• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja tahun ini : Prosentase

Dalam dokumen LAKIP SETAMA 2015 FINAL (Halaman 69-82)

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA SEKRETARIAT UTAMA 3.1 Capaian Kinerja

PETA LOKASI TANAHLokasi Lahan PLTG

1) Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja tahun ini : Prosentase

Capaian Kinerja = Realisasi x 100% Target = 10% x 100% = 100% 10% Tabel 3.14

Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja IKU 3.3

Indikator Kinerja Target Realisasi %

Terkelolanya Barang Milik Negara dan terpenuhinya operasional perkantoran

10% 10% 100

2) Perbandingan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir;

Realisasi kinerja atas target indikator kinerja terkelolanya Barang Milik Negara tahun 2015 sebesar 100% merupakan pencapaian kinerja tahun pertama, sehingga tidak bias diperbandingkan dengan capaian kinerja pada tahun sebelumnya.

3) Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis;

Realisasi kinerja terkelolanya Barang Milik Negara dan terpenuhinya operasional perkantoran yang mencapai sebesar 100%., atau dengan kata lain terpenuhinya target sebesar 10%, sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Sekretaris Utama Tahun 2015.

Realisasi kinerja terkelolanya Barang Milik Negara dan terpenuhinya operasional perkantoran yang mencapai sebesar 100%., atau dengan

kata lain terpenuhinya target sebesar 10%, juga sesuai dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen rencana strategis Sekretaris Utama, yaitu dalam sasaran program Meningkatnya akuntabilitas kinerja, dengan Indikator dan target: Terpenuhinya pengelolaan BMN (Sarpras fasilitas dan layanan operasional perkantoran) dengan target 50%; dimana target peningkatan pengelolaan BMN sebesar 50% pada tahun 2019 didistribusikan pada setiap tahunnya masing-masing sebesar 10%.

4) Analisis penyebab keberhasilan atau peningkatan kinerja;

Keberhasilan dalam pencapaian target indicator kinerja, khususnya dalam pengelolaan Barang Milik Negara dan terpenuhinya operasional perkantoran yang mencapai sebesar 100% disebabkan oleh :

 Komitmen dan dukungan yang kuat dari Pimpinan BPPT terhadap pengelolaan BMN di lingkungan BPPT.

 Komitmen dan dukungan dari seluruh Pimpinan dan Manajemen Unit Kerja terhadap pengelolaan BMN di lingkungan BPPT dan di Unit kerja.

 Dukungan pihak-pihak eksternal yang terkait dengan penyelenggaraan SAKIP di lingkungan BPPT.

 BPPT yang dalam hal ini diwakili oleh Sekretariat Utama, memiliki SDM yang kompeten dalam pengelolaan BMN di BPPT.

 Mekanisme pendataan yang baik

3.1.2.4 Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Sasaran Program 4

Pengukuran Capaian Sasaran Program 4 yaitu Meningkatnya Kualitas Pelayanan Publik kepada Masyarakat; dengan dua Indikator kinerja yang digunakan yaitu :

1. Prosentase Implementasi aspek-aspek dalam Undang-Undang 25/2009,

dengan target 70%.

2. Prosentase Implementasi e-government dan standardisasi layanan publik (Penunjang Kinerja Pembina), dengan target 80%.

Penjelasan Capaian masing-masing Indikator Kinerja adalah sebagai berikut:

1. Indikator Kinerja 4.1. : Prosentase Implementasi aspek-aspek dalam Undang-Undang 25/2009, dengan target 70%.

Berdasarkan Undang-Undang nomor 25 Tahun 2009, Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

Undang-Undang tentang Pelayanan Publik dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dalam hubungan antara masyarakat dan penyelenggara dalam pelayanan publik.

Tujuan Undang-Undang tentang Pelayanan Publik adalah:

a. terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung jawab, kewajiban, dan kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik;

b. terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik;

c. terpenuhinya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan

d. terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

Penyelenggaraan pelayanan publik berasaskan : kepentingan umum; kepastian hukum; kesamaan hak; keseimbangan hak dan kewajiban; keprofesionalan; partisipatif; persamaan perlakuan/tidak diskriminatif;

keterbukaan; akuntabilitas; fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan; ketepatan waktu; dan kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.

Sesuai Undang-Undang nomor 25 Tahun 2009, penyelenggaraan pelayanan publik meliputi : pelaksanaan pelayanan; pengelolaan pengaduan masyarakat; pengelolaan informasi; pengawasan internal; penyuluhan kepada masyarakat; dan pelayanan konsultasi.

