• Tidak ada hasil yang ditemukan

2016 perekonomian Sumatera Utara ditengarai membaik, berada di kisaran 5,2%-5,6%

(yoy) yang ditopang oleh membaiknya permintaan domestik, sementara perbaikan di sisi eksternal diperkirakan masih terbatas. Kegiatan ekonomi yang lebih baik juga terkait dengan minimalnya dampak bencana erupsi Gunung Sinabung yang sempat terjadi di 2014 dan 2015.

Dari sisi domestik, kegiatan investasi diperkirakan membaik sejalan dengan komitmen Pemerintah untuk membangun infrastruktur meski belum dibarengi oleh investasi swasta yang signifikan. Berlanjutnya beberapa proyek infrastruktur yang diinisiasi pada tahun 2015 lalu diharapkan dapat mendukung baiknya kinerja investasi pada triwulan mendatang. Selain itu, dengan dikeluarkannya paket kebijakan ekonomi pemerintah terutama melalui revisi Daftar Negatif Investasi diperkirakan akan mendorong realisasi investasi terutama pada sektor tersier. Sementara kegiatan konsumsi diperkirakan membaik terbatas seiring dengan membaiknya daya beli masyrakat.

Dari sisi belanja pemerintah, kegiatan investasi diperkirakan akan didorong berlanjutnya realisasi beberapa proyek infrastruktur besar seperti revitalisasi Pelabuhan Belawan, pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung serta pembangunan jalan tol termasuk jalan lintas Sumatera. Namun, realisasi belanja pemerintah daerah diperkirakan belum optimal, tidak jauh berbeda dengan pola-pola awal tahun sebelumnya. Hal tersebut terkait dengan kondisi politik yang belum stabil, yang juga mendorong pelaku usaha cenderung wait and see untuk melakukan kegiatan investasi.

Indikasi investasi yang masih terbatas terlihat dari kapasitas utilisasi yang mengalami penurunan merespon melemahnya permintaan dan menurunnya pasokan bahan baku21. Program kepatuhan pajak yang belum mendapatkan respons yang cukup positif dari swasta pada 2015 lalu diperkirakan masih menahan investasi bangunan pada triwulan mendatang.

Liaison Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi

Sumatera Utara

Sementara dari sisi konsumsi, optimisnya konsumen dalam merealisasikan aktivitas konsumsinya tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (Grafik 6.1) yang menunjukan perbaikan. Kondisi tersebut juga terlihat dari membaiknya ekspektasi penjualan 6 bulan ke depan. Membaiknya konsumsi masyarakat tersebut diperkirakan terkait dengan kelas menengah dan adanya pola musiman terkait pelaksanaan tahun baru, imlek serta beberapa HBKN.

Grafik 6.1 Survei Konsumen

Di sisi eksternal, kinerja ekspor khususnya ekspor luar negeri diperkirakan masih terbatas terkait dengan kondisi ekonomi global yang masih mengalami penyesuaian. Berlanjutnya penyesuaian perekonomian dari sisi eksternal tidak lepas dari masih berlangsungnya kemerosotan harga komoditas dan permintaan dunia yang cenderung stagnan, yang tercermin dari aktivitas manufaktur negara mitra dagang yang kembali stagnan. Selain itu, harga produk substitusi yang mayoritas berbahan baku minyak dunia juga kembali rendah sehingga menurunkan daya saing produk unggulan, termasuk kelapa sawit.

Tabel 6.1 Perkiraan Harga Komoditas Unggulan

Komoditas Harga Triwulan IV 2015 (%, yoy) Harga Triwulan I 2016 (%, yoy) Kelapa Sawit -21 -12 Karet 2 -3 Kopi -29 -29 Sumber: IMF

Stagnasi permintaan diperkirakan masih berlanjut seiring dengan terbatasnya geliat industri manufaktur negara mitra dagang utama yang tercermin dari

Purchasing Manager Index (PMI) yang masih

menunjukkan penurunan hingga akhir triwulan IV 2015. Permasalahan banjirnya persediaan juga masih berlanjut sehingga kembali menekan harga

75 85 95 105 115 125 135 145

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

IEK IKK IKE Batas

OPT IM IS PES IM IS

komoditas. Adanya kebijakan pemerintah Columbia untuk mengizinkan ekspor kopi kualitas rendah berdampak pada pasokan kopi murah yang membanjiri pasar internasional. Baniirnya pasokan kopi di pasar global juga didorong oleh masih tingginya produksi. Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas kelapa sawit dan karet.

