Analisis Sensori Off-Odor
3. PERBEDAAN GALUR TERNAK DAN LEMAK PAKAN TERHADAP PERFORMA TERNAK ITIK TERHADAP PERFORMA TERNAK ITIK
Pendahuluan
Di Indonesia, umumnya peternak memelihara itik untuk produksi telur saja, sebab daging itik belum banyak permintaannya oleh masyarakat. Oleh sebab itu peternak baru menjual ternak itiknya setelah produksi telurnya mulai menurun, yang disebut sebagai itik afkir. Meskipun saat ini terdapat upaya untuk memperkenalkan daging itik melalui pengembangan itik-itik yang berpotensi penghasil daging, seperti itik peking, mandalung (tik-tok), namun konsumennya masih terbatas, belum begitu merakyat. Salah satu kendala mengapa daging itik begitu lambat diterima oleh konsumen, karena banyak konsumen tidak menyukai bau daging itik. Menurut mereka daging itik memiliki bau amis atau anyir, tidak seperti daging ayam.
Indonesia memiliki banyak galur itik. Nama-nama galur itik tersebut umumnya sesuai dengan tempat dimana galur tersebut dikembangbiakkan. Galur-galur itik tersebut antara lain, galur itik alabio berasal dari Kalimantan, dan galur itik cihateup dari Jawa Barat, yakni dari Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Kedua galur itik tersebut berbadan besar, sesuai dengan salah satu ciri itik penghasil daging yang baik. Itik cihateup dapat dibedakan dengan itik alabio selain dari warna bulu, juga dari bentuk postur tubuh. Itik cihateup memiliki postur tubuh yang hampir tegak pada saat berdiri atau berjalan.
Penyebab bau amis (off-odor) pada daging itik diakibatkan oleh beberapa faktor, dua diantaranya yaitu faktor spesies ternak (genetik) dan faktor pakan (Sink 1979; Heath dan Reineccius 1986). Pada penelitian ini, faktor-faktor berpengaruh terhadap bau daging itik yang dipelajari yaitu untuk faktor genetik adalah galur ternak; sedangkan faktor pakan adalah jenis lemak pakan. Galur ternak itik yang diteliti, yaitu galur itik alabio dan galur itik cihateup. Jenis lemak yang diteliti yaitu lemak sapi, minyak kedelai, dan minyak kelapa. Kedua faktor tersebut (galur ternak dan jenis lemak) diduga tidak saja mempengaruhi kualitas bau pada daging itik, akan tetapi dapat pula mempengaruhi performa ternak.
Oleh sebab itu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kedua faktor tersebut, maka sebelum sampai pada pengkajian intensitas dan karakteristik
terlebih dahulu menganalisis performa ternak yang mencakup konsumsi ransum, konversi ransum, bobot badan, pertumbuhan dan kualitas karkas.
Bahan dan Metode
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bagian IPT Unggas, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB. Lama penelitian empat bulan yakni dari Agustus hingga Desember 2004.
Ternak Percobaan
Sebanyak 80 ekor meri (anak itik umur sehari) jantan yang terbagi atas 40 ekor meri alabio, dan 40 ekor meri cihateup, digunakan dalam penelitian ini. Meri alabio diperoleh dari Balai Penelitian Ternak Ciawi; sedangkan, meri cihateup diperoleh dari Laboratorium Ternak unggas Fakultas Peternakan, IPB.
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan dalam percobaan faktorial dua faktor, dan dirancang berdasarkan metode rancangan acak lengkap. Sebagai faktor dalam percobaan ini adalah perbedaan galur itik dan jenis lemak yang dipakai sebagai bahan pakan dalam ransum. Galur ternak itik, sebagai faktor pertama, terdiri atas dua macam galur, yakni galur cihateup dan galur alabio. Faktor kedua terdiri atas empat level atau empat jenis pemberian lemak, yakni tanpa lemak (Ko, kontrol), lemak jenuh yang bersumber dari minyak kelapa (MKp) dan lemak sapi (LS), serta lemak tidak jenuh yang bersumber dari minyak kedelai (MKd). Setiap kombinasi perlakuan memiliki lima ulangan; dan, setiap ulangannya terdiri atas dua ekor ternak dari galur yang sama.
