METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian
HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaraan Umum Lokasi Penelitian
4.5. Perbandingan Tekanan Darah Pada Perokok Nikotin Tinggi dan Nikotin Rendah
Untuk melihat perbandingan pada ke 2 kelompok penelitian yang paling berpengaruh terhadap tekanan darah dari rokok yang mengandung nikotin tinggi atau nikotin rendah maka dibandingkan antara sebelum merokok dan sesudah merokok dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.8. Perbandingan Tekanan Darah Pada Perokok Nikotin Tinggi dan Nikotin Rendah Sebelum Merokok Dengan sesudah Merokok di Lingkungan I Kelurahan Pulo Brayan Kecamatan Medan Barat Kotamadya Medan Tahun 2009
Perbandingan Tekanan Darah
Nikotin Tinggi Nikotin Rendah
Sistol (mmHg) SebelumMerokok Sesudah merokok Sebelum Merokok Sesudah merokok
Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase
< 130 23 76,6 9 30,0 28 93,3 14 46,7 > 130 7 23,4 21 70,0 2 6,7 16 53,3 Total 30 100 30 100 30 100 30 100 Diastol (mmHg) < 85 30 100 10 33,3 30 100 24 80,0 > 85 0 0 20 66,7 0 0 6 20,0 Total 30 100 30 100 30 100 30 100
Berdasarkan Tabel 4.8 diatas dapat dilihat sebelum merokok tekenan darah sistol paling banyak pada klasifikasi normal = < 130 mmHg sebanyak 23 orang (76.6%), sedangkan sesudah merokok tekanan darah sistol paling banyak pada klasifikasi normal tinggi = > 130 mmHg sebanyak 21 orang (70,0%). Untuk nikotin rendah sebelum merokok tekanan darah sistol paling banyak pada klasifikasi normal = < 130 mmHg sebanyak 28 orang (93,3%) sedangkan sesudah merokok tekanan darah sistol paling banyak pada klasifikasi Normal tingg = > 130 mmHg sebanyak 16 orang (53,3%).
Pada perokok nikotin tinggi sebelum merokok tekanan darah diastol seluruhnya pada klasifikasi normal = < 85 mmHg sebanyak 30 orang (100,0%), setelah merokok tekanan darah diastol paling banyak pada klasifikasi normal tinggi = < 85 mmHg sebanyak 20 orang (66,7%). Pada perokok nikotin rendah sebelum merokok tidak mengalami kenaikan tekanan darah diastol seluruhnya pada klasifikasi normal = < 85 mmHg, sedangkan setelah merokok tekanan darah diastol paling banyak pada klasifikasi normal = < 85 mmHg sebanyak 24 orang (80,0%). Untuk rokok nikotin rendah tidak terlalu berpengaruh terhadap tekanan darah diastol. Berdasarkan hasil perbandingan
tekanan darah antara perokok nikotin tinggi yang mengalami kenaikkan tekanan darah sebanyak 21 orang (70,0%) dengan nikotin rendah sebanyak 16 orang (53,3%) diperoleh selisih 5 orang (16,7%), yang paling mempengaruhi kenaikkan tekanan darah adalah rokok yang mengandung nikotin tinggi. Untuk melihat penurunan tekanan darah maka dibandingkan sebelum merokok dengan 20 menit setelah berhenti merokok dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.9. Perbandingan Tekanan Darah Pada Perokok Nikotin Tinggi dan Nikotin Rendah Sebelum Merokok Dengan 20 Menit Setelah Berhenti Merokok di Lingkungan I Kelurahan Pulo Brayan Kecamatan Medan Barat Kotamadya Medan Tahun 2009
Perbandingan TD
Nikotin Tinggi Nikotin Rendah
Sistol (mmHg) Sebelum Merokok 20 menit Setelah
berhenti merokok
Sebelum Merokok 20 menit Setelah
berhenti merokok
Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase
< 130 23 76,6 21 70 28 93,3 30 100 > 130 7 23,4 9 30 2 6,7 0 0 Total 30 100 30 100 30 100 30 100 Diastol (mmHg) < 85 30 100 20 66,7 30 100 29 96,7 > 85 0 0 10 33,3 0 0 1 3,3 Total 30 100 30 100 30 100 30 100
