• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Menteri/Keputusan Menteri

Dalam dokumen PROFIL TOKOH : GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH (Halaman 52-58)

APA KATA MEREKA

3. Peraturan Menteri/Keputusan Menteri

No. Judul Penanggungjawab

substansi Status

1. Pedoman Teknis Analisis Aspek Fisik Dan Lingkungan, Ekonomi, serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang

DJPR, Dep. PU Telah ditetapkan

Permen PU No. 20/PRT/M/2007

2. Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Letusan Gunung Berapidan Kawasan Rawan Gempa Bumi

Telah ditetapkan

Permen PU No. 21/PRT/M/2007

3. Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor Telah ditetapkan

Permen PU No. 22/PRT/M/2007 4. Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan ReklamasiPantai Telah ditetapkan

Permen PU No. 40/PRT/M/2007 5. Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budi Daya Telah ditetapkan

Permen PU No. 41/PRT/M/2007 6. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau

di Kawasan Perkotaan

Dalam proses legalisasi

7. Pedoman dan Tata Cara Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi

Dalam proses penyusunan

8. Pedoman dan Tata Cara Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota

9. Pedoman dan Tata Cara Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang untuk Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi

10. Pedoman dan Tata Cara Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota dan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten/Kota

11. Standar Pelayanan MinimalBidang Penataan Ruang

12. Tata Cara Pengawasan Terhadap Pengaturan, Pambinaan, dan Pelaksanaan Penataan Ruang

Progres Penyiapan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) sebagai Peraturan Pelaksanaan UUPR Meskipun UUPR mengamanatkan pengaturan lebih lanjut 18 substansi yang harus diatur dengan Peraturan Pemerintah, namun hal ini tidak berarti bahwa harus ditetapkan dalam bentuk 18 PP. Untuk mengurangi resiko tumpang tindih (overlap), memudahkan harmonisasi, dan menghindari aturan yang tercecer, kebijakan yang akhir-akhir ini dijalankan oleh Departemen Hukum dan HAM serta Sekretariat Negara adalah menggabungkan substansi-substansi Undang Undang yang diamanatkan untuk diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah ke dalam satu atau beberapa PP. Pelaksanaan kebijakan tersebut tercermin pada penggabungan beberapa substansi PP ke dalam satu atau beberapa PP, seperti yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Undang-Undang Jumlah PP yang

diamanatkan PP Yang Ditetapkan

UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf

8 (delapan) 1) PP No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU No.

41 Tahun 2004 Tentang Wakaf

UU No. 38 Tahun 2004 Tentang Jalan

6 (enam) 1) PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan

2) PP No. 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol

UU No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

26 (dua puluh enam) 1) PP No. 36 Tahun 2005 Tentang Peraturan

Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

UU No. 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan

12 (dua belas) 1 PP

UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen

Rapat BKTRN pada tanggal 3 Oktober 2007, menyepakati akan menerapkan pula kebijakan penggabungan substansi PP yang diamanatkan dalam UUPR. Namun mengingat beragamnya materi muatan serta instansi yang terkait, maka akan disusun 6 PP, yaitu :

No Nama PP Diamanatkan pada

Pasal

Keterangan

1. PP tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Pasal 20 ayat (4) Telah ditetapkan, PP No.

26 tahun 2008 ttg RTRWN

2. PP tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 26 tahun

2007 tentang Penataan Ruang

Merupakan gabungan 10 substansi

Pasal 13 ayat 4 Pembinaan Penataan Ruang

Pasal 16 ayat 4 Kriteria dan Tata Cara Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

Pasal 40 Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Pasal 41 ayat 3 Kriteria Kawasan Perkotaan

Pasal 47 ayat 2 Penataan Ruang Kawasan Perkotaan

Pasal 48 ayat 5 Penataan Ruang Kawasan Agropolitan

Pasal 48 ayat 6 Penataan Ruang Kawasan Perdesaan

3. PP tentang Kriteria dan Tata Cara Penyusunan Rencana

Tata Ruang Kawasan Pertahanan

Pasal 17 ayat 7

4. PP tentang Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang Pasal 14 ayat 7

5. PP tentang Penatagunaan Ruang (terdiri dari substansi

Penatagunaan Tanah, Penatagunaan Air, Penatagunaan Udara, dan Penatagunaan Sumber Daya Alam laiinya)

