BAB IV ANALISIS PENYELESAIAN KASUS KELALAIAN DALAM
A. Pertimbangan Majelis Hakim
Majelis Hakim sebelum memutuskan suatu perkara memperhatikan dakwaan jaksa penuntut umum, keterangan saksi yang hadir dalam persidangan, keterangan terdakwa, alat bukti, syarat subjektif dan objektif seseorang dapat dipidana, serta hal-hal yang meringankan dan memberatkan terdakwa. Pengambilan putusan oleh Majelis Hakim merupakan suatu keharusan dalam menjatuhkan pidana atau hukuman yang diberikan kepada terdakwa. Pertimbangan Maelis Hakim dalam menjatuhkan pidana setelah proses pemeriksaan dan persidangan selesai, maka Majelis Hakim mengambil keputusan yang seadil-adilnya. Dengan demikian, Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana sebagaimana pasal 359 KUHP dan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951, Atas perbuatan terdakwa ini, pada pokoknya Kejaksaaan Negeri Barito menyatakan tuntutan tanggal 5 Februari 2020 sebagai berikut :
1. Menyatakan terdakwa Roketson anak dari Kekem telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana “karena kelalaiannya menyebabkan matinya orang lain dan mempergunakan senjata tanpa izin” sebagaimana diatur dalam pasal 359 KUHP dan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 sesuai dengan yang telah didakwakan dalam surat dakwaan;
2. Menjatuhkan Pidana terhadap terdakwa Roketson anak dari Kekem dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dikurangi selama terdakwa ditahan dengan perintah agar terdakwa tetap dalam tahanan;
3. Menyatakan barang bukti berupa:
a. 1 (satu) unit Sepeda Motor Merk Honda pretelan tanpa plat nomor dikembalikan kepada ahli waris korban yaitu saksi Siana Natalia Anak dari Biatu
b. 1 (satu) unit Sepeda Motor Merk Honda Supra X 125 tanpa plat nomor dikembalikan kepada terdakwa
c. 1 (satu) pucuk senjata api rakitan laras panjang;
d. 1 (satu) buah Magazen
e. 2 (dua) butir selongsong peluru
f. 1 (satu) buah baju kaos lengan panjang warna abu-abu merek Uniqlo g. 1 (satu) buah celana panjang jeans warna biru merk EXR 55
h. 1 (satu) buah celana panjang jeans warna biru merk LEVIS
i. 1 (satu) buah baju lengan panjang kamuflase motif daun merk P-TRA j. 1 (satu) buah baju lengan pendek warna putih logo BIO-TRENT k. 1 (satu) buah sarung kurung motif kotak warna biru orange
l. 1 (satu) buah karung warna putih motif gambar dan tulisan warna orange merk SIA
Dirampas untuk dimusnahkan.
4. Menetapkan supaya terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar Rp 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah):
Menimbang, bahwa oleh karena seluruh unsur dari dakwaan Kumulatif Kedua yaitu Pasal 1 ayat (1) Undang - Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 telah terpenuhi, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan Kumulatif Kedua Penuntut Umum;
Menimbang, bahwa dari fakta-fakta yang diperoleh selama di persidangan dalam perkara ini, tidak ditemukan hal-hal yang dapat melepaskan Terdakwa dari pertanggungjawaban pidana dan menghapuskan sifat melawan hukum dari perbuatan Terdakwa, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, karenanya Hakim
71
berkesimpulan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa haruslah dipertanggungjawabkan kepadanya;
Menimbang, bahwa sesuai dengan ketentuan pada Pasal 193 Ayat (1) KUHAP, karena Terdakwa mampu bertanggung jawab dan perbuatan Terdakwa bersifat melawan hukum, maka Terdakwa harus dinyatakan bersalah atas tindak pidana yang didakwakan terhadap diri Terdakwa, karena itu sudah sepatutnya apabila Terdakwa dijatuhi pidana yang setimpal dengan perbuatannya;
Menimbang, bahwa sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 22 Ayat (4) KUHAP, karena dalam perkara ini terhadap diri Terdakwa telah dikenakan penangkapan dan penahanan yang sah, maka perlu ditetapkan agar masa penangkapan dan atau penahanan tersebut harus dikurangkan seluruhnya dari lamanya pidana penjara yang dijatuhkan kepada Terdakwa;
