BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KELALAIAN KEPEMILIKAN
A. Tindak Pidana
1. Tindak Pidana Dalam Hukum Positif
Istilah tindak pidana berasal dari kata strafbaarfeit (Bahasa Belanda), yang terdiri dari tiga kata, yaitu kata straf yang artinya pidana, baar yang artinya dapat atau boleh, dan feit yang artinya perbuatan. Kata strafbaarfeit sering diartikan berbeda-beda oleh para pakar hukum pidana, sehingga belum ada univikasi yang pasti mengenai definisi dari kata tersebut. Strafbaarfeit sering diartikan sebagai berikut.1
Tindak pidana, istilah tindak pidana dapat dikatakan istilah yang resmi digunakan dalam hampir seluruh peraturan perundang-undangan Indonesia. Ahli hukum yang menggunakan istilah ini adalah Wirjono Prodjodikoro,2 sedangkan Moeljatno dalam bukunya Asas-Asas Hukum Pidana menggunakan istilah perbutan pidana karena menurutnya istilah tersebut lebih tepat dari pada istilah-istilah yang lain.3 Istilah lain adalah peristiwa pidana, Pembentuk undang-undang juga pernah menggunakan istilah peristiwa pidana yaitu dalam Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) Tahun 1950. Istilah pelanggaran pidana, istilah ini digunakan pembentuk undang-undang dalam Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Senjata api dan Bahan Peledak dan terakhir adalah istilah perbuatan yang boleh dipidana, istilah tersebut digunakan oleh Karni dalam bukunya yang berjudul
1 Adam Chazawi, Pelajaran Pengantar Hukum Pidana I, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2002), h., 70.
2 Wijono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, (Jakarta: Refika Aditama, 2011), h., 8.
3 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h., 20.
Ringkasan Tentang Hukum Pidana.4 Pembentuk undang-undang tidak memberikan suatu penjelasan mengenai apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan istilah strafbaarfeit, maka timbullah dalam doktrin berbagai pendapat tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah tersebut dan seperti halnya untuk memberikan perumusan atau definisi terhadap istilah hukum, maka tidaklah mudah untuk memberikan perumusan atau definisi terhadap istilah strafbaarfeit.
Masalah tindak pidana dalam ilmu hukum pidana merupakan bagian yang paling pokok dan sangat penting. Telah banyak diciptakan oleh para pakar hukum pidana perumusan atau definisi tentang istilah tersebut, namun tidak ada kesatuan pendapat diantara mereka. Berikut ini beberapa definisi atau pengertian dari istilah Strafbaarfeit menurut pendapat para penulis, yaitu menurut D. Simons yang menjelaskan bahwa tindak pidana adalah kelakuan (hendoling) yang diancam dengan pidana, yang bersifat melawan hukum, yang berhubungan dengan kesalahan dan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung jawab,5 sedangkan menurut Karni, tindak pidana adalah perbuatan yang mengandung perlawanan hak, yang dilakukan dengan salah dosa, oleh orang yang sempurna akal budinya dan kepada siapa perbuatan patut dipertanggung jawabkan. Menurut Wiryono Prodjodikoro, menjelaskan bahwa tindak pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan pidana,6 dan Moeljatno yang berpendapat bahwa tindak pidana adalah perbuatan yang oleh hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana apabila melanggar larangan tersebut.7 Dengan demikian istilah Strafbaarfeit secara garis besar dapat disamakan dengan istilah “Tindak pidana” dengan menyampingkan berbagai pendapat para pakar hukum pidana dan dengan pertimbangan hampir semua peraturan perundang-undangan Indonesia menggunakan istilah tersebut.
4 Karni, Risalah Tentang Hukum Pidana, (Jakarta: Balai Buku Indonesia, 1958), h., 32.
5 PAF Lamintang, Delik-Delik Khusus, (Bandung: Sinar Baru, 1984), h., 185
6 Wijono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, h., 9.
7 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, h., 22.
