BAB II LANDASAN TEORI
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
B. Gambaran Umum Proses Seleksi Saham Syariah
2. Perekonomian Indonesia a. Produk Domestik Bruto
36
Laporan Perekonomian Indonesia t ahun 2013 diunduh pada 3 Okt ober 2014 di w w w .bi.go.id
Perekonomian Indonesia memiliki pertumbuhan setiap tahun yang masing-masing sebesar 6,22% (2010), 6,49% (2011), 6,23% (2012)37.
Setiap tahunnya, struktur PDB mengalami perubahan yang mana hal ini menandakan bahwa setiap lapangan usaha tidak selalu memiliki angka kontribusi yang konstan atas PDB, dimana hal ini didasarkan kepada kondisi perekonomian yang turut mempengaruhi kemampuan setiap lapangan usaha dalam menghasilkan pendapatan. . Berikut ini tabel pertumbuhan PDB dan tabel struktur PDB menurut lapangan usaha (2009-2013) :
Tabel 4.1 PDB menurut Lapangan Usaha
37
Laporan Dat a St rat egis BPS Tahun 2013 diunduh pada 3 Oktober 2014 di w w w .bps.go.id
No Lapangan Usaha Laju Pertumbuhan
2009 2010 2011 2012
1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan
3,96 3,01 3,37 3,97 2. Pertambangan dan Penggalian 4,47 3,86 1,39 1,49 3. Industri Pengolahan 2,21 4,74 6,14 5,73 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 14,2
9
5,33 4,82 6,40
5. Konstruksi 7,07 6,95 6,65 7,50
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran
1,28 8,69 9,17 8,11 7. Pengangkutan dan Komunikasi 15,8
5
13,4 1
10,70 9,98 8. Keuangan, Real Estate, Jasa
Perusahaan
5,21 5,67 6,84 7,15
9. Jasa-jasa 6,42 6,04 6,75 5,24
PDB 4,63 6,22 6,49 6,23
No Lapangan Usaha Persentase Kontribusi
2009 2010 2011 2012 Smt
1-2013
S
Sumber : Badan Pusat Statistik
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sektor industri pengolahan (manufacturing industry) selalu memiliki kontribusi terbesar atas PDB setiap tahunnya dengan angka di atas 20%, yakni 24,80% (2010), 24,33% (2011), 23,94% (2012). Ini menandakan bahwa sektor industry pengolahan merupakan sektor dengan kemampuan menghasilkan pendapatan yang paling besar di antara sektor-sektor yang lain, dan ini juga memberikan sinyal bahwa sektor industri pengolahan di Indonesia adalah sektor yang layak menjadi tujuan investasi. Hal tersebut dapat kita lihat dari angka pertumbuhan PDB setiap tahunnya yang mengalami pertumbuhan rata-rata di atas 6% , yang mana secara tidak langsung menandakan naiknya pendapatan konsumen dan ini juga bisa meningkatkan permintaan konsumen terhadap produk olahan perusahaan,
Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan 0 2. Pertambangan dan Penggalian 10,56 11,16 11,8 5 11,78 10,90 3. Industri Pengolahan 26,36 24,80 24,3 3 23,94 23,71 4. Listrik, Gas dan Air
Bersih 0,83 0,76 0,77 0,79 0,83 5. Konstruksi 9,90 10,25 10,1 6 10,45 10,25 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 13,28 13,69 13,8 0 13,90 14,26 7. Pengangkutan dan Komunikasi 6,31 6,56 6,62 6,66 6,84 8. Keuangan, Real Estate, Jasa Perusahaan 7,23 7,24 7,21 7,26 7,56 9. Jasa-jasa 10,24 10,24 10,5 6 10,78 10,64 PDB 100 100 100 100 100
yang berada di sektor industry pengolahan salah satunya perusahaan pengolahan barang konsumsi (consumer goods).
b. Tingkat Inflasi
Makna inflasi adalah persentase tingkat kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang secara umum dikonsumsi rumah tangga. Ada barang/jasa yang harganya naik dan ada yang tetap. Namun, tidak jarang ada barang/ jasa yang harganya justru turun. Rata-rata tertimbang dari perubahan harga bermacam barang dan jasa tersebut, pada suatu selang waktu tertentu disebut inflasi apabila naik, dan deflasi apabila turun.
