• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi Pertanian (Study Deskriptif Tentang Perubahan Teknologi Pada Sektor Pertanian Masyarakat Pedesaan di Desa Sambaliang, Kec. Berampu, Kab. Dairi)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Teknologi Pertanian (Study Deskriptif Tentang Perubahan Teknologi Pada Sektor Pertanian Masyarakat Pedesaan di Desa Sambaliang, Kec. Berampu, Kab. Dairi)"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNOLOGI PERTANIAN

(Studi Deskriptif tentang Perubahan Teknologi Pada Sektor Pertanian Masyarakat Pedesaan di Desa Sambaliang, Kec. Berampu, Kab. Dairi)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

Dalam Bidang Antropologi

Oleh:

ARNOVANDALA TAMPUBOLON

040905056

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PERNYATAAN

Teknologi pertanian

(study deskriptif tentang perubahan teknologi pada sektor pertanian masyarakat pedesaan di desa sambaliang, kec. Berampu, kab. Dairi)

SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi,

dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang

pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu

dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Medan, Maret 2011

(3)

ABSTRAK

ARNOVANDALA TAMPUBOLON, 2011. Judul : TEKNOLOGI PERTANIAN (Studi Deskriptif tentang Perubahan Teknologi Pada Sektor Pertanian Masyarakat Pedesaan di Desa Sambaliang, Kec. Berampu, Kab. Dairi).

Skripsi ini terdiri dari 5 bab + 77 halaman + 5 daftar tabel + 18 daftar gambar + daftar pustaka + lampiran.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara jelas bagaimana peranan teknologi itu terhadap kehidupan sosial masyarakat dan juga bagaimana pengaruh masuknya teknologi pertanian terhadap perubahan sosial dan budaya di Desa Sambaliang serta aspek apa saja yang berubah. Fokus kajian ini adalah mendeskripsikan perubahan teknologi pada sektor pertanian masyarakat pedesaan di Desa Sambaliang, Kec. Berampu, Kab. Dairi. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi untuk mendapatkan data yang akurat. Informan dalam penelitian ini dikategoriakan menjadi tiga yaitu informan pangkal, informan kunci dan informan biasa. Analisis dan pengolahan data menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan acuan daftar-daftar pertanyaan (interview guide) yang telah disusun terlebih dahulu oleh penulis.

Pertanian yang ada di Desa Sambaliang terbagi menjadi 3 teknologi pertanian yaitu : Teknologi pertanian awal (tahun 1890an-1930an), dimana menjelaskan bagaimana sistem pertanian awal sejak terbentuknya Desa Sambaliang, teknologi pertanian tahun 1930an-1990an, yang juga menjelaskan sistem pertanian yang ada di desa tersebut serta perubahan seperti apa yang terjadi pada sektor pertanian masyarakat petani, teknologi pertanian tahun 1990an sampai sekarang, menjelaskan bagaimana pola pertanian petani dengan hadirnya teknologi-teknologi pertanian yang semakin modern dan ekonomis.

(4)

UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.

Karena atas segala kasih dan karunia-NYA, penulis bisa menyelesaikan skripsi ini

yang berjudul “TEKNOLOGI PERTANIAN” (Studi Deskriptif Tentang Perubahan Teknologi Pada Sektor Pertanian Masyarakat Pedesaan di Desa Sambaliang, Kec. Berampu, Kab. Dairi). Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak menghadapi berbagai hambatan, hal ini karena keterbatasan pengetahuan,

pengalaman, dan banyak hal lainnya. Namun berkat pertolongan Yesus Kristus

yang memberi ketabahan, kesabaran dan kekuatan kepada penulis, hingga

akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwasanya di dalam banyak hal, mulai dari awal

sampai akhir dari proses penulisan skripsi ini telah melibatkan berbagai pihak

yang turut serta membantu penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi

ini.

Secara khusus dan teristimewa penulis mengucapkan terima kasih kepada

kedua orang tua penulis, Ayahanda L. Tampubolon dan Ibunda S. Sihombing atas

kasih sayang, didikan, perhatian, yang penulis terima sejak kecil hingga penulis

tumbuh dewasa, terlebih jika mengingat badung dan keras kepalanya anak kalian

yang satu ini, tidak pulang-pulang kerumah selama beberapa bulan yang membuat

beban pikiran bagi kedua orang tuaku. Kakak dan adik-adikku tersayang, Elfrida

Saroha Juliani br Tampubolon AmdKeb (kak Evie), adikku Aldeschart

(5)

motivasi terbesarku sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini, sungguh semua jasa

itu tidak akan terbalaskan.

Pada kesempatan ini penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih

kepada, Bapak Prof. Dr. Badarrudin, M. Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Bapak Dr. Fikarwin Zuska, selaku

Ketua Departemen Antropologi FISIP USU. Ibu Dra. Sri Alem Sembiring, M. Si,

sebagai dosen penasehat akedemik dan pembimbing penulis terima kasih atas

kesediaan membagi waktu dalam memberikan arahan dan bimbingan dari mulai

proposal sampai skripsi ini selesai dan atas kesabaranya membimbing penulis

selama mengerjakan skripsi ini. Bapak Drs. Irfan Simatupang, M. Si, selaku ketua

penguji pada saat penulis ujian komperhensif. Terima kasih atas kesediaannya

membagi waktu dan memberikan arahan dalam penyempurnaan skripsi ini. Bapak

Drs. Lister Berutu, MA, selaku dosen penguji pada saat penulis melakukan ujian

komperhensif. Terima kasih waktu dan saran yang diberikan dalam

penyempurnaan skripsi ini. Seluruh staf pengajar FISIP-USU, khususnya

dosen-dosen antropologi yang telah memberikan pengetahuan selama penulis

melaksanakan perkuliahan. Seluruh staf pegawai FISIP-USU, terutama kak Nur

dan kak Sopi yang telah membantu penulis dalam pengurusan administrasi dan

seluruh berkas-berkas penulis.

Abang dan kakakku di Departemen Antropologi stambuk 2002, David

Wirawan Sagala, S. Sos, Hovny Dede Sihombing, S. Sos (bang Bewok's),

Novandi Siburian, S. Sos, Romy Ginting, S. Sos, Imam Sulaiman, S. Sos, Tohom

(6)

Sos (kak Tere), kak Nuriza Dora, M. Hum yang telah memberikan pengalaman

yang sangat menarik terutama saat Inisiasi dan pengalaman sewaktu di kampus.

Seluruh teman-teman sepermainan penulis di Binjai, Topan Sitompul, Sondang

Panjaitan (jin), Liando Sirait, Roni Hutagaol, Doli Martin Sibarani, Harapan

Panjaitan (Gepeng), Fansiscus Simanjuntak, Ferry Hutagaol dan teman-teman lain

yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu. Martua Tumanggor, terima kasih

atas kesediaannya meminjamkan laptop kepada penulis. Sehingga penulis bisa

mengerjakan skripsi ini tanpa harus repot-repot ke rental computer. The Best

Friend yang tidak bisa aku lupakan, saat suka maupun duka yang selalu bersama

Hizkia Alfred E.P Sagala, S. Sos (keong), Allessandro Turnip, S. Sos, maaf sudah

membuat kalian menunggu lama agar aku menjadi sarjana. Serta kerabat-kerabat

seperjuangan di Departemen Antropologi stambuk 2004, Joseph Silalahi, S. Sos,

Hariman Silalahi, S. Sos ( Belanda), Erwind J.V Nababan, S. Sos (Bang Leboy),

M. Gifari, S. Sos (Agif), M. Dian Safe’i, S. Sos, Siwa Kumar, S. Sos, Irma Friska

Tambunan, S. Sos, Theodora Ginting, S. Sos, Adrianna Padang, S. Sos, Tetty

Nadapdap, S. Sos, Frisahyani Nasution, S. Sos, Putri Arde Wulan, S. Sos, Yetty

Silvia Oppungsunggu, S. Sos, Susi Pasaribu, S.Sos (Ncus), Yuditha Tobing, S.

Sos, Rukun Hia, S. Sos, Rika Dewi, S. Sos, Lenti Sibarani, S. Sos, Arnila

Telaumbanua, S. Sos, Rikardo Hutahuruk (Beko/Bang Jenggot), Ferdinand Sinaga

(Ayak/Lae/Jamrud) daen temen-teman lain yang tidak bisa penulis sebutkan

satu-persatu.

Komunitas RP ( Rumah Pohon ), Noprianto Tarigan, S. Sos (aa Toto),

(7)

(Budi), Feber Randy Sihotang, Luksan Pakpahan, Ruli Hariati Tumanggor, S. Sos

(Mpok Atik), Hemalea Ginting (mengaku dirinya vokalis Kotak band), Helena

Damanik, S. Sos, (Lemot/si Mutung). Adik-adikku di Departemen Antropologi,

Bambang Napitupulu, S. Sos (Bembenk), Dangiel Sitorus, Herry Sianturi, Remaja

Barus, Heri Manurung, Santi Maria Hutapea, S. Sos (bere), Kartika Ruth Yohanna

Panjaitan, S. Sos (Menchi), Helen Silalahi (Luchen), Ervina Mayasari Pinem,

Maria Silalahi, Harni Siboro, Rambo Fernandez Sitio, Hendra Sitinjak. Komunitas

Warkop Oyas, Oyas Tarigan, Hotlas Sitorus (Lae Olmez), Togu Nababan, S. T

Jimmy Sitorus, S. P, Nanda Damanik, Anja Damanik, Jopi Tobing, Hendrik

Saragih, Ganda Saragih.

Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Kepala Desa Sambaliang

Bapak Jamidin Sihombing beserta seluruh perangkat desa, atas izin dan keramah

tamahannya yang diberikan kepada penulis selama melakukan penelitian di Desa

Sambaliang.