Menimbang, bahwa sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 193 Ayat (2) huruf b KUHAP, karena Terdakwa sebelum putusan ini berada dalam tahanan dan penahanan terhadap diri Terdakwa dilandasi alasan yang cukup, sedangkan pidana yang akan dijatuhkan melebihi dari lamanya Terdakwa selama berada di dalam tahanan, sehingga terdapat alasan yang sah menetapkan Terdakwa tetap ditahan;
Menimbang, bahwa barang bukti berupa 1 (satu) unit Sepeda Motor Merk HONDA pretelan tanpa plat nomor, setelah melalui tahapan pembuktian telah terbukti bahwa barang bukti tersebut merupakan milik dari korban NATA, maka adalah tepat dan beralasan hukum agar barang bukti tersebut dikembalikan kepada pemiliknya yang sah, yaitu korban NATA melalui Ahli warisnya yaitu saksi Siana Natalia anak dari Diatu, sedangkan terhadap barang bukti berupa 1 (satu) unit Sepeda Motor Merk HONDA Supra X 125 tanpa plat nomor,setelah melalui tahapan pembuktian telah terbukti bahwa barang bukti tersebut merupakan milik dari Terdakwa, maka adalah tepat dan beralasan hukum agar barang bukti tersebut dikembalikan kepada pemiliknya yang sah, yaitu Terdakwa Roketson anak dari Kekem, sedangkan terhadap barang bukti berupa 1 (satu) pucuk senjata api rakitan laras panjang, 1 (satu) buah Magazen, 2 (dua) butir peluru tajam aktif, 1 (satu) butir
selonsong peluru, 1 (satu) buah baju kaos lengan panjang warna abu – abu merk UNIQLO, 1 (satu) buah celana panjang jeans warna biru merk EXR 55, 1 (satu) buah celana panjang jeans warna biru merk LEKIS, 1 (satu) buah baju lengan panjang kamuflase motif daun merk PTRA, 1 (satu) buah baju lengan pendek warna putih logo BIO-TRENT, 1 (satu) buah sarung kurung motif kotak warna biru orange, 1 (satu) buah karung warna putih motif gambar dan tulisan warna orange merk SIA, adalah merupakan alat atau sarana yang telah dipergunakan Terdakwa untuk melakukan kejahatan dan merupakan hasil dari tindak kejahatan, sehingga dikhawatirkan dikemudian hari akan dipergunakan lagi untuk mengulangi kejahatan, maka perlu ditetapkan agar barang bukti tersebut dirampas untuk dimusnahkan;
Menimbang, bahwa sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 222 Ayat (1) KUHAP, karena Terdakwa dijatuhi pidana dan Terdakwa sebelumnya tidak mengajukan permohonan pembebasan dari pembayaran biaya perkara, maka Terdakwa harus dibebankan untuk membayar biaya perkara yang besarnya sebagaimana akan disebutkan dalam amar putusan ini;
Menimbang, bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa;
Keadaan yang memberatkan:
- Perbuatan Terdakwa telah mengakibatkan hilangnya nyawa korban NATA;
Keadaan yang meringankan:
- Terdakwa bersikap sopan dan kooperatif, sehingga persidang dapat berjalan dengan tertib dan lancar;
- Terdakwa mengakui perbuatannya, merasa bersalah, menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya di kemudian hari;
- Terdakwa merupakan tulang punggung keluarga;
- Terdakwa belum pernah di hukum;
Menimbang, bahwa tujuan pemidanaan haruslah dipandang dari segi edukatif, yaitu pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa bukanlah merupakan suatu
73
pembalasan terhadap perbuatan Terdakwa melainkan sebagai suatu pembinaan agar Terdakwa menyadari akan kesalahannya, dapat memperbaiki diri dan tidak mengulangi lagi perbuatannya, sehingga kelak di kemudian hari setelah selesai menjalani pidana Terdakwa dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat berperan aktif dalam pembangunan serta dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. Selain itu tujuan pemidanaan harus pula dipandang dari segi preventif, yaitu pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa merupakan salah satu bentuk pencegahan agar tidak terjadi tindak pidana serupa oleh masyarakat;