Secara umum, penghitungan perubahan harga tersebut tercakup dalam suatu indeks harga yang dikenal dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI). Persentase kenaikan IHK dikenal dengan inflasi, sedangkan penurunannya disebut deflasi.
Inflasi IHK pada tahun 2011 berhasil ditekan pada level yang sangat rendah yaitu 3,79%. Pencapaian tersebut tidak terlepas dari koordinasi berbagai kebijakan yang ditempuh oleh Bank Indonesia dan Pemerintah. Dari sisi Bank Indonesia, kebijakan diarahkan untuk menjangkar ekspektasi inflasi, mengelola permintaan domestik dan mengurangi dampak kenaikan inflasi global akibat kenaikan harga komoditas pangan internasional. Hal ini tercermin dari inflasi inti yang tetap terjaga pada level yang rendah di tengah akselerasi kegiatan ekonomi domestik. Dari sisi Pemerintah, kebijakan diarahkan untuk mendukung
ketahanan pangan dan terjaganya harga energi seperti BBM, listrik dan gas. Hal tersebut tercermin dari keberhasilan dalam menurunkan inflasi volatile food yang sangat signifikan dan inflasi administered prices yang terjaga pada level yang cukup rendah. Rendahnya inflasi volatile food juga dibantu oleh mulai menurunnya harga komoditas pangan global sejak triwulan II-2011. Di tingkat daerah peningkatan koordinasi melalui forum TPID juga cukup efektif dalam membantu penurunan tekanan inflasi sebagaimana tercermin dari penurunan inflasi di hampir semua daerah di Indonesia.38
Pada tahun 2012, inflasi tetap terkendali pada level yang rendah dan berada dalam kisaran sasaran. Terkendalinya inflasi didukung oleh penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang tepat dan koordinasi kebijakan dengan pemerintah yang semakin solid dalam mendorong kestabilan harga.
Pada tahun 2012, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 4,3% (yoy) atau berada di dalam kisaran sasarannya sebesar 4,5%±1%. Capaian inflasi nasional yang lebih rendah dari historisnya didukung oleh inflasi di berbagai daerah.
Tekanan inflasi 2013 meningkat cukup tinggi dipicu kenaikan harga pangan dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi serta beberapa permasalahan struktural yang masih mengemuka. inflasi
38
keseluruhan tahun 2013 tidak melebihi angka dua digit seperti yang terjadi pada periode-periode saat terjadi kenaikan harga BBM bersubsidi di 2005 dan 2008. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tahun 2013 tercatat mencapai 8,4%, lebih tinggi dari inflasi tahun 2012 yang sebesar 4,3%, dan berada di atas kisaran sasaran yang ditetapkan sebesar 4,5%±1%.