Pasal 33 ayat 5

6. PP tentang Tata Cara dan Bentuk Peran Masyarakat

dalam Penataan Ruang

Pasal 65 ayat 3

Penyusunan RPP tentang Peraturan Pelaksanaan UUPR direncanakan akan mengikuti alur pikir penyelenggaraan penataan ruang yang meliputi : pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang. Meskipun ada materi-materi aturan yang akan disusun dalam Peraturan Pemerintah tersendiri seperti Peran Masyarakat dalam Penyelengaraan Penataan Ruang, namun materi-materi tersebut akan tetap muncul secara informatif untuk menjaga konsistensi sesuai alur pikir. Secara skematis konsep sistematika RPP dapat digambarkan sebagai berikut :

Penyusunan RPP dimaksud dilakukan melalui berbagai tahap pembahasan meliputi pembahasan oleh Tim Substansi (Internal DJPR), pembahasan oleh Tim Penyiapan Materi RPP (Melibatkan BKTRN), pembahasan Interdep, dan harmonisasi RPP dengan peraturan perundang-undangan lain. Dalam rangka penyusunan RPP ini juga akan diadakan beberapa lokarya untuk menghimpun pemikiran dari kalangan akademisi, praktisi, dan lembaga swadaya masyarakat, serta akan diadakan konsultasi publik untuk menampung aspirasi masyarakat yang lebih luas.

Penyelesaian seluruh peraturan pelaksanaan UUPR ini patut menjadi perhatian dan prioritas kita bersama karena tujuan mulia dari ditetapkannya UUPR yaitu memberikan landasan hukum yang kuat dalam rangka Mewujudkan Ruang Nusantara yang Aman, Nyaman, Produktif, dan Berkelanjutan akan sulit dicapai kalau peraturan pelaksaan UUPR belum tersedia. Selain itu, mengingat amanat UUPR dalam Pasal 78 yang menegaskan bahwa Peraturan Pemerintah yang diamanatkan harus diselesaikan paling lambat 2 tahun, Perpres harus diselesaikan dalam 5 tahun, Peraturan Menteri harus diselesaikan dalam 3 tahun, Perda tentang RTRW Propinsi harus diselesaikan dalam 2 tahun, dan Perda tentang RTRW Kabupaten/Kota harus diselesaikan dalam 3 tahun sejak UUPR diberlakukan, maka Penyusunan peraturan perundang-undangan tersebut mesti sungguh-sunguh kita laksanakan agar amanat UUPR dapat tercapai, terutama dalam penyusunan PP-PP nya mengingat PP-PP dimaksud akan menjadi landasan dalam penyusunan peraturan perundang-undangan yang lebih rendah hirarkinya.

W A C A N A

Pemikiran bahwa perlunya pemahaman penataan ruang sejak dini dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran akan pentingnya penataan ruang. Tentu saja peningkatan kepedulian dan kesadaran akan pentingnya penataan ruang ini dimulai dengan pendidikan, yakni dengan membentuk karakter manusia yang disiplin dan tertib tata ruang. Disadari bahwa untuk membentuk karakter tersebut, maka pendidikan menjadi faktor terpenting. Oleh karena itu, dirasakan perlu untuk memuat aspek penataan ruang dalam kurikulum pendidikan. Berikut hasil wawancara kami dengan Arief Rachman, salah seorang pengamat pendidikan.

Penataan Ruang dan Kurikulum Pendidikan

Pendidikan bersumber dari agama, keluarga, sekolah formal, dan lingkungan masyarakat sendiri. Hampir semua ilmu yang ada harus dikembangkan secara formal di dalam kurikulum, yang bisa dikembangkan dalam intra maupun ekstra. “Jika semua ilmu kehidupan dimuat di dalam kurikulum, saya pikir tidak efisien, sebab untuk dapat menjadi sebuah kurikulum pendidikan, maka harus memenuhi empat persyaratan,” kata Arief Rachman.

Pertama, kurikulum harus dapat mendekatkan diri setiap anak didik dengan Tuhan. Kedua, kurikulum harus relevan dengan cita-cita anak didik. Ketiga, kurikulum harus sesuai dengan

perkembangan usia biologis anak itu sendiri, dan keempat, kurikulum harus bisa menjadi suatu ilmu yang menjamin kelangsungan hidupnya di masa yang akan datang.

