DAFTAR PUSTAKA
B. Peraturan Perundang-Undangan
Presiden RI. Peraturan Pemerintah No.109 tahun 2012 tentang pengamanan zat adiktif berupa produk tembakau bagi Kesehatan.
Presiden RI. UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 28 Tahun 2013. tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada kemasan produk tembakau.
Menteri Perdagangan Republik Indonesia. Nomor 70 Tahun 2019 Tentang Distribusi Barang Secara Langsung.
C. Skripsi
Nubairi, Ahmad Rifqi. 2012. Analisis Kualitatif Faktor Yang Mempengaruhi Kesulitan Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Berhenti Merokok. Nurfadilah, Siti. 2015. Hubungan Intensitas Melihat Label Peringatan Kesehatan
Merokok Dengan Peilaku Mahasiswa Perokok Aktif Di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Putra, Aldino Siwa. 2015. Perbandingan Efek Asap Rokok Konvensional & Rokok Herbal Terhadap Kerusakan Histologis Paru Mencit (Mus Musculus).
Putro, Andrey Ansistanto. 2013. Perlindungan Hukum Bagi Konsumen atas Label Produk Rokok.
Sadri, Firman. 2012. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Hukum Merokok.
Saputra, Edi. 2018. Hukum Merokok (Study Komperatif Antara Kiyai Ahmad Kuat dan Kiyai Abu Abdillah).
Wijaya, Harda. 2014. Faktor-Faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok pada remaja (Rw 06 Keal. Tamangapa, Kec. Manggala Kota Makassar).
49
D. Jurnal
Ferizal, Indiz. Mekanisme Pengujian Hukum Oleh Ulama dalam menetapkan fatwa haram terhadap rokok. (Aceh, 2016).
Hidayat, Rahmat Nur. Analisis Kadar Nikotin Rokok Herbal Indonesia. (Samarinda, 2016).
Mu’tadin, Zainul. Remaja dan Rokok, (www.e-psikologi.com:2002).
Riadi, Erfan. Kedudukan Fatwa Ditinjau dari Hukum Islam dan Hukum Positif (Analisis Yuridis Normatif). (Jurnal Ulumuddin, 2013).
Sari, Ari, Ramdhani, dkk, Empati Dan Perilaku Merokok Di Tempat Umum, (Jurnal Psikologi, 2003).
Trigiyatno, Ali. Fatwa Hukum Merokok dalam Perspektif MUI dan Muhammadiyah. (Pekalongan, 2011).
Warham, Firona. Pengaruh Direct Selling Dan Media Sosial Melalui Facebook Terhadap Minat Beli Konsumen Pada Rokok Sin Herbal. (Oktober 2018). WHO-Tobacco Initiative Bab 5 Kebijakan Pengendalian Tembakau, (Oktober,
2015).
E. Internet
Bahan Baku dan Kandungan Rokok Herbal SIN.
(
http://jamurekangicong.blogspot.com/2014/04/bahan-baku-dan-kandungan-rokok-herbal.html). diakses pada 2 Agutus 2020, pukul 22.30.
Firdhy Esterina Christy, Indonesia Dengan Perokok Terbanyak Di Dunia.
(https://data.tempo.co/data/435/indonesia-dengan-perokok-terbanyak-di-dunia).
diakses pada 2 Mei 2020, pukul 09.25.
Fitri Syarifah, Menipu, Bila Disebut Rokok Herbal Baik untuk Kesehatan.
(
https://www.liputan6.com/health/read/2123990/menipu-bila-disebut-rokok-herbal-baik-untuk-kesehatan). diakses pada 12 Juni 2020, pukul 08.22.
Kementerian Kesehatan RI, Jangan Biarkan Rokok Merenggut Napas Kita,(
50
K,H Arwani Faishal, Bahtsul Masail Tentang Hukum Rokok,
(https://islam.nu.or.id/post/read/15696/bahtsul-masail-tentang-hukum-merokok).
diakses pada 20 Juli 2020, pukul 13.30.
Lili Husna Fajriah, Industri Rokok Ciptakan Jutaan Lapanagan Kerja di Tanah Air,
(
https://ekbis.sindonews.com/berita/1260274/34/industri-rokok-ciptakan-jutaan-lapangan-kerja-di-tanah-air). diakses pada 7 Agustus 2020, pukul 21.22.
