campur, Bahasa daerah, Imamah
GOAL: RUKUN DAN
1.7. Metode Penelitian 1. Lokasi Penelitian
1.7.4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Data diambil dengan mewawancarai pengurus Jama‟ah Muslimin, Pejabat Pemerintah Kota Singkawang, Pejabat Pemerintah Kabupaten Sambas serta anggota Jama‟ah Muslimin korban kerusahan etnis yang telah menjadi penghuni Jama‟ah Muslimin di Shuffah Bukit Batu Nibayah Kota Singkawang. Kriteria tersebut berdasarkan pertimbangan peneliti bahwa para informan adalah para pihak yang secara langsung mengelola keragaman etnis kelompok etnis tersebut. Data yang diperoleh dari para pengurus dan anggota komunitas itu dianggap sebagai data utama (data primer). Key informan merupakan para pengurus Jama‟ah Muslimin dan anggota Jama‟ah Muslimin tersebut.
Pengumpulan data dititik-beratkan pada hal-hal yang terkait dengan eksistensi Jama‟ah Muslimin dengan segala bentuk dinamika yang dilaluinya. Observasi dilakukan di Kota Singkawang untuk melihat dinamika kehidupan di tempat Jama‟ah Muslimin. Interview dilakukan terhadap ‘Juru Bicara’ dan beberapa pengikut Jama‟ah Muslimin. Adapun studi dokumentasi dilakukan terhadap naskah-naskah yang memiliki relevansi dengan kajian dalam disertasi ini yakni kebijakan pemerintah mengenai keberadaan Jama‟ah Muslimin di Kota Singkawang.
Penelitian ini adalah penelitian studi kasus (case study) dengan menggunakan pendekatan kualitatif51. Objek yang dikaji adalah pengelolaan
51
Parsudi Suparlan mengartikan pendekatan dalam konsep ilmiah adalah sama dengan metodologi, yaitu sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu yang menjadi perhatian atau masalah yang dikaji. Demikian juga dengan makna metodologi yang juga mencakup berbagai teknik yang digunakan untuk
keragaman di Kota Singkawang. Menurut Bogdan dan Bikien studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu.52 Surachmad (1982, hal; 46) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen; (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya
Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya bahwa dalam penarikan sampel, pada umumnya menggunakan dua cara, yaitu probability sampling dan nonprobability sampling. Teknik penarikan sampel ini akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Purposive Sampling
Purposive sampling dikenal juga dengan sampling pertimbangan. Purposive sampling ialah teknik sampling yang digunakan peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya atau penentuan sampel untuk tujuan tertentu. Oleh karena itu,
melakukan penelitian atau pengumpulan data sesuai dengan cara melihat dan memperlakukan masalah yang dikaji. Dengan demikian pengertian pendekatan atau metodologi tidak hanya diartikan sebagai sudut p andang atau cara melihat sesuatu permasalahan yang menjadi perhatian tapi j uga mencakup pengertian metode -metode atau teknik -teknik penelitian yang sesuai dengan pendekatan tersebut (Lihat Suparlan dalam Mastuhu dan Ridwan, ed., 1998: 110).
52 Bogdan, dkk. 1982. Qualitative Research for Education : an Introduction to Theory and
sampling ini cocok untuk studi kasus yang mana aspek dari kasus tunggal yang representatif diamati dan dianalisis.
b. Sampling Aksidental
Sampling Aksidental ialah teknik penentuan sampel berdasarkan faktor spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan sesuai dengan karakteristik (ciri-cirinya), maka orang tersebut dapat digunakan sebagai sampel (responden).
c. Snowball Sampling
Snowball sampling yaitu teknik sampling yang semula jumlah informan berjumlah kecil kemudian anggota informan mengajak para temannya untuk dijadikan sampel dan seterusnya sehingga jumlah sampel semakin membengkak jumlahnya. Seperti bola salju yang sedang menggelinding semakin jauh semakin membesar. Penelitian yang cocok menggunakan sampling ini biasanya menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan informasi yang kurang akan dilakukan berulang ulang (snowball) sampai mendapat kejelasan.
Data yang digunakan adalah data yang bersifat kualitatif karena data yang tersaji dikumpulkan dengan cara-cara pengumpulan data yang lazim digunakan dalam pengumpulan data yang bersifat kualitatif, khususnya observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi.
a. Pengamatan (observation)
Fokus pengamatan dalam penelitian disertasi ini adalah kegiatan pengamatan secara cermat tentang pengelolaan keragaman kelompok etnis yang
dalam penelitian ini dilakukan untuk mengamati aktivitas para pengurus dan anggota komunitas Jama‟ah Muslimin, seperti: (a) aktivitas pengurus komunitas Jama‟ah Muslimin; (b) tujuan dalam mengelola kelompok etnis yang dilakukan oleh komunitas Jama‟ah Muslimin; (c) bagaimana pembinaan komunitas itu terhadap baik anggota baru maupun lamauntuk menuju pembauran. Fokus observasi dalam penelitian ini adalah pengurus dan anggota komunitas Jama‟ah Muslimin di Kota Singkawang. Observasi dilakukan dengan tinggal beberapa minggu di pemukiman komunitas Jama‟ah Muslimin. Peneliti mengamati aktivitas harian dilanjutkan dengan penelusuran di lapangan untuk menyelidiki hubungannnya dengan komunitas lainnya di sekitar pemukiman mereka tanpa ada batasan geografis.
