• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6. Kajian Konsep dan Teori

1.6.4. Peran Agama dan Masyarakat

Menurut Max Weber, sebagaimana dikutip oleh Irwan Abdullah, kelompok masyarakat yang transformatif dan dinamis dapat berperan sebagai motor penggerak dalam setiap perubahan. Max Weber telah menunjukkan betapa kelompok-kelompok masyarakat dapat menjadi kekuatan yang dahsyat dalam menggerakkan berbagai perubahan ke arah kemajuan. Masyarakat dengan ciri khusus – seperti kelompok yang memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap peran aktif individu dalam kehidupan yang bernilai tinggi – merupakan kekuatan

42 Untuk lebih lengkap, baca dalam Irwan Adullah, 2015, Konstruksi dan Reproduksi

perubahan yang dapat merubah tata kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Weber telah menunjukkan bahwa agama telah menjadi satu kekuatan terpenting di dalam memotivasi setiap perubahan yang berlangsung. 43Dengan demikian, kelompok masyarakat tertentu yang memegang teguh nilai agama dapat menjadi penggerak perubahan.

Diskusi tentang Jama‟ah Muslimin juga memiliki kaitan dengan fungsi ajaran agama dan masyarakat dalam mengelola keragaman etnis. Pendekatan agama sebagai upaya mengelola keragaman etnis yang ujungnya untuk mencegah konflik, memberikan ruang untuk melakukan mediasi, membuka ruang dialog untuk menemukan sebuah solusi dalam menata kerukunan. Berdialog dilakukan untuk memberikan kepada ruang publik guna memahami akar persoalan yang dapat memicu terjadinya konflik. Sebagai sebuah gerakan anti kekerasan, proses dialogis dilakukan dengan pendekatan agama, memahami ranah fungsi agama pada suku atau kelompok tertentu. Menekankan pada keadilan dan kesetaraan serta resolusi konflik yang concern pada kepentingan kolektif. Maka sikap saling menghormati, bijak (arif) merupakan kebutuhan dari semua pihak yang terlibat konflik, dan desakan akan sebuah kesamaan kedudukan, adalah faktor yang dapat menciptakan keadilan sosial. Selain itu, keadilan sosial juga menjadi orientasi dalam kaitannya dengan kondusifitas antar kelompok untuk merajut rekonsiliasi dan transformasi konflik.

Anshoriy Ch juga memaparkan bahwa dalam upaya menjaga kerukunan dan, maka yang pertama harus dilakukan adalah penanaman kesadaran kepada

43 Irwan Abdullah, “Menuju Pembangunan Partisipatif, Bagaimana Mendayagunakan Kebudayaan Lokal?” JKAP, Volume 1, Nomor 2, Juli 1997, 17-18

masyarakat akan keragaman (plurality), kesetaraan (equality), kemanusiaan (humanity), keadilan (justice) dan nilai-nilai demokrasi (democration values) dalam beragam aktifitas sosial. Konflik semestinya menjadikan sebuah refleksi atas perbuatan masyarakat dalam interaksinya. Proses untuk mengidentifikasi, mengolah, dan memberikan gambaran penyelesaiannya. Sehingga memahami konflik bukan hanya sebatas bagaimana mencarikan jalan solusinya, namun proses manajemen konflik; mengklasifikasi persoalan, mengolah, merekam perbedaan, kemudian menyatukan persepsi untuk mediasi dan berdialog. Terjadinya kasus percekcokkan dalam masyarakat harus dipandang sebagai hal yang wajar. Tidak ada masyarakat yang sama sekali terbebas dari konflik. Terdapat adagium Arab yang berbunyi, ridla al-nas ghaya la tudrak (kerelaan semua orang adalah tujuan yang tidak pernah tercapai). Yang tidak wajar adalah jika konflik dan perselisihan itu meningkat sehingga menimbulkan situasi permusuhan dalam bentuk pengkafiran (takfir) satu dengan yang lain. Sikap toleransi dalam berbangsa, bernegara, dan berbudaya terutama dalam merespon pluralitas bangsa, perlu ditanamkan di masyarakat. Adanya saling pengertian, tenggang rasa, gotong royong, saling menghargai dan menghormati merupakan proses-proses dialogis yang harus dipahami bersama secara individu maupun secara kelompok. Perbedaan bukan kendala untuk bersatu, justru dengan keanekaragaman bangsa, akan mendewasakan individu maupun kelompok dalam memahami pluralitas bangsa. Toleransi merupakan wujud kedewasaan seseorang, terutama kaitannya dengan menghargai dan menghormati kebebasan dalam beragama, pilihan dalam politik, perbedaan suku bangsa. Bagi sebuah bangsa

