• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Pers Sebelum Kongres Pemuda II tahun 1928

METODOLOGI PENELITIAN

B. Peran Pers Sebelum Kongres Pemuda II tahun 1928

Pers pada perkembangannya telah membuat revolusi komunikasi, antara lain mengubah pola komunikasi tradisional yang terutama oral (lisan) sifatnya menjadi tertulis sehingga menjadi lebih mantap dalam arti bahwa tidak berubah-ubah dan menjadi sumber terjaga keasliannya apabila dibaca lagi nanti. Yang lebih penting pers menciptakan sistem komunikasi terbuka, dimana informasi dapat diperoleh semua orang dari golongan sosial mana pun.

Saluran pers lebih bersifat satu arah (pers bersifat aktif sedangkan pembaca bersifat pasif atau hanya menerima berita yang dibacanya), namun pers mempunyai potensi membangkitkan kesadaran kolektif, antara lain yang berkaitan dengan kepentingan umum. Salah satu contoh adalah tulisan Suwardi Suryoningrat dalam “Gagasan Kaoem Hindia Tentang Permainan Pesta Kemerdikaan Bangsa Belanda di Djadjahannja” yaitu “Jika saya seorang Belanda saya tidak akan merayakan hari ulang tahun pembebasan tanah air di tengah-tengah rakyat yang sedang terjajah...”. Dengan adanya tulisan ini para pribumi sadar bahwa Belanda telah menginjak-injak harga diri mereka, maka timbul kesamaan nasib dari kalangan pribumi. Hal ini juga terjadi pada golongan Tionghoa maupun Indo-Belanda yang juga tertekan.(Sudiyo. 2004: 35-36)

Selain berita-berita dalam negeri, berita-berita mengenai luar negeri secara tidak langsung menambah kesadaran politik pembacanya. Misalnya dipaparkannya sistem politik dan kejadian-kejadian besar di berbagai Negeri, antara lain kemenangan Jepang atas Rusia (1905), gerakan Turki Muda di bawah Kemal Ataturk (1908) dan Revolusi Cina dibawah Sun Yat Sen (1911). Hal ini membangkitkan kecenderungan untuk membandingkan situasi politik luar negeri dengan di dalam negeri, sehingga timbul pemikiran-pemikiran dan pandangan kritis tentang terhadap lingkungan politik. Di sini fungsi pers sangat membantu tumbuhnya masa kritikal dalam masyarakat, kesadaran kolektif, dan solidaritas

commit to user

umum. Oleh karena itu tidak mengherankan bila kemudian berbagai aliran dan gerakan mempunyai pers sendiri yang berperan sebagai juru bicara (Sartono Kartodirdjo, 1999: 112-114).

Sejarah perkembangan pers di Indonesia tidak lepas dari sejarah politik Indonesia. Pada masa pergerakan sampai masa kemerdekaan, pers di Indonesia terbagi menjadi tiga golongan yaitu pers kolonial/ Belanda, pers Cina/ Tionghoa, dan pers nasional/ pribumi.

a. Pers Kolonial/ Belanda

Pada awalnya pers Belanda melakukan cetak karena dorongan untuk mencari keuntungan (komersiil) dan berisi berita-berita tentang Indonesia dan berita-berita Eropa. Pers Belanda memiliki tempat terbit dan penyebaran terbatas pada kota-kota besar, yang penting bagi administrasi ataupun sebagai pusat perdagangan perusahaan-perusahaan Belanda. Dapat dilihat dari tabel mengenai persebaran surat kabar Belanda di Indonesia dibawah ini:

Tempat Nama surat kabar Tahun terbit

Batavia 1. Bataviase Nouvelles

2. Vendunieuws menjelma menjadi

Bataviasche Courant

3. Javasche Courant

4. Bataviasche Advertentieblad

5. Nederlandsche Indishe Handelsblad

6. Java Bode

7. Biang Lala dan Bintang Barat

8. Hindia Nederland dan Bintang Djohar

1744 1811 1828 1857 1829 1853 1867 1869 Surabaya 1. Soerabaia Courant: surat kabar swasta

pertama.

2. Oostpost dan Soerabaiasch Nieuws

Advertentieblad.