Lalu kesadaran bertata ruang diperoleh seorang anak dari hubungannya dengan alam. Alam merupakan suatu ruang yang terdiri dari gunung, laut, darat, yang di dalamnya hidup manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, yang perlu diatur. Dalam pengaturannya, manusia tidak boleh

PROFIL TOKOH

Nama: Prof. DR. H. Arief Rachman, M.Pd.

Tempat Tanggal Lahir: Malang, 19 Juni 1942 Pendidikan: Highland Park High School, N.J, USA (1960), IKIP Jakarta Sarjana (19700, Victoria University, N.Z. (1965), Tavistock House, London (1975), R.E.L.C, Singapore (1982), Pasca Sarjana IKIP Jakarta (S2) sejak (1984), Doktor

Pendidikan IKIP Jakarta (1997) Sekilas Karir: Dosen Jurusan Bahasa

Inggris, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Jakarta (1964 – sekarang), Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (sejak 2001 – sekarang), Kepala Pengembang Pendidikan Labschool (2001 – 2006), Board Executive UNESCO Paris (2003 – 2007), Kepala SMAN 81 (Sekolah Laboratorium Kependidikan) IKIP Jakarta (sekarang UNJ) (1985 – 1991), Kepala SMA Labschool Universitas Negeri Jakarta (1991 – 2001) Sekilas Partisipasi Seminar: APEID Strategic Development Group Meeting, Tokyo, 23-27 February (2004), 169th UNESCO Executive Board Meeting, UNESCO Paris (14-29 April 2004), Asia-Pacific Regional Consultation on the Draft Programme and Budget UNESCO 2006-2007, Wellington, New Zealand (22-27 May, 2004), 147th International Conference on Education, ICE (8-11 September 2004), 170th UNESCO Executive Board Meeting, Paris (28 September-14 October, 2004), International Conference on Education for Shared Values for Intercultural and Interfaith Understanding, Adelaide(28 November-3 December, 2004), Asia-Pacific Conference on Dialogue among Cultures and Civilization for Peace and Sustainable Development, Hanoi, Vietnam (20-21 December, 2004), Regional Strategy for the Decade of Education for Sustainable Development in Asia-Pacific, Bangkok, Thailand (1-3 February, 2005)

bertentangan dengan tata ruang yang sudah ada yang telah diberikan oleh Tuhan. Jika hal-hal tersebut dilanggar, maka kehidupan manusia akan terancam.

Kesadaran anak-anak akan tata ruangnya dipelajari mulai dari tingkat keluarga, yakni dari rumah masing-masing. Anak-anak belajar mengetahui lokasi dan fungsi dari masing-masing ruang yang ada di rumah. Misalnya, ruang tamu dan ruang kamar tidur tidak boleh menjadi satu ruangan dan ruang tamu biasanya terletak di depan bagian rumah karena fungsinya untuk menerima tamu. Dari fungsi ruang di rumah ini, akan anak-anak belajar untuk menempatkan sesuatu sesuai dengan fungsinya. Akan tetapi hal ini akan sangat berbeda dengan masyarakat berpenghasilan rendah (masyarakat marjinal) yang tidak mempunyai fungsi ruang yang berbeda-beda. “Fungsi kamar tidur, ruang tamu, dapur bisa saja menjadi satu ruangan, walaupun demikian fungsinya tidak campur aduk, masih terdapat pembagian fungsi dalam satu ruangan tersebut,” katanya. Dari sini, anak-anak belajar untuk mengenal tata ruangnya.

Kemudian di tingkat sekolah, anak-anak mengenali tata ruangnya dengan adanya pembagian ruang-ruang yang lebih jelas sesuai dengan fungsinya untuk menanamkan kurikulum-kurikulum tertentu. Pada beberapa sekolah, terdapat gereja, mesjid, atau musholla. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai spritual anak didik. Sementara itu, keberadaan ruangan yang lain seperti lapangan olahraga, laboratorium fisika, kimia, dan biologi, komputer, perpustakaan, ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), ruang gamelan, ruang kantin, dan ruang-ruang lainnya digunakan sesuai fungsinya. Keberadaan ruang-ruang tersebut dimaksudkan selain untuk pengembangan intrakurikuler juga ekstrakurikuler yang bertujuan untuk kepentingan pembelajaran. Keberadaan ruang-ruang di sekolah mempunyai makna dan tujuan, sehingga tepatlah istilah “put the right thing in the right place”. “Istilah ini hendaknya menjadi landasan pemikiran anak-anak dalam menata ruangnya,” demikian Arief Rachman menambahkan.

