• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Dalam Memberikan Perlindungan Hukum Terhadap Investor Reksa Dana Perbankan

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INVESTOR REKSA DANA PERBANKAN

E. Peranan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Dalam Memberikan Perlindungan Hukum Terhadap Investor Reksa Dana Perbankan

Badan Pengawas Pasar Modal atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan BAPEPAM adalah sebuah badan pemerintah yang berada di bawah Menteri Keuangan Republik Indonesia. BAPEPAM merupakan lembaga yang bertanggung jawab dalam melakukan pembinaan, pengaturan dan pengawasan sehari-hari kegiatan pasar modal. Dengan demikian, BAPEPAM dapat dikatakan sebagai hulu dari semua kegiatan di pasar modal, karena dari sinilah permulaan dari kegiatan di pasar modal. Perusahaan yang bermaksud menawarkan efeknya kepada masyarakat dalam suatu penawaran umum, harus terlebih dahulu memulai prosesnya melalui lembaga ini sebelum dapat menjual efeknya tersebut kepada masyarakat. Tujuan dari pembinaan, pengaturan dan pengawasan yang

167 Agus Sugiarto, Op. Cit. 168 Ibid.

dilakukan oleh BAPEPAM, seperti yang dirumuskan oleh UUPM, adalah untuk mewujudkan terciptanya kegiatan pasar modal yang teratur, wajar dan efisien serta untuk melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat.169

BAPEPAM merupakan lembaga yang mempunyai kekuasaan yang sangat besar dan unik. BAPEPAM tidak hanya bertindak sebagai regulator tetapi juga mempunyai kekuasaan kepolisian serta dapat bertindak dan berwenang menggunakan kekuasaan yang

sifatnya “quasi-judicial”. Kekuasaan BAPEPAM yang besar ini dapat kita lihat

diantaranya di dalam pasal 5 UUPM yang memberikan kewenangan bagi BAPEPAM, antara lain untuk:170

i. Memberikan izin kepada berbagai macam institusi yang diawasinya, termasuk memberi izin usaha kepada reksa dana, memberi izin orang perseorangan wakil manajer invest asi, serta memberi persetujuan bagi Bank kustodian;

ii. Mewajibkan dan menerima pendaftaran bagi profesi yang bermaksud melakukan

kegiatan di pasar modal;

iii. Menetapkan persyaratan dan tata cara pencalonan direksi lembaga-lembaga di pasar modal seperti bursa efek;

iv. Menetapkan persyaratan dan tata cara dilakukannya pernyataan pendaftaran untuk memungkinkan dilakukannya penawaran umum efek (termasuk di sini adalah menyatakan, menunda, atau membatalkan efektifnya pernyataan pendaftaran);

v. Melakukan pemeriksaan dan penyidikan atas terjadinya pelanggaran atas UUPM.

sehingga dengan kekuasaannya ini BAPEPAM merupakan polisi yang menegakkan hukum sebagai penyidik penyidik pegawai negeri;

169 Hamud M. Balfas, Op.Cit., hlm.4-5 170 Ibid. hlm.5-6

vi. Menghentikan dan memperbaiki serta mengambil langkah-langkah sehubungan dengan adanya iklan atau promosi yang berhubungan dengan kegiatan pasar modal;

vii. Membekukan atau membatalkan pencatatan efek di suatu bursa efek (termasuk juga menghentikan perdagangan efek dan transaksi di bursa);

viii. Memeriksa keberatan-keberatan yang diajukan oleh pihak-pihak yang dikenakan sanksi oleh bursa dan lembaga-lembaga terkait dengan bursa seperti lembaga kliring dan penjaminan serta lembaga penyimpanan dan penyelesaian (termasuk membatalkan dan menguatkan pengenaan sanksi tersebut);

ix. Memberikan penjelasan lebih lanjut yang sifatnya teknis atas UUPM dan peraturan pelaksanaannya;

x. Menetapkan instrumen lain sebagai efek. Kekuasaan ini akan sangat berguna karena dengan kekuasaan ini BAPEPAM akan memberikan “kehidupan” bagi UUPM dalam mengarungi dunia pasar modal yang memang sangat dinamis.

