BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.2 Perbandingan Hasil Belajar Siswa pada Kelas Eksperimen
Uji hipotesis 2 pada penelitian ini menggunakan data nilai post-test di kelas eksperimen dan kelas kontrol kemudian diuji menggunakan independent sample t-test. Hasil pengujian menunjukkan nilai sig (2-tailed) 0,020 kurang dari
0,05 yang artinya H2 diterima. Hasil ini menunjukkan adanya temuan penelitian bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar (post-test) yang signifikan antara kedua kelas. Perbedaan hasil belajar yang signifikan menunjukkan bahwa nilai rata-rata post-test kelas eksperimen sebesar 80,35 lebih tinggi dari pada rata-rata post-test kelas kontrol sebesar 74,88.
Pembelajaran dikelas eksperimen menunjukkan hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol karena perbedaan dalam penggunaan model dan media pembelajaran. Peneliti telah melakukan semua aktivitas sesuai yang tercantum dalam RPP. Dimulai dari aktivitas pada kegiatan pendahuluan yang meliputi masuk kelas tepat waktu, membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, menanyakan kesiapan mengikuti pelajaran, menyampaikan materi, tujuan dan model pembelajaran yang digunakan, serta memotivasi siswa. Dalam kegiatan inti guru meminta siswa menggali informasi materi dari berbagai sumber, memberi contoh masalah dan menyelesaikan dengan mebuat mind mapping, selain itu guru memandu siswa untuk menemukan penyelesaiannya, meminta siswa bertanya tentang materi yang belum dipahami, meneliti kesulitan yang dialami oleh siswa. Sementara untuk kegiatan penutup yang meliputi aktivitas membuat simpulan materi bersama siswa, memberikan PR, menyampaikan materi selanjutnya yang harus dipelajari, serta yang terakhir mengucapkan salam dan meninggalkan kelas tepat waktu.
Sedangkan pembelajaran pada kelas kontrol tidak diberi pelakuan khusus. Sebenarnya pembelajaran pada kelas kontrol hampir sama dengan kelas esksperimen namun hal yang membedakan adalah penggunaan model dan media
pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran. kegiatan inti terdiri dari ceramah, tanya jawab dan latihan soal namun latihan soalnya tidak sesering di kelas esksperimen. Pembelajaran dalam kelas kontrol lebih banyak dilakukan secara satu arah dimana guru menjelaskan sedangkan siswa hanya mendengarkan dan mencatat materi sehingga banyak waktu yang tersita untuk hal-hal seperti menunggu siswa selesai mencatat, menjelaskan keterangan yang sama secara berulang-ulang karena ketidakfokusan siswa dalam memperhatikan guru, sehingga siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran.
Hasil pengamatan aktivitas siswa menunujukkan pada kelas eksperimen siswa lebih aktif dibandingkan dengan kelas kontrol. Aktivitas siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pada pertemuan pertama sama-sama mendapat kriteria cukup aktif, di pertemuan kedua kelas eksperimen mengalami peningkatan mendapat kriteria aktif sedangkan kelas kontrol tetap mendapatkan kriteria cukup aktif. Pada pertemuan ketiga dan keempat kelas eksperimen mendapat kriteria sangat aktif sedangkan pada kelas kontrol hanya mendapat kriteria cukup aktif dan aktif. Dari hasil observasi tersebut menunjukan bahwa penggunaan model problem based learning (PBL) dengan strategi mind mapping dapat membuat siswa lebih aktif dibandingkan menggunakan model pembelajaran konvensional yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Penerapan model problem based learning (PBL) dengan strategi mind mapping dapat menarik perhatian dan minat siswa untuk belajar, sehingga aktivitas belajar siswa dalam belajar lebih mudah meningkat. Penerapan model pembelajaran konvensional secara terus-menerus tanpa adanya variasi dapat
membuat siswa menjadi bosan dan malas belajar. Dalam belajar hanya terjadi interaksi satu arah yaitu dari guru ke siswa sehingga suasana belajar yang diperoleh siswa kurang optimal.
Peningkatan model problem based learning (PBL) dengan strategi mind mapping ditunjukkan dengan selisih nilai rata-rata pre-test dan post-test pada kelas eksperimen sebesar 25,05 sedangkan selisih nilai rata-rata pre-test dan post- test pada kelas kontrol adalah sebesar 16,96. Selisih peningkatan hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol lebih besar kelas eksperimen, maka peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan model problem based learning (PBL) dengan strategi mind mapping adalah 8.09. Peningkatan hasil belajar siswa juga dilihat dari tingkat ketuntasan pada kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol, yaitu 83% pada kelas eksperimen dan 56% pada kelas kontrol.
Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Annisa Rahma dan Kardoyo (2014) juga menunjukkan hal yang sama yaitu penerapan pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning dapat juga meningkatkan hasil belajar berupa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah perubahan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing. Selain dengan model pembelajaran problem based learning (PBL), model pembelajaran juga bisa dipadukan dengan metode pembelajaran lainnya. Mind mapping juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa, penelitian oleh Maisyarah (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa hasil belajar siswa dengan penerapan metode pembelajaran mind mapping dikelas XF SMA Negeri 5 Pontianak rata-ratanya mencapai ≥ 70.
Hasil temuan lain yang mendukung penelitian ini untuk penggunaan metode mind mapping adalah penelitian yang dilakukan oleh Nina Mahardani dan Widiyanto (2014) yang menyebutkan hasil belajar Ekonomi menggunakan model concept mapping lebih baik dari pada model think pair share. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Hilda Sridewita dan Syamsul Amar (2014) yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran mind maping lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan model konvensional.
