GAMBARAN UMUM KERATON KASUNANAN SURAKARTA
B. Perkembangan Wilayah Administratif Kasunanan Surakarta
Berdirinya Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta didasarkan pada Perjanjian Giyanti10 13 Februari 1755. Di dalam perjanjian Giyanti tersebut terdapat pembagian wilayah kekuasaan Mataram, kewenangan menggunakan gelar, dan dinyatakan bahwa kedua kerajaan tersebut terpisah satu sama lain.
Administrasi wilayah di Kasunanan Surakarta masih berpedoman pada zaman Mataram yaitu wilayah dibagi menjadi 3 daerah yakni; Kuthagara, Negara Agung, dan Mancanegara, sedangkan wilayah Negara Agung terbagi dalam kekuasaan Bupati Nayaka yang disebut Nayaka Wolu. Kedelapan Kanayakan ini terbagi dalam dua kelompok: empat Bupati Nayaka Lebet dan empat Bupati Nayaka Jawi, yang termasuk Bupati Lebet ialah Bupati Nayaka Gedong Kiwa dan Tengen, Bupati Nayaka Keparak Kiwa dan Tengan, sedangkan yang termasuk Bupati Nayaka Jawi ialah Bupati Nayaka Sewu, Bumi, Bumi Gede dan
9
Nining Tri Lestari, 2000, “Kehidupan Abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta”, Skripsi Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, hlm. 20.
10
Perjanjian Giyanti adalah perjanjian antara Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang isinya tentang pembagian Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah kekuasaan (Kerajaan Surakarta Hadiningrat dan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat), kewenangan menggunakan gelar (Raja Surakarta bergelar Susuhunan dan Raja Yogyakarta bergelar Sultan), dan pernyataan mengenai perpisahan antara kedua kerajaan tersebut. Perjanjian ini melibatkan tiga pihak, yaitu Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I), dan Kompeni Belanda.
Penumping. Perubahan yang terjadi pada masa Pakubuwana II yaitu delapan Kanayakan itu diubah menjadi 12 Bupati antara lain ; 4 Bupati Lebet tetap, dan 8 Bupati Jawi yaitu: Bupati Sewu, Numbak Anyak, Bumi, Dumija, Bumi Gede
Kiwa, Bumi Gede Tengen, Panekar, Panumping.11
Wedana Keparak Kiwa dan Tengen berkewajiban mengepalai prajurit pengawal raja dan bertanggung jawab terhadap bawahannya. Namun, sejak Pakubuwana IV mengadakan perjanjian dengan Pemerintah Inggris tanggal 1 Agustus 1812, terdapat ketentuan bahwa Raja Jawa beserta para Bupatinya (Bupati Keparak) tidak diperkenankan membuat tentara (serdadu) tanpa ada ijin dari Inggris. Hal demikian maka posisi Wedana Keparak mengalami perubahan.
Wedana Gedong Kiwa dan Tengen, mempunyai tugas yakni merencanakan anggaran pendapatan dan belanja Istana Kerajaan. Tugas tersebut semakin bertambah sejak banyak daerah Mancanegara yang diserahkan kepada Gupermen, maka uang ganti rugi yang masuk istana semakin besar dan itu merupakan kewajiban dari Wedana Gedong dalam mengatur dan mengelolanya.
Serat Catatan Siti Dhusun menjelaskan bahwa daerah-daerah Negara Agung pada periode Kasunanan Surakarta adalah:
1. Daerah Kuthagara.
Merupakan daerah tempat tinggal Raja berserta keluarga dan pejabat-pejabat tinggi kerajaan serta abdi dalem terdekat dengan Raja. Daerah ini berbatasan dengan tembok kota atau benteng. Surakarta dibatasi pintu Bajranala
11
Radjiman, Sejarah Mataram Kartasura sampai Surakarta Hadiningrat, (Surakarta: KRIDA, 1984), hlm. 163.
Utara dan Selatan, pintu Gapit barat dan timur, yang sekarang disebut daerah Baluwarti.
2. Daerah Negara Agung.
Adalah daerah yang berada di luar Kuthagara berbatasan dengan daerah Mancanegara. Daerah ini merupakan daerah apanage para sentana dalem dan merupakan tanah lungguh para abdi dalem serta Bumi Narawita milik Raja. Tanah apanage merupakan tanah pancen (siti dahar) bagi sentana dalem yang tidak menjabat, misalnya nenek Raja, Ibu Raja, Permaisuri, Putera Mahkota. Tanah lungguh merupakan gaji bagi para pegawai kerajaan (abdi dalem), sejak dari Patih sampai dengan Jajar. Jumlah dan luas tanah lungguh yang diberikan berdasarkan pada tinggi rendahnya jabatan yang dipangkunya, sedang tanah apanage pun diberikan berdasarkan tingkatan kebangsawanannya. Selanjutnya Bumi Narawita adalah tanah milik pribadi raja, untuk jaminan hidup raja beserta keluarganya.12
Daerah Negara Agung terbagi dalam beberapa kelompok daerah, yaitu daerah Sewu, Bumi, Bumijaya, Numbak Anyar, Bumi Gede Kiwa dan Tengen, Panekar, dan Panumping. Masing-masing daerah dikepalai oleh seorang abdi dalem Bupati.