3. Soerabaia Nieuwsbode

4. Soerat Kabar bahasa Melajoe

1937

1853

1861 1856

commit to user

5. Bintang Timor 1862

Semarang 1. Semarangsch Advertentieblad 2. De Locomotief 3. Semarangsch Courant 4. Slompret Melajoe 1845 1863 1846 1860 Solo Bromartani 1855

Table 1.1 pers Belanda (M. Gani, 1978: 34-35 ).

Surat kabar Nieuws van den Dag voor Nederlandsche-Indie terbit di Jakarta dengan redaksinya Karel Wijbrand, yang dalam kedudukannya terkenal karena kritik-kritiknya kepada pemerintah Belanda. Tampaknya Karel Wijbrand seorang radikal, tetapi sebenarnya dia seorang pendukung Kolonial (Abdurrachman. 2002: 31-32). Selain Nieuws van den Dag voor

Nederlandsche-Indie muncul pula Java Bode yang merupakan surat kabar resmi, dan selalu

membela kebijaksanaan pemerintah. Untuk itu, Java Bode mendapat berita-berita pemerintah secara khusus. Meski Java Bode merupakan surat kabar resmi, namun pada tahun 1864 dan 1873 tetap terkena delik pers (Tribuana Said, 1988: 16). Isi

Java Bode adalah lembaran-lembaran penerangan bagi apa saja yang terjadi di

kalangan pemerintah, seperti pengangkatan dan pemindahan pegawai, rencana-rencana peraturan pemerintah dan lain-lain. Oleh karena itu, pemimpin redaksinya, C.A. Kruseman menjadi sasaran kecaman Wijbrands, sebagai upaya mempertahankan surat kabarnya (Abdurrachman. 2002: 32-33).

Surat kabar yang dapat dikatakan netral dan melihat berbagai aspek kehidupan pribumi yaitu Bataviaasch Nieuwsblad. Bataviaasch Nieuwsblad

dipimpin oleh F.K.H. Zaalberg, seorang Indo-Belanda yang menanjak dengan kekuatannya sendiri, dari pembantu korektor sampai menjadi pimpinan redaksi. Hal ini karena Zaalberg yang merupakan Indo-Belanda sangat pandai menulis dan terutama mencerminkan perasaan kaum Indo-Belanda yang sedang menderita kemelaratan serta kehilangan banyak kesempatan, terutama sejak mengalir banyak Belanda Totok di Indonesia(Hindia Belanda). Pada tahun 1907, Bataviaasch

Nieuwsblad mempunyai redaktur yang handal yaitu E.F.E. Douwes Dekker.

Indo-commit to user

Belanda adalah tata susunan eksploitasi modal kolonial. (Abdurrachman. 2002: 33-34). Pada tahun 1909 Douwes Dekker telah menilai mengenai pers di Indonesia yaitu pers berbahasa Melayu lebih penting daripada pers Belanda. Karena pers itu langsung dapat menarik minat pembaca-pembaca pribumi. Hal ini membuat surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad mempunyai watak dan keyakinan keras untuk tidak menjadi alat Kolonial seperti Nieuws van den Dag voor Nederlandsche-Indie dan Java Bode. (Sartono Kartodirdjo, 1975: 296)

Di Surabaya terbit Soerabaia Courant pada tahun 1837. Surat kabar ini bertahan lama dan setelah 26 tahun, Soerabaia Courant yang pada awalnya mingguan berubah menjadi surat kabar harian. Isinya terutama berita dan advertensi. Tajuk rencana menguraikan soal setempat, pertanian dan perdagangan. Kutipan berita dari surat kabar negeri Belanda, Singapura, India dan Cina (M. Gani, 1978: 35). Selain Soerabaia Courant terbit Het Soerabajaasch Handelsblad, yang didukung oleh kaum pengusaha pabrik gula Belanda di Jawa Timur. Dengan pimpinan redaksinya van Geuns, disebut sebagai orang liberalis dari aliran kuno. Van Geuns percaya bahwa satu-satunya kemajuan dan kemakmuran Hindia Belanda tergantung dari perkembangan perkebunan-perkebunan barat yang mengadakan ekspor. Soerabajaasch Handelblad merupakan reaksioner terhadap pertumbuhan pergerakan nasional (Achmad Djais, 1994: 6-7).

