SURAKARTA MASA PAKU BUWANA X
B. Peranan Abdi dalem Harya Leka di Keraton Kasunanan Surakarta Surakarta
Keberlangsungan suatu tradisi keraton tidak luput dari perhitungan penanggalan Jawa, terutama untuk kerajaan-kerajaan di Jawa khususnya kerajaan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, yang merupakan bagian dari kerajaan Mataram. Dalam hal ini abdi dalem Harya Leka mempunyai peran yang penting pada masa pemerintahan Paku Buwana X. Abdi dalem ini memiliki peran untuk menentukan waktu kapan dilaksanakannya sebuah upacara di Kasunanan. Pentingnya penanggalan untuk keraton yaitu dalam setiap kegiatan dan pelaksanaan suatu upacara tradisi keraton, segala sesuatunya harus diperhitungkan terlebih dahulu berdasarkan makna filosofi penanggalan Jawa. Penanggalan digunakan sebagai patokan suatu pelaksanaan kegiatan di keraton, yang menurut pengertian Jawa memiliki sifat dan watak sendiri-sendiri.
1. Penggunaan Penanggalan Jawa
Penanggalan Jawa dalam perkembangannya seringkali digunakan untuk melakukan aktivitas yang berbau mistis atau supranatural. Salah satu hari Jawa yang dianggap keramat di keraton Kasunan Surakarta adalah hari Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon. Kedua hari itu dipercayai banyak makhluk halus yang sedang bergentayangan. Di Keraton Kasunanan sendiri pada masa Pakubuwana X hari Selasa Kliwon (Anggara Kasih) digunakan untuk latihan menari Bedhaya Ketawang. Dipercaya bahwa Ratu Kidul pada setiap hari Selasa Kliwon, datang di Mataram untuk memberi pelajaran tari Bedhaya Ketawang. Isi cerita tari Bedhaya Ketawang menggambarkan percintaan antara Senapati dan Ratu Kidul, maka commit to user
pembawa tarian itu bukanlah putri raja melainkan para abdi dalem Bedhaya. Tari itu biasa dipentaskan pada acara penobatan raja dan ulang tahun penobatan raja yang bersifat sakral.19
Namun secara umum, ada sebagian orang yang masih memiliki kercayaan akan makna penanggalan Jawa ini. Beberapa hal yang masih kerap dikaitkan dengan penanggalan Jawa ini diantaranya:20
a. Pencarian hari baik. Biasanya pencarian hari baik ini digunakan untuk memilih waktu pelaksanaan acara pernikahan, waktu untuk melakukan prosesi pelamaran seorang wanita, hari mendirikan atau pindahan rumah. Sebagai contoh adalah pencarian hari baik untuk melangsungkan pernikahan, adalah Bulan Jumadilakir/Rejeb/Ruwah tetapi tidak boleh melangsungkan pernikahan pada hari Jumat (hari naas). Orang yang mnghindari hari naas tersebut untuk melangsungkan pernikahannya akan mendapatkan keselamatan. Bulan yang baik untuk mendirikan rumah adalah bulan Rabingulakir, Ruwah, Bêsar. Bulan tersebut dipercaya akan mendatangkan rejeki dan mendapatkan keselamatan.21
b. Pemilihan jodoh. Bagi mereka yang masih mempercayai penanggalan Jawa ini, hari kelahiran sangat menentukan dalam kecocokan jodoh seseorang. Sebagai contoh adalah pasangan yang dianggap tidak berjodoh karena memiliki hari kelahiran yang dianggap kurang pas. Seperti pasangan yang
19
Darsiti Suratman, op.cit., hlm. 176. 20
www.AnneAhira.com (diakses pada tanggal 15 Mei 2012). 21
Untuk lebih jelasnya mengenai pencarian hari baik lihat di lampiran 8, hlm. 136.
lahir pada pasaran Wage dan Pahing, dianggap sangat pantang untuk melangsungkan pernikahan karena watak kelahiran pasangan tersebut bertentangan. Watak pasaran Wage adalah kaku hati, sedangkan watak pasaran Pahing adalah suka terhadap barang orang lai, iri hati.
