• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN TEORITIK DAN HIPOTESIS

A. Pola Asuh Orang Tua dalam Keluarga Kristiani

2. Peran Orang Tua

Orang tua adalah ayah dan ibu kandung (Peters, 1991:106), berbeda halnya dengan pendapat Poerwardaminta (1976:668) bahwa orang tua adalah orang yang sudah tua, pertama dikenal anak, dimata anak-anak orang tua adalah sosok yang luar biasa serba hebat dan serba tahu akan segalanya. Lain halnya dengan Evi Sukamaningrum (2001: 6) ia mengemukakan bahwa “orang tua tidak selalu ayah dan ibu dari seorang anak, orang tua dapat juga orang lain yang bukan orang tua kandung, akan tetapi orang yang telah mengasuh, memperhatikan, mengasihi, dan mencukupi kebutuhan anak yang diasuhnya”. Dalam menjalankan peran mereka

sebagai orang tua, seperti yang telah dikatakan oleh Evi bahwa orang tua berperan dalam mengasuh dan mendidik anak mereka.

a. Mendidik

Mendidik memiliki arti yang cukup luas, terutama dalam hal mendidik anak. Mendidik anak dapat diartikan; sebagai usaha untuk membekali anak dalam hal bertutur kata, bertindak dan cara hidup yang baik menuju ke hidup yang berguna dan bahagia. (Hurlock, 1989: 82) Dalam usaha mendidik anak, para orang tua berusaha untuk menciptakan suatu suasana dalam keluarga sehingga tercipta suasana yang mendukung dalam proses pendidikan bagi anak-anak mereka. Menurut Anton dkk (1990: 67) peranan orang tua dalam keluarga adalah bagian utama yang harus dilakukan orang tua dalam usaha menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anak dalam upaya menciptakan prestasi yang optimal. Pada umumnya orang tua memiliki peranan yang berbeda-beda seperti yang dijelaskan oleh Ngalim Purwanto mengenai peranan ibu dan ayah terhadap pendidikan anak-anak. (Ngalim Purwanto: 90-92)

Peranan ibu dalam hal ini tidak dapat disangkal dan dipungkiri lagi. Ibu adalah pendidik yang pertama, didikan ibu terhadap anaknya merupakan pendidikan dasar dan tidak dapat diabaikan. Untuk itu seorang ibu hendaklah seorang yang bijaksana dan pandai dalam mendidik anak-anak. Secara naluri seorang ibu adalah bersifat menjaga, melindungi, menyayangi, dan memberikan pengetahuan-pengetahuan dasar bagi anak.

Peranan ibu dalam pendidikan anak sudah sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab dalam anggota keluarga, yaitu sebagai sumber dan pemberi rasa

kasih sayang, pengasuh dan pemelihara, tempat untuk mencurahkan segala isi hati, pengatur kehidupan dalam rumah tangga, pembimbing hubungan pribadi, dan pendidik dalam segi-segi emosioanal. (Ngalim Purwanto: 93)

Peranan ayah sebenarnya tidak berbeda jauh dengan peranan seorang ibu sendiri; memberikan kasih sayang, mengasuh dan memelihara serta mencurahkan segala isi hati. Namun yang paling utama sebagai seorang ayah adalah memberikan nafkah bagi anak dan istri serta memberikan kehidupan yang layak bagi anak dan istri. Jika ditinjau lebih dalam lagi dari segi fungsi dan tugasnya sebagai ayah, yaitu sebagai pemberi rasa aman bagi keluarga, pelindung dan pendidik dari segi rasional juga sangat dibutuhkan bagi seorang anak.

Orang tua bukanlah satu-satunya faktor penentu bagi perkembangan anak, masih ada faktor individu dan faktor lingkungan lain disekitar anak yang dapat pula mempengaruhi perkembangan anak. Namun demikian orang tua dapat mengarahkan perkembangan anak sejauh mungkin, dengan menyadari akan peranannya yang besar dalam kehidupan anak.

