• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Buku Ilustrasi

2.1.3. Perancangan Buku Ilustrasi

Menurut Haslam (2006) terdapat beberapa peran dalam merancang sebuah buku. Peran seorang desainer dalam merancang buku dapat berbeda – beda (hlm. 13). Dalam proses ini, penulis tidak mengambil peran dalam mengarang konten buku tetapi penulis berperan dalam menyusun dan mengilustrasikan konten serta merancang desain buku. Untuk memenuhi peran tersebut, penulis memerlukan teori – teori mengenai layout, tipografi serta warna.

2.1.3.1. Layout

Dalam merancang buku ilustrasi, layout diperlukan penulis untuk menyusun komposisi gambar dan teks pada setiap halaman buku. Menurut Rustan (2009) layout merupakan sarana untuk mengatur posisi elemen – elemen desain pada suatu bidang kerja desain yang membantu penyampaian pesan suatu karya. Ambrose dan Harris (2011) berpendapat bahwa layout dapat berfungsi untuk mengasah kreatifitas serta membantu pembaca untuk lebih cepat memahami isi buku (hlm. 9 – 10). Hendratman (2015) membagi layout ke dalam 20 jenis yakni mondrian layout, multi

panel layout, picture window layout, copy heavy layout, frame layout, silhouette layout, type specimen layout, circus layout, jumble layout, grid layout, bleed layout, vertical panel layout, alphabet inspired layout, angular layout, informal balance layout, brace layout, two mortises layout, quadran layout, big type layout, dan rebus layout. Dalam

perancangan ini, penulis hanya menggunakan 3 jenis layout dari 20 jenis layout tersebut, yaitu:

1. Multi panel layout

Layout jenis ini terdiri dari banyak panel yang umumnya digunakan

untuk menyampaikan informasi dengan ilustrasi yang berbeda-beda pada setiap panelnya. Layout ini memiliki ciri-ciri seperti bagian – bagian berupa panel – panel dengan bentuk yang bermacam-macam sesuai kebutuhan.

2. Picture window layout

Layout jenis ini terdiri dari ilustrasi dan teks dimana ilustrasi gambar

lebih besar daripada porsi teks. Teks memiliki peran sebagai pendukung dari ilustrasi yang ada.

3. Bleed layout

Layout jenis ini memiliki tanda dimana ilustrasi ditempatkan melebihi margin hingga menempel pada bagian tepi kertas.

Dalam merancang suatu layout, terdapat berbagai macam elemen dan prinsip yang memiliki peran berbeda-beda. Rustan mengkategorikan elemen – elemen layout tersebut menjadi 3 bagian yaitu (hlm. 27):

1. Elemen Teks

Rustan mengelompokkan elemen teks kedalam 21 bagian yakni judul,

deck, byline, bodytext, subjudul, pull quotes, caption, callouts, kickers, initial caps, indent, lead line, spasi, header & footer, running head,

catatan kaki, nomor halaman, jumps, signature, nameplate, dan

masthead, namun, penulis dari 21 bagian tersebut, penulis memilih 6

bagian sesuai kebutuhan dalam merancang buku ilustrasi menjadi: a. Judul

Judul merupakan kata atau kalimat singkat sebelum mengawali suatu bacaan. Untuk dapat menarik perhatian pembaca, penulis harus mampu memilih jenis huruf yang sesuai untuk sebuah judul. Setiap jenis huruf memiliki kesan masing – masing yang dapat

disesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan lewat sebuah judul. Selain itu, ukuran judul juga dapat berpengaruh dalam menarik perhatian pembaca dengan dibuat lebih besar daripada elemen layout lainnya (hlm 28 – 30).

b. Bodytext

Bodytext merupakan paparan bacaan yang ada pada halaman –

halaman sebuah buku. Judul dan deck yang menarik dapat mempengaruhi minat seseorang untuk membaca bodytext (hlm. 35).

c. Subjudul

Subjudul merupakan segmen – segmen topik yang berfungsi untuk memecah suatu bacaan agar tidak terlalu panjang. Subjudul dapat memiliki sub – sub lagi oleh karena itu dapat digunakan warna, elemen visual kotak atau garis untuk membedakannya (hlm. 36 – 37).

d. Caption

Caption merupakan kata atau kalimat singkat yang menjelaskan

elemen visual dan inzet. Jenis huruf caption umumnya dibedakan dengan jenis huruf bodytext. Jenis huruf berakhiran “condensed” dapat digunakan jika ruang penempatan caption tidak cukup luas (hlm. 40 – 41).

e. Callouts

Callouts digunakan untuk membantu memberikan penjelasan pada

elemen visual yang memiliki lebih dari satu keterangan. Salah satu bentuk callouts ialah balon percakapan (hlm. 42).

f. Nomor Halaman

Sebuah buku yang memuat banyak topik membutuhkan nomor halaman untuk memudahkan pembaca menemukan lokasi topik yang ingin dibaca. Dibutuhkan pula daftar isi di halaman depan untuk membantu pembaca menemukan nomor halaman yang ingin dituju (hlm. 48).

