BAB II : TINJAUAN UMUM PERIHAL IMPEACHMENT
C. Persamaan dan Perbedaan Mekanisme Impeachment
2. Perbedaan Mekanisme Impeachment Indonesia dan Iran
Indonesia dan Iran memiliki poin perbedaan dalam mekanisme
impeachment, diantaranya:
a. Konstitusi Indonesia atau UUD 1945 dalam penyusunannya disusun dalam kondisi darurat. Karenanya UUD 1945 merupakan konstitusi terpendek dari negara-negara lain meskipun sudah mengalami empat kali perubahan. UUD 1945 menyatakan bentuk negaranya adalah Republik yang menganut sistem demokrasi yang dijabarkan pada pasal 1 ayat (2) UUD NRI 1945 tentang kedaulatan berada di tangan rakyat. b. Konstitusi Iran atau UUD RII dalam penyusunannya mengalami
perdebatan panjang karena antara Imam Khumaini dan para ulama lain yang mendukung demokrasi berselisih faham pada penamaan negara dan ajaran yang dianutnya. Iran dalam konstitusinya menyatakan bahwa bentuk negaranya adalah Republik Islam Iran, mengakui kedaulatan rakyat dan kedaulatan Tuhan dan memadu-padankan antara keduanya. c. UUD 1945 Mengatur secara rinci bagaimana proses impeachment
terhadap Presiden dan/atau Wakil Presiden yang dicantumkan secara eksplisit dalam Pasal 7A dan Pasal 7B meskipun demikian terdapat ketidakjelasan konsep impeachment dalam UUD 1945 menimbulkan perdebatan penafsiran yang secara mudah dimanipulasi untuk
kepentingan politik kelompok atau individu tertentu. sedangkan Konstitusi Iran hanya menyebutkan bahwa kewenangan Wali Faqih adalah memecat Presiden jika Presiden terbukti melanggar konstitusi namun dalam hal ini Wali Faqih melakukan pemecatan apabila sudah ada rekomendasi dari Mahkamah Agung setelah melalui pengadilan umum yang diketahui oleh Majelis Permusyawaratan Islam.
91
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan dengan penjabaran yang telah penulis paparkan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa poin sebagai berikut: 1. Mekanisme impeachment di Indonesia memiliki beberapa perbedaan
sebelum dan sesudah amandemen yang disesuaikan dengan kedudukan dan kewenangan Presiden pada masa itu, yakni sebelum perubahan UUD 1945 dan sesudah perubahan UUD 1945. Mekanisme impeachment pada masa sebelum perubahan UUD 1945 tidak diatur secara rinci dalam UUD namun berkaitan dengan kedudukan Presiden sebagai mandataris MPR, maka MPR berhak untuk menurunkan Presiden berdasarkan Sidang Istimewa dengan alasan Presiden telah melanggar Haluan Negara. Setelah perubahan UUD 1945 yaitu amandemen keempat, mekanisme impeachment diatur secara eksplisit dalam UUD 1945 yaitu terdapat dalam Pasal 7A dan 7B. Adapun mekanisme impeachment di Iran yaitu setelah adanya Revolusi besar-besaran tahun 1979, Imam Khumaini dengan para ulama lainnya merumuskan konstitusi negara Iran yang memuat didalamnya kewenangan Wali Faqih sebagai Pemimpin tertinggi negara Iran memiliki kewenangan untuk memecat atau meng-impeach Presiden apabila Presiden terbukti melanggar konstitusi dan ajaran Islam.
2. Secara ringkas proses impeachment di MPR dapat digambarkan sebagai berikut: a). MPR menggelar Sidang Paripurna untuk membahas Putusan
Mahkamah Konstitusi yang membenarkan pendapat DPR, selambat-lambatnya 30 hari setelah menerima putusan. b). Presiden dan/atau Wakil Presiden wajib hadir untuk memberikan keterangan. c). Rapat paripurna MPR dengan kuorum sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota dapat mengambil keputusan, yang mungkin berupa: Ditolak, yang berarti Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak diberhentikan dari jabatannya, atau Diterima, dengan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir, yang berarti Presiden dan/atau Wakil Presiden diberhentikan dari jabatannya sebelum masa jabatannya berakhir. Adapun kewenangan Wali Faqih dalam mekanisme impeachment Presiden di Iran memang tidak disebutkan secara rinci di dalam konstitusi namun menurut pasal 110 konstitusi 1979 memberi tugas dan kekuasaan untuk merujuk fuqaha pada Dewan Perwalian, wewenang pengadilan yang tertinggi, untuk mengangkat dan memberhentikan panglima tertinggi angkatan bersenjata dan pasukan pengawal Revolusi Islam, untuk menyatakan keadaan perang dan damai, untuk menyetujui kelayakan calon-calon presiden dan untuk memberhentikan presiden Republik Islam Iran berdasarkan pada rasa hormat terhadap kepentingan negara.
