Penduduk Desa Sambaliang dihuni oleh etnis Batak dengan sub etnis yaitu etnis Batak Pak-Pak dan etnis Batak Toba. Enits Pak-Pak merupakan etnis asli dari Desa Sambaliang tersebut sementara etnis Batak Toba merupakan kelompok pendatang. Marga-marga yang ada di desa ini antara lain marga Pasi, Ujung. Tetapi saat ini, menurut data yang saya peroleh penduduk di daerah Desa Sambaliang mayoritas sudah di dominasi oleh masyarakat etnis Batak Toba yang antara lain bermarga Sihombing, Lumban Toruan, Silaban, Nababan.
2.4.1. Komposisi Penduduk Berdasarkan Golongan Umur
Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Kepala Desa Sambaliang, komposisi penduduk dilihat dari golongan umur pada Tahun 2009 adalah sebagai berikut :
Tabel 2
Komposisi Penduduk Berdasarkan Golongan Umur
No Golongan Umur
Jenis Kelamin
Jumlah Persentase Pria Wanita
1 0 – 12 bulan 40 orang 49 orang 89 orang 7, 67 % 2 13 bulan – 4 tahun 32 orang 38 orang 70 orang 6, 03 % 3 5 tahun – 6 tahun 48 orang 72 orang 120 orang 10, 34 % 4 7 tahun –12 tahun 151 orang 164 orang 315 orang 27, 15 % 5 13 tahun–15 tahun 30 orang 42 orang 72 orang 6, 20 %
6 16 tahun–18 tahun 32 orang 38 orang 70 orang 6, 03 % 7 19 tahun–25 tahun 70 orang 87 orang 157 orang 13, 53 % 8 26 tahun–35 tahun 35 orang 40 orang 75 orang 6, 46 % 9 36 tahun– 45 tahun 25 orang 28 orang 53 orang 4, 56 % 10 46 tahun– 50 tahun 21 orang 21 orang 42 orang 3, 62 % 11 51 tahun– 60 tahun 15 orang 22 orang 37 orang 3, 18 % 12 61 tahun– 75 tahun 10 orang 25 orang 35 orang 3, 01 % 13 > 76 tahun 10 orang 15 orang 25 orang 2, 15 % Jumlah 519 orang 641 orang 1160 orang 100 %
Sumber : Data Statistik Pengolahan Profil Desa Sambaliang Tahun 2009, dikelola penulis
Dari tabel 2 di atas, dapat di jelaskan bahwa usia produktif di Desa Sambaliang yaitu antara usia 16 – 46 tahun. Selain itu, data tersebut menunjukkan bahwa terdapat penduduk yang masih usia sekolah dan lanjut usia. Usia produktif tersebut, memungkinkan para petani dapat mengelola lahan pertanian mereka. Di samping itu, usia produktif yang masih sekolah dapat membantu orang tua mereka di ladang atau di sawah setelah mereka pulang dari sekolah.
2.4.2. Komposisi Penduduk Berdasarkan Pendidikan
Berdasarkan data Tahun 2009, komposisi penduduk Desa Sambaliang dilihat dari pendidikan adalah sebagai berikut :
Tabel 3
Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No Pendidikan
Jenis kelamin
Jumlah Persentase Pria Wanita
1 Buta huruf atau aksara
27 orang 35 orang 62 orang 5, 34 %
2 Putus sekolah 178 orang 115 orang 293 orang 25, 25 %
3 Tamat
SD/Sederajat
270 orang 230 orang 500 orang 43, 10 %
4 Tamat
SLTP/Sederajat
80 orang 30 orang 110 orang 9, 48 %
5 Tamat
SMA/Sederajat
70 orang 115 orang 185 orang 15, 94 %
6 Universitas/PT 3 orang 7 orang 10 orang 0, 86 %
7 Akademi - - - 0 %
Jumlah 100 %
Sumber : Data Statistik Pengolahan Profil Desa Sambaliang tahun 2009, dikelola penulis
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting bagi kehidupan manusia. Sehingga setiap orang atau keluarga selalu berusaha untuk memenuhi
kebutuhannya akan pendidikan. Begitu juga yang terjadi di Desa Sambaliang, dimana peran pendidikan itu berpengaruh dan merupakan bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dari tabel 3 di atas dapat dijelaskan bahwa tingkat pendidikan di Desa Sambaliang sangat bervariasi. Dimulai dari masyarakatnya yang buta huruf atau aksara berjumlah 62 orang dengan persentase sebesar 5, 34 %, kemudian yang putus sekolah atau tidak bisa melanjutkan sekolahnya berjumlah 293 orang dengan persentase sebesar 25, 25 %, tamat SD atau sederajat berjumlah 500 orang dengan persentase sebesar 43,10 %, tamat SLTP atau sederajat berjumlah 110 orang dengan persentase sebesar 9, 48 %, tamat SMA atau sederajat berjumlah 185 orang dengan persentase sebesar 15, 94 %, yang masuk atau tamat perguruan tinggi berjumlah 10 orang dengan persentase sebesar 0, 86 %.