Fokus observasi dalam penelitian ini adalah Jama‟ah Muslimin Kota Singkawang. Observasi yang dilakukan adalah observasi terlibat dengan tinggal beberapa minggu di pusat perkampungan Jama‟ah Muslimin. Selama berada di daerah penelitian, peneliti menginap di dua tempat yang berbeda: satu di rumah salah seorang jamaah, sementara tempat lain menginap di rumah salah satu pengurus Jama‟ah Muslimin. Selama tinggal di perkampungan Jama‟ah Muslimin banyak hal yang ditemukan seperti kondisi yang akrab dan suasana kekeluargaan.
Di antara mereka tidak tampak lagi perbedaan berdasarkan suku dan latar belakang budaya. Mereka bercampur-baur yang hanya dibedakan berdasarkan geografis atau tempat/domisili/tempat. Dalam diskusi-diskusi yang santai, mereka tidak pernah memperbincangkan persoalan politik dan khilafiyah. Diskusi dan perbincangan banyak menyoal persoalan-persoalan sehari-hari baik yang terjadi di
sekitar mereka maupun yang tersaji lewat media informasi seperti berita-berita televisi dan koran. Mereka pun memiliki sikap toleransi yang sangat tinggi. Ini dapat dilihat pada saat salah satu dari mereka, baik Jama‟ah Muslimin maupun di luar Jama‟ah Muslim melakukan ibadah atau ritual. Observasi bertujuan melihat dan mengamati dinamika kehidupan sehari-hari mereka. Peneliti telah melakukan penelusuran di lapangan untuk mengetahui dinamika kehidupan Jama‟ah Muslimin seperti relasinya dengan di luar Jama‟ah Muslimin. Kedua komunitas hidup di daerah yang sama tanpa ada batasan secara geografis. Baik Jama‟ah Muslimin maupun masyarakat di luar Jama‟ah Muslimin saling bertetangga. Jarak rumah mereka pun hanya beberapa meter. Bahkan, terdapat rumah yang tidak dipisahkan oleh pagar. Karena jarak rumah yang sangat berdekatan, perbincangan di rumah sebelah pun terdengar dengan jelas di rumah yang lain.
b. Wawancara Mendalam (Indepth interview)
Wawancara mendalam adalah proses mencari informasi dari informan kunci yang ditemukan dalam proses penelitian di lapangan. Teknik pengumpulan data yang utama adalah dengan cara wawancara mendalam (indepth interview) yang dibantu dengan pedoman wawancara, serta observasi secara langsung.53 Pengumpulan data yang dilakukan di lapangan yaitu mencari informan dari Pengurus Jama‟ah Muslimin, anggota Jama‟ah Muslimin, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintah Kota Singkawang dan Kabupaten Sambas, kemudian mewawancarai informan satu persatu secara mendalam mengenai bagaimana mengelola keragaman etnis yang dibantu dengan pedoman wawancara yang
53 Burhan H.M. Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik,
berisikan pertanyaan yang akan diajukan kepada informan.
Wawancara mendalam dilakukan untuk memperoleh data mengenai persepsi para informan terhadap kerusuhan sosial yang pernah mereka alami. Wawancara ini dilakukan dengan para pengurus Jama‟ah Muslimin (ustadz). Mereka dipandang berperan besar terhadap keberhasilan dalam mengelola keragaman etnis etnis dikarenakan peran mereka sebagai pengurus jama‟ah yang melakukan pembinaan terhadap anggotanya. Kemudian, informan lainnya adalah para anggota Jama‟ah Muslimin yang ada di pemukiman tersebut.
Selain itu, wawancara mendalam dilakukan sesuai pertimbangan peneliti, dengan beberapa orang dipilih berdasarkan kapasitas masing-masing, seperti: aparatur pemerintah, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda. Pada tingkat elite komunitas Jama‟ah Muslimin, peneliti mewawancarai Ustadz Hasbi Naibul Imam figur sentral Jama‟ah Muslimin, Uray Helwan juru bicara Jama‟ah Muslimin Kota Singkawang bicara dan Uray Salam Waliyul Imam Wilayah Jama‟ah Muslimin KalBar. Peneliti juga mewawancarai Ustadz Saleh dan Seneng Sutioyoso selaku informan kunci.