3. Pada dasarnya kedua negara ini memiliki persamaan dan perbedaan dalam konsep impeachment. Persamaannya adalah: a). Pengaturan mekanisme
impeachment terdapat dalam konstitusi negara. b). Berdasarkan pengalaman kedua negara tersebut terdapat unsur kesadaran diantara para politisi bahwa
93
terhadap kekuasaan eksekutif negara. c). Proses impeachment yang dilangsungkan baik yang terjadi kepada Presiden Soekarno, Presiden Abdurrahman Wahid di Indonesia maupun Presiden Abol Hasan Bani Sadr di Iran, terdapat sebuah kesimpulan bahwa proses impeachment selalu diliputi oleh persaingan dan perselisihan politik diantara para politisi dengan penguasa eksekutif.
Hal yang paling mendasar dalam persamaan di atas adalah alasan politiklah yang dapat dianalogikan sebagai alasan hukum untuk
meng-impeach seorang Presiden.
Indonesia dan Iran memiliki poin perbedaan dalam mekanisme
impeachment, diantaranya: a). Konstitusi Indonesia atau UUD 1945 dalam penyusunannya disusun dalam kondisi darurat. Karenanya UUD 1945 merupakan konstitusi terpendek dari negara-negara lain meskipun sudah mengalami empat kali perubahan. UUD menyatakan bentuk negara nya adalah Republik yang menganut sistem demokrasi yang dijabarkan pada pasal tentang kedaulatan rakyat. b). Konstitusi Iran dalam penyusunannya mengalami perdebatan panjang karena antara Imam Khumaini dan para ulama lain yang mendukung demokrasi berselisih faham pada penamaan negara dan ajaran yang dianutnya. Iran dalam konstitusinya menyatakan bahwa bentuk negaranya adalah Republik Islam Iran, mengakui kedaulatan rakyat dan kedaulatan Tuhan dan memadu-padankan antara keduanya. c). UUD 1945 Mengatur secara rinci bagaimana proses impeachment terhadap Presiden dan/atau Wakil Presiden yang dicantumkan secara eksplisit dalam
Pasal 7A dan Pasal 7B meskipun demikian terdapat ketidakjelasan konsep
impeachment dalam UUD 1945 menimbulkan perdebatan penafsiran yang secara mudah dimanipulasi untuk kepentingan politik kelompok atau individu tertentu. sedangkan Konstitusi Iran hanya menyebutkan bahwa kewenangan Wali Faqih adalah memecat Presiden jika Presiden terbukti melanggar konstitusi.
B. Saran-Saran
Dari penjabaran kesimpulan yang penulis paparkan, ada beberapa saran yang penulis harap bisa menjadi masukan dalam proses pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden, yaitu:
1. Penelitian dan kajian seputar impeachment dan perbandingan mekanismenya antara satu negara dengan negara lain masih jarang ditemukan dalam lingkup akademik di Indonesia, khususnya dalam bentuk skripsi, tesis, maupun disertasi. Mengingat nilai pentingnya, perlu kiranya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai mekanisme impeachment
berbagai negara.
2. Di tengah problem politik di saat ini, penelitian dalam skripsi ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan evaluasi bagi partai politik yang ingin menjadi pileg atau pilpres dalam memenuhi syarat sebagai penguasa, mengingat pentingnya syarat-syarat pemimpin baik di Indonesia maupun di Iran.
95
3. Skripsi ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan evaluasi bagi praktik perpolitikan di Indonesia dan Iran. Terlebih dalam mekanisme
impeachment dengan mewujudkan good governance and clean
95
A. Buku
A. Djazuli, Fiqih Siyasah, Implementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-Rambu Syariah, Cet.III, Jakarta: Kencana, 2007.
Amirudin, dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, cet.I, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
An-Naisabury, Muslim, Shahih Muslim Syarah an-Nawawy, Cet III, Jilid XII, Beirut: Darul Fikri, 1978.
Ash-Shadr, Sayyid Muhammad Baqir, Sistem Politik Islam, Cet ke-1, Jakarta: Lentera, 2001.
Ashshiddiqie, Jimly, Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia, Edisi Revisi
Jakarta: Sekretariat Jenderal dan kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2006,
Azhary, Tahir, Beberapa Aspek Hukum Tata Negara, Hukum Pidana, dan Hukum Islam (Menyambut 73 Tahun Prof. Dr. H. Muhammad Tahir Azhary, SH.),
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012.
Esposito, John L., Demokrasi di Negara-Negara Muslim: Problem dan Prospek,
Penerjemah Rahmani Astuti, Bandung: Mizan anggota IKAPI, 1996. Fajar, Abdul Mukhtie, Hukum Konstitusi dan Mahkamah Konstitusi, Yogyakarta:
Konstitusi Press, 2006.
Faris, Muhammad Abdul Qodir Abu, Sistem Politik Islam, Jakarta: Robbani Press, 1999.
Fuady, Munir, Teori Negara Hukum Modern (Rechstaat), Bandung: Refika Aditama, 2009
Ghoffar, Abdul, Perbandingan Kekuasaan Presiden Indonesia setelah Perubahan UUD dengan Delapan Negara Maju, Jakarta: Kencana, 2009.