Menimbang, bahwa setelah Hakim mempelajari tuntutan pidana (requisitoir) Penuntut Umum dikaitkan dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka Hakim menyatakan tidak sependapat terhadap lamanya pidana penjara sebagaimana dalam tuntutan pidana (requisitoir) Penuntut Umum, sehingga Hakim akan menjatuhkan pidana penjara kepada Terdakwa berdasarkan konstruksi dakwaan Penuntut Umum yang terbukti di persidangan yang lamanya sebagaimana disebutkan dalam amar putusan ini, yang menurut hemat Hakim sudah sesuai dengan kadar kesalahan Terdakwa serta rasa keadilan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat;
Memperhatikan Pasal 359 KUHP, Pasal 1 ayat (1) Undang – undang darurat nomor 12 tahun 1951, Undang – Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang kekuasaan Kehakiman, Undang – Undang Nomor 49 Tahun 2009 tentang Peradilan Umum, Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana serta peraturan – peraturan hukum lain yang berkaitan dengan perkara ini;
MENGADILI:
1. Menyatakan Terdakwa Roketson anak dari Kekem, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “karena kelalaiannya menyebabkan matinya orang dan mempergunakan senjata api tanpa izin” sebagaimana dakwaan Kesatu dan Kedua Penuntut Umum;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa Roketson anak dari Kekem oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 2 (dua) bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan agar Terdakwa tetap ditahan;
5. Menetapkan barang bukti berupa:
- 1 (satu) unit Sepeda Motor Merk HONDA pretelan tanpa plat nomor;
Dikembalikan kepada ahli waris korban yaitu saksi Siana Natalia Anak Dari Biatu;
- 1 (satu) unit Sepeda Motor Merk HONDA Supra X 125 tanpa plat nomor;
Dikembalikan kepada Terdakwa;
- 1 (satu) pucuk senjata api rakitan laras panjang;
- 1 (satu) buah Magazen;
- 2 (dua) butir peluru tajam aktif;
- 1 (satu) butir selonsong peluru;
- 1 (satu) buah baju kaos lengan panjang warna abu – abu merk UNIQLO;
- 1 (satu) buah celana panjang jeans warna biru merk EXR 55;
- 1 (satu) buah celana panjang jeans warna biru merk LEKIS;
- 1 (satu) buah baju lengan panjang kamuflase motif daun merk P-TRA;
- 1 (satu) buah baju lengan pendek warna putih logo BIO-TRENT;
- 1 (satu) buah sarung kurung motif kotak warna biru orange;
- 1 (satu) buah karung warna putih motif gambar dan tulisan warna orange merk SIA;
Dirampas untuk dimusnahkan;
6. Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp.2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah); Demikian diputuskan dalam sidang Pengadilan Negeri Buntok Kelas II da hari Senin, tanggal 24 Februari 2020, oleh John Ricardo, S.H., selaku kim tunggal, yang diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu ga oleh Hakim tersebut dengan dibantu oleh Supriadi, S.H.,
75
Panitera pada ngadilan Negeri Buntok Kelas II, serta dihadiri oleh Agung Cap awarmianto, S.H., Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Barito Selatan Terdakwa serta Penasihat Hukumnya;
B. Analisis Penulis Dalam Putusan Pengadilan 4/Pid.B/2020/PN.Bnt
1. Penerapan Hukum Majelis Hakim Dalam Penetapan Pengadilan Negeri Barito Selatan Nomor 4/Pid.B/2020/PN Bnt
Proses awal dalam menyelesaikan perkara yakni dimulai dengan penyelidikan, penyidikan, tuntutan Jaksa Penuntut Umum, pemeriksaan dipersidangan dan pembuktian.1 Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri ini berpijak pada hukum formal sekaligus materil. Dalam artian, aturan berupa Undang-Undang tersebut merupakan produk dari badan legislatif bersama eksekutif, dan isi dari Undang-Undang tersebut mengikat bagi pelaku tindak pidana apabila unsur-unsurnya terpenuhi. Pijakan Mejelis Hakim dalam putusan 4/Pid.B/2020/PN.Bnt adalah Pasal 359 KUHP dan Pasal 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Bunyi lengkap pasal 359 KUHP tersebut yaitu; “Barang siapa yang karena kesalahannya menyebabkan orang lain mati diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun dan pasal 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 yaitu; “Barang siapa yang Yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun.”
