1.6. Kajian Konsep dan Teori
1.6.1. Teori Integrasi Sosial
Pendekatan sosiobudaya biasanya menempatkan masyarakat dalam suasana yang selalu antagonis, sehingga keragaman kelompok etnis dipandang sebagai sesuatu yang selalu hadir dan tidak bisa dihindari. Pembangunan sosial budaya selayaknya mengandung arti sebagai proses akulturasi dikarenakan nilai-nilai baru yang berkembang di masyarakat guna menuju kondisi yang lebih baik. Perbedaan-perbedaan suku, bangsa, agama, adat dan kedaerahan seharusnya tidak menjadikan suatu daerah yang majemuk jatuh ke dalam ketegangan budaya karena merupakan ciri masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk –suatu istilah yang pertama sekali diperkenalkan oleh Furnivall. Dalam masyarakat yang majemuk menjadi sulit dipahami norma yang berbeda-beda yang menjadi dasar kehidupan sub kelompok yang berbeda-beda itu. Interaksi sosial antar penduduk dengan kemajemukan tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah suku agama dan Ras (SARA) dan sekaligus mendorong masing-masing pihak memperkuat identitas suku dan ikatan primordialnya.35 Oleh karena itu, integrasi sosial menjadi sebuah keharusan bagi sebuah masyarakat yang majemuk.
Teori Integrasi sosial pada umumnya juga diambil dari Durkheim. Durkheim percaya bahwa masyarakat mendapatkan kekuatannya dari individu-individu. Menurut Durkheim, norma-norma masyarakat, keyakinan, dan nilai-nilai membentuk sebuah kesadaran kolektif (collective conciousness), kemudian kesadaran kolektif inilah yang mengikat orang untuk bersama-sama, dan pada gilirannya terciptalah integrasi sosial.
Integrasi sosial dalam analisa Durkheim memang sedang terancam oleh modernitas. Orang-orang modern mulai melonggarkan ikatan tradisional keluarga, agama, dan solidaritas moral yang sebelumnya telah menjadi pembentuk integrasi sosial. Itulah yang lazim terjadi pada masyarakat yang oleh Durkheim dijuluki masyarakat dengan solidaritas organik, sebuah masyarakat yang semakin individualis semenjak terkena imbas dari pembagian kerja (division of labour), bahkan masyarakat yang demikian paling rentan melakukan bunuh diri karena integrasi sosial yang terdegradasi. Hal ini berbeda dengan masyarakat solidaritas mekanik, yang biasanya lebih sederhana, bersahaja, menghargai tradisi, dan secara mandiri mau berhubungan dengan orang lain dengan ikatan yang lebih lekat.36
Durkheim juga melihat bahwa integrasi sosial dapat dibentuk oleh kesadaran kolektif yang ditopang oleh agama atau kepercayaan. Menurut Durkheim agama memang memiliki fungsi utama demikian, bahkan Durkheim meyakini bahwa agama justru dibentuk oleh kebutuhan akan integrasi sosial tersebut. 37 Setidaknya hal tersebut tampak dalam ulasan Durkheim tentang masyarakat Aborigin beserta konsep-konsep penting keagamaan seperti totem dan taboo. Pada intinya, integrasi sosial menurut Durkheim dapat mengada jika telah muncul kesadaran kolektif. Sedangkan kesadaran kolektif dapat muncul dari berbagai macam aspek, terutama nilai-nilai, kepercayaan, dan kepentingan bersama.
Oleh karena itu, dalam konteks penelitian ini, dapat dipahami bahwa
36
Lisa F. Berkman, “From social integration to health: Durkheim in the new millennium”,
Social Science & Medicine Journal, 51, 2000, hal. 844.
37 https://www.boundless.com/sociology/textbooks/boundless-sociology-textbook/sociology-1/the-history-of-sociology-23/durkheim-and-social-integration-151-3416/
integrasi sosial hadir sebagai proses pemufakatan atau perdamaian dalam menyamakan persepsi dan cara pandang yang dimiliki oleh individu dan kelompok demi terbentuknya satu nilai bersama yang menjadi kesadaran kolektif. Integrasi sosial juga menyarankan penggunaan cara-cara yang lebih demokratis dan konstruktif untuk mengelola keragaman etnis etnis dengan memberikan kesempatan pada pihak-pihak yang bermasalah untuk memecahkan masalah mereka oleh mereka sendiri atau dengan melibatkan pihak ketiga yang bijak, netral dan adil untuk membantu pihak-pihak yang berkonflik dalam memecahkan masalahnya. Oleh karenanya dalam langkah pemufakatan ini maka menuntut adanya proses mediasi dan refleksi sebagai langkah komunikasi menyatukan persepsi untuk mencari sebuah solusi yang mendamaikan.
Integrasi dapat terwujud melalui beberapa proses; Pertama interaksi, proses interaksi merupakan proses paling awal untuk membangun suatu kerja sama dengan ditandai adanya kecenderungan-kecenderungan positif yang dapat melahirkan aktivitas bersama. Kedua, Proses Identifikasi. Proses interaksi dapat berlanjut menjadi proses identifikasi manakala masing-masing pihak dapat menerima dan memahami keberadaan pihak lain seutuhnya. Pada dasarnya, proses identifikasi adalah proses untuk memahami sifat dan keberadaan orang lain. Ketiga kerjasama. Menurut Charles H Cooley mengatakan bahwa kerja sama timbul apa bila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut melalui kerja sama, kesadaran akan adanya
kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerja sama yang berguna. Keempat, proses akomodasi. Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga lawan tersebut kehilangan kepribadiannya. Kelima proses asimilasi. Asimilasi merupakan suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Keenam proses integrasi. Proses integrasi merupakan proses penyesuaian antar unsur masyarakat yang berbeda hingga membentuk suatu keserasian fungsi dalam kehidupan.38
Dalam integrasi sosial, terdapat kesamaan pola pikir, gerak langkah, tujuan dan orientasi serta keserasian fungsi dalam kehidupan. Adanya hal ini dapat mewujudkan keteraturan sosial dalam masyarakat. Dalam proses asimilasi, integrasi sosial dapat dicapai karena adanya faktor-faktor sebagai berikut ; (1) Toleransi terhadap perbedaan; (2) Kesempatan yang seimbang dalam bidang ekonomi; (3) Sikap saling menghargai orang lain; (4) Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat; (5) Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan; (6) Perkawinan campuran (amalgamation); (7) Adanya musuh bersama dari luar. Untuk mencapai keberhasilan integrasi sosial dalam masyarakat diperlukan setidaknya dua hal berikut untuk menjadi solusi atas perbedaan yang terdapat
38
dalam masyarakat. Pertama; setiap diri individu masing-masing harus mengendalikan perbedaan atau konflik yang ada pada suatu kekuatan bangsa dan bukan sebaliknya dan; Kedua, tiap warga masyarakat merasa saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang lainnya, sehingga dalam masyarakat tercipta keharmonisan dan saling memahami antara satu sama lain, maka konflik pun dapat dihindarkan.39