c. Menentukan hari pasar. Hari pasar adalah hari di mana sebuah transaksi atas komiditi tertentu dilakukan di sebuah tempat. Misalnya pasar hewan dilakukan pada hari Pon, pasar sayur dilakukan pada hari Pahing dan seterusnya.
d. Acara ritual. Bagi mereka yang masih memiliki kepercayaan dinamisme, ada hari-hari tertentu yang dianggap sangat sahih untuk melakukan sebuah ritual yang mereka percayai. Hari yang dipilih adalah hari Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon karena hari teresebut dianggap keramat oleh masyarakat Jawa.
2. Tahun Baru Jawa
Tahun Jawa memiliki kesamaan dengan Tahun Hijriyah terutama mengawali tanggal dan bulannya. Perbedaannya terletak pada istilah penyebutan Tahun Jawa menyebut bulan Sura.Pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi), tahun yang menjadi pegangan masyarakat Jawa pada waktu itu adalah Tahun Saka yang berdasarkan peredaran matahari. Sedangkan umat Islam menggunakan Tahun Hijriyah.
Pada waktu Sultan Agung berkuasa (1613-1645), Islam telah diakui menjadi agama di lingkungan istana Mataram Islam. Maka untuk tetap meneruskan penanggalan tahun Saka yang berasal dari leluhurnya, dan ingin mengikuti penanggalan tahun Hijriyah, Sultan Agung membuat kebijakan baru,
yaitu dengan mengubah tahun Saka menjadi Tahun Jawa. Ketika tahun 1555 Saka, oleh Sultan Agung diganti menjadi tahun 1555 Jawa dan berlaku untuk masyarakat pengikutnya. Sementara penetapan tanggal dan bulannya disamakan dengan tanggal dan bulan tahun Hijriyah 1 Muharram 1043.
Tahun dalam kalender Jawa atau kalender Sultan Agung ada 8, yaitu: Alip, Ehe, Jimawal, Je, dal, Be, wawu, dan Jimakir. Satu tahun Jawa berumur 354 hari disebut tahun wastu (pendek), sedangkan tahun Jawa yang berumur 355 hari disebut tahun wuntu (panjang). Dalam tahun panjang ini, umur bulan Besar ditambah 1 hari menjadi 30 hari. Watak bawaan atau pengaruh tahun Jawa jatuhnya pada tanggal 1 Sura seperti berikut:22
a. Bilamana tangal 1 Sura jatuh pada hari Minggu, tahun ini disebut tahun Dite-Kalaba, yaitu tahun Kelabang. Wataknya jarang hujan.
b. Tanggal 1 Sura jatuh pada hari Senin, tahun ini disebut tahun Soma Wrestija, yaitu tahun Cacing. Wataknya banyak hujan.
c. Tanggal 1 Sura jatuh pada hari Selasa, tahun ini disebut tahun Anggara Wrestija, yaitu tahun Katak. Wataknya banyak hujan.
d. Tanggal 1 Sura jatuh pada hari Rabu, tahun ini disebut tahun Buda Wisaba, yaitu tahun kerbau. Wataknya: banyak hujan.
e. Tanggal 1 Sura jatuh pada hari Kamis, tahun ini disebut tahun Respati Mintuna, yaitu tahun mimi. Wataknya banyak hujan.
f. Tanggal 1 Sura jatuh pada hari Jumat, tahun ini disebut tahun Sukra Minangkara, yaitu tahun Udang. Wataknya: jarang hujan.
22
Purwadi, Pranata Sosial Jawa, (Yogyakarta: Tanah Air, 2007), hlm. 43. commit to user
g. Tanggal 1 Sura jatuh pada hari Sabtu, tahun ini disebut tahun Tumpak Menda, yaitu tahun Kambing. Wataknya: jarang hujan.23
Dari penerapan ilmu Sultan Agung inilah para abdi dalem Harya Leka melakukan petungan-petungan tahun Jawa untuk penentuan tradisi-tradisi upacara di Keraton Kasunanan Surakarta. Tanggal dan harinya sudah dihitung dan ditentukan berdasarkan penanggalan yang ada. Semua tradisi di Keraton bersifat sakral, maka perlu kehati-hatian dan harus teliti dalam perhitungannya.