Dari data ini dapat disimpulkan bahwa tingkat atau daya minat masyarakat Desa Sambaliang terhadap pendidikan masih minim. Hal ini dikarenakan faktor kebutuhan hidup mereka, dimana dengan membantu orang tua bekerja di ladang lebih baik daripada sekolah. Sehingga banyak anak-anak di Desa Sambaliang yang putus sokolahnya karena kurang biaya atau keharusan membantu orang tua bekerja di ladang setiap hari. Hal ini sudah ditanamkan pada mereka saat usia mereka masih anak. Ketika orang tua mereka pergi bekerja di ladang, anak-anak mereka pun diajak ikut serta membantu orang tua mereka bekerja misalnya dengan menbantu orang tua mereka mencangkul di ladang.
Gambar 38
2.4.3. Komposisi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan
Berdasarkan data yang diperoleh Tahun 2009, komposisi penduduk dilihat dari pekerjaan masyarakat Desa Sambaliang adalah sebagai berikut :
Tabel 4
Komposisi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan
No Pekerjaan Jumlah Persentase
1 Petani 995 orang 85, 77 %
2 Wiraswasta 73 orang 6, 29 %
3 PNS 19 orang 1, 63 %
4 Tukang Kayu 15 orang 1, 29 %
5 Supir Becak 10 orang 0, 86 %
6 Tidak Bekerja 48 orang 4, 13 %
Jumlah 100 %
Sumber : Data Statistik Pengolahan Profil Desa Sambaliang Tahun 2009, dikelola penulis
8 SD 037147 yang berada di dusun III
Dari tabel 4 di atas, terlihat umumnya masyarakat Desa Sambaliang bermata pencaharian sebagai petani. Berbagai jenis tanaman ditanam didaerah ini antara lain padi, jagung, kopi, jeruk, cabai dan sayur-sayuran. Hasil pertanian yang sering ditanam selama tahun 2009 adalah padi dan jagung serta tanaman cabai yang semakin marak di Desa Sambaliang. Hal ini karena hasil yang didapat dari tanaman cabai ketika panen sangat menjanjikan. Harga cabai mencapai Rp.25.000/kg pada saat itu, tetapi masalah yang ditimbulkan sekarang adalah datangnya serangan hama dan naiknya harga pupuk untuk petani kecil. Inilah yang membuat petani di Desa Sambaliang menjadi resah manakala panen mereka nanti mengalami kegagalan.
Selain petani, masyarakat yang berada di Desa Sambaliang juga ada bermata pencaharian sebagai wiraswasta. Ada sebagai pedagang yang menjual produk-produk bahan pokok dan ada juga yang menjual minuman khas Batak yaitu tuak. Biasanya ada orang yang mengambil nira pohon aren pada sore hari atau masyarakat setempat menyebutnya maragat. Harga dari 1 liter tuak yang sudah diramu adalah Rp.5.000, hal ini sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Desa Sambaliang setiap selesai bekerja diladang pada sore harinya para lelaki ataupun pemuda akan pergi kelapo tuak untukmenghilangkan rasa letihnya karena lelah bekerja di ladang selama satu hari.