Dari sisi penawaran, peningkatan kinerja perekonomian terutama disokong oleh membaiknya kinerja kategori Pertanian kategori Perdagangan Besar dan Eceran, serta kategori Konstruksi. Sementara itu, kinerja kategori industri pengolahan diperkirakan menahan optimalnya perbaikan perekonomian pada periode mendatang.

Mulai masuknya masa panen tanaman bahan makanan yang biasanya terjadi pada triwulan I diperkirakan menjadi faktor utama membaiknya kinerja kategori Pertanian pada periode mendatang. Cukup kondusifnya periode tanam yang ditandai dengan cuaca yang memadai, sarana pendukung pertanian yang memadai, serta penyaluran pupuk yang meningkat diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi pangan yang lebih baik dari tahun lalu. Sementara itu, kinerja subsektor tanaman perkebunan diperkirakan belum memberikan kontribusi yang signifikan akibat tingginya risiko berlanjutnya perlemahan harga komoditas.

Peningkatan aktivitas konsumsi swasta pada periode mendatang turut mendorong kinerja kategori perdagangan besar dan eceran (PBE). Hal ini juga tercermin dari persepsi pedagang akan adanya peningkatan penjualan22 pada triwulan mendatang (Grafik 6.2). Adanya beberapa pola musiman seperti perayaan tahun baru serta beberapa HBKN.

Survey Penjualan Eceran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara

Grafik 6.2 Indeks Perkiraan Penjualan

Seiring dengan belum cukup kuatnya sinyal perbaikan harga komoditas, kinerja industri pengolahan juga diperkirakan turut tertekan. Dapat ditambahkan bahwa industri pengolahan di Sumatera Utara sebagian besar terkait dengan pengolahan CPO dan karet yang merupakan produk utama ekspor Sumatera Utara. Sehingga, pergerakan harga komoditas tersebut banyak memengaruhi kinerja industri pengolahan.

Adanya perbaikan harga komoditas seperti yang sudah diperkirakan oleh beberapa institusi global memang terjadi pada pada awal tahun. Namun, masih tingginya faktor risiko sehingga perkiraan perbaikan harga masih belum cukup kuat.

Berlanjutnya pembangunan beberapa mega proyek infrastruktur pemerintah maupun swasta seperti pembangunan Jalan Tol Mebidangro, revitalisasi Pelabuhan Belawan, pembangunan Terminal

Multipurpose Pelabuhan Kuala Tanjung serta

beberapa investasi lain diperkirakan menjadi pendorong meningkatkan kinerja konstruksi. Namun demikian, kegiatan investasi swasta diperkirakan masih tertahan terkait dengan kondisi politik yang belum pulih dan kondisi perpajakan yang belum direspon secara baik oleh pelaku usaha. Diharapkan, amnesti pajak mampu mendorong realisasi investasi swasta yang lebih baik dibandingkan dengan tahun 2015.

Di kategori Industri Pengolahan, masih melimpahnya pasokan di pasaran, kembali turunnya harga minyak mentah sebagai produk subtitusi, menurunnya pasokan bahan baku, serta aktivitas manufaktur negara mitra dagang utama seperti Tiongkok, Amerika, Jepang, dan India yang justru mengalami penurunan ditengarai menjadi penahan yang cukup signifikan. Masih berlangsungnya isu Black Campign CPO yang menyeruak di dataran Eropa selaku salah satu daerah tujuan utama ekspor juga menahan kinerja dari sisi permintaan. Langkah anti CPO juga semakin kuat dengan dikeluarkannya rancangan amandemen Undang-Undang NO. 367 tentang Keanekargaaman Hayati Prancis yang mengatur pajak progresif kelapa sawit yang mulai berlaku 2017. Meskipun demikian, adanya sistem kontrak penjualan mampu menahan koreksi kinerja Industri Pengolahan yang lebih dalam. Pemerintah juga telah mengambil

-20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 120.0 140.0 160.0 180.0

III IV I II III IV I II III IV I

2014 2015 2016

langkah kuratif dengan adanya pengurangan tarif gas industri yang pada awalnya diusung sebagai tarif gas termahal di dunia. Hal ini diharapkan menjadi insentif bagi industri dalam efisiensi biaya produksi.