Sebagai tambahan atas kekuasaannya di atas, BAPEPAM juga mempunyai kekuasaan untuk mengenakan sanksi administratif yang jumlahnya cukup banyak dalam pelaksanaan kekuasaannya. Termasuk dalam kekuasaan pengenaan sanksi adalah kekuasaan untuk mengenakan denda, pembatasan dan pembekuan kegiatan usaha, pencabutan izin usaha serta pembatalan persetujuan dan pendaftaran. Sebagai Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), BAPEPAM mempunyai kewenangan seperti layaknya polisi dalam melakukanpemeriksaan dan penyidikan. Bahkan dalam rangka pelaksanaan kewenangan penyidikan yang dimilikinya, BAPEPAM dengan bantuan aparat penegak hukum lainnya, dapat melakukan tindakan-tindakan yang lebih dari hanya pemeriksaan dan penyidikan, seperti memerintahkan penangkapan.171

171 Ibid. hlm.6-7

Untuk dapat menciptakan kegiatan pasar modal yang teratur, wajar dan efisien sertamelindungi kepentingan masyarakat pemodal (investor), maka Bapepam mempunyai fungsi untuk melakukan: pembinaan, pengaturan dan pengawasan dalam kegiatan seharihari pasar modal. Dalam melaksanakan fungsinya tersebut, maka pihak-pihak penyelenggara kegiatan pasar modal di antaranya: Bursa Efek, Reksa Dana, Bank Kustodian, Biro Administrasi Efek, Wali Amanat dan pihak lainnya yang telah memperoleh izin, persetujuan atau pendaftaran wajib menyampaikan laporan kepada Bapepam. Kewajiban yang diemban oleh pihak-pihak tersebut di atas adalah dalam kegiatannya sehari-hari dalam pasar modal. Pihak-pihak tersebut dalam kegiatan pasar modal adalah sebagai pelaksana langsung sehingga lebih mengetahui apa yang terjadi di pasar modal. Pihak Bapepam dalam fungsinya ini bermaksud untuk mencegah adanya suatu penyimpangan yang mungkin terjadi dalam kegiatan pasar modal berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.172

Laporan yang akan disampaikan kepada Bapepam tersebut dapat terbagi dua, yakni yang bersifat berkala atau insidental. Adapun laporan yang akan disampaikan oleh setiap pihak kepada Bapepam adalah berisi tentang informasi yang tersedia untuk umum. Isi dari informasi tersebut kecuali tentang formula rahasia produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan yang tidak wajib untuk disampaikan dan wewenang tentang hal ini juga ada pada Bapepam. Di luar pengecualian tersebut isi dari laporan berupa informasi tentang: pernyataan pendaftaran termasuk prospektus, permohonan izin usaha, izin orang perseorangan, persetujuan dan pendaftaran profesi laporan berkala dan laporan lainnya adalah yang wajib disampaikan kepada Bapepam.173

172 Irfan Iskandar., Op.Cit. hlm.98-99 173 Ibid. hlm.99

Peranan BAPEPAM dalam memberikan Perlindungan Hukum Terhadap Investor Reksa Dana Perbankan dapat diketahui dalam beberapa hal di bawah ini, yaitu antara lain sebagai berikut:

