4.5.1. RG (40)
RG (40) beragama Kristen Protestan adalah seorang masyarakat Desa Pohan Tonga yan melakukan peralihan mata pencaharian dari petani sawah menjadi buruh pabrik.Informan ini merupakan suku Batak Toba.Saat ini informan tinggal di dusun IX Dusun Holbung bersama dengan 6 orang anak.Pendidikan terakhir informan adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebelumnya informan ini bekerja sebagai petani sawah , hal itu dilakoni setelah beliau menikah dengan salah satu putra daerah di Desa Pohan Tonga.
Penghasilan yang rendah menjadi alasan beliau untuk beralih profesi menjadi buruh pabrik.informan mengatakan bahwa penghasilan dari bertani tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta menyekolahkan anak-anaknya. Panen sawah hanya 2 kali dalam setahun, jadi sulit untuk membagi-bagi hasil tersebut agar sanggup digunakan sampai 6 bulan.
Selain dari penghasilan, pihak perusahaan yang membuka lebar perekrutan untuk putra-putri daerah juga merupakan salah satu pendorong beliau untuk beralih profesi.Dengan bermodalkan KTP informan bisa langsung bekerja di pabrik sebagai
buruh.RG beralih profesi semenjak tahun 2014 sampai sekarang.Ibu dari 6 anak ini adalah buruh pabrik yang bekerja sebagai buruh borongan.
Motivasi yang kuat dari informan ini untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya serta menginginkan penghasilan yang tetap.Pekerjaan sebagai buruh pabrik sudah mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, biaya sekolah, dan lain- lain.Penghasilan beliau bisa mencapai antara Rp 500.000-700.000 perminggunya tergantung kopi yang masuk dalam pabrik.
Anak dari informan yang paling besar adalah kelas 2 SMA, yang bersekolah di SMA N 2 Siborongborong. Lalu kelas 3 SMP Di SMP N 1 Siborongborong, kelas 1 SMP di SMP N 1 Siborongborong, kelas 5,3,1SD yang bersekolah di SD Pohan Tonga. Anak RG yang paling besar adalah perempuan jadi dia yang paling banyak beban di rumah membantu ibunya untuk mengurus adik-adiknya yang masih kecil.Beliau sangat memperhatikan anaknya sehingga demi kelangsungan sekolah anaknya beliau harus beralih profesi dari petani sawah menjadi buruh pabrik.
4.5.2. NS (31)
NS (31 Tahun) merupakan seorang Ibu suku Batak Toba dan beragama Kristen Protestan.Ibu dari 4 orang anak ini memilih untuk beralih profesi menjadi buruh pabrik.Beliau menikah dengan putra daerah Desa Pohan Tonga dan menetap disana lalu melahirkan 4 orang anak.Sebelumnya informan bekerja sebagai
dalam setahun. Beliau memang memiliki lahan tani selain sawah yaitu ladang kopi, tetapi karena beberapa tahun terakhir ini hasil komoditi kopi semakin berkurang, dimana kopi yang didapat hanya 3 liter/minggu dengan daya jual ± Rp 29.000/liter.
Informan melihat bahwa masyarakat yang telah beralih profesi menjadi semakin sejahtera, dimana beliau melihat keadaan ekonomi mereka juga meningkat.Sehingga muncul keinginan informan untuk memperbaiki keadaan ekonominya.Sebelum beralih profesi beliau lebih dulu menggali informasi tentang syarat-syarat bekerja di pabrik.lalu ketika tetangganya mengatakan bahwa yang dibutuhkan pihak perusahaan hanya KTP sebagai kartu tanda pengenal maka beliau memutuskan untuk beralih profesi. Hal itu mulai dilakoni pada tahun 2016 tepatnya bulan 4.
Setelah beralih profesi menjadi buruh pabrik penghasilan informan menjadi meningkat dan dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Ibu Napta bekerja di pabrik sebagai buruh borongan dengan penghasian Rp 500.000- 700.000/minggu.Dengan adanya upah yang diterima setiap minggunya, sehingga keadaan ekonomi beliau semakin meningkat.Informan akhirnya menyewakan lahan sawahnya sehingga ada tambahan penghasilan yang diterima setiap kali panen.