Goodman, Amy & David Goodman, Perang Demi Uang, Bandung, Mizan, 2005. Harjono dan Maruar Siahaan, Mekanisme Impechment dan Hukum Acara
Mahkamah Konstitusi, cet. I, Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengkajian Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2005.
Indonesia, Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik, Jejak Langkah MPR dalam Era Reformasi. Gambaran Singkat Pelaksanaan Tugas dan Wewenang MPR RI Periode 1999-2004, Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2004.
Indrayana, Denny, Amandemen UUD 1945, antara Mitos dan Pembongkaran,
96
Ismail, Yahya, Hubungan Penguasa dan Rakyat dalam Perspektif Sunnah, Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Khomeini, Sistem Pemerintahan Islam, Penerjemah Muhammad Anis Maulachela, Cet ke-1, Jakarta: Pustaka Zahra, 2002.
Al-Mawardy, Al- Ahkam AL-Sulthaniyyah wa al-Wilayah al-Diniyyah,Mesir: Musthafa al-‘Arabi al-Halabi, tt.
Manggalatung, A. Salman dan Nurrohim Yunus, Pokok-Pokok Teori Ilmu Negara, Aktualisasi dalam Teori Negara Indonesia, Bandung: Fajar Media Bandung, 2013.
Moten, Abdul Rasyid, Ilmu Politik Islam, Penerjemah A.Mu’in & Widyawati,
Bandung: Penerbit Pustaka, 2001.
Riri Nazriyah, MPR RI: Kajian Terhadap Produk Hukum dan Prospek di Masa Depan, Yogyakarta: FH UII Press, 2007.
Roestandi, Ahmad, Mahkamah Konstitusi dalam Tanya Jawab, Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2006 Saefuddin, Didin Biografi Intelektual 17 Tokoh Pemikiran Modern dan Posmodern
Islam, (Jakarta: Grasindo, 2003.
Saleh, M. dan Mukhlish, Impeachment Presiden dan/atau Wakil Presiden, (Sebuah Tinjauan Konstitusional), Surabaya: Bina Ilmu, 2010.
Sihbudi, Riza, Biografi Politik Imam Khomeini, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001.
Sirry, Mun’im A., Dilema Islam Dilema Demokrasi: Pengalaman Baru Muslim dalam Transisi Indonesia, Cet-ke-1, Bekasi: Gugus Press, 2002.
Soimin, Impeachment Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia, Yogyakarta: UII Press, 2009.
Sukardja, Ahmad Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara dalam Perspektif Fikih Siyasah, Jakarta: Sinar Grafika, 2012
Sulardi, Menuju Sistem Pemerintahan Presidensial Murni, Malang: Setara Press, 2012.
Thalib, Abdul Rasyid, Wewenang Mahkamah Konstitusi dan Implikasinya dalam Sistem Ketatanegaraan di Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006. Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeini Filsafat Politik Islam, Cet. Ke-1,
Bandung: Mizan, 2002.
Yudho, Winarno, dkk, Mekanisme Impeachment dan Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Jakarta: Konrad Adenauer Stiftung dan Pusat Penelitian dan Pengkajian Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2005.
Penerbit Erlangga, 2008.
Zainuddin, A. Rahman Afadlal, dkk, Syi’ah dan Politik di Indonesia sebuah
penelitian, Cet ke-1, Bandung: Penerbit Mizan Anggota IKAPI, 2000. Zakaria, Muhyiddin Abi, Riyadus Solihin, Penerjemah Muslich Shabir, Surabaya:
Mahkota, tt.
Zoelva, Hamdan, Impeachment Presiden, Alasan-Alasan Tindak Pidana Pemberhentian Presiden Menurut UUD 1945, Jakarta: Konstitusi Press, 2005.
---, Pemakzulan Presiden di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2011.
B. Internet
Indonesia, Wikipedia Bahasa, Artikel diakses pada 06 Juni 2016 dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Abolhassan_Banisadr.
Centre, National Constitution, The Constitution of The United States. E-Pdf,
Diakses Pada 30 Mei 2016 dari:
http://constitutioncenter.org/media/files/constitution.pdf.
Batulicin, Abi Tanah Bumbu, Artikel diakses pada 06 Juni 2016 dari:
http://dpdabitanahbumbu.blogspot.co.id/2014/10/menelisik-sikap-imam-khomeini-terhadap.html.
Repantu, Candiki, “Wilayah Al-Faqih Dalam Konstitusi Iran”. Artikel diakses pada 06 Juni 2016 dari: https://abuthalib.wordpress.com/page/11/.
98
C. Jurnal
Ulum, Muhammad Bahrul Mekanisme Pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden Menurut UUD 1945 (E-Journal Konstitusi Vol. 7), Jakarta: Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi, 2010.
D. UUD
RII, Humas Kedutaan Besar, Undang-Undang Dasar Republik Islam Iran, Jakarta: Humas Keduataan Besar RII, tt.
Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2012.