• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III APLIKASI PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG PENDIDIKAN

C. Aplikasi Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

3. Peranserta Masyarakat

Peran serta masyarakat yang responsif gender adalah keterlibatan masyarakat secara seimbang antara laki-laki dan perempuan dalam hal akses, peran, dan tanggung jawabnya serta partisipasinya dalam fungsi kontrol dan pengambilan keputusan serta menerima manfaat secara adil. Peran komite sekolah, Peran orangtua/wali, Peran masyarakat sekitar sekolah, Peran masyarakat umum, dll.

Beberapa Pengalaman Terpetik

Bidang Pendidikan

Pengarusutmaan Gender

A. Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan di Tingkat Pusat

● PUG merupakan salah satu cross-cutting isu dalam pembangunan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 mengidentifi kasi 11 prioritas termasuk pendidikan dan tiga prinsip lintas sektor sebagai dasar operasional pelaksanaan pembangunan secara keseluruhan yaitu: 1) Pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan;

2) Pengarusutamaan tata kelola pemerintahan yang baik dan 3) Pengarusutamaan gender.

● Gender diintegrasikan dalam RENSTRA Kemendiknas 2010-2014

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama telah mengembangkan Rencana Strategis Pendidikan 2010-2014 (disebut sebagai ‘Renstra’) yang didasarkan kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan panduan reformasi. Renstra melaksanakan perhatian Pemerintah Indonesia pada pendidikan dasar dan penyediaan sembilan tahun pendidikan yang berkualitas untuk semua anak laki-laki dan perempuan.

Sebagai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki tanggung jawab keseluruhan untuk sistem pendidikan, renstra mencakup baik pendidikan umum maupun swasta, dan target strategisnya mencakup baik lembaga-lembaga pendidikan keagamaan negeri maupun swasta. Lima prioritas utama adalah:

√ Membedakan antara aktif fi sik dan aktif mental murid laki-laki dan perempuan.

3 Peranserta Mas arakat

BAB IV

● Mengurangi kesenjangan dalam akses, terutama pada tingkat menengah pertama.

● Meningkatkan kualitas belajar dan mengajar.

● Meningkatkan relevansi pendidikan, terutama pada pendidikan menengah atas dan perguruan tinggi.

● Meningkatkan efi siensi dan keterjangkauan, dan

● Meningkatkan manajemen dan akuntabilitas di semua tingkat-nasional, provinsi, kabupaten/kota dan sekolah.

● Alokasi anggaran dalam mendukung PUG bidang pendidikan;

Alokasi anggaran dalam mendukung PUG telah dimulai sejak Tahun 2002 dan sampai saat ini (2011) diperkirakan sudah mencapai Rp 136, 1 Milyar dengan rata-rata per tahun anggaran sekitar 7 milyar rupiah.

Perempuan Indonesia

Hadapi Beban Keuangan Berat

Akademisi:

Dosen Sosiologi dari Universitas Andalas Padang Dra Mira Elfi na, MSi mengatakan, kaum perempuan di Tanah Air sepanjang 2012 akan menghadapi beban keuangan yang semakin berat karena kebutuhan hidup, pendidikan dan kesehatan keluarga yang terus meningkat.

“Mirisnya, peningkatan kebutuhan hidup itu justru tidak sebanding dengan pertambahan pendapatan keluarga,” katanya di Padang.

Menurut dia, secara konseptual dalam kehidupan rumah tangga yang bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keuangan adalah suami, namun faktanya banyak suami justru tidak secara penuh memberikan nafkah materi.

Konsekuensinya, perempuan akan terus mengalami kehidupan yang semakin sulit dan akan bertambah parah lagi jika kaum ibu tersebut dicerai hidup oleh suami.

“Beban keuangan untuk membesarkan anak otomatis menjadi tanggung jawab perempuan. Banyak laki-laki yang mening-galkan isterinya kemudian sibuk dengan rumah tangga baru dan mengabaikan anak-anak mereka,” katanya.

Menurut dia idealnya seorang suami me-nempatkan isterinya diam di rumah tetapi persoalan lainnya adalah faktor alam yang lebih memaksa agar perempuan turut memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi lainnya di desa, banyak kaum ibu justru tidak menuntut pemenuhan keuangan dari suami mereka yang bekerja sebagai buruh tani karena pendapatan yang minim.

“Dengan pendapatan minim kaum ibu di desa terpaksa menerima apa adanya pendapatan dari suami. Dampaknya, perem-puan harus pintar mengatur keuangan keluarga,” ujarnya.

Pada bagian lain, katanya, data BPS menunjukkan bahwa kualitas pendidikan kaum perempuan di Tanah Air masih lebih rendah dibanding kaum laki-laki, sehingga turut mempengaruhi meningkatnya persoa-lan kemiskinan yang terus membelenggu perempuan.