Tabel 4.2 Angka Inflasi Indonesia
Tahun Inflasi
2011 3,79 %
2012 4,3 %
2013 8,4%
Sumber : Badan Pusat Statistik
Tekanan inflasi yang selalu meningkat , bahkan pada 2013 mencapai level tertingginya dalam 3 tahun terakhir (2011-2013) merupakan hal yang harus dicermati serta diantisipasi oleh para investor di pasar modal. Investor harus memperhatikan perusahaan yang mereka pilih, karena pada dasarnya inflasi akan meningkatkan pendapatan dan biaya perusahaan , dimana jika biaya perusahaan melebihi pendapatan perusahaan maka akan terjadi penurunan pada sisi profitabilitas perusahaan.39
c. Tingkat Suku Bunga
Tabel 4.3 BI Rate
39
Annisa Fat hih Kurnia,” Analisis Fundam ent as Saham Dalam Keput usan Invest asi di PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk” , (Skripsi S1 Fakult as Syariah dan Hukum, Universit as Islam Negeri Syarif Hidayat ullah Jakart a, 2012), h. 83
Sumber : Bank Indonesia
Selama periode 2011-2013, suku bunga terendah yakni 5,75% terjadi pada waktu yang cukup lama yaitu Februari 2012 - Mei 2013, yang kemudian suku bunga terus naik hingga mencapai level tertingginya yaitu 7,50% pada November-Desember 2013. Seiring meningkatnya suku bunga acuan BI maka dapat dikatakan harga saham akan turun, ini dikarenakan antara tingkat suku bunga dan harga saham memiliki hubungan negatif.40 Karena suku bunga yang tinggi akan mengakibatkan masyarakat cenderung untuk menyimpan uang di bank dibanding melakukan konsumsi dan investasi.
d. Nilai Tukar Rupiah
Ekonomi global 2013 juga diwarnai ketidakpastian di pasar keuangan global terkait isu pengurangan stimulus moneter (tapering off) di
40
Annisa Fat hih Kurnia,” Analisis Fundam ent as Saham Dalam Keput usan Invest asi di PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk” , (Skripsi S1 Fakult as Syariah dan Hukum, Universit as Islam Negeri Syarif Hidayat ullah Jakart a, 2012), h. 86
Bulan Tahun 2011 2012 2013 Januari 6.50% 6.00% 5.75% Februari 6.75% 5.75% 5.75% Maret 6.75% 5.75% 5.75% April 6.75% 5.75% 5.75% Mei 6.75% 5.75% 5.75% Juni 6.75% 5.75% 6.00% Juli 6.75% 5.75% 6.50% Agustus 6.75% 5.75% 6.50% September 6.75% 5.75% 7.25% Oktober 6.50% 5.75% 7.25% November 6.00% 5.75% 7.50% Desember 6.00% 5.75% 7.50%
Amerika Serikat. Gejolak di pasar keuangan yang terjadi memicu aliran modal asing keluar dari negara emerging market menuju negara maju, terutama AS, sejalan dengan munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Indonesia, yang menjadi salah satu tempat penanaman modal portfolio asing, juga tidak terlepas dari dampak rencana tapering off ini, dimana terjadi aliran modal asing yang keluar cukup signifikan dari pasar keuangan domestik. Selain itu, keluarnya aliran modal asing dari Indonesia juga dipicu oleh persepsi negatif investor asing terhadap tekanan inflasi yang sempat tinggi pasca kenaikan harga BBM bersubsidi dan defisit transaksi berjalan yang melebar. Keseluruhan hal ini berakibat pada menurunnya surplus transaksi modal dan finansial. Melebarnya defisit transaksi berjalan dan menurunnya surplus transaksi modal dan finansial menyebabkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit setelah sebelumnya mengalami surplus.
Defisit transaksi berjalan yang semakin melebar tidak terhindarkan mendorong nilai tukar rupiah bergerak dalam tren melemah. Eskalasi pelemahan rupiah semakin kuat terjadi sejak pertengahan Mei 2013 sampai menjelang akhir September 2013, saat terjadi aliran keluar modal asing di pasar keuangan yang meningkat akibat rencana pengurangan stimulus moneter di AS dan persepsi negatif investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Sebagai akibatnya rupiah pada tahun 2013 terdepresiasi cukup tajam dibandingkan tahun 2012, baik secara point to point ataupun secara rata-rata.
