METODOLOGI PENELITIAN
A. Sejarah Munculnya Pers di Indonesia
Kolonialisme yang terjadi di Indonesia kebanyakan membawa pengaruh buruk bagi rakyat maupun persatuan. Namun segala sesuatu pasti ada sisi positif dan negatif. Tidak mungkin sepenuhnya hanya negatif atau keburukan saja. Kolonialisme juga memiliki segi positif. Dengan adanya politik etis yang berisi imigrasi, irigasi dan pendidikan membawa pengaruh positif, terutama pendidikan. pendidikan mendorong munculnya semangat nasionalisme dari rakyat Indonesia karena pemikiran mengenai perjuangan kemerdekaan negara lain dapat dilihat melalui membaca buku (Sudiyo, 2003: 1-15 ). Selain itu, teknologi yang dibawa bangsa Barat ke Indonesia membawa perubahan besar. Antara lain, dengan dibawanya mesin cetak dari negeri Belanda pada tahun 1717. Walaupun secara keseluruhan baru ada dua buah percetakan di Indonesia, namun dengan adanya percetakan dapat membuka jalan menuju perkembangan pers di Indonesia. Pada mulanya percetakan itu hanya digunakan untuk keperluan Kompeni (Soebagijo I.N. 1977 : 7).
C.W. Wormser di dalam catatannya “Drie en dertig jaren op java” diterbitkan oleh Ten Have, Amsterdam, negeri Belanda pada tahun 1944, menerangkan bahwa Indonesia lebih dulu menerbitkan surat kabar dari pada di negeri Belanda. Atas perintah Jan Pieterszoon Coen dan mendapat persetujuan dari Gubernur Jenderal Laurens Reaal, di Jakarta telah diterbitkan semacam surat kabar yang ditulis dengan tangan pada tahun 1615, dengan nama “Memories der Nouvelles”. Surat kabar ini diberikan kepada orang yang berkepentingan, agar dapat mengetahui peringatan-peringatan, kejadian-kejadian, peraturan yang penting-penting yang berlaku dan terjadi dikalangan orang Belanda (Samsudjin Probohardjono, 1985: 15). Sedangkan di negeri Belanda muncul surat kabar tahun 1619 yang berisikan proses tuntutan hukuman mati Johan V.Olden Barnevelt. (Tim Departemen Penerangan, 1978: 23)
commit to user
Penerbitan surat kabar cetak di Indonesia baru muncul tahun 1744, dibawah pemerintahan Gubernur Jendral Van Inhoff yang berpandangan bebas, telah berkenan memberikan ijin atau “octrooi” kepada Jan Erdman Jordens, pedagang merangkap sekretaris kantor sekretariat Jendral pada waktu itu, untuk menerbitkan suratkabar, dengan jangka waktu selama tiga tahun. Dengan Octrooi tersebut di Jakarta terbitlah surat kabar “Bataviase Nouvelles en Politique Raisonnementen”. Nomor pertama terbit pada tanggal 7 Agustus 1744. Akan tetapi “zeventien” atau “Dewan Tujuhbelas” yang merupakan pengurus kompeni Belanda mendapat berita tentang akibat dari penerbitan itu, lalu memutuskan pada tanggal 20 November 1745, memerintahkan melarang terbitnya surat kabar tersebut. Bunyi keputusan tersebut antara lain adalah seperti berikut: “dewijl van het drukken en uitgaven van de couranten te batavia . . . al nadelig gevolgen hier te lande heeft bespeurd, zoo zal U E D aanstonds na de ontvangst dezer het drukken en uitgeven van de couranten verbieden”. Perintah tersebut terpaksa dipatuhi dan dijalankan, meskipun ada ijin penerbitan selama tiga tahun. Penerbitan terakhir Bataviase Nouvelles” pada tanggal 20 Juni 1746 (Samsudjin Probohardjono, 1985:14-15).
Selain surat kabar pemerintah, ada pula surat kabar swasta yang terbit di Surabaya pada bulan Maret 1836, diberi nama Surabayasche Advertentieblad, yang hanya berisi berita-berita iklan. Pada tahun 1853 berganti haluan dan berganti nama menjadi Surabayasche Nieuws en Advertentieblad. Sesuai dengan namanya disamping isi berita-berita iklan, surat kabar ini juga mementingkan berita-berita umum, meskipun masih sangat terbatas dan ada dibawah pengawasan yang ketat (Samsudjin Probohardjono, 1985: 17). Kemudian ditahun 1845 di Semarang terbit Semarangsch Advertentieblad, akan tetapi hanya bertahan satu tahun (Soebagijo I.N. 1977: 9).
Kesadaran orang-orang Tionghoa akan pentingnya pendidikan mendorong mereka untuk berusaha mendirikan sekolah-sekolah bagi kalangan etnis Tionghoa, sehingga muncul kelompok intelektual peranakan Tionghoa di Indonesia. Kelompok intelektual peranakan Tionghoa baik secara langsung maupun tidak, menumbuhkan dampak munculnya minat orang-orang Tionghoa
commit to user
membaca surat-surat kabar yang di terbitkan orang-orang Belanda. Dari besarnya minat pembaca dari kalangan etnis Tionghoa maka bermunculan penerbitan surat kabar dari kelompok peranakan Tionghoa (Soebagijo I.N. 1977: 13). Surat kabar peranakan Tionghoa muncul bersamaan dengan bangkitnya nasionalisme Tionghoa. Hal ini dikarenakan situasi Kolonialisme yang menimbulkan diskriminasi antara orang Belanda dengan orang Tionghoa, misalnya adanya aturan Passenstelsel dan Wijkenstelsel.