yang bangga dengan keragaman etnis dan budayanya tentu hampir mustahil untuk melebur masyarakatnya menjadi homogen. Oleh karena itu, penghargaan terhadap keragaman dipandang lebih sesuai demi lestarinya identitas masing-masing unsur, dengan duduk berdampingan dan bekerja bersama demi tujuan bersama pula.44

Pluralisme yang meniscayakan adanya perbedaan itu sesungguhnya mengusung semangat untuk hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence) dalam perbedaan kultur yang ada. Menurut Parsudi, fokus multikulturalisme adalah pada pemahaman dan hidup dengan perbedaan sosial dan budaya, baik secara individual maupun secara kelompok dan masyarakat. Individu dalam hal ini dilihat sebagai refleksi dari kesatuan sosial dan budaya di mana mereka menjadi bagian darinya. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa perbedaan dalam perspektif pluralisme bukanlah sesuatu yang bersifat negatif, tetapi justru karena adanya perbedaan itulah manusia bisa saling memberikan warna satu sama lain dalam kehidupan mereka. Tanpa perbedaan, hidup akan terasa hambar.

Agama banyak dielaborasi sebagai wahana penetralisir konflik. Faktor faktor kesamaan latar belakang agama antara pihak yang berkonflik menjadi alasan digulirkannya pesan damai yang bersumber pada ajaran agama. Dalam agama Islam ada doktrin semua Muslim bersaudara, Muslim yang satu dengan Muslim yang lain ibarat satu jasad dan larang keras menyakiti sesama Muslim. Keragaman doktrin agama yang digunakan dalam upaya meredam konflik sangat

44

Erham Budi Wiranto, “Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pembauran Kebangsaan”, makalah disampaikan dalam Seminar / Rapat Kerja Forum Pembauran Kebangsaan, Yogyakarta: Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, 24 Februari 2016, hal. 3. Makalah dapat diunduh pada

terlihat pada kasus pengelolaan keragaman kelompok etnis yang dilakukan Jama‟ah Muslimin di Kota Singkawang.

Menurut Hasbi Abdullah tokoh sentral Jama‟ah Muslimin Bukit Batu Kota Singkawang mengatakan bahwa tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan kemungkaran, menghalalkan permusuhan, pertikaian, membenarkan pembunuhan, membolehkan penindasan dan perampasan atas hak orang lain, serta segala bentuk kejahatan lainnya. Agama Islam misalnya, selalu mengajarkan kepada para penganutnya untuk senantiasa berbuat kebaikan seperti tertuang dalam al-Qur‟an: berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, tolong menolong antar sesama, menebarkan cinta kasih, kasih sayang, ishlah (perdamaian), keadilan, persaudaraan dan nilai-nilai kemanusiaan yang lain --meminjam bahasa agama „rahmatan lil „alamin‟ (rahmat bagi segenap makhluk Tuhan di alam raya ini).45

Lebih jauh dijelaskan peran agama dalam proses mengelola keragaman etnis etnis, adalah sebagai media yang dapat memberikan arah dan pedoman, baik individu maupun kelompok, dalam bertindak, sehingga agama dipandang sebagai “jalan keselamatan”. Fungsinya sebagai jalan keselamatan tidak akan pernah tercapai jika tidak melakukan pendalaman guna memperoleh pencerahan atas “kebenaran hakiki”. Dalam alam ajaran agama, istilah superior dan inferior antar etnis tidak pernah dikenal, satu ras lebih mulia dan terhormat ketimbang yang lain bukan merupakan ajaran Islam. Al-Qur‟an menjelaskan bahwa penciptaan umat

45

Munawar, Sejarah Konflik Antar Suku di Kabupaten Sambas, Pontianak: Kalimantan Persada, 2003, hal. 30

manusia dalam kebhinekaan suku bangsa, agama, ras dan golongan adalah untuk saling kenal mengenal (li ta‟arafuu), saling memahami budaya dan bahasa, serta adat istiadat. Orang yang paling mulia dan tinggi derajatnya adalah yang paling bertaqwa, dan Tuhan berkuasa mutlak menciptakan manusia dalam satu suku bangsa saja, akan tetapi tidak dilakukan dalam rangka uji coba terhadap manusia dan dalam upaya mengajarkan kepada manusia untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan (QS.5:48).