1.) Prospektus dan Tanggung Jawab Manajer Investasi

Untuk meminimalisir risiko kerugian, sedapat mungkin investor dan pihak yang menjalankan investasi harus mengatur dan memahami hak dan kewajiban masing-masing. Untuk investasi di instrumen reksa dana, calon investor harus membaca dan memahami prospektus yang dimiliki oleh perusahaan yang mengelola reksa dana. Dalam prospektus biasanya dipaparkan pula mengenai risiko dalam berinvestasi di reksa dana. Isi prospektus harus mengacu pada Peraturan Bapepam No. IX.C.6-Keputusan Ketua Bapepam No.Kep22/PM/2004 tentang Pedoman dan Isi Prospektus Dalam Rangka Penawaran Umum Reksa Dana. Masalah risiko reksa dana juga diatur pada huruf k poin (1) Peraturan No.IX.C.6. Disebutkan, risiko yang diterima pemodal adalah berkurangnya nilai saham atau Unit Penyertaan disebabkan oleh kondisi makro ekonomi dan keamanan, wanprestasi dari pihak-pihak yang terkait dengan Reksa Dana seperti bank, perusahaan lain penerbit instrumen pasar uang dan atau obligasi, dan perubahan nilai instrumen pasar uang sebagai akibat pergerakan suku bunga dan kurs mata uang secara signifikan.174

Untuk menjawab pertanyaan mengenai tanggung jawab manajer investasi, tentu harus dilihat pedoman tugas dari manajer investasi. Yang jelas, prospektus juga harus memuat tanggung jawab manajer investasi. Beberapa peraturan yang mengatur tanggung jawab manajer selain peraturan No.IX.C.6, juga peraturan No.IV.C.2-Keputusan Ketua Bapepam No.Kep24/PM/2004 tentang Nilai Pasar Wajar Dari Efek Dalam Portofolio Reksa Dana, dan peraturan No.IV.B.1-Keputusan Ketua Bapepam No.Kep 03/PM/2004

174 Dikutip dari http://www.hukumonline.com., Prospektus dan TanggungJawab Manajer Investasi Reksa DanaPada Investor, Diakses terakhir tanggal 9 Maret 2009

tentang Pedoman Pengelolaan Reksa Dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif. Untuk menentukan ada tidaknya unsur kesalahan atau kelalaian manajer investasi yang mengakibatkan kerugian investor tentu tidak bisa dilakukan secara sepihak. Pengawasan segala kegiatan yang berhubungan dengan penerbitan reksa dana masuk ke dalam domain Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Salah satu wewenang Bapepam, berdasarkan Pasal 5 huruf(e) UU No.8/1995 tentang Pasar Modal, adalah mengadakan pemeriksaan dan penyidikan terhadap setiap Pihak dalam hal terjadi peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya. Berdasarkan ketentuan tersebut, investor yang merasa manajer investasi melakukan kelalaian yang mengakibatkan kerugian, dapat mengadu ke Bapepam. Alternatif lainnya, apabila laporan investor tidak direspon, atau tindakan Bapepam terhadap manajer investasi yang terbukti merugikan investor tidak memadai, maka investor dapat mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum melalui pengadilan negeri. Apabila memilih langkah ini, maka investor harus memiliki bukti-bukti yang cukup untuk membuktikan adanya kelalaian manajer investasi yang mengakibatkan kerugian.175

Prospektus merupakan dokumen yang amat penting (bahkan merupakan suatu dokumen sentral) dalam suatu penawaran umum efek, termasuk reksa dana. Prospektus ini adalah dokumen keterbukaan (disclosure), yang ditujukan kepada para pemodal dan dikeluarkan dengan maksud agar pemodal memahami efek yang ditawarkan, sehingga prospektus harus jelas dan komunikatif. Peraturan Bapepam IX.C.2 menegaskan, fakta- fakta dan pertimbangan yang paling penting harus dibuat ringkasannya dan diungkapkan pada bagian awal prospektus. Urutan penyampaian fakta pada prospektus ditentukan oleh relevansi fakta tersebut terhadap masalah tertentu.176

