• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Metode Ilmiah Ilmu Alam dalam Memahami Kebangkitan Yesus

KEBANGKITAN DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI ALAMIAH THOMAS F. TORRANCE

2.4 Peran Metode Ilmiah Ilmu Alam dalam Memahami Kebangkitan Yesus

Pengetahuan yang dimiliki manusia untuk memahami peristiwa kebangkitan Yesus bisa saja menabrak tembok besar. Ada hal-hal yang memang sulit dipahami pengetahuan manusia. Dalam keterbatasan itu, iman dapat berperan membantu manusia agar sanggup memahami peristiwa kebangkitan. Meskipun demikian, bukan berarti kebangkitan Yesus hanya begitu saja dipahami melalui iman belaka atau terburu-buru memahaminya dengan iman saja. Torrance menawarkan bahwa teologi juga dapat menggunakan metode ilmiah ilmu alam untuk memahami sebuah realitas, terlebih untuk memahami kebangkitan Yesus. Torrance menegaskan

bahwa ada 4 hal terkait dengan penggunaan metode ilmiah ilmu alam dalam proses penyelidikan teologisnya terhadap peristiwa kebangkitan Yesus:210

Pertama, perubahan konsep realitas dalam sejarah perkembangan ilmu alam berpengaruh pada refleksi teologis, terlebih lagi tentang kebangkitan Yesus.

Perubahan konsep realitas pada abad XVI diawali oleh Galileo dan Newton.

Realitas dipandang sebagai objek yang dapat diukur dan perlu dipahami secara kausal, waktu dan ruang matematis dan real. Adanya teori relativitas Einstein mengubah cara pandang Newtonian dan Galilean yang telah bertahan cukup lama.

Ruang-waktu menjadi relatif dan semu, tidak ada pemisahkan antara struktur dan materi, antara teoritis dan empiris. Apalagi ada medan elektromagnetik yang tidak dapat dijelaskan dengan cara mekanistik dan hadir teori relativitas yang membuat pandangan terhadap realitas semakin berbeda dari apa yang sudah bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Keberadaan realitas kini dikaitkan dengan interaksi mutual dan interdeterminasi dengan realitas lainnya.

Pandangan realitas yang baru ini mempertegas bahwa penekanan pada status ontologis suatu realitas menjadi hal yang utama. Karena terkait dengan realitas yang lain, maka apa yang benar dalam sebuah realitas, itulah yang dipahami sebagai realitas. Hal ini dapat dipahami bahwa dalam proses mengetahui maupun memahami realitas yang sesungguhnya, yang ditekankan adalah soal keterhubungan satu sama lain yang senantiasa ada di dalam alam semesta dan

210 Torrance, Space, p. 184-193.

138

tatanan dinamisnya dan tidak lagi tentang pola-pola kausal dari realitas itu sendiri.211

Karena adanya perubahan cara pandang terhadap realitas, Torrance menilai bahwa perubahan tersebut juga berpengaruh pada cara pandang terhadap kebangkitan Yesus. Adanya integrasi antara konsep empiris dan teoritis semakin membuka struktur pemikiran pengetahuan manusia untuk mencapai pemahaman akan kebangkitan Yesus. Artinya, manusia tidak bisa meninggalkan kodrat kebangkitan itu sendiri dalam pribadi Yesus sebagai subjek kebangkitan untuk memahami arti kebangkitan.

Kedua, konsep ruang-waktu relasional dalam ilmu alam modern juga memiliki pengaruh dalam pemaknaan kebangkitan Yesus. Konsep ini menolak gagasan ruang Newton yang diartikan sebagai wadah. Konsep ruang-waktu relasional dapat mengontrol dan mengatur pola-pola teratur dari segala yang dapat maupun yang tidak dapat teramati di alam semesta ini.212 Konsep ini bisa membantu untuk memperdalam dan memperluas pemahaman akan realitas. Oleh karena itu, konsep ruang-waktu empat dimensi ini juga memiliki peranan regulatif terhadap struktur di alam semesta dan pengalaman keseharian manusia. Bahkan dapat menguak pengetahuan yang basisnya tidak dapat diidentifikasi oleh teori ilmu alam yang sudah ada.

Dalam teologi juga ada hal di mana akal budi manusia sulit memahami suatu realitas tertentu, misalnya kebangkitan. Torrance menyebutkan bahwa kebangkitan

211 Torrance, Space, p. 185.

212 Torrance, Space, p. 186.

adalah peristiwa yang menakjubkan, seperti sebuah mukjizat. Karena itu, Torrance menjelaskan bahwa manusia perlu berhati-hati dan jangan sampai tersesat pada pemikiran bahwa kebangkitan Yesus itu sendiri bisa dijelaskan dan dapat dipahami dalam ruang-waktu yang tidak tampak. Dalam hal ini yang sebenarnya menjadi perhatian pokok bagi peristiwa kebangkitan Yesus adalah bagaimana Allah terlibat dengan dunia di waktu yang tidak tampak. Meskipun tidak tampak, ruang-waktu menurut teori relativitas ternyata tetap berguna untuk membantu mendapatkan objektivitas mengenai suatu peristiwa yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui penampakannya saja.

