BAB VI PEMBAHASAN
6.2 Perbandingan Nilai Persentase CD4 Ibu Hamil dengan Infeksi HIV
penelitian ini cenderung meningkat selama Trimester II ke Trimester III (309,80±144,53 vs 355,10±158,35), meskipun secara statistik tidak signifikan.
Tuomala, et al., (1997) menemukan hal yang serupa, terjadi peningkatan nilai absolut CD4 selama kehamilan sebesar 2,76 per minggu, dan terjadi penurunan pada tahun pertama postpartum.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemeriksaan nilai absolut CD4 absolut merupakan parameter yang dapat dipercaya dalam menilai status imun ibu hamil dengan HIV pada Trimester II dan III, setelah menyingkirkan variabel pengganggu yang diduga dapat menyebabkan variasi nilai hitung absolut CD4.
6.2 Perbandingan Nilai Persentase CD4 Ibu Hamil dengan Infeksi HIV pada Trimester II dan III
Berdasarkan hasil uji statistik terhadap nilai persentase CD4 Trimester II dan III pada kehamilan dengan HIV menunjukkan hasil yang tidak signifikan yaitu; 20,95±9,63 pada Trimester II dan 23,20±10,33 pada Trimester III (p = 0,105). Hal ini berarti hemodilusi dalam kehamilan dari Trimester II dan III tidak mempengaruhi nilai persentase CD4. Hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian ini bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai persentase CD4 Trimester II dan III.
Beberapa penelitian terdahulu menemukan bahwa, dalam keadaan tertentu nilai persentase CD4 merupakan parameter yang lebih baik dalam menentukan status imun penderita HIV. Penyakit fibrosis hati dapat menyebabkan diskordansi dari perhitungan nilai absolut CD4, dalam keadaan ini maka dalam menilai status imun penderita HIV patut dipertimbangkan pemeriksaan persentase CD4
(Claassen, et al., 2012). Begitu juga halnya dalam kehamilan yang dapat menyebabkan variasi nilai hitung absolut CD4 (Ekouevi, et al., 2007). Hulgan, et al., (2005) menemukan bahwa persentase CD4 lebih baik dalam menilai progresifitas infeksi HIV, pada pasien dengan nilai absolut CD4 >350 sel/mm3. Penelitian lain di India menemukan bahwa persentase CD4 lebih baik dalam menilai status imun penderita dengan HIV dan dalam menentukan untuk memulai terapi ARV (Vajpayee, et al., 2005). Pirzada, et al., (2006) menemukan bahwa persentase CD4 merupakan parameter yang lebih baik dibandingkan dengan nilai absolut CD4 dan ratio CD4/CD8 dalam menilai risiko penyakit yang terkait dengan HIV.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai persentase CD4 cenderung konstan dari Trimester II dan III, menunjukkan terjadi peningkatan, namun perubahan tersebut secara statistik tidak bermakna. Persentase CD4 tidak dipengaruhi oleh kehamilan dan merupakan parameter yang dapat dipercaya dalam menilai status imun ibu hamil dengan HIV pada Trimester II dan III.
6.3 Variasi Nilai Absolut CD4 Dibandingkan dengan Persentase CD4 Ibu Hamil dengan Infeksi HIV pada Trimester II dan III
Hasil penelitian ini menunjukkan variasi dari nilai absolut CD4 dan persentase CD4 tidak mengalami perbedaan yang bermakna pada Trimester II dan III. Jumlah perubahan nilai absolut CD4 dan persentase CD4 pada kehamilan dengan HIV pada Trimester II dan III secara statistik tidak signifikan. Dalam penelitian ini nilai absolut CD4 dan persentase CD4 memiliki kemampuan yang
sama baiknya dalam menilai status imun ibu hamil dengan HIV pada Trimester II dan III.