Etnis Tionghoa melalui aturan Passenstelsel dan Wijkenstelsel itu ternyata menciptakan konsentrasi kegiatan ekonomi orang Tionghoa di perkotaan. Ketika perekonomian dunia beralih ke sektor industri, orang-orang Tionghoa paling siap berusaha dengan spesialisasi usaha makanan-minuman, jamu, peralatan rumah tangga, bahan bangunan, pemintalan, batik, kretek dan transportasi (http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia. diunduh 30 Januari 2011). Karena kebutuhan untuk menjual barang dagangan maka dibutuhkannya iklan. Pers Tionghoa muncul dua macam pers yaitu: pers yang mementingkan ekonomi sehingga berisikan banyak iklan dan pers yang berhaluan nasionalisme yang berisikan kejadian penting di negeri Tiongkok serta kejadian di Hindia Belanda.
Perkembangan surat-surat kabar di Indonesia dipengaruhi oleh pers Belanda dan penerbitan-penerbitan yang dimiliki orang Belanda serta Tionghoa. Tirtoadisuryo adalah pengusaha Indonesia pertama yang bergerak dibidang penerbitan dan percetakan. Dia membuat surat kabar dengan nama “Medan Priyayi” (Sartono Kartodirdjo, 1975: 301). Medan Priyayi terbit pada tahun 1907 di Betawi dengan filialnya di Bandung. Melalui Medan Priyayi, Tirtoadisuryo berhasil menggunakan Surat kabar sebagai alat pembentuk pendapat umum. Sebagai haluan surat kabar Medan Priyayi tercantum tebal dibawah judul yaitu “Organ boeat sebagi bangsa yang terperintah di HO (Hindia Olanda atau Hindia Belanda). Tempat akan memboeka swaranya anak-Hindia” (Abdurrachman. 2002: 82).
Menurut Soedarjo Tjokrosisworo, batu dasar jurnalistik modern telah diletakkan oleh Tirtoadisuryo. Tirtoadisuryo yang memulai pembaharuan dalam mengolah isi surat kabar. Surat kabar Medan Priyayi memuat karangan, berita,
commit to user
pengumuman, pemberitaan, iklan dan lain-lain. Tirtoadisuryo dianggap sebagai wartawan Indonesia yang pertama-tama menggunakan surat kabar sebagai alat untuk membentuk pendapat umum. (Sartono Kartodirdjo, 1975: 301)
Budi Utomo yang lahir di Jakarta tahun 1908, sangat memperhatikan pentingnya surat kabar sebagai penyambung suara organisasi. Walaupun surat kabar yang terbit bercorak lunak seperti sikap Budi Utomo; namun redakturnya selalu menulis dan memberitakan hal-hal yang penting bagi kemajuan dan kesejahteraan. Langkah yang demikian akhirnya diikuti berbagai organisasi pergerakn nasional lainnya, di antaranya Sarekat Islam, Indische Partij, Partai Komunis indonesia dan organisasi lain(Samsudjin Probohardjono, 1985:27).
Perjuangan pers di Indonesia tidaklah semudah yang dilihat. Dalam buku Pers Jawa Timur dari Masa ke Masa (Achmad Djais, 1994 : 7) dijelaskan karena penerbitan pers semakin bertambah, tahun 1856 pemerintah Hindia belanda mengeluarkan Reglement op de Drukwerken in Nederlandesch Indie yang lazim disebut Drukpers Reglement atau UU tentang percetakan dan Pers. UU itu berisi “Semua karya cetak sebelum diterbitkan, satu eksemplar harus dikirimkan dulu kepada Kepala Pemerintahan setempat, pejabat justisi dan algemeene Secretarie. Pengiriman ini harus dilakukan oleh pihak pencetakan dan penerbitan untuk mendapatkan persetujuan dari Kepala Pemerintahan setempat, pejabat justisi dan algemeene Secretarie. Kalau ketentuan ini tidak dipatuhi, karya cetak tersebut disita. Tindakan ini bisa disertai dengan penyegelan percetakan atau tempat penyimpanan barang-barang percetakan tersebut”. Peraturan ini bersifat pengawasan preventif. Aturan ini pada 1906 diperbaiki menjadi bersifat represif, yang menuntut setiap penerbit mengirim karya cetak ke pemerintah sebelum dicetak. Sejak diberlakunya ketentuan liberalisasi, khususnya keputusan penguasa kolonial untuk menghapus Pra-sensor mulai tahun 1906, wartawan Indonesia memperoleh peluang untuk menerbitkan surat kabar sendiri (Tribuana Said. 1988: 24-25).
Pers pada awalnya merupakan bentukan dari pemerintah Hindia Belanda yang sangat dipengaruhi oleh kolonialisme dan terbatas dari kalangan tertentu. Namun dengan berkembangnya berbagai pengetahuan serta beberapa faktor
commit to user
menyebabkan pers dapat dinikmati oleh hampir semua golongan. Pers merupakan sarana komunikasi yang efektif pada waktu itu, sehingga pers menjadi jalan bagi semua pihak untuk mencapai keinginannya.