Scholastica Gerintya, Seberapa Banyak Rokok Sumbang Pemasukan Kas Negara?,
(https://tirto.id/seberapa-banyak-rokok-sumbang-pemasukan-kas-negara-cx7N).
diakses pada 7 Agustus 2020, pukul 21.40.
Sumanto Al Qurtuby, Menimbang Fatwa Rokok dan Muhammadiyah
(
https://www.nu.or.id/post/read/97536/menimbang-fatwa-rokok-nu-dan-muhammadiyah). diakses pada 20 Juli 2020, pukul 12.30.
Tania Savitri, Faktanya, Rokok Herbal Tak Kalah Bahaya Dari Rokok Tembakau.
(https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/rokok-damiana-rokok-herbal/#gref).
diakses pada 30 Agustus 2020, pukul 19.22
Tridaya Sinergi, Sejarah Rokok Herbal SIN, (
https://tridayasinergi.com/tsi-produsen.php#). diakses pada 5 Juli 2020, pukul 09.20
UU 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (
51
LAMPIRAN-LAMPIRAN
FATWA MUI TENTANG HUKUM ROKOK
KEPUTUSAN IJTIMA’ ULAMA KOMISI FATWA SE-INDONESIA III Bismillahirrahmanirrahim
Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia III, setelah:
Menimbang :
1. Bahwa banyak pertanyaan dari masyarakat terkait dengan masalah strategis kebangsaan, masalah keagamaan aktual-kontemporer, dan masalah yang terkait dengan peraturan perundanga-undangan;
2. Bahwa pertanyaan pertanyaan tersebut mendesak untuk segera dijawab sebagai panduan dan pedoman bagi penanya dan masyarakat pada umumnya.
3. Bahwa Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia III memiliki kewenangan untuk menjawab dan memutuskan masalah-masalah tersebut, 4. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud di atas, perlu
ditetapkan keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III.
Memperhatikan :
1. Pidato Wakil Presiden RI, H.M. Jusuf Kalla pada pembukaan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III
2. Pidato Iftitah Ketua Umum MUI, DR.KH. M.A. Sahal Mahfudh, pada pembukaan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III.
3. Pidato Pengantar Koordinator Tim Materi Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III, KH. Ma’ruf Amin.
4. Pendapat peserta komisi A, B, dan C Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se- Indonesia III.
52
Memutuskan
Menetapkan :
Sub 2 : Masail Fiqhiyyah Waqi’iyyah Mu’aşirah (Masalah Fiqh Aktual Kontemporer), yang meliputi masalah
a) Merokok
Ketentuan Hukum
Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Insonesia III sepakat adanya perbedaan pandangan mengenai hukum merokok, yaitu antara makruh dan haram. (khilaf
mâ baina al-makruh wa al-haram).
Peserta Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III sepakat bahwa merokok hukumnya haram jika dilakukan :
1. Ditempat umum; 2. Oleh anak-anak; dan 3. Oleh wanita hamil
Rekomendasi
Sehubungan dengan adanya banyak mudarat yang ditimbulkan dari aktifitas merokok, maka direkomendasikan hal-hal sebagai berikut:
1. DPR diminta segera membuat undang-undang larangan merokok ditempat umum bagi anak-anak, dan bagi wanita hamil.
2. Pemerintah, baik pusat maupun daerah diminta membuat regulasi tentang larangan merokok ditempat umum, bagi anak-anak dan, bagi wanita hamil.
3. Pemerintah, baik pusat maupun daerah diminta menindak pelaku pelanggaran terhadap aturan larangan merokok di tempat umum, bagi anak-anak dan bagi wanita hamil.
53
4. Pemerintah baik pusat maupun daerah diminta melarang iklan rokok, baik langsung maupun tidak langsung.
5. Para ilmuwan diminta untuk melakukan penelitian tentang manfaat tembakau selain untuk rokok.
FATWA MTT MUHAMMADIYAH TENTANG HUKUM ROKOK Fatwa majelis tarjih dan tajdid pimpinan pusat muhammadiyah no. 6/sm/mtt/iii/2010 tentang hukum merokok.