Penulis

(8)

KATA PENGANTAR

Skripsi ini disusun secara sederhana dengan harapan pembaca dapat

mengerti dan memahami isinya dengan mudah. Skripsi ini disusun mengingat

masih kurangnya pengetahuan oleh berbagai pihak tentang teknologi pertanian

dalam kehidupan masyarakat petani di daerah pedesaan masa kini. Terutama

bagaimana pengaruh masuknya teknologi pertanian terhadap kehidupan

masyarakat petani. Mengingat hal ini sangat penting dalam hal perkembangan sisi

kehidupan perekonomian masyarakat petani. Mudah-mudahan skripsi ini diterima

dan diharapkan berguna untuk memperluas wawasan tentang modernisasi

terutama terhadap teknologi-teknologi yang menyangkut segi pertanian di daerah

pedesaan di Sumatera Utara khusunya dan di Indonesia umumnya.

Penulis berharap pembaca dapat memberikan kritik dan masukan agar

skripsi ini dapat lebih baik dan sempurna. Atas kritik dan sarannya diucapkan

terimakasih.

(9)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN ORIGINALITAS ... i

ABSTRAK ... ii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iii

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah... 1

1.2.Rumusan Masalah ... 8

1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9

1.4.Lokasi Penelitian ... 10

1.5.Tinjauan Pustaka ... 10

1.6.Metode Penelitian ... 14

1.6.1. Tipe Dan Pendekatan Penelitian... 14

1.6.2. Teknik Pengumpulan Data ... 15

1.7.Analisis Data ... 17

BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2.1. Sejarah Singkat Kabupaten Dairi dan Desa Sambaliang. ... 18

2.1.1. Sejarah Singkat Kabupaten Dairi ... 18

2.1.2. Sejarah Desa Sambaliang ... 25

2.1.3. Deskrifsi Perjaanan dari Kota Medan Menuju Lokasi Penelitian ... 27

2.2. Keadaan Alam Dan Batas Wilayah ... 31

(10)

2.5. Sarana Fisik Di Desa Sambaliang ... 42

2.5.1. Sarana Transportasi ... 42

2.5.2. Sarana Pendidikan ... 43

2.5.3. Sarana Kesehatan ... 43

2.5.4. Sarana Ibadah... 44

BAB III. TEKNOLOGI PERTANIAN DESA SAMBALIANG 3.1. Teknologi Pertanian Awal di Desa Sambaliang (1890-1990an) ... 45

3.1.1. Tanaman Palawija ... 45

3.1.2. Tanaman Nilam ... 49

3.2. Teknologi Pertanian di Desa Sambaliang (1990-1930an) ... 51

3.2.1.Tanaman Padi... 51

3.2.2. Tanaman Kopi ... 52

3.3. Teknologi Pertaian di Desa Sambaliang Tahun 1930an Sampai Sekarang ... 55

3.3.1. Perkembangan Teknologi Pada Tanaman Padi ... 56

3.3.2. Perkembangan Tanaman Baru di Desa Sambaliang ... 59

BAB IV. PERUBAHAN TEKNOLOGI PERTANIAN di DESA SAMBALIANG 4.1. Jenis-jenis Perubahan Teknologi di Desa Sambaliang...62

4.1.1. Peralatan yang Digunakan dalam Pengelohan Pertanian... 63

4.2. Sumber-sumber Perubahan Teknologi Pertanian ... 65

4.2.1. Media Cetak dan Elektronik ... 65

4.2.2. Hubungan-hubungan Kekerabatan dan Pertemanan ... 67

4.2.3. Agen Pemerintah dan Penyuluhan Pertanian ... 68

4.2.4. Aparat Desa atau Kepala Desa Sambaliang... 70

(11)

4.3. Masalah-masalah dari Masuknya Teknologi Baru ... 74 4.3.1. Penggunaan Pestisida... 74 4.4. Perubahan-perubahan terhadap Masyarakat

akibat Teknologi Pertanian ... 75 4.4.1. Efesiensi dan Penggunaan Uang ... 75 4.4.2. Hubungan Komunikasi Dengan Keluarga dan Kerabat ... 76 4.4.3. Pola Pikir Masyarakat kearah Materialistis

dan Individualis... 77

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... 79 5.2. Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ...

(12)

Lampiran 1

DAFTAR TABEL

1. Tabel 1 : Daftar Nama Transportasi Dari Kota Medan Menuju

Kota Sidikalang... 29

2. Tabel 2 : Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur... 35

3. Tabel 3 : Komposisi Penduduk Berdasarkan Pendidikan... 37

4. Tabel 4 : Komposisi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan ... 39

(13)

ABSTRAK

ARNOVANDALA TAMPUBOLON, 2011. Judul : TEKNOLOGI PERTANIAN (Studi Deskriptif tentang Perubahan Teknologi Pada Sektor Pertanian Masyarakat Pedesaan di Desa Sambaliang, Kec. Berampu, Kab. Dairi).

Skripsi ini terdiri dari 5 bab + 77 halaman + 5 daftar tabel + 18 daftar gambar + daftar pustaka + lampiran.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara jelas bagaimana peranan teknologi itu terhadap kehidupan sosial masyarakat dan juga bagaimana pengaruh masuknya teknologi pertanian terhadap perubahan sosial dan budaya di Desa Sambaliang serta aspek apa saja yang berubah. Fokus kajian ini adalah mendeskripsikan perubahan teknologi pada sektor pertanian masyarakat pedesaan di Desa Sambaliang, Kec. Berampu, Kab. Dairi. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi untuk mendapatkan data yang akurat. Informan dalam penelitian ini dikategoriakan menjadi tiga yaitu informan pangkal, informan kunci dan informan biasa. Analisis dan pengolahan data menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan acuan daftar-daftar pertanyaan (interview guide) yang telah disusun terlebih dahulu oleh penulis.

Pertanian yang ada di Desa Sambaliang terbagi menjadi 3 teknologi pertanian yaitu : Teknologi pertanian awal (tahun 1890an-1930an), dimana menjelaskan bagaimana sistem pertanian awal sejak terbentuknya Desa Sambaliang, teknologi pertanian tahun 1930an-1990an, yang juga menjelaskan sistem pertanian yang ada di desa tersebut serta perubahan seperti apa yang terjadi pada sektor pertanian masyarakat petani, teknologi pertanian tahun 1990an sampai sekarang, menjelaskan bagaimana pola pertanian petani dengan hadirnya teknologi-teknologi pertanian yang semakin modern dan ekonomis.

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dalam GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara) sudah dijelaskan bahwa

pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil

dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila di dalam

wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat

serta adil dan makmur. Disamping itu juga dijelaskan bahwa landasan

pelaksanaan pembangunan nasional tersebut adalah azas mufakat, azas usaha

bersama dan kekeluargaan, azas demokrasi, azas adil dan merata, azas

perikehidupan dalam keseimbangan, azas kesadaran hukum dan azas kepercayaan

kepada diri sendiri ( Nirwan, 1990 ).1

Impian pembangunan yang bertujuan merubah merubah suatu keadaan

masyarakat kearah yang lebih baik tidak selamanya dapat menjadi kenyataan.

Margaret Haswell, 1975 dalam Nirwan, (1990), mengatakan dalam konteks

pertumbuhan kota-kota dan kemajuan teknologi dalam bidang prasarana

perhubungan telah menciptakan iklim yang kurang sehat dengan apa yang

disebutkan dan menjadi tujuan pembangunan nasional. Secara mutlak dampak

negatif dari keadaan ini menceraikan masyarakat desa dengan masyarakat kota.

Masuknya teknologi baru ke dalam sistem produksi desa sebagai bagian

yang tidak terpisahkan dalam proses modernisasi yang dilancarkan telah

menciptakan penciutan kesempatan kerja di daerah pedesaan (M. Fadhil Hasan,

1 Skripsi yang di buat pada tahun 1990 dengan judul “Pola Adaptasi Petani Terhadap Modernisasi

(15)

1983:16). Akibat dari keadaan ini adalah banyaknya anggota masyarakat yang

pergi berbondong-bondong ke kota mencari hidup alternatif lain. Namun karena

budaya kota berbeda dengan budaya desa, maka warga pedesaan tidak dapat

bertahan hidup (survive) dalam kehidupan kota.

Mereka dengan terpaksa memasuki sektor informal, memilih pekerjaan

yang tidak tetap. Seperti apa yang dikatakan oleh Umar Kayam (1984), mereka

terlempar dari kehidupan desa dan terdampar dalam kehidupan kota, yang

merupakan drop-out dari masyarakat pertanian dan sekaligus adalah misfit dari

budaya kota dari masyarakat pasca pertanian.

Indonesia termasuk ke dalam barisan negara-negara yang sedang

berkembang. Berdasarkan sensus Tahun 2000, penduduk Indonesia ± 70 % berada

di daerah pedesaan yang menggantungkan kehidupannya dari usaha pertanian dan

bahkan sebahagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk

memerangi kemiskinan tersebut pemerintah dengan strategi pembangunannya

yang diarahkan pada sector pedesaan dengan menitik beratkan pembangunan

bidang ekonomi dengan prioritas utama bidang pertanian telah diwujudkan ke

dalam program Pelita yang dimulai sejak Tahun 1969, dan juga ketika memasuki

Pelita II Tahun 1974.

Dalam Pelita tersebut dengan jelas dikemukakan, bahwa pembangunan di

bidang pertanian adalah :

(16)

intensifikasi ; dan juga ekstensifikasi, perluasan kesempatan melalui perluasan tanah pertanian”.2

Apa yang telah dicapai dengan program Pelita ini yaitu dengan

diintroduksinya barbagai teknologi pertanian modern adalah meningkatnya

produksi padi yang merupakan unsur terbesar dalam masyarakat petani di

Indonesia. Selama Pelita I terlihat bahwa produsi total beras setelah meningkat

dengan rata-rata 4,4 % yang dihasilkan dari perluasan areal panen yang bertambah

dengan 17,8 % Ahmad T. Birowo, 1974 dalam Nirwan (1990).

