BAB V PERAN SEMANTIS VERBA AMBIL BAHASA ACEH
5.2 Peran Umum Argumen VABA
Verba AMBIL dalam bahasa Aceh memiliki peran semantis yang sama dengan peran semantis verba lainnya. Dengan bertumpu pada teori Tata Bahasa Peran dan Acuan (TPA), dikatakan bahwa relasi tematis prototip adalah agen dan pasien; artinya, agen adalah prototip untuk AKTOR dan pasien adalah prototip untuk PENDERITA (Van Valin dan La Polla, 1999). AKTOR dan PENDERITA tidak mempunyai isi semantis yang konstan. Aktor dapat berperan sebagai agen, pengalam, instrumen dan peran lain, sedangkan penderita berperan sebagai tema, pasien, resipien dan peran-peran lain. Verba ini minimal memiliki dua argumen dan maksimal tiga argumen.
5.2.1 Peran Semantis VABA pada ‘X MELAKUKAN SESUATU PADA SESUATU
DENGAN SESUATU’
Verba AMBIL bahasa Aceh memiliki dua argumen inti. Argumen pertama berperan sebagai AKTOR, sedangkan argumen kedua berperan PENDERITA yang mengalami efek atau pengaruh dari suatu tindakan. Verba AMBIL adalah verba yang membutuhkan argumen berupa nomina yang berciri makna [+bernyawa] dan bertindak sebagai pengendali dan penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut. Verba ini mengharuskan hadirnya AKTOR dan PENDERITA dalam struktur semantisnya. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini dijelaskan beberapa contoh kalimat yang mengandung peran semantis pada verba AMBIL.
„Saya membongkar kandang ayam itu karena sudah rusak‟.
(49) Jih [A/Agen] teungoh jiindang meuh [P/Tema]
3Tg PROG AKT.dulang emas „Dia sedang mendulang emas‟
Berdasarkan contoh (48) verba lheub „mencabut‟ mensyaratkan objek berupa eumpung manok „kandang ayam‟. Hal ini menunjukkan bahwa AKTOR
dengan peran khusus yang berupa agen diisi oleh lon „saya‟ sedangkan
PENDERITA dengan peran khusus yang berupa tema diisi oleh eumpung manok „kandang ayam‟. Berdasarkan contoh pada kalimat (48) AKTOR dikatakan sebagai agen karena mengontrol dan mengendalikan peristiwa „mengambil‟ yang terjadi, sedangkan PENDERITA memiliki peran khusus sebagai pasien karena dipengaruhi langsung dari tindakan yang dilakukan oleh agen sehingga menyebakan perubahan.
Pada contoh (49) verba jiindang „mendulang‟ mensyaratkan objek berupa meuh „emas‟. Hal ini menunjukkan adanya AKTOR dengan peran khusus sebagai agen yang diisi oleh jih „dia‟ sedangkan PENDERITA dengan peran khusus sebagai tema yang diisi oleh meuh „emas‟. Berdasarkan contoh pada kalimat (49) AKTOR dikatakan sebagai agen karena mengontrol dan mengendalikan peristiwa sedangkan PENEDERITA memiliki peran khusus sebagai tema karena menerima pengaruh langsung dari tindakan agen sehingga entitas berpindah.
Contoh lainnya terlihat pada verba geurhueng „mengangkat‟, geujuthok „menjolok‟, culek „mencungkil‟ geuseut „menguras‟ dan geusuliek „memipil‟ yang
memiliki peran-peran semantis. Perilaku keempat verba dapat kita lihat pada contoh berikut.
(50) Mak [A/Agen] teungoh geurhueng engkot [P/Tema] bak beulangong [P/Sumber]
Ibu PROG AKT.angkat ikan PREP wajan „Ibu sedang mengangkat ikan dari wajan‟.
(51) Cut bang [A/Agen] teungoh geujuthok boh u [P/Tema] keu lon [P/Benefaktif]
Abang PROG AKT.jolok buah kelapa PREP saya „Abang menjolok buah kelapa untuk saya‟.