Implementasi aspek – aspek dalam Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2009 di lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan oleh organisasi penyelenggara pelayanan publik dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan, yang dapat diuraikan dalam 10 bagian, yaitu :

1) Bagian Kesatu : Standar Pelayanan 2) Bagian Kedua : Maklumat Pelayanan

3) Bagian Ketiga : Sistem Informasi Pelayanan Publik

4) Bagian Keempat : Pengelolaan Sarana, Prasarana, dan/atau Fasilitas Pelayanan Publik

5) Bagian Kelima : Pelayanan Khusus

6) Bagian Keenam : Biaya/Tarif Pelayanan Publik

7) Bagian Ketujuh : Perilaku Pelaksana dalam Pelayanan

8) Bagian Kedelapan : Pengawasan Penyelenggaraan Pelayanan Publik

9) Bagian Kesembilan : Pengelolaan Pengaduan 10) Bagian Kesepuluh : Penilaian Kinerja

Dari sepuluh bagian penyelenggaraan pelayaan publik yang diamanatkan dalam undang – undang nomor 25 tahun 2009 tersebut,

BPPT mengimplementasikan 7 dari 10 bagian tersebut, atau 70% dari keseluruhan bagian, yaitu :

1) Standar Pelayanan

BPPT telah menyusun dan menetapkan standar pelayanan dengan memperhatikan kemampuan, kebutuhan masyarakat, dan kondisi lingkungan.

Komponen standar pelayanan yang telah disusun meliputi: a. dasar hukum;

b. persyaratan;

c. sistem, mekanisme, dan prosedur; d. jangka waktu penyelesaian;

e. biaya/tarif;

f. produk pelayanan;

g. sarana, prasarana, dan/atau fasilitas; h. kompetensi Pelaksana;

i. pengawasan internal;

j. penanganan pengaduan, saran, dan masukan; k. jumlah Pelaksana;

l. jaminan pelayanan yang memberikan kepastian pelayanan dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan;

m. jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan dalam bentuk komitmen untuk memberikan rasa aman, bebas dari bahaya, dan risiko keragu-raguan; dan

n. evaluasi kinerja Pelaksana.

2) Sistem Informasi Pelayanan Publik

Dalam rangka memberikan dukungan informasi terhadap penyelenggaraan pelayanan publik BPPT telah mengembangkan sistem informasi elektronik, yang menyediakan informasi kepada masyarakat secara terbuka dan mudah diakses, yang meliputi : a. profil Penyelenggara;

c. standar pelayanan; dan d. pengelolaan pengaduan

3) Pengelolaan Sarana, Prasarana, dan/atau Fasilitas Pelayanan Publik

BPPT melakukan pengelolaan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik secara efektif, efisien, transparan, akuntabel, dan berkesinambungan serta bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan/atau penggantian sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik.

4) Biaya/Tarif Pelayanan Publik

BPPT telah menetapkan biaya/tarif pelayanan publik, yang menjadi acuan dalam penetapan biaya/tarif atas pelayanan teknologi yang dilakukan oleh BPPT kepada pihak luar.

5) Perilaku Pelaksana dalam Pelayanan

Pelaksana dalam menyelenggarakan pelayanan publik menunjukkan berperilaku sebagai berikut:

a. adil dan tidak diskriminatif; b. cermat;

c. santun dan ramah;

d. tegas, andal, dan tidak memberikan putusan yang berlarut- larut;

e. profesional; f. tidak mempersulit;

g. patuh pada perintah atasan yang sah dan wajar;

h. menjunjung tinggi nilai-nilai akuntabilitas dan integritas institusi penyelenggara;

i. tidak membocorkan informasi atau dokumen yang wajib dirahasiakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan; j. terbuka dan mengambil langkah yang tepat untuk menghindari

k. tidak menyalahgunakan sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan publik;

l. tidak memberikan informasi yang salah atau menyesatkan dalam menanggapi permintaan informasi serta proaktif dalam memenuhi kepentingan masyarakat;

m. tidak menyalahgunakan informasi, jabatan, dan/atau kewenangan yang dimiliki;

n. sesuai dengan kepantasan; dan o. tidak menyimpang dari prosedur.

6) Pengawasan Penyelenggaraan Pelayanan Publik

Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan oleh pengawas internal dan pengawas eksternal.

Pengawasan internal penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui:

a. pengawasan oleh atasan langsung; dan

b. pengawasan oleh pengawas fungsional sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pengawasan eksternal penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui pengawasan oleh masyarakat berupa laporan atau pengaduan masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik;

7) Pengelolaan Pengaduan

BPPT telah menyediakan sarana pengaduan dan menugaskan Pelaksana yang kompeten dalam pengelolaan pengaduan, dan menindaklanjuti pengaduan yang masuk.

BPPT juga telah menyusun mekanisme pengelolaan pengaduan dari penerima pelayanan dengan mengedepankan asas penyelesaian yang cepat dan tuntas.