Namun menarik sekali bila pendapat di atas dibandingkan dengan

pendapat Sayogno (1978), yang mengemukakan bahwa usaha untuk menjadikan

sektor pertanian sebagai suatu sektor komersil, memang berhasil pada petani

lapisan atas dan menengah sedang pada petani lapisan bawah praktis tertinggal.

Berdasarkan pendapat Sayogno di atas diperoleh, dua pandangan yang

menyimpulkan di satu pihak sisi keberhasilan dan kemajuan modernisasi

pertanian dan di pihak lain kemunduran bagi petani lapisan bawah.

Hal ini dapat saja terjadi bagi masyarakat yang ingin mencoba suatu

perubahan dalam sistem mata pencaharian, terutama dalam bidang ekonomi

pertanian. Masalah yang menjadi dalam hal ini adalah bagaimana mengadopsi

ide-ide baru untuk mewujudkan suatu perilaku, dan cara-cara yang baru dari suatu

adopsi inovasi teknologi pertanian yang mengarah kepada efisiensi kerja dan

penambahan pendapatan.

2 Progam yang dicanangkan oleh pemerintah tahun 1974 guna mensejahterakan kehidupan para

(17)

Di Indonesia usaha ke arah ini telah berulang kali dilaksanakan. Namun

semakin hangat hal ini dibicarakan dalam proses evaluasi maka semakin

kompleks pula masalah yang harus dihadapi. Ace Partadiredja (1988),

mengatakan di negara-negara maju, angkatan kerjanya berpindah dari sektor

pertanian ke sektor industri, kemudian ke jasa.

Di Indonesia jika dilihat beberapa ciri penduduk pedesaan maka tidak

memungkinkan mereka untuk langsung beralih ke sektor industi, terlebih industri

modern yang canggih. Yang terjadi adalah perpindahan dari pertanian ke jasa

yang tidak banyak memerlukan keahlian, pendidikan khusus ataupun latihan.

Banyak penduduk desa secara berangsur-angsur pindah ke jasa angkutan,

perdagangan kecil, buruh bangunan, dan pekerjaan umum lainnya.

Salah satu ulasan tentang adopsi teknologi tersebut dibahas oleh Frans

Husken, yang dilaksanakan pada tahun 1974. Penelitian yang mengulas tentang

perubahan teknologi pertanian di masyarakat pedesaan Jawa yang terjadi akibat

kebijakan pembangunan pertanian yang diambil oleh pemerintah. Penelitian itu

dilakukan di Desa Gondosari, Kawedanan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Kekhususan dan keunikan dari penelitian ini terletak pada isinya yang tidak saja

merekam pengalaman perubahan teknologi (revolusi) tersebut, namun juga

menggali studi dalam perspektif sejarah yang lebih jauh ke belakang.

Namun tetap perlu diperhatikan bahwa setiap masyarakat mempunyai

“ego”nya dalam segala bidang termasuk aspek teknologi. Perubahan yang

diharapkan dengan mengintroduksi teknologi seharusnya sesuai dengan apa yang

(18)

masyarakat. Setiap kebijakan dan introduksi teknologi yang diberikan pada

masyarakat agraris di pedesaan akan memberikan dampak perubahan sosial yang

multi dimensional. (Frans Husken,1974)

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial di pedesaan,

misalnya datangnya kolonialis dengan berbagai ciri kebudayaan yang dibawanya,

pola pendidikan, sistem ekonomi, politik pemerintahan dan banyak hal yang tidak

mungkin dipisahkan dari faktor-faktor individual yang berpengaruh tanpa disadari

mampu mempengaruhi individu lainnya. Faktor yang penting dalam kaitannya

dengan pembicaraan ini adalah teknologi, yang sangat nyata berkaitan dengan

perubahan sosial di pedesaan. Hal ini terjadi karena pada pasca nasional ini, selalu

dijadikan sasaran utama pembangunan.

Pada masa pembangunan ini, baik itu setelah Indonesia merdeka maupun

orde baru, desa secara terus menerus mengalami perkembangan. Masyarakat desa

menerima dan menggunakan hasil penemuan atau peniruan teknologi khususnya

di bidang pertanian, yang merupakan orientasi utama pembangunan di Indonesia.

(Moore, 1983)

Moore (1983), juga menjelaskan bahwa penerimaan terhadap teknologi

baik itu dipaksakan ataupun inisiatif agen-agen perubah, tidak terelakkan lagi

akan mempengaruhi perilaku sosial (social behavior) masyarakat penerima

teknologi tersebut.. Lebih dari itu, introduksi teknologi yang tidak tepat

mempunyai implikasi terhadap perubahan sosial, yang kemudian akan diikuti dan

diketahui akibatnya. Contohnya, ketika teknologi berupa traktor atau mesin

(19)

banyak buruh tani di pedesaan jadi pengangguran akibat tenaganya tergantikan

oleh mesin-mesin traktor.

Keadaan ini menimbulkan perubahan struktur, kultur dan interaksional di

pedesaan. Perubahan dalam suatu aspek akan merembet ke aspek lain. Struktur

keluarga berubah, dimana buruh wanita yang biasa menumbuk padi sebagai

penghasilan tambahan, sekarang hanya tinggal di rumah. Masuknya traktor

menyebabkan tenaga kerja hewan menganggur dan buruh tani kehilangan

pekerjaannya. Keadaan demikian menyebabkan terjadinya urbanisasi, buruh tani

dan pemuda tani lari ke kota mencari pekerjaan. Hal ini kemudian memberikan

dampak kepadatan penduduk yang membeludak di perkotaan, lalu menjadikan

perputaran ekonomi semakin besar dan desa semakin tertinggal. Namun keadaan

ini tidak sampai di sini, ketika mereka kembali lagi ke desa timbul konflik kultur

akibat budaya yang terbangun selama berada di kota terbawa ke desa. Dari contoh

sederhana ini dapat dibayangkan betapa akibat perubahan suatu aspek dapat

merembet ke aspek lainnya.

Perubahan-perubahan sebagaimana yang telah diuraikan di atas, Desa

Sambaliang juga terjadi akibat introduksi teknologi pertanian. Desa Sambaliang,

Kec. Berampu, Kab. Dairi merupakan wilayah yang mayoritas penduduknya

bermata pencaharian sebagai petani. Berbagai macam hasil pertanian dapat

dibudidayakan di lahan tersebut, misalnya tanaman kopi, padi, sayur-sayuran dan

buah-buahan. Dalam mengolah pertanian alat-alat yang digunakan petani di desa

tersebut awalnya masih menggunakan peralatan seperti cangkul, babat, arit dan

(20)

dengan sekarang, saat ini pengolahan pertanian di Desa Sambaliang sudah

dikategorikan mengalami perubahan. Teknologi yang bermacam-macam satu

persatu masuk ke desa yang dianggap masyakat masih sangat asing bagi mereka.

Masuknya teknologi pertanian di Desa Sambaliang juga mengalami

perubahan, dimana para buruh tani yang tidak mempunyai lahan atau ladang

bekerja pada orang yang memiliki lahan sekarang menganggur karena tenaganya

sudah tergantikan oleh mesin-mesin traktor. Pemilik tanah merasa bahwa dengan

memakai mesin, waktu yang dibutuhkan dalam mengolah tanah relatif lebih

singkat daripada menggunakan tenaga buruh.

Masuknya teknologi pertanian sekarang juga berdampak psikologis pada

masyarakat Sambaliang. Dulunya dalam mengolah lahan pengetahuan masyarakat

sudah sangat hapal, misalnya kapan harus padi itu ditanam, bagaimana

perawatannya, alat-alat apa saja yang digunakan. Sekarang teknologi yang masuk

seperti traktor harus mereka hadapi dengan pengetahuan yang tidak mereka tahu.

Mereka harus beradaptasi dengan alat-alat traktor terlebih dahulu, dan itu

memakan waktu yang relatif lama. Selain traktor, teknologi pertanian yang masuk

ke Desa Sambaliang adalah masuknya jenis pupuk dan pestisida baru untuk

aktivitas pertanian. Introduksi tanaman baru juga masuk ke desa yaitu tanaman

jeruk pada awal tahun 2003. Warga Desa Sambaliang mengkonversi tanaman kopi

mereka menjadi tanaman jeruk. Tahun 2007, masyarakat Sambaliang

menambahkan tanaman cabai di sela-sela tanaman jeruk mereka.

Berangkat dari pemaparan di atas, saya mengambil suatu kajian dimana

(21)

dampak terhadap perubahan di masyakatnya. Apakah masuknya suatu aspek

teknologi baru di bidang pertanian di Desa Sambaliang berpengaruh pada

masyarakat desa baik itu dari aspek sosial ataupun budaya masyarakat setempat

akibat dari dorongan pembangunan teknologi tersebut. Serta bagaimana strategi

masyarakat di Desa Sambaliang dalam mengatasi permasalahan pertanian akibat

masuknya teknologi pertanian.

1.2. Rumusan Masalah

Seperti yang sudah dijelaskan pada latar belakang diatas, bahwa teknologi

berperan dalam proses pembangunan pertanian. Tulisan ini juga melihat

perubahan-perubahan yang terjadi pada petani di Desa Sambaliang sebagai akibat

dari masuknya teknologi pertanian baru dan konversi tanaman baru di bidang

pertanian.

Berdasarkan masalah di atas, beberapa pertanyaan dalam penelitian ini

yaitu :

1. Jenis teknologi pertanian apa saja yang masuk ke Desa Sambaliang?

2. Masalah-masalah apa yang ditimbulkan akibat masuknya teknologi baru

tersebut?

