• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada prinsipnya PKL adalah kerja sama dengan Institusi Pasangan/ DUDI yaitu saling membantu, saling mengisi dan saling melengkapi untuk meraih keuntungan bersama. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, nampak bahwa pelaksanaan PKL di industri sangat dipengaruhi oleh peran serta pembimbing dari DUDI. Pembimbing adalah wakil langsung dari DUDI yang sampai saat ini masih percaya kepada sekolah

95 untuk menjadi mitra kerjasama dalam penyelenggaraan Program PKL.

Hasil wawancara dengan bagian personalia PT. POS Indonesia, menunjukkan kepedulian perusahaan mereka terhadap dunia pendidikan, dalam bentuk bea siswa, bantuan pendidikan, tempat magang/ PKL dan lain-lain meskipun mereka tidak mau terikat MOU dengan pihak mana pun dalam menjalin kerjasama khususnya dalam dunia pendidikan. (Wawancara, 14 Juli 2017).

Hal yang senada diungkapkan oleh bagian PAC Coca Cola Amatil Indonesia dalam petikan wawancara berikut:

“Sebagai perusahaan multinasional, kami Coca Cola Amatil Indonesia yang merupakan perwakilan kantor pusat untuk wilayah Jateng, DIY dan Madiun tidak boleh membuat MOU sendiri. Meskipun demikian kami setiap saat bersedia menerima siswa PKL, yang nantinya akan dibimbing secara umum dan secara khusus. Kami mengadakan program induksi secara singkat dalam rangka membekali siswa PKL yang akan masuk di lingkungan perusahaan kami. SOP bagi siswa PKL juga sudah kami siapkan.” (Wawancara tanggal 13 Juli 2017).

Demikian pula wawancara dengan Kabag Personalia PD. BPR Bank Salatiga juga menunjukkan hal yang senada tentang pentingnya peran pembimbing tersebut. Berikut hasil wawancara tersebut:

“Kami menunjuk satu orang untuk membimbing siswa selama PKL di kantor kami. Pembimbing lah yang nantinya bertanggungjawab terhadap pemberian tugas pekerjaan

96 kepada siswa, dan sekaligus memberikan penilaian kepada siswa.” (Wawancara tanggal 14 Juli 2017).

Sebagian besar data diperoleh lewat hasil

pengamatan dan wawancara dengan banyak

responden, sedangkan teknik dokumentasi meskipun sudah diupayakan peneliti belum dapat mendukung oleh karena dokumen terkait kinerja pembimbing industri yang mencerminkan peran DUDI selama Program PKL belum terdokumentasikan dengan baik oleh sebagian besar industri. Mereka hanya mendokumentasikan surat-surat resmi dari sekolah terkait permohonan penempatan PKL, surat pengiriman PKL, surat monitoring PKL, surat penarikan PKL dan jurnal laporan PKL dari siswa sebagai dasar penilaian yang mereka berikan, dengan format sertifikat PKL dari sekolah.

Jadi, berdasarkan hasil penelitian dapat kita ketahui, walaupun perusahaan bertujuan mencari laba, namun kepedulian mereka terhadap dunia pendidikan sangat baik, baik yang bersedia menjalin kerjasama dengan MOU maupun tidak. Kerjasama dengan DUDI yang terjalin sejak lama tersebut tentunya memberikan gambaran-gambaran nyata tentang potret siswa SMK Negeri 1 Salatiga selama PKL, bagaimana tanggapan DUDI tentang sekolah, tanggapan DUDI tentang penyelenggaraan Program PKL jurusan akuntansi SMK

97 Negeri 1 Salatiga dengan segala kekurangan yang ada di dalamnya.

Gambar 8. Wawancara dengan Responden Perwakilan DUDI 4.2.2.4 Hambatan-hambatan dalam Pelaksanaan