Selain berbagai pengertian dan pengetahuan yang harus diperoleh orang tua, hendaknya sikap-sikap orang tua juga harus diperhatikan, guna perkembangan anaknya. Sikap tersebut antara lain: Adiwardhana (dalam Gunarsa,1985: 61-64)) 1) Antara ayah dan ibu harus ada kesesuaian serta konsistensi dalam hal mendidik

dan mengajar anak-anaknya. Suatu tingkahlaku anak yang dilarang oleh orang tua pada suatu waktu, harus pula dilarang apabila dilakukan lagi pada waktu yang lain. Konsistensi ini juga harus ada dalam hal-hal apa saja yang mendatangkan pujian atau hukuman pada anak. Ketidakadanya konsistensi akan

mengaburkan pengertian anak tentang apa yang baik dilakukan dan yang tidak baik untuk dilakukan.

2) Berbagai sikap yang dilakukan oleh orang tua. Sikap ayah terhadap ibu atau sikap ibu terhadap ayah, bagaimana sikap terhadap saudara-saudaranya dan kepada yang lain. Sikap-sikap tersebut dapat berpengaruh pula dalam perkembangan anak, walaupun tidak secara langsung, yakni melalui proses peniruan. Proses peniruan oleh anak ini biasanya dipengaruhi oleh sikap atau tingkahlaku orang-orang yang dekat dengannya dan yang anak temui setiap harinya.

3) Penghayatan yang sungguh-sungguh dari orangtua akan agama atau kepercayaan yang dianutnya, akan berpengaruh pada sikap dan tindakan mereka setiap harinya. Penghayatan dan kepercayaan orangtua berpengaruh pula pada pola atau cara para orangtua dalam mengasuh, mendidik, memelihara, dan mengajar anak-anak mereka. Semuanya ini dapat menjadi dasar yang kuat untuk perkembangan anak, jika anak banyak dibekali dengan ajaran-ajaran agama, dan hidup dalam kepercayaan dan kesetiaan kepada Allah yang cukup.

4) Orangtua tentunya tidak menginginkan anaknya untuk berbohong, tidak bersikap jujur, maka ini harus juga ditunjukkan dalam berbagai sikap orangtua sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Selain ada aturan-aturan yang harus ditaati anak, namun ada juga aturan-aturan yang berlaku bagi seluruh anggota keluarga termasuk orangtua. Ajaran yang diajarkan dan dituntut oleh orangtua terhadap

anaknya, hendaknya orangtua konsekuen dengan pola hidup kesehariannya. Jika tidak sesuai ajaran dengan kenyataan, dapat menimbulkan konflik dalam diri anak dan menjadikan alasan tersebut sebagai senjata untuk tidak melakukan apa yang diajarkan orangtuanya. (Gunarsa, dkk 1985:62)

b. Mengasuh

Tidak hanya mendidik saja, melainkan juga bagaimana cara orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka. Orang tua perlu menciptakan suasana lingkungan yang ramah atau keluarga yang serasi. (Conny.S :64) Sedangkan Elizabeth (1990: 201) menambahkan:

“Anak mengharapkan bimbingan dan pengembangan model pola perilaku yang disetujui secara sosial dari orang tua, anak mengharapkan orang tua sebagai rekan yang dapat diminta bantuan dalam memecahkan masalah yang dihadapi atau sebagai teman berdiskusi da bertukar pikiran.”

Di atas telah dijelaskan bagaimana orang tua hendaknya memenuhi kebutuhan anak-anaknya baik secara jasmani maupun rohani. Karena pada hakekatnya demikianlah peran orang tua. Jika semua itu tidak dapat terpenuhi maka akan berdampak buruk bagi anaknya. Russen (1983:11) menyatakan:

“Anak yang tidak memperoleh apa yang diinginkan dan tidak memperoleh kasih sayang dari orang tua akan dapat menyebabkan keterbelakangan kerohaniannya dan mengacaukan emosi, ... karena ketiadaan ikatan dengan orang tua maka terdapat kemungkinan anak akan tumbuh kurang mempunyai kesungguhan dan berperasaan dingin, juga ada kemungkinan anak akan tumbuh menjadi anak yang bengal, lekas berubah-ubah dan tumbuh ke arah penyakit jiwa.”

Dengan melihat semua paparan di atas maka dapat dikatakan bahwa orangtua memiliki peranan yang besar dalam mengajar, mendidik serta memberikan

contoh atau teladan kepada anak-anaknya. Dalam perkembangannya, anak perlu dibimbing untuk mengetahui, mengenal, dan mengerti kemudian menerapkannya kepada kehidupannya sehari-hari. Maka dari itu orang tua hendaknya memiliki kecakapan dalam mengasuh anak mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam perkembangan anak, baik secara jasmani ataupun rohani.

Dokumen terkait