Jenis kayu pengganti dan penggunaannya

Kayu cempaka (Elmerrillia ovalis) dicoba digantikan dengan kayu kenari (Canarium sp.) didasarkan keduanya mempunyai kelas kuat III, disamping itu juga digantikan dengan kayu binuang (Octomeles sumatrana) atau bolangitang (Litsea sp.) didasarkan pada corak dan warna kayu yang sama yaitu kekuning-kuningan (Tabel 2 dan Gambar 4 dan 5)

No. Jenis kayu pengganti

Jenis kayu yang

biasa dipakai Penggunaan

1. 2. 3. 4. 5. 6. Aliwowos Bugis Bolangitang Rorum Binuang Kenari Besi/ulin Nyatoh Cempaka Besi, nyatoh Cempaka Nyatoh, cempaka

Tiang bawah (gelagar struktur), balok induk, rangka, dan tangga rumah

Kusen, lesplang dan rangka atap Lantai, daun pintu dan jendela Rangka, rangka atap, anak tangga, pion tangga, kusen Kayu binuang : dinding dan atap rumah Lantai, lesplang, kusen

Untuk melihat sejauh mana efektifitas substitusi kayu tersebut, tentunya masih harus dilakukan pengujian daya minat pasar dan sifat kekuatan dan keawetan yang sesungguhnya secara alami selama pemakaian rumah tersebut (Gambar 6).

Gambar 4. Bentuk rangka rumah IV. ANALISIS BIAYA

Analisis biaya perakitan rumah woloan menggunakan 6 jenis kayu substitusi asal Sulawesi Utara disajikan pada Tabel 3.

Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa satuan biaya pembuatan rumah woloan berbahan baku enam jenis kayu substitusi sebesar Rp. 1.200.000,-/m2 (satu juta dua ratus ribu rupiah per meter persegi). Harga satuan ini berada di bawah harga satuan yang ditawarkan oleh beberapa perusahaan rumah woloan seperti

Gambar 3. Jenis-jenis kayu yang digunakan

No. Satuan/kegiatan Kebutuhan Harga Satuan (Rp.)

Jumlah Biaya (Rp.) A. BAHAN

1. Kayu untuk rumah :

• 20 x 20 x 400 = 11 btg (aliwowos) • 5 x 10 x 400 = 16 btg (rorum, bugis) • 10 x 10 x 400 = 30 btg (rorum) • 8 x 12 x 400 = 20 btg (bugis, kenari) • 5 x 7 x 400 = 60 btg (damar, bugis, rorum) • 4 x 4 x 400 = 120 btg (kenari)

• 3 x 30 x 400 = 80 lbr (bugis, aliwowos, rorum, kenari)

• 2,5 x 15 x 400 = 300 lbr (lembar seri) (binuang, bolangitang)

2. Pion profil 3. Seng Sakura roof

4. Sambungan atap Sakura roof 5. Paku: • 4” = 10 kg • 3” = 5 kg • 2” = 5 kg • 1,5” = 5 kg • 1” = 5 kg 6. Kaca • 0,3x46,8x14,7 • 0,3x24,5x14,7 7. Kunci pintu 8. Engsel pintu 9. Engsel jendela 10. Beton Alas tiang 11. Baut ring 8” x 20 15,95 m3 1,76 m3 3,20 m3 1,20 m3 0,77 m3 0,84 m3 0,80 m3 2,88 m3 4,50 m3 120 bh 190 lbr 40 m 30 kg 50 lbr 90 lbr 4 bh 4 psg 14 psg 13 bh 10 bh 1.950.000 12.500 33.000 45.000 15.000 10.000 7.500 75.000 20.000 15.000 50.000 8.000 31.102.500,- 1.500.000,- 6.270.000, 1.800.000,- 450.000,- 500.000,- 675.000,- 300.000,- 80.000,- 210.000,- 650.000,- 80.000,- Total Biaya Bahan 43.617.500,- B. Upah borongan pembuatan rumah tipe 50 22.500.000 22.500.000,- C. Angkutan rumah ke lokasi kantor 1.000.000 1.000.000,- TOTAL BIAYA 67.117.500,- (1.200.000//m2)

Tabel 3. Rincian biaya pembuatan rumah woloan

pada data salah satu iklan perusahaan yang ditawarkan di media sebagai berikut (www.anekarumah.com , 2009) :

Khusus daerah Jawa dan Bali :

Rp 2.000.000,00 / m2 (plus tambahan pekerjaan lainnya)

Rp 1.800.000,00 / m2 (Tanpa tambahan pekerjaan lainnya)

Luar Jawa dan Bali/luar negeri : Berdasarkan negosiasi

Harga Manado dan sekitarnya: Rp 1.600.000,00 / m2

Harga semua material diganti kayu kelapa: Rp 3.000.000,00 / m2 daerah

Ditinjau dari aspek dunia usaha, maka satuan biaya produksi rumah woloan yang berbahan baku keenam jenis kayu substitusi dalam penelitian ini masih sangat layak dan dapat menghasilkan keuntungan apabila dipasarkan pada harga yang sama dengan iklan perusahaan atau harga dibawahnya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Berdasarkan ciri-ciri umum, sifat fisis dan mekanis yang dimiliki, kayu aliwowos (Homalium foetidum) dapat mengantikan (substitusi) kayu besi

Gambar 5. Proses pemasangan rumah

(Intsia bijuga); kayu nyatoh (Palaquiumsp.) dapat digantikan oleh kayu rorum (Heritiera littoralis), bugis (Koordersiodendron pinnatum), dan kenari (Canarium sp.) sedangkan kayu binuang (Octomeles sumatrana) dan bolangitang (Litsea sp.) layak menggantikan kayu cempaka (Elmerrillia ovalis) yang selama ini digunakan masyarakat, dalam rangka substitusinya untuk perakitan rumah woloan.

