SULAWESI UTARA
IV. PROSPEK DAN POLA PENGEMBANGAN
Prospek pengembangan nyamplung sangat terbuka terutama sebagai sumber energi alternatif. Krisis energi yang melanda seluruh dunia dan kondisi cadangan minyak bumi semakin menipis, mengharuskan berbagai fihak bersiap diri mencari altenatif pengganti bahan bakar minyak bumi. Berbagai penelitian dan pengembangan energi alternatif telah dilakukan, termasuk minyak nyamplung sebagai biodiesel. Dengan adarnya Instruksi Presiden No. 10 tahun 2005, tentang Penghematan Penggunaan Energi, Instruksi Presiden No. 1 tahun 2006 mengenai Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati, serta Peraturan Presiden No.5 tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional, akan semakin membuka peluang pengembangan energi alternatif bahan bakar nabati (BBN) termasuk tanaman nyamplung. Pada PP No. 5 tahun 2006, dijelaskan bahwa salah satu sasaran kebijakan energi nasional adalah terwujudnya energi yang optimal pada tahu 2025 yaitu 20% minyak bumi, 30% gas bumi, 35%, batu bara (termasuk 2% batu bara cair), 5% untuk energi terbarukan (biomasa, air, angin, surya, nuklir) dan 5% untuk bahan bakar nabati.
Kuota 5% bahan bakar nabati (BBN) dari kebutuhan nasional merupakan jumlah yang cukup besar dan terbukanya peluang pengusahaan BBN baik untuk masyarakat maupun investor. Pemerintah akan mewajibkan sektor industri dan transportasi menggunakan 2,5% bahan bakar nabati (BBN) mulai November 2008 sampai tahun 2009, dan mulai tahun 2010 penggunaan BBN akan ditingkatkan menjadi 5% (Siregar, 2008). Pada tahun 2025 pemanfaatan biodiesel ditargetkan sebanyak 720.000 kiloliter, untuk mencapai target tersebut diperluakan 250.000 Ha tanaman penghasil biodiesel.
Seiring berkembangnya industri di berbagai bidang, kebutuhan arang dan bahan penyerap seperti arang aktif juga semakin meningkat. Umumnya arang aktif digunakan sebagai bahan penyerap untuk menghilangkan bau, gas beracun, warna, atau sebagai bahan penjernih air, pemurni dan pemucat, misalnya pada industri pemurnian gula, pemurnian gas, minyak lemak, minuman, pengolahan pulp, pupuk, kimia, dan farmasi (Djatmiko et al., 1985). Sedangkan arang dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan pembuatan baterai. Saat ini kebutuhan arang aktif nasional lebih dari 200 ton per bulan (2.400 ton per tahun), sebagian di antaranya masih di impor untuk keperluan khusus seperti industri pengolahan emas dan farmasi (Fitriani, 2008). Hal ini membuka peluang pengusahaan limbah tempurung biji nyamplung sebagai bahan arang, arang aktif, briket dan asap cair yang kebutuhannya semakin meningkat.
Untuk mengembangkan nyamplung dalam skala besar diperlukan pola pengembangan. Menurut Prihandana (2008), terdapat beberapa pola pengembangan bahan bakar nabati yang dapat diaplikasikan di Indonesia sebagai berikut : 1. Pola DME adalah rakyat pedesaan menanam tanaman BBN untuk mengurangi
biaya energi rumah tangga mereka. Tanaman nyamplung dapat dikembangkan dalam pola ini. Minyak nyamplung kasar (crude nyamplung oil) dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor tanpa perlu dikonversi menjadi biodiesel. 2. Pola UKM (Usaha Kecil Menengah) adalah pengusaha kecil dan menengah
memproduksi BBN untuk dijual dalam skala kecil dan diedarkan secara terbatas pada kalangan industri pedesaan seperti penggilingan padi, pabrik genting, batu bata, kapal motor nelayan, usaha kerajinan atau dijual kepada petani untuk menjalankan traktor dan angkutan hasil bumi. Pada pola ini telah terjadi alih teknologi pembuatan biofuel pada UKM.