Tabel 4.4 Kurs Rupiah BI Periode 2011-2013
No Bulan 2011 2012 2013
Jual Beli Jual Beli Jual Beli 1. Januari 9.102 9.012 9.045 8.955 9.746 9.650 2. Februari 8.867 8.779 9.130 9.040 9.715 9.619 3. Maret 8.753 8.665 9.226 9.134 9.768 9.670 4. April 8.617 8.531 9.236 9.144 9.771 9.673 5. Mei 8.580 8.494 9.613 9.517 9.851 9.753 6. Juni 8.640 8.554 9.527 9.433 9.979 9.879 7. Juli 8.551 8.465 9.532 9.438 10.329 10.227 8. Agustus 8.621 8.535 9.608 9.512 10.979 10.869 9. September 8.867 8.779 9.636 9.540 11.671 11.555 10. Oktober 8.879 8.791 9.663 9.567 11.290 11.178 11. November 9.216 9.124 9.653 9.557 12.037 11.917 12. Desember 9.113 9.023 9.718 9.622 12.250 12.128 Sumber : Bank Indonesia
Rupiah pada 2013 berada dalam tren melemah akibat kinerja Neraca Pembayaran Indonesia yang menurun. Tekanan pelemahan rupiah terutama meningkat sejak Mei 2013 dipicu dari sisi eksternal oleh rencana pengurangan stimulus moneter di AS dan dari sisi domestik oleh ekspektasi inflasi yang meningkat, serta persepsi negatif investor terhadap defisit transaksi berjalan. Tekanan pelemahan rupiah mulai mereda pada triwulan IV 2013 ditopang respons bauran kebijakan Bank Indonesia, termasuk kebijakan nilai tukar, yang diarahkan untuk menurunkan tekanan inflasi dan defisit transaksi berjalan. Respons kebijakan pemerintah untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan juga berkontribusi pada meredanya tekanan terhadap rupiah.
Pada 2013, tren pelemahan nilai tukar rupiah mulai terjadi sejak awal tahun, meskipun masih terbatas. Pada triwulan I 2013, rupiah ditutup pada level Rp9.718 per dolar AS, melemah 0,82% dibandingkan dengan
level penutupan akhir triwulan IV 2012. Secara rata-rata, rupiah pada triwulan I 2013 juga melemah 0,70% menjadi Rp9.680 per dolar AS dibandingkan Rp9.613 per dolar AS pada triwulan IV 2012.
Pelemahan rupiah masih terbatas di triwulan I 2013 karena tekanan negatif pada sektor eksternal masih belum terlalu kuat. Defisit transaksi berjalan yang mencapai 2,7% dari PDB pada triwulan I 2013 dapat diimbangi oleh aliran masuk dana nonresiden ke pasar keuangan yang masih cukup besar. Aliran masuk modal asing tersebut didorong oleh menariknya imbal hasil investasi di aset rupiah dibandingkan dengan negara-negara kawasan. Meskipun demikian, dalam triwulan tersebut sempat terjadi beberapa gangguan terhadap arus modal asing akibat terjadi peningkatan ketidakpastian global dan ekspektasi inflasi domestik. Beberapa ketidakpastian global tersebut antara lain berkaitan dengan kemungkinan pengetatan fiskal dan masalah penentuan debt ceiling AS, serta ketidakpastian prospek pemulihan ekonomi Eropa.
Dari penjabaran kondisi perekonomian makro di Indonesia dan implikasinya terhadap kondisi perusahaan, dapat disimpulkan sebagai berikut.
Tabel 4.5 Hasil Analisis Makro Ekonomi Tahun 2011-2013 No Variabel Makro Ekonomi Hasil Implikasi Kondisi Makro Ekonomi Profitabilitas Perusahaan Harga Saham 1. Produk Domestik Bruto
Meningkat Sinyal positif untuk investasi Profitabilitas perusahaan tetap meningkat, meskipun di tengah keadaan perekonomian yang kurang mendukung (lebih banyak sinyal negatif untuk investasi) Pada periode ini, harga ketiga saham tetap mengalami peningkata n yang signifikan dengan rentang persentase 23% - 238%. 2. Tingkat Inflasi Meningkat Sinyal negatif untuk investasi 3. Tingkat Suku Bunga Meningkat Sinyal negatif untuk investasi 4. Nilai Tukar Rupiah Melemah Sinyal negatif untuk investasi