BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KELALAIAN KEPEMILIKAN
C. Tindak Pidana Penyalahgunaan Senjata Api Ilegal
2. Peraturan Kepemilikan Senjata Api
Di Indonesia, kepemilikan senjata api diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1948 tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin Kepemilikan Senjata Api.
Peraturan yang tercantum dalam pasal 9 Undang- undang Nomor 8 tahun 1948 tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin Kepemilikan Senjata Api menjelaskan bahwa setiap orang yang bukan anggota tentara atau polisi yang memakai dan memiliki senjata api harus mempunyai izin pemakaian senjata api menurut contoh yang ditetapkan oleh kepala kepolisian negara. Dengan demikian, dasar hukum tersebut memiliki pengertian bahwa setiap izin yang keluar untuk kepemilikan atau pemakaian senjata api (IKSA) harus ditanda tangani langsung oleh Kapolri dan tidak bisa didelegasikan kepada pejabat lain seperti Kapolda ataupun pangkat lainnya.61
61 Evan Munandar, “Penanggulangan Tindak Pidana Kepemilikan Dan Penggunaan Senjata Api Tanpa Izin Dalam Sistem Peradilan Pidana”, Syiah Kuala Law Journal, Volume II, Nomor 3, (Desember 2018), h., 341.
45
Kepentingan pengawasan oleh pihak Kepolisian Republik Indonesia juga mendasarkan sikapnya pada Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1960 Tentang Kewenangan Perizinan Menurut Undang-Undang Senjata Api.62
Menurut Undang-Undang tersebut ada persyaratan-persyaratan utama yang harus dilalui oleh pejabat baik secara perorangan maupun swasta untuk memiliki dan menggunakan senjata api. Pemberian izin itu pun hanya dikeluarkan untuk kepentingan yang dianggap layak. Misalnya untuk olahraga, izin hanya diberikan kepada anggota Perbakin yang sudah memenuhi syarat-syarat kesehatan jasmani dan rohani dan memiliki kemahiran menembak serta mengetahui secara baik peraturan perundang-undangan mengenai penggunaan senjata api. Izin kepemilikan senjata api yang bertujuan untuk bela diri hanya diberikan kepada pejabat tertentu. Menurut ketentuannya, mereka harus dipilih secara selektif. Mereka masing-masing adalah pejabat swasta atau perbankan, pejabat pemerintah, TNI/Polri dan purnawiraman.
Untuk pejabat swasta atau bank, mereka yang diperbolehkan memiliki senjata api masing-masing: presiden direktur, presiden komisaris, komisaris, direktur utama, dan direktur keuangan. Untuk pejabat pemerintah, masing-masing: Menteri, Ketua MPR/DPR, Sekjen, Irjen, Dirjen, dan Sekretaris Kabinet, demikian juga Gubernur, Wakil Gubernur, Sekwilda, Irwilprop, Ketua DPRD dan anggota DPR/MPR, sedangkan untuk jajaran TNI/Polri yang diperbolehkan memiliki senjata api hanyalah perwira tinggi dan perwira menengah dengan pangkat serendah-rendahnya Kolonel namun memiliki tugas khusus. Demikian pula untuk purnawirawan, yang diperbolehkan hanyalah perwira tinggi dan perwira menengah dengan pangkat terakhir Kolonel yang memiliki jabatan penting di Pemerintah/swasta.63
Warga sipil dapat memiliki senjata api kepemilikannya telah diatur dalam Undang -Undang Nomor 8 tahun 1948 tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin
62Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1960 Tentang Kewenangan Perizinan Menurut Undang-Undang Senjata Api.
63 Y. Sri Pudyatmoko, Perizinan, (Jakarta: Grasindo, 2009), h., 302-303.
Pemakaian Senjata Api. Di Indonesia, perizinan kepemilikan senjata api secara spsifik diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 18 Tahun 2015 Tentang Perizinan, Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Non Organik. Senjata api yang diperbolehkan dimiliki oleh warga sipil adalah senjata api non organik TNI/Polri, berupa senjata genggam Kaliber 22 sampai 32, serta senjata bahu golongan non standard TNI Kaliberr 12 GA dan KA. Prosedur untuk memiliki senjata api untuk warga sipil harus terlebih dahulu dilihat dari sisi urgensinya serta mengacu pada Peraturan Kapolri Nomor 18 Tahun 2015 Tentang Perizinan, Pengawasan dan Peng endalian Senjata Api Non Organik.64
a. Pemohon harus memenuhi syarat medis
Jika ingin memiliki senjata api legal, pertama harus memenuhi syarat medis yang berarti sehat jasmani dan rohani. Selain itu juga tidak ada cacat fisik yang bisa mengurangi keterampilan menggunakan senjata api dan yang penting masih mempunyai penglihatan normal.
