• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peralihan profesi sering dilakukan oleh setiap orang, dimana jika suatu pekerjaan yang sedang digeluti tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari maka orang itu akan mencoba untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya. Hal ini sering terjadi pada masyarakat yang ada Indonesia, salah satunya terjadi di Desa Pohan Tonga, Kecamatan Siborongborong Kabupaten Tapanuli Utara Sumatera Utara, dimana masyarakat tersebut ingin memperoleh kehidupan yang lebih layak dan baik dengan cara melakukakan peralihan profesi yaitu, peralihan profesi dari petani sawah menjadi buruh pabrik. Buruh pabrik merupakan pilihan masyarakat yang ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik lagi, selain karena kebutuhan yang semakin mendesak pihak pabrik juga memberikan

peluang yang besar dalam perekrutan buruh tentu menjadi alasan masyarakat Desa Pohan Tonga untuk beralih profesi menjadi buruh pabrik.Masyarakat beralih profesi karena beberapa faktor yang mendorong, mulai dari keinginan sendiri juga karena adanya faktor- faktor lainnya.

Adapun beberapa faktor utama yang mendorong masyarakat Desa Pohan Tonga beralih profesi menjadi buruh pabrik, yaitu :

4.6.1. Penghasilan

Penghasilan dapat diartikan gaji, bahkan mungkin penjualan, keuntungan, komisi, bunga, pinjaman, dan lain sebagainya.Penghasilan didefenisikan sebagai peningkatan pemanfaatan ekonomi dalam bentuk arus masuk atau peningkatan aset.Penghasilan juga disebut dengan pendapatan dari suatu pekerjaan yang dikerjakan.

Begitu juga yang terjadi di Desa Pohan Tonga yang dimana penghasilan dari berprofesi buruh pabrik dikatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, baik dari segi sosial maupun ekonomi.Menurut UMK Tapanuli Utara bahwa gaji buruh adalah Rp 1.800.000 dan upah buruh di pabrik PT SSC sesuai dengan UMK Tapanuli Utara.Masyarakat Desa Pohan Tonga beralih profesi karena tuntutan kebutuhan ekonomi yang tidak terpenuhi, dengan beralihnya mereka menjadi buruh pabrik maka mereka berharap bahwa kehidupan mereka menjadi lebih baik.

RG (40) merupakan salah satu masyarakat yang telah beralih profesi pada tahun 2014. Hal ini terungkap dalam wawancara dengan beliau yaitu :

“Saya beralih profesi dari petani sawah menjadi buruh pabrik pada tahun 2014.Saya beralih profesi karena memang penghasilan saya tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidup kalau hanya mengharapkan hasil panen sekali dalam 6 bulan.Ditambah lagi anak saya yang sudah SMA membtutuhkan uang setiap harinya. Tentu dengan bekerja menjadi buruh penghasilan saya menjadi tetap dan saya mempunyai uang setiap harinya untuk anak-anak saya” (Wawancara 10 April 2017 pukul 20.00 WIB)

Masyarakat selanjutnya yang beralih profesi adalah Ibu NS (31) yang beralih profesi dari petani menjadi buruh pabrik pada tahun 2016 :

“Saya harus beralih profesi menjadi buruh pabrik, karena penghasilan saya dari bertani tidak jelas, sementara kan dari kerja pabrik sudah jelas dia berapa perminggunya. Dengan penghasilan yang tetap perminggunya bisa saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sehai-hari, kalo dari bertani ini penghasilan saya tidak memungkinkanlah dibilang dek, bahkan saya lebih sering tidak punya uang sehari-harinya, padahal saya kan butuh uang untuk menutupi keperluan ruah tangga, apalagi kita kan harus kepasar sekali seminggu untuk belanja.maka saya beralih profesi dek menjadi buruh pabrik. Pokoknya saya merasa kalo bekerja di pabrik hidup saya menjadi lebih baik, bahkan jauh lebi baik daripada bertani. (Wawancara 11 April 2017 pukul 20.00 WIB)

Hal senada juga terjadi pada Pak MH (47) yang pernah bekerja menjadi petani tetapi lebih memilih untuk beralih profesi menjadi buruh pabrik, hal ini dapat terungkap dalam wawancara dengan beliau, yaitu :

“Sebelumnya saya bekerja menjadi petani sawah, tetapi saya lihat tidak ada perkembangan ekonomi keluarga kami. Hasil dari bertani tidak seberapa, bahkan kami sering kekurangan lah dek, ibaratnya makan gak makan, atau orang batak bilang “marhais martuduk”yaitu, dicari pagi untuk dimakan malam hari. Jadi ketika ada teman saya yang menyuruh saya untuk bekrja di pabrikmaka saya beralih rpofesi itu pada tahun 2005. Jadi sekarang saya sudah menjadi mandor di pabrik ini”(Wawancra 11 April 2017 pukul 12.30 WIB)

Dari hasil wawancara di atas dapat dilihat bahwa penghasilan masyarakat pada saat bekerja menjadi petani sawah kurang terpenuhi. Penghasilan menjadi faktor utama masyarakat Desa Pohan Tonga beralih profesi.