Capaian kinerja Sekretariat Utama untuk Indikator Kinerja 4.1.:Prosentase Implementasi aspek-aspek dalam Undang-Undang 25/2009,dengan target

70%, adalah sebagai berikut:

1) Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja tahun ini :

Prosentase Capaian Kinerja = Realisasi x 100% Target = 70% aspek UU 25/2009 terimplementasi x 100% = 100% 70% aspek UU 25/2009 terimplementasi Tabel 3.15

Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja IKU 4.1

Indikator Kinerja Target Realisasi %

Prosentase Implementasi aspek- aspek dalam Undang-Undang 25/2009

70% 70% 100

2) Perbandingan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir;

Realisasi kinerja atas target indikator kinerja Prosentase Implementasi aspek-aspek dalam Undang-Undang 25/2009 tahun 2015 sebesar 100% merupakan pencapaian kinerja tahun pertama, sehingga tidak bias diperbandingkan dengan capaian kinerja pada tahun sebelumnya.

3) Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis;

Realisasi kinerja Prosentase Implementasi aspek-aspek dalam Undang-Undang 25/2009 yang mencapai sebesar 100%., atau dengan

kata lain terpenuhinya target sebesar 70%, sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Sekretaris Utama Tahun 2015.

Realisasi kinerja Prosentase Implementasi aspek-aspek dalam Undang-Undang 25/2009 yang mencapai sebesar 100%, atau dengan kata lain terpenuhinya target sebesar 70%, juga sesuai dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen rencana strategis Sekretaris Utama, yaitu dalam sasaran program Meningkatnya Kualitas Pelayanan Publik Kepada Masyarakat, dengan Indikator dan target: Tingkat Implementasi aspek-aspek dalam Undang-Undang 25/2009 dengan target akhir 80%.

4) Analisis penyebab keberhasilan atau peningkatan kinerja;

Keberhasilan dalam pencapaian target indicator kinerja, khususnya dalam Implementasi aspek-aspek dalam Undang-Undang 25/2009 yang mencapai sebesar 100% disebabkan oleh :

 Komitmen dan dukungan yang kuat dari Pimpinan BPPT terhadap Implementasi aspek-aspek dalam Undang-Undang 25/2009 di lingkungan BPPT.

 Komitmen dan dukungan dari seluruh Pimpinan dan Manajemen Unit Kerja terhadap Implementasi aspek-aspek dalam Undang- Undang 25/2009 di lingkungan BPPT dan di Unit kerja.

 BPPT yang dalam hal ini diwakili oleh Sekretariat Utama, memiliki SDM yang kompeten dalam Implementasi aspek-aspek dalam Undang-Undang 25/2009 di BPPT.

2. Indikator Kinerja 4.2. : Prosentase Implementasi e-government dan standardisasi layanan publik (Penunjang Kinerja Pembina), dengan target 80%.

dan Strategi Nasional Pengembangan e-Govermentdi lingkungan instansi pemerintah. Sejalan dengan Inpress tersebut maka pengembangan e- government yang dilakukan BPPT dan dilaksanakan oleh PDIS (sebagai unit yang mempunyai tugas pokok dan fungsi tersebut) mempunyai kaitan yang erat dengan fungsi Sekretariat Utama sebagai unit pendukung.

Pusat Data, Informasi dan Standardisasi (PDIS) merupakan salah satu unit kerja dibawah Sekretariat Utama yang bertanggung-jawab tentang implementasi E-government di BPPT serta bertugas untuk mengembangkan sistem yang akan diimplementasikan tersebut. Dengan adanya peran sebagai pendukung tersebut maka akan sangat efektif jika kegiatan dukungan manajemen tersebut memanfaatkan teknologi informasi. Untuk itulah maka telah menjadi kebijakan manajemen BPPT bahwa PDIS menjadi ujung tombak untuk menerapkan e-Goverment dalam rangka mengefektifkan dan mengefisienkan pelaksanaan peran dukungan SETAMA serta untuk menjalankan amanat UU no 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Pada tahun anggaran 2015, konsentrasi pengembagan sistem informasi masih dikonsentrasikan pada bidang integrasi data kepegawaian terutama untuk mengintegrasikan sistem-sistem yang telah dibangun dan digunakan yang terkait dengan sistem kepegawaian di lingkungan BPPT. Prioritas ini diambil dilandasi kebutuhan untuk membangun sistem pengelolaan dan penyediaan data kepegawaian yang akurat dan berlaku single data kepegawaian yang dapat diakses semua unit di lingkungan BPPT melalui sistem informasi yang dibangun baik oleh masing-masing unit maupun oleh PDIS. Dalam hal ini integrasi dapat dilakukan dengan penggunaan dua pola yang berbeda yaitu, penggunaan data dari basis data yang sama atau interoperabilitas antar basis data dengan menggunakan teknologiweb services.