Di keraton Surakarta Hadiningrat tahun baru Jawa dirayakan pada malam 1 Sura dengan tata cara adat kirab pusaka keraton. Pada masa pemerintahan Sinuhun Pakubuwana X kirab pusaka kanjeng Kyai Slamet dilakukan pada malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, mengelilingi Baluwarti bagian dalam. Pusaka-pusaka dikirab di dalam kereta dan diawali oleh kebo bule Kyai Slamet. Adapun tujuan mengkirabkan pusaka keraton adalah untuk keselamatan negara seisinya.
3. Upacara Keagamaan di Keraton Surakarta
Dalam sebuah pemerintahan keraton tidak terlepas dari pelaksanaan tradisi upacara keraton terutama masa pemerintahan Sunan Pakubuwana X yang merupakan raja termashur di Keraton Kasunanan Surakarta pada masa itu. Banyak terdapat pelaksananan upacara tradisi keraton. Upacara tersebut misalnya upacara-upacara Garebeg dan beberapa upacara-upacara lainnya seperti; upacara-upacara penobatan raja dan ulang tahun penobatan raja, ulang tahun pawukon,24 upacara kelahiran, periode transisi dan kematian. Dari pelaksanaan beberapa upacara tradisi Keraton
23
Serat pawukon online. www. Pawukon, Padmasusastra, 1903. 24
Ulang tahun berdasarkan wuku raja, 29 November 1866 Wuku Wugu. commit to user
tersebut tidak luput dari sistem penanggalan atau penentuan tanggal untuk melaksanakan suatu upacara.
Abdi dalem diberi tugas-tugas khusus atau pelaksana pekerjaan-pekerjaan tertentu di lingkungan kerajaan. Kelompok abdi dalem secara fungsional dimasukkan ke dalam golongan abdi dalem garap nagari, salah satunya adalah abdi dalem Harya Leka (ahli petang dan pentarikh). Abdi dalem Harya Leka pada masa Pakubuwana X ditugaskan di perpustakaan Sasana Pustaka. Mereka mempunyai tugas menentukan hari dan penanggalan jawa di Keraton Kasunanan Surakarta, yang biasa disebut dengan ahli petang dan pentarikh. Abdi dalem Harya Leka dalam melaksanakan tugasnya tidak langsung menyampaikan kepada Raja tetapi lewat orang yang menyampaikan perintah kepada raja, yang disebut Panjang Jiwo. Abdi dalem Panjang Jiwo ditugaskan raja untuk menyampaikan berita baik dari raja sendiri maupun dari abdi dalem lainnya.
Keraton Kasunanan Surakarta melaksanakan tradisi upacara keagamaan, yang dinamakan Upacara Garebeg. Istilah garebeg dihubungkan dengan peristiwa pada waktu raja dalam busana kebesarannya miyos25 dari Kedhaton menuju Sitihinggil, raja ginarebeg atau diiringi oleh ratusan orang yang terdiri dari abdi dalem, prajurit, para putra, keluarga, dan kerabat raja, serta para tamu undangan, sehingga suara prosesi itu menjadi gemuruh.26
Upacara Garebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun berdasarkan kalender Jawa yaitu pada tanggal 12 Rabingulawal atau Mulud adalah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanggal 1 Syawal adalah hari raya Idul Fitri dan
25
Miyos berarti keluar. 26
Darsiti Soeratman, op.cit., hlm. 143. commit to user
tanggal 10 Dulhijah adalah hari raya Idul Adha.27 Pada tanggal tersebut raja mengeluarkan sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan. Dalam acara itu raja memberikan sedekah berupa pareden/tumpeng gunungan. Garebeg merupakan perayaan upacara keagamaan yang sangat popular di lingkungan keraton, di Keraton Surakarta prosesi upacara garebeg diselenggarakan tiga kali dalam setahun, yaitu:
a. Garebeg Mulud
Garebeg Mulud jatuh pada tanggal 12 Rabingulawal, memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Garebeg Mulud sering disebut sekaten, yang diselenggarakan dari tanggal 5-12 Rabiulawal. Dalam kalender Jawa bulan ini disebut bulan Mulud, maka dalam hal ini acaranya disebut Garebeg Mulud. Pelaksanaan upacara sekaten untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW merupakan suatu bukti bahwa Islam menerima tradisi, dan tidak menentang adat. Dalam perayaan sekaten, gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari dibunyikan. Tujuannya untuk menyebarkan agama Islam.