4.5.3. TS (34)
TS (34) agama Kristen Protestan adalah seorang ibu dari 2 anak. Anaknya yang paling besar berumur 4 tahun dan anak bungsunya berumur 1,5 tahun. Setelah
menyelesaikan studinya di tingkat SLTA beliau memilih menikah dengan marga Siahaan.Setelah menikah informan sempat bekerja menjadi petani sawah kurang lebih 3 tahun.Lahan sawah yang diolah adalah harta warisan dari keluarga suaminya.Suami informan bekerja sebagai karyawan di sebuah koperasi yang terletak di daerah Siborongborong.Beliau mengatakan bahwa upah suaminya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.Hingga pada tahun 2003, sebuah pabrik berdiri di Desa Pohan Tonga dan membutuhkan karyawan yang banyak untuk dipekerjakan menjadi buruh pabrik.Pabrik tersebut adalah PT. Sumatera Specialty Coffees.Awalnya informan ragu untuk bekerja di pabrik tersebut. tetapi karena keadaan ekonomi yang sulit, beliau memutuskan untuk beralih profesi menjadi buruh pabrik pada tahun 2005. Informan akhirnya menjadi buruh harian lepas dan menempati posisi menjadi kasir.Informan mengatakan bahwa awalnya beliau bekerja sebagai buruh borongan, tetapi karena informan punya skill di bidang akuntasi dan komputer, maka belum sampai setahun bekerja sebagai buruh borongan di pabrik, beliau sudah angsung diangkat menjadi kasir.
Setelah bekerja di pabrik, informan mengaku bahwa keadaan ekonominya menjadi semakin baik.Memiliki pekerjaan tetap dan gaji tetap merupakan keinginannya dari awal.Selain dari gaji tetap informan juga mendapatkan pemasukan setiap minggunya.Beliau mengatakan bahwa peluang kerja yang diberikan oleh PT. Sumatera Specialty Coffees sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan perekonomian keluarga.Informan tidak pernah menyesal beralih profesi menjadi
4.5.4. WS (40)
WF (40) agama Kristen Protestan warga Desa Pohan Tonga yang beralih profesi dari petani sawah menjadi buruh pabrik.Sebelumnya informan bekerja sebagai petani sawah. Ibu dari 2 anak ini mengatakan bahwa penghasilan adalah alasan utama untuk beralih profesi. Penghasilan dari bertani tidak mencukupi untuk membiayai hidup keluarga. Hal ini menyebabkan informan beralih profesi menjadi buruh pabrik. 4 tahun setelah perusahaan beridiri, beliau tidak langsung bekerja disana.Beliau masih menggeluti pekerjaan sebagai petani.Tetapi seiring berjalannya waktu, beliau melihat bahwa keadaan ekonomi lainnya yang telah beralih menjadi buruh pabrik jauh lebih baik dan rata-rata ekonominya meningkat.Hal itu memotivasi informan untuk beralih profesi menjadi buruh pabrik.setelah bertanya kepada buruh lainnya bagaimana cara untuk bekerja di pabrik, maka beliau pun beralih profesi pada tahun 2007. Informan lulusan SMA ini awalnya bekerja di pabrik sebagai buruh borongan. Tetapi pada tahun 2010 beliau diangkat menjadi buruh harian lepas yaitu kasir di pabrik tersebut. setelah bekerja menjadi buruh pabrik, beliau mengaku bahwa keadaan ekonominya semakin meningkat karena upah yang diberikan tidak terlalu kecil. Upah yang diterima informan dalam sebulan Rp1.800.000 gaji tetap ditambah lagi dengan bonus minggua n.