Sistem integrasi data ini memiliki peran yang sangat strategis terkait dengan layanan informasi publik yang merupakan salah satu tugas yang

sudah tidak dapat ditunda lagi mengingat hal tersebut merupakan amanat undang-undang serta memiliki peran yang strategis untuk dapat menjalankan fungsi dukungan SETAMA. Secara umum, skenario implementasi e-Government dan integrasi data antar aplikasi yang dilakukan oleh PDIS akan mengikuti pola sebagai berikut:

Sesuai dengan skenario pengembangan aplikasi e-Government yang dilkaukan oleh PDIS tersebut serta dalam rangka pelaksanaan undang- undang keterbukaan informasi publik maka aplikasi yang dikembangkan juga akan mendukung layanan informasi kepada publik.

Pengembangan aplikasi dan pelaksanaan integrasi data yang dilakukan akan dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok yang didasari atas tipe dari sistem yang dikembangkan. Kelompok tersebut adalah:

1) Kelompok aplikasi yang digunakan untuk mendukung performa manajemen

2) Kelompok aplikasi yang digunakan untuk mengembangkan Knowledge Management

3) Kelompok aplikasi yang digunakan untuk mengelola sumberdaya.

Sampai tahun anggaran 2015 ini, aplikasi dan integrasi data yang telah dibangun adalah aplikasi-aplikasi e-absensi dan perijinan, file manajemen (e-docment), e-Kinerja, e-Dupak (pengadministrasian hasil penilaian fungsional) dan aplikasi kepegawaian. Untuk kelompok aplikasi yang telah dibangun sebagian adalah aplikasi tentang organisasi, e-SMM, e-Library, dan aplikasi KMS (Knowledge Management System). Ada beberapa aplikasi yang dibangun oleh unit kerja dan direncanakan akan diintegrasikan dengan sistem kepegawaian adalah sistem informasi keuangan dan sistem informasi program dan monev.

Dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2015 Sekretariat Utama , PDIS turut berkontribusi untuk mencapai Sasaran Program : Meningkatkan kualitas layanan publik kepada masyarakat, dengan Indikator Kinerja dan target : prosentase implementasi e-government dan standardisasi layanan publik sebesar 80%. Dalam mencapai hal tersebut maka PDIS telah melakukan beberapa kegiatan, yaitu:

3.1.1. Integrasi beberapa aplikasi sehingga dapat meningkatkan layanan kepada publik dalam mengakses informasi mengenai BPPT , yaitu aplikasi seleksi terbuka (e-open recruitment) , pengembangan website korporat BPPT Versi interaktif dan responsif, pengembangan web pengaduan BPPT, pengembangan survey online BPPT, pengembangan portal layanan terpadu satu pintu (single windows), pengembangan web keterbukaan informasi publik (KIP), dan pengembangan website unit kerja di lingkungan BPPT sehingga dapat diakses oleh masyarakat .

3.1.3. Memperoleh peningkatan penilaian Index Keamanan Informasi (KAMI), dari sebelumnya 301 menjadi 452

3.1.4. Mengembangkan end point security untuk meningkatkan keamanan endpoint security yang digunakan user di BPPT sehingga mampu secara efektif menghalau ancaman-ancaman cyber yang berbahaya.

3.1.5. Mengembangkan integrasi jaringan BPPT dan memasang perangkat UTM Firewall untuk meningkatkan keamanan infrastruktur jaringan di lokasi Lampung, Yogyakarta, Surabaya dan Denpasar sehingga informasi yang dibutuhkan masyarakat dapat selalu diakses.

3.1.6. Melakukan optimasi sistem cloud, helpdesk dan e-mail agar komunikasi dalam pelayanan publik kepada masyarakat dapat berjalan dengan lancar.

3.1.7. Meningkatkan keterpakaian koleksi dan layanan perpustakaan oleh masyarakat dengan menambah koleksi perpustakaan dan memberikan layanan sumber informasi secara online seperti dalam bentuk e-jurnal, e-book, e-paper, dan e-artikel.

3.1.8. Meningkatkan sistem mutu produk BPPT dengan melakukan pengembangan dan penerapan Dokumen Teknis BPPT, dan pengembangan dan penerapan akreditasi LPK BPPT

Sesuai perjanjian kinerja Sekretaris Utama Tahun 2015 dinyatakan dalam indikator dan targetnya yaitu prosentase implementasi e-government dan standardisasi layanan publik sebesar 80%.Dari hasil kegiatan yang telah dilakukan selama tahun 2015, Sekretariat Utama telah mencapai indikator kinerja tersebut sebesar 86%. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.16

Data Penunjang Kinerja

B PENUNJANG KINERJA PEMBINA/PENANGGUNG JAWAB (Nilai Maksimum 230)

Dalam dokumen LAKIP SETAMA 2015 FINAL (Halaman 69-82)