BAB II KAJIAN TEORI
4. Peran Sekolah dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja
Pada sekolah dan pendidikan, remaja-remaja menuntut program-program pendidikan yang futuristik, inspiratif, dan motivatif. Mereka membutuhkan berbagai kegiatan positif untuk mengasah minat dan bakat terpendamnya. Jangan sampai remaja dibiarkan keluyuran tanpa ada kegiatan positif, karena itu akan menjerumuskan mereka pada hal-hal negatif. Memberikan berbagai kegiatan positif menjadi kunci untuk menghindarkan mereka dari kenakalan remaja.
Kedisiplinan perlu digalakkan mendeteksi, mengindetifikasi, mencari solusi, dan memberi sanksi bagi remaja yang melanggar. Sekolah harus bertindak keras, namun juga mampu mengayomi anak-anak didiknya yang masih remaja. upaya ini tentu saja membutuhkan kejelian, ketelitian, dan ketekunan secra konsisten, mengingat kenakalan remaja semakin memprihatinkan.15
Disinilah pentingnya kerja sama antara dunia pendidikan dengan seluruh elemen bangsa ini (mulai dari aparat penegak hukum, birokrasi, media massa baik cetak maupun elektronik, organisasi sosial keagamaan, tokoh masyarakat, dan tentunya keluarga) untuk melindungi remaja di Indonesia dari berbagai penyimpangan. Upaya ini bertujuan untuk membekali mereka dengan berbagai keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi dalam menyongsong masa depan.
Dalam konteks organisasi pendidikan, disekolah remaja seharusnya dapat berperan sebagai motor perubahan untuk mengantisipasi tantangan globalisasi yang terus bergerak dinamis dan progresif.16
Menurut havighurs sekolah mempunyai peranan atau tanggung jawab penting dalam membantu para siswa mencapai tugas perkembangannya. Sehubungan dengan hal ini, sekolah seyogianya berupaya untuk menciptakan iklim yang kondusif atau kondisi yang
15
Ibid., h. 258. 16
dapat memfasilitasi siswa (yang berusia remaja) untuk mencapai perkembangannya.17
Selain peran sekolah dalam menanggulangi kenakalan remaja, berikut kiat-kiat sukses lembaga pendidikan untuk menanggulangi kenakalan remaja di sekolah.
a. Keteladanan
Keteladanan yang baik dari kepala sekolah, guru, dan semua personel sekolah adalah suatu keniscayaan dalam upaya pembangunan moral yang baik. Remaja adalah dunia imitasi sehingga apa yang dilihat dan disaksikan secara langsung olehnya akan mempunyai efek yang besar terhadap perilakunya. Ia akan berusaha meniru secara bertahap-tahap apa yang ia lihat dari orang-orang disekitarnya.
b. Pendekatan agama yang mencerahkan
Agama adalah elemen penting yang mempunyai kekuatan mengubah. Namun tidak semua materi agama tidak membawa perubahan. Hanya materi agama yang membawa pencerahan saja yang mampu merubah perilaku seseorang. Pendekatan agama yang menitik beratkan kepada penghayatan, penyadaran, dan pergerakanlah yang mampu membangkitakn semangat perubahan ke arah yang lebih baik.18
c. Optimalisasi pendidikan moral dan budi pekerti
Pendidikan agama akan mantap dengan optimalisasi pendidikan moral dan budi pekerti. Pendidikan moral dan budi pekerti ini juga menjadi tujuan pendidikan agama. Namun, budi pekerti ini bisa melibatkan aspek yang lebih luas, misalna peraturan pemerintah dan hukum adat. Agama yng dikombinasikan dengan peraturan pemerintah dan hukum adat
17
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), h. 95.
akan menjadi kekuatan dasyat dalam melakukan perubahan struktural dan kultural.
d. Pendekatan psikologi yang humanis dan persuasif
Kenakalan remaja seyogianya ditangani dengan menggunakan pendekatan psikologi, bukannya pendekatan militeristiik, karena salah-salah malah memperpanjang masalah. Pendekatan psikologi dilakukan secara humanis dan persuasif yang menyentuh problem personal remaja dan bertujuan memberikan solusi terbaik dari berbagai masalah aktual yang dihadapi remaja.19
e. Bimbingan dan konseling
Disekolah, ada staf khusus yang menangani kenakalan anak dan memberikan motivasi belajar yang tinggi. Staf itu adalah bimbingan dan konseling. Seyogianya, personel bimbingan dan konseling ini dapat memaksimalkan tugasnya dalam melakukan penyuluhan, pengarahan, dan bimbingan secara intensif. Pembaruan demi pembaruan juga perlu dilakukan agar pendekatannya bisa menarik produktif, sehingga bisa mengantisipasi setiap persoalan yang berkembang pada masa sekarang dan akan datang.
f. Tata tertib sekolah
Tata tertib sekolah adalah keniscayaan. Namun, tata tertib ini harus dibuat untuk ditegakkan secara disiplin dan konsisten. Menurut Prof. Drs. Agoes Soejanto, adanya peraturan-peraturan itu tiada lain untuk menjamin kehidupan yang tertib dan tenang, sehingga kelangsungan hidup sosial itu dapat dicapai.20
g. Komdis (komisi disiplin)
19Jamal Ma’mur, op.cit., h. 180. 20Jamal Ma’mur, op.cit., h. 186.
Komdis adalah komisi yang bertugas untuk menegakkan kedisiplinan anak didik, sehingga mereka terbiasa dengan budaya disiplin dalam hidup. Kedisiplinan dalam hal apapun (waktu, pakaian, sopan, santun, dan moral) memiliki peran sangat penting dalam pembentukan karakter siswa.
h. Kerja sama sekolah, orang tua dan lingkungan
Sebuah sekolah tidak akan pernah bisa melakukan proses pembelajaran dengan baik tanpa bantuan dari pihak-pihak lain, sebab berbagai persoalan siap mendera, muali dari keanekaragaman karakter dan pribadi siswa, kurikulum pendidikan yang berganti-ganti, hingga kenakalan remaja. Oleh sebab itu, kerja sama antara pihak sekolah dengan dengan orang tua dan masyarakat (termasuk aparat kepolisian) merupakan hal yang sangat penting agar terwujud perbaikan moralitas dan mentalitas anak didik secara sinergi.21
i. Pembekalan aspek hukum
Pembekalan aspek hukum formal juga perlu diagendakan terkait upaya-upaya penanggulangan. Pembekalan aspek hukum ini patut untuk disampaikan dalam upaya memproteksi remaja agar tidak melakukan segala tindakan melanggar hukum sehingga remaja bisa melindungi dirinya sendiri. Paling tidak, para remaja akan berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan melanggar hukum.
j. Menciptakan ruang kelas dan lingkungan sekolah yang menyenangkan
Ruang kelas dan sekolah yang ideal haruslah didesain secara kreatif dan dinamis, sehingga membuat anak didik betah berlama-lama di dalam kelas. Mengingat remaja banyak menghabiskan waktunya dilingkungan ini. Konservatisme akan
membawa kebosanan, termasuk kebosanan di kelas yang pada gilirannya dapat menurunkan semangat belajar siswa.22
B.Remaja dan Kenakalan Remaja