3. Perubahan-perubahan apa saja yang terjadi pada masyarakat Desa

(22)

1.3. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dengan tujuan

untuk mendapatkan gambaran secara jelas bagaimana peranan teknologi itu

terhadap kehidupan sosial masyarakat dan juga bagaimana pengaruh teknologi

terhadap perubahan sosial di Desa Sambaliang tersebut serta aspek apa saja yang

berubah. Secara akademis tujuan penelitian ini yaitu untuk mengumpulkan

data-data guna menyusun skripsi atau karya ilmiah dalam bidang Ilmu Antropologi dan

merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana pada Departemen

Antropologi.

Penelitian ini bermanfaat sebagai suatu proses atau bagian untuk

menerapkan pengetahuan yang telah didapat melalui masa-masa perkuliahan

selama ini dan nantinya dapat diterapkan sebagai bahan pembelajaran untuk

kedepannya. Secara akademis penelitian ini juga diharapkan sebagai referensi

serta pengkaryaan studi di jurusan Antropologi dan juga melatih penulis untuk

membuat karya ilmiah serta sebagai salah satu bahan kajian yang dapat

diperdalam lagi oleh para peneliti lainnya. Secara teoritis pada masyarakat Desa

Sambaliang penelitian ini juga bermanfaat sebagai bahan pembelajaran dan

menambah wawasan para petani tentang bagaimana penggunaan alat-alat

teknologi pertanian yang masuk ke Desa Sambaliang. Secara praktis penelitian ini

bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran dalam penanggulangan

(23)

1.4. Lokasi Penelitian

Penelitian yang dikaji oleh peneliti ini berada di Desa Sambaliang,

Kecamatan Berampu, Kabupaten Dairi. Alasan mengapa memilih daerah tersebut

karena di desa tersebut merupakan daerah yang masyarakatnya mayoritas bermata

pencaharian sebagai petani. Hal itu dikarenakan lahan yang ada di daerah tersebut

masih sangat subur, sehingga dapat diolah berbagai macam hasil-hasil pertanian

pokok seperti padi, sayur-sayuran, buah-buahan, padi, kopi, dan lainnya. Juga

mengapa memilih lokasi tersebut karena berdasarkan atas pertimbangan

metodologis refresentatif dengan topik masalah yang dirumuskan.

1.5. Tinjauan Pustaka

Kata transformasi diambil dari terjemahan kata transformation (Bahasa

Inggris). Istilah tranform (Neufebet and Guralnik, 1988) dapat diartikan sebagai

perubahan, dan tranformation dapat diartikan sebagai proses perubahan. Dalam

arti yang lebih luas, transformasi mencakup bukan saja perubahan pada bentuk

luar, namun juga pada hakikat atau sifat dasar, fungsi, dan struktur atau

karakteristik perekonomian suatu masyarakat. Transformasi pertanian atau

agribisnis di pedesaan, dapat diartikan sebagai perubahan bentuk, ciri, struktur,

dan kemampuan sistem pertanian yang dapat menggairahkan, menumbuhkan,

mengembangkan, dan menyehatkan perekonomian masyarakat pedesaan.

Pengertian yang lebih luas yang dikaitkan dengan perekayaan

sosial-budaya pedesaan, transformasi masyarakat pedesaan dapat dipandang sebagai

(24)

pembangunan, sektor pertanian atau kegiatan agribisnis dapat dipandang sebagai

leading sector-nya. Pranadji (1995), menjelaskan tentang transformasi ekonomi

pertanian yang berciri budaya tradisional/subsisten ke yang berciri budaya

modern/komersial. Tansformasi pertanian di pedesaan merupakan respon dan

antisipasi terhadap tuntutan kemajuan untuk hidup lebih baik, dan globalisasi

pasar.

Amanor dalam Sembiring, (2002:9) menjelaskan bahwa pertanian

dikonseptualisasikan sebagai produk dari kebudayaan dimana teknologi dan

pengetahuan pertanian diletakkan dalam sistem sosial budaya den ekologi dimana

pengetahuan itu dikembangkan.

Menurut Kroeber dalam Marzali, (1998:91) petani adalah merupakan

masyarakat pedesaan yang hidup berhubungan dengan kota-kota pusat pasar,

kadang-kadang kota metropolitan. Mereka merupakan bagian atau sampalan dari

budaya kota. Sedangkan Wolf (1983), menjelaskan petani merupakan seseorang

yang bergerak di bidang pertanian yang mengkombinasikan faktor-faktor produksi

yang dibeli di pasar, untuk memperoleh laba dengan jalan untuk menjual hasil

produksinya secara menguntungkan di pasar hasil bumi. Radfield dalam

Koentjaraningrat (1990:191), mengatakan bahwa petani merupakan masyarakat

kecil yang tidak memenuhi semua kebutuhan anggotanya, tetapi disatu pihak

mempunyai hubungan yang horizontal dan komuniti-komuniti disekitarnya tetapi

dipihak lain juga secara vertikal dengan komuniti daerah perkotaan.

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan

(25)

pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak

mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan

kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam

prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit

untuk dipisahkan (Soekanto, 1990).3

Perubahan sosial dialami oleh setiap masyarakat yang pada dasarnya tidak

dapat dipisahkan dengan perubahan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.

Perubahan sosial dapat meliputi semua segi kehidupan masyarakat, yaitu

perubahan dalam cara berpikir dan interaksi sesama warga menjadi semakin

rasional; perubahan dalam sikap dan orientasi kehidupan ekonomi menjadi makin

komersial; perubahan tata cara kerja sehari-hari yang makin ditandai dengan

pembagian kerja pada spesialisasi kegiatan yang makin tajam; Perubahan dalam

kelembagaan dan kepemimpinan masyarakat yang makin demokratis; perubahan

dalam tata cara dan alat-alat kegiatan yang makin modern dan efisien, dan

lain-lainnya.(Soekanto, 1990)

Perubahan kebudayaan bertitik tolak dan timbul dari organisasi sosial.

Pendapat tersebut dikembalikan pada pengertian masyarakat dan kebudayaan.

Masyarakat adalah sistem hubungan dalam arti hubungan antar organisasi dan

bukan hubungan antar sel. Kebudayaan mencakup segenap cara berfikir dan

bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat komunikatif seperti

menyampaikan buah pikiran secara simbolik dan bukan warisan karena keturunan

3

(26)

(Davis dalam Soekanto, 1960). Apabila diambil definisi kebudayaan menurut

Taylor dalam Soekanto (1990), kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup

pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap

kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat, maka perubahan

kebudayaan adalah segala perubahan yang mencakup unsur-unsur tersebut.

Soemardjan (1982), mengemukakan bahwa perubahan sosial dan perubahan

kebudayaan mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut paut dengan

suatu cara penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu

masyarakat memenuhi kebutuhannya

Salah satu pemikiran Geertz ;1963, yang mengandung relevansi dan

merefleksikan kondisi masyarakat dan kebudayaan,4

Kedua, upaya pemerintah kolonial untuk meraih pasar internasional adalah

mempertahankan pribumi tetap pribumi, dan terus mendorong mereka untuk

berproduksi bagi memenuhi kebutuhan pasar dunia. Keadaan ini mewujudkan adalah tesis tentang involusi

pertanian. Tesis tersebut dapat dipaparkan secara singkat sebagai berikut.

Pertama, kebijakan kolonial Hindia Belanda (1619-1942) adalah membawa

produk pertanian dari Jawa yang subur ke pasar dunia, di mana produk-produk

tersebut sangat dibutuhkan dan laku, tanpa mengubah secara fundamental struktur

ekonomi pribumi. Namun, pemerintah kolonial tak pernah berhasil

mengembangkan ekonomi ekspor secara luas di pasar dunia, seperti halnya

Inggris pada masa yang sama, sehingga kepentingan utama Pemerintah Belanda

tetaplah bertumpu pada koloninya: Hindia Belanda.

4 Tesis tentang involusi pertanian. Ini bisa dilacak dalam buku Agricultural Involution: The

(27)

struktur ekonomi yang secara intrinsik tidak seimbang, yang oleh JH Boeke

(1958) disebut dualisme ekonomi.

Ketiga, pada sektor domestik, ada satuan pertanian keluarga, industri

rumah tangga, dan perdagangan kecil. Kalau pada sektor ekspor terjadi

peningkatan yang dipicu oleh harga komoditas dunia, maka sektor domestik justru

mengalami kemerosotan dan kemunduran. Tanah dan petani semakin terserap ke

sektor pertanian komersial yang dibutuhkan Pemerintah Hindia Belanda untuk

perdagangan dunia.

Keempat, akibatnya adalah semakin meningkatnya populasi petani yang

berupaya melakukan kompensasi penghasilan uang-hal ini semakin dimantapkan

menjadi kebiasaan-dengan intensifikasi produksi pertanian subsisten. Proses

pemiskinan di pedesaan Jawa dijelaskan Geertz dalam konteks ini. Kemiskinan di

Jawa adalah produk interaksi antara penduduk pribumi (petani di Jawa) dan

struktur kolonial pada tingkat nasional dalam konteks politik-ekonomi.

1.6. Metode Penelitian

1.6.1. Tipe dan pendekatan penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif dengn menggunakan pendekatan

kualitatif. Menurut Lexy J. Moleong (2006 : 6), penelitian kualitatif adalah

penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang terjadi

dan dialami oleh subyek penelitian misalnya, perilaku, persepsi, motivasi,

tindakan, dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk

(28)

memanfaatkan berbagai metode kualitatif yaitu berupa pengamatan, wawancara

dan studi kepustakaan.Metode kualitatif mengahasilkan data yang deskriptif yang

berisi kutipan dari hasil penelitian baik itu berupa hasil wawancara, catatan

lapangan, foto atau dokumen pribadi yang tujuannya untuk mempermudah dalam

membuat laporan penelitian.