Pengertian pengelolaan keragaman kelompok etnis dalam bahasa agama disebut ishlah, yang secara harfiah berarti baik atau membawa manfaat dan kebaikan. Dalam Alquran, kata ishlah (shalaha) selalu dilawankan dengan kata fasad atau kerusakan, (QS A`raf [8]: 56) dan sayyi'ah atau keburukan (QS Al-Taubah [9]: 102). Ishlah berarti, memperbaiki sesuatu (yang rusak) agar kembali menjadi baik. Jadi, dalam kata ishlah terkandung makna mencegah kerusakan dan meningkatkan kualitas, sehingga sesuatu kembali menjadi baik dalam arti berfungsi dan mendatangkan manfaat. Kaum Muslim diperintahkan agar melakukan ishlah, baik menyangkut konflik dalam keluarga (QS al-Nisa [4]: 128), konflik internal umat Islam (QS al-Hujurat [49]: 9), maupun konflik pada tataran yang lebih luas. Firman-Nya, ''Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.'' (QS Al-Anfal [8]: 61).

Jama‟ah Muslimin di Kota Singkawang juga memiliki pandangan bahwa merupakan suatu kewajiban mereka untuk berperan dalam penyelesaian suatu konflik bahkan mengapresiasi upaya rekonsiliasi itu sebagai kebaikan yang

bobotnya lebih besar ketimbang shalat dan sedekah. Berdasarkan Pendekatan ishlah atau rekonsiliasi inilah yang digunakan oleh Jama‟ah Muslimin KalBar dalam upaya menyelesaikan berbagai macam konflik yang terjadi di KalBar, terutama di Kota Singkawang. Persaudaraan atas dasar dienul Islam atau yang lebih dikenal sebagai ukhuwah Islamiyah merupakan salah satu faktor yang menopang kekuatan umat Islam. Konsep ukhuwah Islamiyah mampu meretas ikatan primordial, seperti ikatan darah, ikatan suku, keturunan (nasab) dan golongan. Melalui ikatan ukhuwah Islamiyah akan mengikat ruh umat Islam atas dasar keimanan kepada Alah SWT. sebagai satu-satunya tempat kembali.

Lebih jauh diskusi tentang peran agama dan masyarakat dalam pengelolaan keragaman etnis, Diah Key memberikan penjelasan sebagai berikut: “Mengelola identitas jika dilihat sebagai instrumen konflik antara lain: melarang kampanye negatif tentang identitas lain; mendorong komunitas untuk membuka diri. Contoh: imam di London membuka diri terhadap warga non Muslim Inggris bahkan mengundang mereka untuk mengikuti acara-acara di Masjid. Hal ini dilakukan guna menghilangkan kecurigaan masyarakat Inggris akan tumbuhnya militansi Muslim pasca bom London, serta untuk menutup kemungkinan dijadikannya masjid sebagai basis propaganda jaringan teroris. Beberapa sekolah di Afrika Selatan, pelajaran agama diberikan secara inklusif untuk semua siswa, artinya pelajaran agama Islam tidak hanya ditujukan bagi yang beragama Islam, tetapi untuk semua. Begitu pula pengajaran agama, mendorong terbentuknya ikatan pertemanan, organisasi, asosiasi yang bersifat inklusif dan lintas identitas, bukan yang bersifat eksklusif. Mendorong interaksi antar identitas. Contoh:

menjadikan pecinan atau kawasan etnis lain (Little India, Little Italy) sebagai kawasan wisata guna memajukan interaksi antar identitas; menjadikan ritual agama dan etnis sebagai agenda nasional yang dimeriahkan oleh identitas lain” 46

Winataputra, menambahkan apa yang sudah dipaparkan Diah di atas, bahwa untuk mengatasi pertentangan antar budaya dan etnis yang berujung konflik kekerasan antar kelompok etnis di Indonesia, perlu membangun karakter warganegara47. Salah satu karakter warga negara yang diharapkan adalah;

1) Mengenali keberagaman dan keberbedaan budaya, etnik, agama adat, istiadat dan aspek sosial lainnya dari bangsa Indonesia.

