BAB IV PERANCANGAN DAN ANALISIS
4.1. Perancangan
4.1.7. Perancangan Digital
Setelah menyelesaikan perancangan secara manual mulai dari elemen hingga
layout, penulis kemudian merancang secara digital. Dalam proses merancang
secara digital, penulis menata elemen – elemen yang ada pada setiap halaman. Selama proses merancang secara digital, penulis melakukan beberapa kali pergantian tata letak elemen – elemen tersebut.
Gambar 4.23 Layout awal versi digital
Contoh hasil perancangan digital yang pertama memerlukan banyak perubahan karena outline ilustrasi yang terlalu tebal dan warna yang terlalu gelap sehingga penulis terus mengeksplor beberapa warna hingga menemukan palet warna yang sesuai yang akhirnya dipakai sebagai palet warna dalam perancangan. Selain itu, ilustrasi yang kurang merepresentasikan rasa lelah belajar, meja belajar yang kurang merepresentasikan kesibukan seorang pelajar, serta arah cahaya dan bayangan yang tidak sesuai juga menjadi alasan perubahan layout. Halaman kiri dan kanan juga terlihat tidak menyatu padahal, ilustrasi pada halaman sebelah kiri berperan memperjelas konten pada halaman sebelah kanan. Berdasarkan pertimbangan penulis, layout tersebut juga membuang terlalu banyak ruang sehingga kurang efektif.
88
Gambar 4.24 Elemen pendukung versi digital
Penulis merancang beberapa elemen visual seperti tutup mata untuk tidur, tanda tanya, kaca pembesar, lampu serta gembok. Elemen – elemen visual ini berfungsi sebagai representasi dari setiap pembuka bab pada buku. Dari elemen – elemen tersebut, penulis menciptakan pola yang mengelilingi quotes pada halaman – halaman tertentu.
Gambar 4.26 Pembuka setiap bab buku
Untuk halaman judul pembuka setiap bab, penulis pertama kali menggunakan tipografi yang terlalu bulat dan bersifat terlalu playful sehingga tidak sesuai untuk remaja sebagai target buku. Selain itu, warna biru tua yang dipilih sebagai warna latar belakang terlalu pucat sehingga tidak sesuai dengan konsep. Oleh karena itu, penulis melakukan eksplorasi tipografi dan warna hingga kemudian mendapatkan yang sesuai dengan konsep seperti pada alternatif kedua. Pada allternatif kedua terdapat contoh pengaplikasian grid pada setiap perancangan halaman yang penulis lakukan.
90
Gambar 4.27 Alternatif 1 halaman pada bab 1 versi digital
Memasuki bagian isi, penulis beberapa kali merancang ulang layout untuk halaman awal dari bab 1 yaitu halaman 8 dan 9. Alternatif layout pertama memerlukan perubahan karena outline ilustrasi yang terlalu tebal dan warna latar belakang putih sehingga suasana yang ingin dicapai kurang terasa dan tidak sesuai dengan konsep colorful. Selain itu, peletakan ilustrasi remaja laki – laki yang sedang tidur pada halaman 9 terlihat janggal dan tidak menyatu dengan ilustrasi pada halaman 8.
Pada alternatif layout kedua, penulis mengubah outline ilustrasi menjadi lebih tipis, menambahkan warna latar belakang biru keunguan sebagai representasi dari langit sore menjelang malam. Penulis juga menambahkan ilustrasi baru untuk diletakkan pada halaman 9 yang memiliki kesatuan dengan ilustrasi pada halaman 8 namun, ilustrasi demikian dirasa terlalu mendominasi halaman dan menyulitkan penulis dalam meletakkan elemen teks pada halaman tersebut.
Selanjutnya, penulis mencoba untuk menghilangkan ilustrasi bayangan remaja perempuan yang sedang tidur yang ada pada alternatif layout kedua dan menggantinya dengan yang lebih sederhana yaitu siluet kota dari halaman 8.
92
Gambar 4.30 Alternatif 1 tipografi
Gambar 4.31 Alternatif 2 tipografi
Gambar 4.32 Alternatif 3 tipografi (terpilih)
Alternatif layout ketiga dirasa penulis terlalu sederhana dan kurang merepresentasikan konten pada halaman tersebut sehingga akhirnya penulis menambahkan ilustrasi mobil pada halaman 9 yang akhirnya menjadi layout pilihan. Penulis juga beberapa kali melakukan pergantian tipografi hingga menemukan yang sesuai. Tipografi pilihan pertama terlihat terlalu kompleks sehingga sulit untuk dibaca dari jarak jauh sedangkan tipografi pilihan kedua memiliki kerning dan spasi yang kurang pas sehingga kurang nyaman untuk dibaca. Setelah mencari banyak jenis tipografi, akhirnya penulis menemukan tipografi yang sesuai dengan konsep yaitu sans-serif yang cenderung memiliki lengkungan dan karakter bulat yang tidak berlebihan sehingga tidak terkesan kekanakan serta mudah dan nyaman dibaca.
Gambar 4.34 Proses mewarnai digital halaman pada bab 2
94 Selanjutnya ialah proses penulis dalam menyusun salah satu isi dari bab 2, mulai dari elemen hingga menjadi satu halaman utuh. Proses diperlihatkan mulai dari sketsa secara digital, pewarnaan secara digital hingga penempatan pada halaman.