175 Ibid.

Dalam setiap investasi umumnya selalu terkandung risiko keuangan. Risiko ini dapat berupa turunnya atau bahkan hilangnya kekayaan pemodal (investor) yang menanamkan modalnya dalam investasi tersebut. Dengan demikian prospektus haruslah menggambarkan dan menyajikan setiap informasi/keterangan mengenai risiko yang mungkin timbul dalam investasi tersebut secara jelas dan gamblang. Dengan dasar pemikiran seperti itu, maka prospektus harus dapat menggambarkan risiko tersebut secara terang, sehingga pembaca (investor) dapat mengambil keputusan apakah akan berinvestasi (membeli) efek tersebut atau tidak, berapa banyak yang akan dibeli dan berapa lama akan menanamkan uangnya untuk berinvestasi dalam efek tersebut. Prospektus yang baik adalah yang dapat memberikan kejelasan mengenai pilihan kepada pemodal (untuk berinvestasi, dan berapa banyak investasi tersebut, atau tidak berinvestasi). Prospektus akan memberikan jawaban atas pertanyaan tentang risiko-risiko apa saja yang akan dihadapi atas investasi yang ditawarkan ini. Sehingga apabila investor memilih untuk tidak melakukan investasi atas efek yang ditawarkan itu adalah juga merupakan suatu petunjuk bahwa prospektus tersebut telah disajikan dengan baik.177

Prospektus yang baik adalah dokumen katerbukaan yang tidak hanya bermaksud “menjual”, tetapi juga menyampaikan kepada investor pesan untuk berhati-hati dalam berinvestasi. Oleh karena itu prospektus tidak hanya menggambarkan rencana-rencana investor yang akan dilaksanakan, tetapi juga harus menyampaikan pesan bahwa apabila suatu rencana, kejadian, situasi atau target tidak dapat dicapai oleh emiten yang menawarkan efeknya, maka investasi yang akan ditanamkan dapat terancam nilainya atau efek yang dibeli akan menurun harganya. Oleh karena itu prospektus memang bukan hanya merupakan sarana promosi penjualan efek. Tetapi juga merupakan sarana untuk

177 Ibid. hlm.185-186

menceritakan sisi-sisi yang “gelap”. Penyajian prospektus yang baik dan lengkap akan menghilangkan adanya kesan emiten menutup-nutupi adanya informasi material yang harus diketahui oleh investor sehingga menimbulkan adanya penipuan.178

Sebagai bagian dari penyajian yang baik, BAPEPAM dalam peraturannya menekankan bahwa emiten harus berhati-hati apabila menggunakan foto, diagram, atau tabel pada prospektus, karena bahan-bahan tersebut dapat memberikan kesan yang menyesatkan kepada masyarakat. Emiten juga harus menjaga agar penyampaian informasi penting tidak dikaburkan dengan informasi kurang penting yang mengakibatkan informasi penting terlepas dari perhatian pembaca (Peraturan BAPEPAM IX.C.2.). Emiten yang mengeluarkan Reksa Dana, misalnya, dalam iklan promosinya seharusnya tidak boleh menggambarkan bagaimana Reksa Dananya tumbuh seperti pohon yang daunnya tumbuh subur dan sebagai ganti daun emiten tersebut menggunakan uang yang tumbuh dari tiap ranting-ranting pohon tersebut. Untuk menanggulangi iklan seperti ini BAPEPAM telah mengeluarkan peraturan tentang pedoman iklan Reksa Dana dengan peraturan No.IV.D.1. Peraturan BAPEPAM ini jelas dimaksudkan untuk mengurangi dampak dari iklan yang dianggap dapat sangat menyesatkan. Peraturan ini antara lain menetapkan larangan untuk memuat:179

i. Kata atau kalimat yang memberikan kesan bahwa pemodal tidak akan rugi atau

keuntungan akan dijamin;

ii. Kesan bahwa pemodal dapat memperoleh keuntungan tanpa risiko;

iii. Gambaran, proyeksi, atau janji atas kinerja reksa dana tersebut di masa datang;

178 Ibid. hlm.186

iv. Kalimat-kalimat seperti “belilah sekarang juga”, “jangan ketinggalan”, “bertindaklah sekarang” atau kalimat-kalimat lain dengan maksud yang hampir sama untuk menarik minat calon pembeli.