Pada pertengahan abad ke-19 banyak muncul surat kabar yang menggunakan bahasa daerah maupun melayu. Pada tahun 1855 di Surakarta terbit surat kabar pertama dalam bahasa Jawa dengan nama Bromartani. Surat kabar pertama yang menggunakan bahasa melayu adalah “Surat Kabar Bahasa Melajoe”, terbit di Surabaya pada tahn 1856. Dengan adanya surat kabar itu, mendorong munculnya surat kabar lainnya, diantaranya: Soerat Chabar Betawie (1858), Selompret Melajoe (Semarang, 1860), Bintang Timor (Surabaya, 1862), Djoeroe Martani (Surakarta, 1864), dan lain-lain (Tribuana Said, 1988). Bintang Timor dicetak oleh Gebr. Gimberg dan Co, Bintang Timor dipimpin oleh TCE Bouquet. Walaupun dipimpin oleh orang Belanda, surat kabar Bintang Timor berani menurunkan suara rakyat bumi putra. Pada edisi 3, seorang yang

commit to user

menggunakan nama samaran Banteng Tanah Merah menulis kritik terhadap pemerintah karena kenaikan pajak dan keadaan rakyat miskin semakin melarat (Achmad Djais, 1994: 10-11).

Pada tahun 1845 di Semarang terbit Semarangsch Advertentieblad, akan tetapi hanya berumur satu tahun. Kemudian muncul De Locomotief pada tahun 1863 dengan penerbit Firma De Groot Kolff dan Co. Dalam waktu tujuh tahun, surat kabar ini menjadi dagblad (harian). Douwes Dekker (Multatuli) pernah mengirimkan tulisannya ke De Locomotif. De Locomotif menerbitkan surat kabar dengan lampiran-lampiran berbahasa Jawa, Tionghoa, dan melayu. Surat kabar ini bertahan lama dengan mengalami tiga zaman (kolonialisme Belanda, Jepang dan Negara Kesatuan Republik Indonesia) (Samsudjin Probohardjono, 1985: 18-19). Surat kabar ini berperan dalam mengumumkan berdirinya Budi Utomo dan mengenai persiapan-persiapan kongres pertama Budi Utomo. Di dalam De Locomotif memuat surat edaran mengenai Budi Utomo sehingga dapat dikatakan bahwa De Locomotief merupakan surat kabar yang penting pada saat itu (Sartono Kartodirdjo, 1975: 307).

Di luar Jawa juga muncul beberapa surat kabar, diantaranya Medan dan sekitarnya mempunyai korannya sendiri, Mula-mula terbit Deli Courant yang dianggap sebagai pembawa suara kaum direksi. Kemudian muncul Sumatera Post yang dianggap lebih demokratis dan lebih mementingkan masyarakat Belanda sendiri. Juga golongan Katholik, mempunyai surat kabar De Koerier, sedangkan golongan Indo-Belanda dengan surat kabar Onze Courant. Kaum Protestan yang tergabung dalam Christelijke Staatkundig Partij memiliki mingguan De Banier, Golongan Belanda yang tergabung dalam Vaderlandse Dub organnya bernama Nederlandsch Indie. Sedangkan Baars dan Sneevliet, pembawa faham komunis ke Indonesia, tahun 1920-an mempunyai Het Vrije Woord (www.stikosa-aws.ac.id, diunduh 30 januari 2011 pukul 14.00 ).

Dalam “Fikiran Rakjat” 1930 artikel yang berjudul “Pers dan Pergerakan” mengupas pers kolonial sebagai berikut:

“Pers Kolonial berpihak pada Eropa dan memberikan hasutan-hasutan pada petinggi suatu daerah maupun masyarakat yang membacanya. Pers Kolonial sering kali memberikan berita yang tidak sesuai dengan kebenaran, sehingga

commit to user

berakibat bagi pembaca yang hanya membaca pers kolonial akan terhasut dan menganggap semua berita tersebut benar. Selain itu, kaum pergerakan selalu diserang dengan kritik-kritik yang merugikan, pers Kolonial menyatakan itu merupakan kritik yang sehat dan merupakan bagian dari kebebasan berpendapat. Sehingga pers disini digunakan untuk mempengaruhi para penguasa dan kritik-kritik yang dikeluarkan menjadi senjata pemerintah Kolonial untuk menekan pergerakan nasional.”