Karena itu, menurut dia, pemerintah perlu terus menggencarkan upaya pembenahan persoalan kemiskinan dan memberdayakan perempuan dalam mengenyam pendidikan.

Seluruh program tersebut sudah merupa-kan bagian dari target “millenium deve-lopment goals (MDGs) yang telah menjadi program utama pemerintah, katanya. (Antara, Padang, 21 -1-2012)

sampai saat ini (2011) diperkirakan sudah mencapai Rp 136, 1 Milyar dengan rata-rata per tahun anggaran sekitar 7 milyar rupiah.

n

● Penerapan GBS dalam RKA Kemdikbud 2010,2011 dan 2012

PMK Nomor 109 Tahun 2009 telah menetapkan Kemdiknas sebagai salah satu pilot projek dari 7 Kementerian untuk pelaksanaan Anggaran Responsif Gender dengan pendekatan Gender Budget Statement (GBS) dan itu berlanjut sampai tahun 2012. Melalui pilot projek ini menempatkan Kemdikbud telah berkomitmen bahwa sebagian kegiatan dan anggaran telah responsif gender dengan dibuktikan adanya Gender Budget Statement/ Pernyataan Anggaran Gender (GBS/PAG).

B. Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan di Tingkat Provinsi Contoh di Provinsi Jawa Tengah

● Renstra Dinas Pendidikan Tahun 2009 – 2013 memasukkan sebagai indikator keberhasilan program dan mendorong seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Tengah telah melaksanakan PUG Bidang pendidikan.

● Pembentukan dan befungsinya Pokja PUG Bidang Pendidikan di Provinsi Jawa Tengah sejak Tahun 2003 dengan Surat Keputusan Kepala Dinas.

● Tersusunnya Rencana Aksi Daerah (RAD) PUG Bidang Pnedidkan dari tahun 2003-2008.

● Terbentuknya Forum Fokal Point Se jawa Tengah

● Alokasi anggaran APBD untuk mendukung PUG di provinsi dan Kabupaten kota seluruh Provinsi Jawa Tengah.

C. Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan di Tingkat Kabupaten/Kota Contoh di Kabupaten Sleman, Propinsi DI Yogyakarta:

● Komitmen kepala daerah terhadap PUG bidang pendidikan yang dimuat dalam RPJMD dan Renstra Pendidikan yang responsif gender.

● Telah terbentuk dan berfungsinya Pokja PUG Bidang pendidikan di Tingkat Kabupaten Sleman dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan.

● Tersusunnya Modul Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan.

● Tersusunnya Kurilulum responsif gender.

● Adanya pilot projek PUG pada satuan pendidikan di Kecamatan Tempel pada satuan pendidikan PAUD, SD, SMP, SMA, SMK dan PKBM.

Contoh di Kabupaten Sragen, Propinsi Jawa Tengah:

● Terbentuknya dan berfungsinya Pokja PUG Bidang Pendidikan di Tingkat Kabupaten dengan SK Kepala Dinas Pendidikan.

● Contoh pilot projek PUG pada satuan pendidikan di Kecamatan Ceper;

● Terbentuknya fokal point PUG yang aktif di SD, SMP, SMA, SMK dan PKBM di Kecamatan Ceper.

D. Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan di Satuan Pendidikan PAUD, SD, SMP, SMA, SMK dan PKBM di Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Propinsi DI Jogjakarta yang menjadi pilot projek PUG Bidang Pendidikan:

● Komitmen dan pemahaman Kepala Sekolah, para guru dan Tutor PKBM tentang PUG bidang pendidikan cukup tinggi melalui penyediaan Papan nama Sekolah/PKBM yang responsif Gender dan rencana pembelajaran;

● Tersusunya Kurikulum responsif gender.

● Bahan ajar dan metode pengajaran responsif gender.

● Media informasi gender bidang pendidikan melalui papan nama sekolah.

Sekolah Dasar Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah:

● Kepala sekolah yang menguasai dan memahami gender dan PUG bidang pendidikan serta aplikasinya di satuan pendidikan

● Kurikulum responsif gender.

● Bahan ajar dan metode pengajaran responsif gender.

● Media informasi gender bidang pendidikan melalui banner dan leafl et

Sebanyak 50 narapidana (napi) baik laki-laki dan perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Samarinda mendapat pelatihan keterampilan, berupa menjahit, mengoperasikan berbagai program komputer, dan pelatihan menulis.

Program pelatihan keterampilan khusus ini terselenggara melalui kerja sama Dinas Pendidikan Kaltim, Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Mahakam Jaya, dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Samarinda,” tutur Sriyana, Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kaltim.