(52) Lon [A/Agen] teungoh culek u [P/Pasien] keu manok [P/Benefaktif]
1Tg PROG AKT.cungkil kelapa PREP ayam „Saya sedang mencungkil kelapa untuk ayam‟.
(53) Pakwa [A/Agen] teungoh geuseuet ie [P/Tema] bak praho [P/Lokatif] Paman PROG AKT.kuras air PREP perahu
„Paman sedang menguras air di dalam perahu‟.
(54) Mak [A/Agen] teungoh geusuliek boh jagong [P/Pasien] keu peuget kolak [P/Tujuan] Ibu PROG AKT.pipil buah jagung KONJ AKT.buat kolak
„Ibu sedang memipil buah jagung untuk membuat kolak‟.
Berdasarkan contoh (50-54), pada kalimat (50) verba geurhueng „mengangkat‟ mensyaratkan adanya peran AKTOR dan PENDERITA. AKTOR dijabarkan menjadi agen yang diisi oleh mak „ibu‟ karena berperan mengontrol dan mengendalikan peristiwa, pada PENDERITA dijabarkan menjadi tema yang diisi oleh eungkot „ikan‟ karena entitas menerima pengaruh langsung dari tindakan yang menyebabkan entitas berpindah, diikuti oleh beulangong „wajan‟ yang mengisi perang sebagai sumber.
Pada kalimat (51) verba geujuthok „menjolok‟ memiliki verba berupa buah kelapa dan mensyaratkan adanya AKTOR dan PENDERITA. Peran AKTOR berupa agen diisi oleh cut bang „abang‟ karena berperan sebagai pengendali peristiwa, pada PENDERITA terdapat peran tema yang ditempati oleh boh u „buah kelapa‟ karena entitas berpindah yang disebabkan oleh tindakan dan peran benefaktif yang diisi oleh lon „saya‟ karena memperoleh keuntungan dari tindakan yang dilakukan.
Selanjutnya, pada contoh (52) verba culek „mencungkil‟ yang mensyaratkan objek berupa kelapa. Pada kalimat tersebut terdapat dua argumen inti yakni AKTOR dan PENDERITA,pada AKTOR dijabarkan menjadi peran agen yang diisi oleh lon „saya‟. PENDERITA diisi oleh peran khusus berupa pasien yang ditunjukkan oleh u „kelapa‟ dan peran benefaktif oleh manok „ayam‟ yang mendapatkan keuntungan dari tindakan tersebut.
Pada contoh kalimat (53) adalah verba geuseuet „menguras‟ menunjukkan adanya AKTOR dan PENDERITA. Pada bagian ini aktor berperan sebagai agen yang diisi oleh pakwa „paman‟, PENDERITA diisi oleh peran khusus oleh tema yang ditunjukkan ie „air‟ dan peran lokatif yang berperan sebagai tempat terjadinya tindakan yang diisi oleh praho „perahu‟.
Lebih jauh lagi, peran semantis juga terlihat pada contoh (54), verba geusuliek „memipil‟ yang memiliki objek berupa buah jagung. Pada verba geusuliek „memipil‟ terdapat dua argumen yakni AKTOR yang memiliki peran khusus sebagai agen yang diisi oleh mak „ibu‟ yang berperan mengendalikan peristiwa, pada verba PENDERITA terlihat bahwa boh jagong „buah jagung‟ mengisi peran untuk tema dan kolak yang merupakan peran khusus berupa tujuan dari tindakan tersebut.
5.2.2 Peran Semantis VABA pada ‘X MELAKUKAN SESUATU PADA SESUATU
DENGAN SALAH SATU BAGIAN TUBUH’
Pada bagian ini, peran semantis akan dijabarkan berdasarkan kategori X melakukan sesuatu pada sesuatu dengan salah satu bagian tubuh. Seperti halnya pada pembahasan peran semantis sebelumnya, pada verba AMBIL bahasa Aceh ini juga mengharuskan adanya dua argumen inti. Verba AMBIL merupakan verba yang membutuhkan argumen berupa nomina yang berciri makna [+bernyawa] dan bertindak sebagai pengendali tindakan serta argumen berupa nomina yang berciri makna [-bernyawa] yang menjadi sasaran dari tindakan. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada contoh berikut ini.