Penataan Kota dan Proses Pembelajaran

Melihat penataan kota di negara-negara maju, seperti Kota London dan Paris, kota diatur menurut kaidah-kaidah yang mengutamakan ruang publik melalui penyediaan ruang terbuka hijau dan taman kota. Hal ini berbeda dengan kota-kota besar umumnya di Indonesia, khususnya Kota Jakarta yang lebih mengutamakan kepentingan ekonomi, dengan pembangunan mall dan pusat-pusat perbelanjaan. Keberadaan taman kota selain dapat menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat, juga dapat berfungsi sebagai tempat belajar bersosialisasi bagi anak-anak. Anak-anak dapat belajar mengenai interaksi dengan masyarakat dan lingkungannya ketika mereka berada di taman. Taman yang bersih dan teratur menjadi suatu ruang pembelajaran bagi anak-anak untuk membentuk perkembangan dan kepribadian anak.

Adanya taman-taman kota dalam suatu kota mengindikasikan bahwa penataan ruang dari kota tersebut telah memperhatikan tidak hanya kepentingan ekonomi, tetapi juga sosial budaya dan lingkungan. Anak-anak belajar mengenai tata ruang ketika mereka berada di lingkungan kotanya. Mereka melihat fungsi-fungsi ruang yang ada di suatu kota, yakni fungsi untuk tempat tinggal, tempat untuk berusaha, tempat untuk bermain, dan sebagainya.

Penataan kota tidak perlu dijadikan sebagai mata pelajaran khusus dalam kurikulum pendidikan di tingkat SD, SMP, dan SMU. “Ilmu tentang penataan ruang secara khusus hendaknya dikembangkan pada level perguruan tinggi, sementara itu, di level SD, SMP, dan SMU hanya dikembangkan ilmu-ilmu dasar,” demikian kata Arief Rachman. Kesadaran bertata ruang sendiri dapat dikembangkan melalui kegiatan kurikuler di sekolah, yakni dengan mengembangkan lingkungan

ruang sekolah yang bersih, rapi, dan sehat. Dengan ilmu-ilmu dasar yang diterima di level SD hingga SMU, anak dapat belajar menghadapi lingkungannya dan mempunyai pengalaman dalam menghadapi lingkungannya. Dengan demikian, faktor yang menentukan suatu kurikulum pendidikan bukanlah masalah-masalah yang ada di luar, akan tetapi kurikulum diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang ada di luar.

Ditjen Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum sebagai pembina penataan ruang di tingkat nasional hendaknya dapat memetakan kota-kota di Indonesia yang telah melakukan penataan ruang dengan baik. Hal ini diharapkan dapat mendorong pemerintah daerah dapat menyelenggarakan penataan ruang dengan baik, demikian disampaikan Arief Rachman mengakhiri pembicaraan. ***

Sekilas Tentang Perguruan Diponegoro

Lingkungan sekolah yang baik tidak mesti identik dengan sekolah unggulan atau sekolah mahal. Meskipun suatu sekolah mempunyai keterbatasan keuangan, tetapi tata lingkungan harus rapi, bersih dan indah sehingga dapat menunjang proses pendidikan dan pembelajaran. Salah satu contoh adalah Sekolah Perguruan Diponegoro di Rawamangun Jakarta Timur.

Perguruan ini hanya dibatasi dengan tanaman hidup yang berfungsi sebagai pagar. Jelas terlihat bahwa lingkungan sekolah ini sangat asri dan bersih. Keberadaan tanaman hidup yang berfungsi sebagai pagar mencerminkan bahwa sekolah ini terbuka untuk umum, tanpa membedakan latar belakang ekonomi dan sosial yang berbeda. Dari penataan ruang sekolah yang teratur, asri, dan bersih diharapkan anak didik dapat mengembangkan diri menata ruang di keluarga masing-masing dengan hal yang sama. Kebiasaan ini diharapkan

dapat membentuk perkembangan dan karakter anak yang memiliki kesadaran pada tata ruangnya.

Dalam dokumen PROFIL TOKOH : GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH (Halaman 52-58)

Dokumen terkait