RS (47) merupakan ibu dari 10 orang anak yang memilih untuk beralih profesi menjadi buruh pabrik.sebelumnya pekerjaan informan adalah sebagai petani sawah. Informan bekerja sebagai petani mulai dari menikah dengan suaminya.Informan tinggal di Dusun II Hadimpu bersama suami dan anak-anaknya.3 anaknya telah tamat SMA dan kini telah merantau ke luar Sumatera, sementara 7 orang lagi masih tinggal bersama informan.Selain memiliki lahan sawah, informan juga bekerja di ladang lahan kopi milik pribadi.Informan mengatakan bahwa hasil panen sawah digunakan sebagai persedian beras untuk 6 bulan mendatang sampai panen berikutnya.Sementara hasil lahan ladang digunakan untuk kebutuhan sehari- hari.Tetapi seiring berjalan waktu kebutuhan semakin besar dan biaya untuk anak- anak mulai besar.Sehingga informan berusaha untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarga.Awalnya informan sempat kerja harian di ladang orang dengan upah Rp50.000 perhari.Tetapi itu tidak cukup untuk menutupi ekonomi keluarga yang semakin mendesak.hingga akhirnya informan meminta kepada seorang mandor di PT. Sumatera Specialty Coffees untuk dipekerjakan di pabrik tersebut. akhirnya pada tahun 2013 informan yang tidak tamat Sekolah Dasar ini bisa bekerja di pabrik tersebut hanya bermodalkan KTP. Informan bekerja sebagai buruh borongan dengan upah Rp500.000-Rp700.000/minggu.
Setelah beralih profesi menjadi buruh pabrik, informan mengatakan bahwa keadaan ekonominya lumayan membaik.Setidaknya upahnya sebagai buruh bisa menutupi ekonomi keluarga yang sempat terpuruk. Suami informan tetap bekerja
dari biaya sekolah juga belanja mingguan.Sementara hasil panen sawah tetap dijadikan sebagai persediaan beras untuk 6 bulan mendatang.
4.5.6. MH (42)
MH (42) Agama Kriten Protestan adalah masyarakat Desa Pohan Tonga yang memilih untuk beralih profesi menjadi buruh pabrik.sebelumnya pekerjaannya adalah petani. Beliau sudah melakoni pekerjaan itu mulai dari menetap di Dusun II Hadimpu. Informan sempat merantau ke Jakarta dan disana beliau bekerja sebagai supir bus.Tetapi karena alasan tertentu akhirnya informan kembali lagi ke Desa Pohan Tonga pada tahun 2003.Setelah tinggal di desa informan bekerja menjadi petani sawah.Namun beliau mengatakan bahwa penghasilan dari bertani tidak cukup.Hingga akhirnya pada tahun 2005 seorang temannya merekomendasikan untuk bekerja di pabrik PT. Sumatera Specialty Coffee, melihat keadaan ekonomi temannya yang lumayan baik maka informan pun akhirnya termotivasi untuk bekerja di pabrik tersebut.awal masuk bekerja, informan bekerja sebagai buruh borongan dengan upah Rp300.000-Rp500.000/minggu. Setelah bekerja sekian lama akhirnya pada tahun 2010 informan di angkat sebagai buruh lepas, yaitu sebagai mandor untuk buruh borongan.Beliau bertugas untuk mengawasi para buruh borongan. Upah yang diterima oleh informan sama dengan upah buruh harian lepas lainnya. Informan mengaku bahwa penghasilan sebagai buruh lebih baik daripada bertani.
4.5.7. HS (32)
HS (32) agama Kristen Protestan adalah masyarakat Desa Pohan Tonga yang beralih profesi menjadi buruh pabrik.sebelumnya informan bekerja sebagai petani, dimana beliau memiliki lahan sawah warisan orangtuanya serta menyewa ladang untuk diolah. Alasan informan untuk beralih profesi adalah keinginan untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarga dan meningkatkan status agar lebih dipandang di kalangan masyarakat.Akhirnya beliau beralih profesi menjadi buruh pabrik pada tahun 2007.Beliau melamar menjadi satpam di PT. Sumatera Specialty Coffee.Dengan bermodalkan KTP dan SKCK dari kepolisian beliau diterima di pabrik tersebut.informan pun mendapatkan pelatihan sebagai satpam untuk modal dasar sebagai satpam. Posisinya sebagai satpam termasuk dalam buruh harian lepas.Penghasilan informan dari PT. Sumatera Specialty Coffee bisa meningkatkan ekonomi keluarga.Istri informan juga bekerja di PT. Sumatera Specialty Coffee sebagai buruh borongan.Dengan penghasilan informan dan istrinya yang sama-sama berpenghasilan tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.Bahkan saat ini informan mengaku bahwa mereka bisa mengontrak rumah untuk ditinggali oleh informan dan keluarganya.