2.) Nasabah dan Investor Reksa Dana A. Pengenalan Nasabah

BAPEPAM telah mengeluarkan Peraturan V.D.10, yang khusus mengatur mengenai kewajiban dari lembaga-lembaga yang ada di pasar modal untuk menerapkan prinsip- prinsip melakukan pengenalan nasabah. Dalam peraturan ini BAPEPAM mewajibkan perusahaan efek, pengelola Reksa Dana dan Bank Kustodian untuk menerapkan prinsip mengenal nasabah dengan menetapkan kebijakan dan prosedur tertulis yang meliputi masalah-masalah yang menyangkut:180

a. penerimaan nasabah;

b. pengidentifikasian nasabah;

c. pemantauan terhadap rekening dan transaksi nasabah;

d. manajemen risiko yang berkaitan dengan prinsip mengenal nasabah.

Dengan peraturan V.D.10 ini BAPEPAM memberikan pedoman mengenai apa yang harus dilakukan oleh perusahaan efek, reksa dana dan bank kustodian untuk melakukan pengenalan terhadap nasabah mereka, dan melaporkan transaksi yang mencurigakan kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), yang telah didirikan berdasarkan UU.No. 15/2002 tentang tindak pidana pencucian uang. Aspek lain yang timbul sehubungan dengan pengenalan nasabah ini adalah perusahaan efek harus memastikan bahwa tujuan investasi investor, yang berwujud dalam transaksi atas instrument (efek), harus sesuai dengan tujuan investasinya atau yang biasa dikenal dengan

180 Ibid. hlm.347-348

suitability. Tidak adanya kesesuaian dapat menyebabkan adanya kelalaian di pihak perusahaan efek untuk melakukan penerapan pengenalan nasabah atas investornya. Masalah ini makin menjadi penting terutama apabila investasi yang digunakan di pasar modal telah meningkat dengan penggunaan perangkat elektronik di mana investor dan perusahaan efek tidak lagi saling bertemu secara langsung. Cara ini dapat menyebabkan kelalaian perusahaan efek untuk mengenali nasabahnya secara personal, dan hal ini dapat merugikan nasabah dan investor.181

B. Perlakuan atas Nasabah dan Hartanya

Hubungan antara nasabah dengan perusahaan efek didasarkan atas kepercayaan. Dengan demikian di dalam hubungan di antara keduanya terdapat fiduciary duty dari perusahaan efek terhadap nasabahnya. Dengan kewajiban yang bersifat fiduciary ini perusahaan efek harus menempatkan diri dan bertindak untuk kepentingan yang paling tinggi dari nasabahnya. Ini karena perusahaan efek sebenarnya dipercayakan melakukan pengelolaan atas harta nasabahnya. Situasi seperti ini misalnya terjadi dalam hal perusahaan efek melakukan pengelolaan atas rekening efek secara discretionary, atau perusahaan efek melakukan salah satu fungsinya yaitu sebagai manajer investasi, dimana dalam melakukan perannya ini perusahaan efek melakukan fungsi pengelolaan baik atas portofolio efek nasabah atau portofolio investasi kolektif.182

Dengan sifat hubungan antara perusahaan efek dan nasabah yang demikian, unsur

fiduciary duty ini menjadi sangat penting, Karena hanya dengan sikap perusahaan efek seperti itulah dapat diharapkan perlindungan atas harta nasabah menjadi prioritas yang tinggi. Menurut penulis, unsur seperti ini bisa juga diterapkan pada bank kustodian yang

181 Ibid. hlm. 348

menjadi sponsor atau bukan pada penyelenggaraan reksa dana, sehingga dana investor pada bank tersebut mendapat perlindungan yang baik.183