2. Elemen Visual

Terdapat 7 bagian dari elemen visual layout menurut Rustan yakni foto, artworks, infrographics, garis, kotak, inzet, dan poin. Penulis memilih 2 bagian sesuai kebutuhan dalam merancang buku ilustrasi yakni (hlm. 55):

a. Artworks

Artworks merupakan karya seni diluar fotografi, seperti ilustrasi,

sketsa, kartun dan lain-lain. Pada kondisi tertentu, suatu pesan dapat tersampaikan lebih akurat, dalam dan detail melalui

artworks. Artworks cukup dibutuhkan untuk buku – buku yang

berisi penjelasan detail dan membutuhkan bantuan visual untuk memperjelas isi buku seperti buku mengenai sistem kerja

pencernaan manusia. Imajinasi pembaca dapat muncul dari adanya kehadiran artworks (hlm. 56 – 57).

b. Inzet

Inzet berfungsi seperti halnya kaca pembesar. Inzet berbentuk

elemen visual kecil yang menjelaskan informasi yang lebih detail dari elemen visual yang lebih besar. Caption ataupun callouts dapat ditambahkan untuk lebih memperjelas informasi yang ingin disampaikan (hlm. 61).

3. Elemen yang tidak terlihat

Rustan membagi elemen yang tidak terlihat menjadi 2, yakni margin dan grid yang diperlukan dalam merancang buku ilustrasi (hlm. 63). Meskipun tidak ditampilkan pada hasil akhir buku, elemen – elemen ini memiliki peran penting dalam membantu penulis menyusun komposisi pada setiap halaman buku sebagai berikut:

a. Margin

Margin merupakan batas yang mencegah elemen layout keluar dari

area penempatannya. Batas ini dibuat untuk menghindari terpotongnya elemen layout ketika buku dicetak. Selain itu, menurut Graver dan Jura (2012) margin membantu pembaca agar mampu menangkap pusat perhatian yang ada pada halaman buku. Rustan menyatakan bahwa pengaturan jarak margin dapat

disesuaikan dengan konsep desain yang dimiliki perancang (hlm. 64).

b. Grid

Grid merupakan garis bantu yang berfungsi untuk mempermudah

peletakan elemen visual dan menciptakan kesatuan layout. Grid dapat berupa garis vertikal maupun horizontal. Grid sebaiknya disesuaikan dengan banyaknya informasi yang ingin disampaikan karena menurut Lupton dan Philips (2015), grid bertugas untuk menuntun pembaca dalam membaca informasi. (hlm. 68).

Tondreau (2009) membagi grid menjadi 5 jenis yaitu single

column, two column, three column, multicolumn dan modular. Dari

kelima jenis grid tersebut, penulis memilih modular grid sebagai panduan dalam merancang buku ilustrasi.

a. Modular Grid

Gambar 2.5 Modular grid

Modular grid terdiri dari garis vertikal dan horisontal yang

membentuk kotak dalam jumlah yang banyak. Modular grid dapat memudahkan penulis untuk mengatur letak gambar dan teks sesuai kebutuhan. Dengan menggunakan jenis grid ini, penulis juga dapat secara bebas namun konsisten dalam mengatur ukuran dan bentuk grid sesuai dengan elemen – elemen yang ingin diletakkan pada setiap halaman buku (hlm. 66, 70).

Adapun prinsip – prinsip desain yang dibutuhkan dalam membuat

layout menurut Rustan (2009, hlm. 76) dan Landa (2011, hlm. 25 – 34)

ialah sebagai berikut: 1. Sequence

Sequence berperan dalam menentukan arah baca pembaca dalam

membaca buku. Arah baca secara umum mengikuti alur huruf Z, C, L, T, I, yaitu dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. Selain itu, adanya

emphasis seperti pembedaan ukuran dan warna pada elemen tertentu

juga dapat mempengaruhi alur baca.

2. Balance

Balance merupakan pembagian bobot visual secara seimbang dengan

seluruh elemen yang ada pada suatu komposisi. Pembagian secara seimbang tersebut dapat menciptakan keharmonisan dalam suatu karya. Bobot visual yang dimaksud pada karya dua dimensi

menyangkut unsur daya tarik visual, tingkat kepentingan, serta emphasis visual itu sendiri. Bobot visual juga dipengaruhi oleh unsur – unsur lain seperti ukuran, bentuk, value, warna, tekstur hingga posisi.

Simetris dan asimetris juga termasuk kedalam balance. Simetris merupakan keadaan dimana besar dan letak porsi visual pada bagian kiri dan kanan suatu karya sama. Asimetris merupakan keadaan dimana besar dan letak porsi visual pada bagian kiri dan kanan suatu karya tidak sama. Meskipun bersifat asimetris, unsur – unsur pada elemen yang ada harus berlawanan satu sama lain agar mencapai keseimbangan (hlm. 25 – 28).