3. Daerah Mancanagara
Ialah daerah yang terletak di luar wilayah Negara Agung. Daerah Mancanagara terbagi menjadi dua wilayah yaitu daerah Mancanagara Kilen dan Wetan.
12
Soepomo, De Reorganisatie in Het Agrarischstelsel in het Gewest, (Surakarta, Reksapustaka Mangkunegaran, 1937), hlm. 6.
Daerah Mancanegara Kilen meliputi daerah Banyumas, Banjar, Pasir, Ayah, Kalibeber, Roma, Jabarangkah, Palerden, Wora-Wari, Tersana, Bobotsari, Kartanagara, Dayaluhur, Lebaksiyu, Balapulang, Bentar, Banjarnegara, Prabalingga, Purwakerta. Jepara, Salatiga, dan Blora.
Daerah Mancanegara Wetan meliputi daerah Panaraga, Kediri, Madiun, Pacitan, Kaduwang, Magetan, Caruban, Kertasana, Srengat dan Blitar, Jipang, Grobogan, Warung, Sela, Blora, Rawa, Karangbret, Japan (Lamongan), Jagaraga. 4. Daerah Pesisir
Daerah ini terdiri dari dua daerah, yaitu Pesisir Wetan dan Kilen. Daerah pesisir Wetan terdiri dari daerah Jepara Kudus, Cengkalsewu, Pati, Juana, Pajangkungan, Rembang, Tuban, Sidayu, Lamongan, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Bangil, Besuki, Blambangan, Banyuwangi, dan Madura. Daerah Pesisir Kilen meliputi daerah Pekalongan, Brebes, Wiradesa, Bentar, Lebaksiyu, Tegal, Pemalang, Batang, Kendal, dan Demak.
Daerah-daerah tersebut sejak zaman Pakubuwana II di Surakarta dan raja-raja sesudahnya sering mengalami perubahan wilayah. Daerah Kasunanan Surakarta, sejak Palihan Nagari 1755 sampai pada masa Pakubuwana X (1893-1939) semakin sempit karena setiap ada perjanjian akibat pergantian raja baru selalu diikat dengan perjanjian yang berisi pengurangan luas daerah dengan pemerintah Gupermen Belanda.
Keraton Surakarta mengalami penyusutan kekuasaan atas daerah-daerah yang dikuasainya dalam perkembangannya. Penyusutan kekuasaan raja terutama dikarenakan faktor intern keraton, yaitu perebutan tahta kerajaan selalu menjadi
masalah. Sesudah raja yang berkuasa mangkat, seringkali terjadi peristiwa-peristiwa tidak diharapkan di balik pergantian tahta yang dapat berkembang menjadi perang suksesi dengan tujuan dapat mempertahankan atau memperoleh tahta. Raja atau pangeran meminta bantuan VOC yang mempunyai kekuasaan militer. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh VOC dan tradisi ini dilanjutkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Hal ini, menurut pemerintah kolonial merupakan lingkup kekuasaan raja yang diambil dan diperluas, sehingga akhirnya habislah kekuasaan raja menurut konsep politik.13
Dengan demikian kedudukan Sunan sangat merosot, sekalipun Ia menjadi raja yang berkuasa di wilayahnya, namun Ia tidaklah merdeka. Karena kekuasaan politis raja sudah sangat terbatas, maka untuk tetap menjaga legitimasinya raja mengembangkan kekuasaan simbolis. Tak salah jika raja menerapkan kebijakan itu sebab simbol-simbol tersebut terbukti sangat efektif bagi masyarakat tradisional.
Politik simbolis yang diterapkan oleh Pakubuwana X mengandung simbol personal dan simbol publik. Simbol personal berhubungan dengan kewenangan dalam memberikan gelar kebangsawanan, penghormatan, dan anugerah. Simbol publik berhubungan dengan upaya memberdayakan masyarakat melalui penyediaan pendidikan Islam dan umum, pembangunan perekonomian, rumah sakit, taman hiburan rakyat, partisipasi dalam organisasi pergerakan kebangsaan, serta pengembangan tradisi budaya Jawa dan Islam.14
13
Darsiti Soeratman, op.cit., hlm. 63. 14
Hermanu Joebagio, Merajut Nusantara: Pakubuwana X dalam Gerakan Islam dan Kebangsaan, (Surakarta: Cakra Books, 2010), hlm. 16.