2) Mencintai, menghargai dan menghormati keberadaan dan keberbedaan budaya, etnik, adat istiadat dan aspek sosial lainnya.

3) Mencintai sesama warga Negara Indonesia tanpa memandang perbedaan etnik, agama dan budaya. Menyadari bahwa tanah air Indonesia adalah tanah air kita, seluruh warga Negara Indonesia. Oleh karena itu siapapun berhak hidup dan tinggal di seluruh tanah air ini. 4) Menyadari bahwa semua warga Negara Indonesia, di manapun mereka

berada adalah bersaudara. Untuk itu perlu adanya komunikasi antar kelompok tersebut, sehingga persaudaraan kita tidak terputus oleh jarak dan perbedaan.

5) Menjaga kelestarian dari keberadaan dan keberbedaan budaya, agama, etnik, adat istiadat.48

Keberadaan agama sebagai media untuk mengelola keragaman etnis etnis

46 Diah Key, staff.ugm. ac.id,/file/ identitas 5%20&%20. konflik.doc, diakses tanggal 19 Mei 2012.

47 Menurut Margaret S. Branson, dkk mengemukakan karakter warganegara adalah sikap atau kebiasaan pikiran warganegara yang kondusif bagi berfungsinya dan kelangsungan sistem demokrasi. Menutunya karakter warganegara adalah: 1. Keadaban (civility); 2.Tanggungjawab individu dan kecenderungan untuk menerima tanggungjawab pribadi dan konsekuensi tindakan pribadi; 3.Disiplin diri dan penghormatan peraturan peraturan untuk pemerintahan konstitusional tanpa perlu paksaan dari otoritas eksternal; 4.Rasa kewargaan (civic mindedness) dan kehendak untuk mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi; 5.Kemampuan untuk kompromi, menyadari bahwa nilai dan prinsip kadang-kadang saling bertentangan karena pengakuan bahwa tidak semua nilai dan prinsip bisa dikompromikan, karena kadang-kadang kompromi bisa mengancam kelangsungan demokrasi; 6.Toleransi terhadap keagamaan.

48Udin S. Winataputra, ,dkk, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Jakarta: Universitas Terbuka, 2003, hlm. 34.

dalam konteks penelitian ini sangat penting. Sebab kehadirannya dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi, baik individu maupun kelompok, dalam menjaga kerukunan dan toleransi antar umat beragama, sehingga agama dipandang sebagai “balancing power” (kekuatan penyeimbang). Fungsinya sebagai kekuatan penyeimbang tidak akan pernah tercapai jika belum melakukan telaah yang mendalam tentang hakekat beragama yang sesungguhnya. Dalam al-Qur‟an dijelaskan bahwa penciptaan umat manusia dalam keberagaman suku bangsa, agama, ras dan golongan adalah untuk saling kenal mengenal (li ta‟arafuu), saling memahami budaya dan bahasa. Dalam al-Qur‟an (QS.5:48) disebutkan bahwa yang paling mulia dan tinggi derajatnya di sisi Tuahn adalah yang paling bertaqwa, dan Tuhan berkuasa mutlak menciptakan manusia dalam satu suku bangsa saja, akan tetapi tidak dilakukan dalam rangka uji coba terhadap manusia dan dalam upaya mengajarkan kepada manusia untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

Sementara itu Fazlur Rahman (1980:42-43) pernah mengungkapkan bahwa yang dikatakan taqwa dalam al-Qur‟an ialah keseimbangan unik yang terjadi karena aksi-aksi moral yang integral. Manusia yang bertakwa dapat dilihat dari kepribadiannya yang benar-benar utuh dan integral.“Mengingat Allah” merupakan jalan satu-satunya mengokohkan kepribadian manusia, karena “melupakan-Nya” berarti menghancurkan kepribadian individu maupun masyarakat, selain menggoyahkan keseimbangan tingkah laku manusia. Jadi, takwa berarti melindungi diri dari akibat-akibat perbuatan sendiri yang buruk dan jahat, karena tidak “melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah/jalan

tengah” dengan selalu mengingat-Nya. Di samping itu, Rahman (1980:37) juga menyebutkan bahwa yang menjadi tujuan sentral al-Qur‟an adalah untuk menciptakan sebuah tatanan sosial yang mantap dan hidup di muka bumi, yang adil dan diasaskan pada etika.

Dokumen terkait