Untuk sampai kepada putusan, Majelis Hakim terlebih dahulu mempertimbangkan antara fakta hukum dan unsur-unsur yang dilanggar oleh pelaku.
Unsur-unsur yang terkandung dalam Pasal 359 KUHP ini antara lain:
1 Bambang Waluyo, Pidana dan Pemidanaan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h., 41-43.
1. Barang siapa
2. Karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati
Pertama, unsur „barang siapa‟ adalah siapa saja setiap orang sebagai subjek huk um yang didakwa sebagai pelaku tindak pidana. Terdakwa Roketson yang dihadapkan dipersidangan ini dengan berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan yang diperoleh dari alat-alat bukti, barang bukti dan keterangan terdakwa sendiri yang membenarkan identitasnya dalam surat dakwaan penuntut umum, maka terdakwa yang diajukan dalam perkara ini adalah Roketson anak dari Kekem sebagai manusia yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan demikian, maka unsur „setiap orang‟ telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum.
Kedua, unsur „Karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati. Berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan bahwa terdakwa melakukan kelalaian pada saat menembakkan senjata api yang Terdakwa gunakan tersebut tersebut dimana Terdakwa tidak ada memeriksa terlebih dahulu apakah di sekitar lokasi ada orang lain atau tidak dan Terdakwa tidak berhati-hati, sehingga pada saat senjata api tersebut Terdakwa tembakkan ke arah babi hewan buruan tersebut mengenai korban NATA yang berada di semak-semak arah depan Terdakwa pada saat menembak babi yang Terdakwa lihat. Hasil Visum Et Repertum nomor 02/IPJ/RSUD/X/2019, tanggal 19 oktober 2019 yang ditandatangani oleh dr.Ricka Brilianty Zaluchu, SpKF. bahwa dari hasil pemeriksaan tubuh bagian dalam pada bagian dada tampak resapan darah di otot dada bagian dalam sebelah kiri sepanjang sembilan sentimeter, lebar sepuluh sentimeter, bentuk tidak teratur, patah tulang dada kelima dan enam, menembus rongga dada beserta organ paru kiri bawah, kandung jantung dan berakhir menembus apex jantung, tidak ditemukan adanya anak peluru dalam rongga dada diduga anak peluru berada disekitar tulang belakang, karena kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan sekitar tiga minggu sejak wafat dan sudah diawetkan dengan formalin sehingga sukar dilakukan pembongkaran tulang belakang tubuh korban, paru-paru kiri yang terkena lintasan peluru terdapat robekan dan berwarna kehitaman, begitu juga dengan jantung korban. Dengan kesimpulan :
77
berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dari pemeriksaan diatas maka saya simpulkan bahwa jenazah adalah seorang laki-laki umur tiga puluh delapan tahun, pada pemeriksaan luar dan dalam ditemukan tanda kekerasan tajam akibat peluru di dada kiri korban menyebabkan pendarahan hebat, disertai mati lemas, sebab kematian pendarahan hebat akibat kekerasan senjata api. Dengan demikian, unsur „Karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati‟ telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum.
Pijakan Hakim dalam putusan pengadilan nomor 4/Pid.B/2020/PN.Bnt selain menggunakan pasal 359 KUHP menggunakan Pasal 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Unsur-unsur yang terkandung dalam pasal tersebut antara lain:
1. Barang Siapa
2. Yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak.
Pertama, „barang siapa‟ unsur tersebut menurut majelis hakim berpendapat bahwa unsur tersebut menunjuk kepada subyek hukum dari straafbaarfeit yang didakwa melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang dimaksud dalam surat dakwaan penuntut umum. Dalam persidangan telah dihadapkan Terdakwa atas nama Roketson anak dari Kekem dalam keadaan sehat jasmani dan rohani serta mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya yang merupakan Subyek Hukum tersebut.