Sebelum ditempatkan ke dalam kandang perlakuan, ternak dipelihara dalam kandang brooder selama dua minggu dengan pemberian ransum komersil ayam pedaging yang secara bertahap digantikan dengan ransum starter perlakuan. Sesudah masa brooding, ternak-ternak secara acak ditempatkan pada kandang berbentuk kotak (boks) yang disekat dalam petak-petak. Setiap petak kandang berisi dua ekor ternak dari galur yang sama. Ukuran petak kandang (cage) 50 x 50 x 75 cm. Kandang terbuat dari bahan kayu, dan dilengkapi dengan lampu listrik untuk penerangan pada malam hari. Pada saat
penempatan ke dalam kandang-kandang percobaan, ternak ditimbang dan diberi nomor sayap.
Ransum Percobaan
Ternak diberi ransum yang disusun berdasarkan standar NRC (1994) dengan memperhatikan kebutuhan ternak menurut periode pertumbuhan, yaitu periode starter/grower (awal pertumbuhan) dan finisher (akhir pertumbuhan). Komposisi bahan pakan dari masing-masing perlakuan penggunaan lemak dan minyak disajikan pada Tabel 4. Ransum untuk masing-masing perlakuan tersebut disusun secara iso-kalori dan iso-nitrogenus. Protein untuk ransum
starter 20% dan finisher 16%. Kandungan energi metabolis (EM) untuk kedua ransum yaitu 3000 kkal/kg. Kandungan protein dan energi ransum perlakuan disajikan dalam Tabel 5. Komposisi nutrisi mineral dan vitamin dari ransum perlakuan disenaraikan dalam Tabel 6; sedangkan komposisi asam-asam lemaknya disenaraikan dalam Tabel 7.
Pemberian ransum perlakuan dalam masa periode awal pertumbuhan (starter-grower) mulai dari umur dua sampai lima minggu. Setelah itu dilanjutkan dengan ransum periode akhir pertumbuhan (finisher) dari umur lima sampai sepuluh minggu. Pemberian ransum dalam bentuk tepung (all mash) dan air minum ad libitum. Komposisi bahan dan nilai nutrisi pakan disajikan pada Tabel 4. Pada fase awal pertumbuhan (starter), ternak-ternak percobaan diberi ransum sebanyak 50 gram/hari/ekor pada saat umur ternak kurang dari satu minggu, kemudian pada umur minggu kedua, ransum diberikan sebanyak 100 – 125 gram/hari/ekor. Pemberian ransum 2 – 3 kali per hari. Pengukuran sisa ransum dilakukan setiap pagi, bersamaan dengan pembersihan kandang. Masa pemeliharaan starter selama lima minggu. Pada umur pemeliharaan empat minggu, secara bertahap ransum starter digantikan dengan ransum akhir pertumbuhan (finisher). Secara penuh ransum finisher mulai diberikan pada umur pemeliharaan ternak lima minggu. Prosedur pemberian dan pengukuran sisa ransum dilakukan sebagaimana pada prosedur pemeliharaan ternak periode
starter. Pemberian ransum sebanyak 150 – 200 gram/hari/ekor.
Penimbangan ternak untuk masing-masing individu dilaksanakan setiap minggu pada hari dan waktu yang sama sampai pada akhir masa penelitian. Pemotongan ternak dilaksanakan saat periode pemeliharaan 10 minggu, atau umur ternak 12 minggu. Prosedur pemotongan dikondisikan agar ternak tidak mengalami stres yang berlebihan.