Tradisi membunyikan gamelan sudah ada sejak kerajaan Demak (1486 M). Pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, Sultan Patah memberikan materi dakwah dan pengajian akbar di pelataran Masjid Demak. Sultan juga memerintahkan kepada para prajurit untuk membunyikan gamelan karena beliau mengetahui bahwa masyarakat Jawa sangat menyukai Gendhing-gendhing Jawa.28
27
Serat Pusaka Jawi, Naskah ketik No. B.536, Reksapustaka Mangkunegaran.
28 Dedik Agung Catriantoro, “Abdi dalem Juru Suranata: Tugas dan Peranannya di Keraton Kasunanan Surakarta”, Skripsi, (Surakarta: UNS, 2000), hlm. 130.
Gamelan yang pertama kali dibunyikan pada saat perayaan Sekaten di kerajaan Demak adalah Gamelan Gendhing Rambu. Tokoh yang menciptakan gamelan sekaten gendhing Rambu adalah Sultan Bintara. Para wali menyebutnya dengan sebutan gendhing Rabbil alamin (Tuhan seru sekalian alam). Gamelan Rambu Rabbil alamin inilah yang berfungsi sebagai pengiring acara Maulud Nabi Mahammad SAW.29
Tradisi Sekaten juga diadakan di Mataram pada masa Sultan Agung. Sejak saat itu Mataram melestarikan tradisi sekaten tiap tahunnya baik di Kasunanan maupun di Kasultanan. Sebagai penguasa kerajaan Islam, raja-raja dinasti Mataram berusaha memperkuat legitimasi kekuasaan dengan cara melestarikan sekaten sebagai simbol hubungan raja dengan Nabi Muhammad. Selama perayaan sekaten di Kasunanan, perhatian masyarakat tertuju pada dua perangkat gamelan yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari yang dibunyikan di Bangsal Masjid Agung. Gamelan Kyai Guntur Madu yang terletak di bangsal selatan merupakan hasil karya Pakubuwana IV pada tahun 1718 Jawa dengan candrasengkala Naga Raja Patih Tunggal (1790 M). Sedangkan perangkat gamelan Kyai Guntur Sari yang terdapat di bangsal sebelah utara merupakan peninggalan Sultan Agung pada tahun 1566 Jawa dengan candrasengakala Rerenggan Woh-wohan Tinata ning Wadhah (1638 M).30 Gamelan Kyai Guntur
29
Suara Merdeka, “Rambu Gendhing Sekaten Hasil Karya Sultan Bintara”,
edisi 29/8/1993. 30
Ibid.
Madu melambangkan syahadat Tauhid sedangkan Kyai Guntur Sari melambangkan syahadat Rasul.31
Pada saat garebeg mulud di Kasunanan, gamelan sekaten yang terdiri dari gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan gamelan Kanjeng Kyai Guntur Sari diangkut oleh para abdi dalem dan pegawai keraton ke masjid agung dan ditempatkan di Bangsal Pagongan. Selama perayaan sekaten gamelan selalu dibunyikan kecuali pada saat waktu sholat.
