PENDIDIKAN DALAM KISAH NABI NUH AS
A. Peran Nabi Nuh as Sebagai Pendidik
Banyak ayat Al-Qur'an yang mengisyaratkan tentang pendidikan. Surat Al- Alaq ayat 1-5, wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah saw, adalah salah satu ayat yang mengisyaratkan pendidikan. Pendidikan dalam ayat ini dijelaskan dengan menggunakan perintah membaca dengan menyebut nama Allah semata-mata, dan perintah untuk mempelajari kejadian manusia dan kejadian alam semesta.
Pendidikan dalam artinya yang luas bermakna merubah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada setiap individu dalam masyarakat.1 Pendidikan dalam pengertian tersebut dapat terlihat dalam kisah Nabi Nuh as dengan kaumnya.
Nabi Nuh as adalah rasul yang pertama diutus oleh Allah swt ke bumi untuk menyampaikan peringatan Allah swt. Dia diutus oleh Allah swt dalam masa ' fatrah " yaitu masa kekosongan di antara dua rasul. Manusia secara berangsur- angsur meninggalkan ajaran agama yang telah dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka. Dengan demikian, mereka telah menjauh dari Tuhan, meninggalkan amal kebajikan, melakukan kemungkaran dan menyembah berhala.
1 Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, Pustaka Al-Husna. Jakarta cet. ke-3. J 985, him. 3.
Kaum Nabi Nuh as tidak luput dari proses tersebut. Ketika Nabi Nuh as datang ke tengah-tengah mereka, mereka sedang melakukan penyembahan berhala. Penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum Nuh as merupakan kebudayaan yang sudah mendarah daging dan bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Nuh as.
Nabi Nuh as telah nencobakan revolusi pemikiran. Dia berusaha merubah kebudayaan kaumnya yang melakukan penyembahan berhala tersebut untuk senantiasa menyembah Allah swt. Nabi Nuh as bukan penguasa, bukan raja dan bukan pula orang yang paling kaya, melainkan dia hanyalah individu dalam masyarakatnya.
Nabi Nuh as telah menunjukkan keteladanan kepada peserta didiknya. Dia telah mempraktekkan pendidikan dalam kehidupan sehari-hari pada keluarganya. Di dalam dirinya terhimpun sifat-sifat baik yang sepatutnya dimiliki oleh manusia sebagai pendidik. Sifat-sifat baik yang dimiliki oleh Nabi Nuh as sebagai pendidik adalah sabar, bijaksana, ikhlas, dan tawakkal. Sifat-sifat baik tersebut harus dimiliki oleh pendidik demi tercapainya tujuan yang diharapkan dalam pendidikan.
Misi kenabian Nuh as sebagai pendidik adalah untuk menyampaikan risalah Tuhan, bukan berusaha meraih keunggulan atas kaumnya dan bukan mencari keuntungan pribadi seperti status, kekuasaan dan kekayaan. Dia hanya melaksanakan perintah Allah swt dan hanya mengharap ridho dari-Nya.
49
Misi pendidikan seperti ini pernah diungkap oleh Muhaimin. Dia mengutip pendapat Al-Ghazali yang menyatakan bahwa tujuan umum pendidikan Islam yaitu:
1. Mendekatkan diri kepada Allah swt.
2. Mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.2
Tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah swt, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan.3
Nabi Nuh as telah mempraktekkan misi pendidikan tersebut kepada kaumnya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Dia tidak bermaksud agar diberi penghormatan dari kaumnya, tidak juga menginginkan cium tangan dari kaumnya. Pendidikan yang dia berikan hanyalah untuk mengajak kaumnya mendekatkan diri kepada Allah swt dan bukan karena tujuan yang lain. Hal itu yang menjadikan Nabi Nuh as tidak merasa bosan dan tetap bertahan mendidik kaumnya selama berabad-abad.
Dari situ dapat dijadikan pelajaran bagi para pendidik maupun bagi para da'i bahwa perjuangan yang bertujuan hanya semata-mata karena Allah swt tidak akan
2 Muhaimin, Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Trigenda Karya, Bandung, Juni, 1993, him. 160.
3 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, cet. ke-1, 1997, him. 162.
membuat jenuh dalam menjalankan tugasnya. Sebaliknya jika perjuangan mereka hanya bermaksud untuk mencari status atau juga mencari kemuliaan, maka peijuangan mereka tidak akan bertahan lama.