4.6.2. Peluang

PT. Sumatera Specialty Coffees memberikan kesempatan yang besar kepada masyarakat Desa Pohan Tonga untuk bekerja di pabrik. Hal ini dapat terlihat dari cara perekrutan buruh di pabrik yang terbuka dan terkesan sangat mudah. Pihak perusahaan hanya meminta KTP sebagai syarat untuk berja di PT. Sumatera Speialty Coffees.

Hal dapat terungkap dengan salah informan RS (47) di lapanga yaitu :

“Peluang yang diberikan oleh pabrik sangat berguna bagi saya.Karna hanya dengan bermodalkan KTP mereka bisa menerima saya bekerja di sana” (Wawancara 12 April 2017 pukul 20.00 WIB).

4.6.3. Motivasi

Selain itu masyarakat yang memilih untuk beralih profesi adalah Ibu Rosinta Boru Sitanggang, dimana beliau beralih profesi menjadi buruh pabrik pada tahun 2013. Hal ini terungkap dalam wawancara dengan beliau yaitu:

“Saya memiliki banyak anak dek, ini sudah termasuk keluarga besar jadi saya pikir bahwa jika dengan bertani saja saya tidak akan sanggup

menyekolahkan anak-sanak saya.Saya beralih profesi pada tahun 2013 lalu.Sebenarnya saya sudah lama sekali ingin beralih profesi, tetapi suami saya tidak mengijinkan, tetapi saya lihat ekonomi kami berkurang bahkan sangat kurang, jadi saya memilih beralih profesi menajdi buruh pabrik.Hal ini terlihat baik karna saya bisa membantu suami saya memenuhi kebutuhan keluarga. Kan gaji saya lumayan untuk belanja perminggunya jugak bisa ongkos-ongkos anak saya kesekolah” (Wawancara pada 12 April 2017 pukul 20.00 WIB)

Begitu juga dengan Ibu NS (31) yang mengungkapkan hal serupa, yaitu

“Saya bekerja di pabrik karena keinginan sendiri inang, saya lihat sawah warisan suami saya tidak seberapa. Saya memiliki keinginan yang kuat untuk meningkatkan ekonomi keluarga saya” (Wawancara pada 11 Aprl 2017 pukul 20.00 WIB)

Hal tersebut dikarenakan adanya dorongan yang tinggi untuk mencapai status sosial yang lebih baik daripada status sosial sebelumnya.

4.6.4. Sosialisasi

Sosialisasi dapat diartikan sebagai proses belajar bagi seseorang atau sekelompok orang selama hidupnya untuk mengenali pola-pola hidup, nilai-nilai dan norma sosial agar dapat berkembang menjadi pribadi yang bisa diterima oeh kelompoknya. Melalui prosses sosialisasi seseorang atau sekelompok orang menjadi mengetahui dan memahami bagaiamana dia atau mereka harus bertingkah laku di lingkungan masyarakatnya.Juga mengetahui dan menjalankan hak-hak dan kewajiban berdasarkan peranan-peranan yang dimilikinya.Kehadiran PT. Sumatera Specialty Coffees dapat diterima oleh masyarakat karena disosialisasikan oleh pihak perusahaan.Humas Perusahaan mensosialisasikan perusahaan kepada masyarakat baik tujuan berdirinya perusahaan juga membuka lowonngan pekerjaan untuk diperjakan menjadi buruh pabrik.Pihak perusahaan juga mengatakan bahwa peluang perusahaan

lebih mengutamakan putra/putri daerah.95% buruh di PT. Sumatera Specialty Coffees merupakan masyarakat setempat. Hal ini di sambut baik oleh masyarakat Desa Pohan Tonga , hal ini dapat terlihat dari wawancara dengan TS saat dilapangan yaitu:

“Saya tau bahwa perusahaan membutuhkan pekerja karna waktu itu kan ada pemberitahuan kepada masyarakat, bahwa pabrik itu butuh banyak buruh dan juga mengutamakan putra-putri daerah .makanya saya melamar kesana”. (Wawancara 13 April 2017 pukul 20.00 WIB). Dari hasil wawancara di lapangan bahwa masyarakat tertarik dengan sosialisasi yang dipaparkan oleh PT. Sumatera Speialty Coffees

4.7. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Pohan Tonga Saat

Dokumen terkait