b. Pemohon harus lolos seleksi psikotes
Orang yang cepat gugup dan panik dalam menghadapi sesuatu maka kemungkinan besar tidak bisa memiliki izin kepemilikan senjata api resmi dari kepolisian. Sebab syarat kepemilikan senjata api bagi warga sipil harus bisa menjaga emosi dan tidak cepat marah.
c. Pemohon tidak pernah terlibat tindak pidana
Pemohon harus berkelakuan baik sebelum mengajukan permohonan izin kepemilikan senjata api. Tidak pernah terlibat kasus pidana yang bisa dibuktikan dari SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik) dari Kepolisian.
d. Usia pemohon harus terpenuhi
Batas usia yang dibolehkan memiliki senjata api minimal 21 tahun dan maksimal 65 tahun.
e. Pemohon harus memenuhi syarat administratif
64 Peraturan Kapolri Nomor 18 Tahun 2015 Tentang Perizinan, Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Non Organik.
47
Syarat administratif yang harus dipenuhi berupa fotocopy KTP sebanyak 5 lembar, fotocopy KK sebanyak 5 lembar, fotocopy SKCK, rekomendasi Kapolda setempat, foto berwarna 2x3 sebanyak 5 lembar, foto berwarna 3x4 sebanyak 5 lembar, foto berwarna 4x6 sebanyak 5 lembar dan mengisi formulir permohonan dari Mabes Polri. Jenis senjata api yang boleh dimiliki oleh warga sipil yaitu senjata api genggam jenis revolver kaliber 32, kaliber 25, atau kaliber 22, senjata api bahu jenis shotgun kaliber 12 mm, dan senjata api bahu kaliber 12 GA dan kaliber 22.
3. Tindak Pidana Kepemilikan Senjata Api Ilegal
Kontrovesi kepemilikan senjata api ilegal merupakan suatu persoalan yang harus diselesaikan. Ilegal yang dimaksud disini ialah tidak legal, atau tidak sah menurut hukum. Kepemilikan senjata api ilegal ini tidak hanya dilihat sebagai bentuk pelanggaran hukum, tetapi juga sebagai suatu sarana kejahatan yang berbahaya oleh pelaku tindak pidana, hal tersebut sejalan dengan meningkatnya dan maraknya tindak kejahatan dimasyarakat, penembakan oleh orang tidak dikenal, teror penembakan disejumlah tempat-tempat umum, hingga kejahatan yang diikuti oleh ancaman bahkan pembunuhan dengan senjata api tersebut.65 Senjata api ilegal merupakan senjata yang beredar secara tidak sah dikalangan sipil, tidak diberi izin oleh orang-orang terlatih dan memiliki spesialisasi dibidang kejahatan tertentu sehingga kemudian membutuhkan dukungan senjata api dalam rangka memuluskan rencananya.
Kepemilikan senjata api ilegal sebenarnya sudah diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan mengenai ketentuan kepemilkan senjata api oleh masyarakat sipil. Kepemilikan senjata api secara umum diatur dalam Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 yang bersifat pidana. Pasal 1 ayat (1) UU darurat Nomor 12 Tahun 1951 disebutkan:
65 Bagoes Rendy, “Pertanggujawaban Pidana Atas Kepemilikan Senjata Api Tanpa Ijin Berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan Di Indonesia, Jurist-Diction Journal, Volume 2, Nomor 6, (November 2019), h., 207.
“Barang siapa, yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun.”