21
b. Jenis-Jenis Tindak Pidana
Macam-macam jenis tindak pidana dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu:
1) Delik kejahatan dan delik pelanggaran
Delik kejahatan adalah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan keadilan, terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Sementara pelanggaran adalah perbuatan yang oleh masyarakat baru disadari sebagai perbuatan pidana karena undang-undang merumuskannya sebagai delik. Perbedaan keduanya terletak pada sistematika KUHP: buku II memuat delik-delik yang disebut dengan kejahatan (misdrijven), sedangkan buku III KUHP memuat delik-delik yang disebut pelanggaran (overtredingen).8
2) Delik formil dan delik materil
Tindak pidana formil adalah perbuatan pidana yang perumusannya dititikberatkan pada perbuatan yang dilarang yaitu tindak pidana telah dianggap selesai dengan telah dilakukannya perbuatan yang dilarang oleh undang-undang tanpa mempersoalkan akibatnya. Sementara tindak pidana materil adalah perbuatan pidana yang perumusannya dititkberatkan pada akibat yang dilarang.
Tindak pidana baru dianggap telah selesai apabila akibat yang dilarang itu telah terjadi.9
Contoh tindak pidana formil terdapat dalam Pasal 362 KUHP tentang pencurian. Dengan melakukan perbuatan berupa “mengambil, maka perbuatan tersebut sudah menjadi delik selesai. Sedangkan contoh tindak pidana materil adalah pembunuhan. Pembunuhan dikatakan telah selesai setelah adanya orang mati.
3) Delik aduan dan delik bukan aduan
8Franz Maramis, Hukum Pidana Umum dan Tertulis di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 69.
9Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (Jogjakarta: Bumi Aksara, 2015), h. 102
Delik aduan adalah delik yang hanya dapat dituntut jika ada pengaduan dari pihak yang berkepentingan. Jika tidak ada pengaduan, maka perbuatan itu tidak dapat dituntut di depan pengadilan. Delik aduan dibedakan dalam dua jenis, yaitu delik aduan absolute dan delik aduan relative. Delik aduan absolute adalah delik yang mempersyaratkan secara absolute adanya pengaduan untuk penuntutannya.
Sedangkan delik aduan relative adalah delik yang dilakukan masih dalam lingkungan keluarga.
Dalam KUHP, aturan umum tentang delik aduan diatur dalam Buku I Bab VII dalam Pasal 72-75. Adapun delik bukan aduan atau delik biasa, adalah delik yang tidak mempersyaratkan adanya pengaduan untuk penuntutannya.10
4) Delik sengaja dan delik kealpaan
Delik sengaja adalah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Contohnya Pasal 338 KUHP yang menentukan bahwa barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun. Sedangkan delik kealpaan adalah perbuatan yang dilakukan dengan kealpaan atau culpa. Contohnya dalam Pasal 359 KUHP yang menentukan bahwa barangsiapa karena kealpaan menyebabkan matinya orang, diancam pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.
5) Delik komisi dan delik omisi
Delik komisi atau commise delict adalah delik yang mengancamkan pidana terhadap dilakukannya suatu perbuatan berupa perbuatan aktif. Dengan kata lain, delik komisi adalah delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan yaitu berbuat sesuatu yang dilarang. Sedang delik omisi adalah delik berupa pelanggaran terhadap perintah, yaitu tidak berbuat sesuatu yang diperintah.
Contoh delik komisi adalah adanya norma yang bersifat larangan seperti pasal pencurian. Seseorang diancam pidana karena melakukan sesuatu, yaitu mengambil suatu barang. Sementara contoh delik omisi terdapat dalam Pasal 531 KUHP yang
10Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, h. 102.
23
mengancam pidana terhadap seseorang yang melihat orang lain dalam keadaan maut namun tidak memberikan pertolongan.
6) Delik selesai dan delik percobaan
Delik selesai adalah perbuatan yang sudah memenuhi semua unsur dari suatu tindak pidana. Sedangkan delik percobaan adalah delik yang pelaksanaannya tidak selesai. Hanya saja dalam KUHP tidak memberikan defenisi pasti tentang percobaan atau poging.11
7) Delik berlangsung terus menerus dan delik tidak berlangsung terus
Perbuatan pidana yang berlangsung terus menerus memiliki ciri bahwa perbuatan yang terlarang itu terus berlangsung. Misalnya, delik merampas kemerdekaan seseorang. Sedangkan perbuatan pidana yang tidak berlangsung terus menerus adalah perbuatan pidana yang memiliki ciri bahwa keadaan yang terlarang itu tidak berlangsung terus menerus seperti pencurian dan pembunuhan.12 c. Unsur-Unsur Tindak Pidana
Dalam perbuatan pidana, memiliki unsur-unsur sehingga dapat dibedakan dengan perbuatan biasa. Berikut ini unsur-unsur tindak pidana menurut para ahli hukum: Menurut Lamintang, bahwa tindak pidana yang terangkum dalam KUHP umumnya unsur-unsurnya menjadi dua macam yaitu unsur subjektif dan objektif.
