• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN TANAH OLEH BPN PROVINSI SUMATERA UTARA

B. Peranan BPN dalam Menjamin Kepastian Hukum Hak Atas Tanah

a. Realisasi Menjamin Kepastian Hukum Atas Tanah Melalui Pelaksanaan Pendaftaran Tanah di Sumatera Utara

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

Tabel 2. Luas Daerah Kabupeten/ Kota dan Luas Tanah yang Telah Disertifikatkan Sampai Tahun 2004

No Kabupaten/ Kota Luas Tanah yang telah

diterbitkan Sertifikat (Ha)

Luas Area (Ha)

1 2 3 4 Kota 1 Medan 5.768,7154 2.650 2 Binjai 3.558,8154 9.033 3 Pematang Siantar 6.663,9548 7.999 4 Tanjung Balai 2.050,6038 6.052 5 Sibolga 206,7841 1.077 6 Tebing Tinggi 1.247,3357 3.799 7 Padang Sidempuan 47,9440 14.000 Kabupaten 1 Deli Serdang 135.901,0756 240.796 2 Asahan 186,7450 458.075 3 Labuhan Batu 331.776,9914 922.318 4 Tapanuli Selatan 78.491,9646 1.213.830 5 Tapanuli Tengah 30.201,1605 218.800 6 Toba Samosir 809,6700 247.440 7 Mandailing Natal 110,5411 661.879 8 Karo 42.191,7990 212.729 9 Dairi 9.290,2434 192.780 10 Simalungun 186.251,6158 438.660 11 Nias 2.689,7024 349.539 12 Langkat 137.750,7600 626.330 13 Tapanuli Utara 5.677,5487 606.185 14 Serdang Bedagai - 198.998 15 Nias Selatan - 182.520 16 Humbang Hasundutan - - 17 Pak-pak Barat - 121.830 18 Samosir - 206.905 JUMLAH 98.0873,9707 7.168.068,0000

Keterangan: Luas Kabupaten Humbang Hasundutan digabung dengan Kabupaten Tapanuli Utara

Medan, 18 Mei 2005

Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Utara

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

Tabel 3. Luas Tanah yang Telah Terdaftar Dan Belum Terdaftar di Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota Se-Provinsi Sumatera Utara

No Kabupaten/ Kota Tanah Terdaftar

(sertifikat) Belum Terdaftar (dari PBB & Prediksi KOTA 1 Medan 195.563 162.307 2 Binjai 31.020 30.069 3 Pematang Siantar 34.362 24.153 4 Tanjung Balai 15.974 11.074 5 Sibolga 6.888 12.360 6 Tebing Tinggi 20.363 12.273 7 Padang Sidempuan 673 55.600 Kabupaten 1 Deli Serdang 91.376 394.714 2 Asahan 38.154 226.704 3 Labuhan Batu 56.551 265.708 4 Tapanuli Selatan 32.981 280.101 5 Tapanuli Tengah 72.753 54.919 6 Toba Samosir 1.656 143.636 7 Mandailing Natal 3.473 137.991 8 Karo 16.597 98.565 9 Dairi 17.365 158.000 10 Simalungun 39.509 303.784 11 Nias 11.525 82.868 12 Langkat 39.466 117.539 13 Tapanuli Utara 17.428 174.428 JUMLAH 693.650 2.746.094 Medan, 18 April 2005

Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Utara

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

Persentase Luas AreaYang Telah Bersertifikat atau Terdaftar yaitu: = 1.547.950,4386

7.168.068,0000

x 100 %

= 21,59 %

Persentase Bidang Tanah Yang Telah Bersertifikat yaitu : = 846.988

2.746.094

x 100 %

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

b. Prosedur Pelaksanaan Pendaftaran Tanah yang Diterapkan Oleh BPN Provinsi Sumatera Utara

Sesuai ketentuan Pasal 19 UUPA Penyelenggara Pendaftaran Tanah adalah Pemerintah, dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional. Sementara itu Pelaksana Pendaftaran Tanah adalah Kepala Kantor Pertanahan. Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Kantor Pertanahan dibantu oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan pejabat lain yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu menurut PP No. 24 Tahun 1997 dan Peraturan Perundang-undangan lain yang bersangkutan. Misalnya pembuatan akta PPAT Sementara, pembuatan Akta Ikrar Wakaf, pembuatan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) oleh Notaris, pembuatan Risalah Lelang oleh Pejabat Lelang, dan ajudikasi dalam Pendaftaran Tanah secara Sistematik oleh Panitia Ajudikasi.