Surat kabar Belanda yang tumbuh pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 baik langsung atau tidak, menjadi sarana pendidikan dan latihan bagi orang-orang Indonesia ikut serta di dalam kegiatan pers. Orang yang terjun dalam pers Belanda tersebut mempunyai peran yang sangat penting dalam pergerakan nasional maupun dalam pers pribumi. Mereka ini antara lain: Wahidin Soedirohoesodo, Abdul Muis, Abdul Rivai, Ki Hajar dewantara, RM Tirtoadisuryo, Marco Kartodikromo dan RM Bintarti.(Tribuana Said. 1988: 16-17)

b. Pers Cina/ Tionghoa

Pers lokal baru bangkit awal 1900-an setelah kolonial Belanda mengizinkan kaum Tionghoa mengelola media cetak. Tionghoa di Batavia, sejak akhir abad ke-19 dan jelang abad ke-20 banyak memiliki percetakan. Ketika Tionghoa mulai menerbitkan surat kabar, orang-orang bumiputra juga mulai belajar mengelola koran. (http://indocina.wordpress.com. Diunduh 30 Januari 2011. 14.00).

Pers milik Tionghoa peranakan muncul setelah timbulnya gerakan Pan-China di Jawa akibat pengaruh propaganda nasionalisme Dr Sun Yat Sen di Pan-China daratan. Pers milik Tionghoa peranakan memakai bahasa Melayu. Sebab, mereka sudah banyak yang tak paham lagi dengan bahasa asli Tiongkok. Kebiasaan mereka juga sudah berbeda karena banyak yang menyerap dan terserap dalam budaya local pribumi (Abdurrachman. 2002: 44).

Pada awal mula berdirinya pers Tionghoa masih menggunakan redaktur dari orang Indo-Belanda, karena dianggap orang peranakan Belanda lebih mengerti dan sudah banyak mengelola tulisan dalam pers. Surat kabar Tionghoa pertama di Pulau Jawa adalah Li Po yang terbit di Sukabumi (Soebagijo I.N.

commit to user

1977: 13). Isi Li Po banyak memuat karangan bahkan ajaran filsuf Tiongkok kuno yaitu ajaran Konghucu dan berkaitan dengan berdirinya Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Jakarta pada tahun 1900. Li Po tidak mengalami perkembangan. Selama enam tahun (1901-1907) terus berbentuk kecil dan dan terbit seminggu sekali. Isinya tidak ada kemajuan dan tidak terbaca berita sebagaimana terdapat pada surat kabar lain (Abdurrachman.2002: 56). Tak lama kemudian muncul sejumlah surat kabar lainnya, seperti Pewarta Soerabaia (Surabaya-1902), Warna Warta (Semarang, 1902), Kabar Perniagaan (Jakarta, 1903), Djawa Tengah (Semarang, 1909), dan Sin Po (Jakarta, 1910). (Soebagijo I.N. 1977: 13)

Pewarta Soerabaia memiliki pemimpin redaksi yang bernama HWR Kommer, mantan kontrolir Belanda. R.M. Bintarti pernah menjadi penanggung jawab redaksi di Pewarta Soerabaia. Setelah tujuh tahun terbit, surat kabar ini mengalami masalah krisis manajemen sehingga terus berganti-ganti kepengurusan. Walaupun demikian, surat kabar ini dapat terus terbit sampai kedatangan Jepang. Selain surat kabar Pewarta Soerabaia, muncul Warna Warta di Semarang (Achmad Djais, 1994: 12-13 ). Warna Warta merupakan surat kabar yang cukup berani menyerang pemerintah Hindia Belanda. Hal tersebut membuat pimpinan redaksi yaitu J.P.H. Pangemanan sering dipanggil ke pengadilan karena tulisannya (Sartono Kartodirdjo, 1975: 297-298).