Yang dimaksud dengan unsur-unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku termasuk segala sesuatu yang terkandung dalam hatinya. Sementara unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan dimana tindakan si pelaki itu harus dilakukan.13
Hal yang sama dikemukakan Satochid Kartanegara bahwa unsur tindak pidana terdiri atas unsur objektif dan unsur subjektif. Unsur objektif adalah unsur yang terdapat di luar diri manusia yang berupa: Suatu tindakan, Suatu akibat, Keadaan
11Frans Maramis, Hukum Pidana Umum dan Tertulis di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 69-82.
12Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, h. 103.
13Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Sinar Baru, 1984), h. 183
(omstandigheid). Sementara unsur subjektif adalah unsur-unsur dari perbuatan yaitu:
kemampuan, dan kesalahan.14 Selanjutnya menurut Lamintang, unsur subjektif dari suatu tindak pidana yaitu:
1) Kesengajaan (dolus) atau ketidaksengajaan (culpa);
2) Maksud atau Voornemen pada suatu percobaan atau poging;
3) Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachtteraad;
4) Perasaan takut.
Unsur objektif dari suatu tindak pidana adalah: pertama, sifat melawan hukum atau wederrechttelijkheid. Kedua, kualitas dari pelaku, misalnya keadaan sebagai seorang pegawai negeri. Ketiga, kausalitas yakni hubungan antara suatu tindak pidana sebagai penyebab dengan suatu kenyataan . Menurut Moeljanto, unsur-unsur tindak pidana antara lain: pertama, Perbuatan itu harus merupakan perbuatan manusia.
Kedua, perbuatan itu harus dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang. Ketiga, perbuatan itu bertentangan dengan hukum. Ketiga, Harus dilakukan oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan. Keempat, Perbuatan itu harus dipersalahkan kepada si pembuat,15 akan tetapi perlu dipertegas bahwa unsur-unsur dari strafbaar feit sangat dipengaruhi oleh oleh aliran monistis dan dualistis sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. Salahsatu penganut aliran monistis adalah Simons. Menurutnya, unsur-unsur tindak antara lain:
1) Perbuatan manusia 2) Diancam dengan pidana 3) Melawan hukum
4) Dilakukan dengan kesalahan
5) Oleh orang yang mampu bertanggungjawab.
Dari unsur-unsur ini, Simons kemudian membedakan antara unsur objektif dan subjektif. Unsur objektif dari strafbaar feit adalah perbuatan orang, akibat yang
14Leden Marpaung, Asas Teori Praktik Hukum Pidana, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), h. 10.
15Erdianto Effendi, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), h., 98.
25
nampak dari perbuatan, adanya keadaan tertentu yang menyertai perbuatan-perbuatan. Sementara unsur subjektif adalah orang yang mampu bertanggungjawab, dan adanya kesalahan. Penganut aliran dualistis, seperti H.B. Vos menyebutkan, bahwa strafbaarfeit hanya berunsurkan kelakuan manusia dan diancam dengan pidana dalam undang-undang. Penganut aliran dualistis di Indonesia seperti R. Tresna juga memberikan pandangan yang sama, bahwa unsur tindak pidana meliputi perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan diadakan tindakan hukuman.16 Maka itu, pandangan sarjana yang beraliran dualistis dengan tegas memisahkan antara criminal act dan criminal responsibility.17
Menurut prespektif penulis sendiri, memang sudah seharusnya diadakan pemisahan antara perbuatan dan pertanggungjawaban pidana. Cara demikian akan membuat pengambilan keputusan lebih sistematis dan penuh dengan tuntutan ketelitian hakim untuk menjatuhkan putusan sebagai pertanggungjawaban pidana.
2. Tindak Pidana Dalam Hukum Islam