Tujuan pelatihan agar para napi tersebut memiliki keterampilan khusus yang dapat menghasilkan uang, sehingga ke depan setelah keluar dari Lapas, dapat hidup mandiri karena sudah memiliki keterampilan untuk bekal hidup bermasyarakat.

Sebagian besar peserta yang meng ikuti pelatihan itu merupakan napi yang mengikuti wajib belajar (wajar) 12 tahun, yak ni melalui prog-ram Paket A, B, dan Kejar Paket C. ; Program Paket yang saat ini ditempuh Dinas Pendidikan Kaltim dalam upaya mengejar keber hasil-an program Wajib Belajar 12 tahun.

(Antara, Biro Kali-man tan Timur, 1-4-2012)

Warga Binaan

Lembaga Pemasyarakatan Samarinda

Pelatihan Keterampilan Monitoring, Evaluasi,

Pelaporan Dan Pembiayaan

A. Monitoring

Monitoring berfungsi untuk:

1. Melakukan kontrol terhadap proses dan kualitas pelaksanaan PUG baik di pusat maupun di daerah.

2. Memastikan akuntabiltas program pembangunan terhadap masyarakat baik laki-laki maupun perempuan.

3. Meningkatkan kinerja program dan kegiatan.

4. Mendapatkan informasi tentang kondisi dan perkembangan pelaksanaan PUG Bidang Pendidikan.

5. Mendapat informasi tentang tingkat keberhasilan, permasalahan dan upaya pemecahan pelaksanaan PUG Bidang Pendidikan.

B. Evaluasi

Evaluasi berfungsi untuk:

1. Melihat efektivitas program dan kegiatan dalam mewujudkan tujuan prioritas yang dimuat dalam RPJMN/RPJMD dan RENSTRA/Renstra SKPD.

2. Memberikan informasi perkembangan dan hasil pelaksanaan kegiatan pelaksanaan PUG Bidang Pendidikan kepada penanggungjawab program PUG Bidang Pendidikan.

3. Mengidentifi kasi tindak lanjut untuk kembali ke arah yang benar atau untuk memperbaiki sasaran berdasarakan fakta dan pengalaman.

BAB V

Sebagian b meng ikuti pe napi yang m

Lingkup /sasaran monitoring dan evaluasi adalah:

1. Aspek perencanaan, dengan indikator masukan yang mencakup antara lain program kegiatan disusun berdasarkan atas hasil analisis gender yang tercermin dalam pemilihan sasaran, program, perencanaan, alokasi dana, sarana dan prasarana.

2. Aspek pelaksanaan mengacu pada perencanaan yang telah dituangkan pada butir di atas, yaitu pengelolaan kegiatan (kesesuaian sasaran, waktu, materi, penggunaan dana, sarana prasarana, dan pendekatan yang dilakukan).

3. Aspek yang mendukung pelaksanaan yaitu komitmen, kebijakan, tatakerja, struktur kelembagaan dan jejaring.

4. Aspek manfaat dilihat dari terintegrasinya PUG dalam perencanaan program bidang pendidikan.

Tingkat Monitoring dalam Pelaksanaan PUG di daerah 1. Monitoring pada tingkat daerah

● Gubernur/Bupati/Walikota malakukan monitoring sesuai dengan kewenangannya terhadap pelaksanaan PUG dalam perencanaan pembangunan daerah di lingkup wilayahnya.

● Monitoring oleh Gubernur/Bupati/Walikota dalam pelaksanaanya dilakukan oleh Bappeda untuk keseluruhan perencanaan pembangunan daerah.

● Kepala Bappeda dengan dibantu Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemantauannya kepada kepala daerah disertai dengan rekomandasi dan langkah-langkah yang diperlukan.

2. Monitoring tingkat SKPD

● Monitoring pada tingkat SKPD dilaksanakan oleh kepala SKPD untuk program atau kegiatan sesuai dengan tupoksinya masing-masing.

● Monitoring difokuskan pada capaian kinerja pelaksanaan PUG di tingkat SKPD.

Pertanyaan kunci dalam monitoring dan evaluasi

● Apakah pokja PUG bidang pendidikan sudah terbentuk?

● Apakah focal point sudah ada?

● Apakah dukungan dana APBD sudah tersedia?

● Apakah Pokja dan focal point sudah dilakukan capacity building?

● Apakah anggota Pokja juga melibatkan PSW dan LSM?

● Apakah ARG sudah dilaksanakan dalam alokasi APBD?

● Berapa kegiatan yang sudah dibuatkan ARG?

● Apa dasar hukum untuk pelaksanaan ARG di daerah saudara?