Pada awalnya Kabar Perniagaan terbit berupa mingguan, baru setelah 1 Maret 1904 Kabar Perniagaan menjadi harian. Redaksinya terdiri dari seorang Indonesia dan seorang Tionghoa yang bernama F.D.J. Pangemanan dan Gow Peng Liang (Sartono Kartodirdjo, 1975: 297). Kabar Perniagaan pada tanggal 1 Maret 1904 yang pada awalnya berisi perniagaan dan Advertentie, kemudian mewartakan segala karangan yang berfaidah, kabar perang, kabar kawat dan lainnya(Abdurrachman. 2002: 56-57). Kabar Perniagaan merupakan salah satu surat kabar yang terpenting sebab pembacanya tersebar di seluruh Jawa dan menyuarakan cita-cita gerakan Cina modern (Sartono Kartodirdjo, 1975: 297).

Surat kabar Sin Po adalah majalah Tionghoa yang menggunakan bahasa Melayu. Diterbitkan pertamakali di Jakarta pada bulan Oktober 1910. Dua tahun berselang Sin Po berubah menjadi surat kabar harian. Surat kabar Sin Po memuat

commit to user

berita luar negeri, ulasan berita, ruangan pajak, dan tajuk rencana. Menurut Abdul Wakhid, meskipun surat kabar Sin Po berhaluan ke nasionalisme Tiongkok, bukan berarti mereka mengabaikan perjuangan nasional Indonesia. Apalagi, kelompok Sin Po juga menolak kewarganegaraan Belanda. Mereka tetap menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia. (http://indocina.wordpress. com. Diunduh 30 Januari 2011. 14.00). Hubungan antara tokoh pergerakan dengan Sin Po diungkapkan oleh Yan Goan yang merupakan anggota redaksi Sin Po pada tahun 1921. Yan Goan menyadari bahwa warga Tionghoa dan warga Indonesia sama mengalami perlakuan tidak adil dan diskriminasi akibat penindasan kolonial Belanda. Dalam kapasitasnya sebagai anggota redaksi, Sin Po edisi bahasa Melayu sangat bersimpati terhadap penderitaan dan perjuangan rakyat Indonesia. Pada waktu itu anggota redaksi Sin Po banyak menerima karangan para pemimpin nasional Indonesia yang mencerminkan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah Kolonial Belanda (http://dennysakrie63.Wordpress. com.Diunduh 30 Januari 2011. 14.00).

Untuk mengobarkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia, Sin Po sering menurunkan tulian terjemahan tentang pergerakan kemerdakaan yang terjadi di India, Philipina, Maroko dan tempat-tempat lain. Akhirnya pembaca Sin Po yang warga Indonesia, akrab dengan nama-nama seperti Gandhi, Nehru dan Janna. Sin Po juga merupakan koran yang mendukung aspirasi para pemimpin pergerakan Indonesia dengan menyebarluaskan istilah ‘Indonesia” untuk mengganti istilah “Hindia Belanda”, dan istilah “orang Indonesia” untuk mengganti “Inlander” yang dikonstruksi kolonial Belanda. Hal ini didukung pendapat Houw bahwa “Sin Po adalah koran pertama yang tidak menggunakan kata inlander untuk menyebut orang Indonesia dan menggantinya dengan sebutan orang Indonesia.” Saat itu Belanda membagi masyarakat menjadi tiga kelas orang Eropa yang di dalamnya termasuk orang Jepang dan Thailand, orang Tionghoa dan orang Timur Asia lainnya, dan inlander untuk pribumi (http://dennysakrie63.wordpress.com. Diunduh 30 Januari 2011. 14.00). Kata inlander ini juga di tolak digunakan oleh Perhimpunan Indonesia.

commit to user

Pemberitaan Sin Po tidak mengabaikan peristiwa-peristiwa penting di Indonesia hingga bisa memberikan kesadaran dan inspirasi bagi perjuangan. Dalam beberepa periode, Sin Po banyak memakai wartawan bumiputra dan banyak memuat berita pergerakan. WR Supratman juga tercatat sebagai wartawan Sin Po. Melalui Sin Po juga lagu Indonesia Raya gubahan WR Supratman menjadi lagu kebangsaan Indonesia pertama kali dipublikasikan tahun 1925. Sementara Ir Soekarno juga dikenal dekat dengan Sin Po (http://indocina.wordpress.com. Diunduh 30 januari 2011. 14.00).