Jika hal tersebut dikaitkan dengan fakta-fakta hukum yang terungkap di Persidangan maka ada kecocokan antara identitas Terdakwa dengan identitas sebagaimana tersebut dalam Surat Dakwaan Penuntut Umum, bahwa dialah yang dimaksud oleh Penuntut Umum dalam Surat Dakwaannya, sehingga dalam perkara ini tidak terdapat Error in Persona (kesalahan orang) yang diajukan ke persidangan. Dengan demikian,
unsur „barang siapa‟ telah terpenuhi dan telah terbukti secara sah meyakinkan menurut hukum.
Kedua, „yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak.‟ Unsur kedua tersebut mengandung makna alternatif yang terdiri dari beberapa sub unsur, sehingga apabila salah satu dari sub unsur atau beberapa sub unsur atau seluruh sub unsur di atas terpenuhi, maka unsur ini telah terbukti secara sah menurut hukum. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh para saksi serta keterangan terdakwa dipersidangan terungkap bahwa di dalam mempergunakan senjata api dan amunisinya sebagaimana terurai di atas, terdakwa ternyata tidak mempunyai surat-surat ijin yang sah dari pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan yang berlaku, karena senjata api yang dibawa oleh terdakwa tersebut adalah milik dari korban Nata serta senjata api beserta amunsisnya sebagaimana terurai diatas tidak bisa dimiliki, disimpan, dikuasai ataupun digunakan oleh orang perorangan, ataupun suatu organisasi perkumpulan yang sifatnya sebagai kegemaran/ hoby seperti yang dikuasai atau dimiliki terdakwa.
Dengan demikian, berdasarkan pemaparan di atas penulis berpendapat bahwa frasa
„tanpa hak menggunakan senjata api‟ telah terpenuhi dan karena unsur kedua tersebut bersifat alternatif maka unsur ini telah terbukti secara sah menurut hukum.
2. Tinjauan Hukum Pidana Positif Dan Islam Terhadap Penetapan Pengadilan Negeri Barito Selatan Nomor 4/Pid.B/2020/PN Bnt
Surat dakwaan merupakan dasar pemeriksaan perkara dalam sidang pengadilan.
Pada hakikatnya, seorang Jaksa Penuntut Umum harus membuat surat dakwaan yang bertujuan membuat terdakwa tidak dapat lolos dari jerat terhadap suatu tindak pidana.
Putusan Pengadilan Negeri Barito Selatan berangkat dari surat dakwaan yang disusun oleh Jaksa Penuntut Umum dalam putusan pengadilan nomor 4/Pid.B/2020/PN.Bnt menggunakan bentuk surat dakwaan kumulatif. Dakwaan kumulatif dapat diartikan
79
yaitu apabila dalam berkas perkara yang diterima penuntut umum diketahui terdapat beberapa tindak pidana yang berdiri sendiri serta harus dibuktikan semua. Dengan demikian, dakwaan yang tidak terbukti harus dinyatakan secara tegas pembebasan tersebut.
Dalam putusan pengadilan nomor 4/Pid.B/2020/PN.Bnt terdakwa didakwa dengan dakwaan kumulatif yaitu dakwaan kesatu pasal 359 KUHP dalam kelalaian yang menyebabkan kematian dan dakwaan kedua yaitu pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 perihal menggunakan senjata api tanpa memiliki izin dari pihak kepolisian. Dalam fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan serta berdasarkan keterangan yang diberikan oleh para Saksi serta keterangan Terdakwa dipersidangan terungkap bahwa didalam mempergunakan senjata api dan amunisinya terdakwa Roketson anak dari Kekem tidak memiliki surat-surat ijin yang sah dari pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan yang berlaku, serta karena kelalaian terdakwa dalam menggunakan senjata api menyebabkan hilangnya nyawa korban. Berdasarkan pemaparan di atas, majelis hakim dalam pertimbangannya menyebutkan bahwa seluruh unsur dari dakwaan kumulatif pertama yaitu pasal 359 KUHP dan kedua yaitu pasal 1 ayat 1 Undang- Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 telah terpenuhi, maka terdakwa Roketson anak dari Kekem haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan kumulatif jaksa penuntut umum.