Gambar 49 Gambar 510
2.4.4. Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama
Berdasarkan data dari kantor Kepala Desa Sambaliang pada Tahun 2009, komposisi penduduk Desa Sambaliang berdasarkan agama dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5
Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama
No Agama Jumlah Persentase
1 Islam 345 orang 29, 74 %
2 Kristen protestan 815 orang 70, 25 %
3 Kristen Khatolik - 0 %
4 Hindhu - 0 %
5 Budha - 0 %
Jumlah 100 %
Sumber : Data Statistik Pengolahan Profil Desa Sambaliang tahun 2009, dikelola penulis
9 Petani yang sedang menanam padi di sawah
Dari tabel 5 di atas, maka terlihat komposisi penduduk Desa Sambaliang berdasarkan agama hanya didominasi oleh 2 agama saja yaitu agama Islam dan agama Kristen Protestan. Pemeluk agama Kristen Protestan yang ada di Desa Sambaliang lebih besar dibandingkan dengan pemeluk agama Islam. Hal ini dapat diperincikan bahwa jumlah pemeluk agama Kristen Protestan adalah 815 orang dengan persentase sekitar 70, 25 %, sedangkan jumlah pemeluk agama Islam di Desa Sambaliang adalah 345 orang dengan persentase sekitar 29,74 %. Hal ini juga ditandai dengan banyaknya gereja yang ada di Desa Sambaliang yaitu HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia), HKI (Huria Kristen Indonesia), GPdI (Gereja Pentakosta di Indonesia).
2.5. Sarana Fisik Di Desa Sambaliang 2.5.1. Sarana Transportasi
Sarana transportasi yang ada di Desa Sambaliang ada bebagai jenis yang diantaranya yaitu angkutan desa, becak bermotor, sepeda motor. Angkutan desa yang mengangkut masyarakat di Desa Sambaliang sudah semakin sedikit, karena kebanyakan warga pedesaan sudah banyak yang menggunakan kendaraan sendiri untuk bepergian ke kota. Biasanya angkutan desa datang ke Desa sambaliang jika ada pekan di kota yang masyarakat setempat menyebutnya maronan. Selain angkutan desa ada juga becak bermotor yang dapat membantu masyarakat dalam mengangkut segala hasil petanian mereka ke kota. Becek bermotor sudah semakin banyak di Desa sambaliang ini dan jenis angkutan inilah yang banyak sekarang digunakan oleh masyarakat setempat. Sedangkan sepeda motor merupakan
kendaraan pribadi yang digunakan oleh masyarakat di Desa Sambaliang. Sepeda motor merupakan alat transportasi yang praktis dan ekonomis karena tidak seperti angkutan kota yang harus menunggu dan memakan waktu yang singkat.
2.5.2. Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan yang ada di Desa Sambaliang ini masih sangat minim. Hanya ada satu Sekolah Dasar saja. Jika masyarakat Desa Sambaliang ingin melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi lagi mereka harus ke ibukota kecamatan untuk bersekolah. Tetapi hanya ada satu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan jika ingin melanjut haruslah keibukota kabupaten. Waktu yang dibutuhkan masyarakat Desa Sambaliang keibukota kecamatan adalah 0,5 jam, sedangkan keibukota kabupaten memakan waktu 1 jam dengan menggunakan angkutan desa atau becak bermotor.
2.5.3. Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan yang ada di Desa Sambaliang adalah PUSTU (Puskesmas Pembantu). Puskesmas pembantu didesa ini sekarang sudah tidak aktif lagi. Terakhir pada tahun 2008 puskesmas ini beroperasi. Alasan kenapa puskesmas ini tidak beroperasi lagi karena tenaga kesehatan tidak ada didatangkan oleh pihak pemerintah kabupaten. Sehingga taraf kesehatan di Desa Sambaliang masih minim, Hal ini ditandai ketika seseorang yang sakit harus berobat keluar dari desa sendiri dan pergi ke desa yang lain atau ke ibukota Kabupaten.
2.5.4. Sarana Ibadah
Sarana peribadatan yang ada di Desa Sambaliang terdiri dari 4 gereja dan 1 mesjid. Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat yang memeluk agama Kristen yang ada di Desa Sambaliang. Pada hari Minggu biasanya digunakan oleh pemeluk agama Kristen untuk beribadah sedangkan pada hari Jumat digunakan oleh pemeluk agama Islam untuk beribadah.