4.5.8. HG (47)
bekerjasebagai petani sawah. Keadaan ekonomi yang semakin mendesak adalah alasan utama informan untuk beralih profesi.Pada tahun 2003 informan berencana untuk berdagang di pasar tradisional Siborongborong.Namun pada saat itu juga PT. Sumatera Specialty Coffees berdiri di Desa Pohan Tonga.Humas PT. Sumatera Specialty Coffees datang bersosialisasi kepada masyarakat Desa Pohan Tonga dan menyatakan bahwa mereka membutuhkan pekerja sebagai buruh di pabrik tersebut.syarat yang sangat mudah menjadi daya tarik pabrik dalam merekrut buruh. Akhinya ayah dari 8 orang anak ini ikut bergabung di pabrik tersebut dan menjadi buruh.Informan mengatakan bahwa beliau langsung diangkat menjadi buruh tetap dan saat ini bekerja sebagai mandor.
Anak informan yang paling besar sudah berumur 26 tahun dan merantau ke Medan. Istri informan juga bekerja di pabrik yang sama tetapi istrinya sebagai buruh borongan. Alasan istrinya ikut bekerja di pabrik karena mereka tidak memiliki lahan sawah atau ladang. Sawah mereka sudah dijual untuk memperbaiki rumah serta menyekolahkan anaknya yang sedang kuliah.Kebutuhan hidup sehari-hari serta biaya sekolah anak-anaknya menjadi terpenuhi karena informan dan istrinya bekerja.
4.5.9. MS (40)
MS (40) biasanya dipanggil dengan sebutan Nai Martupa.Anaknya paling besar kini telah menduduki kelas 3 (tiga) SMP di SMP N 2 Siborongborong.Informan
menikah dengan seorang putra daerah Desa Pohan Tonga bermarga Siahaan dan menetap di desa tersebut.mereka memiliki 4 orang anak dimana semuanya perempuan. Sebelum beralih profesi menjadi buruh pabrik, pekerjaan informan adalah sebagai petani sawah juga memiliki lahan kopi.Informan mengatakan bahwa penghasilan dari bertani cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan kebutuhan lainnya.Namun keinginan yang tinggi untuk hidup lebih sejahtera lagi menjadi motivasi yang kuat bagi informan untuk beralih profesi.Pada tahun 2010 informan bergabung dengan buruh lainnya di PT. Sumatera Specialty Coffees sebagai buruh borongan. Upah yang didaptkan oleh informan sama dengan penghasilan buruh borongan lainnya, yaitu sekitar Rp 500.000-Rp 700.000 per minggu. Setelah beliau beralih profesi menjadi buruh pabrik, kehidupan beliau menjadi lebih baik, karena beliau bisa memindahkan anaknya dari Sekolah Negeri yang ada di desa nya ke Sekolah swasta di kota Siborongborong. Dengan penghasilan yang tetap maka beliau bisa lebih mengontrol ekonomi keluarganya.
4.5.10.AL (35) Humas PT.Sumatera Specialty Coffees
AL (35) agama Islam adalah salah satu masyarakat Desa Pohan Tonga yang merupakan masyarakat pendatang di desa tersebut. informan menetap di Desa Pohan Tonga karena tuntutan pekerjaan. informan tinggal di Dusun Silalahi, yaitu di Kampung Jawa. Kampung Jawa adalah lokasi dimana para pendatang dari luar desa menetap. Beliau bekerja di PT. Sumatera Specialty Coffees sebagai Humas. Setelah
Sumatera Specialty Coffees beridiri, beliau pindah dan bekerja di PT. Sumatera Specialty Coffees tersebut. Beliau bekerja di Pabrik kopi mulai tahun 2003. Alasan peneliti untuk memilih AL sebagai informan adalah karena beliau merupakan humas dari PT SSC, jadi peneliti bisa wawancara dengan pihak perusahaan dan buruh yang bekerja di pabrik selaku informan kunci dari peneliti. Untuk itu peneliti bisa membandingkan jawaban-jawaban dari pihak perusahaan dan pihan buruh, agar tidak terjadi ketimpangan antara informasi yang diberikan oleh pihak pabrik dengan informasi yang diberikan oleh buruh-buruh yang bekerja di pabrik.
4.6. Peralihan Profesi dari Petani Sawah Menjadi Buruh Pabrik