Hebert dalam Koentjaraningrat, (1983: 30-32), bahwa maksud dari

penelitian deskriptif adalah semata-mata untuk memberikan gambaran yang tepat

dari suatu gejala dan pokok perhatian adalah pengaturan yang cermat dari suatu

atau lebih variable terikat dalam suatu kelompok masyarakat tertentu.

1.6.2. Teknik Pengumpulan Data

Untuk dapat memperkuat data ketika penelitian dilakukan , diperlukan

beberapa cara yang relevan dalam mencapai tujuan penelitian, yakni :

a. Observasi

Observasi adalah pengamatan terhadap suatu subjek. Adapun jenis

observasi yang penulis lakukan adalah observasi langsung partisipant. Dalam

pengamatan penulis turut aktif dalam kegiatan dan tugas yang dijalankan oleh

para petani, baik itu kegiatan mereka sehari-hari diladang dimana penulis ikut

ambil bagian dalam proses pekerjaan mereka serta dalam adaptasi dan interaksi

antar setiap individu. Metode observasi dilakukan guna mengetahui situasi dalam

konteks ruang dan waktu pada daerah penelitian. Data yang diperoleh dari hasil

(29)

karena itu diperlukan suatu aktivitas dengan langsung mendatangi suatu tempat

penelitian dan melakukan pengamatan.

b. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan

dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan beberapa

pertanyaan pokok dan yang diwawancarai yaitu orang yang memberikan jawaban

dari pertanyaan yang diajukan (Moleong, 1998: 115).

Wawancara yang dipakai dalam penelitian ini adalah bentuk wawancara

mendalam ( depth interview ) kepada beberapa informan dengan menggunakan

alat bantu berupa pedoman wawancara ( interview guide ) yang berhubungan

dengan masalah penelitian. Wawancara mendalam dimaksudkan untuk

memperoleh sebanyak mungkin data yang akurat dari subyek penelitian. Dalam

penelitian ini wawancara dilakukan terhadap informan kunci dan informan biasa.

Yang menjadi informan kunci dari penelitian ini adalah orang yang tahu betul

seluk beluk Desa Sambaliang baik itu kepala desa, tokoh masyarakat dan tuan

tanah. Sedangkan informan biasa dalam penelitian ini yaitu masyarakat petani

yang ada di Desa Sambaliang. Materi utama dalam wawancara adalah beberapa

pertanyaan penelitian yang telah penulis susun terlebih dahulu.

c. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan ini dimaksudkan untuk kepentingan teori-teori yang

relevan yang dijadikan landasan berpikir dalam melihat masalah yang diteliti,

yang diperoleh melalui buku-buku, hasil penelitian, dan skripsi atau karya ilmiah

(30)

cukup penting sebab sebagian data yang diperlukan telah diungkapkan dalam

berbagai bentuk tulisan sebelumnya.

1.7. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menelaah seluruh data yang telah

dikumpulkan dari hasil penelitian yang dilakukan, baik itu dari observasi

wawancara dan studi kepustakaan yang telah dicatat dalam catatan lapangan (

field note ). Data yang telah terkumpul kemudian dibaca, diteliti kembali dan

selanjutnya dibuat pengkategorisasian data sehingga dapat ditarik suatu

kesimpulan. Maksudnya adalah dari hasil penelitian dilapangan nantinya dapat

(31)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1. Sejarah Singkat Kab. Dairi dan Desa Sambaliang

2.1.1. Sejarah Kabupaten Dairi

Dairi merupakan sebuah wilayah kabupaten yang terletak di Propinsi

Sumatera Utara. Berdasarkan data resmi Kabupaten Dairi, pemerintahan ini telah

terbentuk sebelum kehadiran kolonial Belanda, yaitu sekitar tahun 1852 - 1942.5

1. Raja Ekuten atau Takal Aur, sebagai pemimpin satu suak atau yang

terdiri dari beberapa marga. Adapun struktur pemerintahan saat itu adalah:

2. Pertaki, sebagai Pemimpin satu kuta atau kampung setingkat dibawah

Raja Ekuten.

3. Sulang silima, sebagai pembantu Pertaki pada setiap kuta (kampung),

yang terdiri dari: Perisangisang, Perekurekur, Pertulantengah,

Perpunca Ndiadep, Perbetekken

Struktur yang dimaksud dilaksanakan berdasarkan hubungan antar suak.

Hubungan tersebut sangat erat kaitannya satu sama lain, hal ini dapat dilihat dari

kesamaan kebutuhan aspek sosial budaya dan terjalinnya rantai perekonomian.

Kondisi daerah Dairi sebagian besar pengunungan. Mata pencaharian penduduk

umumnya memproduksi hasil hutan, seperti rotan, damar, kapur barus, kemenyan

dan kayu. Hasil tersebut diperdagangkan melalui pelabuhan Barus, Singkil dan

Runding.

(32)

Sesuai struktur tersebut, berdasarkan wilayah masyarakat Pakpak dibagi

dalam 5 (lima) suak, yaitu:

1. Suak Simsim yakni orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak

ulayat di wilayah Simsim. Dalam administrasi pemerintahan Republik

Indonesia saat sekarang, wilayah wilayah tersebut adalah Kabupaten

Pakpak Bharat yang dimekarkan dari Kabupaten Dairi tahun 2003.

2. Suak Keppas, yakni orang Pakpak yang menetap dan berdialek

Keppas. Dalam administrasi pemerintahan, mecakup wilayah

Kecamatan Silima Pungga-pungga, Tanah Pinem, Parbuluan,

Sidikalang dan lain-lain di Kabupaten Dairi.

3. Suak Pegagan, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek

Pegagan. Dalam administrasi pemerintahan saat ini meliputi wilayah

Kecamatan Sumbul, Pegagan hilir dan Kecamatan Tiga Lingga dan

lain-lain di Kabupaten Dairi.

4. Suak Kelasen, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek

Kelasen. Dalam admininstrasi pemerintahan Republik Indonesia,

wilayah ini sejak tahun 2003 berada di Kabupaten Humbang

Hasundutan (Kecamatan Perlilitan dan Kecamatan Pakkat) dan

Kabupaten Tapanuli Tengah (Kecamatan Barus).

5. Suak Boang, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek

Boang. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, wilayah

ini berada di wilayah Kotamadya Subusalam Kabupaten Aceh Singkil,

(33)

Wilayah komunitas Pakpak yang tradisional (hukum adat) di atas tidak

identik dengan wilayah administrasi pemerintahan zaman Belanda dan setelah

kemerdekaan Republik Indonesia. Pada zaman Belanda misalnya, dengan politik

pecah belah (de vide et impera), wilayah pemerintahan selalu berubah-ubah sesuai

dengan kepentingan mereka.

Kehadiran kolonial Belanda di Indonesia, sangat mempengaruhi

perubahan struktur pemerintahan komunitas Pakpak, khususnya Kabupaten Dairi.

Berdasarkan Kabupaten Dairi dalam Angka (2007), bahwa perubahan tersebut

dapat dilihat dimana Dairi menjadi satu Onderafdeling yang dipimpin oleh

seorang Controleur berkebangsaan Belanda dan dibantu oleh seorang Demang

yang berasal dari penduduk Bumiputera. Kemudian, daerah Dairi Landen menjadi

bagian dari Asisten Residen Batak Landen yang berpusat di Tarutung.

Pemerintahan tersebut sudah berlaku ketika adanya perlawanan Sisingamangaraja

XII sampai menyerahnya Belanda atas pendudukan Nippon pada tahun 1942.

Setelah perang Sisingamangaraja XII usai (1907), wilayah Dairi

dimasukkan oleh pemerintahan kolonial Belanda ke dalam wilayah Keresidenan

Tapanuli Utara/Tanah Batak/Bataklanden. Keresidenan Tapanuli Utara berpusat

di Tarutung yang dipimpin seorang Residen. Keresidenan Tapanuli Utara dibagi

menjadi 5 (lima) onderafdeeling yaitu; onderafdeeling Samosir, Toba (Balige),

Hoogvlakte Van Toba (Siborong-borong), Silindung (Tarutung) dan Dairilanden.

Onderafdeeling dipimpin seorang Demang. Wilayah onderafdeeling dibagi atas

beberapa onderdistrik yang dipimpin Asisten Demang. Onderdistrik terdiri dari

(34)

Negeri terdiri dari beberapa desa (horja) yang dipimpin Kepala Kampung

(pengulu). Kampung terdiri dari beberapa dusun (huta) yang dipimpin Raja Huta.

Pengulu biasanya dipilih dari salah seorang raja huta. OnderafdeelingDairilanden

berpusat di kota Sidikalang (Sangti, 1967).

Selama penjajahan Belanda, daerah Dairi mengalami pengurangan

wilayah. Hal ini dikarenakan tertutupnya hubungan antar wilayah. Adapun

wilayah-wilayah yang berkurang dari Dairi antara lain:

1. Tongging yang menjadi wilayah Tanah Karo

2. Menduamas dan Barus menjadi wilayah Tapanuli Tengah

3. Sienem Koden (Kecamatan Parlilitan) menjadi wilayah Tapanuli

Utara

4. Simpang Kanan, Simpang Kiri, Lipat Kajang, Gelombang dan

Runding menjadi wilayah Aceh Selatan.

Untuk mempermudah Pemerintahan Belanda, maka Belanda membagi

daerah Dairi menjadi 3 (tiga) onderdistik antara lain:

1. Onderdistik Van Pakpak yang meliputi 7 kenegerian yakni; Sitelu

Nempu, Siempat Nempu Hulu, Siempat Nempu, Silima

Pungga-pungga, Pegagan Hulu, Parbuluan dan Silalahi Paropo.

