TEKNOLOGI PERTANIAN DESA SAMBALIANG
3.3. Teknologi Pertanian di Desa Sambaliang Tahun 1990an Sampai Sekarang
4.1.1. Peralatan yang Digunakan dalam Pengelolaan Pertanian
Tidak hanya sistem atau model pertanian baru saja yang masuk di Desa Sambaliang, tetapi ada juga alat-alat teknologi pertanian baru juga masuk ke Desa Sambaliang. Pada awal tahun 2000 beberapa alat teknologi sudah mulai masuk kedesa ini. Alat-alat teknologi ini merupakan hasil inovasi atau penemuan baru dari luar Indonesia dan sudah merambah kebeberapa daerah di Indonesia. Beberapa alat-alat teknologi yang masuk ke Desa Sambaliang antara lain :
• Jetor
Jetor merupakan mesin yang digunakan para petani untuk membajak sawah. Jenis teknologi ini adalah salah satu inovasi baru dari perkembangan zaman. Para petani di Desa Sambaliang dulunya dalam membajak sawah, mereka juga menggunakan teknologi yaitu bajak. Bajak ini membantu petani dalam mengolah tanah untuk ditanam dengan padi. Bajak ini dapat beroperasi dengan bantuan hewan ternak seperti kerbau dan lembu. Berbeda dengan jetor yang menggunakan tenaga mesin dan bentuk fisiknya yang kuat membuat alat ini menjadi salah satu teknologi yang banyak dipakai oleh para petani. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mengolah tanah dengan menggunakan jetor ini relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan alat bajak yang menggunakan tenaga hewan.
• Mesin Semprot atau Pompa
Mesin semprot ini merupakan salah satu alat teknologi pertanian yang ada di Desa Sambaliang. Alat ini tidak berbeda jauh fungsinya dengan alat semprot yang masih menggunakan tangan manusia atau secara manual. Yang membedakan
mesin semprot ini dengan alat semprot yang terdahulu yaitu mesin semprot sekarang sudah menggunakan tenaga mesin yang berbahan bakar bensin. Mesin semprot ini sudah ada di Desa Sambaliang sejak 4 tahun yang lalu dan masih dimiliki oleh dua orang saja, itupun pemiliknya para tuan tanah yang ada di Desa Sambaliang.
Mesin semprot ini berguna untuk membantu petani dalam hal pertanian. Biasanya mesin semprot ini digunakan pada tanaman tanaman yang perawatannya sedikit lebih rumit seperti tanaman jeruk. Tanaman jeruk yang fisiknya agak tinggi, sewaktu menyemprot petani agak kesulitan untuk menjangkauya. Makanya mereka menggunakan mesin semprot yang dapat menjangkau jarak yang tidak bisa dilakukan oleh tangan manusia. Mesin ini digunakan pada saat jeruk akan disemprot dengan cairan kimia atau putas, yang guna cairan ini untuk menjaga tanaman jeruk dari serangan hama ulat yang biasa menyerang tanaman ini. Cara penggunaan mesin ini yaitu dengan menarik selang yang ada pada mesin tersebut. Salah satu ujung selang dicelupkan kedalam drum yang terlebih dahulu di isi oleh pestisida atau racun tanaman/putas hingga penuh.
• Mesin Rontok
Mesin ini merupakan salah satu alat teknologi yang masyarakat di Desa Sambaliang gunakan dalam memipil atau memisahkan biji jagung dari tongkolnya. Alat ini merupakan perubahan teknologi pertanian dimana dulu masyarakat menggunakan sebuah alat yang terbuat dari besi padat. Di Desa Sambaliang alat ini sudah menjadi kebutuhan para petani dalam mengolah hasil jagungnya. Mesin ini menggunakan bahan bakar bensin sedangkan alat pemipil
jagung dahulu masih menggunakan tenaga tangan manusia. Dibandingkan dengan alat rontok yang terdahulu, mesin ini tidak membutuhkan waktu yang lama dalam memisahkan biji jagung dari tongkolnya.
• Mesin Penggiling Kopi
Alat teknologi ini merupakan sebuah inovasi baru yang dibuat untuk mempermudah para petani kopi dalam mengolah biji kopi menjadi bubuk. Mesin penggiling kopi ini terbuat dari rangkaian besi yang menggunakan bahan bakar bensin. Dibandingkan dengan alat penggiling dahulu yang terbuat dari kayu, mesin ini sangat cepat dalam mengolah biji kopi dan sangat ekonomis karena waktu yang dibutuhkan untuk menggiling relatif singkat. Hasil biji kopi yang sudah menjadi bubuk pun sangat halus jika dibandingkan dengan mengunakan alat yang terdahulu yang harus berulang-ulang menggiling biji kopi untuk membuatnya menjadi bubuk kopi yang halus.
4.2. Sumber-sumber Perubahan Teknologi Pertanian 4.2.1. Media Cetak dan Elektronik
Media juga berperan dalam perubahan sikap yang dimiliki oleh sebahagaian masyarakat di Desa Sambaliang, baik itu melalui media cetak ataupun melalui media elektronik. Melalui hasil wawancara yang penulis lakukan terhadap beberapa tuan tanah yang ada di Desa Sambaliang, beberapa alat-alat pertanian yang mereka miliki sekarang itu berkat berita-berita yang dimuat di beberapa media. Beberapa dari media tersebut memberitakan tentang kemajuan zaman sekarang tidak terlepas dari peran serta teknologi.
Menurut perkataan salah seorang informan yang penulis tanyai yaitu Bapak Rudi Nababan, 30 tahun, mengatakan:
“Kalau jetor itu saya tahu dari Koran. Saya membaca sudah banyak petani di Jawa yang menggunakan alat ini. Memang berbeda sekali ketika memakai jetor ini dibandingkan dengan alat bajak kami dulu”.
Dari perkataan informan di atas menunjukkan bahwa sikap terhadap inovasi juga berasal dan tumbuh dari lubuk hati anggota masyarakat. Hal ini ditandai dengan pemberitaan di media-media cetak tentang beberapa daerah yang kemajuan desanya atau sektor pertaniannya berdasarkan perubahan alat-alat atau jenis pertanian teknologi yang marak saat ini. Beberapa media cetak yang penulis lihat beredar di sekitar Desa Sambaliang yaitu Suara Pembaharuan, Medan Pos, Pos Metro, Global, Orbit. Sedangkan dari media elektronik, berita-berita itu mereka tonton melalui siaran-siaran dari televisi milik pemerintah ataupun swasta seperti: TVRI, Metro TV, TV One, RCTI, Indosiar, TPI dan Global TV.
Mungkin atau tidak mungkin hal itu dapat terlaksana tergantung dari adanya modal bagi dirinya. Misalnya seperti kasus tersebut bahwa informan dari membaca surat kabar saja telah menimbulkan suatu keinginan yang besar untuk mencoba atau membeli alat teknologi yang baru tersebut. Bagaimana untuk memperoleh mesin tersebut dan dimana harus membelinya adalah suatu hal yang mempengaruhi cepat atau lambat pelaksanaan adopsi inovasi tersebut.
Sebagai seorang petani yang telah lama tinggal dan bergelut dengan budaya desa, tentulah hal di atas sangat menghambat gerakan mereka dalam mengadopsi inovasi pertanian. Mereka yang telah banyak tertinggal dalam
kemajuan pembangunan tentulah akan merasa sangat takut untuk mengambil resiko yang besar atau mencoba bereksperimen dalam usaha pertaniannya.