Setiap delapan tahun sekali, Kasunanan Surakarta menyelenggarakan Garebeg Mulud Dal. Kata Dal adalah nama salah satu tahun Jawa. Dalam tarikh Jawa-Islam, dikenal perhitungan siklus delapan tahun yang disebut Windu. Nama-nama tahun yang masing-masing diambil dari sukukata aksara Arab diucapkan dan dieja dalam bahasa Jawa, meliputi: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir. Menurut tradisi perhitungan tarikh Jawa-Islam, Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada hari Senin Pon tanggal 12 Mulud tahun Dal.32 Tradisi perhitungan tarikh Jawa-Islam di Mataram mengenai hari dan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW yang ditetapkan oleh Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo (1643-1655), raja ketiga kerajaan Mataram diyakini kebenarannya turun temurun oleh para raja Jawa sampai sekarang.33
Pada setiap tanggal 12 Mulud tahun Dal perayaan Garebeg Mulud Dal dilaksanakan secara istimewa dengan penuh kemegahan. Pada malam garebeg
31
Syahadat Tauhid: Keyakinan akan keesaan Allah, Syahadat Rasul: keyakinan terhadap utusan Allah yakni Nabi Muhammad.
32
Serat Pusaka Jawi, loc.cit. 33
Soelarto, B, Garebeg di Kasultanan Yogyakarta, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 43-44.
Pakubuwana X beserta permasuri ikut terlibat langsung dalam prosesi menanak nasi di dapur Gandarasan.34 Nasi tersebut akan digunakan pada upacara gunungan. Dalam garebeg Mulud Dal, kehadiran Sunan di masjid Besar selain untuk melakukan kegiatan religius yang bersifat keislaman, juga untuk melakukan kegiatan simbolis yang melambangkan rakyat telah memeluk Islam. Sesuai gelar Sunan sebagai Pranatagama Kalifatullah.35
Di lingkungan Keraton Surakarta, dalam penetapan pelaksanaan Garebeg Mulud, abdi dalem Harya Leka mencatat penetapannya secara turun temurun yang dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabingulawal dan mencatat perhitungan siklus delapan tahunan pada tahun Dal.
b. Garebeg Syawal
Garebeg Syawal adalah upacara atau hajatan syukuran untuk mengakhiri bulan suci Ramadhan/Pasa dan memasuki bulan Syawal yang dilaksanakan Keraton Kasunanan Surakarta. Wujud puji syukur tersebut setiap tahun selalu dirayakan dengan upacara Garebeg Syawal yang disimbolkan dengan dua gunungan yang akan diperebutkan masyarakat di akhir upacara. Gunungan pertama yang berbentuk runcing menyerupai tumpeng disebut gunungan jaler (laki-laki), dan terdiri dari berbagai hasil bumi seperti kacang panjang, wortel,
34
Tradisi menanak nasi pada malam garebeg sudah merupakan adat, tetapi kehadiran raja dan permaisuri di dapur Gandarasan baru dimulai sejak pemerintahan Pakubuwana X. Lihat Serat Pusaka Jawi, loc.cit.
35
Ibid, Panatagama berarti Raja sebagai penguasa harus memerintah dengan hukum adil dan sifat raja juga dihubungkan dengan sifat Tuhan. Gelar Khalifatullah artinya Raja sebagai wakil nabi harus dapat membawa sifat nabi. Untuk jelasnya lihat: Dwi Ratna Nurhajarini, Tugas Triwahyono, Sejarah Kerajaan Tradisional Surakarta, (Jakarta: CV. Ilham Bangun Karya, 1999) hlm.190-191.