(55) Gata [A/Agen] bek lhut peuleupah pisang [P/Pasien], treuk mate bak-bak 2Tg jangan AKT.cabut pelepah pisang nanti mati batang-batang
„Kamu jangan mengambil pelepah pisang, nanti mati batangnya‟.
(56) Bagah-bagah jih [A/Agen] jirampah dumpet [P/Tema] mak wate teungoh beulanja
Cepat-cepat 3Tg AKT.rampas dompet ibu-POSS KONJ PROG belanja „Cepat-cepat dia merampas dompet ibu ketika sedang belanja‟.
Jika diperhatikan, kedua kalimat di atas sama-sama dipusatkan pada verba yang bermedan makna sama yaitu AMBIL. Pada contoh (55) leksikon lhut „mengambil‟ mensyaratkan objek khusus berupa pelepah pisang. Dalam hal ini terdapat peran pada argumen yang disyaratkan oleh verba lhut „mengambil‟, pertama AKTOR dengan peran khusus berupa agen yang diisi oleh gata „kamu‟ karena bertindak mengontrol atau mengendalikan peristiwa yang terjadi, selanjutnya pada PENDERITA memiliki peran khusus berupa pasien yang
oleh entitas lain sehingga menyebabkan perubahan. Pada kalimat (56) verba jirampah „merampas‟ mensyaratkan objek berupa dompet, leksikon tersebut mengharuskan adanya AKTOR berupa agen yang diisi oleh jih „dia‟ dan PENDERITA berupa tema yang ditandai oleh dumpet „dompet‟ karena adanya perpindahan entitas yang dipengaruhi oleh tindakan.
Lebih jauh, terdapat peran semantis lainnya berdasarkan kategori di atas yaitu peran lokatif yang ditunjukkan oleh verba geusiet „mengumpulkan‟. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut.
(57) Mak [A/Agen] teungoh geusiet pade [P/Tema] i blang [P/Lok] wate musem keumeukoh
Ibu PROG AKT.kumpul padi PREP sawah KONJ musim panen
„Ibu sedang mengumpulkan padi di sawah ketika musim panen‟.
Sama halnya seperti peran-peran yang terdapat pada verba lainnya, verba geusiet „mengumpulkan‟ yang mengharuskan adanya AKTOR dan PENDERITA. pada AKTOR yang berperan khusus adalah agen yang diisi oleh mak „ibu‟ yang mengendalikan peristiwa yang terjadi PENDERITA dengan peran khusus berupa tema yang ditandai oleh pade „padi‟, hal ini disebabkan oleh pengaruh dari tindakan yang menyebabkan entitas berpindah, untuk peran lokatif diisi oleh i blang „sawah‟ yang merupakan tempat terjadinya peristiwa atau tindakan mengambil.
5.2.3 Peran Semantis VABA pada ‘X MELAKUKAN SESUATU PADA
SESEORANG DENGAN SESUATU’
berperan sebagai aktor, sedangkan argumen kedua berperan penderita yang mengalami efek atau pengaruh dari suatu tindakan. Verba AMBIL merupakan verba yang membutuhkan argumen berupa nomina yang berciri makna [+bernyawa] dan bertindak sebagai pengendali tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut, selanjutnya verba AMBIL juga membutuhkan argumen berupa nomina yang berciri makna [+bernyawa] sebagai entitas yang dipengaruhi oleh entitas lain dari tindakan atau peristiwa yang terjadi. Berdasarkan pemaparn sebelumnya, hal ini dapat kita lihat pada contoh berikut ini.
(58) Jih [A/Agen] jicawiek gaki meulatang [P/Pasien] nyan
3Tg AKT.kait kaki binatang DEM „Dia mengait kaki binatang itu‟.
(59) Jih [A/Agen] jisawok aneuk muloh [P/Tema] u laot [P/Lokatif] 3Tg AKT.sauk anak bandeng PREP laut
„Dia menyauk anak bandeng ke laut‟.