c. Teknik Dokumentasi
Kajian dokumentasi merupakan sarana pembantu peneliti dalam mengumpulkan data atau informasi mengenai sejarah dan perkembangan Jama‟ah Muslimi dengan cara membaca surat-surat, pengumuman, iktisar rapat, pernyataan tertulis kebijakan tertentu dan bahan-bahan tulisan lainnya. Metode pencarian data ini sangat bermanfaat karena dapat dilakukan dengan tanpa mengganggu obyek atau suasana penelitian. Peneliti dengan mempelajari dokumen-dokumen tersebut
dapat mengenal budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh obyek yang diteliti. Pengumpulan data perlu didukung pula dengan pendokumentasian, dengan foto, video, dan VCD. Dokumentasi ini akan berguna untuk mengecek data yang telah terkumpul. Pengumpulan data sebaiknya dilakukan secara bertahap dan sebanyak mungkin peneliti berusaha mengumpulkan. Maksudnya, jika nanti ada yang terbuang atau kurang relevan, peneliti masih bisa memanfaatkan data lain.
Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa studi dokumen menjadi metode pelengkap bagi penelitian kualitatif, yang pada awalnya menempati posisi yang kurang dimanfaatkan dalam teknik pengumpulan datanya, sekarang ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari teknik pengumpulan data dalam metodologi penelitian kualitatif. Hal senada diungkapkan Nasution bahwa meski metode observasi dan wawancara menempati posisi dominan dalam penelitian kualitatif, metode dokumenter sekarang ini perlu mendapatkan perhatian selayaknya, dimana dahulu bahan dari jenis ini kurang dimanfaatkan secara maksimal.54 Ada catatan penting dari Sugiyono mengenai pemanfaatan bahan dokumenter ini, bahwa tidak semua dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi, sehingga selektif dan hati-hati dalam pemanfaatannya.55
Studi dokumentasi yang telah dilakukan adalah membaca literatur-literatur hasil penelitian para peneliti sebelumnya seperti penelitian yang pernah dilakukan oleh Seneng Sutioso. Data yang ada pada hasil penelitian tersebut diolah kembali untuk membandingkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam
54
Nasution, Metode Research, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003, hal. 85
55
Jama‟ah Muslimin. Data penelitian tersebut dijadikan data pelengkap dalam disertasi ini karena masih memiliki relevansi dalam konteks kekinian seperti sikap solidaritas, soliditas, dan toleransi Jama‟ah Muslimin. Pernyataan-pernyataan tokoh Jama‟ah Muslimin terhadap persoalan tertentu seperti persepsi terhadap keragaman kelompok etnis masih relevan sehingga peneliti mengutip beberapa petikan wawancara dari penelitian tersebut dan mencantumkan penulisnya dalam daftar pustaka.
Selain itu, terdapat beberapa dokumen penting mengenai keberadaan Jama‟ah Muslimin Kota Singkawang yang berbentuk surat keputusan, keputusan pemerintah daerah, Kejaksaan, Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia dan lain-lain. Dokumen tersebut tersaji dalam bentuk lampiran dalam disertasi ini, namun tidak lagi dalam bentuknya yang asli tetapi telah mengalami proses pengetikan sesuai dengan naskah aslinya. Beberapa dokumen yang dimaksud dilampirkan dalam lampiran disertasi ini.
1.7. 5. Teknik Analisis, dan Pengolahan Data
1) Teknik Analisis Data
Teknik analisa data pada penelitian ini, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, serta setelah selesai pengumpulan data dalam waktu tertentu. Pada saat melaksanakaan wawancara (indepth interview) analisis terhadap jawaban dari informan yang diwawancarai, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban dari informan yang kurang memuaskan maka peneliti akan melanjutkan/ mengajukan pertanyaan lagi sampai diperoleh data yang lebih jelas dan mendalam dan dianggap kredibel.
2) Teknik Pengolahan Data
Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama, reduksi data. Data yang diperoleh baik dari observasi, wawancara mau-pun studi dokumen disimpulkan melalui penafsiran peneliti yang menjadi data siap dituangkan dalam tulisan. Kedua, display data. Data yang berhasil dikumpul-kan dijabardikumpul-kan dalam bentuk kategori-kategori untuk mempermudah proses verifikasi. Pada tahap ini, diperoleh sinopsis dan kumpulan-kumpulan data kualitatif. Ketiga, verifikasi data. Pada tahap ini, data dikelompokkan sesuai dengan kategori masing-masing. Keempat, penulisan. Penulisan didasarkan pada data yang telah diolah. Sajian data dalam bentuk tulisan dilakukan setelah melalui penafsiran-penafsiran sehingga data seperti wawancara langsung disajikan dalam bentuk kutipan wawancara dan data jadi setelah diinterpretasi oleh peneliti. Metode analisis yang digunakan adalah analisis interpretatif, yakni dengan menginterpretasikan data dalam konteks kulturalnya. Data dipahami sebagai konstruk identitas dan kultural masyarakatnya.