Berdasarkan hasil analisis dan pengujian data serta hasil penelitian terdahulu maka dapat dikatakan bahwa penerapan model problem based learning (PBL) dengan strategi mind mapping lebih meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional pada materi indeks harga dan inflasi siswa kelas XII IIS SMA Negeri 1 Kertek Wonosobo tahun pelajaran 2015/2016.
121 BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian, analisis data dan pembahasan diperoleh simpulan sebagai berikut:
1) Model pembelajaran problem based learning (PBL) dengan strategi mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi indeks harga dan inflasi siswa kelas XI IIS SMA Negeri 1 Kertek, Wonosobo tahun pelajaran 2015/2016. Peningkatan hasil belajar siswa ditunjukkan oleh pre-test kelas eksperimen 55,30 meningkat menjadi 80,35 pada post-test atau mengalami peningkatan 45,28% dengan selisih nilai pre-test dan post-test adalah 25,04. 2) Model pembelajaran problem based learning (PBL) dengan strategi mind
mapping lebih meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional pada materi indeks harga dan inflasi siswa kelas XI IIS SMA Negeri 1 Kertek Wonosobo tahun pelajaran 2015/2016.Yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata post test kelas eksperimen 80,35 lebih tinggi dari nilai rata-rata kelas control sebesar 74,88.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka saran yang dapat diajukan terkait dengan penelitian ini adalah:
1. Penerapan model problem based learning (PBL) dengan strategi mind mapping memungkinkan terjadi ketidak kondusifan kelas yang disebabkan
122
hidupnya diskusi dalam ruangan, sebaiknya guru mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah ini.
2. Keterbatasan penelitian ini adalah pada instrument penelitian (soal uji coba). Dari 35 soal 25 soal valid dan soal dikatakan memiliki reliabel yang baik, tetapi untuk tingkat kesukaran dan daya pembeda soal dikategorikan kurang baik. Tingkat kesukaran soal dari 35 soal 26 soal kategori mudah dan 9 soal kategori sedang. Menurut Arikunto (2012:222), soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Daya beda soal uji coba dari 35 soal 23 kategori jelek, 6 soal kategori cukup, 4 soal kategori baik dan 2 soal kategori sangat baik. Banyak soal dengan kategori jelek, soal yang baik adalah soal yang dapat membedakan antara anak pandai dengan anak bodoh, dilihat dari dapat dan tidaknya mengerjakan soal itu. Butir-butir soal yang baik adalah butir-butir soal yang mempunyai indeks diskriminasi 0,4 sampai dengan 0,7 atau dalam kategori soal baik (Arikunto, 2012:231). Disarankan untuk penelitian selanjutnya memperhatikan syarat-syarat soal yang baik. 3. Beberapa soal masih menggunakan jenis soal well structed yang seharusnya
dalam penggunaan model problem based learning jenis soal iil structed, Jadi model problem based learning (PBL) dengan strategi mind mapping kurang tepat diterapkan pada materi indeks harga dan inflasi. Disarankan untuk pemilihan model pembelajaran disesuaikan dengan materi. Namun demikian semoga penelitian yang telah dilaksanakan ini dapat bermanfaat bagi kegiatan penelitian selanjutnya.
123
DAFTAR PUSTAKA
Amir, M. Taufik. 2009. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana
Anni, Chatarina Tri. Dan Achmad Rifa’i RC. 2011. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES Press.
Arikunto, S. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Buzan, Tony. 2007. Buku Pintar Mind Map.Terjemahan Susi Purwoko. Jakarta:
Gramedia.
Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS19. Semarang: Undip
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Mahardani, Nina. Dan Widiyanto. 2014. Perbedaan Hasil Belajar Ekonomi Antara Model Think-Pair-Share Dan Model Concept Mapping Pada Siswa SMA 1 Nguter Sukoharjo.Economic Education Analysis Journal (1) (2014).Hal 9-16 Universitas Negeri Semarang.
Maisyarah.2013. Efektivitas Metode Pembelajaran Mind Mapping Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Sma. Universitas Tanjungpura Pontianak.
Mulyasa. 2009. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Suatu Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosda karya.
Sani, Abdullah Ridwan. 2013. Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sridewita, Hilda. Dan Syamsul Amar. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Mind Mapping dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Ekonomi di SMA N 1 Tanjung Raya. Volume 1 No. 2. Hal 11 Universitas Negeri Padang.
Sudarman, Gede Made Cahyadi.,Iyus. dan Made Nuridja. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning) Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas X1 SMA Negeri 1 Sawan Tahun 2012/2013. Volume 2 No. 1. UNDIKSHA.
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosda karya.
, 2014. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: ALFABETA.
Sulistyani, RetnoIka. Dan Harnanik. 2014. Peningkatan Berpikir Kritis Dan Hasil Belajar Masalah Ekonomi Dengan Model Problem Based Learning (PBL) SMA Negeri 1 Juwana (Studi Pada Siswa Kelas X IIS 5 Tahun Ajaran 2014/2015). Economic Education Analysis Journal (3) (2014).Hal 490- 495 Universitas Negeri Semarang.
Suparmin.,Sari. Dwi Astuti., dan Hery Sawiji. Ekonomi (Peminatan Ilmu-ilmu
Sosial Untuk SMA/MA Kelas XI). Mediatama.
Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Yulyana, Rahma Annisa. Dan Kardoyo. 2014. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Perubahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Valuta Asing Serta Hasil Belajar Melalui Model Pembelajaran Problem Based
Learning Siswa SMA Al-Irsyad Tegal (Studi Pada Kelas XI IPS 3 Tahun
Ajaran 2013/2014). Economic Education Analysis Journal (3) (2014).Hal 477-482 Universitas Negeri Semarang.