The Young Republican terbit 15 oktober 1918, dengan redaktur Oeij Tjiong Yan, Tjoa Jan Hie, Tjiook Soe Tjioe dan Oeij Kiem Koei. Direktur perusahaannya Ong Ing Hwei. Mutu cetakannya cukup bagus dan berisik lebih banyak artikel mengenai pergerakan kaum muda Tionghoa (J.M. Kiveron, 1934: 17). Dengan semakin banyaknya artikel maupun berita dari luar mengenai pergerakan pemuda, secara langsung maupun tidak langsung akan memunculkan pemikiran-pemikiran dari golongan muda untuk melakukan tindakan yang sama. Sebuah berita dapat menguatkan pemikiran yang ada untuk segera dilakukan.

Pers Tionghoa dapat bertahan lebih lama jika dibandingkan dengan pers pribumi/nasional karena adanya permodalan dan dukungan dari pengusaha-pengusaha Tionghoa. Dalam sebuah surat kabar dapat terus berkembang dan menjadi besar karena jumlah pembaca yang besar dan banyaknya iklan yang dimuat. Selain itu pers Tionghoa merupakan pers netral yang berarti tidak membenarkan suatu tindakan dari kaum kolonial maupun pribumi. Semua berita yang dihadirkan sebagian besar merupakan kejadian di Tiongkok. Walaupun kadang adanya suatu kritik, namun kritik yang diambil merupakan bagian dari refleksi keadaan di sekitar. Sehingga jarang terkena pembredelan pers.

Java Herald, pada penerbitan pertama tak kurang 50 iklan yang dimuatnya. Sin Jit Po, bertahan dari tahun 1924 sampai tahun 1942 dan berisi tulisan mengenai tiongkok dan masyarakat yang cukup menonjol yang diimbangi tulisan luar negeri(60%), Sin Po yang terbit 1910 sampai 1960, dan lain-lain. Walau ada yang juga bertahan tidak lama, namun pers Tionghoa merupakan pers

commit to user

yang dapat bertahan dari masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan (J.M. Kiveron, 1934: 21-22).

Menurut Nio Joe Lan, fungsi pers bukan sekadar memberikan informasi dan penyuluhan, tapi juga memberikan pendidikan masyarakat. Dari segi penyajian, bahasa yang dipakai pers Tionghoa peranakan adalah bahasa Melayu, sehingga secara tak langsung juga memasyarakatkan bahasa Melayu yang ketika itu sedang dikampanyekan sebagai bahasa persatuan di Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Pers sebagai media informasi dan pendidikan perjaungan ini, paling tidak juga ikut andil dalam menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat Indonesia (http://indocina.wordpress.com. Diunduh 30 januari 2011. 14.00).

Dalam buku 45 tahun sumpah pemuda, Abdurrachman Surjomihardjo menyatakan “Di Indonesia sendiri perkembangan pers berbahasa melayu dinilai sangat penting peranannya, karena pers itu dapat langsung mencapai pembaca penduduk bumi putra, golongan penduduk yang terbanyak jumlahnya disamping golongan Belanda dan Tionghoa.”(1974: 293) Pers yang berbahasa Melayu, dalam perjuangan bangsa Indonesia, amat penting karena dapat menarik pembaca dari kelompok Bumi Putra. Keberadaan pers yang berbahasa Melayu merupakan ancaman bagi pers Belanda. Oleh karena itu, dalam usaha untuk menarik pembaca, pemerintah Belanda juga menerbitkan pers berbahasa Melayu. Pers mampu memberikan sumbangan terhadap timbulnya kesadaran bangsa Indonesia.

c. Pers Pribumi

Salah satu hal mendasar yang dialami oleh para pejuang, khususnya pada masa pergerakan nasional adalah bagaimana mengkomunikasikan perjuangan pada pihak lain. Kurangnya komunikasi ini dapat memberikan dampak negatif dalam sebuah perjuangan. Komunikasi sangat bermanfaat dalam upaya mengkoordinasikan perjuangan. Salah satu sarana yang dapat dipergunakan untuk mengkomunikasikan perjuangan itu adalah melalui pers. Ketajaman “pena” pers itu dapat memberikan motivasi pada para pejuang, sebab bagaimanapun sebuah terbitan pasti memiliki “warna” dan nuansa yang subjektif. Secara umum, pers harus mampu memperjuangkan objektivitas, menjadi alat pendidikan, alat

commit to user

penyalur aspirasi, sebagai lembaga pengawasan dan juga sebagai upaya untuk penggalangan opini umum (http://www.crayonpedia.org. Diunduh 2 Juni 2011 pukul 15.00).