Putusan Majelis Hakim dalam pemberian sanksi tentunya tidak lepas dari berbagai pertimbangan serta hal-hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa.
Pertimbangan majelis hakim dalam putusan nomor 4/Pid.B/2020/PN.Bnt cenderung menggunakan teori tujuan/relatif dalam pemidanaan. Satochid Kartanegara dalam karyanya yang berjudul Hukum Pidana Kumpulan Kuliah menjelaskan bahwa teori tujuan/relatif dalam pemidanaan membenarkan pemidanaan berdasarkan atau tergantung kepada tujuan pemidanaan, yaitu untuk perlindungan masyarakat atau pencegahan terjadinya kejahatan. Oleh karena itu, diancamkannya suatu pidana dan
dijatuhkannya sebuah sanksi bertujuan untuk memperbaiki perilaku terdakwa di waktu yang akan datang.2 Menurut penulis, penggunaan teori tujuan/relatif dalam pemidanaan oleh majelis hakim diindikasikan dari pertimbangan putusannya yang menggunakan kalimat „pemidanaan haruslah dipandang dari segi edukatif, yaitu pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa bukanlah merupakan suatu pembalasan terhadap perbuatan terdakwa melainkan sebagai suatu pembinaan agar terdakwa menyadari akan kesalahannya, dapat memperbaiki diri dan tidak mengulangi lagi perbuatannya, sehingga kelak di kemudian hari setelah selesai menjalani pidana Terdakwa dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat berperan aktif dalam pembangunan serta dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. Selain itu tujuan pemidanaan harus pula dipandang dari segi preventif, yaitu pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa merupakan salah satu bentuk pencegahan agar tidak terjadi tindak pidana serupa oleh masyarakat‟.
Berdasarkan pemaparan di atas, penulis berkesimpulan Majelis Hakim kurang jeli dalam melakukan pertimbangan atas penjatuhan sanksi pidana terhadap terdakwa.
Menurut penulis sanksi yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim masih tergolong ringan yaitu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 2 (dua) bulan. Majelis Hakim semestinya memperhatikan hal-hal yang memberatkan terdakwa yaitu perbuatan terdakwa telah mengakibatkan hilangnya nyawa korban. Hal tersebut sudah menunjukkan bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana yang berat sehingga karena kelalaiannya dalam menggunakan senjata api illegal menyebabkan orang lain meninggal dunia. Jadi, apabila ditinjau berdasarkan pemidanaan yang terdapat dalam pasal 359 KUHP dan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 maka pidana penjara yang divonis oleh majelis hakim hanya pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 2 (dua) bulan dari hukuman maksimal setinggi-tingginya selama dua puluh tahun penjara tidak memberikan efek jera, padahal salah satu tujuan terciptanya
2 Satochid Kartanegara, Hukum Pidana Kumpulan Kuliah, (Jakarta: Balai Lektur Mahasiswa, 2001), h., 57.
81
hukum adalah dapat memberikan efek jera bagi pelaku.3 Demikianlah analisis putusan pengadilan nomor 4/Pid.B/2020/PN.Bnt dalam hukum positif.
Kelalaian dalam Islam disebut dengan al-khata. Al-khata menurut istilah adalah suatu perbuatan yang dimaafkan. Dalam hal kekeliuran niat dan pengetahuan si pelaku sedikitpun tidak dipertimbangkan tidak adanya penduga atau kehati-hatian dalam berbuat dan sedikitpun tidak berdosa.4
Kelalaian dalam Islam disebut dengan al-khata. Al-khata menurut istilah adalah suatu perbuatan yang dimaafkan. Dalam hal kekeliuran niat dan pengetahuan si pelaku sedikitpun tidak dipertimbangkan tidak adanya penduga atau kehati-hatian dalam berbuat dan sedikitpun tidak berdosa.4