Program PKL

Dilihat dari sisi pengelolaan PKL di SMK Negeri 1 Salatiga, masih terlihat beberapa hal yang belum sesuai harapan stake holder antara lain penyelenggaran PKL di gelombang I yang terkesan kurang persiapan, masih semrawut, tertundanya waktu pemberangkatan PKL, kurangnya kesiapan dari siswa, kurangnya kepedulian dari guru pengajar untuk membekali siswanya sebelum PKL, kurangnya sosialisasi dan pembekalan untuk guru pembimbing, kekurang sesuaian kompetensi yang didapat di sekolah dengan yang dihadapi di industri, dan masih banyak lagi permasalahan yang muncul selama pelaksanaan PKL tersebut. Hal tersebut terangkum dari hasil wawancara dengan Kepala SMK

98 Negeri 1 Salatiga dalam petikan wawancara sebagai berikut:

“Bidang Humas Hubin seharusnya mengadakan rapat koordinasi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam PKL, khususnya KKH dan guru produktif yang sebagian besar menjadi pembimbing, untuk mencari strategi/ menemukan solusi dari permasalahan-permasalahan dalam pelaksanaan PKL. Saya lihat hal tersebut belum dilakukan. Program kerja PKL ataupun juknis yang menjadi SOP PKL seharusnya disusun sendiri setiap tahun. Namun saya belum melihat atau pun mendapat laporan dari bidang Humas Hubin. Penyelenggaraan Program PKL cenderung masih berdasarkan kebiasaan tahun lalu.” (Wawancara tanggal 10 Juni 2017 ) Pernyataan di atas juga dibenarkan oleh staff Humas Hubin dalam kutipan wawancara berikut:

“Kurangnya koordinasi dari bidang Humas dengan pihak- pihak yang terlibat dalam Program PKL, menyebabkan masing-masing bagian bekerja semaunya sendiri, tanpa arahan, tanpa kontrol seperti bola-bola liar. Bekerja hanya sekedar menggugurkan kewajiban.”

(Wawancara tanggal 9 Mei 2017).

Agak berbeda dengan hasil wawancara di atas, hasil wawancara dengan Waka Humas Hubin menyatakan kegiatan PKL yang sudah direncanakan dan dikoordinasikan dengan baik. Berikut pernyataan Waka Humas Hubin SMK Negeri 1 Salatiga:

“Sudah ada koordinasi dengan pembimbing DUDI karena hubungan baik sudah terjalin sekian tahun/lama. Sudah ada koordinasi dengan manajemen PKL, yang dilakukan setiap saat/ tidak dialokasikan waktu khusus, dilaksanakan sesuai kebutuhan. Dengan guru pembimbing terutama secara intensif pada saat musim pemberangkatan. Setahu Humas, semua sudah paham dengan tupoksinya masing-masing sehingga tidak perlu dilakukan koordinasi secara khusus. Untuk urusan dengan guru pembimbing PKL seharusnya sudah diurusi jurusan akuntansi, Humas hanya masalah penginformasian

99 waktu, penjadwalan, administrasi surat menyurat PKL.” (Wawancara tanggal 23 Mei 2017).

Sebagian besar data diperoleh lewat hasil

pengamatan dan wawancara dengan banyak

responden, sedangkan teknik dokumentasi meskipun sudah diupayakan peneliti belum dapat mendukung oleh karena dokumen terkait hambatan-hambatan

selama pelaksanaan Program PKL belum

terdokumentasikan dengan baik oleh manajemen POKJA PKL, karena administrasi manajemen PKL yang ada masih belum tertata dengan baik. Sistem pelaporan dari guru pembimbing pun hanya berupa penyerahan kembali surat monitoring dari industri tanpa ada

pelaporan permasalahan selama pelaksanaan.

Sedangkan pihak jurusan akuntansi pun hanya memberikan saran/masukan bila guru pembimbing melaporkan secara lisan tentang permasalahan- permasalahan di tempat PKL dan memberikan masukan kepada guru pembimbing untuk langsung menyelesaikannya tanpa ada proses pendokumentasian dengan baik.

Dari hasil wawancara di atas, ternyata terdapat pemahaman yang berbeda antara pihak jurusan akuntansi dengan bidang Humas Hubin. Perbedaan pemahaman tersebut terjadi diantaranya karena

100 kurangnya intensitas komunikasi antara pihak-pihak pengelola PKL dengan pihak jurusan akuntansi.

4.2.2.5 Upaya Mengatasi Permasalahan-

Dokumen terkait