2. Onderdistik Van Simsim yang meliputi 6 kenegerian yakni; Kerajaan,

Siempat Rube, Mahala Majanggut, Sitellu Tali Urang Jehe, Salak, Ulu

(35)

3. Onderdistrik Van Karo Kampung yang meliputi 5 kenegerian yakni;

Lingga (Tigalingga), Tanah Pinem, Pegagan Hilir, Juhar Kidupen

Manik dan Lau Juhar.

Tahun 1942, kolonial Belanda jatuh atas pendudukan Dai Nippon. Pada

saat itu hingga Republik Indonesia merdeka, Jepang tidak merubah pemerintahan.

Namun Jepang mengganti istilah jabatan pemimpin dengan:

1. Demang menjadi Guntyo

2. Asisten Demang menjadi Huku Guntyo

3. Kepala Negeri menjadi Bun Dantyo

4. Kepala Kampung menjadi Kuntyo

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus

1945, dibentuk Komite Nasional di Dairi. Komite tersebut untuk mengatur

pemerintahan Dairi sesuai dengan Undang-undang Nomor 1 tahun 1945. Untuk

melengkapi dan menampung aspirasi masyarakat, anggota komite dipilih

sebanyak 35 orang yang mewakili setiap daerah Dairi dan setiap Urung

(kewedanan). Agar mempermudah kerja komite maka dibentuk pembantu Komite

Nasional. Adapun tugas utama dari Komite Nasional adalah:

1. Menyelesaikan pemilihan Dewan Negeri

2. Menyelesaikan Pemilihan Kepala Kampung

3. Membentuk Pemerintahan dan Badan Perjuangan

Pada tanggal 6 Juli 1947, Agresi Belanda menduduki Sumatera Timur. Hal

ini membuat putera Dairi yang berada di sana kembali mengungsi ke Dairi.

(36)

pemerintahan serta menghadapi perang melawan agresi Belanda, maka Residen

Tapanuli yang dipimpin oleh Dr. Ferdinan Lumban Tobing selaku Gubernur

Militer Sumatera Timur dan Tapanuli menetapkan Tapanuli menjadi 4 (empat)

Kabupaten. Pembagian wilayah meliputi; Silindung, Humbang, Toba Samosir dan

Dairi. Keputusan tersebut berlaku mulai 1 Oktober 1947, yang kemudian

ditetapkan mejadi hari jadi Kabupaten Dairi.

Setelah Dairi ditetapkan menjadi kabupaten, maka diangkat Bupati yang

saat itu dipimpin oleh Paulus Manurung. Bupati berkedudukan di Sidikalang

dengan memiliki 3 (tiga) wilayah kewedanan antara lain:

1. Kewedanan Sidikalang, terdiri dari Kecamatan Sidikalang dan Sumbul

2. Kewedanan Simsim, terdiri dari Kecamatan Kerajaan dan Salak

3. Kewedanan Karo Kampung, terdiri dari Kecamatan Tiga Lingga dan

Tanah Pinem.

Menjelang Agresi Kedua tanggal 23 Desember 1948, Belanda menduduki

Kota Sidikalang dan Tiga lingga. Hal ini membuat Bupati Dairi Paulus Manurung

menyerah. Sebagian besar Pegawai Negeri mengungsi dari kota untuk

menghindari serangan Belanda. Untuk menyusun strategi melawan agresi

Belanda, maka Mayor Slamat Ginting selaku Komandan sektor III Sub teritorium

VII menyusun strategi Pemerintahan Militer. Untuk lebih menyempurnakan

Pemerintahan Militer, wilayah Dairi dimekarkan dari 6 Kecamatan menjadi 12

Kecamatan, antara lain; Kecamatan Sidikalang, Sumbul, Parbuluan, Silalahi

Paropo, Pegagan Hilir, Tiga lingga, Gunung Sitember, Tanah Pinem, Silima

(37)

Tahun 1949, Belanda menyerahkan kedaulatan Dairi kepada Pemerintahan

Indonesia. Sejak saat itu, Pemerintahan Militer Dairi kembali dalam

Pemerintahan Sipil. Selanjutnya, wilayah dairi kembali dibagi dari 12 kecamatan

menjadi 8 kecamatan yakni; Kecamatan Sidikalang, Sumbul, Salak, Kerajaan,

Silima Pungga-Pungga, Siempat Nempu, Tiga Lingga dan Tanah Pinem.

Tahun 1950, Kabupaten Dairi kembali masuk dalam wilayah Kabupaten

Tapanuli Utara. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 tahun 1948,

yang menyatakan bahwa semua kabupaten yang dibentuk sejak Agresi I dan II

harus kembali dilebur. Akibat dari peleburan wilayah, masyarakat Dairi dan tokoh

masyarakat meminta kapada pemerintah pusat melalui Propinsi Sumatera Utara

untuk menjadikan dairi daerah otonom Tingkat II.

Tahun 1958, hubungan daerah Dairi terputus dengan Tapanuli Utara

(Tarutung). Hal ini dikarenakan terjadinya pemberontakan PRRI (Pemerintahan

Revolusioner Republik Indonesia). Melihat hal tersebut serta menjaga Kefakuman

pemerintahan, Gubernur KDH Sumatera Utara mengeluarkan Surat Perintah

tanggal 28 Agustus 1958 No.565/UPS/1958 dengan menetapkan daerah Dairi

menjadi wilayah Administratif yakni Koordinator Shap yang langsung berurusan

dengan Propinsi Sumatera Utara. Selanjutnya, atas dasar pertimbangan efesiensi

dan efektivitas pemerintahan, maka pemerintah pusat menyetujui serta

menetapkan pembentukan kembali Kabupaten Dairi dengan UU No. 4 Perpu

1964, terhitung mulai 1 Januari 1964, kemudian menjadi UU No.15 Tahun 1964

(38)

Tahun 2003, Kabupaten Dairi dimekarkan menjadi 2 (dua) kabupaten

yaitu Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Bharat. Mulai saat itu hingga

sekarang Kabupaten Dairi terbagi menjadi 15 kecamatan, antara lain; Kecamatan

Sidikalang, Sitinjo, Berampu, Parbuluan, Sumbul, Silahisabungan, Silima

Pungga-Pungga, Lae Parira, Siempat Nempu, Siempat Nempu Hulu, Siempat

Nempu Hilir, Tiga Lingga, Gunung Sitember, Pegagan Hilir dan Tanah Pinem.

2.1.2. Sejarah Desa Sambaliang

Pada tahun 1890-an di Kabupaten Dairi, banyak desa-desa yang terbentuk

di kabupaten tersebut. Salah satu desa yang terbentuk akibat kepadatan penduduk

di suatu desa itu adalah Desa Sambaliang. Menurut salah satu keturunan dari

pembuka kampung Desa Sambaliang yaitu Sarina Br Ujung berumur 45 tahun,

bahwa ayahnya pernah bercerita tentang bagaimana Desa Sambaliang terbentuk.

Pembuka kampung Desa Sambaliang yaitu marga Pasi dan marga Ujung. Dulunya

marga Pasi dan marga Ujung ini merupakan penduduk dari Desa Pasi yang

sekarang menjadi satu kecamatan dengan Desa Sambaliang yaitu Kecamatan

Berampu. Karena penduduk di Desa Pasi semakin bertambah dan wilayahnya

yang kecil, sehingga banyak penduduk yang keluar dari Desa Pasi tersebut. Salah

satunya yaitu marga Pasi dan marga Ujung.

Marga Pasi dan marga Ujung itu kemudian mendirikan tempat tinggal di

daerah yang belum pernah ditinggali oleh manusia (hutan). Di tempat inilah

mereka bermukim dan hidup dengan cara mengelola hasil hutan tersebut. Asal

(39)

berasal dari kata Somba yang artinya menyembah dan kata Liang yang artinya lubang atau gua. Jadi, arti dari Sombaliang itu adalah menyembah kepada gua atau lubang. Dikatakan seperti itu karena dulu di Desa Sambaliang tepatnya di

kaki bukit Desa tersebut terdapat gua atau lubang yang besar yang dipercayai

sebagi tempat keramat. Karena dipercayai sebagai tempat keramat, maka gua itu

di sembah oleh masyarakat Desa Sambaliang. Kepercayaan masyarakat akan

suatu hal yang gaib baik itu dalam bentuk apapun merupakan kepercayaan yang

mereka peroleh dari nenek moyang mereka. Tetapi karena perubahan zaman dan

pengucapan sehari-hari masyarakat di desa dan sudah menjadi kebiasaan, maka

dalam penyebutan desa tersebut berubah pula pengucapannya dari yang kata

sebelumnya Sombaliang menjadi Sambaliang dan nama itulah yang di kenal masyarakat sampai saat ini.

Pada masa itu banyak rakyat yang hidup dan tinggalnya berpindah-pindah.

Tidak terlepas pada masyarakat etnis Batak Toba, mereka juga hidup

berpindah-pindah hingga sampai ke Kabupaten Dairi. Dari alasan ibu Sarina br Ujung inilah

maka banyak masyarakat yang berdatangan dan bermukim di Desa Sambaliang

tersebut, khususnya masyarakat etnis Batak Toba yang datang dari daerah

Tapanuli Utara. Mereka bermukim dan hidup secara berdampingan dengan marga

Pasi da marga Ujung tersebut.

Sebagai pembuka kampung di Desa Sambaliang, marga Pasi dan marga

Ujung merupakan pemilik dari tanah yang ada di Desa Sambaliang. Masyarakat

pendatang yang bermukim di Desa Sambaliang tersebut harus bermuhon kepada

(40)

bercocok tanam sebagai mata pencaharian mereka. Sebagai tuan tanah, marga Pasi

dan marga Ujung kemudian memberikan tanah sebagai lahan mereka untuk

bercocok tanam. Selama beberapa tahun kemudian masyarakat di Desa

Sambaliang semakin bertambah karena semakin banyak pendatang yang

bermukim di desa tersebut. Sehingga kebanyakan dari penduduk di Desa

Sambaliang yang bermukim dan menetap secara permanen adalah masyarakat

yang ber etnis Batak Toba. Desa Sambaliang dikepalai oleh seorang Kepala Desa

yang dipilih berdasarkan pemilihan yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Kepala

Desa Sambaliang saat ini adalah Jamidin Sihombing.