Usaha Nabi Nuh as dalam mewujudkan misi pendidikannya dimulai dengan mengajarkan kaumnya tentang pengenalan terhadap Tuhan sebagai Sang Pencipta. Mengajarkan tauhid adalah sebagai materi pertama yang Nabi Nuh as ajarkan kepada kaumnya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Abdul Aziz yang mengatakan bahwa akidah tauhid merupakan ajaran pokok yang dibawa oleh para nabi.4 5
Untuk mempermudah kaumnya dalam memahami ajarannya, Nuh as menerapkan metode visualisasi. Dia mengajak kaumnya untuk memperhatikan penciptaan manusia dan fenomena-fenomena alam yang merupakan manifestasi kebesaran Allah swt. Dia berkata kepada kaumnya sebagaimana yang tercantum dalam terjemah Surat Nuh ayat 13-16 berikut in i:
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah ? Padahal sesungguhnya Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat ? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita r
Penciptaan manusia melalui fase-fase menunjukkan betapa luas kekuasaan ilmu Allah swt. Dari setetes sperma yang bertemu dengan ovum, lahir anak yang
4 H. Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid 3, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2003,, him. 10.
5 Departemen Agama Republik Indonesia, A l-Q ur'an dan Terjemahnya, Thoha Putra, Semarang, 1995, him. 979.
51
sebelum kelahirannya melalui aneka fase dalam perut. Setelah kelahiran pun manusia mengalami aneka pergantian fase, dari kanak-kanak, remaja, dewasa, tua dan pikun. Kesemuanya adalah fase-fase yang dapat dialami manusia sekaligus menunjukkan kuasa, ilmu dan rububiyah Allah dalam penciptaan manusia.
Penciptaan alam raya seperti langit, matahari, bulan, bintang, bumi, dan sebagainya juga menunjukkan sistem yang mengagumkan sebagai tanda kebesaran Allah swt. Nabi Nuh as mengajak kaumnya untuk memperhatikan fenomena-fenomena tersebut agar mereka dapat merenungkan ciptaan dan sistemnya, sehingga mereka memahami bahwa sesungguhnya ada Sang Pencipta di dunia ini. Dengan mengenal Allah, diharapkan mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah swt.
Berdasarkan masalah tersebut, maka jelas bahwa tujuan pendidikan Islam adalah sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Allah swt telah menciptakan manusia, memberi rizki dan menganugerahi akal kepada mereka. Maka Nuh as mengajak kaumnya agar menggunakan akal mereka dan memperhatikan fenomena-fenomena alam yang teijadi di dunia ini.
Tujuan Pendidikan Islam yang kedua adalah agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Allah swt menyelamatkan Nuh as dan orang-orang yang beriman dari banjir yang melanda kaum Nuh as adalah sebagai bukti bahwa Allah swt telah melaksanakan janji-Nya kepada Nabi Nuh as untuk membinasakan orang-orang yang kafir dan menyelamatkan orang-orang yang beriman. Janji Allah adalah pasti, bahwa orang-orang yang mengikuti kebenaran
akan mendapatkan kebahagiaan sedangkan mereka yang tidak beriman mendapat siksa dari Allah swt, sehingga mereka tidak mendapatkan kebahagiaan.
Nabi Nuh as diperintah oleh Allah swt untuk membuat bahtera guna menyelamatkan dirinya dan kaumnya yang beriman dari adzab Allah swt. Bahtera tersebut adalah bahtera keselamatan yang berisi petunjuk sebagai wasilah Allah swt untuk menolong nabinya dan para pengikutnya. Barang siapa yang mau mengikuti petunjuk Allah swt dan masuk dalam bahtera, maka mereka akan diselamatkan. Sedangkan orang-orang yang menentang dan tidak mau naik ke bahtera, maka mereka akan celaka dan tenggelam dalam gelombang kesesatan.
Di situ jelas bahwa bahtera tersebut sebagai petunjuk keselamatan dari adzab Allah swt. Bahkan bahtera tersebut dianalogikan dengan keluarga Nabi Muhammad saw, sebagaimana dalam hadist berikut in i:
l«Ifj £°J &L* jL Jif 1
. . . ' S j f
Artinya Sesungguhnya perumpamaan Ahlul baitku di tengah-tengah kalian bagaikan bahtera Nuh, barang siapa menaikinya ia selamat dan barang siapa meninggalkannya ia pasti tenggelam ... Ath-Thabrani)
53
Selain analogi yang didapat dari kisah itu, Nabi Nuh as juga menunjukkan dirinya sebagai manusia yang pertama kali membuat bahtera. Bahtera Nuh merupakan alat transportasi laut yang pertama kali Allah swt kenalkan kepada manusia. Secara jelas dia mengajarkan kepada kaumnya tentang cara membuat bahtera. Di situ terdapat isyarat tentang pengembangan teknologi khususnya di bidang industri perkapalan.