Sumber-sumber utama peredaran senjata api ilegal di Indonesia sangat beragam dan komplek, antara lain:66
a. Pencurian dari gudang senjata aparat atau pembelian secara ilegal dari oknum TNI atau POLRI. Prosedur penyimpanan senjata oleh TNI dan POLRI kelihatannya ketat, tetapi gudang senjata dibanyak wilayah tidak dijaga dengan baik ataupu diinventarisir seperti yang seharusnya, selain keterlibatan oknum militer ataupun oknum polisi karena memang mereka dilegalkan oleh UU untuk menyimpan, memiliki dan menggunakan senjata api. Kepemilikan senjata api yang legal tersebut sering disalahgunakan dengan cara menjual senjata api organik TNI/POLRI dengan harga yang murah kepada masyarakat sipil, mudahnya penggunaan senjata api laras panjang yang biasa digunakan sebagai kelengkapan dari TNI/POLRI dikalangan masyarakat luas termasuk dikalangan kriminal menimbulkan tanda tanya siapa oknum pelaku dari bebasnya peredaran senjata laras panjang yang merupakan tanggung jawab aparat.
b. Senjata rakitan buatan lokal, pada dasarnya senjata rakitan juga disebut small arms karena merupakan replika dan dirakit secara khusus mengikuti pola senjata api standar tempur, hanya bedanya yang pertama diproduksi secara legal oleh pabrik-pabrik pembuatan senjata sedangkan senjata rakitan bukan diproduksi oleh pabrik pembuatan senjata tetapi oleh home industri ilegal yang dilakukan oleh masyarakat. Produksi ilegal senjata api terjadi diberbagai negara seperti
66 Ernest Runtunkahu, “Beberapa Aspek Tentang Delik Senjata Api, Amunisi Dan Bahan Peledak Di Indonesia”, Lex Crimen, Volume VI, Nomor 4, (Juni 2019), h., 9.
49
Afrika Selatan, Asia Selatan dan Asia Tenggara.
c. Penyelundupan senjata api ilegal didatangkan dengan banyak cara dan selanjutnya akan menghiasi “pasar gelap” senjata api di Indonesia dimana keberadaan senjata-senjata itu tidak pernah terpantau dengan jelas.
Penyelundupan senjata api tidak hanya berkaitan dengan impor namun juga ekspor dan sering dilakukan baik oleh perusahaan-perusahaan eksportir/importir ataupun secara pribadi dengan cara melakukan pemalsuan dokumen tentang isi dari kiriman. Peredaran senjata api di Indonesia selain diramaikan produk dalam negeri juga didatangkan dengan cara impor tidak hanya secara resmi karena pesanan institusi negara, tetapi kerap dilakukan secara ilegal demi kepentingan perorangan.
Kepemilikan senjata api ini sendiri memang diatur secara terbatas, dilingkungan Kepolisian dan TNI sendiri terdapat peraturan mengenai prosedur kepemilikan dan syarat tertentu untuk memiliki senjata api. Di lingkungan masyarakat sipil juga terdapat prosedur tertentu untuk memiliki senjata api secara legal. Prosedur tersebut diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1948 tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin Pemakaian Senjata Api. Pasal 5 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1948 mewajibkan setiap senjata api yang berada ditagan orang bukan anggota Tentara atau Polisi harus didaftarkan olh Kepala Kepolisian Keresidenan.
Menurut Pasal 9 UU No. 8 Tahun 1948, setiap orang atau warga sipil yang mempunyai dan memakai senjata api harus mempunyai surat izin pemakaian senjata api menurut contoh yang ditetapkan oleh Kepala Kepolisian Negara. Surat izin pemakaian senjata api ini diberikan oleh Kepala Kepolisian atau orang yang ditunjukkannya. Lebih lanjut, pengajuan izin kepemilikan senjata api non organik yang dilakukan oleh masyarakat yang biasa disebut dengan Izin Khusus Senjata Api (IKSHA), dilakukan sesuai ketentuan Surat Keputusan Kepala Kepolisian.67
67 Evan Munandar, “Penanggulangan Tindak Pidana Kepemilikan Dan Penggunaan Senjata Api Tanpa Izin Dalam Sistem Peradilan Pidana”, Syiah Kuala Law Journal, Volume II, Nomor 3, (Desember 2018), h., 348.
50
A. Duduk Perkara Putusan Pengadilan Nomor 4/Pid.B/2020/PN.Bnt
Dalam sistem beracara pidana, yang dikedepankan saat ini adalah adversary system yaitu sistem berhadapan atau biasa juga disebut accusatoir. Sistem ini sebagai lawan dari inquisitoir yang mana terdakwa menjadi objek pemeriksaan, sedangkan hakim dan penuntut umum berada di pihak yang sama. Dengan mengedepankan sistem saling berhadapan, maka diandaikan ada pihak terdakwa yang di belakangnya terdapat penasihat hukumnya, sedangkan di pihak lain terdapat penuntut umum yang atas nama negara menuntut pidana. Hakim berada di tengah pihak-pihak yang berperkara dan tidak memihak.1
Dalam putusan Pengadilan Nomor 4/Pid.B/2020/PN.Bnt menyebutkan terdakwa bernama Roketson anak dari Kekem tempat tanggal lahir Ugang Sayu Kabupaten Barito Selatan 17 Januari 1965, beragama Islam dan bertempat tinggal di Desa Ugang Sayu RT 06 RW 02 Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan Provinsi Kalimantan Tengah.