Menurut ketentuan dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 yang terkait segi administratif disebutkan sebagai data Yuridis, sedangkan segi Teknisnya disebutkan sebagai data fisik. Data yuridis maksudnya ada keterangan status hukum mengenai bidang tanah yang didaftar, pemegang hak dan hak pihak lain serta beban-beban lain yang membebaninya. Bila dinyatakan sebagai status hukum bidang tanah yang terdaftar, berarti terdapat bukti yang menunjukkan adanya hubungan hukum antara orang dengan tanahnya. Adanya

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

bukti hubungan hukum tersebut kemudian diformalkan (bukan dilegalisasi) melalui pendaftaran tanah. 18

Berikut ini adalah Prosedur Pelaksanaan Pendaftaran Tanah yang Diterapkan Oleh BPN Provinsi Sumatera Utara yaitu dengan dua cara yaitu :

Disebutkan memformalkan bukan melegalisasi karena kegiatan pendaftaran tanah yang dilaksanakan oleh instansi Badan Pertanahan Nasional belum pada posisi pemberian jaminan kebenaran materil dari pemilikan tanah seseorang, tetapi hanya sampai pada pembenaran atau pengukuhan dari bukti formal yang disampaikan oleh pihak yang mengajukan permohonan hak atas bukti-bukti tertulis yang diterbitkan oleh pejabat yang diberikan kewenangan untuk itu yang diajukan oleh pemohon sebagai bukti adanya penguasaan atau alas hak atau hubungan hukum antara orang yang bersangkutan dengan tanahnya.

Kegiatan pendaftaran tanah yang memformalkan pemilikan tanah baik yang berdasarkan bukti-bukti pemilikan maupun penguasaan atas tanah selain menyangkut aspek yuridis dan aspek teknis, juga pelaksanaan pendaftaran tanah terkait dengan tugas-tugas keadministrasian. Dengan kata lain dalam kegiatan pendaftaran taanh terdapat tugas-tugas penata-usahaan , seperti dalam penetapan hak-hak atas tanah dan pendaftaran peralihan hak tanah. Bahkan dapat dikatakan bahwa kegiatan yang menyangkut aspek yuridis atau pegumpulan data yuridis sampai kepada penerbitan buku tanah, sertifikat dan daftar umum lainnya serta pencatatan perubahan di kemudian hari hampir seluruhnya menyangkut tugas- tugas administrasi.

18

Lubis, Mhd. Yamin; Lubis, Abd. Rahim; Hukum Pendaftaran Tanah, CV. Mandar Maju, Bandung, 2008, Hal. 78

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

1. Pendaftaran Tanah Secara Sistematik 2. Pendaftaran Tanah Secara Sporadik

1. Pendaftaran Tanah Secara Sistematik

Pendaftaran Tanah Secara Sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak yang meliputi semua obyek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah tatau bagian wilayah suatu desa/ kelurahan. Pendaftaran tanah secara sistematik didasarkan pada suatu rencana kerja dan dilaksanakan di wilayah-wilayah yang ditetapkan atas prakarsa Pemerintah, maka kegiatan tersebut didasarkan pada suatu rencana kerja yang ditetapkan oleh Menteri.

Berikut ini merupakan Tahapannya (Sesuai dengan Permen-Agra/ Ka. BPN No. 3/1997) :

a. Penetapan Lokasi (Oleh Menteri atas usul Kepala Kantor Wilayah) b. Persiapan

Kepala Kantor Pertanahan menyiapkan peta dasar pendaftaran berupa peta dasar yang berbentuk peta garis atau peta foto.

c. Pembentukan Panitia Ajudikasi dan Satuan Tugas (Satgas)

Ajudikasi adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka proses pendaftaran tanah untuk pertama kali, meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah untuk keperluan pendaftaran tanahnya.

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

Dalam melaksanakan Pendaftaran Tanah secara sistematik, Kepala Kantor Pertanahan dibantu oleh Panitia Ajudikasi yang dibentuk oleh Menteri atau pejabatyang ditunjuk.

d. Penyuluhan Wilayah

Sebelum dimulainya ajudikasi diadakan penyuluhan diwilayah atau bagian wilayah desa/ kelurahan yang bersangkutan mengenai pendaftaran tanah secara sistematik oleh Kepala Kantor Pertanahan dibantu panitia ajudiaksi yang yang bertujuan memberitahukan kepada pemegang hak atau kuasanya, atau pihak lain yang berkepentingan bahwa di desa/ kelurahan tersebut akan diselenggarakan pendaftaran tanah secara sistematik.

e. Pengumpulan data fisik

Bidang-bidang tanah yang sudah ditetapkan batas-batas selanjutnya diukur dan dipetakan dalam peta dasar pendaftaran. Jika dalam wilayah yang dimaksud belum tersedia peta dasar pendaftaran maupun peta lainnya, pembuatan peta dasar pendaftaran dilakukan bersamaan dengan pengukuran dan pemetaan bidang tanah yang bersangkutan.