● Apakah hambatan dan tantangan dalam pelaksanaan ARG bidang pendidikan?

● Solusi apa yang tepat dalam mengatasi hambatan dan tantangan pelaksanaan ARG?

C. Pelaporan

1. Pelaporan adalah kegiatan penyampaian perkembangan hasil pelaksanaan program, sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan pada periode tertentu.

2. Pengelola Pokja PUG berkewajiban untuk menyampaikan laporan kepada penanggungjawab program PUG bidang pendidikan dengan tembusan kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

3. Pelaporan dibuat secara komprehensif yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan; intansi yang terlibat dalam pelaksanaan; sasaran kegiatan;

penggunaan anggaran; permasalahan yang dihadapi; dan upaya yang telah dilakukan dalam memecahkan masalah.

4. Pelaporan dilakukan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam satu tahun.

D. Pembiayaan

Untuk mendukung program diperlukan anggaran yang memadai yang dialokasikan pada masing-masing unit kerja / satuan kerja sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Anggaran yang responsif gender diarahkan untuk: (a) Membiayai program, proyek, dan kegiatan yang dapat memberikan manfaat secara adil bagi perempuan dan laki-laki, dan (b) Anggaran dialokasikan untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan praktis dan atau kebutuhan strategis gender yang dapat diakses oleh perempuan dan laki-laki.

Pembiayaan untuk pelaksanaan PUG dapat bersumber dari : 1. Pemerintah, baik melalui APBN maupun APBD.

2. Non Pemerintah yaitu berasal dari sumber dana lain dari luar APBD dan APBN yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, misalkan dukungan dana dari donor, individu, perusahaan atau dari organisasi-organisasi sosial/kemasyarakatan yang memiliki kepedulian terwujudnya keadilan dan kesetaraan gender baik dari dalam maupun luar negeri.

P

anduan ini disajikan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pengarusutamaan gender bidang pendidikan dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender bidang pendidikan melalui upaya pengintegrasian dimensi gender ke dalam setiap tahapan pembangunan bidang pendidikan. Diharapkan panduan ini menjadi sumber pengetahuan dan pegangan dalam melaksanakan PUG bidang pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Penutup

BAB VI

Aida Vitalaya Hubeis, Prof. Dr. (2010), Pemberdayaan Perempuan dari Masa ke Masa, PT.

Penerbit IPB Press, Bogor.

Care Internasional dan CIDA ( Tanpa tahun), “Modul Pelatihan Analisis Gender”, Care Internasional, Jakarta.

Ditjen PNFI, MONE, (2008), “Modul Pendidikan Adil Gender dalam Keluarga”, Ditjen PNFI, Jakarta.

Dirjen PNFI, MONE, (2007), “Modul Peningkatan Kapasitas Perempuan”, Dirjen PNFI, Jakarta.

Dirjen PLS, (2006), “Pesan Standar Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan”, Dirjen PLS, Kemendiknas, Jakarta.

Endriana Noerdin Dkk, (2005), “Modul Latihan Analysis Gender & Anggaran Berkeadilan Gender”, Women Research Institute (WRI), Jakarta.

Eva K. Soundari Dkk, (2006), “Modul Latihan Advokasi Penganggaran Berbasis Kinerja Responsif Gender”, Pattiro & The Asia Foundation, Jakarta.

ILO, Year “ line Learning Module on Gender”, ILO, Jakarta.

MOHA, LAN dan ADB., (Juni 2007), : Diklat Teknis Penyadaran Gender di Era Desentralisasi”, MOHA, Jakarta.

MOWE, UNFPA & BKKBN (2005), “Bunga Rampai PUG: Bahan Pembelajaran Pengarusutamaan Gender”, MOWE, Jakarta.

MOWE, (2006), “Modul Pelatihan Penegelolaan P2TP2A”, MOWE, Jakarta.

MOWE, IASTP III (2007), “Gender Planning for Equity in Indonesia”, MOWE, Jakarta.

MOWE, IASTP III, & Austraing Internasional. (2008), “Key Performance Indicators for Measuring Gender Mainstreaming in Indonesia”, MOWE, Jakarta.

MOWE, (2008), Draft Panduan Perencanaan dan Penganggaran yang Responsive Gender (PPRG), MOWE, Jakarta.

MONE, (2007), Panduan Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan, Jakarta.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008.

Specialized Training Project, (2005), “Gender Mainstreaming Short Courses Indonesia”, Specialized Training Project, Jakarta.

Suharti, (2010), “Menggali Isu Strategis Gender dalam Pembangunan Pendidikan di Indonesia”, Desember 2010, Surabaya.

Daftar Pustaka

Dokumen terkait