Hoffman, et al., (2009), dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pemeriksaan CD4 absolut lebih superior dalam menilai status imun penderita dengan HIV, terutama dengan nilai absolut <200 sel/mm3. Studi lain mengemukakan bahwa nilai CD4 absolut lebih baik dalam menilai risiko infeksi oportunistik (Gebo, et al., 2004). Terlepas dari beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa persentase CD4 memiliki kelebihan dalam menilai status imun penderita HIV, kemungkinan karena kontroversi hasil yang didapat, WHO hingga saat ini tetap menganjurkan pemeriksaan absolut CD4 sebagai prediktor fungsi imun penderita HIV dalam menentukan terapi ARV. World Health Organization beberapa kali melakukan revisi terhadap cut-off point dari nilai absolut CD4 dalam memulai terapi ARV, untuk menyesuaikan dengan perkembangan penelitian dalam bidang HIV. Pada tahun 2006 nilai absolut CD4 yang digunakan untuk memulai terapi ARV adalah < 200 sel/mm3, hal ini kemudian dilakukan revisi pada tahun 2010 menjadi ≤ 350/mm3 dan tahun 2013 kriteria ini menjadi ≤ 500 sel/mm3(WHO, 2006; WHO, 2010; WHO, 2013; WHO 2014). Hal ini kemungkinan untuk menghindari variasi dari nilai hitung CD4 absolut tersebut. Belum ada rekomendasi WHO untuk melakukan pemeriksaan rutin terhadap nilai persentase CD4.
Hasil dari penelitian ini tidak menemukan perbedaan yang bermakna dari nilai absolut CD4 dan persentase CD4 pada kehamilan dengan HIV Trimester II dan III. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang tidak konsisten
dan hasil yang bervariasi. Hasil ini kemungkinan disebabkan karena banyak faktor yang mempengaruhi nilai absolut CD4 seperti perbedaan BMI, penyakit hati, infeksi, variasi diurnal, luka bakar, splenektomi, infeksi, serum retinol, perubahan musim. Penelitian oleh Gomo, et al., (2004) menunjukkan terjadi penurunan nilai absolut CD4 sebesar 25 sel setiap peningkatan usia kehamilan 1 minggu pada perempuan dengan serum retinol yang rendah, dimana kadar serum retinol merupakan faktor independen yang berpengaruh terhadap rendahnya nilai absolut CD4. Perubahan musim juga berpengaruh pada nilai hitung absolut CD4, nilai absolut CD4 pada musim hujan menunjukkan nilai yang lebih tinggi (p<0,001) (Gomo, et al., 2004). Kemungkinan masih ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi fluktuasi nilai absolut CD4 yang belum diketahui. Pada penelitian ini telah dilakukan kontrol terhadap beberapa pengaruh variabel pengganggu, sehingga sedapat mungkin hanya pengaruh kehamilan saja yang dinilai dalam penelitian ini. Pengaruh perbedaan BMI, umur, splenektomi, kelainan fungsi hati, variasi diurnal, luka bakar sedapat mungkin dihilangkan dalam penelitian ini.
Setelah mengendalikan variabel pengganggu, maka diharapkan hanya pengaruh kehamilan, dalam hal ini hemodilusi terhadap nilai absolut CD4 saja yang mempengaruhi hasil penelitian. Hasil menunjukkan bahwa, nilai absolut dan persentase CD4 tidak mengalami fluktuasi yang bermakna pada kehamilan dengan HIV Trimester II dan III. Dapat dikatakan nilai absolut dan persentase CD4 merupakan parameter yang dapat dipercaya dalam menilai status imun ibu hamil dengan HIV. Pemeriksaan persentase CD4 kemungkinan diperlukan apabila
nilai absolut CD4. Persentase CD4 kemungkinan memiliki arti klinis tersendiri dalam menilai status imun pasien hamil dengan HIV apabila terdapat faktor lain di luar kehamilan yang diduga dapat mempengaruhi nilai absolut CD4. Dalam penelitian ini, kehamilan tidak terbukti menyebabkan variasi dari nilai absolut CD4. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikatakan bahwa pada kehamilan dengan HIV Trimester II dan III tidak diperlukan pemeriksaan persentase CD4 untuk menilai status imun, apabila tidak ditemukan faktor lain selain kehamilan yang dapat menyebabkan variasi dari nilai hitung absolut CD4.