Kegiatan yang tercakup dalam pengumpulan dan pengolahan data fisik yaitu :

a) Pengukuran dan pemetaan

b) Pembuatan peta dasar pendaftaran c) Penetapan batas bidang-bidang tanah

d) Pengukuran dan pemetaan bidang-bidang tanah dan pembuatan peta pendaftaran

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

e) Pembuatan daftar tanah dan f) Pembuatan surat ukur

f. Pengumpulan dan Penelitian Data Yuridis

Pengumpulan alat-alat bukti kepemilikan atas penguasaan tanah, baik bukti tertulis maupun bukti tidak tertulis berupa keberatan saksi dan / atau keterangan yang bersangkutan, yang ditunjukkan oleh pemegang hak atas tanah atas kuasanya atau pihak lain yang berkepentingan kepada panitia ajudikasi. a). Hak atas tanah baru dibuktikan dengan:

 Penetapan Pemberian hak dari Pejabat yang berwenang memberikan hak yang bersangkutan menurut Ketentuan yang berlaku apabila pemberian hak tersebut berasal dari tanah Negara atau tanah hak pengelolaan

 Asli Akta PPAT yang memuat pemberian hak tersebut oleh pemegang hak milik kepada penerima hak yang bersangkutan apabila mengenai hak guna bangunan dan hak pakai atas tanah hak milik

 hak pengelolaan dibuktikan dengan penetapan pemberian hak pengelolaan oleh Pejabat yang berwenang

 tanah wakaf dibuktikan dengan akta ikrar wakaf

 hak milik atas satuan rumah susun dibuktikan dengan akta pemisahan

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

 pemberian hak tanggungan dibuktikan dengan akta

pemberian hak tanggungan

b). Pembuktian Hak Lama (Konversi Hak Atas Tanah )

Konversi hak atas tanah dikenal sebagai istilah yang diciptakan oleh UUPA yakni dalam Bagian Kedua mengenai Ketentuan-ketentuan Konversi. Sungguhpun UUPA sendiri tidak memberikan defenisi tentang konversi ini.

Menurut AP. Parlindungan, pengertian Konversi Hak Atas Tanah adalah bagaimana pengaturan dari hak-hak tanah yang ada sebelum berlakunya UUPA untuk masuk dalam sistem dari UUPA, 19

Latar belakang pemberlakuan konversi ini didasarkan pada pemikiran bahwa Hukum Agraria Indonesia didasarkan pada Hukum Adat, hal itu diartikan bahwa Hukum Agraria harus sesuai dengan kesadaran hukum masyarakat banyak yang hidup dan berkembang dinamis sesuai dengan tuntutan Zaman. Hukum Adat yang dimaksudkan dalam hal ini sesuai dengan Penjelasan Umum Angka III ayat (1) UUPA adalah hukum asli dari rakyat Indonesia yang disempurnakan dan

yakni kegiatan menyesuaikan diri (bukan memperbaharui) hak-hak lama menjadi hak-hak baru yang dikenal dalam UUPA, baik hak itu bersifat publik maupun hak privat yang dimiliki oleh orang seorang dan atau badan hukum privat atau publik. Kemudian dalam sistem pendaftaran tanah menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997, pelaksanaan Konversi tersebut masuk dalam bagian pembuktian hak dan pembukuannya, dalam hal ini tentunya pembuktian hak lama.

19

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

disesuaikan dengan kepentingan masyarakat dalam Negara yang modern dan dalam hubungannya dengan dunia internasional, atau sebagaimana diartikan oleh AP. Parlindungan adalah hukum Indonesia asli yang tidak tertulis dalam bentuk perundang-undangan Republik Indonesia yang telah dihilangkan sifat-sifat yang khusus daerah dan diberi sifat nasional serta yang disana sini mengandung unsur Agama, 20 atau seperti dikatakan oleh Boedi Harsono adalah hukum Adat yang disaneer, 21 dan oleh Sudargo Gautama disebut sebagai Hukum Adat yang diretool. 22

Pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak tradisional rakyat atas tanah yang tunduk pada hukum Adat tersebut secara gamblang diatur dalam Pasal 18-B Undang-undang Dasar 1945 (Perubahan- II tahun 2000) yang menyatakan bahwa Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisional mereka sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip-prinsip Negara Kesatuan Repubik Indonesia yang diatur dalam undang-undang. Begitu juga pada Pasal 28-I Angka

Dijadikannya hukum Adat sebagai dasar dari Hukum Agraria Indonesia dapat juga merupakan pengakuan dan penghormatan terhadap hukum asli dari rakyat Indonesia yang didalamnya terdapat hak-hak tradisional rakyat atas tanah yang tunduk pada Hukum Adat.