Tabel 4 Susunan bahan pakan ransum percobaan masing-masing perlakuan*
Ransum pertumbuhan awal Ransum pertumbuhan akhir
Bahan makanan (%)
Ko LS MKd MKp Ko LS MKd MKp
Jagung kuning 11.67 10.00 10.00 10.00 34.80 15.00 15.00 15.00
Tepung tapioka 31.20 10.22 5.00 7.05 15.00 11.52 7.00 7.00
Lemak sapi (tallow) 0.00 7.50 0.00 0.00 0.00 7.50 0.00 0.00
Minyak kedelai 0.00 0.00 7.50 0.00 0.00 0.00 7.50 0.00
Minyak kelapa 0.00 0.00 0.00 7.50 0.00 0.00 0.00 7.50
CGM (corn gluten meal) 10.00 9.50 7.92 8.64 7.50 5.00 5.00 5.00
Bkl.kacang kedelai 23.30 18.33 18.07 18.26 9.51 11.85 9.70 9.71
Tepung gandum 10.00 15.46 11.48 8.68 17.46 12.63 5.83 7.55
Pollard gandum 10.00 25.11 36.00 36.00 11.93 32.87 46.03 44.27
Garam dapur (NaCl) 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25
Dikalsium fosfat (DCP) 1.50 1.50 1.50 1.50 1.25 1.25 1.25 1.25 Tepung kapur 0.30 0.51 0.53 0.52 0.58 0.51 0.77 0.78 DL-metionina 0.07 0.06 0.08 0.08 0.06 0.09 0.10 0.10 L-lisina 0.56 0.40 0.50 0.37 0.23 0.11 0.13 0.14 L-treonina 0.13 0.14 0.16 0.14 0.41 0.41 0.42 0.42 L-triptofan 0.02 0.02 0.01 0.01 0.02 0.01 0.02 0.03 Vitamin Mix 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 Mineral Mix 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 0.50 TOTAL (%) 100 100 100 100 100 100 100 100
*Disusun berdasarkan pada Bahan Kering 90% menurut NRC (1994). Ko: Kontrol, LS: lemak sapi, MKd: minyak kedelai; MKp: minyak kelapa
Tabel 5 Komposisi nutrisi ransum percobaan1
Ransum pertumbuhan awal Ransum pertumbuhan akhir
Komposisi nutrisi Ko LS MKd MKp Ko LS MKd MKp Energi Metabolis, (kkal/kg) 3000 3000 3000 3000 3000 3000 3000 3000 Protein Kasar (%) 20.00 20.02 20.01 20.01 16.03 16.02 16.02 16.03 Serat Kasar (%) 4.47 5.22 6.08 6.08 4.01 5.45 6.35 6.21 Lemak Kasar (%) 1.76 9.52 9.80 9.79 2.38 9.86 10.18 10.14 Abu (%) 2.51 3.10 3.58 3.57 2.15 3.03 3.53 3.46 ADF (%) 3.88 5.60 6.72 6.70 4.15 5.96 7.31 7.14 Kalsium (Ca, %) 0.65 0.67 0.68 0.68 0.61 0.61 0.70 0.71 Pospor (P, % tersedia) 0.44 0.44 0.44 0.45 0.37 0.38 0.39 0.39
1Hasil kandungan nutrisi diperoleh berdasarkan perhitungan.
Ko: kontrol, LS: lemak sapi, MKd: minyak kedelai, MKp: minyak kelapa, ADF: acid detergent fiber
Tabel 6 Komposisi nutrisi mineral dan vitamin ransum percobaan1
Ransum pertumbuhan awal Ransum pertumbuhan akhir
Komposisi nutrisi Ko LS MKd MKp Ko LS MKd MKp Na (%) 0.23 0.28 0.32 0.32 0.20 0.29 0.34 0.33 Cl (%) 0.18 0.19 0.20 0.20 0.19 0.19 0.20 0.20 Zn (mg/kg) 30.00 45.83 55.48 54.68 31.00 49.53 60.24 59.01 Fe (mg/kg) 85.11 89.94 89.42 91.24 73.81 70.77 74.67 74.19 Se (mg/kg) 0.26 0.33 0.34 0.34 0.25 0.29 0.31 0.31 Lisina (%) 1.29 1.12 1.22 1.12 0.72 0.71 0.71 0.71 Metionina (%) 0.43 0.41 0.42 0.42 0.35 0.35 0.36 0.36 Metionina +Cys (%) 0.77 0.77 0.76 0.77 0.65 0.63 0.62 0.63 Arginina (%) 1.17 1.22 1.27 1.27 0.89 1.02 1.05 1.04 Treonina (%) 0.82 0.81 0.82 0.81 0.90 0.90 0.90 0.90 Triptofan (%) 0.26 0.26 0.26 0.26 0.18 0.20 0.21 0.22 Riboflavin (mg/kg) 2.83 5.22 6.92 6.90 3.07 6.23 8.25 7.98 Vitamin E (mg/kg) 10.00 12.25 13.90 13.77 14.27 13.59 15.78 15.57 Karoten (mg/kg) 1.89 1.77 1.51 1.62 1.88 1.12 1.11 1.11
1Data diperoleh melalui perhitungan.