2.1.3. Deskripsi Perjalanan Dari Kota Medan Menuju Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yang yang penulis kaji berada di Kabupaten Dairi,

Kecamatan Berampu tepatnya di Desa Sambaliang. Untuk menuju lokasi

penelitian tersebut menggunakan alat transportasi darat. Transportasi yang

digunakan dapat dijumpai di Jalan. Jamin Ginting, tepatnya daerah Padang Bulan,

Kotamadya Medan. Beberapa angkutan jurusan kota Medan-Sidikalang antara lain

Po. DATRA (Dairi Transport), CV. BTN (Bintang Tani Jaya), Po. SAMPRI

(Samosir Pribumi), CV. PAS Transport, CV. HIMPAK. Angkutan tersebut

kebanyakan menggunakan jenis mobil Mitsubishi L 300 Sparta. Harga tiket untuk

penumpang menuju Kota Sidikalang bervariasi, untuk penumpang yang

mengambil tempat duduk kelas ekonomi dikenakan biaya Rp. 25.000,- sedangkan

untuk penumpang yang mengambil tempat duduk kelas executive dikenakan biaya

(41)

Senin-Minggu dan beroperasi pada pukul 05.00 WIB – 20.00 WIB dan rentang

keberangkatan antar setiap unit bis antara 15-30 menit. Kapasitas setiap unit bis

bervariasi dilihat dari kelasnya, kelas ekonomi dapat menampung penumpang

sebanyak 14 orang sedangkan kelas executive dapat menampung penumpang

sebanyak 11 orang.

Jarak yang ditempuh mulai dari Kota Medan menuju Kota Sidikalang ±

160 Km memakan waktu 4-5 jam perjalanan. Jalan yang dilewati beraspal dan

berliku-liku mulai dari Kecamatan Pancur batu sampai pada Kecamatan Sitinjo.

Hal ini dikarenakan daerah yang diteliti oleh penulis berada di antara Bukit

Barisan, jalan yang begitu panjang itu berbentuk dakian dan berliku sehingga

dapat dilewati oleh bermacam kendaraan. Bentuk jalannya pun ada yang beraspal

mulus, semi aspal dan ada yang berlubang. Daerah-daerah yang dilewati angkutan

dari Medan menuju kota Sidikalang antara lain, Kecamatan Sibolangit,

Kecamatan Bandar Baru yang termasuk kedalam Kabupaten Deli Serdang;

Kecamatan Berastagi, Kecamatan Kabanjahe, Kecamatan Tiga Panah, Kecamatan

Merek yang kesemuanya berada di Kabupaten Karo; Kecamatan Tanjung

Beringin, Kecamatan Sumbul, Kecamatan Sitinjo dan akhirnya Kecamatan

(42)
[image:42.842.85.676.138.466.2]

Tabel 1

Daftar Nama Transportasi Umum Dari Kota Medan Menuju Kota Sidikalang

No Jasa Pengangkutan Lokasi Harga Tiket Kapasitas Lama Waktu yang

ditempuh 1 Po. DATRA (Dairi

Transport)

Jln. Jamin ginting (depan komplek perumahan Citra Garden, pasar 4, Padang Bulan, Kotamadya Medan)

Rp. 30.000,- 11 orang 4 – 5 jam

2 o.SAMPRI (Samosir Pribumi)

Jln. Jamin Ginting (daerah Simpang Pos depan pos polisi, pasar baru, Padang Bulan, Kotamadya Medan)

Ekonomi Rp. 25.000,- Executive Rp. 30.000,- 14 orang 11 orang

4 – 5 jam

3 V. BTN (Bintang Tani Jaya)

Jln. Jamin Ginting, (samping pajak sore, daerah Padang Bulan, Kotamadya Medan) Ekonomi Rp. 25.000,- Executive Rp. 30.000,- 14 orang 11 orang

4 – 5 jam

4 CV. PAS Jln. Jamin Ginting (depan simpang Pasar 3, padang Bulan, Kotamadya Medan)

Rp. 30.000,- 11 orang 4 – 5 jam

5 CV. HIMPAK Jln. Jamin Ginting (dekat simpang Pos, Pasar 7, Padang Bulan, Kotamadya

Medan)

(43)

Sesampainya di Kota Sidikalang, bis akan berhenti di stasiun atau loket

masing-masing yang berada di Jln. Gereja/Nusantara (loket SAMPRI), Jln

Sisingamangaraja (PAS Transport), Jln. Merdeka (DATRA). Kemudian dari Kota

Sidikalang penulis menaiki lagi angkutan pedesaan yang bisa ditemukan di pasar

tradisional Sidikalang (dulunya merupakan terminal pusat yang ada di Kota

Sidikalang). Angkutan yang dapat ditemukan di pasar tradisional antara lain

angkutan desa yang bernama CV. Koko dan becak bermotor. Kalau menggunakan

becak bermotor menuju lokasi penelitian mengeluarkan biaya sebesar Rp

15.000-Rp. 20.000,-, sedangkan kalau menggunakan angkutan desa mengeluarkan biaya

sebesar Rp. 7.000,-. Jarak yang ditempuh dari pasar tradisional sampai ke Desa

Sambaliang ± 12 Km dan memakan waktu 1,5 jam perjalanan. Jalan yang dilalui

menuju lokasi penelitian masih semi aspal berbatu dan ada juga yang berlubang,

hal ini dikarenakan pembangunan jalan di sepanjang desa yang berada di

Kecamatan sidikalang sampai desa-desa yang berada di Kecamatan Berampu

masih minim. Daerah-daerah yang dilewati menuju lokasi penelitian antara lain

Desa Huta Rakyat yang berada di Kecamatan Sidikalang; Desa Berampu, Desa

Pasi, Desa Karing yang berada di di Kecamatan Berampu; Desa Bantu Horbo

yang berada di Kecamatan Lae Parira, lalu kemudian sampailah dilokasi

(44)

2.2. Keadaan Alam dan Batas Wilayah

Berdasarkan admistrasi pemerintahan, Desa Sambaliang merupakan salah

satu desa yang berada di Kecamatan Berampu, Kabupaten Dairi, Propinsi

Sumatera Utara. Luas wilayah keseluruhan desa 780 Ha dengan batas-batas

administrasi sebagai berikut :

• Sebeleh Utara berbatasan dengan Desa Kentara, Kabupaten Lae Parira.

• Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pasi, Kabupaten Berampu.

• Sebelah Barat berbatasan dengan hutan lindung.

• Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sumbul, Kabupaten Lae Parira.

Desa Sambaliang terdiri dari 4 (empat) dusun yaitu ; yang pertama Dusun I

disebut Barisan atau biasanya masyarakat setempat mengatakan Bariba, dikatakan demikian karena dusun tersebut letak perumahannya membentuk barisan yang

panjang dan diatas dusun ini berada dusun II. Dusun II disebut Bukit atau biasanya

masyarakat setempat mengatakan Dolok, dikatakan demikian karena dusun tersebut letaknya berada diatas bukit dan dibawah dusun tersebut merupakan

dusun I. Dusun III disebut Pakpak, dikatakan demikian karena mayoritas masyarakat yang beretnis Pakpak tinggal di dusun tersebut dan letak

perumahannya berbentuk barisan memanjang dan ada juga yang berada diatas

bukit. Dusun IV disebut ujung atau biasanya masyarakat setempat mengatakan

Kepar, dikatakan demikian karena dusun tersebut berada paling ujung dari desa tersebut dan letak perumahannya sama seperti dusun III ada yang memanjang dan

juga ada yang berada diatas bukit. Jenis perumahan di setiap dusun pun bervariasi

(45)

semi permanen (sebagian bentuk rumah menggunakan bahan kayu dan sebagian

lagi menggunakan bahan batu bata serta semen), ada juga yang permanen yang

keseluruhan bentuk rumah sudah menggunakan batu bata dan semen.

Keadaan alam Desa Sambaliang berada diketinggian ± 500-800 meter dari

permukaan laut dengan curah hujan 1500-2500 milimeter per tahun. Suhu

rata-rata harian di Desa Sambaliang antara 28-29 ºC dengan kelembapan antara

70-75%. Secara umum, Desa Sambaliang daerahnya berbentuk perbukitan, dimana

pada kaki bukit dimanfaatkan masyarakat sebagai lahan pertanian. Sebagian

daerah berbentuk dataran dengan permukaan yang bergelombang. Daerah yang

berbentuk dataran rendah dijadikan sebagai tempat pemukiman dan bercocok

tanam. Adapun perincian penggunaan lahan pedesaan adalah sebagai berikut;

persawahan 160 Ha, pemukiman serta pekarangannya 40 Ha. Perladangan 200 Ha

dan hutan 210 Ha.