20

Parlindungan, AP; Pengembangan Hak Ulayat Dalam Hukum Pertanahan, Jakarta ; Proyek BPHN,1997, Hal 17

21

Hukum adat yang disaneer adalah norma-norma hukum Adat yang akan mengalami pemurnian dari unsur-unsur yang tidak asli (Harsono, Boedi;Hukum Agraria Indonesia, Jambatan,Jakarta, 1994, Hal, 158.

22

Gautama, Sudargo (Gouw Gok Siong); Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria, Alumni, Bandung, 1973.

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

(3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.

Kemudian Piagam Hak Azasi Manusia yang menjadi lampiran TAP MPR Nomor XVII/MPR?1998 tentang Hak Azasi Manusia, Pasal 41 jo. Undang- undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia dinyatakan bahwa identitas budaya dan hak masyarakat tradisional, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi selaras dengan perkembangan zaman.

Ketentuan tentang pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak tradisional masyarakat adat atas tanah yang tunduk pada Hukum Adat, telah memperkokoh landasan pengakuan yang telah terlebih dahulu diatur dalam UUPA yang menyebutkan Hukum Adat sebagai dasar Hukum Agraria Indonesia.

Khusus untuk Provinsi Sumatera Utara, kendati masih ada dijumpai tanah adat dan hal ulayat, seperti di Kabupaten Karo dikenal tanah milik bersama dari suatu marga yang dinamakan tanah kesain, di Kabupaten Tapanuli Selatan dikenal dengan istilah torluk atau tanah sepanjang banua sadesa, di Kabupaten Dairi disebut dengan nama tanah marga dan di Kabupaten Tapanuli Utara dikenal dengan sebutan tanah marga dan tanah partuanan atau parhutaan.

Sebagaimana diatur dalam ketentuan-ketentuan konversi bahwa terhadap Hak-hak Adat yang memberi wewenang sabagaimana atau mirip dengan Hal Milik yang dimaksud dalam Pasal 20 ayat 1 UUPA, seperti Hak Agrarische eigendom, milik, yasan, aderbeni, hak atas drue desa, pesini, grand sultan, hak gogolan dan lain-lain yang merupakan hak-hak adapt sejak berlakunya UUPA diakui menjadi, Hak Milik (pasal II dan VII Ketentuan Konversi UUPA). Artinya

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

si pemegang Hak ini diwajibkan mengajukan konversinya agarhaknya disesuaikan menjadi hak yang disebutkan sebagai hak sebagaimana dalam Pasal 16 UUPA.

Dalam hal ini konversi dari tanah-tanah Hak Adat tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Agraria Nomor 2 Tahun 1960 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor. Sk. 26/ DDA/ 1970 yang menegaskan bahwa tidak ada ketentuan pembatasan jangka waktu konversinya, hingga saat ini tetap diakui dan dihargai serta dapat diproses konversinya.

Pengakuan dan penegasan hak merupakan bagian dari kegiatan konversi hak atas tanah atau pembuktian hak lama, namun hanya untuk bekas Hak Milik Adat, sedangkan untuk bekas Hak-hak Barat setelah tanggal 24 September 1980 sesuai Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1979), tidak dapat lagi dilaksanakan konversi atasnya, kendati masih ditemukan adanya bukti-bukti lama dan hanya dapat dilakukan melaui pemberrian hak atas tanah. Pihak yang menguasai hak atas tanah tersebut diharuskan mengajukan permohonan baru ke Kantor Pertanahan untuk memproses haknya kembali.

g. Pengumuman Data Fisik dan Data Yuridis dan Pengesahannya

daftar isian beserta peta bidang atau bidang-bidang tanag yang bersangkutan sebagai hasli pengukuran diumumkan selama 30 (tiga puluh) hari untuk memberi lesempatan kepada pihak yang berkepentingan mengajukan keberatan.

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

Pengumuman dilakukan di Kantor Panitia Ajudikasi dan Kantor Kepala Desa/ Kelurahan letak tanah yamg bersangkutan serta di tempat lain yang dianggap perlu.

Jika dalam jangka waktu pengumuman ada yang mengajukan keberatan mengenai data fisik dan atau data yuridis yang diumumkan, Ketua Panitia Ajudikasi mengusahakan agar secepatnya keberatan yang diajukan diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat.