Dalam dakwaan penuntut umum tanggal 5 Februari 2020 menyebutkan bahwa terdakwa Roketson anak dari Kekem, pada hari Jum‟at tanggal 20 September 2019 sekitar jam 08.00 Wib atau setidak-tidaknya pada waktu lain yang masih termasuk dalam bulan September 2019 bertempat di Gunung Usang Desa Bintang Ara Kecamatan Gunung Bintang Awai Kabupaten Barito Selatan atau setidak-tidaknya di tempat lain yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Buntok yang berwenang memeriksa dan mengadili perkaranya, karena kealpaannya atau kelalaiannya menyebabkan matinya orang yaitu korban Nata perbuatan mana
1 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2015), Cet. ke-2, h.
64.
51
dilakukan oleh terdakwa dengan cara sebagai berikut, Pada waktu dan tempat seperti tersebut di atas, berawal pada hari Rabu tanggal 18 September 2019 sekitar jam 02.30 wib terdakwa dan korban berangkat dari Desa Ugang Sayu Kecamatan Gunung Bintang Awai menuju ke hutan daerah Gunung Usang Desa Ara dengan menggunakan sepeda motor, kemudian sekitar jam 06.00 wib, terdakwa dan korban sampai di sebuah pondok milik korban selanjutnya terdakwa dan korban beristirahat di pondok tersebut, tidak lama kemudian korban pergi meninggalkan terdakwa di pondok lalu korban kembali lagi menemui terdakwa dengan membawa sepucuk senjata api rakitan serta menunjukan kepada terdakwa, selanjutnya korban membersihkan senjata api rakitan tersebut dan mengajarkan kepada terdakwa cara menggunakan senjata api rakitan yaitu dengan memasukan peluru dan menegangkan senjata api serta cara membidik senjata api rakitan tersebut.
Pada hari Kamis tanggal 19 September 2019 sekitar jam 06.00 wib, terdakwa dan korban pergi dari pondok milik korban dengan maksud untuk memulai melakukan perburuan dengan menggunakan senjata api rakitan, dimana saat itu terdakwa yang membawa senjata api rakitan tersebut dengan cara menggantungkan senjata api rakitan pada bagian bahu terdakwa sementara korban berjalan di depan terdakwa, namun pada hari tersebut terdakwa dan korban tidak mendapatkan hewan buruan dan hanya melihat kubangan bekas hewan babi, maka akhirnya terdakwa dan korban kembali lagi ke pondok untuk beristirahat.
Pada hari Jum‟at tanggal 20 september 2019 sekitar jam 06.00 wib, korban berangkat terlebih dahulu dari pondok dengan membawa karung dan korban pergi untuk mencari jejak hewan buruan, namun sebeum meninggalkan pondok korban sempat memberikan pesan kepada terdakwa agar terdakwa membawa senjata api rakitan yang telah diisi peluru oleh korban serta kemudaian sekitar jam 06.30 wib terdakwa berangkat dari pondok dengan maksud menemui korban, tetapi di tengah perjalanan sekitar jam 08.00 wib terdakwa melihat seekor babi hutan disebuah gundukan tanah dengan jarak sekitar 15 meter dari terdakwa, terdakwa yang sebelumnya belum pernah menggunakan senjata api dan tidak memiliki keahlian
dalam menggunakan senjata api langsung menarik grendel pemicu senjata api rakitan yang terdakwa bawa dan langsung membidik kearah babi hutan tersebut dan langsung menembakan senjata api rakitan tersebut kearah babi hutan namun yang terdakwa dengan adalah teriakan seseorang “aduh” dari arah depan sejajar dengan posisi babi hutan yang terdakwa bidik tersebut, mendengar suara tersebut maka terdakwa langsung berlari menuju arah suara teriakan dan saat itu terdakwa melihat korban tergeletak ditanah dengan posisi tangan kirinya memegang dada sebelah kiri yang mengeluarkan darah, melihat hal tersebut terdakwa langsung meletakkan senjata api rakitan yang terdakwa pegang dan terdakwa langsung menaiki tubuh korban serta meminta maaf lalu terdakwa mencium korban dan selanjutnya terdakwa mengambil karung dari belakang tubuh korban dan meletakkannya dibagian kepala