Berdasarkan Tabel 4.9 diatas dari 30 responden pada rokok nikotin tinggi dapat dilihat bahwa tekanan darah sistol sebelum merokok paling banyak pada klasifikasi normal = < 130 mmHg sebanyak 23 orang (76,6%) dan 20 menit setelah berhenti merokok yang mengalami penurunan sebanyak 21 orang (70,0%). Sedangkan pada perokok nikotin rendah tekanan darah sistol sebelum merokok paling banyak pada klasifikasi normal = < 130 mmHg sebanyak 28 orang (93,3%) dan 20 menit setelah berhenti merokok tekanan darah kembali ke normal sebanyak 30 orang (100%)
Untuk perokok nikotin tinggi tekanan darah diastol sebelum merokok paling banyak pada klasifikasi normal = < 85 mmHg sebanyak 30 orang (100%) dan setelah 20 menit berhenti merokok paling banyak pada klasifikasi normal = < 85 mmHg sebanyak 20 orang (66,7%). Sedangkan pada perokok nikotin rendah tekanan darah diastol seluruhnya pada klasifikasi normal = < 85 mmHg sebelum merokok sebanyak 30 orang (100%) dan setelah 20 menit berhenti merokok sebanyak 29 orang (96,7%), 1 responden tetap pada klasifikasi normal tinggi.
BAB V PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Responden
Hasil penelitian yang dilakukan di Lingkungan I Kelurahan Pulo Brayan Kota Kecamatan Medan Barat Kotamadya Medan dari 60 orang yang dijadikan sampel penelitian, diperoleh bahwa responden pada umumnya terletak pada kelompok umur 21 - 25 tahun sebanyak 31 orang (51,7%) dan yang paling sedikit berada pada kelompok umur 15 – 20 tahun sebanyak 13 Orang (21,7%). Dimana keadaan tersebut adalah merupakan masa produktivitas, namun mereka tidak menyadari kerugian yang akan ditimbulkan akibat rokok tersebut.
Menurut Taylor (1999), mengatakan selama beberapa waktu, merokok digambarkan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kejantanan. Hal tersebut yang menambah peningkatan konsumsi rokok
Tingkat pendidikan responden paling banyak Akademi/Perguruan Tinggi 21 Orang (35%) dan yang paling sedikit responden tamat SD 7 Orang (17,7%), Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden sudah baik, hal ini berarti bahwa responden sudah mempunyai wawasan yang cukup luas dan mampu memilih yang baik serta menghindari suatu hal yang dapat merugikan kesehatan, namun tingginya tingkat pendidikan responden tidak mempengaruhi perilaku kebiasaan merokok karena walaupun mereka mengetahui merokok dapat menyebabkan gangguan kesehatan, namun responden tetap mengkonsumsi rokok dan mengatakan lebih baik merokok daripada makan dan susah untuk meninggalkan kebiasaan merokok karena sudah ketergantungan. Hal ini sesuai dengant Hoepoedio (2006), yang mengemukakan bahwa kebiasaan mengkonsumsi
rokok dapat menimbulkan berbagai resiko penyakit, namun sulit untuk dihentikan dan merupakan kebiasaan tanpa tujuan positif bagi kesehatan manusia.
Responden pada umumnya belum bekerja sebanyak 23 orang (38,3%) karena dominan mahasiswa sedangkan yang bekerja paling banyak sebagai pegawai swasta 18 orang (30%) dan yang paling sedikit PNS 1 orang (1,7%). Bagi responden yang tidak bekerja, uang yang digunakan untuk membeli rokok diperoleh dari orang tua yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan hal-hal yang bersifat positif, namun berdasarkan wawancara diperoleh keterangan bahwa mereka membeli rokok tanpa pengetahuan orang tuanya. Selain dampak negatif merokok terhadap masalah kesehatan yang menyebabkan kematian, ditemukan juga dampak negatif merokok bagi pengeluaran rumah tangga dibuktikan hasil analisis data survei sosial ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik tahun 2003. Biaya yang dikeluarkan penduduk Indonesia untuk rokok adalah dua kali lebih besar dari pada biaya pendidikan dan tiga kali lebih besar dari pada anggaran kesehatan, itu belum termasuk biaya pengobatan yang harus dikeluarkan akibat terganggunya kesehatan karena merokok (Depkes RI, 2007).