Wilayah Desa Sambaliang yang berbukit tidak terlepas dari bentuk

keseluruhan Kabupaten Dairi. Dairi merupakan deretan panjang pegunungan

Bukit Barisan yang terbentang sepanjang pulau Sumatera. Di punggung Bukit

Barisan tersebut letak Kabupaten Dairi, sehingga topografi dan permukaan tanah

(46)

Berikut ini merupakan gambaran lokasi pertanian Desa Sambaliang :

[image:46.596.269.505.112.285.2]

Gambar 16 Gambar 27

2.3. Pola Pemukiman dan Tata Guna Lahan

Desa Sambaliang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan

Berampu, Kabupaten Dairi. Jarak dari ibukota kabupaten dengan Desa

Sambaliang ±12 Km yang memakan waktu ±1,5 jam dan jarak dari ibukota

Kecamatan Berampu dengan Desa Sambaliang ±4 Km yang memakan waktu ±0,5

jam. Alat transportasi yang biasa digunakan oleh masyarakat Desa Sambaliang

yaitu becak bermotor, sepeda motor dan angkutan desa, biasanya angkutan desa

hanya akan masuk ke Desa Sambaliang pada saat ada pekan di kota atau

masyarakat menyebutnya “maronan”. Sebelum menemukan desa ini, dari jalan

yang dilalui angkutan kita akan menjumpai simpang. Dari simpang tersebut kita

akan melewati Desa Bantu Horbo yang berbeda kecamatan dengan Desa

Sambaliang, dimana Desa Bantu Horbo ini berada di Kecamatan Lae Parira. Desa

Bantu Horbo ini merupakan tanah kelahiran dari mantan ketua DPRD Sumatera

Utara yaitu Alm. H.Abdul Azis Angkat. Dari simpang tersebut ±2 km setelah

6 Jalan menuju ke Desa Sambaliang

(47)

melewati Desa Bantu Horbo, kita akan menemukan dua jalan menuju Desa

Sambaliang. Jalan yang kearah kanan merupakan jalan menuju dusun I yaitu

Bariba dan jalan yang kearah kiri merupakan jalan menuju dusun II yaitu Dolok. Dari dua arah jalan ini nantinya bertemu dusun III yaitu Pak-Pak sampai pada

akhir jalan ini akan bertemu dengan dusun yang terakhir yaitu Kepar. Pertama-tama ketika memasuki Desa Sambaliang kita akan menemukan kantor Kepala

Desa. Ketika memasuki Desa Sambaliang, beberapa rumah pertama yang

dijumpai terlihat permanen, sebahagian lagi semi permanen dengan lantai semen,

dinding setengah batu, setengah papan. Umumnya bangunan rumah cenderung

semi permanen. Kebanyakan rumah penduduk dicat berwarna terang dan beratap

seng yang sudah berwarna kecoklatan. Hampir seluruh rumah penduduk memiliki

perkarangan (halaman) yang luas. Perkarangan tersebut dijadikan sebagai tempat

menjemur hasil tani seperti padi, jagung, kopi, nilam serta sebagai tempat saat

acara pesta.

Beberapa rumah penduduk dibangun di lokasi kebun mereka, sehingga

rumah terlihat dikelilingi oleh tanaman kopi, durian, kelapa dan beberapa pisang,

tanaman nilam, kacang-kacangan. Selain itu, rumah penduduk yang beragama

Kristen umumnya memiliki kandang ternak babi di belakang perkarangannya

sedangkan yang beragama Islam memiliki kadang ternak kambing ataupun

(48)

2.4. Keadaan Penduduk

Penduduk Desa Sambaliang dihuni oleh etnis Batak dengan sub etnis yaitu

etnis Batak Pak-Pak dan etnis Batak Toba. Enits Pak-Pak merupakan etnis asli

dari Desa Sambaliang tersebut sementara etnis Batak Toba merupakan kelompok

pendatang. Marga-marga yang ada di desa ini antara lain marga Pasi, Ujung.

Tetapi saat ini, menurut data yang saya peroleh penduduk di daerah Desa

Sambaliang mayoritas sudah di dominasi oleh masyarakat etnis Batak Toba yang

antara lain bermarga Sihombing, Lumban Toruan, Silaban, Nababan.

2.4.1. Komposisi Penduduk Berdasarkan Golongan Umur

Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Kepala Desa Sambaliang,

komposisi penduduk dilihat dari golongan umur pada Tahun 2009 adalah sebagai

[image:48.596.114.506.495.709.2]

berikut :

Tabel 2

Komposisi Penduduk Berdasarkan Golongan Umur

No Golongan Umur

Jenis Kelamin

Jumlah Persentase Pria Wanita

1 0 – 12 bulan 40 orang 49 orang 89 orang 7, 67 %

2 13 bulan – 4 tahun 32 orang 38 orang 70 orang 6, 03 %

3 5 tahun – 6 tahun 48 orang 72 orang 120 orang 10, 34 %

4 7 tahun –12 tahun 151 orang 164 orang 315 orang 27, 15 %

(49)

6 16 tahun–18 tahun 32 orang 38 orang 70 orang 6, 03 %

7 19 tahun–25 tahun 70 orang 87 orang 157 orang 13, 53 %

8 26 tahun–35 tahun 35 orang 40 orang 75 orang 6, 46 %

9 36 tahun– 45 tahun 25 orang 28 orang 53 orang 4, 56 %

10 46 tahun– 50 tahun 21 orang 21 orang 42 orang 3, 62 %

11 51 tahun– 60 tahun 15 orang 22 orang 37 orang 3, 18 %

12 61 tahun– 75 tahun 10 orang 25 orang 35 orang 3, 01 %

13 > 76 tahun 10 orang 15 orang 25 orang 2, 15 %

Jumlah 519 orang 641 orang 1160 orang 100 %

Sumber : Data Statistik Pengolahan Profil Desa Sambaliang Tahun 2009, dikelola penulis

Dari tabel 2 di atas, dapat di jelaskan bahwa usia produktif di Desa

Sambaliang yaitu antara usia 16 – 46 tahun. Selain itu, data tersebut menunjukkan

bahwa terdapat penduduk yang masih usia sekolah dan lanjut usia. Usia produktif

tersebut, memungkinkan para petani dapat mengelola lahan pertanian mereka. Di

samping itu, usia produktif yang masih sekolah dapat membantu orang tua mereka

(50)

2.4.2. Komposisi Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Berdasarkan data Tahun 2009, komposisi penduduk Desa Sambaliang

[image:50.596.107.502.219.620.2]

dilihat dari pendidikan adalah sebagai berikut :

Tabel 3

Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Pendidikan

Jenis kelamin

Jumlah Persentase Pria Wanita

1 Buta huruf atau

aksara

27 orang 35 orang 62 orang 5, 34 %

2 Putus sekolah 178 orang 115 orang 293 orang 25, 25 %

3 Tamat

SD/Sederajat

270 orang 230 orang 500 orang 43, 10 %

4 Tamat

SLTP/Sederajat

80 orang 30 orang 110 orang 9, 48 %

5 Tamat

SMA/Sederajat

70 orang 115 orang 185 orang 15, 94 %

6 Universitas/PT 3 orang 7 orang 10 orang 0, 86 %

7 Akademi - - - 0 %

Jumlah 100 %

Sumber : Data Statistik Pengolahan Profil Desa Sambaliang tahun 2009, dikelola penulis

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting bagi kehidupan manusia.

(51)

kebutuhannya akan pendidikan. Begitu juga yang terjadi di Desa Sambaliang,

dimana peran pendidikan itu berpengaruh dan merupakan bagian dalam kehidupan

sehari-hari. Dari tabel 3 di atas dapat dijelaskan bahwa tingkat pendidikan di Desa

Sambaliang sangat bervariasi. Dimulai dari masyarakatnya yang buta huruf atau

aksara berjumlah 62 orang dengan persentase sebesar 5, 34 %, kemudian yang

putus sekolah atau tidak bisa melanjutkan sekolahnya berjumlah 293 orang

dengan persentase sebesar 25, 25 %, tamat SD atau sederajat berjumlah 500 orang

dengan persentase sebesar 43,10 %, tamat SLTP atau sederajat berjumlah 110

orang dengan persentase sebesar 9, 48 %, tamat SMA atau sederajat berjumlah

185 orang dengan persentase sebesar 15, 94 %, yang masuk atau tamat perguruan

tinggi berjumlah 10 orang dengan persentase sebesar 0, 86 %.

Dari data ini dapat disimpulkan bahwa tingkat atau daya minat masyarakat

Desa Sambaliang terhadap pendidikan masih minim. Hal ini dikarenakan faktor

kebutuhan hidup mereka, dimana dengan membantu orang tua bekerja di ladang

lebih baik daripada sekolah. Sehingga banyak anak-anak di Desa Sambaliang

yang putus sokolahnya karena kurang biaya atau keharusan membantu orang tua

bekerja di ladang setiap hari. Hal ini sudah ditanamkan pada mereka saat usia

mereka masih anak. Ketika orang tua mereka pergi bekerja di ladang,

anak-anak mereka pun diajak ikut serta membantu orang tua mereka bekerja misalnya

Gambar

Tabel 1
Gambar 1            6                                                                      Gambar 27
Tabel 2
Tabel 3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sama dengan yang terjadi pada petani di Desa Silima Kuta, dimana dari segi kepemilikan tanah, masih ada petani miskin yang tidak memiliki tanah atau lahan untuk

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sistem pertanian padi menurut tradisi masyarakat Karo di desa Negeri Gugung, untuk mengetahui

Karena tradisi tersebut sangatlah penting bagi setiap daerah.Untuk masyarakat selalu melestarikan budaya yang ada di Desa Pegagan Julu VIII dan dapat memberikan pemahaman

Sebelum menggunakan teknologi pertanian masyarakat desa kopi menggunakan alat-alat tradisional seperti, parang di jadikan alat untuk memotong rumput yang ber ada

Tanpa di sadari kerja sama bagi hasil pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Desa Somba Palioi Kecamatan Kindang ini telah membantu kedua belah pihak,

Keselarasan dan keragaman keruangan permukiman menjadi keunikan tersendiri dalam permukiman Desa Wia-wia yang dimana deretan sanggah masyarakat desa mengikuti jalan

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam badik pada Masyarakat Bugis di Desa Duampanuae yaitu terbagi menjadi tiga yang pertama nilai kesejarahan, dimana badik sudah ada sejak nenek

Peningkatan produksi usahatani pelaksanaan awal serta peningkatan dan pemanfaatan lahan yang ada dengan didukung oleh dan pengetahuan dan teknologi kegiatan pertanian dengan pendekatan,