korban sebagai alas dan terdakwa juga sempat memegang tangan korban dan berdoa serta terdakwa juga sempat menyalakan api disekitar tubuh korban bagian kaki agar tubuh korban tidak diserang oleh hewan buas, setelah itu terdakwa pergi meninggalkan korban menuju kearah pondok untuk mengambil sepeda motor dan pergi kearah luar pondok untuk mencari sinyal agar bisa menghubungi orang lain dengan maksud mencari bantuan untuk membawa korban kembali kerumahnya, namun ditengah perjalanannya terdakwa sempat menyimpan senjata api rakitan di semak-semak dekat sebuah pohon. Pada saat sedang berusaha meminta bantuan dengan menghubungi orang lain, terdakwa berhasil menghubungi saksi Masrianto dan saksi Mudi Harta dan terdakwa langsung meminta bantuan untuk mengevakuasi korban yang saat itu terdakwa mengatakan bahwa korban dalam keadaan saksi di dalam hutan, sekitar beberapa jam kemudian hingga pada akhirnya terdakwa, saksi Masrianto dan saksi Mudi Harta tiba dilokasi tempat korban berada langsung melakukan evakuasi dengan cara membuat tandu dengan menggunakan sarung yang sebelumnya dibawa oleh saksi Masrianto, yang mana bagian kepala korban dimasukkan kedalam sarung sedangkan pada bagian kaki dimasukkan kedalam karung kemudian dipikul dengan menggunakan sebatang kayu bulat lalu tubuh korban dievakuasi dengan cara ditandu, ketika berada di pinggiran sebuah sungai saksi Masrianto dan saksi Mudi Harta tidak
53
sanggup lagi memikul tubuh korban sehingga tubuh korban diletakkan ditempat yang aman sementara terdakwa, saksi Masrianto dan saksi Mudi Harta mencari bantuan tambahan dengan menghubungi keluarga saksi Masrianto, hingga akhirnya sekitar jam 23.30 WIB datang saksi Kariano, saksi Redit dan saksi Anang dengan mobil milik PT. MUTU membantu untuk melakukan evakuasi korban hingga pada akhirnya pada hari Sabtu tanggal 21 September 2019 sekitar jam 02.30 WIB korban berhasil dievakuasi dan dibawa kerumah korban di Desa Ugang Sayu.
Dengan demikian, akibat kejadian tersebut korban meninggal dunia sesuai dengan hasil Visum Et Repertum Nomor ; 02/IPJ/RSUD/X/2019 tanggal 19 Oktober 2019 yang dibuat dan ditanda tangani oleh dr. Ricka Brilianty Zaluchu, SpKF.
dengan kesimpulan hasil pemeriksaan sebagai berikut jenazah adalah seorang laki-laki umur tiga puluh delapan tahun. Pada pemeriksaan luar dan dalam ditemukan tanda kekerasan tajam akibat peluru di dada kiri korban yang menyebabkan perdarahan hebat, disertai mati lemas disebababkan kematian perdarahan hebat akibat kekerasan senjata api.
B. Faktor-Faktor Terjadinya Tindak Pidana Kepemilikan Senjata Api Ilegal Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia. Hukum menjadi berarti apabila perilaku manusia dipengaruhi oleh hukum dan apabila masyarakat menggunakan hukum sebagai pengendali perilakunya, penegakan hukum berkaitan erat dengan masalah kepatuhan hukum sebagai norma. Masalah penegakan hukum terletak pada upaya terbaik penegakkan hukum pidana materil sebagaimana ketentuan hukum pidana formil mampu menjadi pengawal dalam membingkai semangat dan tujuan hukum pidana meteril itu sendiri. Dalam banyak hal upaya penegakan hukum, tidak cukup hanya dilihat dari aspek hukum saja agar dapat berjalan secara efektif, tetapi ada aspek lain yaitu aparat hukum serta budaya yang hidup dimasyarakat.
1. Faktor Untuk Menjaga Diri
Kepemilikan senjata api ilegal tidak hanya digunakan untuk pelanggaran hukum, tetapi juga sebagai suatu sarana untuk melindungi diri dari kejahatan yang
berbahaya bagi pelaku. Alasan sulit mewendapatkan izin, kepemilikan senjata api oleh masyarakat sipil jelas memerlukan prosedur permohonan izin tertentu mencakup syarat keterampilan dan psikologis. Hal ini diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan.