1. Dasar pertimbangan:
a. Bahwa dalam rangka partisipasi dalam upaya pembangunan kesehatan masyarakat semaksimal mungkin dan penciptaan lingkungan hidup sehat yang menjadi hak setiap orang, perlu dilakukan penguatan upaya pengendalian tembakau melalui penerbitan fatwa tentang hukum merokok;
b. Bahwa fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diterbitkan tahun 2005 dan tahun 2007 tentang Hukum Merokok perlu ditinjau kembali;
2. Memperhatikan:
a. Kesepakatan dalam Halaqah Tarjih tentang Fikih Pengendalian Tembakau yang diselenggarakan pada hari Ahad 21 Rabiul Awal 1431 H yang bertepatan dengan 07 Maret 2010 M bahwa merokok adalah haram;
b. Pertimbangan yang diberikan dalam Rapat Pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada hari Senin 22 Rabiul Awal 1431 H yang bertepatan dengan 08 Maret 2010 M,
3. Menetapkan: Fatwa Tentang Hukum Merokok
Pertama: Amar Fatwa
a. Wajib hukumnya mengupayakan pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya suatu kondisi hidup sehat yang merupakan hak setiap orang dan merupakan bagian dari
54
tujuan syariah (maqashid asy-syari’ah); b. Merokok hukumnya adalah haram karena:
1) merokok termasuk kategori perbuatan melakukan khabaits yang dilarang dalam Q. 7: 157,
2) perbuatan merokok mengandung unsur menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dan bahkan merupakan perbuatan bunuh diri secara perlahan sehingga oleh karena itu bertentangan dengan larangan al-Quran dalam Q. 2: 195 dan 4: 29, 3) perbuatan merokok membahayakan diri dan orang lain
yang terkena paparan asap rokok sebab rokok adalah zat adiktif dan berbahaya sebagaimana telah disepakati oleh para ahli medis dan para akademisi dan oleh karena itu merokok bertentangan dengan prinsip syariah dalam hadis Nabi saw bahwa tidak ada perbuatan membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain,
4) rokok diakui sebagai zat adiktif dan mengandung unsur racun yang membahayakan walaupun tidak seketika melainkan dalam beberapa waktu kemudian sehingga oleh karena itu perbuatan merokok termasuk kategori melakukan suatu yang melemahkan sehingga bertentangan dengan hadis Nabi saw yang melarang setiap perkara yang memabukkan dan melemahkan.
5) Oleh karena merokok jelas membahayakan kesehatan bagi perokok dan orang sekitar yang terkena paparan asap rokok, maka pembelajaan uang untuk rokok berarti melakukan perbuatan mubazir (pemborosan) yang dilarang dalam Q. 17: 26-27,
6) Merokok bertentangan dengan unsur-unsur tujuan syariah (maqashid asy-syari‘ah), yaitu (1) perlindungan agama (hifzh ad- din), (2) perlindungan jiwa/raga (hifzh an-nafs), (3) perlindungan akal (hifzh al-‘aql), (4) perlindungan
55
keluarga (hifzh an-nasl), dan (5) perlindungan harta (hifzh al-mal).
c. Mereka yang belum atau tidak merokok wajib menghindarkan diri dan keluarganya dari percobaan merokok sesuai dengan Q. 66: 6 yang menyatakan, “Wahai orang-orang beriman hindarkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
d. Mereka yang telah terlanjur menjadi perokok wajib melakukan upaya dan berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk berhenti dari kebiasaan merokok dengan mengingat Q. 29: 69, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Al- lah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” dan Q. 2: 286, “Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya; ia akan mendapat hasil apa yang ia usahakan dan memikul akibat perbuatan yang dia lakukan;” dan untuk itu pusat- pusat kesehatan di lingkungan Muhammadiyah harus mengupayakan adanya fasilitas untuk memberikan terapi guna membantu orang yang berupaya berhenti merokok.
e. Fatwa ini diterapkan dengan mengingat prinsip at-tadrij (berangsur), at-taisir (kemudahan), dan ‘adam al-haraj (tidak mempersulit).
f. Dengan dikeluarkannya fatwa ini, maka fatwa-fatwa tentang merokok yang sebelumnya telah dikeluarkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dinyatakan tidak berlaku