Pendapatan responden berada antara 1.000.000 – 1.500.000 sebanyak 15 orang (40,5%). Biaya untuk membeli rokok / bulan Rp. 250.000 – 500.000 Sebanyak 33 orang (55,0%). Responden menyisihkan sepertiga hingga setengah pendapatnya hanya untuk membeli rokok. Tingginya kerugian ekonomi akibat rokok setahunnya di dunia kurang lebih 200 milyar dolar Amerika. Menurut WHO memperkirakan bahwa Negara – negara berkembang menghabiskan sampai seperempat dari penghasilan untuk rokok dan hal ini sesuai dengan Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2003 – 2005 membuktikan, konsumsi rumah tangga miskin untuk tembakau menduduki rating kedua (12,43%). Jadi
untuk keperluan membeli tembakau keluarga miskin mengalokasikan 15 kali lipat dari keperluan lainya.
Jumlah rokok/hari yang dihisap responden 11 – 21 batang sebanyak 28 orang (46,7%), sementara semakin banyak jumlah rokok yang dikonsumsi maka akan lebih cepat menyebabkan gangguan kesehatan. Hal ini sesuai dengan hasil temuan dari peneliti Belanda mengatakan menghisap 21 batang rokok atau lebih per hari meningkatkan risiko penyakit empat kali lipat (Handoko, 2008)
Responden sebagian besar sudah mengkonsumsi rokok selama 0 – 5 Tahun sebanyak 33 orang (55,0%) dan yang sudah mengkonsumsi rokok selama 11 – 15 tahun adalah 3 orang (5,0%), dimana bila diambil selisih tahun lamanya merokok dengan umur sekarang dominan responden sudah mulai merokok pada umur 10 tahun karena terpengaruh teman, lingkungan dan sudah ketergantungan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Airlangga tahun 2008, melaporkan usia pertamakali merokok adalah 10 tahun. Penelitian terbaru yang dilakukan secara bersama oleh Univeritas Andalas, UGM, dan Universitas Padjajaran melaporkan bahwa usia anak pertama kali merokok telah menyentuh angka tujuh tahun. Selain itu Indonesia belum memiliki peraturan perundang–undangan yang secara tegas mengatur upaya perlindungan anak dibawah 18 tahun dari bahaya rokok. Bahkan dalam PP No. 23/20002 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan, tidak ada satu pasal yang melarang penjualan rokok kepada anak dibawa usia ( Tulus, 2008).
Responden yang mempunyai kebiasaan memeriksakan tekanan darah sebanyak 4 orang (6,7%), hal ini membuktikan bahwa kurangnya kesadaran untuk memeriksakan status kesehatannya. Padahal lingkungan I sangat dekat dengan Puskesmas, RS Swasta
dan RS Negeri serta klinik. Menurut Depkes RI (2003), Mengemukakan bahwa masih banyak diantara anggota masyarakat di Indonesia yang tidak memahami dengan benar akan bahaya merokok bagi kesehatan. Salah satu kesulitan untuk mengkomunikasikan resiko kesehatan adalah tenggang waktu 20 – 25 tahun yang dibutuhkan sejak seseorang mulai merokok sampai timbulnya berbagai macam penyakit akibat rokok, misalnya kanker paru.
Responden yang mempunyai riwayat penyakit yang pernah diderita atau keluarga yang mempunyai penyakit hipertensi hanya 2 orang (3,3%) dan 58 responden lainnya tidak mempunyai atau menderita riwayat penyakit.