Aturan tentang kepemilikan senjata api di kalangan sipil tertuang dalam Peraturan Kapolri Nomor 82 Tahun 2004. Aturan itu mencantumkan tentang siapa saja yang boleh memiliki senjata api di kalangan sipil.Dalam aturan itu tercantum sipil yang bisa memiliki senjata api hanya kalangan tertentu, misal, direktur utama, menteri, pejabat pemerintahan, pengusaha utama, komisaris, pengacara, dan dokter.
Sipil yang ingin memiliki senjata juga harus dites kejiwannya. Calon pemilik senjata api, wajib punya keterampilan menembak minimal tiga tahun. Calon pemilik juga harus secara resmi mendapatkan surat izin dari instansi, atau kantor yang bertanggung jawab atas kepemilikan senjata api. Surat-surat kelengkapan senjata juga harus diperpanjang izinnya setiap tahun.2
Faktor untuk membela diri atau untuk menjaga diri merupakan faktor yang sering dijadikan alasan pelaku tindak pidana memiliki dan menyimpan senjata api secara tanpa izin. Pelakunya menyatakan bahwa mereka memiliki dan menyimpan senjata api secara tanpa izin dalam rangka untuk menjaga diri dari serangan musuh.
Terdakwa membawa senjata api itu karena untuk menjaga dirinya dari rasa takut karena belakangan ini sering terjadinya kejahatan seperti perampokan atau perampasan terhadap mobil.
2. Faktor Kurangnya Pengawasan Dari Pihak Kepolisian
Pengawasan senjata api merupakan tugas dan tanggungjawab kepolisian Republik Indonesia. Dalam Pasal 15 ayat (2) huruf e yang berbunyi : Kepolisian memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api, bahan peledak, dan senjata tajam. Pengertian Pengawasan dalam menurut Sumardjo Tjitrosidoyo menjelaskan bahwa pengawasan adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara menyeluruh
2 Dwi Yulianti, “Pertanggungjawaban Hukum Penguasaan Senjata Api Dan Amunisi Tanpa Izin Oleh Warga Sipil”, Recidive Journal, Volume 3 Nomor 3, (September 2014), h., 341.
55
dengan mengadakan perbandingan yang seharusnya (das Sollen) dan yang adanya (das Sein), hal tersebut senada dengan Azwar Daris dalam bukunya tentang Tujuan dan ruang lingkup pengawasan yang menjelaskan bahwa pengawasan adalah segenap kegiatan untuk meyakinkan dan menjamin bahwa tugas atau pekerjaan telah dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, kebijaksanaan yang telah digariskan dan perintah yang diberikan.3
Dalam pengawasan senjata api, berdasarkan Surat Direktur Intelpam atas nama Kapolri Nomor R/WSD 404/VII/98/Dit LPP tertanggal 21 Agustus 1998, peralatan keamanan yang dapat digunakan untuk mengancam atau menakuti/mengejutkan adalah senjata gas air mata yang berbentuk pistol/revolver gas, stick/pentugan gas, spray gas, gantungan kunci gas, extinguising gun/pemadam api ringan, pulpen gas, senjata kejutan listrik yang berbentuk stick/tongkat listrik, kejutan genggam, senter serba guna, senjata panah berupa model cross bow (senjata panah), panah busur, senjata tiruan/replika, serta senjata angin kaliber 4,5 mm.
Kepolisian Republik Indonesia adalah instansi yang ditugaskan dalam memberikan memberikan ijin dan melakukan pengawasan senjata api. Dengan demikian, setiap orang yang mengajukan permohonan kepemilikan senjata api kepada Polri akan dilegalisasi permohonannya. Kriteria khusus untuk pemohon yang berkeinginan mengajukan perizinan kepemilikan senjata api yaitu pemohon harus
Kepolisian Republik Indonesia adalah instansi yang ditugaskan dalam memberikan memberikan ijin dan melakukan pengawasan senjata api. Dengan demikian, setiap orang yang mengajukan permohonan kepemilikan senjata api kepada Polri akan dilegalisasi permohonannya. Kriteria khusus untuk pemohon yang berkeinginan mengajukan perizinan kepemilikan senjata api yaitu pemohon harus