Tabel 7 Komposisi asam-asam lemak ransum percobaan1
Ransum pertumbuhan awal Ransum pertumbuhan akhir
Ko LS MKd MKp Ko LS MKd MKp Asam lemak --- % --- Laurat (C12:0) - - - 3.55 - - - 3.55 Miristat (C14:0) - - 0.01 1.25 - - 0.01 1.25 Palmitat (C16:0) 0.29 2.31 1.19 0.99 0.43 2.33 1.22 1.03 Stearat (C18:0) 0.03 1.73 0.31 0.34 0.05 1.73 0.33 0.34 Total ALJ 0.32 4.04 1.51 6.13 0.48 4.06 1.56 6.17 Palmitoleat (C16:1) 0.01 0.33 0.03 0.01 0.01 0.33 0.02 0.01 Oleat (C18:1) 0.33 3.19 2.15 0.79 0.61 3.24 2.21 0.85 Total ALTJT 0.34 3.52 2.18 0.80 0.62 3.57 2.23 0.86 Linoleat (C18:2) 0.69 0.93 4.89 1.21 1.11 1.05 5.03 1.35 Linolenat (C18:3) 0.05 0.09 0.59 0.07 0.07 0.10 0.59 0.08 Total ALTJG 0.74 1.02 5.48 1.28 1.18 1.15 5.62 1.43
Total asam lemak 1.40 8.58 9.17 8.21 2.28 8.78 9.41 8.46 1
Data diperoleh melalui perhitungan,
Ko: kontrol, LS: lemak sapi, MKd: minyak kedelai, MKp: minyak kelapa, ALJ = Asam lemak jenuh, ALTJT: Asam lemak tidak jenuh tunggal, ALTJG: Asam lemak tidak jenuh ganda
Tabel 8 Komposisi asam-asam lemak bahan pakan sumber lemak Komposisi Asam Lemak
Lemak sapi (%) Minyak kelapa(%) Minyak kedelai (%)
Jenis asam lemak
A3 B4 A3 B4 C5 B4 Laurat (C12:0) 0.51 - 48.98 47.40 - - Miristat (C14:0) 5.35 3.30 17.19 18.00 - - Palmitat (C16:0) 22.66 26.20 8.15 8.00 12.00 11.5 Stearat (C18:0) 27.94 22.40 2.29 2.80 3.40 4.3 Arakidat (C20:0) - - - - 0.20 - Total ALJ1 56.46 51.90 76.61 76.20 15.60 15.8 Palmitoleat (C16:1) 2.03 - - - 0.50 - Oleat (C18:1) 34.18 45.30 5.66 5.60 23.00 27.3 Linoleat (C18:2) 0.85 1.60 1.66 1.60 52.30 49.7 Linolenat (C18:3) 0.43 0.50 - - 8.60 6.9 Arakidonat (C20:4) - - - Total ALTJ2 37.49 47.40 7.32 7.20 84.40 83.9
Rasio ALTJ / ALJ 0.66 0.91 0.09 0.09 5.41 5.31
1ALJ: asam lemak jenuh; 2ALTJ: asam lemak tidak jenuh.
3Hasil analisis Laboratorium Kimia Pangan, Fateta IPB.
4Menurut Leeson dan Summers (2001). Nutrition of the Chicken.
Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang ditetapkan untuk mengukur performa ternak coba terdiri atas: bobot badan awal, bobot badan akhir (bobot potong), pertambahan bobot badan (laju pertumbuhan), konsumsi ransum, konversi ransum, bobot karkas, bobot dan persentase komponen karkas, persentase bobot hati, persentase bobot lemak abdomen, dan persentase bobot tunggir.
Analisis Statistik
Analisis statistik yang digunakan untuk mengolah data pertumbuhan dan produksi ternak yaitu menggunakan prosedur ANOVA dengan pola Two Ways dan General Linear Model (GLM). Sebelum melaksanakan Analisis Sidik Ragam, data yang akan dianalisis terlebih dahulu diuji sebaran normalnya dengan uji Bartlett, dan diukur pula koefisien keragamannya. Pada beberapa data tertentu, terutama yang menggunakan perhitungan persentase, dilakukan transformasi sebelum pelaksanaan analisis ragam. Semua pekerjaan analisis ini menggunakan Software Minitab Release 14.1 for Windows. Beberapa hasil perhitungan analisis ragam dan analisis statistik lainnya yang dilakukan dengan komputerisasi disajikan pada bagian lampiran.