Pasal 27 Ayat (1) UUPM menyebutkan tentang fiduciary duty Manajer Investasi, yaitu wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas sebaik mungkin semata-mata untuk kepentingan reksa dana. Sedangkan dalam Peraturan Bapepam No. IV.B.1 butir 7 dikatakan mengenai fiduciary duty manajer investasi, yaitu bahwa manajer investasi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas sebaik mungkin semata-mata untuk kepentingan reksa dana. Jika dalam hal Manajer Investasi tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana termaksud, Manajer Investasi tersebut wajib bertanggung jawab atas segala kerugian yang timbul karena tindakannya.184

C. Masalah Benturan Kepentingan

Dalam melakukan kegiatannya, perusahaan efek berhubungan dan berurusan serta berhadapan baik dengan kepentingan emiten, nasabah maupun dengan kepentingan dirinya sendiri. Hubungan-hubungan di antara ketiganya tersebut sangat berpotensi menimbulkan benturan kepentingan. Oleh karena itu undang-undang dengan tegas mengatur mengenai kemungkinan timbulnya masalah benturan kepentingan ini. Pasal 35 UUPM, misalnya, dengan tegas menyatakan bahwa perusahaan efek dilarang menggunakan pengaruh atau mengadakan tekanan yang bertentangan dengan kepentingan nasabahnya. Pasal yang sama selanjutnya juga menyatakan perusahaan efek dilarang untuk merekomendasikan kepada nasabah untuk membeli atau menjual efek tanpa memberitahukan adanya kepentingan perusahaan efek dalam efek tersebut. Larangan adanya unsur benturan kepentingan dalam hubungan antara perusahaan efek dengan

183 Ibid. hlm.350

184 Gunawan Widjaja, Almira Prajna Ramaniya, Reksa Dana dan Peran Serta Tanggung Jawab Manajer Investasi Dalam Pasar Modal, ( Jakarta: Kencana, 2006 ), hlm.107

nasabah serta dengan harta nasabah karena benturan kepentingan ini dapat mengakibatkan kerugian dipihak nasabah yang umumnya sangat bergantung kepada perusahaan efek, yang diharapkan bertindak secara profesional setinggi mungkin.185

Menurut penulis, larangan seperti ini juga harus diterapkan Bank Kustodian yang terutama menjadi sponsor dalam penyelenggaraan Reksa Dana. Hal ini demi menghindarkan kerugian di pihak investor dan nasabah bank tersebut.

Untuk ini BAPEPAM memang cukup tanggap yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan BAPEPAM No.II.F.14 tentang Pedoman Uji Kepatuhan Reksa Dana, yang mencantumkan beberapa ketentuan untuk menghindarkan kemungkinan benturan kepentingan. Namun demikian potensi benturan kepentingan ini tidak hanya dapat timbul dari pelanggaran atas tindakan yang secara tegas dilarang dalam peraturan, atau yang secara relative mudah untuk dikonfirmasi dengan melakukan audit. Contoh untuk ini misalnya, seperti apa yang dilakukan oleh reksa dana (mutual fund) besar di Amerika Serikat dengan melakukan praktek “late trade” dan “market timing” yang merupakan pelanggaran yang mun-gkin tidak dengan mudah dapat diketahui.186

D. Harta Nasabah dan Kepailitan Perusahaan Efek

Sebagai konsekuensi atas perlindungan yang harus diberikan oleh perusahaan efek atas harta nasabah, dan adanya fungsi perusahaan efek untuk melakukan penyimpanan

(custody) harta nasabah, undang-undang pasar modal dalam pasal 37 dengan tegas menyatakan bahwa perusahaan efek wajib:187

1. Menyimpan efek dalam rekening yang terpisah dari rekening perusahaan efek.

2. Menyelenggarakan pembukuan secara terpisah untuk setiap nasabah menyediakan

tempat penyimpanan yang aman atas harta nasabahnya.