cabai merah besar, tebu, telur asin, klenyem (makanan dari bahan singkong diisi gula jawa), sedangkan di bagian bawah gunungan berisi tumpeng nasi putih berikut lauk-pauknya. Gunungan kedua berbentuk tumpul menyerupai kubah dan disebut gunungan estri (perempuan), terdiri dari rangkaian rengginang mentah atau criping dari ketan yang ditusuk dengan bilah bambu. Kemudian pada bagian bawah gunungan estri sama dengan gunungan pertama, yaitu berisi nasi beserta lauk pauk.36
Selama bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan untuk memenuhi rukun Islam yang ketiga yaitu berpuasa selama satu bulan penuh. Dalam kalender Jawa-Islam, bulan Ramadhan disebut bulan Pasa (Puasa),37 sedangkan untuk menghormati malam kemuliaan (Lailatul Qadar)38 dilaksanakan antara tanggal 21 bulan Ramadhan sampai dengan tanggal 29 bulan Ramadhan. Selama delapan malam itulah orang berjaga untuk memperbanyak amal ibadahnya, agar memperoleh berkah rahmat kemuliaan.39 Berkenaan dengan malam kemuliaan itu, umat Islam dari seluruh lapisan masyarakat di Keraton Kasunanan mempunyai tradisi bercorak kejawen yang disebut maleman atau selikuran, yaitu
36
www.keratonpedia.com (diakses pada tanggal 15 Mei 2012). 37
Sehari sebelum puasa dimulai, diadakan upacara mandi dan suci rambut. Bulan Puasa dimulai pada tanggal 1 Pasa, yang ditentukan berdasarkan
pengamatan munculnya bulan baru pada malam sebelumnya (ru’yah). Untuk jelasnya lihat: Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984) hlm. 369.
38
Malam Lailatul Qadar adalah suatu malam dalam bulan Ramadhan, saat Al Quran mulai diturunkan.
39
Soelarto, B, op.cit., hlm 45-46.
menyelenggarakan selamatan dan mengaji pada tanggal 21 malam hari, atau pada tanggal ganjil (23-25-27-29).40
Dalam pencatatan tentang penetapan awal bulan syawal dan pelaksanaan upacara garebeg syawal, para abdi dalem Harya Leka dan abdi dalem ulama menggunakan dasar pemahaman agama Islam. Harya Leka dan beberapa abdi dalem ulama melakukan pengamatan sederhana, seperti pengamatan bulan, satu-satunya yang dapat menentukan tanggal awal dan akhir puasa.41 Dasar yang digunakan sebagai landasan penghitungan adalah kalender Hijriyah. Salah satu hal yang membedakan antara penanggalan Hijriah dengan kalender lainnya adalah peraturan yang digunakan. Peraturan penanggalan Hijriyah disandarkan pada Al
Qur’an dan Hadis yang sekaligus sebagai sumber hukum agama Islam. Beberapa
aturan dasar penanggalan Hijriah adalah:42 1. Satu tahun terdiri dari 12 bulan. 2. Awal bulan ditandai dengan hilal.
3. Satu bulan Hijriah itu terdiri dari 29 hari atau 30 hari.
Jadi, awal atau akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan hasil ru’yah bil fi’li atau dengan cara istikmal bila hilal tidak dapat dilihat oleh mata kepala, karena syara’ hanya mengajukan dua cara tersebut. Penetapan awal atau akhir Ramadhan dengan hisab tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para
40Vorstenlandsche Garebeg’s door Dr. T.H Pigeaud, No. H.793,
Reksapustaka Mangkunegaran. 41
Tradisi penenentuan akhir bulan puasa di keraton dilakukan dengan pengamatan munculnya bulan baru yang dapat dilihat sekitar pukul 16.00-17.00.
42
Departemen Agama RI, Al-Quran dan terjemahnya, (Bandung: CV Gema Risalah Press, 1993).
sahabatnya, padahal sebelum Rasulullah lahir di Negeri Arab telah berkembang dan terdapat tempat yang dipakai untuk mengajar ilmu hisab.43
Di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta, tradisi Garebeg Syawal memberikan kenangan akan kemeriahan lebaran. Keraton Kasunanan Surakarta selalu mengucap syukur setiap tahun di saat lebaran tiba, dan memohon berkah serta keselamatan untuk semua. Upacara gunungan pun akan selalu ditunggu, sebagian besar masyarakat yang merindukan kegaduhan dan mengharapkan berkah melimpah dengan rela saling berdesakan diterpa teriknya panas saat lebaran tiba berikutnya.