Jika setelah berakhirnya jangka waktu pengumuman masih ada kekuranglengkapan data fisik dan atau data yuridis yang bersangkutan atau masih ada keberatan yang belum diselesaikan, pengesahan dilakukan dengan catatan mengenai hal-hal yang belum lengkap dan atau keberatan yang belum diselesaikan.

h. Penegasan Konversi, pengakuan hak, dan pemberian hak Berita acara pengesahan menjadi dasar untuk :

- Hak atas bidang tanah yang alat bukti tertulisnya lengkap dan yang alat bukti tertulisnya tidak legkap tetapi ada keterangan saksi maupun pernyataan yang bersangkutan, oleh Ketua Panitia Ajudikasi ditegaskan konversinya menjadi hak milik atas nama pemegang hak yang terakhir dengan memberi catatan tertentu - hak atas tanah yang alat bukti kepemilikannya tidak ada tetapi telah dibuktika kenyataan penguasaan fisiknya selama 20 tahun oleh Ketua Panitia Ajudikasi diakui sebagai hak milik dengan memberi catatan tertentu. Untuk pengakuan Hak tidak diperlukan penerbitan surat keputusan pengakuan hak.

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

i. Pembukuan Hak

Hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf dan hak milik atas satuan rumah susun didaftar dengan membukukannya dalam buku tanah. Dalam buku tanah tersebut tercantum data yuridis dan data fisik bidang tanah yang bersangkutan, dan apabila ada surat ukurnya maka dicatat pula pada surat ukur tersebut.

Bukti bahwa hak beserta pemegang haknya dan bidang tanahnya yang diuraikan dalam surat ukur secara hukum telah terdaftar menurut Peraturan Pemerintah tentang Pendaftaran tanah adalah dengan dilakukannya pembukuan dalam buku tanah serta pencatatannya pada surat ukur.

j. Penerbitan Sertifikat

Sertifikat diterbitkan untuk kepentingan pemegang hak yang bersangkutan sesuai dengan data fisik dan data yuridis yang telah didaftar dalam buku tanah. Jika dalam buku tanah terdapat catatan-catatan menyangkut data yuridis maupun data fisik maka penerbitan sertifikat ditangguhkan sampai catatan yang bersangkutan dihapus.

Sertifikat hanya boleh diserahkan kepada pihka yang namanya tercantum dalam buku tanah yang bersangkutan sebagai pemegang hak atau kepada pihaklain yang dikuasakan olehnya.

Setelah berakhir pendaftaran tanah secara sistematik maka Ketua Panitia Ajudikasi menyerahkan hasil kegiatannya kepada Kepala Kantor Pertanahan

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

berupa semua dokumen mengenai bidang-bidang tanah, peta pendaftaran tanah, surat ukur, buku tanah, sertifikat hak atas tanag yang belum diserahkan kepada pemegang hak, daftar hak atas tanah, warkah-warkah dan daftar isian lainnya.

2. Pendaftaran Tanah Secara Sporadik

Pendaftaran Tanah Secara Sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali mengenai satu atau beberapa objek pendaftaran tanah dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/ kelurahan secara individual atau massal. Pendaftaran tanah secara sporadik dilaksanakan atas permintaan pihak yang berhak atas objek pendaftaran tanah yang bersangkutan atau kuasanya.

Adapun tahapannnya adalah sebagai berikut : a) Permohonan Pendaftaran Tanah Secara Sporadik b) Pengukuran :

- Pengukuran dan Pemetaan

- Pembuatan peta dasar pendaftaran - Penetapan batas-batas bidang tanah c) Pengumpulan dan penelitian data yuridis bidang tanah d) Pengumpulan Data Fisik, Data Yuridis, dan Pengasahannya e) Penegasan Konversi dan Pengakuan Hak

f) Pembukuan Hak g) Penerbitan Sertifikat

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

Pendaftaran tanah secara Sistematik lebih diutamakan, karena melalui cara ini akan dipercepat perolehan data mengenai bidang-bidang tanah yang akan didaftarkan daripada melalui Pendaftaran Tanah Secara Sporadik. Disamping pendaftaran tanah secara sistematik, pendaftaran tanah secara sporadik juga per;u ditingkatkan pelaksanaannya, karena dalam kenyataannya akan bertambah banyak permintaan untuk mendaftar secara individual dan massal yang diperlukan dalam pelaksanaan pembangunan yang akan makin meningkat kegiatannya. 23

23

Maria Margaretha : Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT), 2008.

USU Repository © 2009

BAB III

HAMBATAN-HAMBATAN YANG TERJADI DALAM PELAKSANAAN