185 Hamud M. Balfas, Op.Cit., hlm.355-356 186 Ibid. hlm.362-363

Konsekuensi pemisahan harta nasabah ini ada hubungannya dengan kepailitan atau likuidasi, yang mungkin dapat terjadi terhadap perusahaan efek di mana harta nasabah disimpan. Dengan pemisahan ini maka dalam hal terjadi kepailitan atau likuidasi, harta nasabah tidak akan termasuk dalam harta pailit. Karena, sebagaimana dinyatakan oleh penjelasan atas pasal 37 UUPM tersebut, efek nasabah yang dikelola oleh perusahaan efek merupakan titipan nasabah, bukan merupakan bagian dari kekayaan perusahaan efek.188 Menurut penulis, hal ini juga secara logika dan moral sebaiknya diterapkan juga oleh Bank Kustodian yang menyimpan dana atau kekayaan investor yang menggunakan jasa bank tersebut.

Sebagai kelanjutan dari pemisahan harta nasabah dengan harta perusahaan efek, BAPEPAM dalam peraturannya juga menjabarkan bagaimana harta nasabah yang ada dalam simpanan perusahaan efek tersebut harus diperlakukan (Angka 2 Peraturan BAPEPAM No.V.D.3 dan Peraturan BAPEPAM V.D.4 yang secara khusus mengatur bagaimana perusahaan efek memperlakukan efek nasabah tersebut). Undang-undang Kepailitan juga telah menegaskan bahwa permohonan untuk melakukan kepailitan atas perusahaan efek hanya dapat diajukan oleh BAPEPAM. Keterlibatan BAPEPAM dalam kepailitan perusahaan efek mungkin terlalu berlebihan, karena yang perlu dilakukan oleh BAPEPAM sebenarnya adalah memastikan bahwa perusahaan efek telah melakukan pencatatan atas harta nasabah secara benar. Sehingga ketika perusahaan dilikuidasi (baik karena permohonan pailit maupun alasan lainnya), harta nasabah akan lebih mudah diketahui. Dengan cara ini maka investor yang menaruh hartanya pada perusahaan efek akan lebih terlindungi. Memberikan kekuasaan pada BAPEPAM saja untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit atas perusahaan efek, telah merupakan hal yang tidak perlu

188 Ibid. hlm.364

dilakukan, karena pemberian “perlindungan” seperti itu, dapat menyebabkan terjadinya “moral hazard” (istilah untuk menggambarkan keadaan dimana manajemen suatu institusi keuangaan tidak mempunyai insentif untuk melakukan pengelolaan yang baik atas dana masyarakat yang ada dan disimpan oleh lembaga yang dikelolanya karena manajemen beranggapan bahwa apabila ada masalah dengan lembaga keuangannya pemerintah akan mengambilalih atau karena adanya jaminan dari pemerintah atas simpanan tersebut) dalam industri sekuritas.189

Pemberian perlindungan seperti di atas tidak akan memberikan insentif bagi industri tersebut untuk membenahi dan mengembangkan dirinya. Memang cukup tepat apa yang dikemukakan sebagian orang bahwa perlindungan dari kepailitan terhadap perusahaan efek perlu diberikan karena perusahaan efek, seperti juga industri perbankan, merupakan institusi yang memegang dan menyimpan dana serta harta pihak ketiga, sehingga apabila terjadi kepailitan terhadap suatu perusahaan, mungkin dapat menyebabkan “rush” atau penarikan besar-besaran terhadap dana dan harta nasabah di perusahaan lainnya. Selain itu perlindungan yang berlebihan seperti ini, akan mengakibatkan disinsentif bagi otoritas pasar modal untuk melakukan pengawasan, dan pembinaan yang lebih baik terhadap industri ini. Karena hanya dengan pengawasan dan pembinaan yang lebih baiklah, kita akan melihat industri sekuritas dan perusahaan efek kita maju, dan selanjutnya harta nasabah dan investor juga akan lebih terlindungi (mendapat perlindungan yang maksimal).190

3.) Larangan-larangan dari Ketentuan Pidana Terhadap Reksa Dana serta Ketentuan