Pergerakan nasional dan pers pribumi dapat diibaratkan sebagai kembar siam, kedua bidang kegiatan bangsa indonesia yang hidup berdampingan. Apabila pergerakan nasional dapat dipandang sebagai proses mobilisasi rakyat untuk berpartisipasi dalam mewujudkan cita-cita nasional, hal ini berarti fungsi pokok pergerakan nasional ialah mensosialisaskan politik dikalangan masyarakat. Media massa dipandang dapat menyampaikan semua yang dibutuhkan organisasi, sehingga penggarapan kesadaran dapat terlaksana secara lebih efektif.

Berbagai orgaisasi yang muncul awal abad ke-20 membawa perubahan yang sangat besar bagi perkembangan pers. Dalam tahun-tahun 1913 keatas atau setelah perang dunia pertama, perkembangan pers Pribumi memang sangat hebat dan pesat. Bersama-sama dan bergandengan gerakan kebangsaan, baik yang berdasarkan agama maupun yang berazaskan kebangsaan semata, pers nasional merupakan gambaran serta cermin yang nyata dari kehidupan kebangsaan; sekaligus pers menjadi penyebar semangat nasionalisme. Ada kerjasama yang timbal balik antara kedua pihak itu, yang menguntungkan kedua belah pihak (Pers Indonesia. 1978: 18-19). Hal ini dapat dilihat dari data hubungan organisasi pergerakan nasional, yaitu:

NAMA ORGANISASI KOTA NAMA PERS TAHUN

BUDI UTOMO SURAKARTA

YOGYAKARTA DARMO KONDO BOEDI OETOMO 1903 1920 SAREKAT DAGANG ISLAM SURAKARTA SEMARANG SARO TAMA SINAR DJAWA 1914 1914 SAREKAT ISLAM SURABAYA

BANDUNG SURAKARTA MALANG OETOESAN HINDIA SIMPAJ SAROTOMO SRI SOERAPATI 1916 1916 1916 1910

commit to user SERANG PALEMBANG YOGYAKARTA MALANG GARUT MIMBAR TERAJOE TJABALAKA SOEARA KITA BALATENTARA ISLAM 1919 1919 1920 1921 1924

INDISCHE PARTIJ BANDUNG SEMARANG

DE EXPRES HINDIA PUTRA

1912 1920

JONG JAVA JAKARTA SURAKARTA JONG JAVA SISWO GOEPITO 1920 1924 Table. 1.2

Budi Utomo merupakan suatu organisasi pergerakan nasional yang pertama didirikan tanggal 20 Mei 1908 dengan bentuk modern. Tujuan awal Boedi Oetomo adalah mencapai kemakmuran yang harmonis untuk nusa dan bangsa jawa dan madura (de harmonische ontwikkeling van land en vol van Java

en Madura). Untuk mencapai tujuannya dirumuskan beberapa usaha, yaitu:

memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, industri, dan menghidupkan kembali kebudayaan. Namun disini nasionalisme yang diangkat oleh Budi Utomo hanya terbatas pada wilayah Jawa dan Madura (Cahyo Budi Utomo. 1995: 49-51). Dalam perkembangannya, Budi Utomo didominasi oleh golongan ningrat atau aristokrat dan jaringan sosial yang terbentuk menjadi terbatas pada subkultur regional serta subkultur priyayi. Hal ini menimbulkan reaksi dari golongan lain, sehingga muncullah organisasi-organisasi sejenis yang semuanya merupakan manifestasi dari identitas golongan masing-masing, baik identitas subkultural etnis maupun subkultural kelas atau golongan sosialnya. Misalnya: Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong minahasa, Sarekat Islam, Paguyuban Pasundan dan lain-lain (Sartono Kartodirdjo. 1990: 104-105).

Pada tahun 1911, H. Samanhudi mendirikan Serikat Dagang Islam (SDI) di Solo sebagai usaha koperasi untuk memajukan perdagangan pribumi sekaligus sebagai reaksi terhadap pedagang-pedagang Tionghoa yang memonopoli

Dokumen terkait