Ketiga, struktur pengetahuan manusia yang bertingkat dapat membantu penyelidikan teologis dan ilmiah. Tingkatan tersebut, yaitu fisis, teoritis, dan meta-teoritis.213 Karena cakupan ilmu alam begitu luas menurut spesialisasi bidangnya masing-masing, maka tingkatan struktur pengetahuan manusia yang bertingkat-tingkat ini dapat diperluas, bahkan sampai masuk ke ranah ilmu teologi. Dari berbagai macam struktur di berbagai disiplin ilmu, mereka mampu saling berkoordinasi satu sama lain pada tingkat yang berbeda secara bersamaan, sehingga bisa semakin membantu menjelaskan dan memahami suatu realitas.

Dalam persoalan kebangkitan, keterkaitan antara ilmu alam dan teologi dapat menerima, khususnya dalam hal kenyataan empiris pada ruang-waktu, bahwa makam kosong bisa dikaji dan dijadikan kontrol kritis di tingkatan ‘yang lebih rendah’ dari ilmu teologis. Meskipun demikian, yang perlu diperhatikan adalah penjelasan yang menjadi prinsip dasar masing-masing tingkatan pengetahuan.

213 Torrance, Space, p. 188.

140

Jangan sampai hal itu mereduksi peristiwa kebangkitan Yesus. Selain itu, adanya keterlibatan Allah dalam ruang-waktu, khususnya dalam kebangkitan Yesus juga dapat dikaji dan menjadi kontrol kritis, khususnya terkait hal prinsip dasar ilmu teologi.

Keterlibatan Allah pada peristiwa kebangkitan Yesus menjadi sebuah “faktor baru” yang membuat peristiwa kebangkitan menjadi sebuah peristiwa transformasi yang sungguh menakjubkan. Ini pulalah yang membuat peristiwa kebangkitan cukup tidak mudah dijelaskan dari sudut pandang ilmu alam. Oleh karena itu, dalam memahamai peristiwa kebangkitan, “faktor baru” inilah yang dapat membantu memahami kebangkitan Yesus. Cara lain dalam memahaminya bisa membuat pemahaman tentang kebangkitan Yesus tidak sesuai dengan kodrat dari kebangkitan itu sendiri.

Keempat, sebelumnya sudah dijelaskan bahwa pengetahuan manusia memiliki struktur bertingkat. Realitas juga memiliki struktur yang bertingkat. Misalnya, soal tingkatan yang ada di pengada, yaitu tingkatan paling bawah adalah benda yang tidak berjiwa, tumbuhan, hewan, manusia dan puncaknya ada pada pengada tertinggi yaitu Allah. Namun, Torrance tidak menggunakan pendekatan yang menggabungkan antara struktur pengetahuan manusia dan struktur realitas.

Realitas di alam semesta ini memang sanggup mengundang manusia untuk menyelidiki guna mencari kebenaran. Pada saat bersamaan, realitas yang dapat dipahami pun bisa mengundang decak kagum pengamatnya. Meskipun realitas ini mampu mentransendensikan dirinya, kemampuan pengetahuan pengamat juga dapat berkembang untuk memahami realitas sampai menemukan kebenaran.

Dalam menyelidiki realitas, pengamat akan menggunakan tingkatan struktur pengetahuan yang lebih tinggi dari realitas, yaitu tingkat meta-teoritis. Semakin menggali lebih dalam realitas yang ada di alam semesta, semakin dalam pula objektivitas dan pemahaman yang didapatkan pengamat. Di sinilah pengamat juga akan semakin tidak paham dengan apa yang dikajinya. Maka penyelidikan realitas dapat dilakukan dengan jalan membiarkan pikiran pengamat sehingga memahami realitas sebagaimana adanya, yaitu hal intrinsik dari realitas itu sendiri.

Jika realitas yang diselidiki adalah realitas yang tertinggi, yaitu Allah, pemahaman manusia tidak akan sampai pada kepenuhan pengetahuan akan Allah.

Maka manusia hanya perlu merendahkan diri untuk patuh pada terang dan kemuliaan Allah semata. Hanya dengan membuka diri pada kekaguman akan transendensi realitas Allah saja, manusia mampu memahami kebangkitan.

Torrance dengan tegas menjelaskan bahwa ada keterlibatan Allah dalam kebangkitan Yesus. Ini dapat dikatakan bahwa peristiwa kebangkitan Yesus itu merupakan realitas yang memerlukan iman untuk sanggup memahaminya. Akan tetapi, Torrance tidak ingin cepat-cepat langsung menggunakan iman dalam memahami peristiwa kebangkitan Yesus. Ia ingin bahwa teologi pun bisa menggunakan metode ilmiah dari ilmu alam guna memahami peristiwa kebangkitan Yesus. Metode ilmiah itu dapat membawa pada kodrat kebangkitan Yesus sendiri yang tidak terlepas dari pribadi Yesus yang adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Dari situlah kita akan terbantu memahami kebangkitan Yesus itu sendiri.

142