2. Untuk menelaah sejauh mana efektifitas substitusi 6 jenis kayu lokal asal Sulawesi Utara (aliwowos, bugis, bolangitang, rorum, binuang dan kenari) perlu penilaian daya minat pasar dan pengujian sifat kekuatan dan keawetan secara alami setelah perakitan rumah woloan dan selama pemakaiannya. 3. Dari aspek biaya produksi, maka harga satuan produksi rumah woloan yang

berbahan baku keenam jenis kayu substitusi tersebut masih terindikasi sangat layak (Rp. 1.200.000,-/m2) dan dapat menguntungkan apabila dibandingkan dengan harga pasaran rumah woloan yang ditawarkan di berbagai media

B. Saran

1. Mengingat masih banyak jenis-jenis kayu lokal maupun kayu kurang dikenal lainnya, maka penelitian substitusi kayu rumah woloan ini perlu dilakukan terhadap jenis-jenis lainnya agar semakin banyak alternatif bahan baku untuk produksi rumah woloan.

2. Sosialisasi bahan baku jenis-jenis kayu alternatif (substitusi) perlu dilakukan kepada masyarakat untuk memudahkan dan memperlancar produksi industri rumah woloan yang telah ada.

3. Penelitian tentang keawetan jenis-jenis kayu yang digunakan perlu dilakukan, agar dapat diketahui daya tahan pemakaian setiap jenis kayu tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007. Data Ekspor Rumah Woloan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sulawesi Utara.

Heyne, K. 1950. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.

Oey, Djoen Seng, 1964. Berat Jenis Kayu-kayu Indonesia dan Pengertian dari Berat Kayu Untuk Keperluan Praktek. Pengu¬muman LPHH NO. 1. Bogor.

Sasmuko, SA. 2010. Karakteristik Kayu Lokal Untuk Rumah Woloan Di Propinsi Sulawesi Utara (belum diterbitkan).

Oleh :

Santiyo Wibowo1 & Djeni Hendra2

1. Peneliti pada Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli, Kampus Kehutanan Terpadu Km 10,5

Aek Nauli, Parapat, Sumatera Utara. email : [email protected]

2. Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan

Hasil Hutan, Jl. Gunung Batu No.5, Bogor. Telp. (0251) 8633378, Fax. (0251) 8633414 email : [email protected]

ABSTRAK

Nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn.) merupakan tanaman serba guna, mulai dari manfaat pohonnya sebagai tanaman konservasi dan penghijauan sampai pada produk yang dihasilkan yaitu kayu dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) berupa biji yang dimanfaatkan sebagai penghasil minyak nabati. Minyak nyamplung sudah dimanfaatkan baik secara tradisional maupun secara modern yaitu bahan baku energi alternatif biodiesel dan bahan obat/kosmetik. Selain itu limbah tempurung bijinya masih mempunyai manfaat sebagai bahan baku arang dan arang aktif. Tulisan ini menyajikan informasi mengenai manfaat nyamplung dan prospek pengembangannya.

Kata kunci: Nyamplung, kayu, hasil hutan bukan kayu (HHBK), limbah tempurung

I. PENDAHULUAN

Pemanfaatan hasil hutan untuk kepentingan masyarakat, negara dan lingkungan menjadi perhatian bersama. Berbagai bencana alam yang terkait dengan deforestasi akibat pemanfaatan hutan yang tidak terkendali semakin meningkat. Bahkan pemanasan global yang menjadi perbincangan hangat pada saat ini, salah satunya disebabkan oleh rusaknya hutan baik di Indonesia maupun negara lain.

Berbagai upaya sudah dan sedang dilakukan oleh beberapa negara yang peduli dengan adanya pemanasan global. Mulai dari reforestasi/penghutanan kembali sampai pada rencana pengurangan emisi CO2 di berbagai sektor terutama industri dan transportasi. Upaya penghutanan kembali dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan, agar mereka dapat merasakan manfaatnya baik langsung maupun tidak langsung. Selain itu dapat menggunakan program pemerintah seperti OMOT = one men one tree (satu orang menanam satu pohon)

yang ditanam diberbagai penjuru tanah air.

Beberapa jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan seperti di atas, maka harus dipilih tanaman yang disesuaikan dengan tempat tumbuhnya dan disukai oleh masyarakat sekitar hutan. Diharapkan tanaman tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat baik hasil hutan bukan kayu (HHBK) maupun kayunya. Salah satu tanaman yang dapat berperan untuk reboisasi hutan dan lahan serta berpotensi sebagai penghasil kayu dan HHBK adalah nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn.) atau yang dikenal sebagai bintangur.

Tulisan ini bertujuan memberikan informasi mengenai tanaman nyamplung dan beberapa produk tanaman yang dapat dimanfaatkan. Diharapkan informasi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, instansi pemerintahan daerah maupun pihak swasta.

Dalam dokumen UCAPAN TERIMA KASIH doc ucapan (3) (Halaman 54-62)

Dokumen terkait