c. Garebeg Besar
Garebeg besar, dilaksanakan tanggal 10 Dzulhijjah/Besar, tujuan utamanya adalah untuk merayakan Idul Adha. Idul Adha juga disebut al’ied al
kabir, yang bermakna perayaan besar. Kalender Jawa-Islam mengaitkan bulan Dzulhijjah dengan peristiwa perayaan besar. Oleh karenanya, bulan Dzulhijjah dalam kalender Jawa-Islam disebut bulan (wulan atau sasi) Besar, sehingga garebeg yang diselenggarakan untuk merayakan Idul Adha disebut Garebeg Besar. Selain untuk merayakan Idul Adha, Garebeg Besar juga dimaksudkan untuk merayakan lebaran kaji.44 Setiap hari raya Idul Adha, Keraton Kasunanan
43
http://www.republika.co.id/koran_detail. Hisab berasal dari bahasa arab yang berarti menghitung. (diakses pada tanggal 15 Mei 2012). Ilmu hisab adalah ilmu yang mempelajari perhitungan gerak benda-benda langit berdasarkan garis edarnya. Benda-benda langit yang dimaksud adalah matahari, bulan, planet dan lain-lainnya.
44
Lebaran Haji di mana perayaannya diadakan setelah umat Islam selesai menunaikan ibadah haji.
Surakarta mengadakan upacara Garebeg Besar dengan menggelar hajat dalem (slametan) berupa gunungan.
Pada zaman Pakubuwana X, upacara garebeg Besar disertai dengan pasowanan garebeg di sitinggil dengan mengadakan selamatan negara di Masjid Agung berupa gunungan dan lain-lain sesuai dengan tata cara yang berlaku dalam garebeg besar tersebut. Dalam hal ini, Sunan tidak melakukan kunjungan ke Masjid Besar, tetapi Sunan menyerahkan sejumlah hewan kurban seperti yang dilakukan oleh umat Islam yang mampu.
Upacara Garebeg Besar dipercaya oleh masyarakat sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan karuniaNya, sehingga dapat hidup tenteram bahkan akan memberikan berkah kesuburan dalam pertanian dan usahanya menjadi sukses.45
4. Tradisi Upacara Adat dan Penggunaan Candrasengkala
a. Ulang Tahun Penobatan Raja Pakubuwana X
Penobatan raja Pakubuwana X dilangsungkan pada tanggal 30 Maret 1939 dan disajikan tarian Bedhaya Ketawang. Berbeda dengan upacara garebeg yang selalu diselenggarakan secara besar-besaran, khidmat, dan semarak serta dapat disaksikan oleh rakyat pada umumnya, upacara tinggalan jumenengan dalem ini sifatnya tertutup dan pribadi. Tempat pelaksanaannya di Sasanasuweka. Berhubung sifatnya yang pribadi maka sesudah upacara resmi berakhir, residen dan tamu-tamu undangan lainnya segera meninggalkan tempat pasamuan,
45
http://sukolaras.wordpress.com/2008/12/08/grebeg-besar-idul-adha/ (diakses pada tanggal 15 Mei 2012)
sehingga tarian Bedhaya Ketawang itu hanya disaksikan oleh Sunan bersama keluarga, kerabat dan abdi dalem saja.46
Tari Bedhaya Ketawang merupakan pusaka keraton yang ditarikan oleh sembilan orang wanita di dalam Keraton Kasunanan Surakarta. Tarian ini merupakan tarian sakral dan hanya diperbolehkan digelar dalam acara peringatan hari penobatan raja (jumenengan), sedangkan saat-saat latihan pun hanya pada hari Anggara Kasih atau Selasa Kliwon. Dipercaya bahwa Ratu Kidul pada setiap hari Selasa Kliwon datang di Mataram untuk memberi pelajaran tari Bedhaya Ketawang. Isi cerita tari Bedhaya Ketawang menggambarkan percintaan Ratu Kidul dan Senopati, maka pembawa tarian itu bukanlah putri-putri raja, melainkan