Gambar 4.36 Alternatif 1 dan 2 halaman pada bab 3 versi digital
Pada bab 3, penulis kembali melakukan beberapa perubahan layout untuk akhirnya menemukan layout yang sesuai. Layout ini yang akan konsisten digunakan untuk setiap layout multi panel dalam perancangan buku. Alternatif
layout pertama memiliki kekurangan dimana ilustrasi memiliki outline yang
terlalu tebal, clipping mask ilustrasi ke dalam sebuah lingkaran yang memiliki
outline terlalu tebal, selain itu warna latar belakang putih terkesan terlalu
sederhana dan meninggalkan banyak ruang kosong. Pada alternatif layout kedua, penulis mencoba untuk mengubah outline ilustrasi menjadi lebih tipis, clipping
mask tanpa menggunakan outline, menambahkan warna biru tua sebagai warna
latar belakang, serta memperbesar judul dan menambahkan sub judul namun, pemilihan satu warna untuk latar belakang kurang dapat membedakan segmentasi judul, sub judul dan daftar tips – tips. Akhirnya, penulis menemukan solusi dimana penulis menambahkan satu warna lagi yaitu biru muda pada latar belakang yang berfungsi membedakan area judul dan sub judul dengan area daftar tips – tips.
96
Gambar 4.39 Alternatif 3 halaman pada bab 4 versi digital (terpilih)
Untuk menemukan layout halaman yang sesuai untuk bab 4, penulis melakukan perubahan sebanyak 3 kali. Alternatif layout pertama terdapat ilustrasi yang memiliki outline yang terlalu tebal, warna latar belakang putih dengan ilustrasi mengisi setengah bagian halaman. Setengah bagian lain dari halaman diisi oleh teks rata tengah yang kurang nyaman dan terkesan terlalu panjang untuk dibaca. Pada alternatif layout kedua, penulis mencoba untuk mengubah outline ilustrasi menjadi lebih tipis, penyampaian konten menjadi poin – poin sesuai anjuran psikolog yang penulis wawancarai agar lebih menarik untuk dibaca oleh target serta menambahkan saran pada bentuk post-it. Penulis juga menambahkan warna ungu sebagai warna latar belakang.
Pada alternatif layout ketiga, penulis mengubah warna latar belakang ungu pada alternatif layout kedua yang terlalu gelap. Selain itu, penulis mencoba memperbesar teks judul agar lebih terbaca. Penulis juga mengubah penyampaian
konten dari bentuk poin – poin menjadi dua kolom agar tidak terkesan terlalu panjang, lebih variatif dan lebih nyaman dibaca.
Gambar 4.40 Alternatif 1 dan 2 halaman pada bagian closing versi digital
Gambar 4.41 Alternatif 3 halaman pada bagian closing versi digital (terpilih)
Pada bagian penutup yaitu closing, penulis mengubah layout sebanyak tiga kali. Pada layout pertama, penulis menggunakan ilustrasi karakter – karakter yang muncul pada buku sedang melambaikan tangan. Untuk konten, penulis
98 menuliskan kalimat penutup serta quotes terkait gangguan tidur sleep paralysis, namun, layout ini terkesan terlalu sepi sehingga pada alternatif layout kedua, penulis kembali mencoba memainkan warna. Penulis memberikan warna abu – abu pada area penempatan quotes dan menambahkan elemen seperti post-it untuk meletakkan quotes tersebut. Untuk ilustrasi, penulis mencoba mengeksplor kembali dan mendapatkan ilustrasi baru berupa seorang remaja laki – laki yang tertidur nyenyak yang akhirnya dipilih menjadi ilustrasi pada halaman closing buku yang dirancang.
Gambar 4.42 Tipografi judul cover
Gambar 4.44 Alternatif 2 cover versi digital
Gambar 4.45 Alternatif 3 cover versi digital (terpilih)
Untuk judul pada cover buku, penulis menggunakan tipografi yang sama dengan tipografi yang dipakai sebagai tipografi headline agar terciptanya kesatuan namun, penulis memainkan bentuk dengan teknik wrap text into shape. Dalam merancang cover buku, penulis melakukan tiga kali pergantian ilustrasi. Pada alternatif cover pertama terdapat ilustrasi bantal, jam serta bulan dan bintang tetapi penggunaan benda mati seperti bantal untuk cover dirasakan kurang dapat menarik perhatian dan kurang dapat menyampaikan pesan dari buku. Oleh karena itu, penulis mengganti ilustrasi bantal menjadi karakter dengan ekspresi bingung
100 dan cemas karena tertindih dan pada cover bagian belakang, penulis tetap menyertakan ilustrasi bulan dan bintang.
Pada alternatif cover kedua tersebut, karakter digambarkan sedang berbaring di atas tempat tidur namun ilustrasi ini terkesan kaku, terlalu serius dan kurang menyenangkan untuk digunakan pada cover buku yang bertargetkan remaja. Oleh karena itu, penulis mengubah gestur tubuh karakter dengan kaki yang terangkat keluar dari selimut serta tangan yang juga terangkat untuk menciptakan kesan yang tidak terlalu kaku dan serius. Ekspresi karakter dibuat lebih tegang untuk mendapatkan kesan mencemaskan. Tipografi untuk ulasan buku pada cover bagian belakang juga memakai jenis tipografi yang sama dengan
body copy agar menciptakan kesatuan.