3. Emphasis

Emphasis digunakan untuk menyusun tata letak elemen – elemen

terpenting hingga kurang penting pada sebuah karya. Untuk menarik perhatian pembaca dapat dilakukan dengan memisahkan satu elemen dari elemen – elemen lainnya, menempatkan elemen utama pada

foreground, pojok kiri atas, atau pusat bidang karya, serta mengatur

ukuran besar atau kecil elemen untuk memberikan kesan di depan atau di belakang. Selain itu, permainan kontras serta penambahan petunjuk seperti tanda panah dapat pula mengarahkan perhatian pembaca pada suatu elemen (hlm. 29).

4. Unity

Unity tercipta ketika adanya hubungan antara barisan elemen, objek,

dan tepi pada suatu komposisi yang dapat dilihat atau dirasakan. Unity juga dapat didasarkan oleh gestalt. Hukum – hukum gestalt seperti

similarity, proximity, continuity, closure dapat membantu dalam

membangun unity pada sebuah komposisi. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menciptakan unity ialah warna, tipografi serta peletakan ilustrasi (hlm. 31 – 34).

Gambar 2.6 Contoh layout cover buku

(https://spark.adobe.com/images/landing/examples/how-to-book-cover.jpg)

2.1.3.2. Tipografi

Selain ilustrasi, teks juga termasuk kedalam bagian dari buku ilustrasi. Untuk menyesuaikan teks dengan konsep perancangan, penulis

membutuhkan pengetahuan mengenai tipografi. Menurut Sihombing (2010) tipografi merupakan sebuah disiplin ilmu seni yang mempelajari tentang pengetahuan mengenai huruf (hlm. 2). Cullen (2012) menyebutkan bahwa tipografi adalah cikal bakal munculnya bahasa (hlm. 12). Menurut Landa et al. (2007) jenis tipografi berdasarkan fungsinya dibagi menjadi 2 yaitu display type dan text type. Display type merupakan tipografi yang digunakan pada judul, sedangkan text type merupakan tipografi yang digunakan pada bodytext (hlm. 132).

Landa et al. melanjutkan bahwa selain itu, terdapat jenis tipografi menurut karakter huruf yakni serif, sans-serif, dan script. Disesuaikan dengan konsep perancangan buku ilustrasi yang ditujukan untuk remaja, penulis mengambil jenis tipografi sebagai berikut (hlm. 132).:

Gambar 2.7 Contoh serif dan sans-serif

1. Sans-serif

Pemilihan jenis tipografi ini didasarkan pada kesesuaiannya dengan karakter target perancangan buku yang merupakan remaja generasi masa kini. Menurut Rustan (2011), jenis tipografi ini dapat memberi kesan moderen (hlm. 49). Landa et al. menyatakan bahwa jenis tipografi sans-serif terdiri dari huruf – huruf yang tidak memiliki kait sehingga ketebalannya sama. Contoh dari jenis tipografi ini adalah

Segoe UI, Futura Book dan Arial.

2.1.3.3. Warna

Menurut Linschoten dan Drs. Mansyur (2007), warna merupakan salah satu unsur yang penting, terutama dalam kegiatan seni atau desain. Warna memiliki daya tarik terhadap indera maupun emosi. Selain itu, warna juga dapat memberikan kesan realis serta berdimensi. Warna tidak hanya dapat dinikmati estetikanya tetapi juga dapat mempengaruhi tindakan, perilaku hingga persepsi estetik seseorang (hlm. 48).

Gambar 2.8 Color palette

Menurut Tillman (2011), setiap usia memiliki warna tersendiri. Dalam menentukan warna, beliau menghimbau untuk menyesuaikan warna dengan usia target pembaca buku. Perancangan buku yang akan dibuat penulis tertuju pada remaja berusia 14 – 17 tahun dimana menurut Tillman, remaja usia tersebut mulai menyukai banyak warna (hlm. 104). Merujuk kepada penderita sleep paralysis yang kerap diliputi kebingungan, rasa cemas, takut dan khawatir maka penulis menggunakan teori warna yang dikemukakan oleh dr. Hemant Mittal (2017) yang mengkategorikan 6 warna berdasarkan fungsi psikologisnya, yaitu:

1. Biru

Warna biru dapat membantu menenangkan pikiran, mengontrol detak jantung, menurunkan tekanan darah tinggi serta mengurangi kegelisahan.

2. Hijau

Warna hijau dapat menenangkan dan menyejukkan karena warna hijau merupakan representasi dari alam. Warna hijau dapat membantu seseorang untuk melepaskan kegelisahannya.

3. Pink

Warna pink dapat memberikan perasaan tentram yang dapat menyeimbangkan energi di dalam tubuh.

4. Ungu

Warna ungu dapat menyeimbangkan emosi sehingga dapat memberikan ketenangan jiwa.

5. Abu – abu

Warna abu – abu dapat menenangkan suasana, terlebih lagi jika dikombinasikan dengan warna biru atau putih.

6. Kuning

Warna kuning dapat membantu memberikan energi positif melalui karakternya yang ceria dan enerjik.

Dokumen terkait