Secara keseluruhan tahun, perekonomian Sumatera

Utara pada tahun 2016 diperkirakan membaik pada kisaran 5,1%-5,5% yang disebabkan oleh perbaikan

permintaan domestik yang semakin semakin solid serta kinerja net ekspor yang semakin membaik khususnya memasuki semester II 2016. Konsumsi rumah tangga yang kuat masih menjadi penyumbang utama akselerasi perekonomian pada periode mendatang.

Tingginya intensi pemerintah pada kualitas infrastruktur yang memadai juga memberikan sinyal kokohnya permintaan domestik dari sisi investasi. Reformasi birokrasi yang terus diupayakan oleh pemerintah juga mampu meningkatkan iklim investasi yang lebih kondusif oleh pihak swasta. Pembiayaan yang memadai juga menunjang realisasi investasi pada periode mendatang.

Optimisme akan adanya perbaikan kinerja net ekspor tidak lepas dari perkiraan akan mulai membaiknya harga komoditas internasional terutama memasuki semester kedua tahun 2016.

6.2 Prospek Inflasi

Seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara, daya beli masyarakat yang membaik diperkirakan akan mendorong kenaikan permintaan akan barang dan jasa. Sementara itu, pasokan barang khususnya bahan pangan diperkirakan masih memadai. Tekanan inflasi dari penyesuaian harga komoditas yang diatur Pemerintah juga relatif terkendali. Dengan kondisi tersebut, inflasi pada triwulan I 2016 diperkirakan berada dalam kisaran 5±1%.

Sesuai pola musimannya, pasokan tanaman pangan diperkirakan melimpah khususnya pada triwulan I 2016. Produksi padi diperkirakan cukup baik dan

meningkat dibanding tahun sebelumnya. Rendahnya dampak El Nino di Sumatera Utara tidak menyebabkan adanya pergeseran tanman di provinsi ini. Target produksi padi Sumatera Utara tahun 2016 mencapai 4,6 juta ton. Prognosa panen padi pada

triwulan mendatang diperkirakan mencapai 228.710 hektare dengan produksi 1.183.519 juta ton23. Adanya erupsi Gunung Sinabung yang kembali terjadi pada pertengahan januari lalu menimbulkan risiko tersendiri bagi perkembangan harga komoditas hortikultura dan sayur-sayuran.

Beberapa komoditas masih memberikan risiko tekanan inflasi. Risiko tekanan inflasi kelompok volatile foods pada triwulan I 2016 diperkirakan

terkait dengan kenaikan harga daging ayam ras. Mulai langkanya kondisi pasokan daging ayam ras akibat adanya pengafkiran parent stok pada September lalu berakibat pada menurunnya ayam siap potong pada awal periode laporan. Melambungnya harga pakan ayam turut turut berkontribusi dalam peningkatan harga daging ayam ras. Hal ini telah disikapi dengan langkah preventif melalui monitoring ketersediaan yang ketat oleh TPID setempat.

Sumber: BMKG Provinsi Sumatera Utara

Gambar 6.1 Perkiraan Sifat Curah Hujan Januari 2016

Sumber: BMKG Provinsi Sumatera Utara

Gambar 6.2 Perkiraan Sifat Curah Hujan Februari 2016

Sumber: BMKG Provinsi Sumatera Utara

Gambar 6.3 Perkiraan Sifat Curah Hujan Maret 2016

Sementara itu, inflasi inti diperkirakan kembali tertekan meski risiko eksternal terkait nilai tukar mulai mereda. Peningkatan tekanan inflasi ini terjadi akibat peningkatan ekspektasi inflasi baik di level konsumen maupun pedagang. Dengan demikian, langkah aktif terus dilakukan untuk mengelola ekspektasi agar inflasi berada pada level yang stabil dan rendah.