Berdasarkan contoh (58) verba jicawiek „mengait‟ memiliki objek berupa entitas bernyawa yaitu binatang. Pada kalimat tersebut mengahruskan adanya argumen AKTOR dan PENDERITA. Pada verba geulet „memburu‟, AKTOR memiliki peran khusus berupa agen yang diisi oleh ureung agam „laki-laki‟ yang bertindak mengontrol tindakan sedangkan PENDERITA mensayaratkan pasien yang ditandai oleh rusa „rusa‟ yang dipengaruhi oleh entitas lain sehingga menyebabkan perubahan, verba geulet „memburu‟ juga mensyaratkan adanya peran lokatif yang merupakan tempat terjadinya tindakan yang ditandai oleh i gle „di hutan‟.
Pada kalimat (59) verba jisawok „menyauk‟ memiliki objek berupa ikan yang berukuran kecil. Pada kalimat tersebut mensyaratkan adanya argumen inti yaitu AKTOR dan PENDERITA. Jih „dia‟ sebagai aktor yang mengendalikan
peristiwa subjek dan dijabarkan sebagai agen karena bertindak sebagai pelaku dari peristiwa, aneuk muloh „anak bandeng‟ sebagai PENDERITA yang dikendalikan oleh perisitiwa dan dijabarkan sebagai tema karena entitas berpindah.
5.2.4 Peran Semantis VABA pada ‘X MELAKUKAN SESUATU PADA
SESEORANG DENGAN SALAH SATU BAGIAN TUBUH’
Verba AMBIL bahasa Aceh pada X melakukan sesuatu pada seseorang dengan salah satu bagian tubuh juga memiliki peran semantis seperti halnya pada kategori lainnya. Argumen pertama berperan sebagai aktor, sedangkan argumen kedua berperan sebagai penderita yang mengalami efek atau pengaruh dari suatu tindakan. Verba AMBIL pada kategori X melakukan sesuatu pada seseorang merupakan verba yang membutuhkan nomina yang berici makna [+bernyawa] dan bertindak sebagai pelaku dari peristiwa. Selain itu, verba AMBIL juga mengharuskan adnaya argumen berupa nomina yang berciri makna [+bernyawa] dan bertindak sebagai entitas yang dilakukan oleh peristiwa. Lebih jelasnya hal ini dapat kita lihat pada beberapa contoh berikut ini.
(60) Baroe pulisi [A/Agen] geudrob ureung [P/Pasien] nyang baplueng ija Kemarin polisi AKT.tangkap orang KONJ AKT.lari kain
„Kemarin polisi menangkap orang yang melarikan kain‟.
(61)Bak lon [A/Agen] kueb udeung [P/Tema] bunoe, roh teuraba uleu
KONJ 1Tg AKT.tangkap udang tadi kebetulan PAS.raba ular „Saat saya menangkap udang tadi, kebetulan teraba ular‟.
Berdasarkan contoh (60-61), verba geudrob „menangkap‟, jikab „menerkam‟, dan kueb „menangkap‟ memiliki peran yaitu AKTOR dan PENDERITA. Pada contoh kalimat (60) terlihat bahwa AKTOR dijabarkan sebagai agen yang diisi oleh pulisi „polisi‟ yang bertindak melakukan tindakan. PENDERITA dijabarkan sebagai pasien yang diisi oleh ureung „orang‟ yang dipengaruhi oleh entitas lain sehingga menyebabkan perubahan.
Lebih jauh dapat kita lihat pada peran yang dimiliki oleh verba kueb „menangkap‟ yang ditunjukkan oleh kalimat (61). AKTOR memiliki peran khusus sebagai agen yang diisi oleh lon „saya‟ yang bertindak sebagai pelaku tindakan, berbeda dengan dua verba sebelumnya. Verba kueb „menangkap‟ menghadirkan PENDERITA berupa tema yang merupakn entitas yang dipengaruhi langsung oleh tindakan sehingga terjadi perpindaan yang diisi oleh eungkot „ikan‟.
Secara umum peran semantis yang terdapat pada argumen verba AMBIL merupakan verba transitif kecuali beberapa verba seperti geurhueng „mengangkat‟, geujuthok „menjolok‟, geuseut „menguras‟, geusiet „mengumpulkan‟, yang terdapat pada setiap subkategori yang merupakan peran tambahan yang disebut Non-Peran Umum.