3. Pola pengembangan oleh perusahaan untuk konsumsi sendiri adalah seperti perusahaan pabrik gula, kelapa sawit, perusahaan kayu dan perusahaan agro lainnya diharuskan mengembangkan BBN dengan menanam, mengolah dan menggunakannya untuk kebutuhan sendiri. Pada pola ini masyarakat atau petani dapat ikut menanam tanaman BBN baik secara monokultur, tumpang sari atau secara agroforestri dan langsung menjual hasil tanamannya kepada perusahaan. 4. Pola Pengembangan Komersil adalah pola pengembangan oleh perusahaan swasta secara komersil dalam skala besar. Diharapkan masyarakat dapat menjadi mitra perusahaan sebagai pemasok bahan baku BBN atau menjadi pekerja pada lahan atau pabrik pengolahan BBN.
V. PENUTUP
Tanaman nyamplung mempunyai banyak manfaat. Pohonnya dapat untuk tanaman konservasi, reboisasi, penghijauan, pemecah angin (wind breaker) di daerah pantai dan peneduh serta penyerap CO2. Kayunya bermanfaat sebagai bahan konstruksi dan kerajinan, daunnya sebagai bahan obat anti HIV. Buahnya sebagai sumber minyak nabati atau energi alternatif biodiesel, obat dan kosmetik. Limbah tempurung dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku arang, arang aktif, briket dan asap cair.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2003. Bintangur, penekan virus HIV dari Kalimantan. Website http://www.situshijau.co.id/tulisan.php?act=detail&id=167&id_kolom=1. Diakses tanggal 19 April 2008.
---.2009. Asap cair dan etanol. Website http://b1r1n6.blogspot. com/ 2009/06/asap-cair.html. Diakses tanggal 3 Maret 2010.
---,1995. Arang aktif teknis.Standar Nasional Indonesia (SNI 06-3730-95). Badan Standarisasi Nasional [BSN]. Jakarta.
---,1996. Arang tempurung kelapa. Standar Nasional Indonesia (SNI 01-1682-96). Badan Standarisasi Nasional [BSN]. Jakarta.
Djatmiko B, Ketaren S, Setyahartini S. 1985. Pengolahan Arang dan Kegunaannya. Agro Industri Press. Bogor.
Dweck AC and T Meadows. 2002. Tamanu (Calophyllum inophyllum) the African, Asian Polynesia and Pasific Panacea. International Journal of Cosmetic
Science. 24 : 1 – 8. New York.
Fitriani, V. 2008. Karbon aktif tempurung kelapa. Website http://karbonaktif. blogspot.com. Diakses tanggal 4 April 2009.
Friday, J.B, and D. Okano. 2006. Calophyllum inophyllum (kamani), ver. 2.1. In: Elevitch, C.R. (ed.). Species Profiles for Pacific Island
Agroforestry. Permanent Agriculture Resources (PAR), Holualoa, Hawai‘i. Website http://www. traditionaltree.org Diakses pada tanggal 24 April 2009.
Hartoyo, N. Hudaya, dan Fadli. 1990. Pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa dan kayu bakau dengan cara aktifasi uap. Jurnal Penelitian Hutan 8 (1): 8-16. Bogor.
Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Depeartemen Kehutanan. Jakarta.
Kilham, C. 2004. Tamanu oil: a tropical topical remedy. HerbalGram. The Jurnal of The American Botanical Council. 63: 26-31. Austin.
Martawijaya A, IK Sujana, Kosasi K, Soewanda AP. 1981. Atlas Kayu Indonesia. Jilid 1. Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.
Nurhayati T., E.Kusmiati dan I.Winarni. 2002. Prospek pengembangan komoditas cuka kayu. Prosiding Pertemuan Ilmiah Standardisasi dan Jaminan Mutu. Jakarta 2-3 Oktober 2002. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.
Prihandana, R. 2008. BBN 3 in 1. Website http://www.majalahtrust.com. Diakses tanggal 21 Juli 2008.
Sahirman. 2008. Perancangan proses dua tahap (eksterifikasi dan transesterifikasi) untuk produksi biodiesel dari minyak biji bintangur (Calophyllum inophyllum). Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak dipublikasikan.
Siregar, S. 2008. Industri dan transportasi wajib pakai BBN mulai November 2008. Website http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id= MTc5ODE=. Diakses tanggal 21 Juli 2008.
Sudradjat, R. dan S. Soleh. 1994. Petunjuk teknis pembuatan arang aktif. Pusat Litbang Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Bogor.
Wibowo, S. 2009. Karakteristik tempurung biji nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn) dan aplikasinya sebagai adsorben minyak nyamplung. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak dipublikasikan.