Grafik 6.3 Pandangan Konsumen dan Pedagang Terhadap Perubahan Harga

Tekanan inflasi kelompok Administered Prices diperkirakan kembali menurun seiring dengan adanya kebijakan pemerintah untuk menurunkan beberapa harga komoditas dalam kelompok ini seperti BBM dan LPG 12 kg.

Secara keseluruhan tahun, inflasi tahun 2016 diperkirakan meningkat dibandingkan dengan tahun 2015 namun masih berada pada kisaran 4±1%. Meningkatnya tekanan inflasi ini terutama disebabkan oleh meningkatnya tekanan inflasi kelompok Administred Prices yang lebih disebabkan oleh faktor baseline akibat perubahan skema subsidi BBM pada tahun 2014. Masih rendahnya risiko kenaikan harga BBM menyusul masih cukup

rendahnya harga minyak mentah di pasar global meningkatkan keyakinan akan kembali tercapainya inflasi pada sasaran yang telah ditetapkan. Produksi minyak yang terus digenjot meski pasokan sudah cukup melimpah menyebabkan risiko kenaikan harga yang relatif minim.

Koordinasi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dengan Pemerintah melalui forum TPI/TPID yang telah berjalan dengan baik dan terus ditingkatkan diperkirakan akan dapat menjaga stabilitas inflasi.

6.3 Rekomendasi kepada Pemerintah Daerah Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian yang terus menunjukkan pemulihan masih dibayangi oleh beberapa faktor risiko terutama dari sisi eksternal yang belum menunjukkan perbaikan secara fundamental. Dengan demikian, diperlukan penguatan perekonomian dari sisi domestik yang dapat didorong oleh Pemerintah Daerah. Beberapa langkah dan rekomendasi di antaranya adalah:

a. Mendorong realisasi APBD tepat waktu.

b. Melakukan percepatan finalisasi RTRW berkoordinasi dengan stakeholders terkait. c. Mendorong berbagai kegiatan MICE dalam rangka

penguatan permintaan domestik melalui aktivitas konsumsi seperti event pariwisata melalui media pemasaran yang massive dan terpusat serta penciptaan budaya masyarakat pariwisata. d. Menciptakan persepsi positif terhadap iklim

investasi di Sumatera Utara kepada investor dan masyarakat luas melalui publikasi perkembangan kemajuan pembangunan infrastruktur melalui media komunikasi yang lebih luas dan terpusat dengan kredibilitas informasi yang lebih tinggi (Regional Investor Relation Unit/RIRU).

Pengendalian Inflasi

Beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk pengendalian inflasi terkendali, diantaranya:

a. Meningkatkan koordinasi TPID dalam mengendalikan fluktuasi harga komoditas pangan yang bergejolak.

b. Melanjutkan program peningkatan produksi pangan maupun diversifikasi konsumsi masyarakat melalui komunikasi yang lebih intensif. 90.0 110.0 130.0 150.0 170.0 190.0 210.0

III IV I II III IV I II III IV I II III 2014 2015 2016 SK (Perub Hrg 3 bln yad) SK (Perub Hrg 6 bln yad) SPE (Perub Hrg 3 bln yad) SPE (Perub Hrg 6 bln yad)

c. Melakukan percepatan pembangunan infrastruktur perhubungan untuk mendukung kelancaran distribusi barang. Hal tersebut dapat dilakukan melalui kemudahan perizinan, pengadaan lahan maupun penguatan komunikasi dengan masyarakat. Hal ini juga penting untuk meningkatkan perdagangan antar wilayah.

d. Mendukung peningkatan kapabilitas UMKM yang bergerak dalam industri pangan untuk meredam fluktuasi harga akibat panen.

e. Sosialisasi yang lebih intensif mengenai program sertifikasi lahan pertanian dan skema pembiayaan petani untuk meningkatkan akses pembiayaan.

LAMPIRAN

Dokumen terkait